Anda di halaman 1dari 10

Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan.

Islam sangat
menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu. Dalam surat Ar-Rahman, Allah
menjelaskan bahwa diri-Nya adalah pengajar (Allamahu al-Bayan) bagi umat Islam. Dalam
agama-agama lain selain Islam kita tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang
diturunkan adalah perintah untuk belajar. Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat
Al-Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah
mengajarkan kita dengan qalam yang sering kita artikan dengan pena.
Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat
dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada orang lain. Kata Qalam tidak diletakkan dalam
pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang
lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perangkatnya termasuk
internet
bisa diartikan sebagai penafsiran kata qalam.
Dalam surat Al-Alaq, Allah Swt memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Setelah itu
kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal
pendidikan, ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah Swt tersebut;
yaitu Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua,
berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kata qalam yang dapat kita
artikan sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita
kepada generasi berikutnya.
Dalam ajaran Islam, baik dalam ayat Quran maupun hadits, bahwa ilmu pengetahuan paling
tinggi nilainya melebihi hal-hal lain. Bahkan sifat Allah Swt adalah Dia memiliki ilmu yang
Maha Mengetahui. Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu
bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada kekuatan fisik dan harta,
tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan. Orang yang tinggi di hadapan Allah Swt adalah
mereka yang berilmu.
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai
ke liang lahat. Tidak ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada
kewajiban menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad Saw. Maka bukan hal yang asing jika
waktu itu kita mendengar bahwa Islam memegang peradaban penting dalam ilmu
pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh Islam yang
dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang berawal dari kota Madinah, Spanyol,
Cordova dan negara-negara lainnya. Itulah zaman yang kita kenal dengan zaman keemasan
Islam, walaupun setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman itu, di mana negaranegara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi, negara-negara Islam telah
banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun. Sekarang tugas kita untuk mengembalikan
masa kejayaan Islam seperti dulu melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negaranegara Islam.

Dalam Al-Quran sudah dijelaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah hanya karena dua
hal; karena imannya dan karena ketinggian ilmunya. Bukan karena jabatan atau hartanya.
Karena itu dapat kita ambil kesimpulan bawa ilmu pengetahuan harus disandingkan dengan
iman. Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan iman
akan menghasilkan peradaban yang baik yang disebut dengan Al-Madinah al-Fadhilah.
Dalam menuntut ilmu tidak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Pria dan
wanita punya kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Sehingga setiap orang, baik pria
maupun wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita
sehingga potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan. Karena
itulah, agama menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah. Ibadah
tidak terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat. Bahkan menuntut ilmu itu
dianggap sebagai ibadah yang utama, karena dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadahibadah yang lainnya dengan benar. Imam Jafar As-Shadiq pernah berkata: Aku sangat
senang dan sangat ingin agar orang-orang yang dekat denganku dan mencintaiku, mereka
dapat belajar agama, dan supaya ada di atas kepala mereka cambuk yang siap mencambuknya
ketika ia bermalas-malasan untuk menuntut ilmu agama.
Ajaran agama Islam yang menekankan kewajiban menuntut ilmu tanpa mengenal gender.
Karena menuntut ilmu sangat bermanfaat dan setiap ilmu pasti bemanfaat. Kalau kita dapati
ilmu yang tidak bermanfaat, hal itu karena faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Sedangkan ilmu itu sendiri pasti sesuatu yang bermanfaat.

Oleh : Abdurrahman MBP


Apa itu ilmu pengetahuan ?
Pada awalnya air laut menguap, kemudian uap itu bersatu di awan dan menjadi
gumpalan-gumpalan awan yang penuh dengan uap air, ia diterbangkan angin ke berbagai
tempat, hingga akhirnya jatuh kembali ke bumi menjadi hujan. Air hujan segera merembes ke
bumi, sebagiannya mengalir ke sungai yang berhulu kembali ke lautan. Di laut proses
penguapan kembali berlangsung. Itulah salah satu model ilmu pengetahuan, lantas di mana
letak Tuhan ? di mana pula posisi Islam dalam hal ini ?
Ilmu dalam pandangan Islam memiliki makna yang khas dan berbeda dengan sistem
lainnya. Secara etimologi ilmu dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab
yaitu al-ilm, al-ma'rifah dan al-syu'ur (kesadaran). Al-'ilm adalah salah satu dari sifat Tuhan
yang tercermin dalam asma al-husnaNya, yaitu Al-'Alim, Al-'Aliim dan Al-'Alaam yang
semuanya bermakna Maha Mengetahui.
Mari kita simak salah satu firmanNya :



