Anda di halaman 1dari 27

Formulasi

Formulasi

merupakan

pembuatan

berbagai

bentuk

sediaan

yang

mengandung bahan aktif yang telah dikenal dan diketahui serta pembuatan
berbagai bentuk sediaan dengan bahan aktif baru. Tujuan formulasi sediaan obat
adalah untuk menentukan semua variabel yang diperlukan dalam mengembangkan
dan memproduksi sediaan farmasi secara optimal.
Dalam melakukan formulasi ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan
meliputi bahan aktif, bahan tambahan, bahan pengemas. Menurut Dirjen POM
(2006), bahan (zat) aktif adalah setiap bahan atau campuran bahan yang akan
digunakan dalam pembuatan sediaan farmasi dan apabila digunakan dalam
pembuatan obat menjadi zat aktif obat tersebut. Dalam pengertian lain, bahan aktif
adalah bahan yang ditujukan untuk menghasilkan khasiat farmakologi atau efek
langsung lain dalam diagnosis, penyembuhan, peredaan, pengobatan, atau
pencegahan penyakit, atau untuk mempengaruhi struktur dan fungsi tubuh.
Tujuan formulasi sediaan adalah untuk menentukan semua variabel yang
diperlukan dalam mengembangkan dan memproduksi sediaan farmasi secara
optimal. Bentuk sediaan dikembangkan berdasar formulasi dan teknologi
farmasetik agar menghasilkan sediaan yang efektif, aman dan stabil dengan tetap
menjaga kriteria mutu sediaan tersebut bila sediaan diproduksi dalam skala besar.
Pengujian mutu harus dilakukan sebelum suatu sediaan farmasi akhirnya
dilepas ke pasar dan digunakan oleh konsumen. Selain itu sediaan farmasi harus
digunakan dengan benar untuk mencapai efek terapi yang diinginkan dan dengan
bioavailabilitas optimal.
Teknologi farmasi diterapkan untuk mengembangkan suatu formula sediaan
dan prosedur yang dapat diterapkan secara umum pada semua tahap proses
produksi (pelarutan, penggerusan, pencampuran, dan lain sebagainya), yang
spesifik pada setiap bentuk sediaan.
Penerapan prinsip ilmiah dan pengetahuan tentang formulasi farmasetik
sangat berguna dalam pengembangan formula baru untuk obat-obat yang telah
ada, selain juga penting untuk pengembangan bahan aktif. Pengembangan formula
sediaan baru membutuhkan penelitian yang kompleks dan terpadu. Hal ini dapat
tercapai bila ada keutuhan ilmu yang terkait, diantaranya farmasi fisik,
biofarmasetika, formulasi dan teknologi farmasi. Gambar 1 berikut ini

menunjukkan ruang lingkup farmasetika. Empat tahap pengembangan formulasi


dari bahan aktif yang sudah dikenal dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 1. Ruang lingkup farmasetika

Gambar 2. Tahap Pengembangan Formulasi

Mengacu pada penjelasan diatas, maka ruang lingkup keilmuan Bagian


Farmasetika meliputi Farmasi Fisik, Biofarmasetika, Farmasetika Sediaan:
Likuida, Solida, Semi Solida, Steril, Kosmetika, "Drug Delivery System" dan
Radiofarmasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam formulasi, yaitu:
1. Kelarutan
2. Absorbsi dan kecepatan disolusi
3. Stabilitas kimia dan enzimatik
4. Ketersediaan di pasaran
5. Kemudahan penggunaan
6. Kenyamanan pemakaian
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan bentuk sediaan dalam suatu
formulasi, yaitu
1. Harus melindungi zat aktif dari kerusakan, baik dari luar maupun dalam
tubuh.
2. Harus menutupi rasa tidak enak atau pahit bahan obat.
3. Harus menjaga stabilitas bahan obat.
4. Harus meningkatkan ketaatan penggunaan obat.
Aspek dalam studi formulasi, yaitu:
1. Studi fisika kimia
2. Studi pemasok
3. Studi pasar
4. Studi harga
5. Studi farmakologi
6. Studi interaksi dengan bahan lain

Formulasi Sedian Liquida


1. Larutan
Menurut FI III 1979, larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan
kimia terlarut kcuali dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling.
Faktor-faktor yang mempengaruhi larutan:
1. Sifat dari solut dan solvent
Solut yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya garamgaram anorganik larut dalam air. Solute yang nonpolar larut dalam solvent
yang nonpoar pula. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut
dalam kloroform.

2. Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya
penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut
dalam air, tetapi larut dalam campuran air dan gliserin atau solutio petit.
3. Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar
larut memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan
dalam farmasi umumnya adalah:
Dapat larut dalam air
Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam
nitrat larut kecuali nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4,
PbSO4, CaSO4.
Tidak larut dalam air
Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida
dan hidroksida tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2. semua garam
phosfat tidak larut kecuali K3PO4, Na3PO3.

Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dalam istilah


berikut:

4. Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat
tersebut dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya
membutuhkan panas.

Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh


dipanaskan, misalnya :
Zat-zat yang atsiri, Contohnya : Etanol dan minyak atsiri.
Zat yang terurai, misalnya : natrium karbonas.
Saturatio
Senyawa-senyawa kalsium, misalnya : Aqua calsis.
5. Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai
kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan
kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.
Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air
tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.

6. Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat
utama dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut
dalam air tetapi larut dalam larutan yang mengandung Nicotinamida.
7. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa
tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.
Contohnya: Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh.
Kecepatan kelarutan dipengauhi oleh:
1. Ukuran partikel : Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel ; makin
luas permukaan solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat
larut.
2. Suhu : Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelaruta solute.
3. Pengadukan.
Formula Umum Larutan
1. Bahan obat / zat aktif
2. Pembantu pelarut (bila diperlukan)
3. Zat tambahan (bila diperlukan)
4. Pelarut
Keuntungan Sediaan Larutan
1. Merupakan campuran homogen
2. Dosis dapat diubah ubah dalam pembuatan

3. Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tablet sulit
diencerkan
4. Kerja awal obat lebih cepat, karena obat cepat di absorbsi
5. Mudah diberi pemanis, pengaroma, pewarna
6. Untuk pemakaian luar mudah digunakan
Kerugian Sediaan Larutan
1. Ada obat yang tidak stabil dalam larutan
2. Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan
Syarat Syarat Larutan :
1. Zat terlarut harus larut sempurna dalam pelarutnya
2. Zat harus stabil, baik pada suhu kamar dan pada penyimpanan
3. Jernih
4. Tidak ada endapan
2. Suspensi
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut
yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi adalah sediaan yang setidaknya
mengandung satu bahan aktif yang tidak terlarut dalam pembawa sehingga dalam
pemakaiannya dibutuhkan pengocokan sebelum dosis diberikan.
Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang
terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, dan
ditunjukan untuk pemakaian oral. Sesuai sifatnya partikel yang terdapat dalam
suspense dapat mengendap pada dasar wadah bila didiamkan. Pengendapan
seperti ini dapat mempermudah pengerasan dan pemadatan sehingga sulit
terdispersi kembali, walaupun dengan pengocokan. Untuk mengatasi masalah
tersebut, dapat ditambahkan zat yang sesuai untuk meningkatkan kekentalan dan
bentuk gel suspense seperti tanah liat, surfraktan, poliol, polimer atau gula. Yang
sangat penting adalah bahwa suspensi harus dikocok baik sebelum digunakan
untuk menjamin distribusi bahan padat yang merata dalam pembawa, sehingga
menjamin keseragaman dan dosis yang tepat. Suspense harus disimpan dalam
wadah tertutup rapat. Dalam proses pembuatan suspensi masalah yang dihadapi
adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas
partikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas.

Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah:


1. Ukuran partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut
serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran
partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampang.
Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan
hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin luas
penampangnya [dalam volume yang sama]. Sedangkan semakin luas
penampang partikel daya tekan keatas cairan semakin memperlambat gerakan
partikel untuk mengendap, sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut
dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel tersebut.
2. Kekentalan [Viskositas]
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan
tersebut, semakin kental suatu cairan semakin turun atau kecil. Kecepatan
aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi gerakan turunnya partikel yang
terdapat di dalamnya. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan,
gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tetapi perlu
diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan
mudah dikocok dan dituang. Hal ini dapat dibuktikan

dengan hukum

STOKES.
V = d2 [-0] g

keterangan : V : kecepatan aliran


d : diameter dari partikel
: berat jenis dari partikel
0 : berat jenis cairan
g : gravitasi
: viskositas cairan
3. Jumlah partikel [konsentrasi]
Apabila di dalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka
partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering
terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan
terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar

konsentrasi partikel, semakin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel


dalam waktu yang singkat.
4. Sifat/muatan partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam
campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada
kemungkinan

