Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH NUTRISI

ENTERAL NUTRITION

Disusun Oleh :
Tribudi Hastuti

G1F013008

Aliyah

G1F013016

Fahmi Haqi Agiza

G1F013026

Florencia Yohanna Tellu

G1F013068

Rahma Ayu Wulandari

G1F013080

Jurusan Farmasi
Fakultas Lmu-Ilmu Kesehatan
Unversitas Jenderal Soedirman
Purwokerto
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nutrisi adalah ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan. Nutrisi merupakan kebutuhan utama pasien kritis dan
nutrisi enteral lebih baik dari parenteral karena lebih mudah, murah, aman,
fisiologis dan penggunaan nutrien oleh tubuh lebih efisien.
Nutrisi enteral adalah nutrisi yang diberikan pada pasien yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan nutrisinya melalui rute oral, formula nutrisi diberikan
melalui tube ke dalam lambung (gastric tube), nasogastrik tube (NGT), atau
jejunum dapat secara manual maupun dengan bantuan pompa mesin (At Tock,
2007). Menurut Wiryana (2007), cara pemberian sedini mungkin dan benar nutrisi
enteral akan menurunkan kejadian pneumonia, sebab bila nutrisi enteral yang
diberikan secara dini akan membantu memelihara epitel pencernaan, mencegah
translokasi kuman, mencegah peningkatan distensi gaster, kolonisasi kuman, dan
regurgitasi. Posisi pasien setengah duduk dapat mengurangi resiko regurgitasi
aspirasi.
Malnutrisi adalah keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan
secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi (Supariasa, 2001). Malnutrisi
sering terjadi pada bayi sakit kritis yang dirawat di Neonatus Intensif Care Unit,
dan dapat memperburuk keadaan. Tunjangan nutrisi sangat penting pada
pengelolaan anak sakit kritis dan dapat diberikan secara enteral, parenteral atau
bersama-sama enteral dan parenteral. Apabila usus berfungsi baik, gunakanlah
untuk nutrisi enteral dengan memakai konsep nutrisi enteral dini. Pada keadaan
dimana usus tidak berfungsi, segera diberikan nutrisi parenteral atau nutrisi enteral
dan parenteral bersama-sama sehingga kebutuhan akan kalori, cairan, mineral,
trase elemen dapat dipenuhi (Setiati, 2000).
Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh
gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan dapat
menimbulkan cacat atau kematian. Sedangkan kegagalan usus / intestinal failure
(IF) adalah penyakit tertentu yang dihasilkan dari reseksi usus atau penyakit
terkait malabsorpsi dan ditandai oleh ketidakmampuan untuk mempertahankan

protein-energi, cairan, elektrolit atau keseimbangan gizi mikro. Gangguan usus


terjadi ketika ada penurunan fungsional dari usus yang diperlukan untuk
pencernaan dan penyerapan untuk nutrisi, sehingga dibutuhkan dukungan nutrisi
yang intensif.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa maksud dari pemberian nutrisi enteral?
2. Bagaimana cara manajemen pasien dengan pemberian nutrisi enteral pada
berbagai penyakit?
3. Apa peran farmasis dalam pemberian nutrisi enteral?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian nutrisi enteral.
2. Memahami penggunaan nutrisi enteral pada berbagai penyakit.
3. Mengetahui peran farmasis dalam pemberian nutrisi enteral.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nutrisi Enteral
Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya, yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur

proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000). Menurut Rock CL (2004), nutrisi


adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk
energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya
fungsi normal setiap organ baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.
Nutrisi enteral adalah nutrisi yang diberikan pada pasien yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan nutrisinya melalui rute oral, formula nutrisi diberikan
melalui tube ke dalam lambung (gastric tube), nasogastrik tube (NGT), atau
jejunum dapat secara manual maupun dengan bantuan pompa mesin (At Tock,
2007). Menurut Wiryana (2007), Nutrisi enteral adalah faktor resiko independent
pnemoni nosokomial yang berhubungan dengan ventilasi mekanik. Cara
pemberian sedini mungkin dan benar nutrisi enteral akan menurunkan kejadian
pneumonia, sebab bila nutrisi enteral yang diberikan secara dini akan membantu
memelihara epitel pencernaan, mencegah translokasi kuman, mencegah
peningkatan distensi gaster, kolonisasi kuman, dan regurgitasi. Posisi pasien
setengah duduk dapat mengurangi resiko regurgitasi aspirasi. Diare sering terjadi
pada pasien di Intensif Care Unit yang mendapat nutrisi enteral, penyebabnya
multifaktorial, termasuk therapy antibiotic, infeksi clostridium difficile, impaksi
feses, dan efek tidak spesifik akibat penyakit kritis. Komplikasi metabolik yang
paling sering berupa abnormalitas elektrolit dan hiperglikemi (Wiryana, 2007).
2.2 Klasifikasi Nutrisi Enteral Berdasarkan Akses dan Teknik Pemberian
Teknik pemberian pada nutrisi enteral dibedakan menjadi 3 yaitu,

