Anda di halaman 1dari 10

Mineral Suatu padatan homogen yang terdapat di alam, terbentuk

secara alamiah oleh proses anorganik, mempunyai komposisi kimia dan pada
batas-batas tertentu serta mempunyai susunan atom-atom yang teratur
(umumnya mempunyai struktur kristal tertentu, yaitu bentuk- bentuk geometris
beraturan.
Kristal Zat padat homogen yang terdiri dari ikatan-ikatan
ion/atom dalam bentuk tiga dimensi dengan susunan (struktur dalam) yang
tetap dan teratur (terdapat bentuk yang polyhedral).
Perbedaan mineral dan kristal :
Mineral

- Terbentuk oleh proses alam


- Tidak selalu membentuk kristal

Kristal

- Dapat buatan manusia


Tidak selalu membentuk mineral

Warna (Colour)
Adalah yang ditampilkan dan dapat terlihat dipermukaan mineral oleh mata
telanjang. Warna biasanya lebih bersifat umum daripada menunjuk yang spesifik.
Pada umumnya warna mineral ditimbulkan karena penyerapan beberapa jenis
panjang gelombang yang membentuk cahaya putih, jadi warna itu timbul
sebagai hasil dari cahaya putih yang dikurangi oleh beberapa panjang
gelombang yang terserap.
Mineral berwarna gelap adalah mineral yang secara merata dapat menyerap
seluruh panjang gelombang pembentuk cahaya putih.
Mineral-mineral yang mempunyai warna-warna tetap dan tertentu
disebut IDIOCHROMATIC, sedangkan mineral yang mempunyai warna yang dapat
berubah-ubah disebutALLOCHROMATIC.
Adapun faktor-faktor yang menimbulkan warna dalam mineral antara lain :
-

Komposisi Kimia

Contoh : warna biru dan hijau pada mineral-mineral Cooper sekunder.


-

Struktur kristal dan ikatan atom

Contoh : polymorph dari Carbon : intan tidak berwarna dan transparant


sedangkan graphite berwarna hitam dan opaque.
Polymorph adalah suatu unsur atau senyawa yang dapat membentuk lebih dari
satu susunan atom. Tiap-tiap susunan mempunyai sifat-sifat fisik dan struktur
kristal yang berbeda. Jadi atom-atom/ion-ion disusun secara berbeda dalam

polymorph yang berbeda untuk zat yang sama. (bentuk lain, rumus kimia
analog)
-

Pengotoran mineral

Contoh : Calcedon yang berwarna


Sedangkan ion-ion maupun kelompok-kelompok ion yang dapat menimbulkan
warna khas pada mineral disebut CHROMOPHORES, sebagai contoh :
Ion-ion Cu2 yang terkena hidrasi merupakan chromophore di dalam
mineral-mineral Cu sekunder yang berwarna hijau dan biru.
Ion-ion Cr3 adalah chromophore di dalam uvarovite (garnet hijau); di
dalam muscovite yang mengandung chrom (hijau) dan juga di dalam emerald.
3.

Belahan (Cleavage)

Sifat mineral untuk pecah sepanjang satu atau lebih arah tertentu dan bentuk
rata, umumnya sejajar dengan salah satu sisi kristal (Gambar 1.2).
Dengan memperhatikan cleavage yang terdapat dalam fragmen-fragmen
mineral maka kita dapat menentukan sistem kristal dari mineral itu. Contohnya
mineral yang hanya memperlihatkan sebuah cleavage saja, tidak mungkin
termasuk dalam sistem kristal isometrik, karena pada kenyataannya setiap
bentuk yang terdapat di dalam sistem kristal tersebut terdapat lebih dari dua
permukaan. Demikian juga suatu mineral yang menunjukkan tiga buah arah
cleavage yang tidak sama satu sama lain, mungkin termasuk sistem
orthorombik, monoklin, triklin; sedangkan apabila ke-3 arah cleavage tersebut
masing-masing tegak lurus satu sama lain maka sistem kristalnya orthorombik.
Cleavage merupakan suatu reflesesi daripada struktur dalamnya. Adanya
cleavage pada mineral-mineral disebabkan oleh kekuatan dalam struktur yang
berbeda-beda. Cleavage dapat dibagi berdasarkan baik/bagus tidaknya
permukaan bidangnya (sifat cleavage dapat dinyatakan dengan menggunakan
istilah-istilah) :
-