Sesungguhnya di sisiNyalah sgala ilmu ghaib, dan Ia mengetahui apa yang trjadi di rahim,
dan setiap jiwa tidak mengetahui apa yang akan diusahakannya besok dan di mana ia akan
meninggal dunia. Sesungguhnya Allah maha mengetahui. QS Lukman : 32.
Sumber ilmu pengetahuan adalah Tuhan, karena Dialah yang mengajarkan manusia
segala sesuatu sehingga ia mengetahui "Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya" QS Al-'Alaq : 5. Para malaikatpun tidak mengetahui sebelum mereka diajarkan
Tuhan Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana" QS Al-Baqarah : 32.
Beberapa ulama mendefinisikan ilmu dengan berbagai macam definisi : Imam Syafi'i
menyatakan "Ilmu adalah apa yang di dalamnya terdapat hadatsana".
Kesimpulan bahwa ilmu adalah serangkaian pengetahuan yang sistematis yang
didasarkan pada nash-nash shahih.
Watak ilmu pengetahuan menurut Islam
Dalam Al-Qur'an sifat penting epistemologi Islam terletak adanya kebenaran (al-haq)
dan kepastian (al-yaqin) sebagai antitesis dari kesalahan (al-batil), keraguan (syak) dan
dugaan (dzann). Hal ini berarti ilmu pengetahuan dalam Al-Qur;'an adalah kebenaran mutlak
yang tidak ada keraguan padanya. Hal ini seperti disebutkan dalam firmanNya : "Dan
kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu
tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka kerjakan". QS Yunus : 36
Hal ini berarti kebenaran adalah lawan dari kebatilan sebagaimana termaktub dalam QS
An-Najm : 28 "Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada
berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran". Dalam ayat ini terdapat penggunaan dua istilah
sekaligus yaitu antara dzan dan haqq, keduanya adalah antonim.
Dalam Islam kepastian (kebenaran) ada tiga tingkat : Kepastian kognitif (ilm al-yaqin),
kepastian penglihatan (ain al-yaqin) dan kepastian yang mutlak dialami (haq al-yaqin). QS
102 : 5-8 Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya
kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan
melihatnya dengan 'ainul yaqin kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang
kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Ilmu Pengetahuan yang Holistik dan Universal


Pengetahuan yang benar secara absolut harus sesuai dengan wahyu. Sebaliknya semua
yang bertentangan dengannya adalah salah (batil) atau hanya persangkaan (dzann) atau
didasarkan pada hawa nafsu (hawa') kesombongan (istikbar) atau kebodohan (jahl).
Kebenaran hakiki diperoleh dari optimalisasi anggota badan

"Dan janganlah kamu

mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya


pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" QS
17 : 36
Dzann tidak selamanya bersifat negatif dalam epistemologi Islam, manusia juga bisa
mmeperoleh sebuah data yang bersifat dzann yang berasal dari selain Al-Qur'an QS 30 : 7.
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai.demikian pula QS 17 : 26-27 orang Kafir Makkah
mengetahui sisi luar dari dunia ini. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan
haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Dalam konteks pengetahuan Tuhan dzann adalah lawan kata 'ilm, haqq dan yaqin.
Tetapi dalam tempat lainnya yaitu "Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku
anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku
kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). Dan berimanlah kamu
kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu
(Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah
kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu
harus bertakwa. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,
dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya". QS 2 : 40-46 dzann orang-orang beriman
berdasarkan petunjuk pengetahuan wahyu dapat mencapai arti yaqin (pengetahuan yang
pasti).
Kepositifan dzann dapat terlihat pada proses ijtihad yaitu proses pengerahan daya
intelektual yang dilakukan oleh orang-orang yang berkualitas.
Pengetahuan dan spiritualitas
Sifat pengetahuan dalam Islam terutama dalam Al-Qur'an adalah holistik dan
menyeluruh. Hal sebagai bukti pandangan dunianya yaitu tauhid dan monoteistik, yang tak
kenalkompromi. Persoalan-persoalan epistemologis harus dikaitkan dengan etika dan
spiritualitas.

