Anda di halaman 1dari 15

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

Opini

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan


Kepala Sekolah

Hilda Karli
E-mail: temasain@yahoo.co.id
Universitas Terbuka - Bandung

Abstrak
engambilan keputusan merupakan proses seseorang memecahkan masalah dengan cara
yang paling tepat untuk mempertahankan diri dalam kehidupannya. Kesalahan
mengambil keputusan dapat mengakibatkan tujuan tidak dapat tercapai. Bagaimana
sebenarnya cara mengambil keputusan yang tepat, menjadi masalah yang kerap kali
dihadapi oleh kepala sekolah sebagai pengambil keputusan. Tulisan ini membahasa pendekatan,
strategi, metode dan teknik pengambilan keputusan dengan melakukan kajian atas sejumlah teori
pengambilan keputusan dari berbagai referensi. Berdasarkan kajian yang dilakkukan, tulisan ini
mengambil kesimpulan atas teknik pengambilan keputusan yang tepat. Di samping itu tulisan ini
memberikan saran, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pengambilan keputusan. ,

Kata-kata kunci: Pengambilan keputusan, strategi pengambilan keputusan, model pengambilan


keputusan, landasan pengambilan keputusan

Principals Considerations and Decision Making Strategies


Abstract
Decision making is an activity done by anybody to solve a problem most effectively to maintain his/her life.
A mistake in making a decision can result in a failure in achieving the objective. How to make an appropriate
decision becomes a problem often faced by a school principal as a decision maker. This article discusses a
number of approaches, strategies, methods, and techniques of decision making referring to a number of related
theories in various sources. Based on the deductive and inductive analysis, this article concludes the appropriate
decision making process and suggests some factors to conside.
Keywords: Decision making, decision making strategy, decision making model, decision making reference

Pendahuluan
Pendidikan memiliki peranan strategis dalam
menyiapkan generasi yang berkualitas untuk
kepentingan masa depan bangsa. Pendidikan
dijadikan institusi utama dalam upaya membentuk manusia seutuhnya. Rintisan Sekolah
88

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

Bertaraf Internasional (RSBI) atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) merupakan sekolah yang
menghasilkan lulusan mampu berkomunikasi
dengan bahasa Inggris dan menguasai komputer
serta aplikasinya. Hal ini untuk meningkatkan
mutu pendidikan Indonesia agar dapat
mengantisipasi perubahan globalisasi yang
pesat ( http://satriadharma.com/tag/rsbi/).

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

Program RSBI lahir didasarkan pada


ketentuan Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional (UU No. 20 tahun 2003) pasal 50 ayat
3 yang menyatakan Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya satu satuan pendidikan pada semua
jenjang pendidikan untuk dikembangkan
menjadi satuan pendidikan yang bertaraf
internasional. Untuk memenuhi ketentuan ini,
Kemendikbud, khususnya Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
telah merintis beberapa sekolah yang
diharapkan mampu menerapkan standar mutu
menuju SBI. SBI adalah sekolah yang memenuhi
Standar Nasional Pendidikan (SNP) serta
mempunyai keunggulan yang merujuk pada
standar pendidikan salah satu negara anggota
Organization for Economic Co-operation Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya
yang mempunyai keunggulan tertentu dalam
bidang pendidikan sehingga memiliki daya
saing di forum internasional. Intinya RSBI atau
SBI mengadopsi kurikulum internasional (http:/
/satriadharma.com/tag/rsbi/).
Kepala sekolah adalah seorang yang
mengatur sebuah sistem organisasi sekolah.
Oleh karena itu sebagai pemimpin sekolah tentu
ia akan menemukan masalah dan harus
membuat sebuah keputusan agar masalahnya
dapat terselesaikan. Shull dalam dalam Ety
Rochaety (2008:151) mengatakan bahwa
pengambilan keputusan adalah proses kesadaran manusia terhadap fenomena individual
maupun sosial berdasarkan kejadian faktual dan
nilai pemikiran yang mencakup aktivitas
perilaku pemilihan satu atau beberapa alternatif
sebagai jalan keluar untuk memecahkan masalah
yang dihadapi. Oleh karena itu keberhasilan
suatu sekolah tergantung pada mutu keputusan
yang diambil oleh kepala sekolah yang
memimpin.
Dasar pengambilan keputusan menurut
George R. Terry dalam Ety Rochaety (2008: 153))
diklasifiksasikan menjadi lima hal yaitu: (a)
intuisi, (b) pengalaman, (c) fakta, (d) wewenang,
dan (e) rasional. Artinya seorang pemimpin
dalam mengambil keputusan harus memikirkan
banyak pertimbangan yang matang agar
keputusan yang diambil tepat melalui proses
berpikir induktif atau deduktif (Cooper dan

Schindler dalam Dermawan, 2004:47)). Menurut


Lipman (2008:85) seorang pembuat keputusan
dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti:
ketepatan merumuskan masalah, jumlah dan
bentuk data informasi, persepsi orang pembuat
keputusan itu sendiri, nilai individu, sosial dan
organisasi, alternatif jawaban yang andal dan
terpercaya, kejelian memilih alternatif jawaban,
serta pelaksanaan dan evaluasi atas keputusan
tersebut.
Menurut KOMPAS (8 Juli 2010), RSBI
mendapat bantuan dana dari APBN dan APBD
serta orang tua. Uang pungutan dari orang tua
dipergunakan untuk sarana prasarana seperti
AC dan internet. Terbentuk kasta antara pelajar,
seperti kasta yang memiliki laptop atau handphone
yang canggih dengan pelajar yang tidak memiliki
laptop. Oleh karena itu terjadi kecemburuan
social dan RSBI dikatakan sekolah untuk orang
yang berduit. (http://scribd.com/doc/
50340377).
Survei SMAN 1 Taliban menemukan bahwa
selain kurikulum nasional, juga menggunakan
kurikulum Cambridge dan kurikulum
Internasional General Certificate of Secondary
Education. Oleh karena itu siswa wajib mengikuti
tiga kali ujian akhir. Hal ini merupakan
pengkhianatan pada tujuan pendidikan
nasional. Masalah yang muncul lagi adalah
sumber daya manusia terutama guru yang
mengajar masih belum fasih bahasa Inggris atau
guru yang pandai bahasa Inggris namun tidak
menguasai pedagogik kependidikan. (http://
kampus.okezone.com/read/).
Banyak permasalahan yang muncul di RSBI,
seperti kurikulum yang digunakan, evaluasi
akhir, SDM yang belum siap, dan sarana
prasarana yang belum lengkap. Masalah
tersebut sepertinya belum dapat dipecahkan dan
mungkin menjadi masalah berikutnya. Seorang
kepala sekolah yang bertindak sebagai
pelaksana kebijakan Kemendikbud harus jeli
dan cepat tanggap dengan masalah yang muncul
tersebut.
Menurut hasil penelitian dari Johara Nonci
(2006: 5), seorang Kepala Sekolah Dasar di
Tamalapea, Kecamatan Jeneponto, Makasar,
mengambil keputusan masih bersifat tradisional. Ia tidak menggunakan pola berpikir induktif
atau deduktif dan kurangnya informasi dalam
Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

