Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MATA KULIAH

UNDANG-UNDANG DAN KEBIJAKAN


PETERNAKAN
Perizinan Dinas Peternakan Kabupaten
Bandung Barat
Jajat Rohmana
200110110030
Kelas A

Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran
Sumedang

2012
Perizinan Bidang Peternakan di Kabupaten
Bandung Barat
Usaha peternakan maupun kegiatan lain yang
berhubungan dengan hewan perlu mendapatkan perizinan untuk
legalitas dan kejelasan hukumnya. Maka, perizinan harus menjadi
priorotas dalam mendirikan usaha atau kegiatan yang
berhubungan dengan peternakan. Bagi penduduk kabupaten
Banudng Barat, dapat memproses perizinannya ke :
Kantor Dinas Pertanian, Perkebunan Peternakan dan Perikanan
Kab.Bandung Barat yang terletak di Jl. Raya Tagog sebelah Kantor
Desa, Padalarang. (Telp. 022-6809295).

Dinas tersebut memiliki beberapa bidang. Bidang


Peternakan sendiri terdiri dari :
a. Seksi Pembibitan
b. Seksi Produksi Ternak
c. Seksi Pengembangan.
Salahsatu tugas Seksi Pembibitan adalah Melaksanakan
penyusunan dan analisis data bahan bimbingan perizinan
produksi ternak bibit. Seksi Pengelolaan dan Pemasaran Hasil
Produk (P2HP) Ternak salahsatu fungsinya adalah melaksanakan
penyusunan dan analisis data bahan pemberian perizinan usaha
pengolahan dan pemasaran hasil peternakan. Salahsatu rincian
tugas dari Seksi Pelayanan Usaha Peternakan dan Perikanan
adalah:
a. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin usaha budidaya pelayanan peternakan dan
perikanan
b. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin rumah sakit hewan/pasar hewan
c. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin praktek dokter hewan
d. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin laboratorium keswan dan laboratorium
kesmavet
e. Melaksanakan pendaftaran usaha peternakan
f. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin usaha RPH/RPU
g. Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan izin
usaha peternakan

h. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan


pemberian izin pengadaan dan peredaran alat dan mesin
pelayanan peternakan dan perikanan
i. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin usaha obat hewan di tingkat depo,toko, kios
dan pengecer obat hewan, poultry shop and pet shop
j. Melaksanakan penyusunan dan analisis data pemberian izin
usaha budidaya hewan kesayangan
k. Melaksanakan penyusunan dan analisis data bahan
pemberian izin usaha alat angkut/transportasi produk
peternakan
Diagram alir/Bagan perizinan peternakan di kabupaten
Bandung Barat, mengacu kepada perizinan di tingkat provinsi
Jawa Barat, yaitu sebagai berikut:
Jenis-jenis perizinan
Jenis Layanan Izin Bidang Peternakan

Jenis Layanan non-izin Bidang Peternakan

Persyaratan Izin
Keterangan
Jenis
Persyaratan :
a. Surat
Permohonan
Kepada Kepala
Dinas
Peternakan
Provinsi Jawa
Barat
b. Surat
Rekomendasi
dari Dinas
Kab./Kota yang
membidangi
c. Akte Pendirian
Perusahaan
d. Nomor Pokok
Wajib Pajak
(NPWP)
e. Tanda Daptar
Perusahaan
(TDP)
f. Hak Guna
Bangunan
g. Izin Lokasi,
Surat
keterangan
RUTL dan
memenuhi
persyaratan
AMDAL

h. Izin HO, Surat


Keterangan
Domisili
i. SITU
j. Rekomendasi
dari Asosiasi
Obat Hewan
Indonesia
(ASOHI)
k. Surat
Keterangan dari
Dokter Hewan
dan Apoteker
l.
Daftar Sarana sebagai Distributor/Importir (Obat
Hewan/Pakan Ternak)
m.
Daftar Obat Hewan/Pakan Hewan
n.
Jenis Bahan Persentase dalam Permulaan untuk (Pakan,
Obat Hewan), Serta untuk Pakan Campuran Perlengkapan
Pakan dan Imbuhan yang digunakan.
o.
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
p.
Angka Pengenal Impor (API-U / APIT)
q.
Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah
asal
r.
Surat Keterangan lain yang diperoleh tergantung jenis
PAH/Hewan missal Sertifikat Vaksinasi Rabies.
s.
Foto Copy Izin Karantina Hewan Sementara (IKHS)
t.
Rencana Pemasukan/Pengeluaran ternak BAH dan lampiran
Realisasi sebelumnya
u.
Foto Copy NKV/SPP pemasukan BAH dan HBAH
v.
Surat Izin/Rekomendasi Pemasukan Hewan/Ternak dari
Provinsi Penerima
w.
Hasil Tes Bebas AI dari Badan/Instansi yang di tunjuk
Pemerintah
x.
Laporan Produksi dari Distribusi Bulan sebelumnya
(Form.C)
y.
Copy Sertifikat of Origin dari Breeder Negara asal (Form.A)
z.
Copy Sertifikat of Farm dari Breeder Negara asal (Form.B)
aa.
Lokasi Penggemukan, kandang inti dan plasma dan
rencana per- shipmen

