Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah


Pelaksanaan praktikum yang bertemakan interpretasi citra pengindraan jauh, dilakukan untuk memenuhi tugas praktikum mata kuliah
geologi foto.Selain itu praktikum ini dilakukan supaya kita lebih memahami dan mengerti apaitu interpertasi citra pada pengindraan jauh.
Sehingga kita dapat mengenali suatuobyek dengan melakukan interpretasi citra. Dalam interpretasi citra sendiri terdiri antara beberapa unsur
yaitu,
1.
2.
3.
4.
5.

Rona
Tekstur
PolaBentuk
Bentuk bayangan , dan
Asosiasi

Sehingga untuk memudahkan kita dalam pengenalan suatu obyek yang berdasarkan interpretasi citra. Maka kita harus mengerti dan mengenali
unsure-unsur dalam foto udara tersebut,
1.2.Maksud dan Tujuan
Maksud
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengidentifikasi obyek geologi dengan interpretasi citra


Mengetahui peranan citra dalam pemecahan masalah geologi
Melihat kenampakan geologi berdasarkan interpretasi citra
Mengetahui cara interpretasi citra pada pengindraan jauh
Mengetahui fungsi dan dapat mengidentifikasi citra
Tujuan

7.
8.
9.
10.
11.

Dapat mengidentifikasi obyek geologi dengan interpretasi citra


Dapat mengetahui peranan citra dalam pemecahan masalah geologi
Dapat melihat kenampakan geologi berdasarkan interpretasi citra
Dapat mengetahui cara interpretasi citra pada pengindraan jauh
Dapat mengetahui fungsi dan dapat mengidentifikasi citra

1.3. Alat dan Bahan


1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

BAB 2
GEOLOGI CITRA PENGINDERAAN JAUH
2.1. Dasar Teori

Pengindraan jauh oleh GARDNER & JEFFEFIS (1973) diartikan sebagai suatu cara pengumpulan keterangan mengenai permukaan
bumi dari jarak jauh, atau pengamatan radiasi elektromagnetik dari suatu objek pada lokasi yang sangat jauh.
Citra pengindraan jauh (Remote sensing image) adalah citra suatu benda yang diperoleh dengan alat pencatat atau pengindra tanpa ada
hubungan langsung dengan benda tersebut.
Ilmu pengetahuan yang mempelajari geologi dengan menggunakan citra pengindraan jauh disebut Geologi Citra Pengindraan Jauh. Foto
udara merupakan salah satu macam citra pengindraan jauh yang sudah lama dipergunakan orang untuk mempelajari geologi. Oleh karena itu
ilmu pengetahuan yang sudah berkembang adalah geologi foto. Geologi foto adalah studi geologi dengan bantuan foto udara, sedangkan foto
udara adalah foto permukaan bumi yang diambil dari pesawat udara dengan menggunakan kamera udara (Bates dan Jackson, 1987). Sementara
itu untuk memperoleh informasi objek-objek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran dan interprestasi citra fotografik dan
pola-pola tenaga radiasi elektromagnetik yang terekam disebut fotogrametri (Wolf, 1974).
Dalam Geologi citra pengindraan jauh dikenal 2 faktor interprestasi citra yaitu :
1.
2.

Unsur dasar Pengenalan Citra


Unsur dasar interprestasi geologi
Untuk mengenal ke dua unsure dasar yang tersebut diatas sebaiknya memiliki pengetahuan geologi yang cukup, lebih baik lagi kalau
pengalaman-pengalaman geologi lapangan telah dimiliki.
Biasanya dengan melakukan interprstasi citra, kita baru dapat memperoleh batas penyebaran satuan batuan, struktur geologi dan
geomorfologi secara garis besar, kondisi geologi yang detail baru dapat diketahui setelah melakukan pekerjaan lapangan.

1.