89

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

mengolah alternatif keputusan. Di pihak lain,


kepala sekolah pada umumnya sudah dibekali
ilmu kepemimpinan, yang di antaranya teori
pengambilan keputusan, akan etapi dalam
perakteknya hasilnya belum seperti yag
diharapkan. Oleh karena itu tulisan ini mengkaji
bagaimana seorang kepala sekolah dapat
terampil mengambil keputusan seputar RSBI.
Lebih lanjut masalah tersebut dirinci menjadi (1)
langkah-langkah seorang kepala sekolah dalam
mengambil keputusan yang tepat, (2) teknikteknik seorang kepala sekolah mengambil
keputusan yang tepat, dan (3) faktor-faktor yang
perlu dipertimbangkan oleh seorang kepala
sekolah dalam mengambil keputusan.
Secara umum kajian ini bertujuan mendeskripsikan proses pengambilan keputusan yang
dilakukan oleh kepala sekolah. Secara khusus
kajian diarahkan untuk (1) menjelaskan
langkah-langkah kepala sekolah dalam mengambil keputusan yang tepat, (2) mendeskripsikan teknik-teknik kepala sekolah dalam
mengambil keputusan yang tepat, serta (3)
menyebutkan factor-faktor yang perlu
dipertimbangkan oleh seorang kepala sekolah
dalam mengambil keputusan.

melalui pilihan dari beberapa alternatif jawaban


yang sudah disusun berdasarkan sistem
keluaran (output). Dari beberapa definisi yang
dirujuk, dapat disimpulkan bahwa pengambilan
keputusan adalah suatu proses yang dilakuan
oleh manusia untuk mempertahankan diri dalam
kehidupannya dengan memecahkan permasalahan yang timbul melalui pencarian jawaban
pemecahan yang paling tepat untuk masalah
tersebut.
Salah satu fungsi yang sangat penting
dalam kepemimpinan ialah pengambilan
keputusan. Semakin tinggi posisi seseorang
dalam kepemimpinan organisasi maka tugas
utamanya semakin banyak berkaitan dengan
pengambilan keputusan. Perilaku dan cara
pemimpin dalam pola pengambilan keputusan
sangat mempengaruhi perilaku dan sikap dari
pengikutnya. Menurut Lipman (2008:91) ada
lima tingkatan orang yang terlibat dalam

Kajian Teoritis
A.
Dasar Pertimbangan Pengambilan
Keputusan
1.
Pengambilan keputusan
Ada beberapa definisi pengambilan keputusan.
Menurut George R. Terry dalam Ety Rochaety
(2008: 151), pengambilan keputusan adalah
pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua
atau lebih alternatif yang ada. Sedangkan
pendapat dari Shull dalam dalam Ety Rochaety
(2008:151) pengambilan keputusan adalah
proses kesadaran manusia terhadap fenomena
individual maupun sosial berdasarkan kejadian
faktual dan nilai pemikiran yang mencakup
aktivitas perilaku pemilihan satu atau beberapa
alternatif sebagai jalan keluar untuk
memecahkan masalah yang dihadapi. Menurut
Lipman (1985:81) pengambilan keputusan
adalah sebuah proses untuk memecahkan
masalah melalui sebuah sistem yang dirancang

90

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

Gambar 1: Tingkat Keterlibatan dalam


Pengambilan Keputusan

pengambilan keputusan seperti tergambar pada


Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan, pertama, ada orang
yang bertindak sebagai pengambil keputusan,
misalnya kepala sekolah yang karena
kedudukan dan jabatannya harus mengambil
keputusan. Kedua, ada pula yang berperan
memberikan saran dalam memilih alternatif
spesifik, misalnya wakil kepala sekolah.
Sementara yang ketiga (misalnya guru-guru)
mengembangkan/memberikan berbagai
alternatif pilihan. Keempat, ada pula yang
memberikan informasi dan konsekwensi tentang
masing-masing alternatif. Misalnya, siswa dapat
terlibat sebagai penyedia informasi langsung

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

karena mereka tahu kejadiannya sehari-hari.


Tetapi ada juga yang kelima, sama sekali tidak
berperan serta dalam proses pengambilan
keputusan itu.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
dalam mengambil keputusan, menurut George
R. Terry dalam Ety Rochaety (2008: 153)) diklasifiksasikan menjadi lima hal yaitu: (a) intuisi,
pengambilan keputusan ini memiliki sifat
subjektif sehingga mudah terkena pengaruh
namun sisi lain waktu yang digunakan untuk
mengambil keputusan relatif lebih pendek; (b)
pengalaman, pengambilan keputusan ini
memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis
karena berdasarkan pengalaman seseorang
dapat memperkirakan atau memperhitungkan
baik buruknya keputusan; (c). fakta, pengambilan keputusan ini memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi sehingga orang dapat
menerima keputusan dengan lapang dada; (d)
wewenang, pengambilan keputusan ini
memiliki otoritas dari pimpinan pada bawahannya dan keputusan dapat bertahan lama
namun menimbulkan rutinitas dan sering
melewatkan permasalahan yang seharusnya
dipecahkan; dan (e) rasional, pengambilan
keputusan ini memiliki sifat objektif, logis,
konsisten dan transparan. Kejelasan masalah,
orientasi tujuan, pengetahuan alternatif dan
konsekuensi pemilihan jawaban serta hasil
maksimal didasarkan atas ekonomis. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa seorang

pemimpin dalam mengambil keputusan harus


memikirkan banyak pertimbangan yang matang
agar keputusan yang diambil tepat.
2. Berpikir dalam Pengambilan Keputusan
Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan
tentu akan mengalami proses berpikir. Sebab
tanpa berpikir tentu seorang pemimpin akan
mengambil keputusan yang tidak tepat karena
memiliki pandangan yang sempit terhadap
masalah.
Menurut Cooper dan Schindler dalam
Dermawan (2004:47) bahwa berpikir induktif
dan deduktif merupakan prinsip seorang
pemimpin dalam mengambil keputusan.
Umumnya istilah berpikir induktif dan deduktif
sering dikaitkan dengan pola berpikir ilmiah.
Ciri pemikiran dengan gaya ilmiah antara lain:
a. adanya observasi langsung dan terarah atas
fenomena dan masalah; b. secara jelas dapat
mendefinisikan variabel, metode dan prosedur
yang dipakai untuk mendapatkan data empiris;
c. pengajuan hipotesis yang dapat diuji dan
diukur; d. adanya mekanisme untuk mengajukan
hipotesa yang lebih baik; e. menggunakan alat
ukur dan alat uji hipotesa seperti statistik; f.
proses pembenaran.
Pemikiran ilmiah ini menggabungkan
antara pemikiran logika dan empiris untuk
menghasilkan sebuah persepsi dan fenomena
yang sifatnya sistematis. Gambar 2 menunjukkan alur gaya pemikiran ilmiah untuk memper-

