Anda di halaman 1dari 107

Program Pengembangan Mutu dan Relevansi Program Studi

Halaman Sampul

Modul Pembelajaran Matakuliah

Teori Bilangan

Kode Matakuliah : 146H1103

Matakuliah Teori Bilangan Kode Matakuliah : 146H1103 Oleh: Nur Erawaty, Loeky Haryanto, Syamsuddin Toaha

Oleh:

Nur Erawaty, Loeky Haryanto, Syamsuddin Toaha

Dibiayai oleh DIPA Universitas Hasanuddin Tahun 2009

Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaann Pekerjaan Modul Pembelajaran Fak. MIPA Unhas No. 41/H4-LK.26/SP3-UH/2009 tertanggal 22 Juni 2009

Halaman Pengesahan

MODUL PEMBELAJARAN

Program Pengembangan Mutu dan Relevansi Program Studi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin Tahun 2009

Nama/Kode Matakuliah

:

Teori Bilangan/146H1103

Nama Lengkap Penulis Utama

:

Dra. Nur Erawaty, M.Si.

NIP

:

132 050 973

Pangkat/Golongan

:

Penata Muda/III C

Jurusan/Program Studi

:

Matematika/Matematika

Fakultas/Universitas

:

Fakultas MIPA

Jangka Waktu Kegiatan

:

15 Mei – 31 Juli 2009

Biaya

:

Rp 3, 500, 000, 00 oleh DIPA Universitas Hasanuddin Tahun 2009

Mengetahui:

Makassar, 31 Juli.2009

Fakultas MIPA, Universitas Hasanuddin Dekan

Prof. DR. H.Abd. Wahid Wahab, M.Sc. NIP: 130535950

Kata Pengantar

Teori Bilangan adalah salah satu dari beberapa cabang matematika klasik yang sudah lama dipelajari dan dikembangkan oleh banyak matematikawan. Pada awalnya teori bilangan dipelajari dan dikembangkan sebagai kesenangan dan pemenuhan rasa ingin tahu belaka, tetapi saat ini beberapa cabang dari teori bilangan telah mendapatkan tempat sebagai alat dari teknologi modern, misalnya dalam konstruksi kriptografi RSA. Seperti halnya berbagai cabang matematika yang lain, konsep teori bilangan semakin terlihat kaitannya dengan berbagai teori di cabang matematika yang lain. Fakta ini diperkuat dengan terbuktinya Teorema Terakhir Fermat secara tak langsung sebagai hasil sampingan dari studi yang sangat dalam terhadap beberapa konsep-konsep matematika yang baru ada dan lahir di abad ke 20, padahal teorema tersebut sudah dipublikasikan sejak tahun 1673 dan dianggap sebagai bagian dari teori bilangan. Lepas dari penerapan modern di masa kini dan kaitannya dengan cabang matematika yang lain, teori bilangan masih didominasi oleh pembuktian-pembuktian matematika. Dalam hal ini, diperlukan kematangan yang cukup bagi pembaca untuk bisa mengerti alur logika yang digunakan dalam pembuktian-pembuktian. Sebagai ilustrasi, pernyataan Teorema 1.15 adalah ”Jika p membagi ab maka p membagi a atau p membagi b”. Tetapi yang dibuktikan dalam pembuktian teorema ini adalah pernyataan yang ekuivalen (berdasarkan logika): ”Jika p membagi ab dan p tidak membagi a, maka p membagi b”. Walaupun banyak pembuktian, materi yang disajikan dalam modul pembelajaran ini masih merupakan materi pengenalan dasar-dasar Teori Bilanga. Meskipun para pembaca dianjurkan untuk mempelajarinya secara berjenjang, tetapi Bab 4 yang bisa langsung dipelajari setelah Bab 1 dan Bab 2, tanpa melalui Bab 3. Modul pembelajaran Teori Bilangan ini dirancang untuk satu semester dan dibuat sebagai bagian dari Program Pengembangan Mutu dan Relevansi Program Studi tahun 2009 pada program studi Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin. Untuk ini, tim penulis mengucapkan banyak terimakasih atas segala bantuan yang diberikan oleh semua pihak, khususnya oleh fakultas MIPA.

Makassar, 31 Juli 2009

NE, LH & ST

Daftar Isi

Halaman Sampul

i

Halaman Pengesahan

ii

Kata Pengantar

iii

Daftar Isi

iv

Bagan Ketergantungan Antar Bab

v

1. Keterbagian

1

1.1. Pendahuluan

1

1.2. Keterbagian

2

1.3. Bilangan Prima

13

2. Kongruensi

23

2.1

Kongruensi

23

2.2

Solusi Kongruensi

30

2.3

Kongruensi Derajat 1

32

2.4

Fungsi Euler φ(n)

38

2.5

Kongruensi Derajat Lebih Tinggi

41

2.6

Modulo Perpangkatan Bilangan Prima

44

2.7.

