Anda di halaman 1dari 7

2.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stabilitas Obat
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam
batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat dan
karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Faktor lingkungan
seperti suhu (temperatur), radiasi, cahaya, udara (terutama oksigen, karbondioksida dan
uap air) dan kelembaban dapat mempengaruhi stabilitas. Faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi stabilitas, yaitu ukuran partikel, pH, sifat air dan pelarut yang di gunakan,
sifat kemasan dan keberadaan bahan kimia lain yang merupakan kontaminan atau dari
pencampuran produk berbeda yang secara sadar ditambahkan, dapat mempengaruhi
satabilitas sediaan1.
Stabilitas obat adalah kemampuan suatu produk untuk mempertahankan sifat dan
karakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan,
kualitas dan kemurnian) dalam batasan yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan
dan penggunaan (shelf-life). Uji stabilitas ini bertujuan untuk membuktikan bagaimana
mutu zat aktif atau produk obat berubah seiring waktu, dibawah pengaruh faktor
lingkungan seperti temperatur, kelembaban, dan cahaya. Faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi stabilitas, yaitu ukuran partikel, pH, sifat air dan pelarut yang di gunakan,
sifat kemasan dan keberadaan bahan kimia lain yang merupakan kontaminan atau dari
pencampuran produk berbeda yang secara sadar ditambahkan, dapat mempengaruhi
satabilitas sediaan2.
Ada dua hal yang menyebabkan ketidakstabilan obat, yakni yang pertama adalah
labilitas dari bahan obat dan bahan pembantu,termasuk struktur kimia masing-masing
bahan dan sifat kimia fisika dari masing-masing bahan. Yang kedua adalah faktor-faktor
luar, seperti suhu, cahaya, kelembaban, dan udara, yang mampu menginduksi atau
mempercepat reaksi degradasi bahan. Skala kualitas yang penting untuk menilai
kestabilan suatu bahan obat adalah kandungan bahan aktif, keadaan galenik, termasuk
sifat yang terlihat secara sensorik, secara miktobiologis, toksikologis, dan aktivitas
terapetis bahan itu sendiri. Skala perubahan yang diijinkan ditetapkan untuk obat yang
terdaftar dalam farmakope. Kandungan bahan aktif yang bersangkutan secara
internasional ditolerir suatu penurunan sebanyak 10% dari kandungan sebenarnya3.

2.2 Jenis-jenis Stabilitas Obat


a. Stabilitas Fisika
Stabilitas fisika adalah mengevaluasi perubahan sifat fisika dari suatu produk yang
tergantung waktu (periode penyimpanan). Contoh dari perubahan fisika antara lain migrasi
(perubahan) warna, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan tekstur atau penampilan.Evaluasi
dari uji stabilitas fisika meliputi: pemeriksaan organoleptis, homogenitas, pH, bobot jenis4
Sifat fisik meliputi hubungan tertentu antara molekul dengan bentuk energi yang
telah ditentukan dengan baik atau pengukuran perbandingan standar luar lainnya. Dengan
menghubungkan sifat fisik tertentu dengan sifat kimia dari molekul-molekul yang
hubungannya sangat dekat, kesimpulannya adalah menggambarkan susunan ruang dari
molekul obat, memberikan keterangan untuk sifat kimia atau fisik relatif dari sebuah
molekul, serta memberikan metode untuk analisis kualitatif dan kuantitatif untuk suatu
zat farmasi tertentu5.
b. Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia suatu obat adalah lamanya waktu suatu obat untuk
mempertahanakan integritas kimia dan potensinya seperti yang tercantum pada etiket
dalam batas waktu yang ditentukan6. Pengumpulan dan pengolahan data merupakan
langkah menentukan baik buruknya sediaan yang dihasilkan, meskipun tidak menutup
kemungkinan adanya parameter lain yang harus diperhatikan. Data yang harus
dikumpulkan untuk jenis sediaan yang berbeda tidak sama, begitu juga untuk jenis
sediaan sama tetapi cara pemberiannya lain. Jadi sangat bervariasi tergantung pada jenis
sediaan, cara pemberian, stabilitas zat aktif dan lain-lain5.
Data yang paling dibutuhkan adalah data sifat, kimia, kimiafisik, dan kerja
farmakologi zat aktif (data primer), didukung sifat zat pembantu (data sekunder). Secara
reaksi kimia zat aktif dapat terurai karena beberapa faktor diantaranya ialah, oksigen
(oksidasi), air (hidrolisa), suhu (oksidasi), cahaya (fotolisis), karbondioksida (turunnya
pH larutan), sesepora ion logam sebagai katalisator reaksi oksidasi. Jadi jelasnya faktor
luar juga mempengaruhi ketidakstabilan kimia seperti, suhu, kelembaban udara dan
cahaya5.
c.

