Anda di halaman 1dari 14

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Tujuan Pendidikan di Indonesia


Dalam UU. No. 2 thn 1985 Tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mngembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yg beriman
dan bertakwa kpd Tuhan Yang maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kpribadian yg
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatn dan bangsa.
Menurut SK Menteri PendidikanPengajaran dan Kebudayaan No.
104/Bhg.O tgl 1 Maret 1946
Rumusan tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan jiwa patriotisme.
Menurut ketetapan MPRS No. IV/MPRS/1973 tntang GBHN
Tujuan pendidikan Nasional sebagai berikut : pembangunan dibidang
pendidikan didasarkan atas falsafah negara Pancasila dan diarahkan untuk
membentuk manusiamanusia pembangunan yang berpancasila dan untuk
membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan
dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat
mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur,
mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia.
Menurut TAP MPR No. II/MPR/1993
Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman
dan bertakwa terhadap TuhanYang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos
kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani. menurut UU Sisdiknas pasal 3
Thn 2003. pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka


mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada TuhanYang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2.2 Aspek Tujuan Pendidikan


2.2.1 Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah suatu tujuan pendidikan suatu bangsa,
dan bagi bangsa Indonesia tujuan ini tertera dalam undangundang Nomor 20
tahun 2003 pasal 3 yang berbunyi : pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabatdalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujua untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman,
bertaqwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
2.2.2 Tujuan Institusional
Tujuan institusional adalah tujuan pendidikan dari suatu jenjang, jalur dan
jenis pendidikan tertentu, seperti halnya jenjang pendidikan SD mempunyai
tujuan pendidikan tersendiri yang berbeda dengan tujuan pendidikan di SMP dan
berbeda dengan tujuan pendidikan di SMA, dan sterusnya.
2.2.3 Tujuan Kurikuler
Tujuan Kurikuler adalah Tujuan yang berhubungan dengan setiap bidang
studi dalam arti rumusan tujuan kurikuler adalah rumusan tujuan yang diharapkan

tercapai setelah siswa mempelajari bidang studi yang bersangkutan.Contoh tujuan


kurikuler untuk bidang studi IPA di SD berbunyi :
1) Mengenal, memahami dan mampu menggunakan konsep dasar IPA yang
berguna atau praktis.
2) Memiliki sikap ilmiah.
3) Menghargai alam dan penciptanya.
Contoh tujuan kurikuler untuk bidang studi fisika di SMU berbunyi :
1) Siswa memahami konsep atau sambil mengembangkan kemampuan
bernalar dan berdiskusi.
2) Siswa mapu melakukan percobaan dan bernalar untuk memahami
pemantulan dan pembiasan cahaya serta menggunakan persamaan
persamaannya dan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan optic.
3) Siswa memahami struktur inti dan aplikasinya sambil mengembangkan
kemampuan berdiskusi dan bernalar.
2.2.4 Tujuan Pengajaran Umum
Tujuan pengajaran umum merupakan penjabaran dari tujuan kurikuler
yang kalau ditinjau dari cakupan materinya meerupakan suatu tujuan untuk tujuan
suatu pokok bahasan tertentu. Dalam merumuskan tujuan pengajaran umum
ditentukan beberapa kriteria, diantaranya :
1) Beorientasi pada siswa
2) Merupakan hasil belajar
3) Masih diperkenankan memakai kata nonoperasional
2.2.5 Tujuan Pengajaran Khusus
Tujuan pengajaran khusus adalah tujuan yang terkecil yang merupakan
tujuan yang diharapkan berkembang dan dirumuskan dengan kriteria yaitu :
1)
2)
3)
4)
5)

Merupakan penjambaran tujuan pengajaran umum


Merupakan indikator terpilih dari tujuan pengajaran umum
Dirumuskan sebagai hasil belajar
Memakai istilahistilah atau katakata operasional
Spesifik