Kongruensi Modulo Prima

52

2.8

Kongruensi Derajat Dua, Modulo Prima

56

2.9

Residu Pangkat

57

2.10 Teori Bilangan Ditinjau Secara Aljabar

62

2.11 Grup Perkalian, Gelanggang dan Lapangan

67

3. Resiprositi Kuadratik

73

3.1 Residu Kuadratik

73

3.2 Resiprositi Kuadratik

78

3.3 Simbol Jacobi

83

4. Beberapa Persamaan Diophantine

89

4.1 Persamaan Diophantine

89

4.2 Persamaan ax + by = c

90

4.3 Solusi-Solusi Bulat Positif

91

4.4 Persamaan Linear Yang Lain

92

4.5 Persamaan x 2 + y 2 = z 2

93

4.6 Persamaan x 4 + y 4 = z 2

95

4.7 Jumlah Dari Empat Kuadrat

98

Daftar Pustaka

101

Indeks

102

Bagan Ketergantungan

Antar Bab

Bab 1 Keterbagian Bab 2 Kongruensi Bab 3 Resiprositi Kuadratik Bab 4 Beberapa Persamaan Diophantine
Bab 1
Keterbagian
Bab 2
Kongruensi
Bab 3
Resiprositi Kuadratik
Bab 4
Beberapa Persamaan
Diophantine

1. Keterbagian

1.1. Pendahuluan Bahasan utama dalam teori bilangan adalah tentang bilangan-bilangan bulat

positif. Tetapi teori yang terlibat tidak terbatas pada bilangan-bilangan bulat positif, atau

bahkan terbatas pada bilangan-bilangan bulat. Mungkin saja suatu hasil tentang bilangan- bilangan bulat diperoleh dari teori bilangan-bilangan kompleks atau dari teori turunan

suatu fungsi.

Teori bilangan berpijak pada hasil-hasil pembuktian dari berbagai ide dan metoda.

Dua di antara hasil-hasil ini memerlukan perhatian khusus. Hasil pertama adalah, setiap

himpunan tak kosong dari bilangan-bilangan bulat memuat unsur terkecil. Hasil yang

kedua adalah induksi matematis. Hasil yang kedua ini merupakan akibat dari hasil yang

pertama. Para pembaca dianggap sudah cukup menguasai perumusan berbagai pernyataan

matematis. Sebagai contoh, para pembaca sudah mengetahui bahwa untuk setiap pasang

pernyataan matematis A dan B, pernyataan-pernyataan matematis berikut ekuivalen:

“Jika A maka B”,

“Dari A diturunkan B”,

“Jika A benar, maka B benar”

A adalah syarat cukup untuk B

B adalah syarat perlu untuk A”. Semua pernyataan ini lazim ditulis dengan lambang

A B.

Jika dari A bisa diturunkan B dan dari B bisa diturunkan A, kita mengatakan A adalah

syarat cukup dan perlu untuk B dan hal ini lazim ditulis dengan lambang

A B

dan diucapkan ‘A jika dan hanya jika B’. Demikian pula, kata ‘jika’ dalam suatu definisi - seperti dalam Definisi 1.1 di bagian

mendatang - seringkali bermakna ‘jika dan hanya jika’ (disingkat ‘jhj’).

Lebih jauh, banyak pernyataan matematis yang bisa dinyatakan dengan lambang- lambang baku. Sebagai contoh, karena Z adalah lambang baku untuk himpunan semua bilangan-bilangan bulat, pernyataan matematis “z adalah bilangan bulat” bisa dinyatakan secara singkat dengan lambang z Z”. Demikian pula, beberapa pernyatan baku terkait dengan Q (himpunan semua bilangan rasional) dan R (himpunan semua bilangan real).

1.2. Keterbagian

Definisi 1.1 Bilangan b Z habis dibagi bilangan bulat a 0, ditulis a|b; jika terdapat bilangan

x Z sedemikian rupa sehingga b = ax.

Ungkapan lain untuk menyatakan a|b adalah ‘a habis membagi b’, ‘a adalah pembagi b’ dan ‘b adalah kelipatan a’. Jika a tidak membagi b, yaitu jika pernyataan a|b adalah salah, kita menulis

ab.

Perhatikan, untuk setiap bilangan bulat a berlaku a|0.

Teorema 1.1 Jika a, b, c Z, maka pernyataan-pernyataan berikut berlaku.

(1) a|b a|bc.

(2) a|b & b|c a|c.

(3) a|b & a|c a|(bx + cy), untuk setiap x, y Z.

(4) a|b & b|a a = ±b.

(5)

a|b & a > 0 & b > 0 a b.

Bukti. Langsung diperoleh dari definisi keterbagian.

Sifat (3) dalam teorema di atas bisa diperluas ke pernyataan

“ Apabila a, b 1 , b 2 , …, b n Z dan a|b 1 & a|b 2 & … & a|b n , maka untuk sembarang x 1 , x 2 ,

…, x n Z berlaku

a |

n

i = 1

b x

i

i

”,

Demikian pula, sifat (2) masih bisa diperluas dengan cara yang serupa.

Teorema 1.2 (Teorema Algoritma Pembagian) Untuk setiap pasangan a, b Z dengan a > 0, terdapat pasangan q, r Z dengan

b = qa + r dan 0 r < a. Jika ab, maka r memenuhi ketaksamaan murni 0 < r < a.

