Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II

PERCOBAAN V
DISPERSI KOLOID DAN SIFAT-SIFATNYA

OLEH :
NAMA

: CHICHI FAUZIYAH

NIM

: F1F1 12 028

KELOMPOK

: I

KELAS

: A

ASISTEN

: L. M. ANDI ZULBAYU

LABORATORIUM FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013

DISPERSI KOLOID DAN SIFAT-SIFATNYA


A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk memberikan gambaran
tentang sifat-sifat larutan koloid.
B. LANDASAN TEORI
Koloid umumnya mempunyai sifat berbeda dengan sifat
dispersi molekuler (larutan) maupun dengan sifat disperse kasar
(suspensi). Partikel koloid senantiasa bergerak dan gerakan ini
disebabkan oleh tumbukan atau tabrakan antara partikel-partikel
koloid tersebut dan molekul-molekul pelarutnya. Gerakan partikelpertikel koloid dalam medium pendispersinya ini disebut gerak
Brown. Dengan menggunakan mikroskop ultra dapat terlihat bahwa
gerak Brown adalah gerakan cepat, lurus, tetapi arahnya tidak
menentu. Besar kecilnya partikel-partikel koloid mempengaruhi
kecepatan geraknya. Semakin kecil partikel-pertikel koloid, maka
gerak Brown akan semakin cepat (Sumardjo, 2006).
Partikel koloid merupakan partikel diskrit yang terdapat
dalam suspensi air baku, dan partikel inilah yang merupakan
penyebab utama kekeruhan. Stabilitas koloid tergantung pada
ukuran

koloid

serta

muatan

elektrik

yang

dipengaruhi

oleh

kandungan kimia pada koloid dan pada media dispersi (seperti


kekuatan ion, pH dan kandungan organik dalam air) (Rachmawati
et al., 2009).

Tegangan permukaan () suatu cairan dapat didefinisikan


sebagai banyaknya kerja yang dibutuhkan untuk memperluas
permukaan cairan per satu satuan luas. Pada satuan cgs,
dinyatakan dalam erg cm-1 atau dyne cm-1, sedangkan dalam
satuan SI, dinyatakn dalam N m-1. Molekul yang ada di dalam
cairan akan mengalami gaya tarik menarik (gaya van der Waals)
yang sama besarnya ke segala arah. Namun, molekul pada
permukaan cairan akan mengalami resultan gaya yang mengarah
ke dalam cairan itu sendiri karena tidak ada lagi molekul di atas
permukaan dan akibatnya luas permukaan cairan cenderung untuk
menyusut (Tang, 2011).
Proses koagulasi merupakan proses pengumpulan partikelpartikel penyusun kekeruhan yang tidak dapat diendapkan secara
gravitasi, menjadi partikel yang lebih besar sehingga dapat
diendapkan dengan cara pemberian bahan kimia koagulan. Proses
koagulasi dan flokulasi terjadi, dimana pada proses koagulasi,
koagulan dicampur dengan air baku selama beberapa saat hingga
merata. Setelah pencampuran ini, maka akan terjadi destabilisasi
koloid yang terdapat pada air baku. Koloid yang sudah kehilangan
muatannya atau terdestabilisasi mengalami saling tarik menarik
sehingga cenderung untuk membentuk gumpalan yang lebih besar
(Permatasari et al, 2013).

Fleksibilitas polimer-polimer fraksi humat mendorong gugusgugus

fungsional

yang

polar

untuk

saling

berasosiasi

dan

berinteraksi melalui ikatan hydrogen dalam kondisi kelembaban


yang sangat rendah. Akibat reorientasi molekuler tersebut, gugusgugus non polar menjadi terorientasi pada bagian terluar dari
molekul dan menyebabkan permukaan koloid organik memiliki
afinitas yang rendah terhadap air (Utami et al., 2009).
Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit tubiditas, yang
setara dengan 1 mg/liter SiO2. peralatan pertama kali yang
digunakan untuk menguku turbiditas atau kekeruhan adalah
Jackson Candler Tubidimete, yang dikalibrasi dengan menggunakan
silika.

