Anda di halaman 1dari 10

Fluida Cair

PETUNJUK PRAKTIKUM FISIKA

Tim Penyusun :
Drs. H. Purwito Soegeng Prasetijono, M.kes.
Hani Afnita Murti, S.Si., M.Si.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG 2015

Petunjuk Praktikum Fisika Fluida


Cair
Modul Kardiovaskuler
I.

II.

III.

TUJUAN
1. Memahami variable yang mempengaruhi hambatan aliran fluida
cair terhadap debit aliran(flow/rate)
2. Memahami cara pengukuran tekanan fluida cair(darah) dengan
variasi alat
ALAT DAN BAHAN
A. Alat
i. Tensimeter
ii. Stop watch
iii. Tabung cairan infus
iv. Set infus
B. Bahan
i. Cairan infus
ii. Cairan dengan 3 jenis viskositas
LANDASAN TEORI
A. ALIRAN ZAT CAIR MELALUI PEMBULUH
Apabila sebuah lempengan kaca diletakkan diatas permukaan
zat cair kemudian digerakkan dengan kecepatan V, maka molekul
dibawahnya akan mengikuti kecepatan yang besarnya sama
dengan V. Hal ini disebabkan oleh adhesi lapisan zat cair pada
permukaan kaca bagian dibawahnya. Lapisan zat cair dibawahnya
lagi akan berusaha mengerem kecepatan tersebut, demikian
seterusnya sehingga pada akhirnya zat cair yang paling bawah
memiliki kecepatan sama dengan nol. Dengan demikian gaya F
yang menyebabkan kecepatan kaca tersebut dapat dinyatakan:

Gambar.1

Demikian pula aliran zat


digambarkan sebagai berikut:

cair

dalam

pembuluh

dapat

Gambar.2

Makin ke tengah kecepatan mengalir makin besar; dengan


F
adanya gaya (F) yang bekerja pada penampang A ( P= A ) maka
kecepatan aliran berbentuk parabola.
Apabila volume zat cair yang mengalir melalui penampang
tiap detiknya disebut debit(Q).
V
Q=
t
Maka menurut poiseuille
r 4 (P1P2 )
Q=
8 L
Q = jumlah zat cair yang mengalir perdetik. (flow rate)
= viskositas. Satuan pascal :
untuk air
: 10-3 pada suhu 20
darah
: 3-4 X 10-3 tergantung pada prosentase sel
darah
merah dalam darah
(hematokrit).
r = jari-jari pembuluh (meter)
L = panjang dalam meter
P1 , P2

= tekanan

Hukum poiseuille menyatakan bahwa cairan yang mengalir


melalui suatu pipa akan berbanding langsung dengan penurunan
tekanan sepanjang pipa dan pangkat empat jari-jari pipa.
Jadi rumus diatas dapat dinyatakan :
Flow rate =
Volume
Detik

Pressure
Resistence
Tekanan
Tahanan

atau :

Hukum poiseuille sangat berguna untuk menjelaskan mengapa


pada penderita usia lanjut mengalami pingsan (akibat tekanan
darah meningkat); mengapa daerah akral/ujung suhunya dingin.
Namun demikian hukum poiseuille ini hanya bisa berlaku apabila
aliran zat cair itu laminer dan harga Re (Reynold) = 2.000
Apabila hukum poiseuille ditulis dalam bentuk :
P1P2=Q

8 L
r4

Maka tampak ada persamaan dengan hukum Ohm :


E = I.R
E = tegangan =

P1P2

I = aliran = Q
R = tahanan =

8 L
r 4 = tahanan poiseuille dalam satuan :

N .S
m5

Gambar.3 Menunjukkan hubungan kecepatan aliran darah pada aorta, kapiler


dan vena dengan luas penampang dari aorta, kapiler dan vena.
Dikutip dari Jhon R. Cameron and James G. Skonfronick Medical Physics Jhon
Wiley & Sons, 1978, hlm. 167.