Unsur Dasar Pengenalan Citra


Dalam geologi citra pengindraan jauh dikenal adanya 7 (Tujuh) unsure dasar pengenalan citra yaitu :

Rona (tone)
Tekstur (texture)
Pola (pattern)
Hubungan dengan keadaan sekitar (relation to the surroundings)

a)

Bentuk (shape)
Ukuran (size)
Bayangan (shadow)
Rona (tone)
Rona adalah cerah gelapnya citra yang mencerminkan ukuran banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh obyek dan dicatat pada citra hitamputih.
Rona dipengaruhi oleh :

b)

Letak obyek terhadap matahari


Warna obyek yang dibuat citranya
Kasar halusnya permukaan obyek
Musim atau iklim
Macam film atau filter yang dipergunakan
Proses pencetakan citra
Tekstur (texture) : Tekstur didefinisikan sebagai frekwensi perubahan rona dalam citra dan dihasilkan oleh suatu kelompok satuan kenampakan
yang terlampau kecil untuk dibedakan masing-masing secara jelas pada foto.
Tekstur dibagi menjadi :

Tekstur halus batulempung


Tekstur sedang batupasir
Tekstur kasar konglomerat, breksi

c)

Pola (pattern) : Pola adalah susunan meruang yang teratur mengenai kenampakan geologi topografi vegelasi.

d)

Hubungan dengan keadaan sekitar (relation to the surroundings)


Seperti kita ketahui dalam ilmu geologi, peristiwa geologi berhubungan erat satu dengan lainnya, sebagai contoh adanya aliran lava mungkin
berdekatan dengan aktivitas gunung api atau adanya lahar. Karena itu dengan mengetahui atau menafsirkan adanya lahar, seharusnya perlu
diperhatikan pula kemungkinan adanya aliran lava.

e)

Bentuk (shape) : Bentuk sebagai suatu unsure pengenalan dalam interprestasi geologi sangat berarti terutama dalam pengertian yang lebih luas
yang meliputi relief atau topografi.

f)

Ukuran (size) : Ukuran dapat pula membantu dalam interprestasi. Ukuran meliputi luas, panjang, lebar, tinggi, dan volume suatu benda.

g)

Bayangan (shadow) : Bayangan sebagai unsure dasar pengenalan berguna untuk mengenal bentuk bendanya. Karena foto udara vertical biasa
dipergunakan untuk interprestasi, maka bayangan dapat dipergunakan untuk mengenal pandangan samping dari suatu obyek.

2.

Unsur Dasar Interprestasi Geologi


Unsur dasar interprestasi geologi adalah gejala alam yang terlihat pada foto udara yang memberikan kemungkinan untuk mengetahui
keadaan geologi.
Unsur dasar interprestasi geologi dapat dibagi menjadi :

1.

Relief
Relief yaitu beda tinggi rendah dari suatu tempat dengan tempat lainnya pada suatu daerah dan juga curam landainya lereng-lereng yang ada.
Termasuk dalam pengertian relief ini adalah bentuk-bentuk bukit, lembah, dataran, gunung dan sebagainya.

2.

Pola Penyaluran (drainage pattern)


Pola penyaluran adalah kenampakan pola sungai pada foto udara, yang membantu dalam interprestasi keadaan geologi.

3.

Kebudayaan (culture)
Kebudayaan kerapkali dapat dipergunakan untuk interprestasi geologi Sawah biasanya diolah oleh manusia didataran alluvial atau tanah residual
hasil pelaukan batuan, biasanya dikaki gunung api.

4.

Tumbuh-tumbuhan Penutup (vegetation)


Tumbuah-tumbuhan penutup kerapkali dapat memberi keterangan tentang geologi suatu daerah. Hampir seluruh wilayah Indonesia tertutup oleh
tumbuh-tumbuhan, baik hutan tropic lembab, savanna, ataupun tumbuhan hasil kebudayaan manusia.
2.2. Peralatan Yang di Gunakan

1. Streoskop
2. Foto udara
3. Spidol OHP
4. Penggaris
5. Kertas mika
3.3. Lokasi Pelaksanaan Analisis Citra Penginderaan Jauh
Analisis citra penginderaan jauh dilaksanakan di Laboratorium Geomorfologi dan Penginderaan jauh, Jurusan teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral, Ist AKPRIND, Jl. I Dewa Nyoman Oka No.32 Kota Baru Yogyakarta.

