Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus di wujudkan sesuai dengan
cita-cita bangsa Indonesia, sebagai mana di maksudkan dalam pembangunan UUD 1945 melalui
pembangunan Nasional yang berkesinambungan.
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan Nasional bertujuan untuk
mempertinggi derajat kesehatan termasuk keadaan gizi masyarakat dan penyediaan obat-obatan
di Apotek dalam rangka peningkatan kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan
kesejahteraan pada umumnya.
Praktek Kerja Lapangan adalah suatu proses pembelajaran pada unit kerja secara nyata,
sehingga peserta didik mendapat gambaran dan pengalaman kerja secara langsung dan
menyeluruh. Sebagai calon tenaga penunjang pada pelayanan kesehatan, peserta didik Smk
Farmasi Samarinda diharapkan mengetahui berbagai kegiatan terpadu meliputi bidang produksi,
distribusi, pelayanan dan pengawasan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya
termasuk penatalaksanaan administrasinya.
Latihan keterampilan yang secara intensif diberikan di laboratorium sekolah hanya sebagai dasar
untuk bekerja di dunia usaha. Keterampilan lain seperti pengendalian obat, penyuluhan obat,
penerapan sikap yang baik sebagai tenaga kesehatan dan kemampuan untuk bekerjasama
dengan tenaga kesehatan lain serta cara memecahkan masalah yang terjadi di lapangan belum
diberikan di sekolah secara khusus. Untuk itu Praktek Kerja lapangan merupakan cara terbaik
untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang belum di peroleh selama mengikuti
pendidikan di sekolah.
Usaha apotek merupakan suatu kombinasi dari usaha pengabdian profesi farmasi, usaha social
dan usaha dagang yang masing-masing aspekm ini tidak dapat di pisah-pisahkan satu dengan
lainnya dari usaha apotek. Apotek sendiri merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan
yang melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi pada masyarakat.
Peraturan mengenai apotek tertuang dalam peraturan Mentri Kesehatan
No.1332/Menkes/SK/X/2002.
( Anonim, Ketentuan dan tata cara Pemberian Izin Apotek, 2002 )
Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan dibidang kefarmasian melalui
keahlian yang diperolehnya selama pendidikan tinggi kefarmasian. Sifat kewenangan yang
berlandaskan ilmu pengetahuan ini memberinya semacam otoritas dalam berbagai aspek obat
atau proses kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Farmasi sebagai
tenaga kesehatan yang dikelompokkan profesi, telah diakui secara universal. Lingkup
pekerjaannya meliputi semua aspek tentang obat, mulai penyediaan bahan baku obat dalam arti
luas, membuat sediaan jadinya sampai dengan pelayanan kepada pemakai obat atau pasien.
(ISFI, Standar Kompetensi Farmasi Indonesia, 2004).

B. Tujuan PKL di Apotek


1. Tujuan umum
a. Melaksanakan salah satu peran, fungsi, dan kompetensi Ahli Madya Farmasi yaitu pelayanan
kefarmasian di Apotek meliputi identifikasi resep, merencanakan dan melaksanakan peracikan
obat yang tepat.
b. Memberikan kesempatan untuk beradaptasi langsung pada iklim kerja kefarmasian
sebenarnya, khususnya di Apotek.
c. Meningkatkan, memperluas, dan memantapkan keterampilan peserta didik sebagai bekal
memasuki lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan program pendidikan yang ditetapkan.
d. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memasyarakatkan diri pada
suasana/iklim lingkungan kerja yang sesungguhnya.
e. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengalama kerja yang
nyata dan langsung secara terpadu dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan farmasi
di dan Apotek
f. Memberikan kesempatan untuk penempatan kerja
Sebagai bentuk laporan Praktek Kerja lapangan di Apotek Tidar Farma.
2. Tujuan khusus
a.Untuk mengetahui mekanisme pengelolaan perbekalan farmasi di Apotek
b.Untuk mengetahui peranan asisten apoteker di Apotek.
c.Agar peserta didik mampu memahami, memantapkan, dan mengembangkan pelajaran yang
diperoleh di sekolah dan diterapkan di lapangan kerja.
d.Meningkatkan citra dan kemandirian asisten apoteker.
C. Manfaat PKL
1. Menambah pengetahuan kami tentang pelayanan perbekalan farmasi kepada masyarakat
secara langsung.
2. Menambah wawasan kami mengenai nama, jenis obat yang beredar dimasyarakat.
3. Menambah wawasan kami tentang berbagai macam tulisan dokter.
4 Kami dapat membandingkan antara teori yang didapat di sekolah dengan Praktek Kerja
Lapangan yang sebenarnya di Apotek.
D. Ruang lingkup Pekerjaan kefarmasian
a. Pekerjaan kefarmasian
Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional.
b. Tugas seorang Apoteker
a. Memimpin seluruh kegiatan apotek, baik kegiatan teknis maupun non teknis kefarmasian
sesuai dengan ketentuan maupun perundangan yang berlaku.
b. Mengatur, melaksanakan dan mengawasi administrasi.
c. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai
dengan rencana kerja dengan cara meningkatkan omset, mengadakan pembelian yang sah dan