Grafik ini menunjukkan kecepatan mengalir darah pada berbagai


tempat. Rata-rata kecepatan mengalir 30 cm/detik, pada kapiler

kecepatan berkisar 1 mm/detik (pada kapiler ini terjadi pertukran


antara O2 dan CO2).
Catatan : pada kapiler sangat kecil berkisar 1 mm/detik namun
mempunyai penampang keseluruhan berkisar 600 cm2.
B. TAHANAN TERHADAP DEBIT ZAT CAIR
Dari perubahan diatas diperoleh rumus :
r 4 (P 1P2)

V =
8 L
Kalau dikaji lebih lanjut terhadap rumus diatas bahwa tahanan
tergantung akan:
1. Panjang pembuluh
2. Diameter pembuluh
3. Viskositas/kekentalan zat cair
4. Tekanan
B.1. Efek Panjang Pembuluh Terhadap Debit
Makin panjang pembuluh, sedangkan diameter pembuluh
sama, zat cair yang mengalir lewat pembuluh tersebut akan
memperoleh tahanan semakin besar dan konsekwensi
terhadap besar tahanan tersebut, debit zat cair akan lebih
besar pada pembuluh yang lebih pendek. Contoh :

Gambar. 4
Dikutip dari Arthur C Guyton. M.D. Function of Human Body W.B.
Saunders company Philadelphia, London, 1964, hlm. 135.

B.2. Efek Diameter Pembuluh Terhadap Debit


Zat cair yang melewati pembuluh akan dihambat oleh dinding
pembuluh. Dengan alasan ini kecepatan aliran zat cair akan
makin cepat pada pembuluh dengan diameter semaikn besar,
dan aliran tengah semakin tidak dipengaruhi oleh zat cair
yang berada di tepi. Contoh :

Gambar.5
Dikutip dari Guyton and Hall Textbook of Medical Phisyology W.B.
Saunders company Philadelphia, London, 2011, hlm. 163.

B.3. Efek Kekentalan Terhadap Debit


Dengan semakin kental zat cair yang melewati pembuluh,
semaikn besar gesekan terhadap dinding pembuluh dan
sebagai konsekwensinya, diperoleh tahanan semakin besar.
Apabila sebuah lempengan kaca diletakkan diatas permukaan
zat cair kemudian digerakkan dengan kecepatan V, maka
molekul dibawahnya akan mengikuti kecepatan yang besarnya
sama dengan V. Hal ini disebabkan oleh adhesi lapisan zat cair
pada permukaan kaca bagian dibawahnya. Lapisan zat cair
dibawahnya lagi akan berusaha mengerem kecepatan
tersebut, demikian seterusnya sehingga pada akhirnya zat cair
yang paling bawah memiliki kecepatan sama dengan nol.
Dengan demikian gaya F yang menyebabkan kecepatan kaca
tersebut dapat dinyatakan:
v
F=A
d

= koefisien gesekan dalam (viskositas)

A = luas permukaan kaca


d = jarak dari permukaan ke dasar
v = kecepatan mengalir
B.4. Tekanan Fluida Cair(darah) Pada Tubuh :

Gambar.6
(a) Dalam keadaan normal darah dalam kapiler yang dipasang pada
berbagai tempat mempunyai level yang sama.
(b) Tubuh manusia berada pada kecepatan grafitasi 3 g darah tidak
mencapai pada otak. Dikutip dari Jhon R. Cameron and James G.
Skonfronick Medical Physics Jhon Wiley & Sons, 1978, hlm. 163.

Para ahli bedah sering pula mengukur pembuluh darah dengan


memasang kateter secara langsung pada pembuluh darah,
yang sebelumnya salah satu ujung kateter dihubungkan
dengan transduser tekanan. Pengukuran secara Stephen
maupun para ahli bedah ini sangat tidak praktis sehingga
akhirnya diciptanya sfigmomanometer yang terdiri dari
manometer air raksa, pressure cuff dan stetoskop.

Gambar.7 mengukur tekanan darah dengan metoda auskultasi


Dikutip dari Guyton and Hall Textbook of Medical Phisyology W.B.
Saunders company Philadelphia, London, 2011, hlm. 170.

