Anda di halaman 1dari 2

Nama: Ratissa Eka Ningtiyas, I21112041,REG A1

APLIKASI IMUNOLOGI DIBIDANG KEFARMASIAN


Imunologi merupakan ilmu dasar yang berkaitan dengan bagaimana cara atau mekanisme dan
kemampuan tubuh makhluk hidup dalam upaya mempertahankan terhadap serangan suatu penyakit atau
infeksi. Imunologi memiliki peran yang penting dalam kehidupan karena sistem imun atau pertahanan
tubuh menjadi pertahanan tubuh agar terhindar dari infeksi penyakit. Imunologi memiliki beberapa peran
dalam bidang kefarmasian sebagai imunoterapi, produksi vaksin dan antibodi, produksi kit reagen, serta
keperluan diagnostik. Aplikasi imunologi sebagai imunoterapi berperan sebagai terapi dalam pengobatan
sistem imun. Imunoterapi dalam kefarmasian seperti imunomodulator yaitu berperan dalam
mempengaruhi atau mengatur fungsi sistem imun terhadap reaksi biologis tubuh. Fungsi sietem imun ini
dapat dipacu atau distimulasi yang biasa disebut imunostimulan maupun ditekan atau disupresi yang
biasa disebut imunosupresan. Pada kasus penyakit tertentu seperti penderita AIDS dan kanker, dimana
memiliki penurunan pertahanan tubuh yang )iagnos sehingga rentan sekali terinfeksi yang dapat
menyebabkan kematian akibat infeksi yang parah dikarenakan kondisi sistem imun tubuh yang lemah
sehingga tidak mampu untuk melawan agen infeksi. Imunostimulator secara tidak langsung disini
berperan dalam meningkatkan dan mereaktivasi sistem imun yang rendah dengan cara meningkatkan
respon imun tak spesifik yaitu stimulasi perbanyakan limfo T4, NK cell, dan makrofag serta pelepasan
interleukin dan interferon sehingga akan membentuk reaksi kompleks fagositosis dimana zat asing
( agen infeksius) dikenali sebagai agen yang harus dimusnahkan. Contoh imunostimulator yang sekarang
digunakan adalah vaksin BCG ( Bacillus Calmette-Guerin ) sebagai imunostimulator tak- spesifik umum
dan imunomodulator spesifik terhadap penyakit lepra dan TBC serta sebgai antitumor; Interferon alfa,
beta, gama yang merupakan limfokin alamiah umumnya sebagai reaksi terhadap infeksi yang disebabkan
virus; Interleukin yang merupakan glikoprotein yang menstimulasi aktivitas sel-T, NK-cell, limfosit lain, dan
induksi produksi pelepasan sitokin lain akhirnya sistem imun dapat diaktivasi dan sel tumor dihancurkan;
Levamisol umumnya dikenal sebagai obat cacing, tapi pada dosis tertentu dapat menstimulasi sistem
imun seluler atau mensupresi sistem imun, bermanfaat pada terapi kanker dengan sitostatika dan
)iagnose)n. Contoh imunostimulator pada terapi komplementer ( )iagnose)n) ) adalah Echinacea yang
dapat menstimulasi sistem tangkis spesifik, dan bioflavonoida quercetin dan genistein yang memberikan
efek antitumor dan antioksidan kuat. Efek imunostimulan ekstrak etanol kelopak bunga Rosella juga
dilaporkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dita wulandari dkk dalam Jurnal Farmasi Indonesia vol 7 no
1 Januari 2014. Ekstrak etanol kelopak bunga rosella mampu meningkatkan respon imun pada konsentrasi
rendah sehingga disimpulkan berpotensi sebagai imunostimulan.
Imunosupresan dapat menekan aktivitas imun dengan cara menghambat transkripsi sitokin yang
dapat memutuskan siklus sehingga respon-imun diperlemah. Contohnya diberikan kortikosteroid berkaitan
dengan antiradang nyapada respon imun dijaringan , azatioprin, siklosporin yang dapat menghambat
secara spesifik respon imun seluler , calcineurinblocker yang merupakan kombinasi siklosporin dan
tacrolimus ini dimanfaatkan untuk mencegah reaksi penolakan tubuh setelah transplantasi organ. Untuk
menekan aktivitas penyakit autoimun seperti rematik dan radang usus dengan diberikan sulfasazalin dan
sitostatika (merkaptopurin dan azatioprin. Pengguanaan sediaan enzim sebagai terapi komplementer
imunosupresan dengan sediaan enzim papain 100 mg, bromelain 60 mg, dan pancreatin 100 mg untuk
menghancurkan auto-antibodies dan kompleks-imun sehingga dapat menghentikan serangan terhadap
organ sendiri. Autoantibodies secara normal dibuat oleh sistem imun dan diinaktifkan oleh makrofag dan
limfo-T, kelebihan produksi antibodies ini dapat menimbulkan peradangan dan merusak jaringan seperti
pada kasus rema, Diabetes Mellitus tipe 1( pada orang muda) Multiple sclerosis, dan radang tiroid.
Aplikasi lain yaitu produksi vaksin yang ditujukan merangsang imunitas seluler yang dapat bereaksi
langsung dengan antigen maupun imunitas humoral yang akan memproduksi antibodies tertentu yang
khusus diarahkan terhadap antigen tertentu sehingga dapat melindungi tubuh terhadap antigen atau
mikroba yang membawanya. Vaksin digunakan sebagai upaya preventif dalam dunia kesehatan terhadap
suatu infeksi hebat seperti cacar, polio, rabies dan tetanus araupun pada kasus tertentu digunakn untuk
pengobatan penyakit menahun seperti stafilokok atau gonokok. Penggolongan vaksin berdasarkan jenis
mikroba terdiri atas vaksin bacterial berasal dari bakteri yang dilemahkan, polisakarida dari kapsel bakteri,
atau fragmen yang bersifat antigen; vaksin viral dari virus atau fragmen virus yang dilemahkan; vaksin
parasiter terdiri dari suatu protein yang terdapat dipermukaan sporozoit seperti vaksin malaria dari
Plasmodium falciparum. Produksi vaksin dilakukan dengan cara beragam yaitu passage telur atau kultur
sel jaringan; menggunakan stock-vaccine mikroba yang ada di laboratorium atau auto-vaccine yang
dipisahkan dari tubuh penderita sendiri. Produksi vaksin dengan cara khusus dimana menggunakan teknik
rekayasa genetic melalui teknik DNA rekombinan sehingga dapat dibuat antigen dari bakteri dan virus
secara masal. Beberapa contoh vaksin yang disebutkan sebelumnya adalah merupakan vaksin aktif yang
ditujukan untuk imunisasi aktif sehingga diharapkan bertahan dalam jangka waktu panjang, selain itu
terdapat vaksin pasif untuk imunisasi pasif yang imunitasnya bertahan agak singkat tergantung waktu
paruh antibodies yang digunakan. Contoh penggunaan vaksin pasif adalah dengan menggunakan sera
dari darah hewan yang mengandung antibodies spesifik (immunoglobulin) kadar tinggi dimana hewan
yang telah di imunisasi aktif sehingga terbentuk antibodies terhadap antigen, lalu darah hewan di
ekstraksi dan dipurifikasi dibuat serum, terkadang menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada manusia
karena mengandung sisa protein hewan. Vaksin pasif diberikan pada saat sudah terjadi infeksi dikombinasi
dengan vaksin aktif sehingga bekerja lebih kuat dan lebih lama, misalnya pada kasus infeksi rabies yang
diberikan immunoglobulin rabies sebagai imunisasi pasif sekaligus vaksin rabies sebagai imunisasi aktif.