penekanan biaya serendah mungkin.


d. Melakukan pengembangan usaha apotek.
( Pengertian dan tanggung jawab apoteker ( 2010) )
C. Tugas seorang asisten apoteker
a. Melayani obat atau menarik obat untuk pasien sesuai dengan resep dokter
b. Memberi informasi tentang penggunaan obat secara tepat dan tentang khasiat obat kepada
pasien dengan jelas.
c. Mengatur penyimpanan atau pemasukan obat dari PBF dan juga pengeluaran oleh bagian
peracikan.
d. Memberi harga pada resep yang baru masuk
E. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan PKL Apotek
Waktu dan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di Apotek Tidar Farma Balikpapan
adalah kurang lebih selama satu bulan yaitu terhitung sejak tanggal 1 agustus 2011 samapai
denga 27 agustus 2011.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Apotek
Menurut Peraturan Menteri No.1332/Menkes/SK/X/2002, yang menyatakan bahwa apotek adalah
salah satu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan
farmasi dan perbekalan farmasi kepada masyarakat.
(Anonim, Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, 2002).
Menurut PP no. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13 Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian
tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker.
B. Peraturan Perundang-undangan di bidang Apotek.
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku tentang perapotekan sesuai Keputusan Menteri
Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002 adalah sebagai berikut:
a. Apoteker adalah sarjana Farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan
apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berhak
melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai Apoteker.
b. Surat Izin Apotek (SIA) adalah Surat Izin yang diberikan oleh menteri kepada apoteker atau
apoteker bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA) untuk menyelenggarakan apotek
disuatu tempat tertentu.
c. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin apotek
d. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola
Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.
e. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama
Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada ditempat lebih dari 3 bulan secara terus
menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek

lain.
f. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan Perundang-undangan yang
berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker.
g. Resep adalah Permintaan tertulis dari Dokter, Dokter Gigi, dan Dokter Hewan kepada
Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
h. Sedian farmasi adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia, alat kesehatan dan kosmetika.
i. Alat Kesehatan adalah Instrumen Aparatus, mesin, Implan yang tidak mengandung obat yang
digunakan untuk mencegah, mengdiagnosis, menyembuhkan, dan meringankan penyakit,
merawat orang sakit serta pemulihan kesehatan manusia, dan atau membentuk struktur dan
memperbaiki fungsi tubuh.
j. Perbekalan Kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk
menyelenggarakan semua peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan pengelolaan
Apotek.
(Anonim, Ketentuan dan Tata cara Pemberian Izin Apotek, 2002)
Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di Apotek, Apoteker Pengelola Apotek dibantu oleh
Asisten Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja. Keputusan Menteri Kesehatan No.
679/MENKES/SK/V/2003, tentang peraturan registrasi dan izin kerja Asisten Apoteker :
a. Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan yang berijazah Sekolah Asisten Apoteker atau
Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi, dan Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan,
Akademi Analisis Farmasi dan Makanan, Jurusan Analisis Farmasi serta Makanan Politeknik
Kesehatan sesuai dengan Peraturan Perundang- undangan yang berlaku.
b. Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis atas kewenangan yang diberikan kepada
pemegang Ijazah Sekolah Asisten Apoteker atau Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi
dan Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan, Jurusan
Analisis Farmasi serta Makanan Politeknik Kesehatan untuk menjalankan Pekerjaan
Kefarmasian sebagai Asisten
c. Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis yang diberikan
kepada pemegang Surat Izin Asisten Apoteker untuk melakuka pekerjaan kefarmasian disarana
kefarmasian.
d. Sarana Kefarmasian adalah tempat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
antara lain Industri Farmasi termasuk obat Tradisional dan kosmetika, Instalasi Farmasi, Apotek,
dan toko obat.
(Anonim, Izin Kerja Asisten Apoteker, 2003)
Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No.51 tahun 2009 Tentang pekerjaan kefarmasian
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,