Stabilitas Mikrobiologi

Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana tetap sediaan bebas
dari mikroorganisme atau memenuhi syarat batas miroorganisme hingga batas waktu
tertentu.5 Terdapat berbagai macam zat aktif obat, zat tambahan serta berbagai bentuk
sediaan dan cara pemberian obat. Tiap zat, cara pemberian dan bentuk sediaan memiliki
karakteristik fisika-kimia tersendiri dan umumnya rentan terhadap kontaminasi
mikroorganisme dan/atau memang sudah mengandung mikroorganisme yang dapat
mempengaruhi mutu sediaan karena berpotensi menyebabkan penyakit, efek yang tidak
diharapkan pada terapi atau penggunaan obat dan kosmetik5.
Oleh karena itu farmakope telah mengatur ketentuan mengenai kandungan
mikroorganisme pada sediaan obat maupun kosmetik dalam rangka memberikan hasil
akhir berupa obat dan kosmetika yang efektif dan aman untuk digunakan atau dikonsumsi
manusia. Stabilitas mikrobiologi diperlukan oleh suatu sediaan farmasi untuk menjaga
atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorgansme yang terdapat
dalam sediaan tersebut hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan5.
d.

Stabilitas Farmakologi
Aktivitas senyawa bioaktif disebabkan oleh interaksi antara molekul obat dengan

bagian molekul dari obyek biologis yaitu resptor spesifik. Untuk dapat berinteraksi
dengan reseptor spesifik dan menimbulkan aktivitas spesifik, senyawa bioaktif harus
mempunyai stuktur sterik dan distribusi muatan yang spesifi pula. Dasar dari aktivitas
bioogis adalah proses-proses kimia yang kompleks mulai dari saat obat diberikan sampai
terjadinya respons biologis5.
e. Stabilitas Toksikologi
Stabilitas toksikologi adalah ukuran yang menujukkan ketahanan suatu
senyawa/bahan akan adanya pengaruh kimia, fisika, mikrobiologi dan farmakologi yang
tidak menyebabkan peningkatan toksisitas secara signifikan. Efek toksik dapat
dibedakan, menjadi5 :
a. Efek toksik akut, mempunyai korelasi langsung dengan absorpsi zat toksik
b. Efek toksik kronis, zat toksik dalam jumlah kecil diabsorpsi sepanjang jangka
waktu lama, terakumulasi, mencapai konsentrasi toksik akhirnya timbul

keracunan.
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Obat
a. pH
pH adalah suatu ukuran keasaman suatu air (larutan). Pengertian pH dalam
aplikasinya berbeda-beda. Di dalam sistem yang sering digunakan ( NBS sistem, NBS =
National Bureau of Standards), pH digambarkan dalam persamaan pH = -log aH, dimana
aH adalah aktivitas ion hidrogen dalam suatu larutan. Laju reaksi dalam larutan berair
sangat mudah dipengaruhi oleh adanya pH sebagai akibat adanya proses katalisis. Untuk
mengetahui pengaruh pH maka faktor-faktor lainnya yang berpengaruh seperti suhu,
kekuatan ionik dan komposisi pelarut harus dibuat tetap1
Pengaruh pH dapat diketahui dari bentuk profil pH laju degradasi dari hubungan
antara antara pH dan log k tanpa pengaruh dapar. Dari profil tersebut dapat diketahui pH
yang stabil, katalisis reaksi dan persamaan laju reaksi hipotetiknya yang memberikan
informasi praktis stabilitas suatu obat1. Tiga bentuk profil pH laju degradasi yang dikenal
yaitu bentuk V, bentuk Sigmoid (S) danbentuk Parabola (bell shape) atau kombinasi dari
bentuk tersebut. Bentuk profil yang dihasilkan tergantung pada sifat-sifat zat dan reaksi
yang terjadi1.
b. Kompleksasi
Laju hidrolisis dapat dipengaruhi oleh pembentukan kompleks dengan dua cara,
yaitu oleh efek sterik atau polar5.
c. Jenis Pelarut
Penggantian air sebagian atau seluruhnya dengan pelarut yang konstanta
dielektriknya lebih rendah, umumnya menyebabkan kecepatan hidrolisis menurun secara
berarti. Contoh pelarut bukan air adalah : etanol, glikol, glukosa, larutan manitol, dan
amida tersubstitusi5.