ab.
Kondisi Sapi saat Pengajuan, Lokasi Karantina, Kartu
kendali dan Laporan Perkembangan Agribisnis setiap 2 bulan
ac.
Peninjauan Lapangan / KTP Direktur
Layanan Non Izin Bidang Peternakan Belum Dikenakan Retribusi.
Ini berdasarkan dari Tujuan BPPT Bidang Peternakan
a. Mewujudkan Pelayanan perizinan yang tepat, mudah,
transparan dan memberikan kepastian hukum.
b. Menjamin ketersedian protein hewani di pasaran, mengatasi
rawan gizi, membangkitkan dunia usaha sekaligus
menciptakan lapangan kerja baru dibidang peternakan.
c. Melindungi kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan dari
resiko bahaya yang ditimbulkan oleh hewan sakit (zonosis)
bahan makanan asal hewan melalui kontamin, toksin atau
organisme penyebab penyakit.
d. Mencegah, membatasi atau mencabut izin yang sudah terbit,
keluar masuk hewan, bahan asal hewan antar Pulau maupun
antar Negara sesuai Permentan. Nomor
482/KPTS/PD.620/8/2006 untuk mencegah kerusakan
terhadap sebuah Negara yang diakibatkan oleh masuknya,
berkembangnya atau menyebarkan suatu penyakit.

Diagram alur Mekanisme Pelayanan Perizinan

Penjelasan
Tahap pertama adalah pendahuluan. pemohon perizinan mencari
informasi kemana ia akan menguruskan perizinannya. Bisa
bertanya ke loket Informasi untuk mendapatkan berkas
permohonan, diisi kemudian dikirim ke loket Pendaftaran untuk
pemeriksaan kelengkapan. Di loket pendaftaran berkas yang
lengkap diteruskan ke ruang proses di bidang Pelayanan untuk
verifikasi kajian teknis dan kajian lapangan.
Tahap kedua adalah pemrosesan. Tim teknis melakukan
pemeriksaan/pengkajian teknis pada objek perizinan pemohon.
Laporannya ditandatangani oleh kepala BPPT dalam bentuk
Naskah perizinan/penolakan.
Tahap ketiga adalah pemberian keputusan perizinan. Selanjutnya
informasi perizinan dari OPD Teknis dan Kepala BPPT yang telah
selesai diverifikasi (naskah perizinan) diberikan oleh Bidang
pelayanan kepada pemohon. Pemohon kemudian memberikan
retribusi izin kepada loket pembayaran, dengan bukti
pembayaran dipakai sebagai syarat mendapat penomoran
perizinan/penolakan dari bidang pelayanan. Bukti pembayaran
perizinan diteruskan oleh pemohon ke loket pengambilan untuk
diarsipkan di bidang pelayanan dan pemberian tembusan izin ke
OPD teknis. Sehingga dengan surat izin yang diperoleh, pemohon
dapat mencapai tujuannya.

Bila timbul pertanyaan, mengapa untuk mengurus perizinan


peternakan harus begitu rumit dan prosesnya memakan waktu?
Jawabannya, selain untuk mencapai 3 tujuan BPPT Bidang Peternakan,
juga karena perizinan ini telah memiliki dasar hukum, yaitu:
1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Negara yang bersih dan Bebas KKN.
2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahum 1983 tentang Kesehatan
Masyarakat Veteriner.
4. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 482/KPTS/PD/8/2008 tentang
pemasukan hewan Ruminansia dan produknya dari Negara atau bagian
dari Negara (zone) terjangkit penyakit Bovine Spongiform
Enccephalopathy (BSE) kedalam wilayah Negara Republik Indonesia.
5. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 18 /Permentan /OT.140/1/2008
tentang syarat dan tata cara tata cara pemberian Usaha Obat Hewan

6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan /OT.140/4/2009


tentang Syarat dan Tata cara Pendaftaran Pakan.
7. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 20/ Permentan /OT.140/4/2009
tentang pemasukan dan Pengawasan Peredaran Karka Daging
dan/Jeroan dari Luar Negeri serta Pemasukan Lainnya yang berlaku,
8. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permentan/OT,140/1/2008
tentang syarat dan tata cara Pemasukan dan Pengeluaran Benih, Bibit
Ternak, dan Ternak Potong.
9. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 482/Kpts/PD.620/8/2008 tentang
Pemasukan Ternak Rumanansia dan Produknya
10. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 487/Kpts/Um/6/1981
tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan
Menular.
11. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 81/Kpts/TN.560/1/1984
tentang Pernyataan Indonesia Bebas dari Sebelas Jenis Penyakit
Menular.
12. Peraturan Daerah Nomor 24 tahun 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga lain provinsi Jawa Barat.
13. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 63 Tahun 2009 Tentang
Tugas Pokok, Fungsi, Rincian Tugas Unit dan Tata Kerja Badan
Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Jawa Barat
14. Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 24/M-DAG/PER/9/2011
tanggal 1 September 2011 tentang ketentuan impor dan ekspor hewan
dan produk hewan
15. Peraturan Menteri Peternakan Nomor 50/Permentan/OT.140/9/2011
tentang rekomendasi persetujuan pemasukan karkas, daging, jeroan,
dan/atau olahannya ke dalam wilayah Negara RI
16. Peraturan Menteri Peternakan Nomor 51/Permentan/OT.140/9/2011
tentang rekomendasi persetujuan pemasukan dan pengeluaran benih
atau bibit ternak ke dalam dan keluar Negera RI
17. Peraturan Menteri Peternakan Nomor 51/Permentan/OT.140/9/2011
tentang rekomendasi persetujuan pemasukan dan pengeluaran ternak
ke dalam dan keluar Negara RI
18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 7 tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu
19. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 49 Tahun 2011 Tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Peirjinan Terpadu
Daftar Pustaka

http://bppt.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/688 diakses tanggal 4


Oktober 2012

pukul 09.30 WIB


http://www.bandungbaratkab.go.id/dinas-peternakan-dan-perikanan
%20kbb.htm
diakses tanggal 4 Oktober 2012 pukul 10.07 WIB