Anda di halaman 1dari 22

1

LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: NWS

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 48 tahun

Status perkawinan

: menikah

Tingkat pendidikan

: SD

Alamat

: Br Kedampal Dauh Yeh Cani, Abiansemal, Badung

Agama

: Hindu

Suku/Etnis

: Bali

Bangsa

: Indonesia

Pekerjaan

: ibu rumah tangga

merupakan pasien rawat inap di RSUP Sanglah Denpasar, dirawat oleh bagian
neuro sejak tanggal 27 agustus 2013. dikonsultasikan dari bagian neuro ke
bagian Psikiatri pertama kali pada tanggal 3 September 2013, pukul 09:30
WITA.
II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
gelisah

B. Wawancara
Diperoleh dari autoanamnesis dan

heteroanamnesis tanggal 4 September, 5

September 2013.
Pasien diwawancara dalam posisi berbaring di atas tempat tidur , tangan kanan
terpasang infus, mengenakan baju kaos berwarna merah, celana hitam yang
ditutupi dengan jaket berwarna merah. Pasien berperawakan gemuk dengan tinggi
sekitar 160 cm dan berat badan sekitar 70 kg. Pasien berambut agak lurus,
panjang sebahu, berwarna hitam dengan sedikit uban, tidak tersisir rapi dan tidak
diikat.
Autoanamnesis
Saat diwawancara, wajah pasien tampak cemas seperti orang ketakutan,
terkadang pasien bengong dengan tatapan mata kosong. Kadang kala pasien
menutup matanya dan tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas. Pasien sadar
dan dapat menjawab dengan benar nama, alamat, dan siapa yang mendampinginya
saat ini. Pada saat wawancara pasien sering mengatakan perutnya sakit ingin
kencing . Saat pasien diminta untuk kencing di pampers yang dipakainya, pasien
mengedan untuk berusaha mengeluarkan kencingnya dan mengatakan kencingnya
tidak mau keluar. Ketika ditanya kenapa pasien tidak bisa kencing, pasien
mengatakan kalau kelaminnya tersumbat dan sengaja disumbat oleh seseorang
yang diperkirakan adalah iparnya yang membuat dirinya sakit.
Saat ditanya kenapa pasien dibawa ke rumah sakit, pasien tidak
mengetahuinya, tiba-tiba pasien sudah berada di rumah sakit. Pasien hanya ingat

sebelumnya pasien sedang menggendong cucunya di bale rumahnya dan setelah


itu pasien tidak ingat apa pun. Pasien baru ingat setelah berada di rumah sakit.
Saat ditanya apa penyakitnya saat ini, pasien mengatakan menderita tumor
otak dan pasien mengatakan ingin sembuh. Kemudian tiba-tiba pasien menangis
dan mengatakan cucunya mau dibunuh dan diajak ke kuburan. Pasien mulai
tenang saat suaminya mengatakan bahwa cucu pasien ada di rumah dan baik-baik
saja. Saat ditanya apa penyebab sakitnya saat ini, pasien terlihat cemas dan
ketakutan dan penyakitnya ini dibuat oleh seseorang dan pasien juga meminta
agar orang yang menyakitinya mau menyembuhkannya.
Pasien juga mengeluh nyeri kepala yang dirasakan sejak 1,5 tahun yang lalu,
nyeri dirasakan menusuk-nusuk di daerah kepala kanan bagian depan

yang

dirasakan makin lama makin memberat, biasanya keluhan ini akan membaik
sebentar dengan minum obat. Nyeri dirasakan memberat jika pasien beraktivitas.
Keluhan ini tidak disertai dengan pandangan kabur, tidak ada keluhan mual,
muntah, panas, maupun trauma kepala.
Pasien juga mengeluh sering bermimpi akan dijemput oleh seorang
perempuan yang dikatakan sebagai iparnya, dikatakan pasien dijemput untuk
diajak ke kuburan. Sebelumnya, kira-kira 1 minggu SMRS pasien ada sedikit
masalah dengan iparnya tersebut karena masalah banten untuk di pura
kawitannya. Sejak saat itu pasien sering bermimpi dan saat sadar pun pasien
merasa bersalah dan takut pada iparnya. Pasien juga pernah melihat wanita yang
wajahnya menyerupai iparnya mengenakan baju putih yang mencari pasien ke

