Anda di halaman 1dari 2

Alasan pemberian antibiotik empiris karena infeksi bersifat akut dan dapat

meningkatkan morbiditas dan mortalitas apabila pemberian antibiotika terlambat.


Pemberian terapi empiris didasarkan atas pengalaman klinis yang mempertimbangkan
lokasi anatomis infeksi, kemungkinan terbesar patogen penyebab, dan spektrum
antibiotika. Diharapkan intervensi yang dini dapat meningkatkan prognosis
kesembuhan pasien.
Apabila etiologi telah ditemukan maka dapat dipertimbangkan apakah dapat diberikan
agen dengan spektrum sempit sebagai terapi empiris atau pengkombinasian antibiotika,
dengan dosis yang optimal dan cara pemberian yang sesuai.
Dengan demikian terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan
antibiotik. Ketiga faktor tersebut adalah:
Faktor pejamu (pasien)

Mencakup status imunitas (leukosit, gizi), lokasi infeksi, penyakit penyerta, efek obat
sebelumnya, gangguan eliminasi obat, usia, dan status kehamilan.
Faktor agen (mikrobiologis)

Perlu dipertimbangkan kesensitifitasan bakteri terhadap jenis antibiotika tertentu.


Faktor farmakologis
Mempertimbangkan faktor farmakodinamik (interaksi obat dengan mikroorganisme) dan
farmakokinetik untuk efisiensi dan pencegahan resistensi.
Faktor Pasien : Mekanisme Imunologi Manusia
Dalam merespon infeksi, tubuh memiliki beberapa pertahanan tubuh, misalnya sel darah
putih. Sel darah putih dibagi menjadi dua kelompok, yaitu granulosit (mencakup
polimorfonuklear, yaitu neutrofil, basofil, dan eosinofil) dan agranulosit (seperti monosit dan
limfosit). Pada keadaan infeksi, neutrofil tubuh akan bergerak dari aliran darah menuju
jaringan untuk melawan patogen sehingga terjadi leukositosis. Oleh karena itu, hitung jenis
sel darah putih penting pada kasus infeksi.
Batasan leukositosis menurut Patologi Klinik adalah bervariasi menurut usia, jika
dewasa (berkisar antara 5000 - 10000). Kadar leukosit pada kasus tertentu dapat naik
signifikan namun juga dapat naik sedikit, sebab dipengaruhi oleh kondisi individu
pasien. Sebagai contoh kasus infeksi berat seperti sepsis dapat dijumpai kadar leukosit
dengan kenaikan dalam jumlah sedikit, normal atau bahkan rendah (leukopenia).
1

Acuan SEPSIS dan SIRS (Systemic Inflamatory Respon Syndrom)


Sepsis adalah suatu sindroma klinik yang terjadi oleh karena adanya respon tubuh
yang berlebihan terhadap rangsangan produk mikroorganisme. Ditandai dengan panas,
takikardia, takipnea, hipotensi dan disfungsi organ berhubungan dengan gangguan
sirkulasi darah. Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), ditandai dengan 2
gejala sebagai berikut:
a. Hyperthermia/hypothermia (>38,3C;
<35,6C)
b. Tachypneu (resp >20/menit)

d. Leukocytosis

>12.000/mm

atau

Leukopenia <4.000/mm, 10% >cell


imature

c. Tachycardia (pulse >100/menit)

Menurut kaidah kelimuan kedokteran, pemberian terapi antibiotik kepada pasien berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisis dan penunjang. Pasien dengan kecurigaan infeksi maka
diperlukan pemberian antibiotik empiris untuk menangani infeksi, bahkan atas pertimbangan
klinis dan kasus tertentu (operasi abdomen, anak, malnutrisi dan usia lanjut) dokter dapat
memberikan kombinasi dua antibiotik.
Leukosit merupakan salah satu parameter pengobatan namun pemeriksaan penunjang
tidaklah semata-mata menjadi acuan pengobatan sebab kenaikan leukositosis dengan
jumlah 100, 200, 1000 bahkan 10.000 memiliki variasi klinis yang berbeda-beda tiap
pasien. Atas dasar inilah pemberian antibioik kombinasi lebih dari satu jenis dapat diberikan
walaupun kadar kenaikan leukosit hanya sedikit sebesar 100, 200, 300, 400, dan seterusnya
Komite Medis,