Bukti. Perhatikan barisan aritmatika tak hingga dengan bilangan pembeda a > 0 berikut …, b 3a, b 2a, b a, b, b + a, b + 2a, b + 3a, … . (1.1) Misalkan r adalah bilangan tak negatif terkecil di antara bilangan-bilangan bulat dalam barisan di atas. Dalam kasus a|b, salah satu di antara bilangan-bilangan tersebut adalah 0

sehingga dalam kasus ini jelas r = 0. Dalam kasus ab, setiap bilangan dalam barisan tak

ada yang sama dengan 0. Jadi r > 0. Lebih jauh, terdapat suatu bilangan bulat k sehingga r = b + ka. Karena r adalah bilangan bulat positif terkecil dalam barisan tersebut, setelah dikurangi a, hasilnya adalah bilangan negatif r a = b + (k 1)a < 0. Ini berarti r < a.

Jadi terbukti: dalam kasus a|b, r = 0 sedangkan dalam kasus ab berlaku 0 < r < a.

r − a 0 r r + a b + (k − 1)a r =
r − a
0
r r + a
b + (k − 1)a
r = b + ka
b + (k + 1)a
a a
a
a

Ilustrasi Pembuktian Dalam Kasus ab

Teorema 1.2 di atas mensyaratkan a > 0, walaupun sebenarnya syarat tersebut bisa

diperlemah dan teorema bisa diperluas sebagai berikut:

“ Untuk setiap a, b Z dengan a 0, terdapat sepasang bilangan bulat q dan r yang

memenuhi b = qa + r dengan 0 r < |a|.”

Teorema 1.2 sering disebut Teorema Algoritma Pembagian walaupun teorema

tersebut memuat kata “… terdapat q, r Z ” yang memberi kesan bahwa Teorema 1.2

adalah teorema klaim keberadaan, bukan algoritma. Walaupun demikian Teorema 1.2 ,

membuka rintisan sebuah algoritma untuk mendapatkan bilangan q, r Z dengan hanya menggunakan sebagian yang diperlukan (bagian tak negatif) dari barisan tak hingga (1.1). Dalam definisi berikut, digunakan notasi Z + untuk melambangkan himpunan semua bilangan-bilangan bulat positif (yang sering disebut bilangan-bilangan asli dan diberi lambang N).

Definisi 1.2 Suatu bilangan a Z + disebut pembagi persekutuan dari b dan c jika a|b dan a|c.

Lebih jauh jika b 0 atau c 0 dan untuk setiap pembagi persekutuan a’ yang

membagi b dan c berlaku a’ a, maka a disebut pembagi persekutuan terbesar 1) dari b dan c.

Pembagi persekutuan terbesar dari b dan c dilambangkan (b, c). Definisi pembagi persekutuan terbesar dari dua bilangan bulat secara alamiah bisa diperluas ke lebih dari dua bilangan bulat. Pembagi persekutuan terbesar dari n bilangan bulat b 1 , b 2 , …, b n dilambangkan

(b 1 , b 2 , …, b n ). Berdasarkan definisi, setiap bilangan bulat membagi bilangan 0. Jadi ada tak hingga faktor dari 0. Tetapi hanya ada sebanyak hingga faktor dari bilangan bulat tak nol. Jadi jika b 0 atau c 0 maka hanya ada sebanyak hingga pembagi persekutuan yang berbeda dari b dan c. Perhatikan, jika a|b dan a|c, maka a|b dan a|c. Karena fakta ini, kita memilih bilangan positif (b, c) sebagai pembagi persekutuan terbesar dari b dan c.

Contoh 1.1 Karena 15|300 dan 15|225, 15 adalah pembagi persekutuan dari 300 dan 225.

Demikian pula, 15|300 dan 15|225. Tetapi 15 (300, 225). Sesungguhnya, 75 = (300, 225).

1) Di Indonesia, sekolah-sekolah tingkat menengah ke bawah menggunakan istilah faktor pembagi terbesar b dan c yang disingkat FPB(b, c) walaupun istilah ‘faktor’ memiliki makna agak berbeda dengan istilah ‘pembagi’.

Teorema 1.3 Jika g = (b, c), maka terdapat bilangan bulat x 0 dan y 0 sedemikian rupa sehingga g = bx 0 + cy 0 .

Bukti.

Pandang himpunan

H = {bx + cy Z | x, y Z}

yang berisi bilangan-bilangan bulat positif dan negatif. Pilih x 0 , y 0 Z sedemikian rupa sehingga l = bx 0 + cy 0 adalah bilangan positif terkecil dalam H. Pertama kali dibuktikan bahwa l adalah pembagi persekutuan b dan c. Dalam hal ini, hanya dibuktikan l|b (sebab pembuktian l|c dikerjakan dengan cara yang analog).

Andaikan lb. Menurut bagian kedua dari Teorema 1.2 , terdapat bilangan q, r Z

dengan b = lq + r dan 0 < r < l. Jadi r = b lq = b (bx 0 + cy 0 )q = b(1 qx 0 ) + c(qy 0 )

dan ini membuktikan r H dengan 0 < r < l. Hal ini kontradiksi dengan ketentuan bahwa

l adalah bilangan positif terkecil dalam H. Karena timbul kontradiksi, pengandaian

lb

harus diingkari menjadi l|b.

Karena g = (b, c), terdapat B, C Z sedemikian rupa sehingga b = gB dan c = gC. Sebagai akibatnya, l = bx 0 + cy 0 = g(Bx 0 + Cy 0 ). Jadi g|l sehingga menurut bagian 5 dari

Teorema 1.1 , g l. Dari lain pihak, karena g = (b, c), l|b dan l|c, disimpulkan l g. Ini

berarti g = l = bx 0 + cy 0 .