2.3

Sumber dan Dasar Perumusan Tujuan Pendidikan


Sumber dan dasar perumusan tujuan pendidikan dibagi menjadi 4, yaitu

Rumusan tujuan pendidikan menurut UU No. 4 tahun 1950, tecatum dalam bab II
pasal 3 yang berbunyi tujuan pendidikan dan pengajaran membentuk manusia
susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Rumusan tujuan pendidikan menurut ketetapan MPR No.II tahun 1960
yang berbunyi tujuan pendidikan ialah mendidik anak ke arah terbentuknya
manusia yang berjiwa pancasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya
masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur material dan spiritual.
Rumusan tujuan pendidikan menurut sistem pendidikan nasional pancasila
dengan penetapan Presiden no. 19 tahun 1965 yang berbunyi tujuan pendidikan
nasional kita, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, dari
pendidikan prasekolah sampai pendidikan tinggi, supaya melahirkan warga negara
sosialis Indonesia yang susila, yang bertaggung jawab atas terselenggaranya
masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual maupun material
yang berjiwa pancasila.
Rumusan tujuan pendidkan menurut ketetapan MPRS No. 2 tahun 1960
yang berbunyi tujuan pendidikan ialah membetuk manusia pancasialis sejati
berdasarkan

ketentuanketentuan

yang

dikehendaki

oleh

pembukaan

UndangUndang Dasar 1945 dan isi UndangUndang Dasar 1945.

2.4

Jenis Tujuan Pendidikan


Tujuan pendidikan nasional adalah manusia yang berjiwa pancasila.

Tujuan Kurikuler, mencakup 3 ranah pendidikan (kognitif, afektif, dan

psikomotorik). Tujuan Institusional ialah tujuan tiap lembaga pendidikan. Tujuan


Instruksional,tujuan pokok bahasan atau sub pokok bahasan.

2.5

Fungsi Tujuan Pendidikan


Fungsi tujuan pendidikan adalah memberikan arah kepada segenap

kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap
kegiatan pendidikan.
Menurut ahmad D. Marimba, fungsi tujuan yaitu:
1)
2)
3)
4)

Mengakhiri usaha.
Mengarahkan usaha.
Titik tolak untk mncapai tujuantujuan lain.
Memberi nilai pada usahausaha tersebut

2.6

Macam Tujuan Pendidikan dan Rumusan Tujuan Menurut


Ahli
Macam-macam tujuan pendidikan menurut Langeveld sebagai berikut:

2.6.1

Tujuan Umum
Tujuan umum ini sering disebut tujuan akhir, atau tujuan totalatau tujuan

lengkap. Tujuan umum berarti tujuan total atau tujuan yang lengkap yaitutujuan
yang pada akhirnya akan dicapai oleh pendidik terhadapanak didik yaitu
terwujudnya

kedewasaan

jasmani

dan

rohani.(Barnadib,

1989)Menurut

Kohnstamm dan Gunning, tujuan akhir pendidikan ituialah membentuk insan


kamil atau manusia sempurna. (Amir Daien,1973)Dengan demikian tujuan
umum/akhir pendidikan ialahmembentuk insan kamil yaitu manusia yang dewasa
jasmani danrohaninya baik secara moral, intelektual, sosial, estesis, agama danlain
sebagainya.

2.6.2 Tujuan Khusus


Tujuan ini merupakan pengkhususan dari pada tujuan umum,karena untuk
menuju kepada tujuan umum itu perlu adanyapengkhususan tujuan yang
disesuaikan dengan kondisi dan situasitertentu, misalnya disesuaikan dengan:
1) Cita-cita pembangunan suatu masyarakat/bangsa.
2) Tugas suatu badan atau lembaga pendidikan.
3) Bakat dan kemampuan anak didik.
4) Kesanggupan-kesanggupan yang ada pada pendidik.
5) Tingkat pendidikan, dan sebagainya. (Umar Tirtaraharja, dkk,2005:38-39)
2.6.3 Tujuan Insidental/Seketika
Tujuan ini disebut tujuan seketika/insidental karena tujuan initimbul secara
kebetulan, secara mendadak dan hanya bersifatsesaat. Tujuan seketika ini
meskipun hanya sesaat dapat memberikanandil dalam pencapaian tujuan
selanjutnya, karena melalui tujuan-tujuan seperti ini dapat memberikan
pengetahuan

dan

pengalamanlangsung

yang

erat

hubungannya

dengan

kehidupannya nanti dimasa yang akan datang.