BAB 3
PENGUKURAN ARAH
3.1. Dasar Teori
Pengukuran arah pada foto udara prinsipnya sama dengan pengukuran pada peta tofografi. Alat yang perluh digunakan adalah busur
derajat atau kompas geologi. Dalam pengukuran hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
Bagian tepi (sisi) kiri atau kanan foto udara belum tentu merupakan arah utara-selatan, karena demikian dalam foto udara perlu ditarik garis yang
berarah utara- selatan.
Garis arah utara selatan ditarik sejajar dengan arah jarum magnet pada kompas geologi pada saat jarum utara menunjukan arah N 0 oE pada saat
foto udara sudah diorientasikan dengan peta tofografi.
Sebelum mulai pengukuran arah garis pada foto udara tersebut ditambatkan kemeja dengan cellophane tape agar posisinya tidak berubah.
3.2. Tujuan dan Metode

Tujuan untuk mengetahui arah, seperti penyebaran litologi, arah kemiringan dan arah pengaliran sungai.
Metode pengukurannya adalah :
Foto udara ditambatkan kemeja dengan cellophane tape agar posisinya tidak berubah.
dalam foto udara ditarik garis yang berarah utara- selatan.
Garis arah utara selatan ditarik sejajar dengan arah jarum magnet pada kompas geologi pada saat jarum utara menunjukan arah N 0 oE pada saat
foto udara sudah diorientasikan dengan peta tofografi.
3.3. Peralatan Yang Digunakan
1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

6.

Kompas
BAB 4
PENGUKURAN PARALAKS STEREOSKOPIS
4.1. Dasar Teori
Paralaks stereokopik adalah jarak antara dua titik citra pada foto udara karena objek itu difoto dari dua kedudukan pesawat yang berbeda,
dengan tinggi terbang sama pada satu jalur terbang.
4.2. Tujuan Dan Metode

Tujuan dari pengukuran paralaks stereoskopik adalah untuk mengetahui selisih suatu titik pada 2 lembar citra foto.
Metode Pengukuran Paralaks Stereoskopik ada 2 cara yaitu :
A.
1.

2.

Cara monoskopik dapat dibagi menjadi :


Pengukuran lembar per lembar
Alat yang digunakan adalah penggaris biasa atau penggaris mikro (penggaris khusu dengan nonius ketelitian 1/100 mm)
Cara pengukuran :
Tiap lembar foto udara dicari pusat fotonya dengan menggunkan fiducial mark
Tentukan pusat konyugasi ( conjugate prineiple point ) masing-masing foto udara
Hubungkan pusat foto dan foto konyugasi samapai terbnentuk jalur terbang (sumbu x)
Buat sumbu y tegak lurus sumbu x
Pada foto udara yang lain dibuat hal seperti diatas
Kemudian diukur paralaks titik-titik yang dikehendaki (misal ititk A dan titik B)

Pengukuran dalam susunan orientasi stereoskopik


Kedua foto udara yang berpasangan diorientasikan dengan batuan stereoskop. Kemudian stereoskop dipindahkan, dan selanjutnya pengukuran
jarak d dan D dilakukan dengan mistar

B.