Teorema 1.4 Misalkan g, b, c Z dengan g 0. Ketiga pernyataan berikut ekuivalen:

(1) g = (b, c); (2) g adalah bilangan positif terkecil dalam H = {bx + cy Z | x, y Z};

(3) Untuk setiap a Z, jika a|b dan a|c, maka a|g. Bukti.

(1) (2) adalah bagian dari bukti Teorema 1.3 sedangkan pembuktian (2) (3)

diperoleh dari bagian (3) Teorema 1.1 yang menyatakan jika a|b dan a|c maka a|(bx + cy),

di mana x, y Z.

Teorema 1.5

Misalkan b 1 , b 2 , …, b n Z tidak semuanya nol. Jika g = (b 1 , b 2 , …, b n ), maka

terdapat x 1 , x 2 , …, x n Z sedemikian rupa sehingga

g = b 1 x 1 + b 2 x 2 + … + b n x n

dan ketiga pernyatan berikut ekuivalen:

(1)

(2) g adalah bilangan positif terkecil dalam H = {

(3) Jika a Z dengan a|b 1 , a|b 2 , …, a|b n , maka a|g.

g = (b 1 , b 2 , …, b n );

n

i = 1

b x

i

i

Z | x i Z};

Ungkapan lain untuk menyatakan bagian 2 dari Teorema 1.4 (yang juga bisa diperluas ke

Teorema 1.5 ) adalah

g = min{bx + cy Z | x, y Z}.

Teorema 1.6

Untuk setiap m Z dengan m > 0, berlaku

Bukti.

(ma, mb) = m(a, b).

Dari bagian (2) Teorema 1.4 , diperoleh

(ma, mb) = bilangan positif terkecil dari semua bentuk max + mby;

= m·( bilangan positif terkecil dari semua bentuk ax + by);

= m(a, b).

Teorema 1.7

Jika d|a dan d|b dan d > 0, maka (

a

b

)

1

d

,

d

=

d (a, b).

Lebih jauh, jika g = (a, b) maka ( Bukti.

Pada Teorema 1.6 , ganti m, a dan b masing-masing dengan d, a/d dan b/d dan kemudian

bagi kedua ruas dengan d. Akhirnya jika d diganti g = (a, b), maka diperoleh kesamaan

yang kedua.

a

b

)

=

g

,

g

1.

Teorema 1.8

Jika (a, m) = 1 dan (b, m) = 1, maka (ab, m) = 1.

Bukti.

Menurut Teorema 1.3 , terdapat x 0 , y 0 , x 1 , y 1 Z sedemikian rupa sehingga

ax 0 + my 0 = 1 = bx 1 + my 1 sehingga ax 0 = 1 my 0 dan bx 1 = 1 my 1 . Apabila x 2 = x 0 x 1 , maka

abx 2 = (ax 0 )(bx 1 ) = (1 my 0 )( 1 my 1 ) = 1 my 0 my 1 + m 2 y 0 y 1 = 1 my 2 ,

di mana y 2 = y 0 + y 1 my 0 y 1 . Dari kesamaan di atas, diturunkan abx 2 + my 2 = 1.

Selanjutnya Teorema 1.1 bagian (3) menyatakan bahwa setiap pembagi dari ab dan m

adalah pembagi dari abx 2 + my 2 , yaitu pembagi dari 1. Karena pembagi dari 1 adalah 1

dan 1, maka jelas (ab, m) = 1.

Definisi 1.3 Dua bilangan a, b Z disebut relatif saling prima jika (a, b) = 1. Lebih umum, bilangan-bilangan a 1 , a 2 , …, a n dikatakan relatif saling prima jika (a 1 , a 2 , …, a n ) = 1. Kita mengatakan a 1 , a 2 , …, a n sepasang-sepasang relatif saling prima jika untuk setiap pasang indeks i {1, 2, …, n} dan j {1, 2, …, n} dengan i j berlaku (a i , a j ) = 1.

Teorema 1.9 Misalkan a,b Z. Untuk setiap x Z berlaku

(a, b) = (b, a) = (a, b) = (a, b +ax).

Bukti. Namakan d = (a, b) dan g = (a, b +ax). Jelas (a, b) = (b, a) = (a, b) = d. Selanjutnya dari

Teorema 1.1 bagian (3) dan (4), d|g dan g|d sehingga d = g.

Teorema 1.10

Misalkan c|ab dan (b, c) = 1, maka c|a.

Bukti.

Dari Teorema 1.6, (ab, ac) = a(b, c) = a. Karena c|ab dan c|ac, menurut Teorema 1.4 ,

c|a.

Definisi 1.2 tidak memberikan cara yang konstruktif untuk mencari pembagi

persekutuan terbesar (a, b). Teorema mendatang memberikan cara konstruktf tersebut.

Tetapi sebelumnya kita buktikan lema berikut.

Lemma 1.1

Jika b = qc +r, maka (b, c) = (c, r).

Bukti.

Jika kita bisa membuktikan bahwa pembagi-pembagi persekutuan dari b dan c sama

dengan pembagi-pembagi persekutuan c dan r, maka otomatis (b, c) = (c, r). Sekarang

jika d|b dan d|c, maka (bagian (3) Teorema 1.1) d membagi b qc = r. Terbukti setiap

pembagi persekutuan b dan c juga merupakan pembagi persekutuan c dan r. Sebaliknya

dengan alasan yang sama, jika d|c dan d|r, maka d membagi qc + r = b.