terjadi

interaksi

antara

bahan-bahan

tersebut

yang

menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat
bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, maka kita tidak dapat
mempengaruhinya.
Suspensi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan
atau yang direkonstitusikan dengan sejumlah air untuk injeksi atau pelarut lain
yang sesuai sebelum digunakan. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara
intravena dan intratekal. Umumnya, suatu sediaan suspensi kering dibuat karena
stabilitas zat aktif di dalam pelarut air terbatas, baik stabilitas kimia atau stabilitas
fisik. Umumnya antibiotik mempunyai stabilitas yang terbatas di dalam pelarut
air. Oleh karena itu sediaan Amoxiciliin 120mg/5mL harus dibuat suspense
rekonstitusi karena antibiotic tidak stabil dalam air. Syarat pembuatan suspensi
rekonstitusi :
Campuran serbuk/granul haruslah merupakan campuran yang homogen,

sehingga konsentrasi/dosis tetap untuk setiap pemberian obat.


Selama rekonstitusi campuran serbuk harus terdispersi secara cepat dan

sempurna dalam medium pembawa.


Suspensi yang sudah direkonstitusi harus dengan mudah didispersikan
kembali dan dituang oleh pasien untuk memperoleh dosis yang tepat dan

homogen.
Produk akhir haruslah menunjukkan penampilan, rasa, dan aroma yang
menarik.

Metode pembuatan suspensi


Metode dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah
terbentuk kmudian baru diencerkan.
Metode praesipitasi

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hrndak
dicampur dengan air. Setelah larut diencerkan dengan larutan pensuspensi dalam
air.
Sistem pembentukan suspensi
System flokulasi
1. partikel merupakan agregat yang bebas
2. sedimentasi terjadi capat
3. sediment terbentuk cepat
4. sediment tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi
kembali seperti semula
5. wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
System deflokulasi
1. partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain
2. sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel mengendap terpisah
dan ukuran partikel adalah minimal
3. sediment terbentuk lambat
4. akhirnya sediment akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi
lagi.
3. Emulsi
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan pembawa yang membentuk butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat
pengemulsi/surfaktan yang cocok.

Formulasi umum
Komponen dasar yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam
emulsi, terdiri atas:
a.Fase dispersi: zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair
lainnya.
b.Fase pendispersi: zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar
(bahan pendukung ) emulsi tersebut.
c.Emulgator: bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
Contoh emulgator :

Gom Arab
Tragacanth
Agar-agar
Condrus
CMC-Na

: Cara Pembuatan air 1,5 kali bobot GOM


: Cara Pembuatan air 20 kali bobot tragacanth
: Cara Pembuatan 1-2% agar-agar yang digunakan
: Cara Pembuatan 1-2% condrus yang digunakan
: Cara Pembuatan 1-2% cmc-na yang dihunakan

Emulgator alam

Kuning telur: emulsi dengan kuning telur dalam mortir luas dan digerus
dnegan stemper kuat-kuat, setelah itu dimasukkan minyaknya sedikit demi

sedikit, lalu diencerkan dengan air dan disaring dengan kasa.


Adeps lanae

Emulgator mineral

Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum ): diapaki 1%


Bentonit: 5% bentonit yang digunakan

Emulgator buatan/sintesis

Tween
Ester dari sorbitan dengan asam lemak disamping mengandung ikatan eter
dengan oksi etilen, berikut macam-macam jenis tween :

a.

Tween 20 : Polioksi etilen sorbitan monolaurat, cairan seperti minyak.

b.

Tween 40 : Polioksi etilen sorbitan monopalmitat, cairan seperti


minyak.

c.

Tween 60 : Polioksi etilen sorbitan monostearat, semi padat seperti


minyak.

d.

Tween 80 : Polioksi etilen sorbitan monooleat, cairan seperti minyak.

a.
b.
c.

Span
Ester dari sorbitan dengan asam lemak. Berikut jenis span :
Span 20
: Sorbitan monobiurat, cairan
Span 40
: Sorbitan monopulmitat, padat seperti malam
Span 60
: Sorbitan monooleat, cair seperti minyak

Komponen tambahan yaitu bahan tambahan yang sering ditambahkan ke dalam


emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya : pewarna, pengaroma,
perasa, dan pengawet