2.6.4 Tujuan Sementara
Tujuan sementara adalah tujuan pendidikan yang dicapai si anakpada tiap
fase perkembangan. Agar tujuan sementara ini dapattercapai dengan sebaikbaiknya maka pendidik harus mengetahuimasa peka yaitu masa dimana anak
masanya/matang untukmempelajari sesuatu yang akan dicapai dengan tujuan
tersebut.
2.6.5 Tujuan Tidak Lengkap

Tujuan ini erat hubungannya dengan aspek-aspek pendidikanyang akan


membentuk aspek-aspek kepribadian manusia, sepertimisalnya aspek-aspek
pendidikan yaitu kecerdasan, moral, sosial,keagamaan, estetika, dan sebagainya.
2.6.6 Tujuan Perantara/Intermedier
Tujuan perantara ini merupakan alat atau sarana untukmencapai tujuantujuan

yang

lain.Keenam

tujuan

tersebut

menurut

Langeveld

intinya

dapatdisederhanakan menjadi satu macam saja, yaitu tujuan umumdimana


semua tujuan-tujuan (kelima tujuan yang lainnya) diarahkanuntuk pencapaian
tujuan umum pendidikan yaitu terbentuknyakehidupan sebagai insan kamil, sutu
kehidupan dimana ketiga intihakikat manusia baik sebagai makhluk individu,
makhluk sosial danmakhluk susila/religious dapat terwujud secara harmonis.

2.7

Rumusan Tujuan Menurut Ahli


Dalam

Suwarno

(1992)

terdapat

beberapa

pengertian

tujuan

pendidikanmenurut beberapa tokoh, diantaranya :


1. Ki Hadjar DewantoroTujuan pendidikan adalah mendidik anak agar menjadi
manusia yangsempurna hidupnya, yaitu kehidupan dan penghidupan
manusia yang selarasdengan alamnya (kodratnya) dan masyarakatnya.
2. Johan Amos Comenius (Austria, 1592 1670, tokoh aliran
realism pendidikan) Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang
mempunyai pengetahuan kesusilaan dan kasalehan sebagai persiapan untuk
kehidupan diakherat.
3. John Locke (Inggris, 1632 1704, tokoh aliran Empirisme dalam
pendidikan) Tujuan pendidikan adalah membentuk Gentlemen.
4. J.J. Rousseau (Perancis, 1712 1778, tokoh aliran Naturalisme) Tujuan
pendidikan

adalah

mempertahankan

kebaikan

yang

ada

manusiamembentuk anak menjadi anggota masyarakat yang natural.

pada

5. John Heinrich Pestalozzi ( Swiss, 1746 1827, tokoh pendidikan sosial)


Tujuan

pendidikan

adalah

mempertinggi

derajat

rakyat

(social

regeneration)dengan mengembangkan potensi jiwa anak secara wajar.


6. Friedrich Frobel (Jerman, 1782 1852, tokoh pendidikan anak-anak) Tujuan
pendidikan adalah membentuk anak menjadi makhluk aktif dankreatif.
7. Herbert Spencer (Inggris, 18201903, tokoh gerakan ilmiah
dalam pendidikan) Tujuan pendidikan adalah mengilmiahkan usaha-usaha
pendidikan, sertamembentuk manusia ilmiah.
8. John Dewey (Amerika, 1859 1952, tokoh pendidikan sosial) Tujuan
pendidikan adalah membentuk anak menjadi anggota masyarakat yang baik,
yaitu anggota masyarakat yang mempunyai kecakapan praktis dandapat
memecahkan problem sosial sehari-hari dengan baik.
9. George Kerchensteiner (Jerman, 1855 1932,

tokoh

pendidikan

kewarganegaraan) Tujuan pendidikan adalah mendidik anak menjadi warga


negara yang baik.
10. Maria Montessori (Italia, 18701952, tokoh pendidikan kanak-kanak)
Tujuan pendidikan adalah perkembangan anak secara bebas.
11. Helen Parkhurst (Amerika, 1887 1900, tokoh pendidikan individual)
Tujuan pendidikan adalah membentuk anak menjadi warga negara yang baik