Imam Al-Ghazaly mengemukakan konsep tentang integritas dalam Al-Qur'an. Ia


menyebutkan bahwa ayat-ayat berkenaan dengan bintang dan kesehatan hanya sepenuhnya
dapat dipahami masing-masing dengan pengetahuan astronomi atau kesehatan.
Demikian juga Ibnu Rusyd yang menyatakan : ada keterkaitan antara agama dan filsafat
misalnya di bidang penciptaan alam. Dengan hal ini maka Al-Qur'an memberikan dorongan
kepada setiap manusia untuk mempelajari nasib peradaban sebelumnya. Ini membentuk
kajian sejarah, arkeologi, perbandingan agama, sosiologi dan sebagainya scara utuh.
QS 41 : 53 disebutkan bahwa ada keterkaitan antara ayat-ayat Tuhan di alam semesta
dan di kedalaman batin manusia merupakan bagian dan bidang semua alasan berkaitan
dengan kebenaran pengetahuan wahyu yang menegaskan kecocokan dan keutuhan yang
saling terkait. Contoh-contoh disiplin pengetahuan, keutuhan dan kecocokan terbukti dari
kenyataan beberapa nabi yang memperoleh ilu pengetahuan yang berasal dari wahyu Tuhan,
misalnya Yusuf mengerti tafsir mimpi 12 : 6-101 Daud bisa membuat baju besi 20 : 20,
Sulaeman mengerti bahasa burung dan Jin 27 : 16-20
Pengetahuan dan Perbuatan
Hubungan antara pengetahuan dan perbuatan. Secara logis pengetahuan harus diikuti
oleh perbuatan, karena makna 'alim sendiri berkaitan ert dengan orang yang bertindak sesuai
dengan pengetahuannya. Titik dimensi praktis yang membedakan konsep pengetahuan Islam
dengan konsep ilmu pengetahuan lainnya.
Konsep pengetahuan manusia tidak hanya bmenguraikan persoalan-persoalan kognitif
dan intelektual, tetapi ia menyatukan aspek-aspek spiritua; dan praktis persoalan manusia.
Ilmu dalam Al-Qura'n sering diibaratkan dengan kata nur (cahaya dan huda (petunjuk)
dalam QS 24 : 35 Tuhan sebagai cahaya langit dan bumi. Muhammad Asad menegaskan
"Ayat ini menyinggung pencerahan (ilumination) di mana Tuhan sebagai sebagai kebenaran
mutlak, memberikan petunjuk kepada jiwa dan perasaan orang yang dikehendaki.
Kebalikannya orang yang cenderung menolak kebenaran seperti disebutkan dalam QS
24 : 40 :




Atau seperti kegelapan di lautan yang berlipat-lipat .dan siapa yang menjadikan
baginya cahaya dari Allah maka tidak adanya baginya cahaya.
Pengetahuan dan etika
Kata 'alim bukan hanya isim fail yang menunjukan kesementaraan, kefanaan atau tindakan
aksidental suatu wujud, tetap ia juga menunjukan kata sifat atau substansi yang

mengekspresikan tindakan yang terus menerus, suatu kondisi wujud sudah biasa ataukualitas
yang tetap. Karena itu alim bisa dikatakan untuk menunjuk seseorang yang bertindak apakah
terus menerus atau sesaat sesuai dengan pengetahuan.
Secara konseptual hubungan anatara iman dan amal seperti kembar siam, tidak dapat
dipisahkan. Ada hubungan kausal anatara pengetahuan termasuk sinonimnya dan iman yang
benar (termasuk taqwa ) maka secara silogistik dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
(melalui iman juga menjadi sebab positif bagi amal soleh. Pengetahuan harus menghasilkan
keyakinan, sedang iman menghasilkan perbuatan (amal) amal soleh adalah semua tindakan
yang yang timbul daroi dan sesuai dengan pandangan Islam.