Cara Mengunakan Stereoskop Dan Paralaks Bar


Paralaks meter merupakan batang logam yang dilengkapi dengan sepasang kaca yang diletakan dengan jarak tertentu. Jarak tersebut
dapat diubah dengan memutar mikro meter. Pada masing-masing kaca ada tanda 0 kecil atau + kecil yang disebut tanda apung, prinsip
pengunaan tanda apun = 2 titik komplemeter pada sepasang foto.
Kalau diamati dibawah stereoskop, 2 buah floting marks tersebut tampak sebagai satu titik saja.
Paralaks titik A = PA = D d
PA = D (K - rn) = (D K) + rn = C + rn
PA = C = rn C=> Konstant

Berdasarkan sistim pembacaanya paralaks bar dapat bagi menjadi 2 yaitu :


Paralaks bar dengan sisitim backward reading, seperti yang terdapat pada stereoskop merk sokkisha. Pada alat ini jika jarak kedua keping kaca
making panjang maka jarak r makin kecil. Untuk pembacaan backward reading
Paralaks bar dengan sisitim forward reading, seperti yang terdapat pada stereoskop merk topcon. Pada alat ini jika jarak kedua keping kaca
making panjang maka jarak r makin besar. Untuk pembacaan forward reading
4.3. Peralatan Yang Digunakan
1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

6.

Selotip
BAB 5
PENGUKURAN BEDA TINGGI
5.1. Dasar Teori
Untuk mengatakan bahwa suatu daerah itu merupakan timbulan atau lekukan harus diambilbidang dasar yang merupakan ketinggian ratarata daerah yang di foto.
5.2. Tujuan Dan Metode
Tujuan dilakukan pengukuran beda timggi adalah untuk mengetahui relief suatu wilayah pada foto udara.
Pengukuran beda tinggi dapat dilakukan dengan menggunkakan rumus paralaks sebagai berikut:

a.
b.
c.
d.
e.
Keterngaan :
: beda tinggi
Hb : tinggi terbang pesawat dari titik B
( tinggi B = titik bagian bawah obyek yang diukur)
PB : paralaks titik B
PA : paralaks titik A (titik A = bagian puncak obyek)
: PA PB
H : tinggi terbang pesawat dari bidang sesar (datum plane)
b : jarak dasar foto udara ( photo base )
B : jarak dasar udara ( air base )
F : jarak focus lensa kamera
Hasil pengukuran beda tinggi akan teliti (akurat) apabila foto udara yang digunakan berskala 1 : 10.000 atau lebih besar
5.3. Peralatan Yang Digunakan

1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

6.

selotip
BAB 6
PENGUKURAN PROFIL TOPOGRAFI
6.1. Dasar Teori
Jarak pada foto udara tidak mencerminkan jarak sesungguhnya di lapangan, karena ada pergeseran. Untuk menentukan jarak horizontal
yang sesungguhnya digunakan cara grafis, karena kalau dengan mengukur relief displacement satu-persatu akan membutuhkan waktu yang lama.
6.2. Tujuan Dan Metode
Untuk menentukan jarak horizontal yang sesungguhnya digunakan cara grafis, karena kalau dengan mengukur relief displacement satupersatu akan membutuhkan waktu lama.
Pengukuran jarak secara grafis

1.

Tentukan titik pusat masing-masing foto yang berpasangan

2.

Letakkan plastic pada masing-masing foto udara

3.

Titk pusat foto (n1 dan n2) dan titik pusat foto konyugasi (n1 dan n2) diplot pada plastic bening

4.

Titik garis dari n1 ke A1 dan ke B1, juga garis n2 A2 dan n2 B2 pada plastic bening ( garis AB adalah yang akan ditentukan jaraknya)

5.

Masing-masing plastik bening diambil dan dipasang berhimpitan hingga n1 berhimpitan dengan n1 dan n2 berhimpitan dengan n2 (gambar
11.1)

6.

Titik perpotongan antara n1A1 dan n2A2 serta n1B1 dan n2B2 dihubungkan. Garis penghubung itu adalah jarak AB yang terkoreksi.
Jarak AB dilapangan = dAB
DAB = jarak AB pada foto yang sudah terkoreksi
H

= tinggi terbang pesawat dari bidang datar

= jarak fokus kamera

6.3. Peralatan Yang Digunakan


1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

6.

selotip
BAB 7
PENGUKURAN JARAK HORISONTAL
7.1. Dasar Teori
Jarak pada foto udara tidak mencerminkan jarak sesungguhnya di lapangan, karena ada pergeseran. Untuk menentukan jarak horizontal
yang sesungguhnya digunakan cara grafis, karena kalau dengan mengukur relief displacement satu-persatu akan membutuhkan waktu yang lama.
7.2. Tujuan dan Metode

Untuk menentukan jarak horizontal yang sesungguhnya digunakan cara grafis, karena kalau dengan mengukur relief displacement satupersatu akan membutuhkan waktu lama.
Pengukuran jarak secara grafis
1.