bahan
obat dan obat tradisional.
2. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.
3. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
4. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untukmeningkatkan mutu kehidupan pasien.
5. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker.
6. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani
Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi,
dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
C. Pengelolaan Apotek
Pengolahan apotek meliputi :
a. Pembuatan pengolahan peracikan,pengubahan bentuk,pencampuran,penyimpanan, dan
pengerahan obat serta bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya
c.Pelayanan informasi tentang mengenai perbekalan farmasi, yang meliputi :
Pelayanan informasi tentang obatdan perbekalan lainnya yang di berikan kepada dokter dan
tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat.
pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya.
Pelayanan informasi yang di maksud di atas wajib di dasarkan pada kepentingan masyarakat..
Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan perbekalan farmasi yang
bermutu dan keabsahannya terjamin. Obat dan perbekalan farmasi karena suatu hal tidak di
gunakan. Lagi atau di larang di gunakan harus di musnahkan dengan cara di bakar atau di
tanam atau cara lain yang di tetapkan oleh Dirjen POM. Pemusnahan di lakukan oleh apoteker
pengelola apotek. Pada pemusnahan wajb di buat berita acara pemusnahan.Pemusnahan
narkotika wajib mengikuti ketentuan perundang undangan yang berlaku.
D. Persyaratan Izin Apotek
1. Bangunan apotek
a. Bangunan apotik sekurang-kurangnya memiliki ruangan untuk :
1. Penerimaan resep dan penyerahan obat
2. Ruang racik
3. Ruang administrasi dan ruang kerja apoteker
4. Ruang tempat pencucian alat/wastafel
5. WC
b. Kelengkapan bangunan apotik terdiri atas :

1. Sumber Air : bisa berasal dari sumur/PAM/sumur pompa


2. Penerangan : cukup menerangi ruangan apotik
3. Alat pemadam kebakaran
4. Ventilasi : harus memenuhi persyaratan hygiene
5. Sanitasi : harus memenuhi persyaratan hygiene
c. Papan Nama
Apotik harus punya papan nama apotik yang berukuran panjang minimal 60 cm dan lebar
minimal 40 cm dengan tulisan hitam di atas dasar putih, tinggi huruf minimal 5 cm dan lebar
minimal 5 cm.
2. Perlengkapan apotek
a. ALat Pembuatan, pengolahan dan peracikan
Terdiri dari mortir, timbangan, thermometer, gelas ukur, erlenmayer, gelas piala, corong, cawan,
dan lain-lain :
b. Perlengkapan dan alat perbekalan farmasi
Terdiri dari lemari pendingin, rak obat, botol, pot salep, dll
c. Wadah Pengemas dan Pembungkus
Terdiri dari etiket, wadah pengemas dan pembungkus untuk penyerahan obat
d. Perlengkapan administrasi
Blanko pesanan obat, blanko kartu stok, blanko salinan resep, blanko faktur, blanko nota
penjualan, buku pembelian, buku penerimaan, buku pengiriman, buku kas,buku penerimaan dan
pengeluaran narkotika dan psikotropika, form laporan-laporan obat serta alat tulis kantor lainnya
e. Buku standar yang diwajibkan
Misal Farmakope, Iso edisi terbaru dan kumpulan peraturan perundangan lain
f. Tempat penyimpanan narkotika
3. Tenaga Apotek
Tenaga apotik terdiri atas Apoteker, Asisten Apoteker, Bagian administrasi dan keuangan,
pembantu umum/keamanan, juru racik dan tenaga lain yang diperlukan. ( Apotek Sehat (2010) )
E. Pelayanan Resep
a. Dalam resep harus memuat :
1. Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi dan dokter hewan.
2. Tanggal penulisan resep ( Inscriptio)
3. Tanda R/ pada bagian kiri pada setiap penulisan resep. Nama setiap obat atau komposisi obat
(invecatio)
4. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)
5. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep atau sesuai dengan perundang undangan yang
berlaku (subscriptio)
6. Jenis hewan dan nama atau serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan.
7. Tanda seru atau paraf dokter untuk resep yang mengandung obat melebihi dosis maksimal.
Resep yang mengandung narkotika harus di tulis tersendiri yaitu tidak boleh ada iterasi
(ulangan), di tulis nama pasien tidak boleh m.i = mihi ipsi =untuk dipakai sendiri, alamat pasien
dan aturan pakai harus jelas , tidak boleh di tulis sudah tahu pakai nya (usus cognitus).