rumah sakit yang dikatakan akan membawa pasien ke kuburan. Pasien


menyangkal mendengar suara-suara yang tidak didengar oleh orang lain.
Pasien merasa dirinya sakit saat ini karena disakiti oleh iparnya, dan pasien
sempat berjanji dengan suaminya jika pasien sembuh akan membuatkan segehan
nasi kepel wong-wongan.
Pasien mengatakan makan dan minumnya baik tetapi tidurnya agak
terganggu karena sering bermimpi dan sering memikirkan masalah dengan
iparnya dan merasa bersalah pada iparnya. Aktivitas pasien sebagai tukang banten
sudah tidak dapat dilakukan lagi oleh pasien sejak 9 bulan yang lalu. Saat itu
pasien sama sekali tidak melakukan aktivitas apapun termasuk membersihkan
rumah, tetapi semenjak 5 bulan yang lalu pasien sudah dapat mengerjakan
pekerjaan rumah, seperti menyapu dan mengasuh cucunya.
Heteroanamnesis (suami pasien) :
Pasien dikeluhkan kejang sejak 5 jam sebelum masuk Rumah sakit. Awalnya
pasien baru bangun tidur kemudian pasien diminta untuk mengasuh cucunya, satu
jam kemudian cucunya terdengar menangis sehingga cucu pasien diambil oleh
suami pasien dan diberikan kepada menantu pasien. Saat itu pasien terlihat seperti
orang bengong sambil duduk di balenya. Beberapa saat kemudian, terlihat tangan
kiri pasien menghentak-hentak dengan bibir mencong dan kepala menoleh ke kiri
dan beberapa saat kemudian seluruh tubuh pasien menghentak-hentak. Kejang
berlangsung selama 3 menit, saat kejang pasien tidak sadar. Setelah kejang pasien
tertidur dan segera dibawa ke puskesmas. Dalam perjalanan ke puskesmas, pasien
kembali kejang dengan tipe yang sama. Saat di puskesmas pasien diberi obat

suntikan. Pasien kemudian dirujuk ke rumah sakit Sanglah dan dalam perjalanan
pasien mulai sadar dan dapat berkomunikasi dengan baik. Ini merupakan kejang
yang pertama kali dirasakan oleh pasien.
Awalnya, sejak 1,5 tahun yang lalu, pasien sering mengeluh nyeri kepala,
nyeri dikatakan pada kepala sebelah kanan yang terasa menusuk-nusuk, pada
awalnya nyeri ini dikatakan timbul tiap 1 bulan sekali, dan makin lama sakit
kepala dirasakan makin memberat hingga pasien menangis jika nyeri kepalanya
kumat yang bisa berlangsung setiap hari selam 2 jam atau lebih. Nyeri kepala ini
sering terjadi pada pagi hari tiap pasien baru bangun tidur. Nyeri membaik jika os
minum obat penghilang rasa sakit. Keluhan ini tidak disertai dengan mual,
muntah, dan pandangan kabur . Tetapi nyeri kepala ini sudah dirasakan membaik
sejak 5 bulan yang lalu.
Sejak 9 bulan yang lalu, dikatakan pasien mulai mengalami perubahan
prilaku. Awalnya pasien dikatakan pendiam tidak banyak bicara tetapi pasien lebih
banyak bekerja, dimana pasien bekerja sebagai dagang banten yang disegani di
desanya. Tetapi sejak 9 bulan yang lalu, pasien dikatakan cerewet, bicara terus,
tetapi pembicaraannya tidak nyambung. Pasien