Bolus : pemberian sebanyak 200-250 ml diberikan beberapa kali sehari.

Syrige digunakan untuk menginjeksikan formula.


Intermiten : pemberian dilakukan secara berkala setiap 20-30 menit. Untuk

menginjeksikan formula digunakan pompa atau container.


Kontinyu : pemberian dilakukan secara berkesinambungan setiap 10-24
jam. Untuk mengnjeksikan formula digunakan pompa.

Rute Enteral

Indikasi

Keuntungan

Kerugian

Nasogastrik

Fungsi GI normal

stimulasi
fungsi
pencernaan normal;
mudah
dipakai;
bisa
untuk

Aspirasi,
tidak
nyaman,
iritasi
nasal,
tube
displacement

memberikan obat;
memasangnya
di
bedside
Nasoduodenal
& jejunal

Fungsi usus halus Memasukkan tube Tidak


nyaman,
normal, harus bypass di bedside
tube displacement
lambung

Gastrostomy

Fungsi GI normal, Bisa


digunakan
harus bypass GI atas; untuk jangka waktu
untuk jangka lama
lama, menurunkan
resiko
tube
displacement,
makanan
bisa
diberikan
secara
bolus.
Fungsi GI normal, Pasien rajal, jangka
harus bypass GI atas; lama, lebih murah
untuk jangka lama
pemasangannya ,
menurunkan resiko
tube displacement,
makanan
bisa
diberikan
secara
bolus.

Pemasangan lewat
operasi,
resiko
iritasi dan infeksi
di
tempat
pemasangan

Fungsi GI normal,
harus bypass GI
lainnya, untuk jangka
lama

Operasi,
resiko
iritasi dan infeksi
tempat
pemasangan,
resiko tersumbat
karena tube kecil

PEG
(Percutan-eous
endoscopic
gastrostomy)

Jejunostomy

Meningkatkan
toleransi
untuk
inisiasi awal enteral
feeding

resiko iritasi dan


infeksi di tempat
pemasangan

Tabel 1. Akses nutrisi enteral

2.3 Peran Farmasis dalam Pemberian Nutrisi Enteral


Pada pasien stroke akut, timbulnya cacat neurologis seperti kesulitan
menelan, penurunan kesadaran, dan respon stres yang timbul dapat menyebabkan
asupan gizi yang buruk. Adanya stress dan penurunan gizi tersebut dapat
mengurangi sintesis protein dan meningkatkan degradasi protein, sehingga dapat
mengurangi tingkat sirkulasi protein seperti albumin dan pre albumin. Penyakit
hypoproteinemia dapat mempersulit pengobatan dan mengurangi tingkat
penyembuhan luka, pembentukan ulkus dekubitus, mengurangi respon kekebalan

tubuh, dan mengurangi penyerapan dan mobilitas usus kecil. Disisi lain,
pemberian nutrisi yang cukup pada pasien stroke dapat menurunkan tingkat
komplikasi, memperpendek waktu rawat inap di rumah sakit, dan menurunkan
angka kematian.
Sedangkan pada kasus Intestinal Failure, gangguan usus terjadi ketika ada
penurunan fungsional dari usus

yang diperlukan untuk pencernaan dan

penyerapan untuk nutrisi, cairan, dan pertumbuhan, sehingga dibutuhkan


dukungan nutrisi yang intensif. Gangguan usus sebagai hasil dari reseksi usus
yang luas disebut SBS, etiologi lain adalah meningkatnya gangguan motilitas dan
epitel usus dalam range yang luas. Tujuan dari manajemen IF adalah untuk
mendukung status gizi yg optimal, meningkatkan kualitas hidup, dan batas
morbiditas dan mortalitas dengan mempromosikan enteral.
Nutrisi parenteral (PN) dikaitkan dengan morbiditas yang tinggi, termasuk
IF terkait penyakit hati, infeksi aliran darah yang berhubungan dengan kateter .
Selain itu, PN berkaitan dengan status sosial dan financial pasien yang
berkepanjangan , bahkan terutama dengan management rawat jalan. Membatasi
penggunaan

PN dengan mempromosikan enteral telah terbukti menurunkan

komplikasi dan meningkatkan kelangsungan hidup pasien anak dengan IF.