Formulasi Sediaan Semisolida


1. Krim
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk sediaan
setengah padat, berupa emulsi mengandng air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar. Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, krim
adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Menurut Formularian
Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung
air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Krim adalah
sediaan semi solid kental, umumnya berupa emulsi m/a (krim berair) atau emulsi
a/m (krim berminyak). Secara tradisional, istilah krimdigunakan untuk sediaan
setengah padat yang mempunyai konsentrasi relatif cair di formulasi sebagai
emulsi air dalam minyak (a/m) atau minyak dalam air (m/a).
1. Krim tipe minyak dalam air (M/A) yaitu air terdispersi dalam minyak,
Contoh : Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk
maksud memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim
pembersih, berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream
mengandung mineral oil dalam jumlah besar.
2. Krim tipe air dalam minyak (A/M) yaitu minyak terdispersi dalam air.
Contoh: Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk
maksud membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing
cream

sebagai

pelembab

(moisturizing)

meninggalkan

lapisan

berminyak/film pada kulit. Krim yang dapat dicuci dengan air (M/A)
ditujukkan untuk penggunaan kosmetik dan estetika. Krim dapat juga
digunakan untuk pemberian melalui vagina.
Formula Dasar Krim
1) Fase minyak ,yaitu bahan obat larut dalam minyak bersifat asam.Contoh: asam
stearat, parafin liq, cetaceum, cera, vaselin dan lain-lain.
2) Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.Contoh: Natr.
Tetraborat (borax, Na. Biborat), TEA, NaOH, KOH, gliserin dan lain-lain.
a. Bahan-bahan Penyusun Krim

1) Zat berkhasiat
2) Minyak
3) Air
4) Pengemulsi
5) Bahan Pengemulsi
b. Bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim
1) Zat pengawet, untuk meningkatkan stabilitas sediaan
2) Pelembab
3) Antioksidan, untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada
minyak tak jenuh.

Stabilitas krim
Krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh perubahan suhu dan
komposisi, misalnya adanya penambahan salah satu fase secara berlebihan.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika sesuai dengan pengenceran yang
cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptis. Krim yang sudah diencerkan
harus digunakan dalam waktu satu bulan.
Bahan pengemulsi krim harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang
dikendaki. Sebagai bahan pengemulsi krim, dapat digunakan emulgid, lemak bulu
domba, setasiun, setilalkohol, stearilalkohol, golongan sorbitan, polisorbat, PEG,
dan sabun. Bahan pengawet yang sering digunakan umumnya adalah metilparaben
(nipagin) 0,12 0,18% dan propilparaben (nipasol) 0,02 0,05%.
Metode pembuatan krim :
1) Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi
2) komponen tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan
bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75 C
a. semua larutan berair yang tahan panas, komponen yang larut dalam air
dipanaskan pada suhu yang sama dengan komponen lemak
b. larutan berair secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak
yang cair dan diaduk secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit
untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak
c. campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus
sampai campuran mengental

d. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka
beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak
dengan fase cair.
2. Pasta
Pasta adalah salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat serbuk.
Karenamerupakan salep yang tebal, keras dan tidak meleleh pada suhu badan
maka digunakan sebagaisalep penutup atau pelindung. Menurut farmakope
Indonesia edisi ke-3 pasta adalah sediaan berupa massa lembek yang
dimaksudkan untuk pemakaian luar. Biasanya dibuat dengan mencampurkan
bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau
paravin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan Gliserol,
musilago atau sabun. Digunakan sebagaiantiseptik, atau pelindung. Sedangkan
menurut farmakope Indonesia edisi ke-4 pasta adalah sediaan semi padat yang
mengandung satu atau lebih bahan obat yang digunakan untuk pemakaian topical.
Menurut DOM, Pasta adalah sediaan semi padat dermatologis yang
menunjukkan aliran dilatan yang penting. Ketika digunakan, pasta memiliki nilai
yield tertentu dan tahan untuk mengalir meningkat dengan meningkatnya gaya
pada penggunaan. Pasta biasanya disiapkandengan menambahkan sejumlah
serbuk yang tidak larut yang signifikan (biasanya 20% ataulebih) pada basis salep
konvensional sehingga akan merubah aliran plastis dari salep menjadialiran
dilatan.
Menurut Scovilles, Pasta terkenal pada daerah dermatologi dan tebal,
salep kental dimana pada dasarnya tidak melebur pada suhu tubuh, sehingga
membentuk dan menahan lapisan pelindung pada area dimana pasta digunakan.
Menurut Prescription, Pasta terbagi menjadi dua kelas seperti sediaan
salep untuk penggunaan luar. Pasta berlemak seperti pasta ZnO dan pasta tidak
berlemak mengandung gliserin dengan pektin, gelatin, tragakan dan lain-lain.
Pasta biasanya sangat kental atau kakudan kurang berlemak dibandingkan dengan
salep dimana bahan-bahan serbuk seperti pati, ZnO dan kalsium karbonat pada
basisnya memiliki bagian yang tinggi.
Macam-macam Pasta

Pasta Berlemak Pasta berlemak merupakan suatu salep yang mengandung

lebih dari 50% zat padat(serbuk)


Pasta Kering Mengandung 60% zat padat (serbuk).
Pasta Pendingin Merupakan campuran serbuk minyak lemak dan cairan

berair dikenal dengan salep 3 dara.