Sempurna (Perfect)

Bila bidang belahan sangat rata (terbelah melalui cleavagenya) diperoleh


permukaan licin dan berkilauan (contohnya mika), sedangkan bila pecah tidak
melalui bidang belahan agak sukar untuk memecahnya.
-

Baik (Good)

Bidang belahan rata, tetapi tidak sebaik yang sempurna, masih dapat pecah
pada arah lain, contohnya Feldspar.
-

Jelas (Distinct)

Bidang belahan jelas, tetapi tidak begitu rata, dapat pecah pada arah lain
dengan mudah, contohnya Scapolite.

Tak Jelas (Indistinct)

Kemungkinan membelah melalui bidang belahan/pecah melalui permukaan


pecahan kesegala arah, akibat adanya tekanan, contohnya Beryl.
4.

Pecahan (Fracture)

Suatu permukaan yang terbentuk akibat pecahnya suatu mineral dan umumnya
tidak teratur, disebabkan suatu mineral mendapat tekanan yang melebihi batasbatas elastis dan plastisnya. Bentuk pecahan secara umum dibagi lima, yaitu :
a.

Conchoidal

Pecah bergelombang melengkung seperti kulit bawang atau botol pecah.


Contohnya Kuarsa, Olivin, Chalcedony, diamond.
b.

Hackly

Pecah tajam-tajam, seperti besi pecah. Contohnya Stibnite, Silver, Gold,


Platinum.
c.

Fibrous/Splintery

Pecahan menunjukkan bentuk seperti serat. Contohnya Kernite, Asbestos,


Gypsum, Anhydrite.
d.

Even

Bidang pecah halus-agak kasar, masih mendekati bidang datar. Contohnya


Cuprite, Galena.
e.

Uneven

Permukaan pecah kasar dan tidak teratur seperti kebanyakan mineral.


Contohnya Hematite, Siderite, Brucite.
5.

Kilap (Luster)

Cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral. Kilap tergantung pada


kualitas fisik permukaan (jumlah cahaya yang dipantulkan). Sebagian luster tidak
dipengaruhi oleh warna dari mineral itu.
Kilap/Luster secara umum dapat dibedakan menjadi :
a.

Metallic Luster/Kilap logam

Mineral-mineral yang dapat menyerap pancaran secara kuat, disebabkan oleh


sifat opaque atau hampir opaque walaupun mineral-mineral ini terbentuk
sebagai fragmen-fragmen yang tipis. Mineral-mineral ini mempunyai indeks bias
sebesar 3 ke atas. Mineral-mineral yang mempunyai Metallic Luster seperti
Logam Mulia (Native Element) serta sebagian besar Sulfida Logam, contohnya
Cooper, Bysmuth, Arsenic, Antimony, Pyrite, Chalcopyrite, Galena, Grafit,
Hematite, Magnetite.

b.

Non-Metallic Luster/Kilap non-Logam

Mineral-mineral yang dapat meluluskan cahaya pada bagian-bagian yang tipis


dari mineral tersebut. Kilap bukan logam umumnya terdapat pada mineralmineral yang warna muda (light coloures).
Kilap bukan logam dapat dibedakan menjadi 7, yaitu :
-

Intan (adamantine)

Kilap sangat cemerlang, seperti pada intan permata. Contohnya Diamond,


Wulfenite, Vanadinite, Pyrargyrite.
-

Kaca (vitreous)

Kilap seperti pada pecahan kaca. Contohnya Celestine, Beryl, Tourmaline.


-

Damar (resineous)

Kilap seperti damar, contohnya Sphalerit, Realgar.


-

Lemak (greasy)

Kilap seperti lemak, seakan-akan permukaan mineral tersebut


berlemak/berminyak, contohnya Nefelin, Zircon, Jadeite, Chrysolite, Talk,
Carnalite.
-

Mutiara (pearly)

Kilap seperti mutiara, biasanya terlihat pada bidang-bidang belah mineral.