Produksi antibodies monoklonal adalah suatu teknik rekayasa genetik dimana antibodies ini hanya aktif
terhadap antigen spesifik yang dibuat dengan teknik rekombinan DNA menggunakan sel hewani lazimnya
menggunakan tikus.
Produksi kit reagen adalah salah satu aplikasi imunologi. Penelitian oleh Sutari dkk tahun 2013
dalam Optimasi Pembuatan Coated Tube Human Serum Albumin (HAS) untuk Kit Radioimmunoassay (RIA)
Mikroalbuminuria, dimana RIA ini merupakan metode spesifik dan peka untuk mengevaluasi penyakit
metabolik seperti Diabetes Melitus sehingga dilakukan pengembangan teknologi Kit RIA mikroalbuminuria
dengan metode coated tube dan dihasilkan bahwa pelarut larutan dapar karbonat bikarbonat 0,05 M pH 9,6
memberikan hasil yang optimum sebagai pelarut Pab- HAS (poliklonal antibody) pada titer 1:3000 serta memenuhi persyaratan Kit
RIA untuk assay. Aplikasi lainnya dibidang imunologi adalah untuk diagnostik sebagai metode pemeriksaan
untuk mencegah penyakit infeksi berdasarkan reaksi antara suatu antibodi dengan antigen yang
bersangkutan. Ini dilakukan dengan suntikan intrakutan atau goresan diatas kulit dengan suatu antigen
kadar terendah yang bisa menimbulkan reaksi. Reaksi positif ditandai timbulnya benjolan diatas kulit yang
menandakan sudah mengandung antibodies tertentu dan reaksi negatif yang tidak terjadi reaksi apapun
sehingga menandakan belum terbentuknya antibodi dan perlu diberikan vaksin untuk perlindungan.
Keperluan diagnostik lainnya adalah reaksi tuberkulin pada pasien TBC pada Mantoux skin test dan
Pirquets scarification test. Reaksi lainnya adalah adalah diagnosa penyakit difteri dengan menggunakan
larutan encer toksin difteri ( Toxinum diphtericum diagnosticum ).
Daftar Pustaka
1. Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting edisi ke enam, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta
2. Wulandari, Dita. Putri Ratna Puri Ratna Kurnia W. dan Nurkhasanah, 2014, Efek Imunostimulan Ekstrak
Etanol Kelopak Bunga
Rosella, Jurnal Farmasi Indonesia, Vol.7 No.1
3. Sutari, V.Yulianti S, Triningsih, Gina Mondrida, Agus Ariyanto, Sri Setiyowati, Puji Widayati dan Wening Lestari, 2013,
Optimasi Pembuatan Coated Tube Human Serum Albumin (HAS) untuk Kit Radioimmunoassay (RIA)
Mikroalbuminuria, Jurnal
STTN-BATAN ISSN 1978-0176