Pasta Detifriciae (Pasta Gigi) Merupakan campuran kental terdiri dari
serbuk dan Glycerinum yang digunakan untuk pembersih gigi.

Karakteristik Pasta

Daya adsorbs pasta lebih besar

Sering digunakan untuk mengadsorbsi sekresi cairan serosal pada tempat

pemakaian.Sehingga cocok untuk luka akut.


Tidak sesuai dengan bagian tubuh yang berbulu.
Mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian

topikal.
Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.
Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum.
Memiliki persentase bahan padat lebih besar dari pada salep yaitu
mengandung bahanserbuk (padat) antara 40 %- 50 %.

Cara Pembuatan
Umumnya pasta dibuat dengan cara yang sama dengan salep. Tetapi,
bahan untuk menggerus dan menghaluskan digunakan untuk membuat komponen
serbuk menjadi lembut, bagian dari dasar ini sering digunakan lebih banyak dari
pada minyak mineral sebagai cairan untuk melembutkan pasta. Untuk bahan dasar
yang berbentuk setengah padat, dicairkan terlebih dahulu, setelah itu baru
kemudian dicampur dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih
tercampur dan homogen. Pembuatan pasta dilakukan dengan dua metode :
1. Pencampuran komponen dari pasta dicampur bersama-sama dengan segala
cara sampai sediaan yang rata tercapai.
2. Peleburan semua atau beberapa komponen dari pasta dicampurkan dengan
meleburkannya

secara

bersamaan,

kemudian

didinginkan

dengan

pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen-komponen yang


tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang
mengental setelah didinginkan dan diaduk.

Bahan dasar pasta seperti vaselin, lanolin, adepslanae, unguentum simplex,


minyak lemak dan parafin liquidum.
3. Salep
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam
darsar salep yang cocok (F.I.ed.III). Salep adalah sedian setengan padat yang
ditujukan untuk pemakaian topical kulit atau selaput lender salep tidak boleh
berbau tengik kecuali dinyatakan lain, kadar bahan obat dalam salep mengandung
obat keras narkotika adalah 10 % (FI IV). Salep adalah gel dengan sifat deformasi
plastis yang digunakan pada kulit atau selaput lendir. Sediaan ini dapat
mengandung bahan obat tersuspensi, terlarut atau teremulasi. Menurut ansel Salep
(unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar yang
dimaksudkan untuk pemakaian pada mata dibuat khusus dan disebut salep mata.
(R. VOIGT) Salep dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat, yang
disebutkan terakhir bisanya dikatakan sebagai dasar salep (basis ointment) dan
digunakan sebagai pembawa dalam penyimpan salep yang mengandung obat.

Gambar 3. Salep

Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok :

a) Dasar salep hidrokarbon


Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak antar lain vaselin putih
dan salep putiih. Hanya sejumlah kecil komponen berair dapat dicampurkan
kedalamnya. Salep ini dimaksud untuk memperpanjang kontak bahan obat
dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep
hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien, dan sukar dicuci , tidak
mengering dan tidak tmpak berubah dalam waktu lama.
b) Dasar salep serap
Dasar salep serap ini dapat dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama
terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi
air dalam minyak (parafi hidrofilik dan lanolin anhidrat), dan kelompok ke 2
terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah
larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep serap juga dapat bermanfaat
sebagai emolien.
c) Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik
dan lebih tepat disebut krim (lihat kremores). Dasar salep ini dinyatakan
juga sebagai dapat dicuci dengan air karena mudah dicuci dikulit atau dilap
basah, sehingga dapat diterima untuk dasar kosmetik.beberpa bahan obat
dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini daripada dasar salep
hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan
dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjdi pada kelainan
dermatologik.
d) Dasar salep larut dalam air
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari
konstituen larut air. Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungan
seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan
yang tak larut dalam air seperti parafin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar
salep ini lebih tepat disebut gel.
Macam-macam salep
1. Salep berlemak
2. Pasta berlemak
3. Salep pendingin
4. Krim