Untuk penderita yang segera memerlukan obatnya,Dokter menulis bagian kanan atas resep :
Cito, Statim, Urgent, P.I.M = periculum in mora= berbahaya bila di tunda. Resep ini harus di
layani terlebih dahulu.
b. Copy resep atau salinan resep
Kopi resep ialah salinan tertulis dari suatu resep. Istilah lain dari kopy resep ialah apograph ,
exemplum , atau afschrift. Salianan resep selain memuat semua keterangan yang termuat dalam
resep asli harus memuat pula :
a.Nama dan alamat apoek
b.Nama dan nomor S.I.K apoteker pengelola apotek.
c.Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotek.
d.Tanda det = detur untuk obat yang sudah di serahkan,atau tanda nedet = ne detur untuk obat
yang belum di serahkan.
e.Nomor resep dan tanda pembuatan .
Dalam copy resep juga mencangkup hal :
i. Salinan resep harus di tanda tangani Apoteker. Apabila apoteker pengelola apotek
berhalangan,penanda tanganan atau paaf pada salinan resep dapat di lakukan oleh Apoteker
pendamping atau apoteker pendamping atau apoteker pengganti dengan mencantumkan nama
terang dan status yang bersangkutan.
ii. Resep harus di rahasiakan dan di simpan di apotek dengan baik selama waktu 3 tahun.
iii. Resep atau salinan resep hanya boleh di perlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang
membuat penderita-penderita yang bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang
berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Iv. Apoteker pengelola apotek, apoteker pendamping atau pengganti di izinkan untuk menjual
obat keras yang di sebut Daftar Obat Wajib Apotek tanpa resep yang telah di tetapkan oleh
menteri kesehatan.
c. Pengelola Resep Yang Telah Di kerjakan
a. Resep yang telah di buat di simpan menurut urutan tanggal dan nomor penerimaan
/pembuatan resep.
b. Resep yang mengandung narkotika harus di pisahkan dari resep lainnya, tandai garis merah di
bawah nama obat nya.
c. Resep yang telah di simpan melebihi tiga tahun dapat di musnahkan dan cara
pemusnahannya adalah dengan cara di bakar atau dengan cara lain yang memadai.
d. Pemusnahan resep di lakukan oleh apoteker pengelola bersama dengan sekurang-kurangnya
seorang ptugas apotek.
Pada pemusnahan resep harus di buat dengan berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk
yang telah di tentukan dalam rangkap empat dan di tandatangani oleh apoteker pengelola apotek
dan seorang petugas apotek yang ikut memusnahkan.