2.3.2 Penggunaan Nutrisi Enteral pada Manajemen Penyakit


A. Stroke Akut
Serum albumin tidak cukup sensitif terhadap perubahan status protein
jangka pendek. Albumin memiliki waktu paruh yang panjang (20 hari), dan
dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebagian besar albumin berada dalam
kompartemen ekstravaskular, dan dapat dimobilisasi selama periode penurunan
protein. Tingkat Albumin juga sensitif terhadap berbagai jenis dehidrasi dan
disfungsi hati. Di sisi lain, prealbumin memiliki waktu paruh pendek (2 hari),
yang membuatnya sensitif terhadap perubahan yang cukup pesat dalam status
energi protein dan merespon lebih cepat terhadap adanya diet. Tingkat prealbumin
tidak dipengaruhi oleh status hidrasi, dan juga tidak dipengarui oleh disfungsi hati
bila dibandingkan dengan protein serum lain.

Pada kasus penyakit stroke akut, hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri
Wuryanti (2005), yang melakukan pengamatan terhadap 36 pasien stroke akut di
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dikatan bahwa terdapat pengaruh
pemberian nutrisi enteral tinggi protein (HPEN) terhadap status protein pada
pasien stroke akut.
Tujuh hari setelah pemberian nutrisi terdapat penurunan kadar albumin
serum dalam dua kelompok, terutama pada kelompok kontrol (Gambar 1). Selain
itu, tingkat prealbumin serum sedikit meningkat pada kelompok intervensi,
sedangkan pada kelompok kontrol itu nyata menurun (Gambar 2). Fakta ini
menunjukkan bahwa diet tinggi protein dapat mempertahankan tingkat albumin,
dan meningkatkan tingkat prealbumin.
Terkait

keadaan respon neuroendokrin katabolik yang cenderung

mengikuti stroke akut dapat menyebabkan perubahan konsentrasi serum albumin


sesaat setelah serangan stroke. Dalam penelitian ini, albumin serum digunakan
untuk menunjukkan tingkat stres, sementara pre albumin serum digunakan untuk
mengamati respon selama kondisi diet tinggi protein. Pasien stroke dengan
hipoalbuminemia memiliki risiko yang lebih besar terkena komplikasi infeksi
dibandingkan dengan mereka yang memiliki konsentrasi serum albumin normal
atau tinggi.

Gambar 1. Tingkat albumin.


Kurva pada gambar 1 menunjukkan perubahan kadar albumin pada kedua
kelompok saat masuk dan hari ke-7. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam
tingkat albumin antara kedua kelompok, meskipun dalam kelompok kontrol
terjadi penurunan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok intervensi.

Gambar 2. Tingkat pre albumin.


Kurva pada gambar 2 menunjukkan bahwa Ada perbedaan yang signifikan
dalam perubahan tingkat prealbumin (antara 1 dan hari ke-7) antara kedua
kelompok. Pada kelompok intervensi, ada sedikit peningkatan dalam tingkat
prealbumin, sedangkan pada kelompok kontrol, ada penurunan tingkat
prealbumin.
B. Intestinal Failure pada anak
Kegagalan usus / intestinal failure (IF) adalah penyakit tertentu yang
dihasilkan dari reseksi usus atau penyakit terkait malabsorpsi dan ditandai oleh
ketidakmampuan untuk mempertahankan protein-energi, cairan, elektrolit atau
keseimbangan gizi mikro. Gangguan usus terjadi ketika ada penurunan fungsional
dari usus yang diperlukan untuk pencernaan dan penyerapan untuk nutrisi,
sehingga dibutuhkan dukungan nutrisi yang intensif. Gangguan usus sebagai hasil
dari reseksi usus yang luas disebut SBS, etiologi lain adalah meningkatnya
gangguan motilitas, cacat dinding perut, volvulus, dan epitel usus. Short Bowel
Syndrome (SBS) atau sindrom usus pendek merupakan gangguan malabsorpsi
yang diakibatkan oleh tindakan pembedahan atau reseksi pada usus halus
sehingga usus tersebut kehilangan fungsi absorpsinya.
Tujuan dari manajemen IF adalah untuk mendukung status gizi yang
optimal, meningkatkan kualitas hidup. Pada penyakit IF butuh proses adaptasi
usus untuk mendukung transisi dari parenteral nutrition (PN) ke enteral nutrition
(EN), epitel usus harus beradaptasi untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi.
Tergantung dari beratnya IF, otonomi enteral penuh mungkin tidak selalu

