Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan pokok
makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Akses terhadap air
bersih masih menjadi salah satu persoalan pembangunan di Indonesia. Kurang
dari 50% rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses ini. Defisit akses air
bersih akibat pengelolaan yang kurang maksimal mengakibatkan tidak kurang dari
136 jiwa meninggal setiap harinya di Indonesia sedangkan di dunia terdapat
setidaknya 900 juta orang tidak memiliki akses air bersih (Atina, 2011).
Pelayanan air bersih di Kabupaten Sambas masih belum menunjukkan
hasil yang menggembirakan. Untuk pengadaan air bersih, permasalahan yang
dihadapi adalah masih rendahnya cakupan pelayanan diakibatkan kurangnya debit
air yang dihasilkan serta masih belum terpenuhinya standar air bersih yang
didistribusikan karena kurangnya sistem pengolahan. Dengan demikian sebagian
besar masyarakat masih memanfaatkan air sistem non perpipaan seperti sungai,
sumur, mata air serta air hujan.
Salah satu air sistem non perpipaan yang banyak dimanfaatkan
masyarakat di Kota Sambas, ibu kota Kabupaten Sambas, adalah air sungai.
Selain jumlahnya yang melimpah, air sungai juga mudah diperoleh karena terletak
di sekitar pemukiman masyarakat. Meskipun terpenuhi secara kuantitas, namun
secara kualitas air sistem non perpipaan tersebut belum dapat memenuhi standar

air bersih, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
Sehingga perlu dilakukan pengolahan sebelum digunakan.
Secara fisik air sungai Sambas terlihat berwarna kuning terang, dengan
kekeruhan rendah dan pH rendah. Warna air sungai Sambas mencapai angka 73,6
TCU dengan kekeruhan 23,3 NTU dan pH 4,34. Warna air sungai Sambas ini
melebihi kadar maksimum kualitas air bersih yang diperbolehkan yaitu sebesar 50
TCU sesuai dengan Permenkes No. 416/MEN.KES/PER/IX/1990 tentang Syaratsyarat dan Pengawasan Kualitas Air. Warna yang tinggi (dengan kenampakan
warna kuning sampai coklat) dengan kekeruhan rendah (air relatif jernih) dan pH
yang rendah (rata-rata 3-5) mengidentifikasikan warna air sungai Sambas
merupakan warna sejati (true color) yaitu warna yang yang berasal dari
penguraian zat organik alami yaitu zat humus (asam humat dan asam fulfat),
lignin, tanin, dan asam organik lainnya (Pararaja, 2008).
Pemilihan perlakuan penjernihan air harus sesuai dengan kondisi air yang
akan diolah. Kusnaedi (2010) menyebutkan bahwa air sumur, rawa, atau sungai
yang terasa bau dan berwarna kuning dapat diolah melalui pengolahan adsorpsi.
Media yang dapat digunakan dalam pengolahan air secara adsorpsi adalah karbon
aktif atau arang yang terbuat dari apa saja yang dapat dibuat arang aktif. Arang
aktif merupakan media yang sangat efektif dalam penyerapan zat terlarut dalam
air, baik organik maupun anorganik. Permukaan arang aktif bersifat non polar.
Adanya oksida-oksida logam pada arang aktif dapat menimbulkan gaya

elektrostatis pada permukaan sehingga memungkinkan arang aktif bertindak


sebagai adsorben.
Arang aktif dapat dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan,
tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun mineral yang mengandung karbon (Sembiring
dan Sinaga, 2003). Bahan baku arang aktif dari sumber limbah yang mengandung
karbon sangat mudah ditemukan di Indonesia. Dari sektor tanaman pangan
terutama adalah limbah dari tanaman padi, jagung, kacang-kacangan, kedelai dan
ubi kayu. Sektor perkebunan yang terpenting adalah limbah tebu, kelapa, sawit,
karet, kopi, kakao. Sektor kehutanan menghasilkan limbah dari proses logging,
penggergajian kayu, kilang plywood, terutama di Kalimantan.
Limbah-limbah tersebut dihasilkan oleh industri baik pengolahan besar
maupun kecil. Untuk industri besar dan terpadu, limbah-limbah tersebut biasanya
sudah dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai. Namun untuk skala industri
kecil dan menengah limbah tersebut belum dimanfaatkan. Sebagai contoh limbah
ampas tebu dari penjual minuman segar sari tebu, tatal kayu dari pengrajin
furniture dan tempurung kelapa dari penjual kelapa parut. Adanya limbah tersebut
akan menimbulkan masalah jika penanganannya hanya dibiarkan menumpuk
hingga membusuk atau pun dibakar begitu saja, yang semuanya tidak memberikan
dampak yang positif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya perlu
dipikirkan. Jalan yang dapat ditempuh adalah memanfaatkannya menjadi produk
yang bernilai tambah. Salah satunya dengan mengolah limbah tersebut menjadi
arang aktif.