2.8

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL


Tujuan Pendidikan Nasional Berkaitan dengan tujuan pendidikan, Plato

sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya. Ia


mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui;
lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Aristoteles mempunyai
tujuan pendidikan yang mirip dengan Plato, tetapi ia mengaitkannya dengan
tujuan negara. Ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan haruslah sama dengan
tujuan akhir dari pembentukan negara yang harus sama pula dengan sasaran utama
pembuatan dan penyusunan hukum serta harus pula sama dengan tujuan utama
konstitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia (eudaimonia). Tujuan
universitas di Eropah adalah mencari kebenaran. Pada era Restorasi Meiji di

Jepang, tujuan pendidikan dibuat sinkron dengan tujuan negara; pendidikan


dirancang adalah untuk kepentingan negara.
1) UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, "Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka
2) Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan
bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia."
3) Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang
No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, "Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab".
4) Bila dibandingkan dengan undang-undang pendidikan sebelumnya, yaitu
Undang-Undang No. 2/1989, ada kemiripan kecuali berbeda dalam
pengungkapan. Pada pasal 4 ditulis, "Pendidikan Nasional bertujuan
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi-pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta
rasa tanggung-jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."
5) Pada Pasal 15, Undang-undang yang sama, tertulis, "Pendidikan menengah
diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial,
budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut
dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi."
6) Bila dipelajari, secara konseptual tujuan pendidikan nasional masih sesuai
dengan substansi Pancasila, yaitu menjadikan manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Namun, apakah tujuan pendidikan

ini dijabarkan secara konsisten di dalam kurikulum pendidikan dan juga


dalam sistem pembelajaran? Jawabannya masih diragukan. Manusia Sebagai
Fokus Pendidikan Secara umum, alam menjadi titik sentral pendidikan; alam
menjadi tujuan. Manusia menjadi "budak" dari alam; ilmu, teknologi dan dan
hal-hal yang bersifat pragmatis termasuk uang, mengambil tempat paling
penting. Pendidikan yang berpusat pada manusia semakin tersingkir. Ini tidak
lepas dari sosok yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, John
Dewey. Ia tokoh pendidikan Amerika Serikat pada awal dan pertengahan abad
ke-20 dan menggulirkan konsep pragmatisme. John Dewey mengatakan
bahwa pendidikan adalah penyesuaian pribadi yang bertumbuh terhadap
lingkungannya (education is " adjusment of the growing personality to its
environment). Ia membuat lingkungan menjadi pusat pendidikan
7) Bagi Dewey, manusia itu harus disesuaikan terhadap lingkungannya tanpa
menyebut defenisi "lingkungan" (environment) secara jelas." Manusia
sebagai makhluk PAEDAGOGIK Mahluk paedagogik ialah mahluq Alloh
yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Mahluq
itu adalah manusia. Sehingga mampu menjadi kholifah di bumi, pendukung
dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Alloh berupa
bentuk yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk
yang mulia, pikiran, perasaan dan kemampuannya berbuat merupakan
komponen dari fitrah itu. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan
mahluk yang lain dan membuat manusia itu istimewa dan lebih mulia dan
sekaligus berarti bahwa manusia adalah mahluk paedagogik.
8) Para elit pendidikan negeri ini menyelipkan pikiran John Dewey dalam
Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lebih
jelas dalam pasal 15. Pada pasal ini tertulis, "Pendidikan menengah
diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial,
budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut
dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

9) Pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional, falsafah pragmatisme masih kental sekalipun dalam undang-undang
itu tidak disebutkan secara vulgar.
10) Namun dalam praktek sehari-hari,pikiran John Dewey-lah yang dominan.
Manusia adalah mahluk yang paling penting dari seluruh yang dicipta;
manusia seharusnya menjadi fokus pendidikan. Ini sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila. Bahkan dalam pandangan agama-agama dari Timur, yang dianggap
sebagi agama monoteisme, manusia merupakan sosok yang sentral dalam
penciptaan. Segala sesuatu dicipta untuk manusia. Tuhan mencipta terang,
cakrawala, laut, darat, semua jenis tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan,
bintang, semua mahluk hidup di laut seperti ikan, dan di darat, dan segala
jenis burung di udara. Dan terakhir, Ia mencipta manusia. Manusia
merupakan mahkota dari seluruh ciptaan. Ia menjadi pusat dari alam semesta.
Segala sesuatu sudah disediakan sebelum manusia eksis di bumi. Bahkan
taman yang indah, Taman Firdaus pun, disiapkan untuk mereka sehingga
pasangan suami-isteri itu tidak perlu bersusah payah mencari kebutuhan
hidup dan tempatnya. Bukan hanya sebagai mahkota dari seluruh ciptaan,
manusia diberi tugas untuk menguasai seluruh ciptaan- mulai dari ikan-ikan
yang ada di laut dan burung-burung di udara, dan semua mahluk yang
bergerak di bumi. Seluruh alam semesta ada dalam kekuasaan manusia.
Sangat ironis melihat dunia pendidikan kita. Manusia bukan sosok yang
paling penting dalam dunia pendidikan. Manusia bukan fokus pendidikan,
tetapi yang menjadi fokusnya adalah uang, keuntungan, kurikulum dan
berbagai hal lainnya yang termasuk dalam kategori alam Menilai Tinggi
Kecerdasan Melalui Pendidikan Ahli pendidikan Inggris, Alfred North
Whitehead, mengatakan bahwa "di tengah-tengah suasana kehidupan modern,
hukumnya mutlak. Suatu bangsa yang tidak menilai tinggi kecerdasan yang
terlatih dinasibkan tenggelam dalam sejarah
11) Baik segala kepahlawananya, baik semua kelincahannya, semua kemenangan
yang telah dicapai di darat ataupun di laut, akan mampu menolak balik
dorongan nasib. Hari ini bangsa itu mungkin bisa bertahan. Besok, ilmu
pengetahuan akan maju lagi satu langkah. Bagi suatu bangsa yang tidak

berpendidikan, tidak ada suatu mahkamah pun ke mana dia dapat memajukan
pengaduan atas hukuman yang telah dijatuhkan kepada bangsa yang tidak
berpendidikan." Yukichi Fukuzawa (1835-1904) dalam bukunya berjudul
Gakumon no Susume (suatu Imbauan untuk Belajar) menulis, "Tuhan tidak
menakdirkan seorang pada tempat di atas atau di bawah seseorang yang lain.
Ini berarti bahwa kalau mereka dilahirkan, mereka sama derajatnya. Namun,
kalau kita melayangkan pandangan atas suasana manusia yang sebenarnya,
kita jumpai mereka yang pandai dan yang bodoh, mereka yang berderajat
rendah. Suasana mereka sangat berbeda seakan-akan antara awan dan lumpur.
Sebab-sebab adanya suasana demikian itu jelas sekali. Kalau seseorang tidak
menuntut ilmu, ia akan tetap dalam kegelapan, dan seseorang yang berada
dalam kegelapan adalah orang bodoh. Oleh sebab itu, perbedaan antara
pandai dan bodoh, pada hakekatnya, ditetapkan oleh pendidikan."
12) Pentingnya menilai tinggi kecerdasan, para pendiri republik ini telah
memasukkan topik pendidikan dalam konstitusi. UUD 1945 (versi
Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, "Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang."
13) Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan
bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia."
14) Bahkan dalam konsititusi yang telah diamendemen telah dicantumkan Sekilas
negeri ini menilai tinggi kecerdasan. Namun, apa yang telah dihasilkan dunia
pendidikan kita? Setelah lebih 64 tahun negeri ini merdeka, khususnya pada
dua dekade terakhir, dunia pendidikan kita hanya menghasilkan siswa tauran,
mahasiwa yang menjiplak, pejabat yang koruptor, warga yang masih percaya
kepada dukun, pekerja yang mau berpenghasilan tinggi tetapi tidak mau
bekerja keras, penduduk yang mudah emosi, dan berbagai karakter-karakter
buruk lainnya. Banyak berita-berita yang berkaitan dengan moral disajikan di
publik bahkan sampai ada yang berani melakukan hubungan seks di luar
nikah dan disebarkan ke publik. Jelaslah bahwa pendidikan bukanlah hanya