Induktif

Teori,konsep

Fakta, masalah

Alat untuk
memecahkan masalah
(matematika,
statistika, pendekatan
Kualitatif dan
kuantitatif

Praduga pertama

Deduktif

Prinsip Aristoteles

Menguji hipotesa

Gambar 2: Alur Gaya Pemikiran Ilmiah Disadur


(Cooper dan Schindler dalam Dermawan (2004:47)
Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

91

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

jelas tentang cara berpikir ilmiah seorang pemimpin dalam mengambil keputusan.
Gambar 3 menjelaskan bahwa alur
pemikiran ilmiah tidak sepenuhnya benar
karena manusia tidak lepas dari jiwa dan raga.
Oleh karena itu dalam mengambil keputusan
perlu juga ada pemikiran kreatif artinya
kebijakan yang akan dibuat dalam mengambil
keputusan diperuntukkan untuk kebaikan
orang banyak. Iman, hati dan kasih sangat
diperlukan dalam mengambil keputusan.
Seseorang harus seimbang antara pikiran logika
ilmiah dan insting hati nurani yang bicara.
Kebijakan yang tepat dibuat akan memenangkan
jiwa, membersihkan jiwa, memberi , melayani
dan mencerahkan pada sesama manusia untuk
kesejahteraan bersama. Bukan untuk
kepentingan diri sendiri.

Iman
Hati

Membersihkan Hati
Memberi
Melayani
Mencerahkan
Memenangkan Jiwa

Y
U
K
U

Kasih

R
Gambar 3: Alur Gaya Pemikiran Kreatif
(Syafaruddin (2004:99)

A.
Strategi Pengambilan Keputusan
Sejumlah teori, model, dan teknik pengambilan
keputusan yang terbaik telah diciptakan untuk
mempermudah para pengambil keputusan
dalam melakukan pemilihan alternatif solusi.
1. Model Pengambilan Keputusan
Model langkah-langkah membuat keputusan
menurut Lipman (1985:85) dapat dilihat pada
gambar 4. Menurut Lipman dalam menjalani
kehidupan manusia berinteraksi dengan
sesamanya, masalah dapat muncul mendadak,
dapat dirasakan, atau bias bahkan subyektif.
92

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

Untuk itu menurut Barnard dalam Lipman (1985:


86) masalah itu perlu dilihat tingkat urgensinya
dan dimulai dari mana. Oleh karena itu masalah
yang muncul perlu diidentifikasi sehingga
masalah yang muncul lebih spesifik dan jelas.
Dalam memecahkan masalah seorang
pengambil
keputusan
value
perlu
memperhatikan faktor seperti kehidupan sosial,
organisasi dan individu), information (terdiri dari
jumlah data, bentuk data dapat dibantu oleh
komputer dan alur informasi yang dapat
diperoleh serta mempertimbang-kan waktu),
perceptual screen (terdiri kreativitas, IQ,
situasional, kebutuhan, dan pengalaman
sebelumnya),
weighing
alternatives
(mempertimbangkan kebutuhan, isu,
kesempatan, seberapa sering terjadi,
kemungkinan untuk mengukurnya). Making a
choise (memilih dari beberapa alternatif jawaban
yang sudah dipikirkan secara tepat dengan
mempertimbangkan side effect yang mungkin
akan muncul) serta implemen-tation and evaluation
(saat pelaksanaan serta mengevaluasi serta
merefleksikan kemung-kinan yang harus
direvisi).
Menurut Dunstan dan Rankin dalam
Lipman (1985:89) bahwa proses membuat
keputusan serta pelaksanaannya dapat dibagi
dalam 3 tahap yaitu before the decision, the moment
of decision, dan after the decision. Pada gambar
dapat dilihat bahwa before the decision adalah
mempertimbangkan positif dan negatif dari
setiap alternatif jawaban pemecahan masalah
yang dibuat, the moment of decision adalah
keadaan yang sangat sulit saat memilih alternatif
jawaban, dan after the decision adalah saat
waktunya akan melaksanakan keputusan yang
sudah dipilih dalam action .
Model pengambilan keputusan ini dengan
mengidentifikasi masalah lalu secara detail
menguraikan masalah tersebut lebih spesifik.
Ketika masalah muncul tentu diperlukan sebuah
pemecahan masalah berupa kebijakan yang
dibuat guna menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam mengambil keputusan tersebut erlu
dipertimbnagkan seperti factor budaya setempat,
nilai sosial masyarakat, serta nilai kehidupan
setiap individu. Membuat beberapa alternatif
untuk mengambil keputusan kemudian dipilih
keputusan mana yang terbaik dan keputusan

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

Feedback

Amount, form, and flow of information


Perceptual Screen
Identifiy
problem

Define
problem

Decition
Maker

Formulated Alternatives
A1 Estimated
Outcomes

Make
choice

An Estimated
Outcomes

Implement
ation and
evaluate
the
decision

Social, organizational, and individual values


Past

Present

Future

Gambar 4: Model Pengambilan Keputusan (Lipman 1985 : 85)

tersebut dilaksanakan. Kemudian dievaluasi MoModel pengambilan keputusan ini lebih


agar tahu kendala dan keberhasilan keputusan sempit karena lebih terbatas. Maksudnya
tersebut. Jika ada masalah lain muncul efek dari pengambilan keputusannya akan diterap-kan
keputusan tersebut maka siklus kembali lagi dengan mencari kriteria yang paling tepat saat
untuk mengidentifikasi masalah
secara detail.
Identifikasi
Tetapkan
Pencarian
Pemilihan
Menurut Cohen dalam
dan
kriteria
alternatif
alternatif
Dermawan (2004:112) model
terbatas
definisikan
solusi
solusi yang
pengambil keputusan dapat
masalah
tertentu
memuaskan
dikategorikan berdasarkan suorganisasi
dut pandang rasional atau tidak
seperti dibahas di bawah ini:
a. Model pengambilan kepuLakukan
tusan berdasarkan panperubahan
Solusi
tidak
minor untuk
dangan rasionalitas yang
menyesuaikan
dibatasi.
ya
Model pengambilan keputusan ini berangkat dari
Apakah hal
kehidupan nyata yaitu
Terapkan solusi
tersebut
adanya keterbatasan rasioya
menyelesaikan
nalitas manusia dalam
masalah
pengambilan keputusan.
tidak
Selain itu pengambil keputusan dibatasi oleh sejumKurangi
lah keterbatasan atau
tingkat
hambatan kala menentukan
preferensi atas
proses pengambilan keputusan dan menentukan
Gambar 5: Model Pengambilan Keputusan Berdasarkan
pilihan.
Pandangan Rasionalitas yang Dibatasi
Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