tidak mengenali orang-orang

disekitarnya dan pasien juga tidak dapat mengerjakan aktivitasnya sebagai tukang
banten dan ibu rumah tangga. Pasien hanya diam di rumah dan lebih banyak
tidur. Pasien bangun hanya untuk makan dan mandi. Pasien juga sudah tidak dapat
diajak berdiskusi dan tidak dapat mengambil keputusan apa pun. Hingga akhirnya
5 bulan yang lalu pasien dibawa ke RS swasta dan dilakukan CT-Scan yang
hasilnya didapatkan tumor otak. Pasien sempat dirawat selama 1 minggu di RS

swasta tersebut dan saat pulang dari RS tersebut, pasien dikatakan normal. Sejak
keluar dari rumah sakit, pasien sudah dapat beraktivitas kembali, pasien bisa
membersihkan rumah dan mampu mengasuh cucunya. Hingga sesaat sebelum
kejang, pasien tidak ada keluhan apa pun.
Riwayat gangguan penciuman, kelemahan dan kesemutan separuh tubuh,
trauma kepala, panas badan, batuk lama, penurunan berat badan disangkal.
Sebelumnya, kira-kira 1 minggu sebelum masuk Rumah sakit, pasien dikatakan
sempat bermasalah dengan iparnya karena masalah banten yang harus dikeluarkan
masing-masing keluarga untuk upacara di pura Panti yang mereka sungsung.
Sejak saat itu pasien sering kepikiran dan merasa bersalah sehingga pasien tidak
bisa tidur. Sebelumnya pasien tidak pernah punya masalah dengan anggota
keluarga yang lain, dan dikatakan pasien jika mempunyai masalah akan bercerita
pada suaminya tetapi terkadang masih sering dipikir sendiri. Pasien dikatakan
memiliki sifat pencemas dan selalu ingin mengerjakan tugasnya sebaik mungkin.
Setelah dirawat 4 hari di rumah sakit sanglah, pasien dikatakan mulai
gelisah. Pasien

sering tiba-tiba menangis yang diawali dengan bengong dan

pandangan terlihat jauh, kemudian pasien mengatakan cucunya mati dibunuh oleh
orang perempuan yang dikatakan iparnya. Tetapi setelah pasien dihubungkan
dengan cucunya lewat telepon pasien mulai mengerti dan berhenti menangis.
Pasien juga pernah tiba-tiba menangis sambil minta maaf kepada iparnya
dan berjanji jika pasien mau disembuhkan pasien akan membuatkan segehan nasi
kepel wong-wongan. Pasien juga pernah mengatakan ada wanita yang wajahnya

mirip dengan iparnya, berpakaian berwarna putih yang akan menjemput pasien
untuk dibawa ke kuburan, tetapi saat itu suami pasien tidak melihat orang yang
dimaksud oleh pasien.
Pasien juga sering mengatakan tidak bisa buang air besar dan buang air
kecil, padahal menurut suami pasien, pasien baru saja selesai berak dan kencing.
Ketika ditanya kenapa pasien tidak bisa berak dan kencing, pasien mengatakan
alat kelaminnya tersumbat dan disumbat oleh seseorang.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Psikiatrik : tidak ada riwayat gangguan psikiatri sebelumnya.
2. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif : tidak ada riwayat penggunaan
atau mengkonsumsi alkohol mau pun zat terlarang lainnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu (Medis)
Sejak lima bulan yang lalu pasien diketahui menderita tumor otak.
4. Riwayat kepribadian sebelumnya :
Menurut suaminya, pasien mempunyai sifat pendiam dan tidak cepat
marah. Pasien lebih banyak bekerja daripada bicara. Pasien juga memiliki
sifat pencemas, jika ada masalah pasien membicarakan masalahnya pada
suaminya tetapi pasien tetap memikirkan sendiri masalahnya. Pasien juga
memiliki sifat yang segala sesuatunya harus sempurna sehingga hal ini
sering menjadi beban pikirannya. Pasien disenangi oleh anggota
masyarakat di banjarnya karena pasien juga sebagai tukang banten di
desanya.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien adalah anak kelima dari 8 orang bersaudara, pasien adalah anak
yang diinginkan oleh orang tuanya. Pasien lahir spontan, normal, cukup
bulan, berat badan lahir cukup, ditolong dukun dan tidak ada komplikasi
selama proses kelahiran. Selama kehamilan, ibu pasien tidak pernah sakit
berat dan tidak pernah minum obat-obatan.
2. Riwayat Masa Kanak Awal (usia 0-3 tahun)
Riwayat tumbuh kembang pasien dalam batas normal. Minum ASI sampai
umur 6 bulan.
3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (usia 3-11 tahun)
Pasien masuk sekolah SD pada usia enam tahun, selama sekolah pasien
dapat mengikuti pendidikan dengan prestasi biasa-biasa saja dan tidak
pernah tinggal kelas. Pasien juga dapat bergaul dengan baik dengan temantemannya di sekolah.
4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja
a. Riwayat pendidikan
Pasien dapat mengikuti pendidikan SD. Pasien tidak pernah tinggal
kelas dan prestasinya biasa-biasa saja.
b. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai tukang banten.

