Anda di halaman 1dari 13

ELEKTRO CONVULSIF THERAPIE (ECT)

ELEKTRO CONVULSIF THERAPIE (ECT)


1. Pengertian
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan
kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien
dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk
membangkitkan kejang grandmall.
2. Indikasi
Indikasi terapi kejang listrik adalah klien depresi pada psikosa manik depresi, klien
schizofrenia stupor katatonik dan gaduh gelisah katatonik. ECT lebih efektif dari
antidepresan untuk klien depresi dengan gejala psikotik (waham, paranoid, dan gejala
vegetatif), berikan antidepresan saja (imipramin 200-300 mg/hari selama 4 minggu) namun
jika tidak ada perbaikan perlu dipertimbangkan tindakan ECT. Mania (gangguan bipolar
manik) juga dapat dilakukan ECT, terutama jika litium karbonat tidak berhasil. Pada klien
depresi memerlukan waktu 6-12x terapi untuk mencapai perbaikan, sedangkan pada mania
dan katatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu 10-20x terapi secara rutin. Terapi ini
dilakukan dengan frekuensi 2-3 hari sekali. Jika efektif, perubahan perilaku mulai kelihatan
setelah 2-6 terapi.
3. Kontraindikasi
ECT merupakan prosedur yang hanya digunakan pada keadaan yang direkomendasikan.
Sedangkan kontraindikasi dan komplikasi dari tindakan ECT, adalah sebagai berikut:
a. Kontraindikasi
1) Peningkatan tekanan intra kranial (karena tumor otak, infeksi SSP).
2) Keguguran pada kehamilan, gangguan sistem muskuloskeletal (osteoartritis berat,
osteoporosis, fraktur karena kejang grandmal).
3) Gangguan kardiovaskuler: infark miokardium, angina, hipertensi, aritmia dan aneurisma.
4) Gangguan sistem pernafasan, asma bronkial.
5) Keadaan lemah.
b. Komplikasi
1) Luksasio dan dislokasi sendi
2) Fraktur vetebra
3) Robekan otot rahang

4) Apnoe
5) Sakit kepala, mual dan nyeri otot
6) Amnesia
7) Bingung, agresif, distruktif
8) Demensia
4. Peran Perawat
Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapkan alat dan mengantisipasi
kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.
5. Persiapan Alat
Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah sebagai berikut:
a. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer)
b. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain
c. Kain kasa
d. Cairan Nacl secukupnya
e. Spuit disposibel
f. Obat SA injeksi 1 ampul
g. Tensimeter
h. Stetoskop
i. Slim suiger
j. Set konvulsator
6. Persiapan klien
a. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang akan
dilakukan.
b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang
merupakan kontraindikasi ECT
c. Siapkan surat persetujuan
d. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT
e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin dipakai klien

f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi


g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT
h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-hipnotik, dan
antikonvulsan harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan beberapa hari
sebelumnya karena berisiko organik.
i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg setengah jam sebelum ECT.
Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi
gastrointestinal.
7. Pelaksanaan.
a. Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata dan cukup
keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. Pakaian dikendorkan, seluruh badan di
tutup dengan selimut, kecuali bagian kepala.
b. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai untuk
menghasilkan koma ringan.
c. Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk menghindari
kemungkinan kejang umum.
d. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat elektrode
menempel.
e. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi caira Nacl.
f. Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang dibungkus kain
dimasukkan dan klien diminta menggigit
g. Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan dilapisi
kain
h. Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan selama kejang dengan mengikuti gerak
kejang
i. Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai timer berhenti
dan dilepas
j. Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan kejang
(menahan tidak boleh dengan kuat).
k. Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan diafragma
l. Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger
m. Kepala dimiringkan

n. Observasi sampai klien sadar


o. Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan
8. Setelah ECT
a. Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil
b. Jaga keamanan
c. Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai kebutuhan, biasanya
timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.