93

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

mencari alternatif keputusan. Oleh karena


kriteria terbatas sudah ditentukan saat
mengidentifikasi masalah. Intinya agar solusi
yang paling memuaskan untuk organisasi. Jika
tidak dapat diterap-kan maka ada perubahan
sedikit dari peng-harapan atau keinginan
pembuat keputus-an diubah disesuaikan dengan
kondisi.
b. Model pengambilan keputusan yang tidak
terstruktur.
Model ini dikenal sebagai model tong
sampah karena model ini membalikan
proses awal pengambilan keputusan yang
artinya pengambil keputusan dapat
mengajukan sejumlah solusi terhadap
masalah yang sesungguhnya tidak ada,
maka pengambil keputusan menciptakan
sejumlah masalah yang mereka dapat
selesaikan melalui solusi yang sudah
tersedia. Menurut model ini keputusan
merupakan hasil suatu interaksi yang rumit
antara 4 peristiwa yang saling tidak terikat
yaitu problem (masalah), solution
(penyelesaian masalah), participants
(pengambil keputusan), choice opportunities
(peluang) menurut Cohen dalam
Dermawan ( 2004 : 112).
2. Teknik Pengambilan Keputusan
Ketika seorang pembuat keputusan akan mencari
jawaban pemecahan masalahnya maka teknik
atau cara yang dipergunakan dapat bermacammacam tergantung tujuan yang hendak dicapai.
Teknik pengambilan keputusan ada 6 jenis,
yaitu:
a. Analisis Diagram Pareto, yaitu teknik untuk
membantu pemimpin dalam menemukan
perubahan yang akan memberi manfaat
terbesar. Teknik ini berguna dalam kondisi
terdapatnya sejumlah alternatif solusi dan
tindakan yang memungkinkan dapat
dipilih. Langkah-langkah yang digunakan
adalah: 1). Tulis semua daftar keinginan
atau perubahan yang hendak kita raih; 2)
beri skor setiap kelompok; 3) pilih skor yang
paling tinggi untuk alternatif jawaban
pengambilan keputusan.
b. Analisis Perbandingan Sepasang, yaitu
teknik untuk membantu pemimpin dalam
memilih pengambilan keputusan dari
94

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

beberapa alternatif jawaban yang ada.


Teknik ini untuk menetapkan skala prioritas
dan yang memberikan manfaat yang besar.
Langkah-langkah yang digunakan adalah:
1). Tulis semua daftar pilihan yang dimiliki;
2) gambarkan tabel pilihan yang terdiri dari
baris dan kolom; 3) pergunakan tabel untuk
membandingkan alternatif jawaban yang
ada; 4) beri skor variasi antara 1-4 untuk
setiap pemilihan alternatif jawaban; 5)
jumlahkan setiap item dan konversikan
dalam persentase.
c. Analisis Jaringan, yaitu teknik untuk
membantu pemimpin dalam memilih satu
pengambilan keputusan dari sejumlah
alternatif yang ada. Teknik ini untuk
mempertimbangkan sejumlah faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam pengambilan
keputusan yang sudah diambil. Langkahlangkah yang digunakan adalah:
1) Tulis semua daftar pilihan dan faktor
yang sudah ditetapkan;
2) gambarkan tabel pilihan yang terdiri
dari baris dan kolom;
3) tetapkan tingkat kepentingan relatif dari
seluruh faktor yang ditujukkan dalam
bentuk angka;
4) beri skor dari 0 3 ;
5) kalikan setiap skor dengan nilai
kepentingan relatif yang sudah kita
tetapkan;
6) jumlahkan seluruh skor dan skor
tertinggi merupakan pilihan solusi yang
tepat untuk masalah yang dihadapi.
d. Teknik Implikasi Plus Minus, yaitu teknik
pengambilan keputusan untuk menilai
pandangan pro kontra dan implikasi dari
sebuah keputusan atau pilihan. Teknik ini
untuk menilai kembali apakah pilihan yang
diambil merupakan pilihan yang paling
tepat. Langkah-langkah yang digunakan
antara lain :
1) Gambar tabel dengan judul setiap
kolom: plus, minus dan implikasi;
2) Di kolom plus tulis seluruh konsekuensi positif dari suatu pilihan;
3) Di kolom minus tulis seluruh konsekuensi negatif dari suatu pilihan;
4) Di kolom implikasi tulis seluruh
implikasi beserta hasil yang

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

e.

f.

g.

memungkinkan dari pilihan yang


diambil baik positif maupun negatif;
5) Tentukan skor untuk setiap
konsekuensi yang telah ditetapkan;
6) Jumlahkan seluruh skor dari kolom
plus, minus, dan implikasi.
Analisis Kekuatan Lapangan, yaitu teknik
untuk membantu pemimpin dalam memilih
pengambilan keputusan dengan melihat
sejumlah kekuatan dari yang mendukung
maupun yang menghalangi tujuan atau
rencana yang akan diputuskan. Teknik ini
untuk membantu kita dalam menimbang
tingkat kepentingan setiap faktor kekuatan
yang kemudian memberikan input bagi kita
tentang implementasi dari rencana.
Langkah-langkah yang digunakan antara
lain :
1) Gambar tabel dengan judul setiap kolom:
kekuatan dan penghalang;
2) Di kolom penghalang maupun kekuatan
uraikan secara detail;
3) Tentukan skor untuk setiap uraian dari
15
Analisis Biaya dan Manfaat, yaitu teknik
untuk membantu pemimpin dalam
pengambilan keputusan berdasarkan biaya
yang akan muncul dan nilai seluruh biaya.
Teknik ini untuk menentukan sejumlah
manfaat ekonomi yang dihasilkan dari
suatu tindakan.
Langkah-langkah yang digunakan antara
lain :
1) Rinci semua biaya yang dikeluarkan
2) Rinci manfaat setiap biaya yang dikeluarkan
3) Jumlahkan seluruh biaya yang dikeluarkan
4) Jumlahkan seluruh manfaat yang
didapat
5) Hitung selisih antara biaya dan manfaat
kemudian perkirakan berapa lama
pengembalian dana investasi.
4) Jumlahkan skor untuk kekuatan dan
penghalang
Analisis SWOT, yaitu teknik untuk
membantu pemimpin dalam mengambil
keputusan dengan cara menggambarkan
secara detail seluruh kekuatan (Strenght),
kelemahan (Weakness), peluang (Oppor-

tunity), hambatan (Threat). Teknik ini untuk


membantu pimpinan memiliki kerangka
kerja dan siap mengantisipasi jika ada
kendala.
Langkah-langkah yang
digunakan antara lain :
1) Susun setiap poin S, W, O, dan T secara
rinci;
2) Setiap poin di atas dihitung skor bobot,
rating, dan jumlah dengan menggunakan tabel. Untuk bobot diberi skor 0,1
1, untuk rating diberi skor 1 5,
sedangkan untuk jumlah adalah
perkalian antara bobot dengan rating;
3) Analisis setiap poin SWOT dengan
menggunakan tabel yaitu kolom berisi
strategi untuk S dan T, dan baris berisi
strategi untuk O dan W;
4) Tentukan keputusan strategis dari
setiap poin SO, WO, ST, dan WT. Berikut
adalah tabel format menganalisis dan
menentukkan keputusan strategis
menggunakan Analisa SWOT.
Tabel : Format Analisis SWOT
Strength (S) Threat (T)
Opportunities (O)

Strategi
untuk SO

Strategi
untuk TO

Weakness (W)

Strategi
untuk WS

Strategi
umtuk WT

C.