c. Riwayat perkawinan
Pasien menikah selama 31 tahun, dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Tidak
ada masalah dengan suami selama menikah.
d. Riwayat Agama
Pasien dibesarkan dalam keluarga Hindu, melakukan persembahyangan
baik di rumah maupun di pura bersama keluarga
e. Riwayat Psikoseksual
Pasien tertarik dengan lawan jenis sejak berusia 16 tahun
f. Riwayat Aktivitas Sosial
Pasien aktif di banjar dan sebelum sakit pasien bekerja sebagai tukang
banten. Tidak pernah ada masalah dengan anggota masyarakat di
banjarnya.
g. Riwayat Hukum
Pasien tidak pernah terkait dengan masalah kriminal.
h. Riwayat Penggunaan Waktu Luang
pasien menggunakan waktu luangnya untuk bercengkrama dengan
keluarga dan bermain dengan cucu-cucunya.
i. Riwayat Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien tinggal bersama suami, kedua anaknya, kedua menantunya, dan
dua orang cucu. Kakak kandung suami pasien beserta istri, anak, dan
menantu juga tinggal dalam satu pekarangan rumah dengan pasien.

10

Hubungan pasien dengan anggota keluarga yang lainnya cukup


harmonis.
j. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Tidak ada riwayat sakit
mental pada keluarga pasien.
Genogram Keluarga Pasien:

Keterangan:

meningggal
pasien

k. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien mengetahui penyakit yang dideritanya dan ingin cepat sembuh.
Pasien mengatakan akan teratur minum obat dan mematuhi nasihat
yang diberikan oleh dokter. Saat ini pasien perasaan dan kondisi
fisiknya juga dikatakan berangsur membaik (diwawancara tanggal 6
September 2013).

11

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL (diperiksa tanggal 5 September


2013)
A. Deskripsi Umum
1

Penampilan
Pasien diwawancara dalam posisi berbaring di atas tempat tidur , tangan
kanan terpasang infus, mengenakan baju kaos berwarna merah, celana
hitam yang ditutupi dengan jaket berwarna merah. Pasien berperawakan
gemuk dengan tinggi sekitar 160 cm dan berat badan sekitar 70 kg. Pasien
berambut agak lurus, panjang sebahu, berwarna hitam dengan sedikit uban,
tidak tersisir rapi dan tidak diikat. Wajah pasien tampak cemas seperti
orang ketakutan, terkadang pasien bengong dengan tatapan mata kosong.
Kadang kala pasien menutup matanya dan tiba-tiba menangis tanpa alasan
yang jelas.

Perilaku dan Aktivitas Psikomotor


Selama wawancara, pasien tidur di atas tempat tidur, kontak mata cukup.
Kontak verbal agak berkurang. Sedikit bicara dan pelan ketika diajak
berkomunikasi oleh pemeriksa. Penampilan tidak wajar, ketika sedang
diwawancara, lebih banyak diam, ekspresi tampak sedikit cemas dan
bingung, sesekali Pasien mengeluh sakit perut mau kencing atau berak.