Karena (b, c) = (b, c) = (b, c) = (b, c), kita bisa menganggap b > 0 dan c > 0.

Juga jika b < c, bentuk b = qc + r adalah b = 0·c + b sehingga dalam teorema berikut

dianggap b c.

Teorema 1.11 (Algoritma Euklid)

Apabila diberikan bilangan bulat b = r 0 dan c = r 1 dengan 0 < c < b, maka dengan

mengulang algoritma pembagian (Teorema 1.2 ) beberapa kali secara berurutan,

diperoleh persamaan-persamaan

r 0 = q 1 r 1 + r 2 , r 1 = q 2 r 2 + r 3 , r 2 = q 3 r 3 + r 4 ,

r n2 = q n1 r n1 + r n ,

0 < r 2 < r 1 , 0 < r 3 < r 2 , 0 < r 4 < r 3 ,

0 < r n < r n1 ,

r n1 = q n r n . di mana (b, c) = (r 0 , r 1 ) = r n adalah merupakan sisa (residu) tak nol terakhir dalam

proses pembagian di atas.

Bukti. Dalam kasus b|c, berlaku b = q 1 c. Ini adalah bentuk r n1 = q n r n dengan n = 1. Dalam kasus ini diperoleh (b, c) = (r 0 , r 1 ) = r 1 .

Dalam kasus bc, tulis r n1 = q n r n + r n+1 dengan r n+1 = 0. Karena r 0 > r 1 > r 2 … adalah

barisan bilangan-bilangan bulat positif yang menurun murni, proses pembagian pada suatu saat berhenti. Ini membuktikan keberadaan indeks n dengan r n+1 = 0 dan r n > 0 adalah sisa tak nol (residu) terakhir dalam proses pembagian di atas. Akhirnya dengan menerapkan Lemma 1.1 di atas beberapa kali diperoleh (b, c) = (r 0 , r 1 ) = (r 1 , r 2 ) = … = (r n1 , r n ) = (r n , r 0 ).

Solusi yang mudah diterapkan secara manual belum tentu mudah dan efisien jika diterapkan dalam bentuk program komputer. Agar bisa diimplementasikan sebagai program komputer, sebuah perumusan kuantitatif sangat membantu. Hal ini disebabkan setiap perumusan secara kuantitatif secara implisit menunjukkan urutan langkah-langkah (prosedur) untuk mendapatkan nilai yang dirumuskan secara kuantitatif tersebut. Teorema 1.3 hanya mengklaim keberadaan dua bilangan bulat x 0 dan y 0 yang memenuhi (a, b) = ax 0 + by 0 , tidak memberikan cara menentukan nilai x 0 dan y 0 . Berikut diberikan sebuah cara konstruktif untuk mencari (a, b) dan sekaligus mendapatkan x 0 dan y 0 . Cara ini memberikan solusi untuk menentukan kedua bilangan bulat x 0 dan y 0 melalui perumusan kuantitatif yang bersifat rekursif.

Akibat Teorema 1.11 (Perluasan Algoritma Euklid)

Dengan algoritma Euklid seperti yang dinyatakan dalam Teorema 1.11 , tetapkan

s 0 = 1,

s 1 = 0,

t 0 = 0,

t 1 = 1

dan untuk setiap k yang memenuhi 1 < k n, secara rekursif tetapkan

maka

s k+1 = q k s k + s k1 ,

t k+1 = q k t k + t k1

r k = (1) k s k a + (1) k1 t k b.

Pada khususnya, jika

maka

x 0 = (1) n s n

dan

y 0 = (1) n+1 t n ,

r n = (b, c) = ax 0 + by 0 .

Kita tak akan membuktikan Akibat Teorema 1.11 , tetapi memberi ilustrasi

bagaimana perumusan di atas berlaku.

Contoh 1.2

Untuk mencari (1668, 486), dilakukan proses pembagian

1668 =

3·486 + 210;

486

=

2·210 + 66;

210

=

3·66 + 12;

66

=

5·12 + 6

= Disimpulkan (1668, 486) = 6 sebab 6 merupakan sisa tak nol (residu) terakhir hasil

12

2·6.

algoritma pembagian dalam Teorema 1.11 di atas.

Untuk melihat berlakunya Akibat Teorema 1.11, tulis

r 0 = 1668 = 1·1668 + 0·486,

r 1 = 486 = 0·1668 + 1·486,

kemudian tetapkan s 0 = 1, s 1 = 0, t 0 = 0 dan t 1 = 1, yaitu koefisien-koefisien jumlahan

di atas. Selanjutnya karena

r 2 = 210 = 1668 3·486 = (1) 2 ·1·1668 + (1)·3·486,

tetapkan s 2 = 1 dan t 2 = 3. Selanjutnya karena

r 3 = 66

= 486 2·210

= 486 2·(1668 3·486)

= 2·1668 + 7·486,

= (1) 3 ·2·1668 + (1) 2 ·7·486,

tetapkan s 3 = 2 dan t 3 = 7. Demikian proses terus berlanjut sampai diperoleh sisa tak

nol terakhir r 5 = 6 sedangkan r 6 = 0. Lebih jauh, proses di atas menghasilkan

6 = (1668, 486) = (37)1668 + (127)486.