Landasan yang Mendasari

1.

Landasan Psikologi
a. Teori Gestalt
Menurut Hergenhann (2010:284) Gestalt
memandang belajar sebagai problem
khusus dalam persepsi. Mereka mengasumsikan bahwa ketika suatu organisme
berhadapan dengan sebuah problem akan
muncul keadaan disekuibrilium kognitif
dan keadaan ini akan terus menerus
berlanjut sampai problem terselesaikan. Hal
ini karena disekuibrilium kognitif
mengandung unsur motivasional yang
menyebabkan organisme berusaha untuk
mendapatkan keseimbang-an dalam sistem
mentalnya.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

95

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

b.

Belajar menurut Gestalt adalah fenomena


kognitif, di mana organisme melihat solusi
setelah memikirkan problem. Pembelajar
memikirkan semua unsur yang dibutuhkan
untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam
satu cara dan kemudian cara-cara lainnya
sampai problem terpecahkan. Ketika solusi
muncul organisme mendapatkan wawasan
(insight) tentang solusi problem. Problem
dapat terpecahkan atau tidak jadi menurut
Gestalt belajar itu sifatnya diskontinu.
Belajar berwawasan (insightful learning)
adalah belajar yang mempunyai 4
karakteristik yaitu : transisi dari prasolusi
ke solusi terjadi secara mendadak, kinerja
berdasarkan solusi yang tepat, hasil solusi
akan tertanam dalam benak anak, dapat
mengaplikasikan pada masalah yang
ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Teori Jung
Carl Gustav Jung (1875 1954) adalah
seorang pengikut Sigmund Freud yang
beraliran psikologi analisis. Jung berpendapat bahwa jiwa seseorang terdiri dari
rasional dan irasional dimana pikiran dan
perasaan termasuk kedalam rasional
sedangkan penginderaan dan intuisi
termasuk irasional. Dalam penilaian
rasional dijabarkan dengan kata benar atau
salah, senang atau tidak senang dan seterusnya, sedangkan penilaian irasional dijabarkan dengan kata sadar dan tidak sadar.
Pikiran

Penginderaan

Intuisi

Perasaan
Gambar 6: Fungsi Jiwa Menurut Jung

Oleh karena itu manusia selalu ada dalam


dunianya sendiri namun karena manusia
adalah makhluk sosial maka manusia harus
bergaul dengan lingkungannya. Oleh karena itu

96

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

harus ada keseimbangan antara dunia dalam


diri dan dunia luar. Seseorang harus dapat
menyesuaikan diri dengan dunia luar dengan
berbagai manifestasi, misalnya seorang kepala
sekolah yang tidak mampu mengatur
bawahannya akan menjadi berlagak sok. Hal ini
karena kepala sekolah tersebut ingin menutupi
kelemahannya dengan berbagai tingkah laku
yang tidak sesuai dengan keadaan. Untuk
memperjelas dapat dilihat pada Gambar 7.
Pikiran

Dunia

Obyek

Pesona
Penginderaan

Intuisi

Aku
Dunia

Subyek

Perasaan
Gambar 7: Hubungan Pribadi Dengan

Dunia dalam Diri dan Dunia Luar


1.

Landasan Filosofi
Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu
empiris karena memelopori pengumpulan
data yang komprehensif dan sistematis.
Beliau memilih metode ilmiah secara
deduktif dan induktif dalam praktek
kehidupan sehari-hari, misalnya seorang
kepala sekolah akan mengumpulkan data
riwayat hidup, data sekolah (NEM, Prestasi
Belajar, Data Siswa, dll.) karena hal ini
sangat penting untuk mengambil keputusan.
Menurut beliau, pengambilan keputusan
dengan data riil tentu lebih akurat
dibandingkan dengan pengambilan
keputusan yang hanya mengandalkan
intuisi semata. Filsafat etika yang diajukan
oleh Aristoteles adalah manusia yang
bertindak melalui pikiran rasional dan
bijaksana untuk tujuan kebaikan (Yuana
(2010: 44)).
John Dewey (1859-1952) adalah seorang
filsuf yang memiliki aliran pragmatisme.

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

John Dewey terkenal dengan slogan dilakukan saat perencanaan, penggerakan,


Kebenaran adalah sesuatu yang benar. pengawasan, dan pengorganisasian. PengamDewey menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang
Perencanaan
realistis dan bersifat teruji.
Ada 5 tahap proses pengujian secara intelektual, yaitu:
a. Saat ada perubahan maka
Pengambilan
Pengawasan
Pengoragnisasian
manusia segera berpikir
Keputusan
untuk mencari penyelesaian
b. Merumuskan permasaPenggerakan
lahan
c. Menyusun dugaan
d. Mengidentifikasi hipoGambar 8. Fungsi Manajemen dalam
tesa dan pencarian urutPengambilan Keputusan
an tingkat kebenaran
e. Pengujian untuk membuktikan bilan keputusan ini tidak hanya bersifat
kebenaran
substantif untuk menyusun rencana-rencana
strategis tetapi juga dalam menangani
A. Manajemen Kepemimpinan Sekolah
pelaksanaan tugas-tugas operasional serta
Manajemen merupakan sebuah proses mengatasi masalah-masalah yang menyimpang
bekerja sama baik antar individu mapun dari rencana.
kelompok serta sumber daya lainnya untuk
Para kepala sekolah perlu mempelajari atau
mencapai tujuan organisasi. Menurut mengenali masalah apa saja yang dihadapi atau
Gintings (2009:5) manajemen terdiri dari peluang apa saja yang harus ditangkap oleh
unsur uang, sumber daya manusia (SDM), organisasi. Oleh karena itu faktor apa saja yang
material, pasar, teknik dan metode di dalam menyebabkan munculnya masalah atau faktor
suatu organisasi, dalam prosesnya apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan
manajemen memiliki fungsi perencanaan harus diidentifikasikan secara rasional dan
(plan), pengorganisasian (organizing), sistematis. Kepala sekolah harus dapat
penggerakkan (actuating) dan pengawasan merumuskan masalah yang tepat agar proses
(controling).
pengambilan keputusan menjadi baik.
Salah satu fungsi yang melekat dalam
Para kepala sekolah menyusun sejumlah
manajemen terutama fungsi perencanaan alternatif yang diperkirakan atau menjadi
adalah pengambilan keputusan. Sebagai praduga sementara dalam menjawab perumussebuah sistem kerja manajemen, an masalah. Berbagai alternatif jawaban dibuat
pengambilan keputusan perlu dipertim- untuk memecahkan permasalahan dan yang
bangkan dengan tepat. Seorang kepala bersifat menguntungkan bagi organisasi.
sekolah dituntut keberanian untuk
Para kepala sekolah menilai keuntungan
mengambil resiko atas keputusan yang atau kerugian dan kelemahan atau kekuatan
diambil.
dari setiap alternatif jawaban dalam
Mondy dan Premeaux dalam Syarafuddin memecahkan permasalahan. Diperlukan kejelian
(2004:54) menggambarkan hubungan dalam memilih alternatif jawaban guna
fungsi manajemen dengan pengambilan mengambil keputusan. Tidak saja pikiran,
keputusan seperti terlihat pada Gambar 8. perasaan, penindraan dan intuisi yang baik
Para kepala sekolah bertanggung jawab dalam memilih alternatif jawaban tersebut.
terhadap masa depan organisasi melalui
Para kepala sekolah memilih jawaban dari
pengambilan keputusan sesuai tingkatan perumusan masalah yang dianggap paling
kedudukannya. Proses pengambilan keputusan menguntungkan organisasi dan siap untuk
Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