selain itu, kekeruhan juga dapat diukur dengan metode

Nephelometric adalah NTU (Nephelometric Turbiduty Unit). Satuan


JTU dan NTU sebenarnya tidak dapat saling mengonversi akan
tetapi diketahui bahwa 40 NTU setara dengan 40 JTU (Effendi,
2003).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
Piknometer 10 ml
Timbangan analitik
Pipet tetes
Batang pengaduk
Gelas kimia
Pipa kapiler
Mistar
Labu takar
Tabung sentrifugas
Konduktometer
Turbidimeter
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
Deterjen
Minyak
Aquades

D. PROSEDUR KERJA
1. Deterjen
Deterjen
- Ditimbang sebanyak 1 gram
- Dilarutkan dalam 100 ml akuades
- Diaduk hingga larutan homogen
- Diambil 10 ml
- Dimasukkan ke dalam gelas kimia
- Dimasukkan pipa kapiler ke dalam
-

gelas kimia
Dibiarkan cairan naik ke pipa kapiler
Diukur kenaikan cairan dalam pipa

kapiler dengan mistar


Ditentukan
tegangan

konduktivitas, dan turbiditas larutan


Diulangi
prosedur
diatas
untuk

permukaan,

deterjen 2 gram dan 3 gram

Hasil Pengamatan

2. Koloid minyak-air dan air-minyak

Minyak
-

Diambil 50 ml
Dimasukkan
ke

sentrifus
Ditambahkan 3 ml larutan deterjen
1%

dalam

tabung

Digojok
Dimasukkan ke dalam piknometer
Ditimbang
Dimasukkan larutan ke dalam gelas

kimia
Dimasukkan pipa kapiler ke dalam

gelas kimia
Dibiarkan cairan naik ke pipa kapiler
Diukur kenaikan cairan dalam pipa

kapiler dengan mistar


Ditentukan tegangan

konduktivitas, dan turbiditas larutan


Diulangi prosedur diatas untuk

permukaan,

penambahan masing-masing 3 ml
larutan deterjen 2% dan 3%
Hasil Pengamatan

E. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
Deterjen
Tinggi Kenaikan
Konsentra
No.

Konduktivit
as

si
1
2
3

Turbiditas

Cairan Pada Pipa


Kapiler
2,2 cm
2,4 cm
2,7 cm

1%
2%
3%

6,50 mS
10,59 mS
14,82 mS

125 NTU
163 NTU
246 NTU

Koloid air-minyak dan minyak-air


Densitas koloid

No.

Konsentrasi

1
2
3

1%
2%
3%

Berat pikno

Berat pikno

Densitas
(b-a /

kosong (a)

+ sampel (b)

volume

9,59 gram
9,59 gram
9,59 gram

18,60 gram
18,62 gram
18,63 gram

pikno)
901 kg/m3
903 kg/m3
904 kg/m3

Tegangan permukaan koloid


Tinggi koloid
No.

Konsentrasi

1
2
3

1%
2%
3%

dalam pipa

901 kg/m3
903 kg/m3
904 kg/m3

kapiler
1,3 cm
1,4 cm
1,6 cm

Tegangan
Permukaan
0,0286 N/m
0,0309 N/m
0,0354 N/m

Konduktivitas koloid
No.
1
2
3

Densitas

Konsentrasi
1%
2%
3%

Konduktivitas
Tidak menghantarkan arus listrik
Tidak menghantarkan arus listrik
Tidak menghantarkan arus listrik

Turbiditas/kekeruhan koloid

No.
1
2
3

Konsentrasi
1%
2%
3%

Turbiditas
363 NTU
28,0 NTU
31,3 NTU

2. Data Perhitungan
a. Densitas
Deterjen
Dik
: Berat Piknometer kosong = 9,59 gr
Berat Piknometer + sampel =
19,56 gr (1%)
19,63 gr (2%)
19,69 gr (3%)
Volume Piknometer
= 10 ml
Dit
: Densitas deterjen 1%, 2%, dan 3% =?
Peny :

