Anda di halaman 1dari 31

KELOMPOK 2

DIGESTIVUS DAN
URINARI
SEPTI HIDHAYANI
THIA HERTIAWATI
WINDA ISLAMIATI

ESOFAGOGRAFI

1. Pengertian Esofagus
Esofagus adalah suatu saluran otot vertikal yang
menghubungkan hipofaring dengan lambung. Ukuran
panjangnya 23-25 cm dan lebarnya sekitar 2 cm (pada
keadaan yang paling lebar) pada orang dewasa. Esofagus
dimulai dari batas bawah kartilago krikoidea kira-kira
setinggi vertebra servikal VI. Dari batas tersebut,
esofagus terbagi menjadi tiga bagian yaitu, pars servikal,
pars thorakal dan pars abdominal.

2. Fungsi Esofagus
Esofagus berfungsi membawa makanan, cairan,
sekret dari faring ke gaster melalui suatu proses
menelan, dimana akan terjadi pembentukan
bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi
yang lunak, proses menelan terdiri dari tiga fase
yaitu:
Fase oral
Fase faringeal
Fase esofageal

3. Pengertian Esofagograf
Esofagograf merupakan pemeriksaan esofagus
dengan memasukkan bahan kontras. Umumnya
dilakukan dengan bahan kontras tunggal (+)
tetapi dapat dilakukan juga dengan kontras
ganda. Esofagograf ialah pemeriksaan sinar-X
yang digunakan untuk menentukan anatomi dari
traktus digestif bagian atas. Wanita yang sedang
hamil sebaiknya memberitahu dokter yang
meminta pemeriksaan serta staf radiologi saat
prosedur ini dilakukan. Pemeriksaan ini meliputi
pengisian dari esofagus dengan cairan putih

4. Indikasi dan Kontra Indikasi


Esofagograf
Esofagograf
(barium
swallow)
dilakukan
untuk
memeriksa pasien yang secara klinis diduga mengalami
kelainan esofagus baik karena infeksi, kongenital,
trauma,
neoplasia,
maupun
metabolik.
Indikasi
esofagograf antara lain:
Atresia Esofagus
Fistula Trakheo-Esofagei
Ulkus Esofagus

a.

Atresia Esofagus

b. Fistula Trakheo-Esofagei

c. Ulkus Esofagus

d. Divertikula Esofagus

e. Spasme Esofagus

f.

Sriktur Esofagus

g. Achalasia Esofagus

h. Varises Esofagus

i. Massa (tumor) Esofagus

5. Teknik Pemeriksaan Esofagograf


Media Kontras : Kontras positif (Barium Sulfat)
Pada orang dewasa zat kontras yang digunakan
diencerkan dengan air dengan konsentrasi 1:1 atau 1:2
(pekat)
Media Kontras : Gastrografn
Pada bayi kurang dari 1 tahun digunakan cairan yang
mudah diserap (water soluble) dimasukan lewat
dot/sendok/sonde

1. Persiapan Pasien
Tidak diperlukan persiapan secara khusus.
Pasien minum BaSO4, 1 sendok makan ditunggu 2 menit kemudian
dapat di foto

2. Persiapan Alat dan Bahan :

Pesawat X-Ray + Fluoroscopy


Baju Pasien
Gonad Shield
Kaset + flm ukuran 30 x 40 cm
GridX-Ray marker
Tissue / Kertas pembersih
Bahan kontras
Air Masak
Sendok / Straw ( pipet )

3. Posisi Pasien
Pasien Erect di antara meja pemeriksaan yang diatur vertikal
dengan layar fluoroskopi.
Diberikan Barium Sulfat, instruksikan untuk minum beberapa
teguk, proses ini diikuti dengan posisi recumbent.

4. Teknik Pemeriksaan
Pengambilan gambar radiograf dilakukan secara penuh/spot
foto pada daerah-daerah yang dicurigai ada kelainan dengan
posisi: AP/PA, Oblik (biasanya RAO), Lateral.
Bila pemeriksaan dengan kontras ganda, prosedur sama dengan
yang di atas, tetapi pada larutan Barium dimasukkan kristalkristal CO2 atau dapat juga ditelan sebelum meminum cairan
Barium.

Proyeksi AP/PA
Tujuan : Melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari
esofagus.
Faktor teknik :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : Region Pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
Posisi Pasien : Recumbent / Erect
Posisi Object :
MSP pada pertengahan meja / kaset
Shoulder dan Hip tidak ada rotasi
Tangan kanan memegang gelas Barium. Tepi atas flm 5 cm di atas Shoulder.
CR : Tegak lurus terhadap kaset
CP : pada MSP, 2,5 cm inferior angulus sternum (T5-6 ) / 7,5 cm Inferior Jugular

Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm


Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium

Catatan :
Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian diekspose.
Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan
straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
Kriteria radiograf :
Struktur : Esofagus terisi Barium
Posisi : Tidak ada rotasi dari pasien (Sternoclavicular Joint simetris )
Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lapangan penyinaran.
Faktor eksposi :
Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus superimposed
dengan Th-Vertebra.
Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat
eksposi.

Posisi AP

Proyeksi Lateral
Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari
esofagus.
Faktor teknik :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : Region Pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
Posisi Pasien : Recumbent / Erect (Recumbent lebih disukai karena pengisian lebih
baik)
Posisi Objek :
Atur kedua tangan pasien di depan kepala saling superposisi, elbow flexi
Mid coronal plane pada garis tengah meja / kaset.
Shoulder dan Hip diatur true lateral, lutut flexi untuk fksasi.