Tentukan titik pusat masing-masing foto yang berpasangan

2.

Letakkan plastic pada masing-masing foto udara

3.

Titk pusat foto (A dan B) dan titik pusat foto konyugasi (A dan B) diplot pada plastic bening.

4.

Kemudian ukur jarak antara titik A dan B

5.

Buat skala pada peta kemudian kalikan dengan hasil jarak antara titik A dan B.
7.3. Peralatan Yang Digunakan

1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika
BAB 8
PENGUKURAN DIPSLOPE
8.1. Dasar Teori
Dipslope merupakan kemiringan lereng topografi yang juga merupakan kemiringan lapisan batuan sedimen sering tampak pada foto
udara. Dipslope terdapat pada bentuk lahan hogback, cuesta atau sayap antiklin yang sudah tererosi.
8.2. Tujuan Dan Metode

Metode pengukuran dipslope :


1.

Pengukuran dislope dengan dipslope meter


Aturlah kedudukan sepasang foto udara dibawah steroskop sampai terbentuk stereomodel.
Aturlah kedudukan slopemeter dibawah steroskop sampai bidang slopemeter berhimpit/sebidang dengan bidang dipslope.
Ukurlah kemiringan bidang slopemeter dengan busur derajat. Besar sudut itu adalah kemiringan dipslope tereksagenerasi.
Tentukan angka eksagenerasi (E) pengamat dengan rumus :

s : tinggi steroskop
e : jarak dasar mata pengamat
H : tinggi terbang pesawat
B : jarak dasar udara = b x penyebut skala foto
b : jarak dasar foto udara
Tentukan dasar kemiringan dipslope dengan mengunakan slopeconversion chart.
2.

Pengukuran dipslope dengan rumus paralaks


Rumus paralaks yang digunakan adalah :

Ukurlah paralaks titik A(PA) dan paralaks titik B (PB)


Hitung P = P - PB
B = jarak focus lensa kamera udara (biasanya f = 153 mm )
Tentukan jarak d dengan cara seperti pada Bab 5
Dipslope = dapat dihitung dengan rumus tersebut diatas
8.3. Peralatan Yang Digunakan
1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

6.

selotip
BAB 9
PENGUKURAN LUAS
9.1. Dasar Teori
Luas bidang datar/rata dapat dihitung degan fotogrametri dengan beberapa metode (Sutanto, 1986) :

1.

Metode bujur sangkar

2.

Metode jaringan titik

3.

Metode strip

4.

Metode planimeter 4
9.2. Tujuan Dan Metode
Luas bidang datar/rata dapat dihitung degan fotogrametri dengan beberapa metode (Sutanto, 1986) :

1.

Metode Bujur Sangkar


Mengukur luas dengan metode ini, dipakai bahan atau alat berupa jaringan bujur sangakar (kertas millimeter)

a.

Tutupilah foto udara dengan plastik bening

b.

Delineasilah daerah yang diukur luasnya

c.

Letakkan jaring bujur sangkar pada daerah yang diukur luasnya (gambar)

d.

Apabila kotak tidak dihitung

e.

Apabila kotak

dihitung 1

f.

Untuk skala 1 : 50.000, 1 cm = 500 m


Satu kotak = 1 cm2 = ( 500 x 500 ) m2 = 250.000 m2
Jadi luas daerah yang diukur = 17 x 250.000 m2 = 425.10 m2

2.