97

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

ditetapkan dalam organisasi. Selanjutnya


dilaksanakan sebagai keputusan yang diambil
oleh organisasi.
Para kepala sekolah harus mengevaluasi
keputusan yang sudah diambil apakah sudah
mencapai tujuan yang diinginkan atau belum.
Jika belum maka perlu ada perbaikan dengan
melihat kembali alternatif jawaban yang dibuat
atau menambah dengan melengkapi alternatif
jawaban yang lain.
Sistem sekolah mengolah berbagai input
kemudian diolah atau ditarnsformasikan
menjadi output yang selanjutnya keluaran
ditransformasi kepada masyarakat. Pusat
kegiatan ada pada proses pembelajaran antara
siswa dan guru. Selain ada proses evaluasi yang
dilakukan oleh guru untuk melihat sejauh mana
perkembangan siswanya.
Kegiatan organisasi sekolah berkaitan
dengan kegiatan yang melibatkan kelompok
untuk mengambil sebuah keputusan. Hal ini
berkaitan dengan alokasi, wewenang, dan
koordinasi kegiatan. Setiap fungsi memiliki
keahliannya sendiri-sendiri untuk menjalankan
tugasnya. Umumnya di dunia pendidikan ada
jenjang wewenang dari seorang pengawas
hingga guru. Dapat dilihat pada Gambar 9.
Dari gambar di atas dapat dikatakan bahwa
seorang pengawas mempunyai garis perintah
yang lebih tinggi daripada kepala sekolah.
Walaupun memang seorang pengawas masih
harus tunduk pada kewenangan pemerintah.
Koordinator sekolah mempunyai garis perintah
lebih tinggi daripada seorang guru namun
koordinator ada di bawah perintah seorang
kepala sekolah. Agar berjalan baik dalam sistem

Gambar 9: Sistem Organisasi Sekolah


dan Aktivitas

98

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

organisasi sekolah guru yang melayani


bimbingan atau guru yang mengajar bidang
studi atau guru yang mendukung layanan pada
siswa ada di bawah perintah kordinator.

Pembahasan
Timbulnya banyak permasalahan karena
sebuah sekolah yang dipimpin oleh seorang
kepala sekolah tidak mempunyai sebuah
keputusan yang tepat dalam hal mengelola.
Seorang kepala sekolah hendaknya terampil
dalam mengambil keputusan, tentu banyak halhal yang perlu dipertimbangkan (Lipman 1985:
90). Fungsi manajemen dapat memberi petunjuk
agar pengambilan keputusan lebih tepat.
Dimulai
dari
fungsi
perencanaan,
pengoorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan. Saat merencanakan suatu
program hendaknya seorang pemimpin berpikir
secara induktif dan deduktif dalam menentukan
alternatif pilihan untuk memecahkan
permasalahan atau menentukan perencanaan
Cooper dan Schindler dalam Dermawan
(2004:47).
Menurut Lipman (1985: 81) model proses
pengambil keputusan ada 6 langkah dimulai
dari identifikasi masalah lalu merumuskan
masalah selanjutnya dibuat keputusan dengan
berbagai macam jawaban alternatif, pembuat
keputusan harus dapat memilih salah satu
jawaban alternatif yang paling tepat yang
selanjutnya dilaksanakan dan dievaluasi
pelaksanaannya untuk menjadi bahan refleksi.
Ketika akan memutuskan seorang pembuat
keputusan harus memperhatikan beberapa hal
seperti: value perlu memperhatikan faktor seperti
kehidupan sosial, organisasi dan individu),
information (terdiri dari jumlah data, bentuk data
dapat dibantu oleh komputer dan alur informasi
yang dapat diperoleh serta mempertimbangkan
waktu), perceptual screen (terdiri kreativitas, IQ,
situasional, kebutuhan, dan pengalaman
sebelumnya), weighing alternatives (mempertimbangkan kebutuhan, isu, kesempatan,
seberapa sering terjadi, kemungkinan untuk
mengukurnya). Model ini sejalan dengan yang
diungkapkan oleh (Cooper dan Schindler dalam
Dermawan, 2004:47) bahwa dalam pengambil
keputusan seorang pengambil keputusan harus

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

berpikir cara induktif dan deduktif untuk


mencari jawaban alternatif pemecahannya.
Dari model pengambilan keputusan yang
dikemukan oleh Lipman dan Cooper, seorang
pengambil keputusan harus memiliki banyak
informasi tentang RSBI misalnya, dengan cara
mengobservasi langsung SBI yang sudah ada
baik lokal maupun di luar negara jika
memungkinkan untuk mencari banyak
informasi tentang SBI. Dari informasi tersebut
akan muncul permasalahan. Misalnya berapa
biaya yang harus dipersiapkan untuk
mendirikan SBI? Pertanyaan lain mungkin
muncul bagaimana mempersiapkan SDM yang
handal? dsb. Ketika studi banding ke SBI
hendaknya sudah dipersiapkan instrumen yang
tepat apa yang akan dicari informasi SBI. Jika
memungkinkan instrumen tersebut divalidasi
sebelumnya.
Selanjutnya langkah menyusun rumusan
masalah yang perlu dijawab sementara
(hipotesa) misalnya SDM harus yang memiliki
persyaratan lulusan S-2 keguruan dan yang
fasih berbahasa inggris baik bicara maupun
menulis; biaya yang harus disediakan saat
mendirikan SBI sekitar 2 milyar dengan rincian
yang jelas untuk sarana prasarana, SDM, dll;
kurikulum mengadopsi dari kurikulum IB hanya
untuk IPA dan matematika. Dari semua hipotesa
tersebut dibuktikan kebenarannya dengan
menggunakan instrumen baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Hasil dari semua
perhitungan tersebut untuk menjawab rumusan
masalah sebagai bahan pertimbangan untuk
mengambil keputusan. Pemimpin dapat
mempertimbangkan hasil alternatif jawaban
untuk mengambil keputusan dalam
merencanakan program sebuah SBI.
Misalnya ada permasalahan pada SDM saat
pelaksanaan RSBI maka menurut Lipman,
seorang pengambil keputusan harus dapat
mencari jawaban alternatif permasalahan yang
tepat misalnya dari data informasi bahwa guru
yang berpendidikan S-2 non kependidikan lebih
banyak daripada S-2 kependidikan, guru yang
berbahasa Inggris pada guru yang S-2 non
kependidikan dan S-1 kependidikan tidak fasih
berbahasa Inggris. Dibuat beberapa alternatif
jawaban seperti guru S-2 non kependidikan
dikuliahkan khusus untuk pedagogik, atau guru