5. Mixtur gojog
Menurut dasar salep, salep dapat dibagi :
1. Salep hidrofobik yaitu salep yang tidak suka air atau salep dengan dasar salep
berlemak (greasy bases) tidak dapat dicuci dengan air misalnya: campuran
lemak-lemak, minyak lemak, malam.
2. Salep hidrofilik yaitu salep yang suka air; biasanya dasar salep. Tipe M/A.
Menurut formularium nasional
1. Dasar salep 1 (dasar salep senyawa hidrokarbon)
2. Dasar salep 2 (dasar salep serap)
3. Dasar salep 3 (dasar salep yang dapat dicuci dengan air / dasar
1. salep Emulsi M/A)
4. Dasar salep 4 (dasar salep yang dapat larut dalam air).
5. Gel
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, gel kadang-kadang disebut jeli,
merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu
cairan. Menurut Formularium Nasional, gel adalah sediaan bermassa lembek,
berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil senyawa anorganik atau
makromolekul senyawa organik, masing-masing terbungkus dan saling terserap
oleh cairan.
Menurut Ansel, gel didefinisikan sebagai suatu system setengah padat
yang terdiri dari suatu disperse yang tersusun baik dari partikel anorganik yang
terkecil atau molekul organic yang besar dan saling diresapi cairan. Menurut
Farmakope Indonesia Edisi IV penggolongan sediaan gel dibagi menjadi dua
yaitu:
1. Gel sistem dua fase
Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar ,
massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma misalnya magma
bentonit. Baik gel maupun magma dapat berupa tiksotropik, membentuk
semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada pengocokan.Sediaan harus
dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas.
2. Gel sistem fase tunggal
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar sama dalam
suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul

makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari
makromolekul sintetik misalnya karboner atau dari gom alam misanya
tragakan.
Keuntungan sediaan gel
Untuk hidrogel efek pendinginan pada kulit saat digunakan, penampilan sediaan
yang jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film
tembus pandang, elastis, mudah dicuci dengan air, pelepasan obatnya baik,
kemampuan penyebarannya pada kulit baik.

Gambar 4. Gel
Kekurangan sediaan gel
Untuk hidrogel harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga
diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih
pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau
hilang ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan
iritasi dan harga lebih mahal.
Menurut Lachman, dkk. 1994 sediaan gel memiliki sifat sebagai berikut:
1. Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert,
aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain.
2. Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan
yang baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan
diberikan kekuatan atau daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol,
pemerasan tube, atau selama penggunaan topical.

3. Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang


diharapkan.
4. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM
besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan.
5. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga
pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh
polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang
akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan suhu larutan
tersebut akan membentuk gel.
6. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh
pemanasan disebut thermogelation.
Formulasi Sediaan Solida
Formulasi solid terdiri dari:

Bahan aktif adalah bahan yang akan dipergunakan dalam pembuatan


sediaan farmasi dan apabila digunakan dalam pembuatan obat menjadi zat

aktif obat tersebut.


Bahan pengisi adalah jumlah dosis tunggal dari komposisi aktif sangat
kecil dan bahan inert ditambahkan untuk meningkatkan massa tablet agar
menghasilkan ukuran tablet yang praktis untuk pengempaan. Bahan
pengisi adalah bahan pengencer biasanya dianggap sebagai bahan inert,
mereka bisa secara signifikan mempengaruhi sifat kimia, biofarmasetik

dan sifat fisik dari tablet akhir (Starch, Laktosa, Sukrosa).


Bahan penghancur adalah untuk memfasilitasi pecahnya tablet setelah

digunakan atau sesuai yang diinginkan (Avicel, Primogel).


Bahan pengikat merupakan bahan yang memberikan kualitas kohesi untuk
serbuk dalam menjamin keutuhan tablet setelah kompresi (Gennaro,
1998). Bahan pengikat merupakan bahan yang ditambahkan dalam bentuk
kering atau cairan selama granulasi basah untuk membentuk granul atau
menaikkan kekompakan kohesi bagi tablet yang dicetak langsung (Gelatin,