Contohnya Muscovite, Glacaophone, Lepidolite, Albite.
-

Sutera (silkly)

Kilap seperti sutera, biasanya terlihat pada mineral-mineral menyerat, contohnya


Serpentin, Asbes, Aurichalcite.
-

Tanah (earthy)

Biasanya juga disebut kilap guram (dull), biasanya terlihat pada mineral yang
kompak. Contohnya Lazurite, Glauconite, Kaolinite, Chamosite.
6.

Gores atau Cerat (Streak)

Warna yang dihasilkan apabila mineral dalam keadaan bubuk yang sangat halus.
Gores dapat diperoleh dengan jalan menggoreskan di atas porselen goresan
yang berwarna putih (streak plate). Gores sebuah mineral dianggap sebagai
salah satu unsur penentu yang baik, lebih konstan daripada warna mineralnya.
Pada mineral yang mempunyai kilap bukan logam akan menghasilkan goresan
warna muda atau lebih ringan dibandingkan warna mineralnya. Pada mineral
logam (Kilap Logam) kadang-kadang mempunyai gores yang berwarna lebih
gelap daripada mineralnya sendiri. Gores dapat sama atau berbeda dengan
warna mineralnya.

7.

Kekerasan (Hardness)

Ukuran daya tahan mineral terhadap goresan (scratching). Kekerasan relatif dari
suatu mineral dapat ditetapkan dengan membandingkan mineral tersebut
dengan urutan mineral yang dipakai sebagai standar kekerasan. MOHS (1822)
telah membuat sekala kekerasan mineral secara kualitatip (scale of relative
hardness).
MOHS SCALE (1822) :
Kekeras
an

Nama Mineral

Unsur/Senyawa
Kimia

Talc (Talk)

Hydrat
Magnesium
Silikat

Gypsum
(Gipsum)

Hydrat Kalsium
Fosfat

Tergores kuku
manusia

Calcite (Kalsit)

Kalsium
Karbonat

Tergores koin
perunggu

Fluorspar
(Fluorit)

Kalsium Flour

Tergores
paku besi

Apatite
(Apatit)

Kalsium Fosfat

Tergores kaca

Feldspar/Orto
klas

Alkali Silikat

Tergores
pisau lipat

Quartz
(Kuarsa)

Silika

Tergores
pisau baja
Tergores
amplas

Topaz

Alumina Silikat

Corondum

Alumina

10

Diamond
(Intan)

Karbon

Alat Penguji

8.

Perawakan (Crystal Habit)

Bentuk khas mineral yang ditentukan oleh bidang-bidang yang membangunnya,


termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang itu. Artinya ; bentuk bangunan
suatu mineral yang benar-benar terlihat, bukan bentuk sempurna atau bukan
bentuk sistim kristal utama.
Perawakan kristal bukan merupakan ciri yang tetap, karena bentuknya sangat
dipengaruhi dengan keadaan lingkungan sewaktu pembentukkannya, sedang
keadaan itu sangat berubah-ubah. Untuk mineral tertentu sering menunjukkan
perawakan kristal tertentu, seperti mineral Mika memperlihatkan perawakan
mendaun (foliated), mineral Amphibole perawakan meniang/tiang (columnar).
9.

Berat jenis (Density)

Adalah suatu bilangan murni (tidak mempunyai satuan), yaitu angka yang
menyatakan berapa kali berta suatu benda jika dibandingkan dengan berat air
yang mempunyai volume sama dengan benda itu, dengan kata lain, ialah
perbandingan antara berat jenis benda tersebut dengan berat jenis air.
Berat jenis suatu mineral terutama ditentukan oleh struktur kristal dan komposisi
kimianya. Berat jenis akan berubah sesuai dengan perubahan suhu dan tekanan,
hal ini disebabkan perubahan kedua faktor ini dapat mengakibatkan pemuaian
dan pengkerutan, maka mineral dengan komposisi kimia dan struktur kristal
tertentu akan mempunyai suatu berat jenis yang tetap apabila pengukuran
dilakukan pada suhu dan tekanan tertentu.
Cara menentukan Berat Jenis pada mineral-mineral antara lain dengan
pengukuran sebagai berikut :
Berat mineral diukur secara langsung, kemudian isinya diukur
berdasarkan prinsip Archimides.
Isinya ditentukan dengan jalan mengukur kehilangan berat yang terdapat ketika
fragmen mineral yang sebelumnya telah ditimbang beratnya (ditimbang
beratnya dalam keadaan kering), kita masukkan ke dalam air. Fragmen mineral
tersebut akan memindahkan sejumlah zat cair dengan isi/berat yang sama
dengannya, dan beratnya seolah-olah berkurang sebesar berat zat cair yang
dipindahkan.
Jika :