S1 kependidikan dileskan bahasa Inggris secara


intensif, atau guru S-1 kependidikan magang di
sekolah internasional untuk beberapa lama agar
bahasa Inggrisnya bisa lebih baik, dll.
Kemungkinan-kemungkinan tersebut dapat
dicari oleh pembuat keputusan dari data
informasi yang didapat, brainstroming dengan
staf guru yang berwenang, atau mencari seorang
konsultan.
Misalnya timbul masalah pada kurikulum
yang digunakan RSBI, maka pengambil
keputusan perlu mendapat banyak data tentang
kurikulum yang digunakan sekarang, apa
keunggulan dan kelemahannya. Dapat juga dari
hasil observasi dan studi banding atau
pencarian dari internet didapatkan info
kelemahan dan kekuatan kurikulum dari negara
Singapura, Malaysia, New Zealand, Hongkong,
Jepang, dan Kanada. Dari info tersebut dipilih
beberapa alternatif kurikulum yang dianggap
tepat diterapkan di Indonesia baik ditinjau dari
segi budaya, sosial dan politik. Misalnya
pemilihan kurikulum yang tepat adalah
kurikulum dari Hongkong karena dari segi
budaya, sosial dan politik tidak terlalu beda jauh.
Maka pemilihan kurikulum Hongkong
diujicobakan dahulu pada 1-2 kelas agar dapat
diketahui sejauhmana keberhasilannya.
Selanjutnya mengevaluasi pelaksanaan
kurikulum Hongkong tersebut untuk direvisi
sebagai solusi selanjutnya.
Seorang kepala sekolah ketika sudah
mempunyai alternatif keputusan perlu
dipertimbangkan dari segi perasaan dan intuisi.
Siagian dalam Syafaruddin (2004:67)
mengungkapkan bahwa seorang pemimpin
dalam proses mengambil keputusan selain
berpikir ilmiah (rasional) juga berpikir kreatif
artinya berpikir didasarkan pada perasaan,
pengalaman, dan intuisi seseorang.
Keseimbangan antara pikiran, perasaan, intuisi,
dan pengindraan sering diungkapkan dalam
kalimat iman, pelayanan dan doa. Manusia
yang hidup secara sosial tentu akan saling
berinteraksi satu dengan lainnya. Dalam
interaksinya akan ada melayani dan dilayani.
Oleh karena itu seorang pemimpin yang baik
tentu akan mengambil keputusan bukan untuk
kepentingan pribadi melainkan untuk
kesejahteraan bersama.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

99

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

Pengambilan keputusan didirikannya SBI


dengan tujuan yang baik yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa dalam rangka mengantisipasi era globalisasi maka perlu mempertimbangkan dari segi kesejateraan bersama
misalnya, apakah hanya anak yang dari
kalangan tertentu yang dapat bersekolah di SBI
atau setiap anak Indonesia? Pemimpin perlu
merefleksikannya dalam doa dan iman kepada
Tuhan memohon bantuannya dalam menentukan alternatif pengambilan keputusan.
Pemimpin yang agung seperti terungkap
dalam Alkitab, bahwa rencana akan gagal jika
tidak disertai pertimbangan sedangkan rencana
akan berhasil jika banyak yang memberi nasehat
(Amsal 15 : 22). Melihat profil kepemimpinan
Nabi Nehemia sebagai seorang pembuat
keputusan yang jelas memberikan contoh
teladan yang harus ditiru oleh kita semua.
Dalam Nehemia 5 ayat 7 dikatakan bahwa
setelah berpikir masak-masak. Sebuah
pernyataan yang memperingatkan pada
pimpinan untuk berhati-hati dalam mengambil
keputusan karena menyangkut banyak pihak.
Oleh karena itu minta banyak nasihat pada
orang-orang yang berpengalaman atau
ahlinya. Kaitan dengan SBI pihak yang
terlibat antara lain guru dan staf, siswa, orang
tua, dinas setempat, mempertanggung jawabkan
kepada Allah YME, dll.
Setelah seorang pimpinan menentukan
alternatif jawaban dalam pengambilan
keputusan, maka teknik yang dipakai tergantung
dari tujuan yang akan dicapai. Dari setiap
alternatif jawaban perlu dipertimbangkan lagi
agar keputusan yang diambil tepat. Misalnya,
setelah kepala sekolah mengetahui dari studi
banding dan info dari berbagai pihak maka
teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui
berapa lama BEP (Break Even Point) yang dapat
dicapai oleh SBI tersebut dengan menggunakan
teknik analisis biaya dan manfaat. Teknik
analisis digram Pareto dapat digunakan seorang
pimpinan untuk mengetahui apakah SBI tepat
berlokasi disuatu area. Untuk penentuan kurikulum yang akan diadopsi oleh SBI dapat menggunakan analisis jaringan dengan memilih beberapa kurikulum dari luar negeri seperti, Jepang,
Hongkong, Singapura, dan lain-lain. Kriteria
yang perlu dipertimbangkan adalah harga
100