Proses di atas bisa digambarkan melalui diagram berikut.

k

0

1

2

3

4

5

6

r

k

1668

486

210

66

12

6

0

q

k

 

3

2

3

5

2

 

s

k

1

0

1

2

7

37

81

t

k

0

1

3

7

24

127

278

Dalam algoritma di atas, q k r k = r k1 r k+1 > 0 sehingga untuk setiap k, q k > 0. Diberikan sebuah bilangan bulat positif a dan himpunan semua pembagi a, maka untuk setiap pasang bilangan b dan c yang membagi a, terdapat pengawanan 1-1 antara pembagi persekutuan terbesar (a/b, a/c) dengan kelipatan persekutuan terkecil [b, c] yang didefinisikan sebagai berikut.

Definisi 1.4 Bilangan a Z + disebut kelipatan persekutuan dari n bilangan-bilangan bulat a 1 , a 2 , …, a n jika untuk setiap i = 1, 2, …, n berlaku a i |a. Lebih jauh, jika untuk setiap kelipatan persekutuan a’ yang lain berlaku a a’, bilangan b ini disebut kelipatan persekutuan terkecil dari a 1 , a 2 , …, a n . Dalam hal ini ditulis a = [a 1 , a 2 , …, a n ]

Teorema 1.12 Jika b adalah sebuah kelipatan persekutuan dari a 1 , a 2 , …, a n , maka [a 1 , a 2 , …, a n ]|b. Dengan kata lain, jika a = [a 1 , a 2 , …, a n ], maka setiap kelipatan persekutuan dari a 1 , a 2 , …, a n berbentuk ka, untuk suatu k {0, 1, 2, …}. Bukti.

Misalkan b adalah kelipatan persekutuan dari a 1 , a 2 , …, a n . Menurut Teorema 1.2 ,

terdapat bilangan k, r Z yang memenuhi b = ka + r dengan 0 < r < a. Andaikan r 0.

maka a i |r. Jadi r adalah

kelipatan persekutuan a 1 , a 2 , …, a n yang lebih kecil dari a, kontradiksi dengan fakta a =

[a 1 , a 2 , …, a n ]. Jadi pengandaian harus diingkari dan r = 0.

Karena untuk setiap i

{1, 2,

…, n} berlaku a i |a dan a i |b,

Teorema 1.13 Untuk setiap a, b, m Z dengan m > 0 berlaku [ma, mb] = m[a, b]. Lebih jauh,

[a, b](a, b) = |ab|.

Bukti. Selain merupakan kelipatan persekutuan dari ma dan mb, [ma, mb] juga merupakan kelipatan dari m sehingga [ma, mb] = mh 1 untuk suatu h 1 Z. Jika kita tulis [a, b] = h 2 , maka a|h 2 dan b|h 2 . Jadi ma|mh 2 dan mb|mh 2 dan mh 2 merupakan kelipatan persekutuan

dari ma dan mb sehingga menurut Teorema 1.12 , [ma, mb]|mh 2 , yaitu mh 1 |mh 2 . Jadi h 1 |h 2 .

Dari lain pihak, ma|mh 1 dan mb|mh 1 sehingga a|h 1 dan b|h 1 yang berakibat [a, b]|h 1 , yaitu

h 2 |h 1 . Terbukti h 1 = h 2 = [a, b] sehingga [ma, mb] = mh 1 = m[a, b].

Karena [b, c] = [b, c] = [b, c] = [b, c] > 0 jika a 0 atau b 0, maka bagian kedua

cukup dibuktikan untuk kasus a > 0 dan b > 0. Pertama kali anggap (a, b) = 1 dan amati

bahwa [a, b] adalah kelipatan dari a, katakana [a, b] = ma. Jadi b|ma dan karena (a, b) = 1,

maka menurut Teorema 1.10 , b|m. Sebagai akibatnya, b m dan ba ma = [a, b]. Tetapi

ba adalah kelipatan persekutuan dari a dan b sehigga ba [b, a] sehingga dalam kasus

(a, b) = 1, teorema terbukti. Dalam kasus g = (a, b) > 1, Teorema 1.7 menyatakan bahwa

(

a

b

g

,

g

)

= 1.

Dengan menerapkan hasil sebelumnya, diperoleh


a

b

(

a

b

) = (

)

a

g

)(

g

= ab.

b

g

,

g

g

,

g

g (

a

Setelah kedua ruas dikali g 2 , diperoleh

g

a

b

g

,

g

b

g

,

g

)

.

Dengan menggunakan bagian pertama teorema ini dan Teorema 1.6 , diperoleh

[a, b](a, b) = ab.

Soal-Soal

1. Gunakan algoritma Euklid untuk mencari pembagi persekutuan terbesar dari

a.

7469

dan

3464

b.

2689

dan

4001

c.

2947

dan

3997

d.

1109

dan

4999

2. Untuk setiap pasangan bilangan a dan b dalam soal butir 1 di atas, gunakan perluasan

algoritma Euklid untuk mencari sepasang bilangan bulat x 0 dan y 0 sedemikian rupa

sehingga (a, b) = ax 0 + by 0 .

3. Tentukan sepasang bilangan bulat x dan y sedemikian rupa sehingga

a.

243x + 198y = 9

b.

71x 51y = 1

c.