Metode jaring tarik


kotak = 9 titik = 250.000 m2
Daerah A = 34 titik, B = 13 titik, C = 9 titik
Luas A = 34/9 x 250.000 m = 944444 m2
Luas B = 13/9 x 250.000 m = 361111 m2
Keterangan gambar

1.

Tracer arm (lengan penelusur)

2.

Pole arm (lengan kutub)

3.

Pole weight (pemberat)

4.

Hand grip (pegangan penelusur)

5.

Tracing magnifier = tracing pin (lensa penelusur)

6.

Clamp screw (sekrup pengencang)

7.

Fine mavement screw (sekrup dengan gerakan halus)

8.

Tracer arm vermier (pengatur jarak lengan penelusur)

9.

Revoiution recording dial (lempeng/piringan pencatat putaran)

10. Meansuring wheel (roda pengukur)


11. Meansuring wheel vernier (nonius)

12. Idler wheel


13. Carriage (kontak tempat alat pengukur)
14. Zero setting slider dar (alat pengatur agar pembacaan kembali nol)
3.

Metode Strip
Luas obyek = ( AB + CD + EF + GH ) AA
AA, BB, CC,.......... HH = Give and take lines
Jarak AA, CC,......... HH = Interval strip

4.

Metode Planimeter
Pengukuran luas dilakukan dengan alat planimeter ada dua macam yaitu mekanik (gambar 20) dan planimeter digital/electronic digitezr
(gambar 21)

a.

Planimeter mekanik
Perhatikan gambar 20
Batang 1 dapat digerakkan kesegala arah dengan menggunakan roda. Alat ini menghitung luas obyek secara mekanik bila rodanya
digerakkan searah jarum jam sepanjang garis batas obyek yang diukur luasnya. Pada gerak yang berlawanan, alat ini tidak menghitung luas.
Hasil pengukuran x konstante yang disesuaikan dengan skala citra = luas obyek.
Pengukuran luas dengan alat ini dapat dilakukan dengan metode luar atau metode dalam.metode luar dilakukan bila daerah yang diukur
sempit. Planimeter diletakkan diluar garus pembatas bidang yang diukur. Metode dalam dilakukan bila daerah yang diukur luas. Planimeter
diletakkan dialam garis pembatas bidang yang diukur.
Luas daerah yang diukur dengan planimeter dapat diperoleh dangan rumus
A = [Pak Paw] x [m/n]2 x Unit area
A = Luas daerah yang diukur

Pak = Hasil pembacaan akhir


Paw = Hasil pembacaan awal
m = Penyebut skala foto udara
n

= Penyebut skala planimeter

Pada beberapa jenis palnimeter, pembacaan awal dapat selalu dibuat 0 (nol)
b.

Planimeter Digital/Electronic Digitezr


Luas obyek dapat diukur dengan cepat dan cermat dengan planimeter digital/electronic digitezr. Pengukuran luas dilakukan dengan
menelusuri batas obyek yang diukur luasnya. Dengan secara terusa-menerus memberikan nilai koordinat x dan y tiap titik kepada sebuah
microprosesor, luas obyek pada citra dihitung dan dapat dibaca secara langsung. Microprosesor juga dapat digunakan untuk
mengkonversikannya ke luas di medan secara langsung dengan unit-unit luas yang dikehendaki ( Sutanto, 1986 ).
9.3. Peralatan Yang Digunakan

1.

Streoskop

2.

Foto udara

3.

Spidol OHP

4.

Penggaris

5.

Kertas mika

6.

Selotip
BAB 10
PENUTUP
10.1. Kesimpulan

Citra penginderahan jauh merupakan citra suatu benda yang diperoleh dengan alat pencatat tanpa ada hubungan langsung dengan benda
tersebut penginderahan jauh ini, dapat biasanya pada foto udara. Foto udara merupakan foto hasil rekaman dari satelit maupun hasil dari
pesawat.
Dalam geologi citra penginderahan jauh dikenal dua faktor interpretasi yaitu :
a.

Unsur dasar pengenalan citra.

b.

Unsur dasar interpretasi geologi.