W1 = Berat fragmen mineral kering di udara


W2 = Berat fragmen mineral di dalam air

Maka Berat Jenisnya (B.J.) adalah :


B.J. = W1 / (W1 W2)
Setiap jenis mineral mempunyai berat jenis tertentu, sedangkan Berat Jenis
ditentukan struktur atom/kristalnya dan komposisi kimianya.
10.

Tenacity

Tenacity yaitu kemampuan mineral untuk ditempa atau dibentuk (tingkat


kekenyalan mineral). Tenacity terdiri atas :
Brittle (rapuh), bila mineral mudah retak atau dihancurkan.
Elastis, bila mineral dapat kembali kekeadaan semula setelah dibentuk.
Fleksibel, bila mudah dibentuk tetapi tidak dapat kembali kekeadaan semula.
Sectile, bila dapat diiris dengan pisau.
Ductile, bila mineral dapat ditempa.
11.

Magnetisme

Hanya beberapa mineral saja yang bersifat magnet, diantaranya yang paling
umum adalah Magnetite (Fe3O4), Phyrotite (Fe1-nS) dan polymorph dari
Fe2O3 maghnite. Sebenarnya semua mineral mempunyai sifat magnetis. Mineral
yang bersifat sedikit di tolak oleh magnet disebut Diamagnetis, sedangkan yang
sifatnya sedikit tertarik oleh magnet disebutParamagnetis. Semua mineral yang
mengandung besi bersifat Paramagnetis, tetapi ada juga mineral-mineral yang
tidak mengandung besi seperti Beryl dapat juga bersifat Paramagnetis.
Sifat-sifat magnetis dari mineral telah dipergunakan di dalam penyelidikanpenyelidikan geofisis dengan menggunakan sebuah magnetometer, sebuah alat
yang dapat mengukur segala perubahan dari medan magnet bumi yang
kemudian kita nyatakan di dalam Peta. Penyelidikan magnetis ini sangat berguna
untuk menentukan suatu cebakan bijih, juga untuk mengetahui perubahanperubahan jenis batuan dan untuk mengikuti formasi-formasi batuan yang
mempunyai sifat-sifat magnetis tertentu.
12.

Sifat Listrik

Berdasarkan sifat-sifat listriknya, mineral dibagi menjadi 2, yaitu :


-

Konduktor

Terdiri dari mineral-mineral yang mempunyai ikatan logam (metallic type of


Bonding) dan atas logam murni (Native Element) serta beberapa Sulfida.
-

Non-konduktor

Pada umumnya mineral yang bersifat konduktor jumlahnya lebih sedikit daripada
mineral non-konduktor.
Sifat mineral tergantung pada arah kristalografinya, contoh :
Hematite tegak lurus sumbu c konduktivitasnya dua kali lebih besar daripada
konduktivitasnya.
13.

Sifat permukaan

Sifat permukaan daripada mineral yang dianggap mempunyai arti penting dalam
bidang teknik ialah : WETTABILIT (Kemampuan basah) suatu sifat kebasahan
relatif daripada permukaan sebuah mineral. Menurut sifat ini mineral dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu :
a.

Mineral-mineral Lyophile

Mineral-mineral yang dapat dengan mudah dibasahi oleh cairan. Pada umumnya
mineral-mineral dengan ikatan ion (ionic boinding) bersifat Lyophile.
b.