CR : Tegak lurus terhadap kaset


CP : pada pertengahan kaset setinggi T 5-6 / 7,5 cm Inferior Jugular Notch
FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri )
Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm
Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium
Catatan :
Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian di-expose
Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan straw
langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
Kriteria radiograf :
Struktur : Esofagus terisi Bariumterlihat diantara C.Vertebral dan jantung
Posisi :
True lateral ditunjukan dari superposisi kosta Posterior.
Bahu pasien tidak superposisi dengan esofagus
Esofagus terisi media kontras.
Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lap.penyinaran
Faktor eksposi :
Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus secara jelas yang terisi

Posisi Lateral

Proyeksi RAO (Right Anterior Oblique)


Tujuan : Melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur
dari esofagus
Faktor teknik :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : Region Pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
Posisi Pasien : Recumbent / Erect (Recumbent lebih disukai karena pengisian
lebih baik)
Posisi Objek :
Rotasi35 40 derajat dari posisi Prone dengan sisi kanan depan tubuh
menempel meja / flm.
Tangan kanan di belakang tubuh, tangan kiri flexi di depan kepala pasien,
memegang gelas Barium, dengan straw pada mulut pasien.
Lutut kiri flexi untuk tumpuan.
Pertengahan Thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan IR / meja. Tepi

FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri )


Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm
Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium
Catatan :
Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian diekspose
Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan sedotan
langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
Kriteria radiograf :
Struktur : Esofagus terisi Bariumterlihat diantara C.Vertebral dan jantung ( RAO
menunjukan gambaran lebih jelas antara Vertebra dan jantung dibandingkan LAO )
Posisi :
Rotasi yang cukup akan menampakkan esofagus diantara C. Vert. &
Jantung, jika esofagus superimposed diatas spina, rotasi perlu ditambah.
Bahu pasien tidak superposisi dengan esofagus
Esofagus terisi media kontras.
Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lap.penyinaran
Faktor eksposi :
Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus secara jelas yang terisi
dengan kontras.

Posisi RAO

Proyeksi LAO (Left Anterior Oblique)


Tujuan : Melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari esofagus
Faktor teknik :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : Region Pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
Posisi Pasien : Recumbent / Erect ( Recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik )
Posisi Objek :
Rotasi 35 40 derajat dari posisi PA dengan sisi kiri depan tubuh menempel meja /
flm
Tangan kiri di belakang tubuh, tangan kanan flexi di depan kepala pasien, memegang
gelas Barium, dengan straw pada mulut pasien.
Lutut kanan flexi untuk tumpuan.
Pertengahan Thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan IR / meja
Tepi atas kaset 5 cm di atas Shoulder

CP : pada pertengahan kaset setinggi T5-6 / 7,5 cm inferior jugular notch


FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri )
Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm
Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium
Catatan :
Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian diekspose
Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan
sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
Kriteria radiograf :
Struktur : Esofagus terisi Barium terlihat diantara sekitar hilus paru dan
C.Vertebral
Posisi : Bahu pasien tidak superposisi dengan esofagus, esophagus terisi
media kontras.
Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lap.penyinaran
Faktor eksposi :
Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus secara jelas
yang terisi dengan kontras, menembus bayangan jantung.

Posisi LAO

6. Komplikasi Esofagograf
Komplikasi esofagograf di antaranya:
Reaksi alergi atau anaflaksis dapat terjadi pada orang
yang alergi terhadap barium yang diminum.
Konstipasi.
Aspirasi barium pada trakea.

7. Kesimpulan
Untuk mengetahui adanya kelainan esofagus secara anatomi, sebagai penunjang suatu
diagnosa penyakit, dapat digunakan pemeriksaan esofagograf. Esofagograf (barium
swallow) merupakan suatu teknik radiografs untuk pemeriksaan esofagus dengan
menggunakan media kontras positif (biasanya berupa barium sulfat). Hasilnya disebut
esofagogram.
Teknik ini dipergunakan untuk memeriksa pasien yang secara klinis diduga memiliki
kelainan esofagus baik karena infeksi, kongenital, trauma, neoplasia, maupun metabolik,
mencakup hiatal hernia, achalasia, atresia esofagus, spasme esofagus, striktura esofagus,
divertikula esofagus, varises esofagus dan esofagitis. Sedangkan pada pasien dengan
suspek perforasi dan regurgitasi merupakan hal yang dikontraindikasikan.
Pemeriksaan esofagograf merupakan pemeriksaan yang relatif aman, meskipun demikian
setiap pemeriksaan dapat menyebabkan komplikasi tertentu seperti alergi terhadap kontras.
Adapun diperlukan persiapan, posisi maupun metode pengambilan gambar yang tepat
untuk memperoleh hasil yang baik guna membantu menegakkan sebuah diagnosa penyakit.

Daftar Pustaka
Bruce W. Long, Jeannean Hall Rollins, Barbara J. Smith.
(2015). Merrill's Atlas of Radiographic Positioning &
Procedures, Volume 2. Elsevier Science Health Science.
Kenneth L. Bontrager, John P. Lampignano. (2013).
Textbook of Radiographic Positioning and Related
Anatomy, 8th Edition. Elsevier Health Sciences.
Richard M. Gore, Marc S. Levine. (2015). Textbook of
Gastrointestinal Radiology: Expert Consult. Elsevier
Health Sciences.

Terima Kasih

Silahkan Bertanya