PERAN PERAWAT

DALAM ELECTROCONVULSI THERAPY (ECT)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk penyakit psikiatri berat
dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala digunakan untuk kejang tonik klonik
umum.
Pengobatan ECT tetap kontroversial dan beberapa pandangan yang saling bertentangan
tentang hal itu. ECT saat ini sah walaupun efek dari ECT tidak dapat dibenarkan. Walaupun
mekanisme kerjanya belum diketahui, terapi ini efektif tidak nyeri dan aman (angka kematian
lebih sedikit daripada terapi lain atau pada yang tidak diobati : 0,01-0,03 % dari pasien yang
diterapi).
Electro Convulsive Therapy/ ECT, diperkenalkan oleh Carletti dan Bini pada tahun 1937
sebagai terapi yang besifat somatic terhadap pasien dengan gangguan mental. ECT juga
dikenal sebagai terapi kejut listrik, digunakan sebagai perawatan akut rumah sakit pada
pasien depresi perilaku yang agitasi atau pasien yang bunuh diri, psikotik, atau berbahaya
bagi orang lain.

1.2. Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
1.

Mempelajari Electro Convulsive Therapy/ ECT.

2.

Mempelajari Asuhan Keperawatan pasien yang diberikan terapi ECT.

1.3. Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
Bagi mahasiswa agar memahami Electro Convulsive Therapy/ ECT dan
penggunaannya serta Asuhan Keperawatan pasien yang diberikan terapi ECT.
-

Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi terapi ECT.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PERAN PERAWAT


Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran perawat dipengaruhi oleh keadaan
social baik dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan bersifat konstan. Beberapa
elemen peran perawat professional meliputi:
a.

Care giver (sebagai pemberi asuhan keperawatan)

Sebagai pelaku atau pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan pelayanan
keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada pasien, menggunakan pendekatan
proses keperawatan.
b.

Client advocate (sebagai pembela untuk melindungi pasien)

Sebagai advokat pasien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara pasien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasien, membela kepentingan pasien dan
membantu pasien memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan oleh tim
kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional.
c.

Counseller (sebagai pemberi bimbingan-konseling pasien)

Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi pasien terhadap
keadaan sehat sakitnya. Adanya pula interaksi ini merupakan dasar dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya. Memberikan konseling/ bimbingan
kepada pasien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai prioritas.
d.

Educator (sebagai pendidik pasien)

Sebagai pendidik pasien perawat membantu pasien meningkatkan kesehatannya malalui


pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang diterima
sehingga pasien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya.
e.
Collaborator (sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat bekerja
sama dengan tenaga kesehatan lain)
Perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam menentukan rencan
maupun pelaksanaan asuhan keperawtan guna memenuhi kebutuhan kesehatan pasien.
f.
Coordinator (sebagai coordinator, agar dapat memanfaatkan sumber-sumber dan
potensi pasien)

Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik materi maupun
kemampuan pasien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan
maupun tumpang tindih.
g.
Change agent (sebagai pembaru yang selalu dituntut untuk mengadakan perubahanperubahan)
Sebagai pembaru, perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap, bertingkah
laku, dan meningkatkan keterampilan pasien/keluarga agar menjadi sehat. Elemen ini
mencakup perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dalam berhubungan dengan
pasien dan cara memberikan keperawatan kepada pasien
h.
Consultan (sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan masalah
pasien)
Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan pasien terhadap informasi
tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat dikatakan perawat adalah
sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik lain.

2.2. TERAPI KEJANG LISTRIK (ELECTRO CONVULSIVE THERAPY/ ECT)


A.