Berita acara pemusnahan ini harus di sebutkan :


a.Hari dan tanggal pemusnahan
b.Tanggal yang terawal dan terakhir dari resep
c.Berat resep yang di musnahkan dalam kilogram.
F. Penyimpanan Dan Pelaporan Narkotika Dan Psikotropika
Penyimpanan Dan Pelaporan narkotika Psikotropika
Pengertian Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis
maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Pengertian Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah atau sintesis, bukan narkotika yang berkasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada system saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktifitas mental dan prilaku.
Pengaturan
pengaturan narkotika psikotropika bertujuan untuk :
a. Menjamin ketersediaan narkotika dan psikotropika untuk kepentingan pelayanan kesehatan
dan pengembangan ilmu pengetahuan.
b. Mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika dan psikotropika
c. Memberantas peredaran gelap narkotika danpsikotropika.
Narkotika dan psikotropika hanya dapat di pergunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan
dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Narkotika dan psikotropika golongan 1 hanaya dapat di pergunakan untuk kepentingan
pengembangan ilmu pengetahuan dan di larang di gunakan untuk kepentingan lainnya
Penyimpanan
Narkotika yang berada dalam penguasaan importir, eksportir, pabrik obat, pedagang besar
farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas
balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib di simpan secara khusus.
Pabrik farmasi, importir dan PBF yang menyalurkan narkotika harus memiliki gudang khusus
untuk menyimpan narkotika dengan persyaratan sebagai berikut :
a. Dinding terbuat dari tembok dan hanya mempunyai 1 pintu dengan 2 buah kunci yang kuat
dengan merk yang berlainan.
b. Langit-langit dan jendela di lengkapi dengan jeruji besi .
c. Di lengkapi dengan lemari besi yang beratnya tideak kurang dari 150 kg serta harus
mempunyai kunci yang kuat.

Apotek dan rumah sakit harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika dan
psikotropika dengan persyaratan sebagai berikut:
Harus terbuat dari kayu dan bahan lain yang kuat ( tidak boleh terbuat dari kaca )
Harus mempunyai kunci yang kuat
Di bagi 2 bagian, masing-masing dengan kunci yang berlainan.
Bagian pertama di gunakan untuk menyimpan morfin, petidin, serta persediaan narkotika,
sedangkan bagian kedua di pergunakan untuk menyimpan narkotika dan psikotropika lainnya
yang di gunakan sehari-hari.
Bila lemari ukluran kurang dari 40cm x 80cm x 100cm di buat pada tembok atau lantai. Lemari
khusus tidak boleh di gunakan untuk menyimpan barang lainnya. Kunci lemari harus di kuasai
oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang di kuasakan . tempat penyimpanan harus aman
dan tidak di lihat oleh umum.
Pelaporan
Importir, eksportir,pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi
pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter,dan lembaga ilmu
pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan penyimpanan laporan berkala,pemasukan
dan atau pengeluaran narkotika dan psikotropika.
Laporan di buat secara rutin setiap bulan oleh pabrik, PBF, apotek dan rumah sakit yang di
kirimkan/ di tujukan kepada kepala Suku Dinas Kesehatan Kotamadya/ kabupaten/Dati II dengan
tembusan kepada :
1. Kepala BPOM setempat
2. Kepala Dinas Kesehatan Tingkat Provinsi
3. Arsip yang bersangkutan.
Penyerahan
1.Penyerahan narkotika dan psikotropika hanya dapat di lakukan oleh apotek, rumah sakit,
puskesmas,balai pengobatan dan dokter
2. Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada rumah sakit , puskesmas, apotek
lainnya,balai pengobatan, dokter dan pasien.
3. Rumah sakit, apotek, puskesmas, dan balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika
kepada pasien berdasarkan resep dokter.
Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dapat di laksanakan dalam hal :
a. Menjalankan praktek dokter dan di berikan melalui suntikan.
b. Menolong orang sakit dalam keadeaan darurat melalui suntikan atau
c. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang di serahkan dokter hanya dapat di
peroleh dari apotek.
Pemusnahan
Pemusnahan narkotika dan psikotropika di lakukan apabila :
1. Di produksi tanpa memenuhi standard an persyaratan yang berlaku dan/ atau tidak dapat di

gunakan dalam proses produksi.