semata-mata

soal

anggaran.

Pendidikan

bukan

hanya

semata-mata

melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh para elit politik dan pemerintah
lewat Undang-Undang Pendidikan dan kebijakan-kebijakan pendidikan.
Pendidikan bukan hanya semata-mata melaksanakan kurikulum. Jauh lebih
penting dari itu adalah falsafah pendidikan; apa falsafah terhadap murid,
kurikulum pendidikan dan guru. Dan yang tidak bisa diabaikan juga adalah
bagaimana falsafah itu dijabarkan dalam tataran praktis. Oleh karena begitu
pentingnya menilai tinggi kecerdasan, pada halaman ini disajikan topik
seputar pendidikan. Kita akan lihat falsafah pendidikan, tujuan pendidikan,
relasi antara pendidikan dan negara, peran pemerintah dalam menentukan
kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan dan lewat jalur apa pendidikan
yang baik diperjuangkan. Minimum 20 % dari anggaran belanja negara
disisihkan untuk pendidikan. Tanggung Jawab dan Peran Orang Tua dalam
Pendidikan Kisruhnya pendidikan di republik ini berkaitan dengan lemahnya
peranan orang tua dan masyarakat. Pendidikan diserahkan hampir sepenuhnya
kepada pemerintah.Minim perhatian terhadap apa yang terjadi di seputar
pendidikan baik itu guru, kurikulum dan metode pengajaran. Tidak heran
pendidikan di republik ini menghasilkan manusia-manusia yang tidak sesuai
dengan harapan. Peran orang tua dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari
tugas manusia secara umum. Dari sejarah dapat dilihat bahwa tugas pokok
manusia tersimpan dalam kutipan berikut, "Beranakcuculah dan bertambah
banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi.
15) Bila dipilah, tugas pertama manusia adalah beranak cucu dan bertambah
banyak. Manusia diberi mandat untuk mempunyai keturunan yang
berkualitas; baik rohani, intelek, emosi, kehendak dan phisik yang sehat.
Dengan kata lain, manusia diperintahkan untuk menghasilkan manusia yang
seutuhnya, yaitu manusia yang mirip dengan Penciptanya. Hati, pikiran,
emosi, kehendak dan tindakannya seirama dengan hati, pikiran, emosi,
kehendak dan tindakan Penciptanya. Pendidikan di Rumah Yaitu: Pendidikan

yang diselenggarakan oleh keluarga sendiri terhadap anggota keluarga yang


masih dalam usia sekolah. Sesuai dengan kebijakan Wajar Dikdas usia itu
antara 6 sampai 17 tahun.Pendidikan ini diselenggarakan atas dasar :
Menjaga anak-anak dari kontaminasi aliran / falsafah hidup yang
bertentangan dengan tradisi keluarga. Menjaga anak-anak agar selamat dari
pengaruh negative lingkungan Menyelamatkan anak secara fisik dan mental
dari kelompok sebayanya Menghemat biaya pendidikan Memberikan
pendidikan yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara
individual