Oleh : Abdurrahman MBP


Apa itu ilmu pengetahuan ?
Pada awalnya air laut menguap, kemudian uap itu bersatu di awan dan menjadi
gumpalan-gumpalan awan yang penuh dengan uap air, ia diterbangkan angin ke berbagai
tempat, hingga akhirnya jatuh kembali ke bumi menjadi hujan. Air hujan segera merembes ke
bumi, sebagiannya mengalir ke sungai yang berhulu kembali ke lautan. Di laut proses
penguapan kembali berlangsung. Itulah salah satu model ilmu pengetahuan, lantas di mana
letak Tuhan ? di mana pula posisi Islam dalam hal ini ?
Ilmu dalam pandangan Islam memiliki makna yang khas dan berbeda dengan sistem
lainnya. Secara etimologi ilmu dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab
yaitu al-ilm, al-ma'rifah dan al-syu'ur (kesadaran). Al-'ilm adalah salah satu dari sifat Tuhan
yang tercermin dalam asma al-husnaNya, yaitu Al-'Alim, Al-'Aliim dan Al-'Alaam yang
semuanya bermakna Maha Mengetahui.
Mari kita simak salah satu firmanNya :



Sesungguhnya di sisiNyalah sgala ilmu ghaib, dan Ia mengetahui apa yang trjadi di rahim,
dan setiap jiwa tidak mengetahui apa yang akan diusahakannya besok dan di mana ia akan
meninggal dunia. Sesungguhnya Allah maha mengetahui. QS Lukman : 32.
Sumber ilmu pengetahuan adalah Tuhan, karena Dialah yang mengajarkan manusia
segala sesuatu sehingga ia mengetahui "Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya" QS Al-'Alaq : 5. Para malaikatpun tidak mengetahui sebelum mereka diajarkan

Tuhan Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana" QS Al-Baqarah : 32.
Beberapa ulama mendefinisikan ilmu dengan berbagai macam definisi : Imam Syafi'i
menyatakan "Ilmu adalah apa yang di dalamnya terdapat hadatsana".
Kesimpulan bahwa ilmu adalah serangkaian pengetahuan yang sistematis yang
didasarkan pada nash-nash shahih.
Watak ilmu pengetahuan menurut Islam
Dalam Al-Qur'an sifat penting epistemologi Islam terletak adanya kebenaran (al-haq)
dan kepastian (al-yaqin) sebagai antitesis dari kesalahan (al-batil), keraguan (syak) dan
dugaan (dzann). Hal ini berarti ilmu pengetahuan dalam Al-Qur;'an adalah kebenaran mutlak
yang tidak ada keraguan padanya. Hal ini seperti disebutkan dalam firmanNya : "Dan
kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu
tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka kerjakan". QS Yunus : 36
Hal ini berarti kebenaran adalah lawan dari kebatilan sebagaimana termaktub dalam QS
An-Najm : 28 "Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada
berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran". Dalam ayat ini terdapat penggunaan dua istilah
sekaligus yaitu antara dzan dan haqq, keduanya adalah antonim.
Dalam Islam kepastian (kebenaran) ada tiga tingkat : Kepastian kognitif (ilm al-yaqin),
kepastian penglihatan (ain al-yaqin) dan kepastian yang mutlak dialami (haq al-yaqin). QS
102 : 5-8 Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya
kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan
melihatnya dengan 'ainul yaqin kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang
kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Ilmu Pengetahuan yang Holistik dan Universal
Pengetahuan yang benar secara absolut harus sesuai dengan wahyu. Sebaliknya semua
yang bertentangan dengannya adalah salah (batil) atau hanya persangkaan (dzann) atau
didasarkan pada hawa nafsu (hawa') kesombongan (istikbar) atau kebodohan (jahl).
Kebenaran hakiki diperoleh dari optimalisasi anggota badan