Pengertian

Electro Convulsive Therapy/ ECT, pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang neurologist
Italia, Ugo Carletti dan LucioBini pada tahun 1937 sebagai terapi yang besifat somatic
terhadap pasien dengan gangguan mental. ECT digunakan secara luas pada tahun 1950-an
dan 1960-an untuk berbagai kondisi. Sekarang ECT hanya boleh digunakan dalam jumlah
yang lebih kecil dan pada kondisi yang lebih serius.
ECT atau yang lebih dikenal dengan elektroshock atauterapi kejut listrik adalah suatu terapi
psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dalam usaha pengobatannya. Diperkirakan
hampir 1 juta orang di dunia mendapat terapi ECT setiap tahunnya dengan intensitas antara 23 kali seminggu. ECT efektif pada hampir 75% pasien yang menjalankan prosedur dengan
benar.
Terapi ECT adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artificial
dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu atau dua temples.
(Stuart Sundeen, 1998).
Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk penyakit psikiatri berat
dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala digunakan untuk kejang tonik klonik
umum. (Szuba and Doupe, 1997).
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek terapi
(therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu
kejang dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang

mekanisme pasti dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan
memuaskan. Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan kadar
serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi yang tidak responsif
terhadap terapi farmakologis.
Terapi ini menghasilkan kejang-kejang karena pengaruh aliran listrik yang diberikan pada
pasien melalui elektroda-elektroda pada lobus frontalis. Dalam electroconvulsive terapi, arus
listrik dikirim melalui kulit kepala ke otak. Elektroda ditempatkan pada kepala pasien dan
dikendalikan, menyebabkan kejang-kejang singkat di otak.
Pada saat terapi ini dijalankan, pasien akan kejang-kejang dan kehilangan kesadaran,
kemudian kejang-kejang lambat laun hilang. Sebelum ECT, pasien diberi relaksan otot
setelah anestesi umum. Bila ECT dilakukan dengan benar, akan menyebabkan pasien kejang,
dan relaksasi otot diberikan untuk membatasi respon otot selama episode. Karena otot rileks,
penyitaan biasanya akan terbatas pada gerakan kecil tangan dan kaki. Pasien dimonitor secara
hati-hati selama perawatan. Pasien terbangun beberapa menit kemudian, tidak ingat kejadian
seputar perlakuan atau perawatan, dan sering bingung.

B.

Prinsip Terapi

Secara umum, diperlukan 2 atau 3 kali perawatan sebelum efek terlihat, dan 4-5 kali
pengobatan untuk perbaikan nyata. Kini, jumlah tindakan yang dilakukan merupakan
rangkaian yang bervariasi pada tiap pasien tergantung pada masalah pasien dan respons
terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan.
1.

Biasanya diberikan satu terapi per hari berselang-seling.

2.
Rentang jumlah yang paling umum dilakukan pada pasien dengan gangguan afektif atau
depresi antara 6 sampai 12 kali, mania dan katatonik membutuhkan 10-20 terapi, sedangkan
pada pasien skizofrenia biasanya diberikan sampai 30 kali.
ECT biasanya diberikan sampai tiga kali seminggu atau setiap beberapa hari, selama dua
hingga empat minggu. Jika efektif, perubahan perilaku sudah mulai terlihat setelah 2-6 terapi.
3.
Antidepresan rumatan, antipsikotik dan lithium dilanjutkan sesudah ECT berhasil
karena dapat mencegah kekambuhan. Tanpa medikasi, angka kekambuhan tinggi.
4.
ECT harus segera dihentikan setelah pasien pulih atau jika mereka mengatakan mereka
tidak ingin menjalaninya lagi.

C.