Densitas 1% =

Berat
Volume

19,56 gr 9,59 gr
10 ml

= 0,997 gr/ml
= 997 kg/m3

Densitas 2% =

Berat
Volume
19,63 gr 9,59 gr
10 ml

= 1,004 gr/ml
= 1004 kg/m3

Densitas 3% =

Berat
Volume

19,69 gr 9,59 gr
10 ml

= 1,01 gr/ml
= 1010 kg/m3
Koloid air-minyak dan minyak-air
Dik
: Berat Piknometer kosong = 9,59 gr
Berat Piknometer + sampel =
18,60 gr (1%)
18,62 gr (2%)
18,63 gr (3%)
Volume Piknometer
= 10 ml
Dit
: Densitas koloid 1%, 2%, dan 3% =?
Peny :

Densitas 1% =

Berat
Volume

18,60 gr 9,59 gr
10 ml

= 0,901 gr/ml
= 901 kg/m3

Densitas 2% =

Berat
Volume
18,62 gr 9,59 gr
10 ml

= 0,903 gr/ml
= 903 kg/m3

Densitas 3% =

Berat
Volume
18,63 gr 9,59 gr
10 ml

= 0,904 gr/ml
= 904 kg/m3
b. Tegangan Permukaan
Deterjen
Dik
:r
= 0,5 x 10-3 m
g
= 9,8 m/s2
d
=
997 kg/m3 (1%)
1004 kg/m3 (2%)
1010 kg/m3 (3%)
h
=
2,2 cm = 0,022 m (1%)
2,4 cm = 0,024 m (2%)
2,7 cm = 0,027 m (3%)
Dit
: deterjen 1%, 2%, dan 3% =?
Peny :

(1%) =

1
2

.r.d.g.h

1
2

. 0,5 x 10-3 . 997 . 9,8 . 0,022

= 0,053 N/m

(2%) =

1
2

.r.d.g.h

1
2

. 0,5 x 10-3 . 1004 . 9,8 . 0,024

= 0,059 N/m

(1%) =

1
2

.r.d.g.h

1
2

. 0,5 x 10-3 . 1010 . 9,8 . 0,027

= 0,066 N/m
Koloid air-minyak dan minyak-air
Dik
:r
= 0,5 x 10-3 m
g
= 9,8 m/s2
d

901 kg/m3 (1%)


903 kg/m3 (2%)
904 kg/m3 (3%)
h
=
1,3 cm = 0,013 m (1%)
1,4 cm = 0,014 m (2%)
1,6 cm = 0,016 m (3%)
Dit
: koloid 1%, 2%, dan 3% =?
Peny :

(1%) =

1
2

.r.d.g.h

1
2

. 0,5 x 10-3 . 901 . 9,8 . 0,013

= 0,0286 N/m

(2%) =

1
2

.r.d.g.h

1
2

. 0,5 x 10-3 . 903 . 9,8 . 0,014

= 0,0309 N/m

(1%) =

1
2

.r.d.g.h

1
2

. 0,5 x 10-3 . 904 . 9,8 . 0,016

= 0,0354 N/m
3. Grafik
Deterjen

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Tinggi Kenaikan Cairan Pada Pipa Kapiler
3
2.7

2.5
2.2

2
Tinggi Kenaikan Cairan (cm)

2.4

1.5
1
0.5
0
1

Konsentrasi (%)

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Konduktivitas


20
15
Konduktivitas (mS)

14.82
10.59

10
6.5

5
0
1

2
Konsentrasi (%)

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Turbiditas


300
246

200
Turbiditas (NTU)

163

125

100
0
1

Konsentrasi (%)

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Tegangan Permukaan


0.08
0.06
Tegangan Permukaan (N/m)

0.07

0.06

0.05

0.04
0.02
0
1

Konsentrasi (%)

Koloid air-minyak dan minyak air

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Tinggi Kenaikan Cairan Pada Pipa Kapiler
1.8
1.6
1.4
1.3
1.2
1
Tinggi Kenaikan Cairan (cm) 0.8
0.6
0.4
0.2
0
1