Daya jerap arang aktif ditentukan oleh jenis bahan dasar yang digunakan
(Samaniego dan A.I de Leon dalam Sembiring dan Sinaga, 2003). Hal ini berarti
kemampuan arang aktif sebagai adsorben tidak sama antara satu bahan dengan
yang lainnya. Jenis bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan arang aktif ini
juga akan mempengaruhi jumlah kebutuhan arang untuk menjerap zat tertentu.
Berdasarkan uraian di atas, dalam upaya penjernihan air sungai Sambas
ini, maka perlu dilakukan penelitian tentang kemampuan arang aktif dari limbah
ampas tebu, limbah tatal kayu dan tempurung kelapa, serta kebutuhan arang aktif
terpilih untuk menjerap warna air sungai.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu :


1. Pengaruh jenis arang aktif Ampas Tebu, Tatal Kayu dan Tempurung Kelapa
terhadap kemampuan penjerapan untuk menurunkan kadar warna air sungai
Sambas
2. Dosis optimum arang aktif terpilih yang dibutuhkan pada proses penjerapan
warna air sungai Sambas
3. Waktu kontak optimum yang dibutuhkan pada proses penjerapan warna air
sungai Sambas

1.3

Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini meliputi :

1. Air sungai yang digunakan berasal dari air sungai Sambas Kalimantan Barat.
2. Metode pembuatan arang aktif sama untuk semua jenis bahan baku.
3. Ukuran partikel arang aktif adalah lolos mesh 40 dan tertahan pada mesh 60.
4. Penelitian menggunakan skala laboratorium sistem batch dengan 500 ml air
sungai Sambas untuk setiap perlakuan dengan tiga kali pengulangan.
5. Penelitian dilakukan pada suhu lingkungan 28oC.
6. Waktu kontak arang aktif adalah 10, 15, 30, 60, 90, 120 dan 180 menit.
7. Parameter yang diuji adalah warna air.

1.4

Keaslian Penelitian
Dalam upaya peningkatan kualitas air menjadi air bersih telah banyak

mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian tentang penjernihan air


dengan metode penjerapan arang aktif dengan berbagai jenis bahan baku.
Penelitian yang telah dilakukan yang berhubungan dengan penelitian ini dapat
dilihat pada Tabel I.1.
Kemampuan penjerapan arang aktif jenis tertentu diduga akan berbeda
dengan jenis yang lain. Natalina (2006) telah melakukan penelitian untuk
mengetahui kemampuan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dengan berbagai
ketebalan dan diameter media tertentu dalam menurunkan kadar warna pada air
gambut Sungai Sebangau Kota Palangka Raya. Penelitian Natalina (2006) hanya
menggunakan satu jenis arang aktif, sedangkan penelitian yang dilakukan penulis

menggunakan tiga jenis arang aktif untuk mengetahui pengaruh dari ketiga jenis
arang aktif tersebut dalam menurunkan kadar warna air sungai Sambas.
Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis arang
aktif dengan mengamati kadar kekeruhan (Marbun, 2008, dan Nayoan, 2003), besi
(Marbun, 2008) dan mangan (Marbun, 2008); tanpa mengamati perubahan kadar
warna seperti yang dilakukan penulis. Selain itu beberapa penelitian juga
dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis arang aktif terhadap sumber air
limbah rumah tangga, rumah sakit dan industri pelapisan nikel (Rumidatul, 2006)
serta limbah tekstil (Handayani, 2005)
Penelitian yang dilakukan penulis yaitu untuk mengetahui pengaruh
penjerapan arang aktif yang berasal dari 3 jenis bahan baku yang berbeda, yaitu
ampas tebu, tatal kayu dan tempurung kelapa, dalam menjerap warna air sungai
Sambas, sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan.

1.5

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.5.1

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui pengaruh jenis bahan baku arang aktif terhadap kemampuan


penjerapan untuk menurunkan tingkat warna air sungai Sambas
2. Menentukan dosis optimum arang aktif terpilih yang dibutuhkan dalam proses
penjerapan warna air sungai Sambas
3. Menentukan waktu kontak optimum yang dibutuhkan pada proses penjerapan
warna air sungai Sambas

Tabel I.1 Keaslian Penelitian


No
1

Judul
Penurunan Warna Dengan Arang Aktif
Tempurung Kelapa Sawit Pada Air
Gambut Sungai Sebangau Kota
Palangka Raya.
Natalina (2006)

Pustaka
Bahan baku arang aktif :
tempurung kelapa sawit
Ukuran arang aktif :
0,10 mm dan 0,25 mm
Air yang digunakan : air sungai Sebangau, Kota Palangka Raya

Penelitian ini
Bahan baku arang aktif :
ampas tebu, tatal kayu dan tempurung kelapa
Ukuran arang aktif :
lolos mesh 40 (diameter 0,425 mm) tertahan mesh 60 (diameter 0,25 mm)
Air yang digunakan : air sungai Sambas, Kalimantan Barat.