Sikap terhadap pemeriksa


Kooperatif

12

B. Mood dan Afek


1. Mood : disforik
2. Afek : adekuat
3. Keserasian : serasi
C. Gangguan Persepsi
Halusinasi visual ada (pasien melihat wanita yang wajahnya menyerupai
iparnya yang mengajak pasien ke kuburan), ilusi tidak ada.
D. Pembicaraan
Pasien bicara lambat dan pelan lebih banyak mengeluh sakit perut dan
mengeluh ingin kencing atau berak.
E. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : non logis, non realis
2. Arus pikir : perlambatan, asosiasi longgar (+) (pasien mengeluh tidak
bisa kencing, lalu tiba-tiba pasien menangis dan mengatakan bahwa
cucunya mau dibunuh oleh iparnya).
3. Isi pikir : waham tidak ada, ide curiga (+) pada iparnya , preokupasi
terhadap gangguan kencing.
F. Dorongan instingtual
Insomnia tidak ada, hipobulia ada, raptus tidak ada
G. Sensorium & kognitif
1.Tingkat kesadaran dan kesigapan : kompos mentis

2.Orientasi

13

a. Tempat : baik, pasien mengetahui saat ini berada di rumah sakit.


b. Waktu : baik, pasien mengetahui waktu saat pemeriksaan
dilakukan.
c. Orang : baik, pasien mengenali suami dan pemeriksa.
3. Daya ingat
a. Daya ingat jangka segera: baik, pasien dapat mengulang tiga buah
benda yang disebutkan pemeriksa (apel, meja, koin)
b. Daya ingat jangka pendek: baik, pasien ingat menu sarapan pagi
dan makan siang.
c. Daya ingat jangka menengah : baik, pasien mengetahui nama
banjar tempat tinggalnya.
d. Daya ingat jangka panjang: baik, pasien dapat mengingat
pengalaman pada masa kecil.
4. Konsentrasi : terganggu
A Rondom Letter Test tidak dapat dikerjakan tanpa error.
5. Perhatian : terganggu
Pasien hanya dapat menghafal sampai tiga digit angka.
6. Kemampuan membaca dan menulis : baik
7. Kemampuan visuospasial : terganggu
Pasien tidak bisa menggambar jam dengan lengkap dan benar
Pasien tidak dapat mencontoh 2 (dua) buah segilima yang saling
berpotongan.
8. Pikiran abstrak : normal

14

Pasien dapat memahami pembicaraannya


9. Kapasitas intelegensia : baik
Pasien memiliki pengetahuan sesuai dengan latar belakang
pendidikannya.
10. Bakat kreatif: ada (pasien seorang tukang banten)
11. Kemampuan menolong diri sendiri: saat ini masih dibantu suaminya
untuk merawat diri.
H. Kemampuan mengendalikan impuls:
Selama wawancara, tidak ditemukan adanya gangguan pengendalian impuls.
I. Daya nilai dan tilikan
1. Daya nilai sosial : baik
2. Uji daya nilai : baik
3. Penilaian realita : terganggu.
Ditemukan adanya halusinasi visual saat pemeriksaan.
4.Tilikan : derajat 3
Taraf dapat dipercaya : tidak dapat dipercaya.
IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. Status Interna (5 September 2013)
Keadaan umum

: tamapak sakit sedang

Kesadaran

: kompos mentis

Tekanan darah

: 130/70 mmHg

Denyut nadi

: 80 x/menit, reguler

15

Frekuensi pernafasan : 22 x/menit


Suhu

: 36,0oC

Tinggi Badan

: 160 cm

Berat Badan

: 70 kg

Kulit

: turgor baik

Kepala

: rambut rontok tidak ada, mata anemis -/-, ikterus -/-

Leher

: struma (-), bruit (-)

Dada : - Jantung

: BJ I-II tunggal, bunyi tambahan (-)

-Paru
Abdomen

: sonor, vesikuler, fremitus kiri & kanan normal


: suppel, hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan (-), bising
usus (+) normal.