1.6
1.4

Konsentrasi (%)

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Tegangan Permukaan


0.04
0.04

0.04
0.03

0.03 0.03
0.03
Tegangan Permukaan (N/m)

0.02
0.02
0.01
0.01
0
1

Konsentrasi (%)

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Turbiditas


400

363

350
300
250
Turbiditas (NTU)

200
150
100
50

31.3

28

0
1

2
Konsentrasi (%)

F. PEMBAHASAN
Koloid adalah suatu campuran dua atau lebih zat dimana
partikel-petikel zat yang berukuran koloid (fase tedispersi) tersebar
secara merata didalam zat lain (medium pendispersi). Dimana di
antara

campuran

homogeny

dan

heterogen

taerdapat

sistem

pencampuran yaitu koloid. campuran homogen adalah campuran yang


meiliki sifat yang sama pada setiap bagian campuran zat tersebut,
cotohnya lautan gula. sedangkan campuaran heterogen sendiri adalah
campuran

yang

memilki

sifat

tidak

sama

pada

setiap

bagian

campuran, contohnya air dan minyak.


Tegangan permukaan adalah gaya yang diakibatkan oleh suatu
benda

yang

bekerja pada permukaan

zat

cair setiap

panjang

permukaan yang menyentuh benda itu. Tegangan permukaan terjadi


karena permukaan zar cair cenderung untuk menegang, sehingga
permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini dipengaruhi oleh
adanya gaya kohesi antara molekul air. Dalam percobaan yang telah
dilakukan, diketahui terjadi perubahan tinggi cairan dalam botol vial
dan tinggi cairan dalam pipa kapiler, baik pada larutan deterjen dan
koloid yang menyebabkan perbedaan tegangan permukaan. Faktor
yang mempengaruhi perbedaan tegangan permukaan ini adalah
adanya zat terlarut dan perbedaan konsentrasi zat terlarut. Adanya zat
terlarut pada cairan dapat menaikkan atau menurunkan tegangan
permukaan. Untuk air adanya elektrolit anorganik dan non elektrolit
tertentu seperti sukrosa dan gliserin dapat menaikkan tegangan

permukaan. Sedangkan adanya zat- zat seperti sabun, detergen, dan


alkohol secara efektif dapat menurunkan tegangan permukaan.
Konsentrasi zat terlarut (solut) mempunyai pengaruh terhadap sifatsifat larutan termasuk tegangan permukaan. Telah diamati bahwa
solute (minyak) yang ditambahkan dengan konsentrasi yang berbeda
kedalam larutan akan menurunkan tegangan permukaan, karena
minyak

mempunyai

konsentrasi

dipermukaan

yang

lebih

besar

daripada didalam larutan. Sehingga, semakin besar konsentrasi


minyak dalam larutan, semakin menurun tegangan permukaannya.
Konduktivitas adalah ukuran dari kemampuan suatu bahan
untuk

menghantarkan

arus

listrik.

Nilai

suatu

konduktivitas

menunjukkan kemampuan untuk menghantarkan arus listrik biasanya


digunakan untuk mengukur larutan elektroli. Semakin besar jumlah ion
dari larutan, maka semakin besar konduktivitasnya. Dalam percobaan,
sebaiknya pengukuran konduktivitas dilakukan dari konsentrasi kecil ke
konsentrasi besar. Hal ini untuk mencegah banyaknya ion-ion yang
menempel pada logam konduktivitimeter. Sehingga terkontaminasinya
ion-ion pada larutan lain juga semakin kecil. Pada saat pengukuran
konduktivitas, elektroda konduktivity meter harus tercelup seluruhnya
ke dalam larutan, hal ini dimaksudkan agar elektroda mengukur daya
hantar listrik larutan secara benar, apabila tidak tercelup seluruhnya
kemungkinan sensor elektroda tidak akan mengukur konduktivitas pH
dengan benar. Dari hasil percobaan, didapatkan bahwa deterjen
memiliki konduktivitas tertinggi pada konsentrasi 3% yaitu 14,82 mS.