43x

+

64y = 1

d.

93x

81y = 3

4. Tentukan KPK (kelipatan persekutuan terkecil) dari

a.

482

dan

1687

b.

60

dan

61

5. Buktikan bahwa hasil kali tiga bilangan bulat yang berurutan habis dibagi 6 dan hasil

kali empat bilangan bulat berurutan habis dibagi 24.

6.

Tunjukkan tiga buah bilangan yang relatif saling prima tetapi tidak saling prima sepasang-sepasang.

7. Dua bilangan bulat dikatakan sama paritasnya jika keduanya bersama-sama genap atau bersama-sama ganjil sedangkan jika salah satu genap dan yang lain ganjil, kedua dikatakan berlawanan paritasnya. Diberikan sepasang bilangan, tunjukkan bahwa jumlah dan selisih keduanya selalu sama paritasnya.

8. Untuk setiap bilangan bulat n, buktikan n 2 n habis dibagi 2, n 3 n habis dibagi 6

dan n 5 n habis dibagi 30.

9. Untuk setiap bilangan bulat ganjil n, buktikan n 2 1 habis dibagi 8.

10. Buktikan, jika x dan y adalah bilangan bulat ganjil, x 2 + y 2 adalah bilangan genap yang tak habis dibagi 4.

11. Buktikan, jika a dan b adalah dua bilangan bulat yang memenuhi [a, b] = (a, b) maka a = b.

12. Buktikan tak ada bilangan bulat x dan y yang memenuhi x + y = 100 dan (x, y) = 3.

13. Buktikan ada tak hingga pasangan bilangan bulat x dan y yang memenuhi x + y = 100 dan (x, y) = 5.

14. Diberikan dua buah bilangan bulat s dan g > 0. Buktikan terdapat bilangan bulat x dan y yang memenuhi x + y = s dan (x, y) = g jika dan hanya jika s|g.

15. Cari pasangan bilangan bulat a dan b yang memenuhi (a, b) = 10 dan [a, b] = 100 secara bersamaan. Tentukan semua solusi yang mungkin.

16. Cari semua triple bilangan-bilangan bulat a, b dan c yang memenuhi (a, b, c) = 10 dan [a, b, c] = 100 secara bersamaan. Tentukan semua solusi yang mungkin.

17. Diberikan dua buah bilangan bulat positif g dan l. Buktikan terdapat bilangan bulat x dan y yang memenuhi (x, y) = g dan [x, y] = l jika dan hanya jika g|l.

1.3. Bilangan Prima

Definisi 1.5

Sebuah bilangan bulat p disebut bilangan prima jika p tak memiliki pembagi d yang memenuhi 1 < d < p. Sebuah bilangan bulat a > 1 yang bukan bilangan prima disebut

bilangan majemuk.

Sebagai contoh, 2, 3, 5, 7 dan 17 adalah bilangan-bilangan prima sedangkan 4, 6, 8, 10 dan 16 adalah bilangan-bilangan majemuk.

Teorema 1.14 Setiap bilangan bulat n > 1 merupakan hasil kali faktor-faktor prima (mungkin hanya terdiri atas satu faktor). Bukti. Jika n sendiri adalah bilangan prima, maka n berbentuk ‘hasil kali’ dari satu faktor perkalian. Jika bukan prima, n bisa difaktorkan, katakan n = n 1 n 2 , dengan 1 < n 1 < n dan 1

< n 2 < n. Jika n 1 adalah bilangan prima, biarkan apa adanya. Jika bukan prima, n 1 = n 3 n 4

untuk suatu bilangan bulat n 3 dan n 4 dengan 1 < n 3 < n 1 dan 1 < n 4 < n 1 , dst. Argumentasi

yang sama dikenakan pada n 2 . Proses menyatakan setiap faktor majemuk sebagai hasil kali bilangan-bilangan bulat pada suatu saat pasti berhenti sebab banyaknya faktor tak akan melebihi n, mengingat setiap faktor adalah bilangan-bilangan bulat > 1. Jadi kita bisa menulis n sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima dan karena faktor-faktor prima ini tidak selalu berbeda, hasilnya bisa ditulis sebagai

(1.2)

dengan p 1 , p 2 , …, p R adalah bilangan-bilangan prima yang berbeda sedangkan α 1 , α 2 , …, α R adalah bilangan-bilangan bulat positif. Ekspresi (1.2) disebut representasi kanonik dari bilangan bulat n sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Representasi n yang lain (juga disebut faktorisasi) adalah dengan menulis

(1.3)

n = p 1 p 2 p r

di mana p 1 , p 2 , …, p r adalah bilangan-bilangan prima (tak harus berbeda, apa sebabnya?)