Pengaruh Jenis Bahan Dan Ukuran


Butir Arang Aktif Terhadap Penurunan
Kadar Kekeruhan, Besi Dan Mangan
Pada Proses Penjernihan Air.
Marbun (2008)

Bahan baku arang aktif :


kayu dan tempurung kelapa
Ukuran arang aktif :
5/6; 6/7; 7/8; 8/10 dan 10/12 mesh
Proses penjernihan :
sebelum dan setelah backwash
Unsur-unsur yang dijerap : Kekeruhan, besi (Fe) dan mangan (Mn)
Air yang digunakan :
air larutan senyawa (NH4)2 Fe(SO4)2 6H2O dan KmnO4

Bahan baku arang aktif :


ampas tebu, tatal kayu dan tempurung kelapa
Ukuran arang aktif :
lolos mesh 40 tertahan mesh 60
Proses penjernihan :
tanpa backwash
Unsur yang dijerap : warna air
Air yang digunakan :
air sungai Sambas, Kalimantan Barat

Perbedaan Efektifitas Arang Aktif


Tempurung Kelapa Dan Arang Kayu
Dalam Menurunkan Tingkat Kekeruhan
Pada Proses Filtrasi Pengolahan
Limbah Cair Industri Tahu.
Nayoan (2003)

Bahan baku arang aktif :


kayu dan tempurung kelapa
Unsur yang dijerap : kekeruhan
Air yang digunakan : limbah cair industri tahu

Bahan baku arang aktif :


ampas tebu, tatal kayu dan tempurung kelapa
Unsur yang dijerap : warna air
Air yang digunakan : air sungai Sambas, Kalimantan Barat

Perbandingan Daya Serap Arang Aktif


Tongkol Jagung Dan Tempurung
Kelapa Sebagai Adsorben Zat Warna
Tekstil Direct Blue.
Handayani (2005)

Bahan baku arang aktif :


tongkol jagung dan tempurung kelapa
Aktifasi kimia : perendaman 3, 6, 9 dan 12 jam
Ukuran arang aktif : 230 Mesh
Waktu pengadukan : 5, 10, 15 dan 20 menit
Unsur yang dijerap : warna air (warna semu)
Air yang digunakan : air limbah pewarnaan tekstil

Bahan baku arang aktif :


ampas tebu, tatal kayu dan tempurung kelapa
Aktifasi kimia : perendaman 24 jam
Ukuran arang aktif : lolos mesh 40 tertahan mesh 60
Waktu pengadukan : 10, 15, 30, 60, 90, 120 dan 180 menit
Unsur yang dijerap : warna air (warna sejati)
Air yang digunakan : air sungai Sambas, Kalimantan Barat

Efektivitas Arang Aktif Sebagai


Adsorben Pada Pengolahan Air
Limbah.
Rumidatul (2006)

Bahan baku arang aktif :


serbuk gergaji kayu campuran, kayu Mangium dan tempurung kelapa
Aktifasi thermal : suhu 700 C dengan waktu steam 1, 2 dan 3 jam
Peningkatan mutu arang aktif : perendaman larutan H3PO4 5 %
Dosis arang aktif : 0, 1, 2 dan 3 %
Air yang digunakan, air limbah dari :
rumah tangga, rumah sakit dan industri pelapisan nikel

Bahan baku arang aktif :


ampas tebu, tatal kayu dan tempurung kelapa
Aktifasi kimia : perendaman larutan H3PO4 5 %
Tidak dilakukan peningkatan mutu
Dosis arang aktif : 1, 2, 3, 4 dan 5 %
Air yang digunakan :
air sungai Sambas, Kalimantan Barat

1.5.2

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Memberikan informasi hasil penelitian tentang kemampuan penjerapan


berbagai jenis arang aktif untuk menurunkan tingkat warna air sungai Sambas.
2. Memberikan alternatif adsorben yang dapat digunakan menurunkan warna air
sungai dalam rangka pengolahan air bersih.
3. Meningkatkan nilai ekonomi limbah ampas tebu, tatal kayu dan tempurung
kelapa, yaitu dari limbah menjadi arang aktif.