Sucrose, PVP)
Bahan pelicin yang baik dalah pelumas yang sedikit yang dapat
meningkatkan aliran granulasi dai nopper ke dalam mekanisme umpan dan

akhirnya kedalam rongga mata. Pelincir dapat meminimalkan tingkat


gelombang dan kelaparan sering ditunjukkan oleh formula pemadatan
langsung kecepatan tinggi menekan tablet memerlukan, halus bahkan
aliran bahan kerongga hati. Ketika aliran sangat miskin, glidants tidak
efektif. Fungsi utama dari pelicin adalah untuk mengurangi gesekan antara
dinding mati dan tepi tablet sebagai tablet yang dikeluarkan. Kurang
cukupnya pelicin menghasilkan oleh mesin tablet sering dan dapat
menyebabkan kerusakan pori yang lebih rendah, jalur cepat dan lebih

rendah (Talk, Metalic (Mg, As, Ca) stearate)


Bahan pewarna yang dimasukkan kedalam tablet umumnya untuk satu
atau lebih dari tiga tujuan. Pertama, warna dapat digunakan untuk
mengidentifikasi serupa yang tampak dalam lini produk, atau dalam kasus
dimana produk dari penampilan yang sama ada di baris produsen yang
berbeda. Ini mungkin penting ketika produk identifikasi adalah masalah.
Kedua, warna bisa membantu meminimalkan possibility dari mixups
selama pembuatan ketiga, dan mungkin paling tidak penting adalah
penambahan pewarna untuk tablet untuk estetika atau nilai pemasarannya

1.

Tablet
Tablet adalah sediaan obat berbentuk bulat gepeng,kompak merupakan
hasil kempaan zat aktif dengan atau tanpa bahan tambahan. Tablet adalah sediaan
padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau
sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat
atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Menurut FI edisi IV, tablet adalah
sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat
dengan atau tanpa bahan pengisi (USP 26, hal 2406). Tablet adalah sediaan padat
yang mengandung satu dosis dari beberapa bahan aktif dan biasanya dibuat
dengan mengempa sejumlah partikel yang seragam (BP 2002). Tablet yang
berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus adalah tablet besar yang
digunakan untuk obat hewan besar. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram
pipih/gepeng, bundar,

segitiga, lonjong dan sebagainya. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk


menghindari, mencegah atau mempersulit pemalsuan dan agar mudah dikenali
orang. Warna tablet umumnya putih. Tablet yang berwarna mungkin karena zat
aktifnya memang berwarna, tetapi ada juga tablet yang sengaja diberi warna agar
tampak lebih menarik, mencegah pemalsuan, dan untuk membedakan tablet yang
satu dengan tablet yang lain. Pemberian etiket pada tablet harus mencantumkan
nama tablet atau zat aktif yang dikandung, dan jumlah zat aktif (zat berkhasiat)
tiap tablet.

Gambar 5. Tablet
Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
Keuntungan tablet
Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan
antara lain :
1. Tablet merupakan bentuk sediaan utuh dan menawarkan kemampuan terbaik
dibanding semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas
kandungan yang paling rendah.
2. Tablet merupakan sediaan yang biaya pembuatannya paling rendah.

3. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan sehingga mudah
dibawa.
4. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah dan murah untuk
dikemas dan dikirim.
5. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah,
6. tidak memerlukan pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan
7. pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul.
8. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di
9. tenggorokan, terutama tablet salut yang memungkinkan pecah/ hancurnya
10. tablet tidak segera terjadi.
11. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti
12. pelepasan di usus atau produk lepas lambat.
13. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi
14. secara besar-besaran.
15. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran
16. kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.
17. Bau, rasa, dan warna yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan
18. penyalutan.
19. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif
20. yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk
21. sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang
22. paling rendah.
23. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil.
24. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil.
14. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
15. Pemakaian oleh penderita lebih mudah.
Kerugian tablet
1. Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada
keadaan amorfnya, flokulasinya, atau rendahnya berat jenis.
2. Obat yang sukar dibasakan, lambat melarut, dosisnya tinggi, absorpsi optimumnya
tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat diatas, akan sukar
atau tidak mungkin diformulasi dan dipabrikasi dalam bentuk tablet yang
masih menghasilkan bioavailabilitas obat cukup.
3. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan, atau obat
yang peka terhadap oksigen atau kelembaban udara perlu pengapsulan atau
penyelubungan dulu sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan
penyalutan dulu. Pada keadaan ini kapsul dapat merupakan jalan keluar yang
terbaik dan lebih murah.
4. Kesulitan menelan pada anak-anak, orang sakit parah, dan pasien lanjut usia.

2.

Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras
atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi
dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai.
Kapsul tidak berasa, mudah pemberiannya, mudah pengisiannya tanpa
persiapan atau dalam jumlah yang besar secara komersil. Didalam praktek
peresepan, penggunaan kapsul gelatin keras diperbolehkan sebagai pilihan
dalam meresepkan obat tunggal atau kombinasi obat pada perhitungan dosis
yang dianggap baik untuk pasien secara individual. Fleksibilitasnya lebih
menguntungkan daripada tablet. Macam-macam Kapsul:
a. Hard capsule (cangkang kapsul keras)
Kapsul cangkang keras terdiri atas wadah dan tutup yang dibuat dari
campuran gelatin, gula dan air, jernih tidak berwarna dan pada dasarnya
tidak mempunyai rasa. Biasanya cangkang ini diisi dengan bahan padat atau
serbuk, butiran atau granul. Ukuran kapsul mulai dari yang besar sampai
yang kecil yaitu 000, 00, 1, 2, 3, 4, 5 (Ansel, 2005).
b. Soft capsule (cangkang kapsul lunak)
Kapsul gelatin lunak dibuat dari gelatin dimana gliserin atau alkohol
polivalen dan sorbitol ditambahkan supaya gelatin bersifat elastis seperti
plastik. Kapsul-kapsul ini mungkin bentuknya membujur seperti elips atau
seperti bola dapat digunakan untuk diisi cairan, suspensi, bahan berbentuk
pasta atau serbuk kering
Persyaratan Kapsul Menurut FI ed. IV persyaratan kapsul meliputi :
Keseragaman sediaan, meliputi:
Keragaman bobot
Keseragaman kandungan
Macam-macam sediaan kapsul
Berdasarkan Konsistensi
1.) kapsul lunak
2.) kapsul keras
Berdasarkan cara pemakaian
1.) per oral

2.) topical
3.) per vaginal
4.) per rectal
Berdasarkan tujuan pemakaian
1.) untuk manusia
2.) untuk hewan
Wadah dan Penyimpanan Sediaan Kapsul
Kapsul gelatin keras harus disimpan ditempat dingin, dengan kelembaban sedang,
dalam wadah bermulut lebat dan tertutup rapat. Menurut Farmakope edisi III,
sediaan kapsul disimpan di tempat sejuk, bertutup rapat, dan sebaiknya
ditambahakan zat pengering. Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, sediaan
kapsul disimpan dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya, dan pada suhu
kamar terkendali.
Keuntungan Kapsul
Mudah Diidentifikasi Melalui Warna dan Logo,
1.

Mudah digunakan dan ditelan,

2.

Memiliki Rasa dan Bau Netral,

3.

Mudah Membengkak dan Melarut Dalam Air sehingga Zat Aktif mudah
Dibebaskan di Lambung,

4.

Cocok untuk Zat Aktif Peka Oksidasi, Peka Cahaya, Termolabil,


Higroskopis,

5.

Cocok untuk Zat Aktif Berasa Pahit atau Berbau,

6.

Ideal Untuk Tujuan Lepas Lambat,

7.

Dapat diisi Cairan, Suspensi ataupun Emulsi,

8.

Bahan Obat Tak Tersatukan dapat Diisikan Bersama,

9.

Dapat disalut dengan Formaldehid atau Seluloseftalat sehingga Resisten


terhadap Asam Lambung

Kerugian Kapsul
1.

tidak sesuai untuk bahan obat yang sangat mudah larut, seperti KCL,
CaCL2, KBr, NH4Br. Apabila kapsul tersebut pecah dan kontak langsung
dengan dinding lambung akan menyebabkan iritasi dan penegangan
lambung.

2.

Tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang sangat efloresen atau


delikuesen.
Bahan efloresen : kapsul jadi lunak.
Bahan delikuesen : kapsul jadi rapuh dan mudah pecah.

Referensi
Anief.

Farmasetika

.Gajah

Mada

University

Press:

Yogyakarta.

Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Ed 4.Universitas Indonesia


Press:

Jakarta.

Anonim.1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Depkes RI : Jakarta Anonim


.1979 . Farmakope Indonesia Ed . III . Depkes RI : Jakarta
A nonim. 1911. The British Farmaceutical Codex. Diterbitkan oleh Dewan

Pharmaceutical Society of Great Britain. (didownload melalui Google


7/11/2010).
http://dprayetno.wordpress.com/emulsi-shampo-lotion-clensing-cream.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Pharmacopee Ned edisi V
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press
Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press
Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press
Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta : Soeroengan
Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan
Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Press. (#Akfar PIM/2010)
Anief, Moh. 1988. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta : Universitas
GajahMada