2. kadaluarsa
3. Tidak memenuhi syarat untuk di gunakan pada pelayanan kesehatan dan atau untuk
pengembangan ilmu pengetahuan atau :
4. Berkaitan dengan tindak pidana.
Pemusnahan narkotika dan psikotropika dimlaksanakan oleh orang atau badan yang
bertanggung jawab atas produksi dan peredaran narkotika yang di saksikan oleh pejabat yang
berwenang dan membuat berita acara pemusnahan yang membuat antara lain :
a. Hari, tanggal, bulan dan tahun
b. Nama pemegang izin khusus ( APA/ Dokter)
c. Nama saksi ( 1 orang dari pemerintah dan 1 oang dari badan/ instansi yang bersangkutan)
d. Nama dan jumlah narkotika yang di musnahkan
e. Cara pemusnahan
f. Tanda tangan penanggung jawab apotik/ pemegang izin khusus/ dokter pemilik narkotik dan
saksi-saksi
BAB III
APOTEK TIDAR FARMA
A. SEJARAH APOTEK.
Apotek Tidar pertama kali berdiri tahun 1999. Nama Tidar di ambil dari mertua pemilik Apotek
Tidar yang menempuh pendidikan tentara di daerah gunung tidar sekitar tahun 1963.
Awalnya Apotek tidar belum mempunyai tempat sendiri, hanya di tempat kontrakan yang kecil.
Karena terbilang baru maka pembelinya hanya sedikit. Biasanya orang-orang sekitar membeli
obat di toko-toko obat yang ada. Setelah kurang lebih 5 tahun pemilik apotek ini membeli tanah
dan mencoba membuat tempat apotek sendiri, yaitu di Jl. M. Iswahyudi No. 18,sepinggan.
hingga saat ini masyarakat sudah banyak yang mengenal Apotek Tidar Farma. Apotek ini juga
bekerja sama dengan dokter-dokter yang membuka praktek di sini, selain itu apotek ini juga
mempunyai laboratorium sendiri sebagai sarana penunjang kesehatan.
B. Pelayanan Apotek
Pelayanan obat ada dua jenis yaitu:
a. Pelayanan dengan resep dokter
Ialah resep yang masuk diterima , untuk mencegah terjadinya kekeliruan diperjalas nama dan
alamatnya, kemudian diberi harga, dilayani, diperiksa kembali dan diserahkan pada pasien
denagan memberi informasi tentang cara penggunaan dan khasiat obat tersebut.
Di Apotek Tidar Farma juga melayani resep-resep seperti :
Resep dokter umum
Resep dokter gigi
Resep JPK-PNS

Resep JPK-Olahraga
Resep INHEALTH
Resep Jamsostek
Jamsostek merupakan suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa
uang sebagai pengganti dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai
akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit,
hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.
Jamsostek dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan menjaga harkat dan martabat
serta harga diri tenaga kerja dalam menghadapi risiko sosial ekonomi. Sedangkan tujuan
jamsostek adalah mengurangi ketidakpastian masa depan tenaga kerja yang akan menunjukan
ketenangan sehingga dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
JPK adalah salah satu program Jamsostek yang membantu tenaga kerja dan keluarganya
mengatasi masalah kesehatan. Mulai dari pencegahan, pelayanan di klinik kesehatan, rumah
sakit, kebutuhan alat bantu peningkatan fungsi organ tubuh, dan pengobatan, secara efektif dan
efisien. Setiap tenaga kerja yang telah mengikuti program JPK akan diberikan KPK (Kartu
Pemeliharaan Kesehatan) sebagai bukti diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Manfaat JPK bagi perusahaan yakni perusahaan dapat memiliki tenaga kerja yang sehat, dapat
konsentrasi dalam bekerja sehingga lebih produktif.
b. Pelayanan obat tanpa resep dokter
Pelayanan obat yang termasuk dalam golongan obat bebas dan obat bebas terbatas yang
disertai informasi cara penggunaanya.
C. Perencanaan Dan Pengadaan Obat
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan dasar tindakan manejer untuk dapat menyelesaikan tugasnya dengan
baik. Dalam perencanaan pengadaan sedian farmasi seperti obat-obatan dan alat kesehatan
yang dilakukan adalah pengumpulan data obat-obatan yang akan di tulis dalam buku defacta.
Sebelum perencanaan di tetapkan, umumnya di dahulukan oleh prediksi atau ramalan tentang
peristiwa yang akan datang.
2. Pengadaan
Pengadaan biasanya di lakukan berdasarkan perencanaan yang telah di buat dan di sesuaikan
dengan anggaran keuangan yang ada. Pengadan barang meliputi: pemesanan, cara
pemesanan, mengatasi kekosongan dan pembayaran.
a. Pemesanan barang atau order dilakukan oleh asisten apoteker berdasarkan catatan yang ada
dalam buku habis berisi catatan barang-barang yang hampir habis atau yang sudah habis di
apotek.
b. Cara pemesanan barang dilakukan dengan menuliskan surat pesanan (SP). Selain narkotika
dan psikotropika meliputi tanggal, nomor pesanan, kode supplie, nama barang, satuan barang,
dan jumlah barang. SP akan diambil selesman dari masing-masing PBF, apabila selesman PBF
tidak datang order bisa dilakukan melalui telpon (untuk obat selainnarkotika dan psikotropika)
c. Mengatasi pemesanan obat akibat waktu antara pemesanan dan kedatangan barang yang
lama.
d. Pembayaran dapat dilakukan dengan cara COD (Cast on delivery) atau kredit.
3. Penerimaan Obat