Sekilas terkesan ‘jelas’ bahwa setiap bilangan bulat bisa direpresentasikan sebagai hasil kali beberapa (mungkin hanya satu) faktor-faktor prima secara tunggal, kecuali urutan faktor-faktor p i prima yang bisa berbeda. Padahal kenyataannya ketunggalan

representasi bilangan-bilangan bulat ini memerlukan bukti (Teorema 1.16 ). Bahkan pada

beberapa jenis himpunan dari bilangan-bilangan yang juga bersifat tertutup terhadap operasi tambah dan kali aritmatik, representasi atas faktor-faktor ‘prima’ tidak selalu tunggal.

n =

α

p

1

1

α

p

2

2

α

p

R

R

Kita akan sedikit menyimpang dari topik untuk menunjukkan dua contoh di mana representasi atas faktor-faktor ‘prima’ tidak selalu tunggal. Contoh pertama adalah himpunan semua bilangan bulat genap positif E = {0, 2, 4, …}. Anggap untuk sementara bahwa ‘sebuah bilangan’ harus diartikan sebagai ‘unsur dari E’. Himpunan E tertutup terhadap operasi tambah dan kali aritmatik, sebab hasil tambah dan hasil kali dua bilangan bulat genap menghasilkan bilangan bulat genap. Bilangan-bilangan ‘prima’ dalam E adalah bilangan-bilangan 2, 4, 6, 10, 14, … (kecuali 2, setiap bilangan ‘prima’ di C adalah kelipatan 2 dari bilangan-bilangan prima dalam Z). Sebagai contoh, bilangan 8 adalah bilangan majemuk sebab 8 = 2·4 sedangkan 10 adalah bilangan ‘prima’. Sekarang kita lihat bahwa 60 = 2·30 = 6·10, yaitu bilangan 60 bisa ditulis dengan dua bentuk hasil kali faktor-faktor ‘prima’. Contoh kedua adalah himpunan bilangan-bilangan kompleks

C = {a + b

adalah himpunan bi langan-bilangan kompleks C = { a + b | a , b ∈

| a, b Z}.

Perhatikan dengan menetapkan b = 0, diperoleh sub himpunan Z C. Himpunan C tertutup terhadap operasi tambah aritmatik (antara dua bilangan kompleks):

(a 1 + b 1

aritmatik (antara dua bilangan kompleks): ( a 1 + b 1 − 6 ) + (

6 ) + (a 2 + b 2

kompleks): ( a 1 + b 1 − 6 ) + ( a 2 + b

6 ) = (a 1 + a 2 ) + (b 1 + b 2 )

−6
−6

C,

sebab a 1 + a 2 Z dan b 1 + b 2 Z. Demikian pula, C tertutup terhadap operasi tambah aritmatik (antara dua bilangan kompleks):

(a 1 + b 1

aritmatik (antara dua bilangan kompleks): ( a 1 + b 1 − 6 )( a 2

6 )(a 2 + b 2

kompleks): ( a 1 + b 1 − 6 )( a 2 + b 2 −

6 ) = (a 1 a 2 6b 1 b 2 ) + (a 1 b 2 + a 2 b 1 )

−6
−6

C,

sebab a 1 a 2 6b 1 b 2 Z dan a 1 b 2 + a 2 b 1 Z.

∈ Z dan a 1 b 2 + a 2 b 1 ∈ Z . Pertama

Pertama kali kita definisikan norma N dari setiap unsur a + b 6 C sebagai

N(a + b

setiap unsur a + b − 6 ∈ C sebagai N ( a + b −

6 ) = (a + b

6 )( a − b 6 )(a b

sebagai N ( a + b − 6 ) = ( a + b − 6

6 ) = a 2 + 6b 2

(Jadi N ekuivalen dengan kuadrat modulus bilangan kompleks atau panjang vektor).

Tampak jika a + b

kompleks atau panjang vektor). Tampak jika a + b − 6 ≠ 0, 1, − 1

6 0, 1, 1 maka N(a + b

jika a + b − 6 ≠ 0, 1, − 1 maka N ( a +

6 ) > 1. Bahkan jika b 0, maka

N(a + b

b − 6 ) > 1. Bahkan jika b ≠ 0, maka N ( a +

6 ) 6.

(1.4)

Sebuah bilangan a + b

N ( a + b − 6 ) ≥ 6. (1.4) Sebuah bilangan a + b

6 C dikatakan majemuk (bisa difaktorkan) jika bisa

dinyatakan sebagai hasil kali seperti berikut:

a + b

−6
−6

= (x 1 + y 1

a + b −6 = ( x 1 + y 1 − 6 )( x 2

6 )( x 2 + y 2

a + b −6 = ( x 1 + y 1 − 6 )( x 2

6 )

(1.5)

dengan N(x 1 + y 1 6 ) > 1 dan N( x 2 + y 2 6 ) > 1. Jadi 1 dan 1 tak bisa berperan

sebagai faktor (sebab seandainya dibolehkan, N(1) = N(1) = 1). Pembatasan ini diperlukan untuk menghindari faktorisasi trivial semacam

diperlukan untuk menghindari faktorisasi trivial semacam a + b − 6 = (1)( a + b
diperlukan untuk menghindari faktorisasi trivial semacam a + b − 6 = (1)( a + b

a + b

untuk menghindari faktorisasi trivial semacam a + b − 6 = (1)( a + b −

6 = (1)(a + b

faktorisasi trivial semacam a + b − 6 = (1)( a + b − 6 )

6 ) = (1)(a b

b − 6 = (1)( a + b − 6 ) = ( − 1)( −

6 ).

Jadi banyaknya faktor dalam representasi unsur-unsur C selalu berhingga, kurang dari jumlah norma faktor-faktornya. Lebih jauh, dari bentuk (1.5) bisa diturunkan

(1.6)

N(a + b

ja uh, dari bentuk (1.5 ) bisa diturunkan (1.6) N ( a + b − 6

6 ) = N(x 1 + y