Ekstremitas

: akral hangat, kulit dalam batas normal, edema -/-

B. Status Neurologi (tanggal 5 september 2013)


Kesadaran

: GCS E4V5M6 (Compos Mentis)

Skala nyeri

: 0 (0-10)

Kranium

: dalam batas normal

Korpus Vertebrae

: dalam batas normal

Tanda rangsang selaput otak : tidak ada


Nervus Kranialis

: dalam batas normal

Funduskopi

: papil edema +/+

Motorik

: Tenaga 555/555

Tonus N /N

Trofik N / N

16

555/555
Reflek Fisiologis :

++ / ++

N /N
Reflek patologis :

++ / ++
Vegetatif

: inkontinensia urine dan alvi

Gerakan involunter

: tidak ada

Koordinasi

: dalam batas normal

N/ N
- / - / -

Sefalgia tipe vaskular kronis progresif


Riwayat bangkitan fokal menjadi general tonik klonik
Fungsi kortikal luhur dan tes-tes neuropsikologi lainnya :
-

Fungsi intelektual global : skor MMSE 20 (atensi dan kalkulasi


terganggu)
Visuospasial
: skor CDT 0 (terganggu)
Fungsi eksekutif : Trial Making Test A : tidak bisa diselesaikan
Trial making Test B : tidak dapat dikerjakan
-

Fungsi berbahasa : Token Test; verbal fluency, Boston Naming Test


dalam batas normal
Memori : Immediate memory : Trial 1,2,3 dalam batas normal

C. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium :
27 Agustus 2013 :
- DL : WBC 15,06 x103/L (Neutrofil 13,68 x10 x103/L), RBC 4,69
x106/L, HGB 13 g/dL, HCT 39%, PLT 253 x 103/L.
- Kimia: SGOT 22,2 U/L, SGPT 15,4 U/L, BUN 13 mg/dL, Kreatinin
0,55mg/dL,
mmol/L.

GDS 61 mg/dL, Natrium 139 mmol/L, Kalium 3,7

17

2. Pemeriksaan Radiologi
CT Scan Kepala

V. IKTHIAR PENEMUAN BERMAKNA


Telah dilakukan pemeriksaan seorang wanita, berusia 48 tahun, suku Bali,
bangsa Indonesia, agama Hindu, menikah, memiliki 2 orang anak, pendidikan
tamat SD, bekerja sebagai tukang banten, beralamat di Abiansemal, Badung.
Merupakan pasien rawat inap RSUP Sanglah.
Dari anamnesis didapatkan, pasien dikatakan gelisah dan mengatakan
ingin kencing dan berak walau dikatakan oleh suaminya pasien sudah berak
dan kencing. Pasien juga dikeluhkan sejak 1,5 tahun yang lalu mengeluh
nyeri kepala kronis progresif, mengalami perubahan prilaku sejak 9 bulan
yang lalu, dan masuk rumah sakit karena kejang yang diawali dari tangan kiri

18

dan kemudian kejang seluruh tubuh. Saat 4 hari dirawat di rumah sakit
sanglah, pasien menjadi gelisah, sering menangis sendiri dan terlihat
ketakutan dan mengatakan cucunya mati dan ada orang yang menjemput
pasien ke kuburan.
Pemeriksaan fisik tanda-tanda vital dalam batas normal. Status interna
dalam batas normal. Status lokalis kardiologi dalam batas normal. Klinis
neurologis GCS E4V5M6 , pemeriksaan psikiatri didapatkan pasien dengan
penampilan tidak wajar, ekspresi cemas dan bingung, mood disforik, terdapat
halusinasi visual, ide curiga, dan preokupasi terhadap gangguan kencing,
terdapat hipobulia.
Hasil laboratorium menunjukkan hasil yang normal, Hasil CT Scan
kepala memberikan gambaran suatu tumor serebri di area frontalis kanan.
VI. DIAGNOSIS BANDING
a. Diagnosis banding neurologi : Tumor Serebri ec susp Meningioma dd/
High Grade Astrocytoma
b. Diagnosis banding psikiatri :
Halusinosis Organik (F06.0)
Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia Akut (F23.2)
Gangguan Hipokondrik (F45.2)
VII. DISKUSI
Pasien mengalami gangguan perilaku dan defisit neurologi yang disertai
dengan hasil CT Scan kepala yang menunjukkan suatu gambaran tumor
serebri pada area frontalis kanan.