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

Franchase, bahan Ajar, media, kemampuan guru


mengajar, kemampuan siswa. Analisa SWOT
dapat digunakan untuk menganalisa kekuatan
dan kelemahan pesaing SBI lain. Dengan
memanfaatkan seluruh teknik yang ada, seorang
pimpinan akhirnya dapat mengambil keputusan
secara bijaksana untuk kepentingan bersama.
Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan
oleh seorang pemimpin dalam pengambilan
keputusan seperti: pertama Posisi atau
kedudukan yang mengambil keputusan itu
sebagai pembuat keputusan atau penentu
keputusan. Misalnya pembuat keputusan dalam
kebijakan SBI dibuat oleh kepala sekolah bagi
sekolah swasta, sedangkan yang penentu
kebijakan oleh anggota yayasan sekolah tersebut.
Kedua, Masalah yang dihadapi tersebut
masalah yang rutin atau insidental atau
masalahnya terstruktur atau tidak terstruktur.
Umumnya masalah rutin bisa dipecahkan oleh
guru namun masalah yang sifatnya insidental
bisa dipecahkan oleh guru atau kepala sekolah.
Sebagai komite sekolah atau yayasan dari
sekolah akan memecahkan masalah umumnya
masalah yang tidak terstruktur artinya masalah
tersebut sifatnya tidak tetap dan jarang dijumpai.
Ketiga, keadaan internal organisasi seperti
tersedianya dana, keadaan SDM, kompetensi
karyawan yang ada, kelengkapan sarana
prasarana di sekolah, struktur organisasi
sekolah. Pertimbangkan apakah guru harus
memiliki ijazah keguruan, ataukah sarjana
bahkan magister, dana yang dikucurkan dari
yayasan atau bantuan komite sekolah atau
bahkan dapat bantuan dari UNICEF atau badan
hukum lainnya.
Keempat, keadaan eksternal organisasi
seperti budaya, ekonomi, sosial dan politik
setempat, misalnya daerah pemukiman yang
hampir 75% penduduknya bekerja di kantoran
dan berpenghasilan minimal 6 juta dapat
dikatakan orang tua yang mampu untuk
menyekolahkan anaknya dengan biaya yang
melebihi batas normal sekolah biasa, atau
penduduk tersebut banyaknya kedutaan dari
berbagai negara maka tentu bahasa yang
digunakan adalah bahasa inggris sebagai
pengantarnya.
Kelima, tersedianya informasi yang
diperlukan misalnya banyak siswa yang akan

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

sekolah di SBI sifat informasi harus akurat, up to


date, relevan dan memiliki kesalahan kecil
sehingga data tersebut bisa dipakai sebagai
acuan untuk mengambil keputusan; keenam,
kepribadian dan kecakapan pengambail
keputusan meliputi intelegensi, keterampilan
kebutuhan dan penilaian. Pengambilan
keputusan merupakan seni dan ilmu karena
setiap pemimpin mempunyai gaya dan tipe
tersendiri dalam mengambil keputusan.
Dari paparan di atas penulis hendak
mendeskripsikan bahwa dari analisa masalah
yang muncul berdirinya SBI atau RSBI jika
ditelaah lebih jauh dimulai dari fungsi
perencanaan dalam sistem organisasi harus
menggunakan model langkah-langkah
pengambil keputusan dalam mencari beberapa
jawaban alternatif untuk diambil keputusannya.
Cara berpikir seorang pemimpin mempengaruhi
keputusan dan teknik yang dipakai untuk
mempermudah mencari alternatif jawabanpun
berpengaruh atas kebijakan SBI.

Simpulan

yang dapat diperoleh serta mempertimbangkan


waktu), perceptual screen (terdiri kreativitas, IQ,
situasional, kebutuhan, dan pengalaman
sebelumnya), weighing alternatives (mempertimbangkan kebutuhan, isu, kesempatan, seberapa
sering terjadi, kemungkinan untuk mengukurnya).
Untuk membantu setiap langkah dalam
memecahkan masalah ada teknik-teknik yang
dapat dimanfaatkan oleh seorang kepala
sekolah untuk mengambil keputusan yang tepat
dan bijaksana antara lain: teknik analisa
diagram pareto, analisa perbandingan
sepasang, analisa jaringan, analisa implikasi
Plus-Minus, analisa kekuatan lapangan, analisa
biaya dan manfaat dan analisa SWOT.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan
oleh seorang kepala sekolah dalam mengambil
keputusan seperti: 1) Posisi atau kedudukan
yang mengambil keputusan ;2) Masalah yang
dihadapi; 3) keadaan internal organisasi: 4)
keadaan eksternal organisasi; 5) tersedianya
informasi yang diperlukan; 6) kepribadian dan
kecakapan pengambil keputusan.

Kesimpulan

Rekomendasi

Pengambilan keputusan adalah proses seorang


manusia dalam mempertahankan dirinya dalam
kehidupan untuk memecahkan permasalahan
yang timbul dengan mencari jawaban
pemecahan masalah tersebut yang paling tepat.
Menuurt Lipman (1985: 81) model proses
pengambil keputusan ada 6 langkah dimulai
dari identifikasi masalah lalu merumuskaan
masalah selanjutnya dibuat keputusan dengan
berbagai macam jawaban alternatif, pembuat
keputusan harus dapat memilih salah satu
jawaban alternatif yang paling tepat yang
selanjutnya dilaksanakan dan dievaluasi
pelaksanaannya untuk menjadi bahan refleksi.
Ketika akan memutuskan, seorang pembuat
keputusan harus memperhatikan beberapa hal
yaitu: value perlu memperhatikan faktor seperti
kehidupan sosial, organisasi dan individu),
information (terdiri dari jumlah data, bentuk data
dapat dibantu oleh komputer dan alur informasi

Seorang pemimpin dalam menjalankan sebuah


organisasi selalu mengambil keputusan yang
merupakan prasayarat penentu tindakan.
Pengambilan keputusan merupakan sebuah
ilmu dan seni yang harus dicari, dipelajari,
dimiliki dan dikembangkan secara mendalam
oleh setiap pimpinan. Ragamnya masalah yang
muncul dalam sebuah organisasi tentu akan
melakukan pengambilan keputusan yang
beragam pula tergantung sudut pandang
pimpinan. Oleh karena itu seorang pimpinan
dalam mengambil keputusan sebaiknya:1.
Jangan mengambil keputusan secara kebetulan;
2. Jangan mengambil keputusan secara
sembrono (tergesa-gesa); 3. Jangan mengambil
keputusan tanpa menguasai hakekat
masalahnya; 4.jangan mengambil mengambil
keputusan karena trend atau isu di
masyarakat; 5. Jangan hanya ada stu alternatif
jawaban dalam mengambil keputusan.

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

101

Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah

Daftar Pustaka
Dermawan, R. (2004). Pengambilan keputusan.
Bandung: Alfabeta
Gintings, A.(2009). SIM Pendidikan. Bandung:
Uninus Press
Hergenhahn, B.R. (2010). Theories of learning.
Jakarta: Kencana Predana Media Group
http://kampus.okezone.com/read/
http://satriadharma.com/tag/rsbi/
http://scribd.com/doc/50340377
Lembaga Alkitab Indonesia. (1976). Alkitab.
Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Lipman, J.M. dan Rankin, R.E,. (1985). The
principalship concepts, competencies, and
cases. New York: Longman

102

Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013

Nonci, Johara. (2006). Pola kepemimpinan Kepala


sekolah dalam lulusan akta kekepalasekolahan
dalam pengambilan keputusan. Jurnal
Samudera Ilmu. 1. (1). 274 -277
Poerwadarminta, W.J.J. (2007). Kamus Umum
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Rochaety, Ety .(2008). SIM Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara
Suryabrata,S. (1983). Psikologi kepribadian.
Jakarta: Rajagrafindo Persada
Syafaruddin & Anzizhan. (2004). Sistem
pengambilan keputusan pendidikan. Jakarta:
Grasindo
Tjahjono, H. (2002). Kepemimpinan dimensi
keempat. Jakarta: Elex Media Komputindo
Yuana, K. (2010). The greatest philosophers. Yogya:
Andi offset