Pressure cuff dipasang pada lengan kemudian dipompa


perlahan-lahan dengan tujuan aliran darah dapat distop,
tampak air raksa dalam tabung naik pada skala tertentu,
kemudian kran pressure cuff dilepas secar perlahan-lahan.
Stetoskop diletakkan paad lengan daerah volar tepat di atas
srteri brachialis, melalui stetoskop akan terdengar suara
vibrasi turbulensi darah yang disebut bunyi korotkoff (suara K).
K ini adalah tekanan systolic. Tekanan diturunkan terus
sehingga pada suatu saat bunyi K ini adalah sistolik-diastolik
dapat dinyatakan pada grafik sebagai berikut :
TEKANAN DARAH SISTEMIK

Sistolik diastolik = pulse, atau (120-80) mmHg = 40


mmHg
Gambar.8 Grafik tekanan darah
Dikutip dari Prof. Drs. Steketee Fisika bagi Mahasiswa Fakultas Ilmu
kedokteran Universitas Erasmus Rotterdam.

IV.

V.

Tekanan darah ratarata bukannya tekanan sistolik ditambah


tekanan diastolik kemudian dibagi dua melainkan diperoleh
secara matematis.
CARA KERJA
4.1. Panjang Pembuluh Terhadap Hambatan Alir
1. Siapkan tabung penampung masing masing pembuluh
kapiler dengan panjang berbeda.
2. Tampung masing-masing aliran fluida selama 1 menit.
3. Ukur volume masing-masing penampungan hitung debitnya.
4.2. Diameter Pembuluh Terhadap Hambatan Alir
1. Siapkan tabung penampung masing-masing pembuluh
dengan diameter berbeda
2. Tampung masing-masing aliran fluida selama 1 menit.
3. Ukur volumemasing-masing penampungan hitung debitnya.
4.3. Viskous/Kekentalan Zat Cair Terhadap Hambatan Alir
1. Siapkan tabung penampung masing-masing pembuluh
dengan kekentalan cairan berbeda.
2. Tampung masing-masing aliran fluida selama 1 menit.
3. Ukur volume masing-masing penampung hitung debitnya.
4.4. Tekanan Cairan Terhadap Hambatan Alir
1. Siapkan tabung penampung masing-masing pembuluh
dengan letak ketinggian cairan berbeda.
2. Tampung masing-masing aliran fluida selama 1 menit.
3. Ukur volume masing-masing penampung hitung debitnya.
4.5. Lakukan pengukuran tekanan darah temanmu dengan
menggunakan alat yang tersedia dibawah bimbingan asisten
dan catat hasilnya.

LEMBAR KEGIATAN
5.1. Panjang Pembuluh Terhadap Hambatan Alir (waktu 60 detik)
N
o

Panjang
Pembuluh

Volum 1

Volume
2

Vol. Ratarata

Debit

CC
1.
2.
3.

CC

CC

CC/dt

Panjang
Sedang
Pendek

5.2. Diameter Pembuluh Terhadap Hambatan Alir (waktu 60 detik)


N
o

Diameter
Pembuluh

Volum 1
CC

1.
2.
3.

Volume
2
CC

Vol. Ratarata
CC

Debit
CC/dt

Besar
Sedang
kecil

5.3. Viskositas(Kekentalan) Cairan Terhadap Hambatan Alir (waktu 60


detik)
N
o

Viskositas
(kekentalan)

Volum 1
CC

1.
2.
3.

Volume
2
CC

Vol. Ratarata
CC

Debit
CC/dt

Kental
Sedang
Encer

5.4. Tekanan Cairan Terhadap Hambatan Alir (waktu 60 detik)


N
o

Tekanan

Volum 1
CC

1.
2.
3.

Volume
2
CC

Vol. Ratarata
CC

Debit
CC/dt

Tinggi
Sedang
Rendah

5.5. Pengukuran Tekanan Darah


N
o

Nama

Jenis Alat Ukur


Aneroid
Air Raksa Elektroni
k
mmHg
mmHg
mmHg

Rata-rata
mmHg