19

Berdasarkan PPDGJ III, gejala perilaku dan psikologis tersebut


secara klinis cukup bermakna dan menimbulkan penderitaan (distress) serta
hendaya

(dissability)

dalam kehidupan

sehari-hari

sehingga dapat

disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa berdasarkan


PPDGJ III.
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien mengalami
gangguan jiwa yang sangat mungkin disebabkan oleh Tumor serebri
frontalis yang bermanifestasi klinis sebagai gangguan halusinasi sehingga
gangguan jiwa yang terjadi dapat digolongkan sebagai suatu Halusinosis
Organik (F06.0).
Pasien tidak memiliki riwayat pemakaian dan penyalahgunaan zat
adiktif,

narkotika

dan

psikotropika

sebelumnya

sehingga

tidak

menimbulkan gejala-gejala putus zat dan intoksikasi sehingga diagnosis


Gangguan Mental Akibat Zat Psikoaktif dapat disingkirkan.
Pada pasien ini ditemukan kondisi medis umum yang secara
langsung berhubungan dengan gangguan jiwa yang dialami pasien saat ini
sehingga untuk aksis III adalah Tumor Serebri lobus frontalis sinistra.
Pada pasien ini ditemukan masalah dengan penyakitnya akan
tetapi tidak memiliki masalah dengan primary support group. Suami dan
keluarganya mendukung penuh proses penyembuhan pasien.
Untuk aksis V, menurut skala GAF saat diperiksa adalah 40-31
yaitu beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi,

20

disabilitas berat dalam beberapa fungsi sehingga tidak dapat beraktivitas


secara normal.
VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL (Menurut PPDGJ III)
Aksis I : Halusinosis Organik (F06.0)
Aksis II : Campuran Ciri Kepribadian Anankastik dan Cemas
Aksis III: Tumor Serebri Lobus Frontal ec Susp. Meningioma
Aksis IV: Masalah dengan Penyakitnya
Aksis V : GAF Setahun Terakhir 80-71
GAF Saat Ini 40-31
IX.

PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad malam
Hal-hal yang meringankan prognosis :
-

Tidak ditemukan penyakit sistemik yang lain

Dukungan orang-orang terdekat

Keluarga setuju untuk dilakukan tindakan reseksi tumor

Hal-hal yang memberatkan prognosis :


-

Umur tua

Lokasi tumor yang sulit untuk dilakukan reseksi tumor

X. USULAN TERAPI
A. Farmakologi :
Ts. Psikiatri :
-

Injeksi haloperidol 2,5 mg, intramuskular, jika pasien gelisah


Risperidone 2x1mg, intra oral

Ts. Neurologi :

21

Phenitoin 3x100 mg, intra oral


Asam folat 2x1 mg, intra oral
Dexametasone 1x10 mg, intravena
Pantoprazole 2x40 mg, intravena
Parasetamol 3x1gram, intravena

B. Psikoterapi

Kepada Pasien

- Psikoterapi suportif
Kepada Keluarga
-

Psikoedukasi dan konseling


Memberikan informasi tentang gangguan yang dialami oleh
pasien

secara

keseluruhan

dan

menjelaskan

mengenai

penatalaksanaan yang akan diberikan sehingga diharapkan


-

keluarga dapat mendukung proses terapi.


Edukasi terhadap pasien dan keluarga sangat berguna untuk
melakukan program penatalaksanaan gangguan yang diderita
pasien. Tujuan utama edukasi adalah untuk memberikan
pengertian tentang sakitnya dan penanganan yang sesuai
dengan kondisi pasien. Jika pasien tidak mengerti tentang
sakitnya dan kaitannya dengan terapi maka akan sangat sulit
untuk

menangani

penyakitnya

secara

efektif.

Dengan

melibatkan keluarga dalam sesi edukasi maka keluarga akan


dapat

memberikan

kesembuhan pasien.

dukungan

yang

lebih

baik

untuk

22