memungkinkan, namun hasil bagi pasien anak dengan IF telah terus membaik,
dan biomarker prognostik ada untuk membantu dalam memprediksi hasil klinis
seperti pencapaian penuh EN. Selain itu, pengenalan terapi baru menawarkan
harapan untuk meningkatkan mekanisme

adaptif dari usus kecil dan

mengoptimalkan fungsi usus. Penggunaan PN bersamaan mikronutrien pada


pasien gangguan usus memungkinkan terjadinya defisiensi baik mikronutrien
maupun vitamin, tetapi setelah transisi penuh ke EN defisiensi tetap terjadi pada
prevalensi kekurangan vitaminD dari 20% menjadi 68% (Yang et al, 2011).
Citrulline plasma adalah asam amino nonesensial yang dihasilkan oleh
enterosit usus kecil, dan konsentrasi plasma citrulline telah ditunjukkan untuk
mencerminkan massa usus dalam berbagai penyakit pencernaan termasuk
enteropathies seperti penyakit celiac, HIV-enteropati, dan IF. Dalam sebuah studi
dari 24 anak-anak dengan SBS, konsentrasi citrulline dari 19 mikromol / L
memiliki sensitivitas 94% dan 64% spesifisitas untuk prediksi otonomi enteral.
Terapi untuk pengobatan IF baru-baru ini muncul, yaitu GLP-2 dan somatropin
(hormon pertumbuhan manusia). Peptida endogen GLP-2 disekresikan oleh sel L
usus dan meningkatkan penyerapan gizi dan meningkatkan luas permukaan
mukosa, namun memiliki paruh pendek karena degradasi oleh enzim peptidase IV
dipeptidyl. Beberapa studi telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan
terapi teduglutide pada orang dewasa dengan SBS. Tidak seperti GLP-2,
somatropin tidak spesifik, dan kemungkinan diberikannya efek tropik usus nya
melalui faktor pertumbuhan seperti insulin. Dalam sebuah penelitian terhadap 8
pasien anak dengan SBS, terapi somatropin harian subkutan menyebabkan
peningkatan asupan enteral, dan 2 pasien mencapai otonomi enteral selama masa
tindak lanjut dari 12 bulan. Pada pasien anak dengan penyakit usus SBS telah
terbukti bahwa pemberian EN akan meningkatkan penyerapan nutrisi usus dan
berat badan pasien, dan lebih baik daripada makan bolus.
Prospek untuk anak-anak dengan IF telah meningkat secara dramatis,
dengan kelangsungan hidup meningkat dari 54% menjadi 73%-100%.
Managemen terapi sekarang pada pasien ini meliputi promosi adaptasi usus,
optimalisasi kualitas hidup, membatasi morbiditas PN terkait, dan akhirnya
transisi ke EN. Selama dan setelah transisi ke EN, pemantauan pertumbuhan dan

pengobatan dengan beberapa mikronutrien sangat penting. Meskipun perawatan


medis dan bedah neonatal terus untuk meningkatkan, terapi muncul, berdasarkan
wawasan dari bekerja di models organoid dan / atau sel induk usus baris, memiliki
potensi untuk lebih mempromosikan adaptasi usus dan meningkatkan toleransi
enteral di pediatrik refraktori pasien dengan IF.
2.3.3 Peran Farmasis
Farmasis dalam rumah sakit berperan dalam formulasi dan pemberian
nutrisi kepada pasien. Seorang farmasis harus mengetahui status gizi dari pasien
agar dalam pemberian obat yang dapat mempengaruhi nutrisi ataupun sebaliknya
dapat dihindari.

Simpulan
Enteral nutrition dapat digunakan pada beberapa penyakit tergantung pada
keadaan patologi dari pasien. Penggunaan nutrisi enteral pada stroke dan
gangguan usus merupakan pilihan yang tepat. Farmasis berperan dalam
managemen terapi pasien baik terkait obat maupun nutrisi karena mungkin
terjadinya interaksi nutrisi dengan obat.