Sedangkan

koloid

dengan

berbagai

kosentrasi

tidak

ada

yang

menghantarkan arus listrik. hal ini disebabkan koloid minyak-deterjen


tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya
sebagai

dasar

untuk

mengukur

keadaan

cairan

yang

dapat

menggambarkan sifat optik suatu cairan. Kekeruhan disebabkan


adanya bahan yang tersuspensi dan koloid yang terdapat dalam air.
Dalam percobaan ini semakin besar konsentrasi minyak, semakin kecil
kekeruhannya. Seharusnya, semakin besar konsentrasi solut semakin
besar pula kekeruhannya. Satuan kekeruhan yang diukur dengan
menggunakan metode Nephelometric adalah NTU (Nephelometric
Tubidity Unit). Dari hasil percobaan, yang menunjukkan tingkat
kekeruhan yang tinggi yitu deterjen. Sedangkan koloid, tingkat
kekeruhannya masih dibawah deterjen.
Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang
tidak larut/bercampur dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut
organik. Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H 2O dimana
satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara
kovalen pada satu atom oksigen. Zat kimia ini merupakan suatu
pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan
banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa
jenis gas dan banyak macam molekul organik. Detergen adalah
campuran

berbagai

pembersihan.

bahan,

Dibanding

yang

dengan

digunakan
sabun,

untuk

detergen

membantu
mempunyai

keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik. Salah
satu sifat deterjen adalah dapat melarutkan lemak (minyak).
Kelebihan sistem koloid dalam farmasi mempunyai sifat tidak
mengiritasi karena sebetulnya tidak larut. Plasma protein merupakan
protein yang dapat mengikat obat didalam darah sehingga obat dapat
aktif.

Beberapa

bahan

alam

membentuk

dispersi

koloid

dapat

digunakan untuk membuat system bentuk sediaan obat. Beberapa


polimer dapat digunakan untuk metoda penyalutan termasuk dispersi
koloid.

G. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
koloid memiliki sifat-sifat khusus, seperti adsorbsi (proses penyerapan
di permukaan partikel koloid), memiliki kekeruhan tertentu dan
elektroforesis (suatu cara untuk menunjukkan bahwa gerakan partikel
koloid dikarenakan muatan arus listrik). Tegangan permukaan yang
didapat pada percobaan ini adalah untuk koloid dengan konsentrasi
1% sebesar 2,86 N/m , koloid 2% sebesar 3,09 N/m dan koloid 3 %
sebesar

3,54

N/m.

konsentrasi tidak

Untuk

konduktivitas

koloid,

masing-masing

ada yang dapat menghantarkan arus listrik.

Turbiditas/kekeruhan koloid

didapatkan nilai untuk konsentrasi 1%

yaitu 363 NTU, untuk konsentrasi 2% sebesar 28,0 NTU dan untuk
konsentrasi 3% sebesar 31,3 NTU.

DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Hefni, 2003, Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya
dan Lingkungn Perairan, Kanisius, Yogyakarta.
Permatasari, T. J., Erna A., 2013, Optimasi Penggunaan Koagulan Dalam
Proses Penjernihan Air, Jurnal Sains dan Seni Pomits Vol. 2 No. 1,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Rachmawati S. W., Iswanto, B., Winarni, 2009, Pengaruh pH pada Proses
Koagulasi dengan Koagulan Aluminium Sulfat dan Ferri Klorida,
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 5 No. 2 ISSN: 1829-6572,
Indomas Mulia Jakarta.
Sumardjo, D., 2006, Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta, EGC,
Jakarta. Hal 536
Tang M. dan Veinardi S., 2011, Pengaruh Penambahan Pelarut Organik
Terhadap Tegangan Permukaan Larutan Sabun, Prosiding
Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains, Bandung.
Utami, S. N. H., Azwar S., Bostang R., Benito H. P., 2009, Sifat Fisik, Kimia
dan FTIR Spektrofotometri Gambut Hidrofobik Kalimantan Tengah,
Jurnal Tanah Trop Vol. 14 No. 2, Universitas Gadjah Mada.