Mineral-mineral Lyophobe

Mineral-mineral yang tidak dapat dengan mudah dibasahi oleh cairan. Pada
umumnya mineral-mineral Metallic atau covalent bonding bersifat Lyophobe.
Kegunaan yang utama dari perbedaan sifat permukaan mineral adalah dalam
teknik ore dressing yang dikenal sebagai Flotasi. Flotasi terutama dipakai untuk :
-

Memisahkan mineral-mineral Sulfida dan mineral-mineral Gangue.

Memisahkan mineral-mineral Sulfida dari campurannya.

Memisahkan intan dari mineral-mineral berat lainnya (seperti garnet).

14.

Radioaktifitas

Radioaktifitas suatu mineral dihubungkan dengan adanya unsur Uranium dan


Thorium di dalam mineral tersebut dapat sangat berguna dalam penentuan umur
geologi spesimen itu. Atom-atom Uranium dan Thorium terurai (disintergate)
dengan kecepatan yang tetap tanpa dipengaruhi oleh suhu, tekanan maupun
sifat persenyawaan yang mengelilinginya; ternyata gejala disintregasi ini disertai
oleh tiga jenis radiasi sinar alfa yang terdiri dari :
-

Inti Atom Helium bermuatan positif (alfa-particles).

Radiasi Sinar Beta yang terdiri dari elektron bermuatan negatif.

Radiasi Sinar Gamma yang berbentuk sinar-X.

Radioaktifitas dapat dengan mudah diketahui dengan memperhatikan radiasi


yang dipancarkan baik dengan melihatnya pada sebuah film (effect on
photographic film) maupun dengan Geigercounter atau Scintillometer.
Timah hitam (Lead) merupakan hasil disintegrasi Uranium dan Thorium, seperti
dapat dilihat di bawah ini :
U238 Pb206 + 8 He4
U235 Pb207 + 7 He4
U233 Pb208 + 6 He4

Kecepatan reaksi-reaksi di atas telah kita ketahui sehingga umur radioaktif


mineral dapat kita perhitungkan apabila jumlah Uranium, Thorium dan Timah
Hitam telah diketahui dan selain itu harus diperhatikan bahwa mineral yang kita
periksa sebelumnya tidak mengandung Timah Hitam (Primary Lead) juga tidak
pernah mengalami alterasi maupun leaching, maka spesimen segar yang
mengandung mineral-mineral radioaktif dapat sangat berguna dalam penentuan
umur geologi spesimen itu.
Berdasarkan sifat-sifat kimianya, mineral menurut BERZELIUS, dapat
digolongkan menjadi 8, yaitu :
I.
II.

Native Elements
Sulfides dan Sulfosalts

III.

Halides

IV.

Oxides dan Hydroides

V.

Carbonates, Nitrates dan Borates

VI.

Sulfates, Chromates, Molybdates dan Tungstates

VII.
VIII.
I.

Phospates, Arsenates dan Vanadates


Silicates
NATIVE ELEMENTS = UNSUR-UNSUR MURNI

Adalah unsur-unsur bebas, bukan merupakan unsur-unsur gabungan.


Digolongkan menjadi 3 kelompok :
1.

Logam/Metal, mineral-mineral yang tergolong dalam kelompok ini adalah :

Cooper (Cu),Gold (Au),Silver (Ag),Platinum (Pt),Nicel-Iron (Ni-Fe),Mercury (Mg).


Unsur-unsur bersifat sangat padat, lunak, dapat ditempa. Perawakannya (yang
umum ditemui) berbentuk masif-dendritik; bidang belahan yang jelas jarang
ditemui; merupakan penghantar listrik yang baik.
2.

Semi Logam, mineral-mineral yang tergolong dalam kelompok ini adalah :

Arsenic (As), Antimony (Sb), Bismuth (Bi).


Merupakan penghantar listrik yang kurang baik; biasanya terdapat pada massa
nodular.
3.

Non Logam, mineral-mineral yang tergolong dalam kelompok ini adalah :

Sulfur (S), dan Carbon (C), Diamond (C), Graphite (C)

Tidak dapat menghantarkan arus listrik; berwarna transparant (jernih dan jelas)
hingga transculent (tembus cahaya) dan cenderung mempunyai nidang belahan
kristal yang jelas