Indikasi Pemberian ECT

ECT adalah suatu prosedur yang serius, gunakan hanya pada keadaan yang
direkomendasikan. Sangat tidak bijaksana jika kita melakukannya pada setiap pasien yang
tidak membaik.
Electroconvulsive terapi digunakan untuk mengobati :
1.
Gangguan afek yang berat : pasien dengan penyakit depresi berat atau penyakit mental
lainnya dan gangguan bipolar (mania) yang tidak berespon terhadap obat anti depresan atau
pada pasien yang tidak dapat menggunakan obat karena cukup beresiko (terutama pada orang
tua yang memiliki kondisi medis).
ECT adalah salah satu cara tercepat untuk mengurangi gejala pada orang yang menderita
mania atau depresi berat. ECT umumnya digunakan sebagai langkah terakhir ketika penyakit
tidak merespon obat atau psikoterapi. Pasien dengan depresi menunjukkan respons yang baik
dengan ECT 80-90% dibandingkan dengan antidepresan 70% atau lebih). Terapi ECT
biasanya tidak efektif untuk mengobati depresi yang lebih ringan, yaitu gangguan disritmik
atau gangguan penyesuaian dengan perasaan alam depresi.
2.
Gangguan skizofrenia (Katatonia, stupor, paranoid, kegaduhan akut) : skizofrenia
katatonik tipe stupor atau tipe excited memberika respon yang baik dengan ECT. Cobalah
anti psikotik terlebih dahulu, tetapi jika kondisinya mengancam kehidupan (delirium
hyperexcited), segera lakukan ECT. Pasien psikotik akut (terutama tipe skizoafektif) yang
tidak berespons pada medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan ECT, tetapi
pada sebagian besar skizofrenia kronis, ECT tidak terlalu berguna/ tidak efektif.
3.
Pasien dengan bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu pengobatan untuk
dapat mencapai efek terapeutik.
ECT juga digunakan ketika pasien parah menimbulkan ancaman bagi diri mereka sendiri atau
orang lain dan itu berbahaya bila menunggu sampai obat-obatan berpengaruh.
4.
Jika efek sampingan ECT yang diantisipasikan lebih rendah daripada efek terapi
pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok jantung/ gangguan hantaran jantung yang
sudah ada sebelumnya dan selama masa kehamilan khususnya trimester pertama (ECT lebih
aman untuk kehamilan). Namun diperlukan pertimbangan khusus jika ingin melakukan ECT
bagi ibu hamil, anak-anak dan lansia karena terkait dengan efek samping yang mungkin
ditimbulkannya.
5.
Pada pasien hypoaktivitas dan hiperaktivitas, kurang tidur, gangguan makan/minum dan
perilaku bunuh diri dan lain-lain.

D.

Kontra Indikasi Pemberian ECT

Pasien dengan gangguan mental disertai adanya gangguan system kardiovaskuler dan adanya
tumor pada otak.

1.

Resiko sangat tinggi

Pasien dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir efek anestesi
umum.
Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma, stroke yang
berkembang, aneurisma yang besar, infeksi SSP), ECT dengan cepat meningkatkan tekanan
SSP dan resiko herniasi tentorium. Selalu periksa adanya papiledema sebelum melakukan
ECT.
Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat : ECT sering menyebabkan aritmia
(aritmia menimbulkan CVP pasca kejang atau kapan saja saat melakukan prosedur ECT)
berakibat fatal jika terdapat kerusakan otot jantung. Tunggu hingga enzim dan EKG stabil.
2.

Resiko sedang

Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru : siapkan selama terapi (pelemas
otot)
Penyakit kardiovaskuler (misal hipertensi, angina aneurisma/Angina tidak
terkontrol, aritmia, Gagal jantung kongestif), berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter
spesialis jantung hendaknya berada di sana. ECT untuk sementara meningkatkan tekanan
darah, sehingga hipertensi primer berat harus terkontrol, paling tidak sebelum setiap
pengobatan.
Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/ CVA) baru, kesulitan
bernafas yang kronis, ulkus peptic yang akut, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar,
glaukoma, retinal detachment.

E.

Efek Samping dari Pemberian ECT

Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia umum.
Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah kebingungan dan memory loss
(75% kasus) setelah beberapa jam kemudian (biasanya hilang satu minggu sampai beberapa
bulan setelah perawatan). Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde terhadap
peristiwa tepat sebelum masing-masing pengobatan dan anterograde, gangguan kemampuan
untuk mempertahankan informasi baru. Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ECT dapat
merusak struktur otak. Namun hal ini masih diperdebatkan karena masih belum terbukti
secara pasti.
Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :
Cardiovaskuler :
1.

Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)

2.
Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan konsumsi
oksigen otot jantung, dysrhythmia)
3.
ECT dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, atau kematian (kasus yang sangat
jarang). Orang dengan masalah jantung tertentu biasanya tidak diindikasikan untuk ECT.

Efek Cerebral :
1.

Peningkatan konsumsi oksigen.

2.

Peningkatan cerebral blood flow

3.

Peningkatan tekanan intra cranial

4.
Amnesia (retrograde dan anterograde) bervariasi, dimulai setelah 3-4 terapi, berakhir
2-3 bulan atau lebih. Lebih berat pada terapi dengan metode bilateral, jumlah terapi yang
semakin banyak, kekuatan listrik yang meningkat dan adanya organisitas sebelumnya.

Efek lain :
1.

Peningkatan tekanan intra okuler

2.

Peningkatan tekanan intragastric

3.

Kebingungan (biasanya hanya berlangsung selama jangka waktu yang singkat), pusing.

4.

Mual, Headache/ sakit kepala, nyeri otot.

5.
Fraktur vertebral dan ekstremitas dan Rahang sakit. Efek ini dapat berlangsung dari
beberapa jam sampai beberapa hari. Jarang terjadi bila relaksasi otot baik.
6.

Resiko anestesi pada ECT

7.

Kematian dengan angka mortalitas 0,002%

F.

Perlengkapan Untuk Terapi ECT

a.
Perlengkapan dan peralatan tindakan, termasuk perekat electrode dan gel, kasa, alcohol,
larutan garam (saline), electrode EEG, dan kertas grafik.
b.
Perlengkapan untuk memantau, termasuk Elektro Kardio Graf (EKG) dan electrode
EKG.
c.

Alat pengukur tekanan darah (2), stimulator saraf perifer dan oksimeter denyut nadi.

d.

Stetoskop.

e.

Palu reflex.

f.

Peralatan untuk intravena.

g.

Balok penggigit dengan tempatnya.

h.
Alat pengikat dengan kasur yang keras dan berisi pengaman dengan tempat berbaring
yang dapat diangkat bagian kaki dan kepala.
i.

Peralataqn penghisap lendir (suction).

j.
Perlengkapan ventilasi, termasuk selang, masker. Saluran udara oral, perlengkapan
intubasidengan system pemberian oksigen yang dapat memberikan tekanan oksigen positif.
k.
Obat-obat untuk keadaan darurat sebagaimana yang direkomendasikan oleh staf
anestesi.
l.
Berbagai obat-obatan yang tidak disiapkan oleh staf anestesi untuk pengobatan medic
selama ECT seperti labetalol, emolol, glikopirolate, karein, kurare, midazolam, diazepam,
thiopental sodium (pentotal), metoheksital sodium (brevital) dan suksinilkolin.

2.3. PROSES KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1.

Kelengkapan data yang ada kaitannya dengan terapi ini :

a.
Pemeriksaan fisik terutama Electrokardiogram (pemeriksaan jantung) dan tanda-tanda
vital Temperature Nadi Pernafasan Tekanan Darah
b.

Riwayat medis standar termasuk status neurologic

c.

Thorax foto dan tulang belakang,

d.
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan (pemeriksaan darah perifer lengkap, kimia
darah, urinalisis, VDRL, CT Scan atau EEG jika status neurologi abnormal).
e.

Suatu kesepakatan pelaksanaan tindakan ECT (Informed Concent).

1.

Inform Consent dari pasien yang kompeten dan dengan suka rela.

2.
Inform Consent dari wali pada pasien suka rela, tetapi tidak kompeten dan pada pasien
yang tidak dapat memberikan keputusan terapi.
3.
Persetujuan pengadilan untuk pemberian ECT pada pasien yang menolak dan tidak
secara sukarela menerima terapi ECT, yang dapat berbahaya bagi dirinya atau bagi orang lain.
Pada beberapa Negara, ECT dalam keadaan apapun tidak dapat diberikan pada pasien dengan
pelaksanaan tak sukarela.