d. Surfaktan

Keberadaan surfaktan akan meningkatkan stabilitas secara bermakna . Menurut


Riegelman (1960) bahan surfaktan nonionik, kationik dan anionik dapat menstabilkan
obat terhadap katalis basa5.
e. Modifikasi struktur kimia
Sejumlah laporan kepustakaan menunjukkan bahan substituen tertentuyang
ditambahkan pada rantai alkil atau asil dari ester alifatik atau aromatik atau pada inti
benzen dari ester aromatik menyebabkan penurunan laju hidrolisis5
f. Garam dan Ester
Teknik lain yang digunakan untuk meningkatkan stabilitas obat-obatan yang
terurai melalui hidrolisis adalah dengan mengurangi kelarutannya melalui pembentukan
garam atau esternya yang sukar larut. Biasanya hanya pada bagian obat larut mengalami
peruraian hidrolisis5. Komponen penyusun dapar dapat mengurangi stabilitas obat oleh
akibat katalisis asam umum (KAU) atau katalisis basa umum (KBU). Laju degradasi obat
akibat pengaruh dapar dapat ditentukan dengan persamaan berikut5.
2.4 Kelembaban
Air diketahui dapat berwujud padat, cair, atau gas. Air yang berbentuk gas disebut
uap air. Ketika kita berbicara mengenai kelembaban udara maka kita sesungguhnya kita
berbicara mengenai jumlah uap air. Ketika udara dikatakan lembab, itu berarti udara
mengandung banyak uap air. Kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam
udara. Kandungan uap air ini penting karena uap air mempunyai sifat menyerap radiasi
bumi yang akan menentukan cepatnya kehilangan panas dari bumi sehingga dengan
sendirinya juga ikut mengatur suhu udara6.
Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsenrasi ini dapat
diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif.
Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan
untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah
pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan
termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan
dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat

mencapai 3% pada 30C, dan tidak melebihi 0,5% pada 0C7. Tinggi rendahnya
kelembaban udara di suatu tempat sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu8:
a. Suhu
b. Tekanan udara
c. Pergerakan angin
d. Kuantitas dan kualitas penyinaran
e. Vegetasi
f. Ketersediaan air di suatu tempat (air, tanah, perairan)

Natrium Bikarbonat
Natrium Bikarbonat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari
100,5% NaHCO3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan9.
Pemerian : Serbuk hablur, putih. Stabil di udara kering, tetapi dalam udara
lembab secara perlahan-lahan terurai. Larutan segar dalam air dingin, tanpa dikocok,
bersifat basa terhadap lakmus. Kebasaan bertambah bila larutan dibiarkan, digoyang kuat
atau dipanaskan9.
Kelarutan : Larut dalam air; tidak larut dalam etanol9.
Berat Molekul : 84,019
Stabilitas : Ketika dipanaskan sampai sekitar 50 0C, natrium bikarbonat mulai
terdisosiasi menjadi karbon dioksida, natrium karbonat, dan air; dipemanasan untuk 2503000C, untuk waktu yang singkat, natrium bikarbonat benar-benar diubah menjadi
anhidrat natrium karbonat. Namun, proses ini baik waktu dan tergantung suhu, dengan
konversi 90% selesai dalam waktu 75 menit pada 930C. Reaksi berlangsung melalui
kinetika permukaan dikontrol; ketika natrium bikarbonat kristal yang dipanaskan untuk
waktu singkat, berbentuk jarum yang sangat halus kristal anhidrat natrium karbonat
terbentuk pada permukaan natrium bikarbonat9.

Inkompatibilitas : Natrium bikarbonat bereaksi dengan asam, garam asam, dan


banyak garam alkaloid, dengan evolusi karbon dioksida. Sodium bikarbonat juga dapat
mengintensifkan penggelapan salisilat10.

DAFTAR PUSTAKA
1. Connors, K.A., Amidon, G.L. and Stella, V.J. Chemical Stability of Pharmaceutical.
New York : John Willey and Sons. 1986.
2. Martin, A. dkk. Farmasi Fisika Edisi III Volume II. Diterjemahkan oleh yoshito.
Jakarta : UI-Press: 1993.
3. Voight. R. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press. 1995.
4. Vadas. Stabilitas Sediaan Farmasi . Jakarta : Jhon Willey and Sons, 2000
5. Lachman, L., Lieberman, H. A., Kanig, J. L. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi
ketiga. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. 1986.
6. Bahri, A. R. S. Kelembaban Relatif Udara pada Tempat Berbeda. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2012.
7. Handoko, Machpud. Klimatologi Dasar : Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan
Unsur Unsur Iklim. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1994.
8. Umar, M. R., Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Makassar : Jurusan Biologi
Universitas Hasanuddin, 2013.