"Dan janganlah kamu

mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya


pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" QS
17 : 36

Dzann tidak selamanya bersifat negatif dalam epistemologi Islam, manusia juga bisa
mmeperoleh sebuah data yang bersifat dzann yang berasal dari selain Al-Qur'an QS 30 : 7.
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai.demikian pula QS 17 : 26-27 orang Kafir Makkah
mengetahui sisi luar dari dunia ini. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan
haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Dalam konteks pengetahuan Tuhan dzann adalah lawan kata 'ilm, haqq dan yaqin.
Tetapi dalam tempat lainnya yaitu "Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku
anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku
kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). Dan berimanlah kamu
kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu
(Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah
kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu
harus bertakwa. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,
dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya". QS 2 : 40-46 dzann orang-orang beriman
berdasarkan petunjuk pengetahuan wahyu dapat mencapai arti yaqin (pengetahuan yang
pasti).
Kepositifan dzann dapat terlihat pada proses ijtihad yaitu proses pengerahan daya
intelektual yang dilakukan oleh orang-orang yang berkualitas.
Pengetahuan dan spiritualitas
Sifat pengetahuan dalam Islam terutama dalam Al-Qur'an adalah holistik dan
menyeluruh. Hal sebagai bukti pandangan dunianya yaitu tauhid dan monoteistik, yang tak
kenalkompromi. Persoalan-persoalan epistemologis harus dikaitkan dengan etika dan
spiritualitas.
Imam Al-Ghazaly mengemukakan konsep tentang integritas dalam Al-Qur'an. Ia
menyebutkan bahwa ayat-ayat berkenaan dengan bintang dan kesehatan hanya sepenuhnya
dapat dipahami masing-masing dengan pengetahuan astronomi atau kesehatan.
Demikian juga Ibnu Rusyd yang menyatakan : ada keterkaitan antara agama dan filsafat
misalnya di bidang penciptaan alam. Dengan hal ini maka Al-Qur'an memberikan dorongan
kepada setiap manusia untuk mempelajari nasib peradaban sebelumnya. Ini membentuk
kajian sejarah, arkeologi, perbandingan agama, sosiologi dan sebagainya scara utuh.

QS 41 : 53 disebutkan bahwa ada keterkaitan antara ayat-ayat Tuhan di alam semesta


dan di kedalaman batin manusia merupakan bagian dan bidang semua alasan berkaitan
dengan kebenaran pengetahuan wahyu yang menegaskan kecocokan dan keutuhan yang
saling terkait. Contoh-contoh disiplin pengetahuan, keutuhan dan kecocokan terbukti dari
kenyataan beberapa nabi yang memperoleh ilu pengetahuan yang berasal dari wahyu Tuhan,
misalnya Yusuf mengerti tafsir mimpi 12 : 6-101 Daud bisa membuat baju besi 20 : 20,
Sulaeman mengerti bahasa burung dan Jin 27 : 16-20
Pengetahuan dan Perbuatan
Hubungan antara pengetahuan dan perbuatan. Secara logis pengetahuan harus diikuti
oleh perbuatan, karena makna 'alim sendiri berkaitan ert dengan orang yang bertindak sesuai
dengan pengetahuannya. Titik dimensi praktis yang membedakan konsep pengetahuan Islam
dengan konsep ilmu pengetahuan lainnya.
Konsep pengetahuan manusia tidak hanya bmenguraikan persoalan-persoalan kognitif
dan intelektual, tetapi ia menyatukan aspek-aspek spiritua; dan praktis persoalan manusia.
Ilmu dalam Al-Qura'n sering diibaratkan dengan kata nur (cahaya dan huda (petunjuk)
dalam QS 24 : 35 Tuhan sebagai cahaya langit dan bumi. Muhammad Asad menegaskan
"Ayat ini menyinggung pencerahan (ilumination) di mana Tuhan sebagai sebagai kebenaran
mutlak, memberikan petunjuk kepada jiwa dan perasaan orang yang dikehendaki.
Kebalikannya orang yang cenderung menolak kebenaran seperti disebutkan dalam QS
24 : 40 :




Atau seperti kegelapan di lautan yang berlipat-lipat .dan siapa yang menjadikan
baginya cahaya dari Allah maka tidak adanya baginya cahaya.
Pengetahuan dan etika
Kata 'alim bukan hanya isim fail yang menunjukan kesementaraan, kefanaan atau tindakan
aksidental suatu wujud, tetap ia juga menunjukan kata sifat atau substansi yang
mengekspresikan tindakan yang terus menerus, suatu kondisi wujud sudah biasa ataukualitas
yang tetap. Karena itu alim bisa dikatakan untuk menunjuk seseorang yang bertindak apakah
terus menerus atau sesaat sesuai dengan pengetahuan.
Secara konseptual hubungan anatara iman dan amal seperti kembar siam, tidak dapat
dipisahkan. Ada hubungan kausal anatara pengetahuan termasuk sinonimnya dan iman yang
benar (termasuk taqwa ) maka secara silogistik dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
(melalui iman juga menjadi sebab positif bagi amal soleh. Pengetahuan harus menghasilkan

keyakinan, sedang iman menghasilkan perbuatan (amal) amal soleh adalah semua tindakan
yang yang timbul daroi dan sesuai dengan pandangan Islam.