Penerimaan barang harus dilakukan dengan mengecek kesesuain barang yang datang dengan
faktur dan SP. Kesesuain meliputi : nama barang, jumlah barang, satuan, harga, diskon, dan
nama PBF serta mengecek masa kadaluarsanya. Faktur di periksa tanggal pesan dan tanggal
jatuh temponya, lalu di tanda tangani dan di cap oleh Apoteker pengelola Apotek (APA) atau
Asisten Apoteker (AA), yang mempunnyai SIK. Kemudian faktur yang sudah di tanda tangani
tersebut di masukkan kedalam format pembelian.
4. Pencatatan Keuangan Dan Perbekalan Farmasi
Keuangan meliputi adminitrasi untuk uang masuk, uang keluar , buku harian penjualan. Catatan
mengenai uang masuk meliputi laporan penjualan harian sedangkan uang yang keluar tercatat
dalam buku pengeluaran apotek.
5. Penataan dan Penyimpanan obat
Obat dan bahan obat harus di simpan dalam wadah yang cocok dan harus memenuhi ketentuan
pengemasan dan penandaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penyimpanan obat di golongkan berdasarkan bentuk bahan baku seperti : bahan padat di
pisahkan dari bahan cair atau bahan yang setengah padat di pisahkan dari bahan cair. Hal ini
bertujuan untuk menghindarkan zat-zat yang bersifat higroskopis demikian pula halnya terhadap
barang-barang yang mudah terbakar dan obat-obat yang mudah rusak dan meleleh pada suhu
kamar. Penyimpanan dilakukan dengan cara/ berdasarkan nama penyakit, khasiat obat, dan
nama generik dan paten untuk memudahkan pengambilan obat saat diperlukan.
Penyimpanan barang di Apotek Tidar Farma secara umum digolongkan menjadi tiga yaitu :
a). Obat Bebas, Generik / Obat Paten, Obat non Narkotik dan Obat lain yang tidak memerlukan
kondisi penyimpanan tertentu, disusun secara Alphabeth juga dibedakan berdasarkan bentuk
sediaannya.
b). Obat-obat yang memerlukan kondisi penyimpanan pada suhu yang dingin disimpan dalam
lemari Es, Misalnya : Suppositoria, Injeksi tertentu, dan beberapa obat lainnya
c). Obat Narkotika dan Psikotropika, disimpan dalam lemari khusus dan sesuai dengan
ketentuannya.
D. Perlengkapan Apotek
a. Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan obat seperti Mortir dan stemper
b. Perlengkapan dan alat perbekalan farmasi seperti : botol, lemari atau rak penyimpanan obat,
dan lemari pendingin.
c. Wadah pengemas atau pembungkus antara lain: ektiket, wadah pengamas dan pembungkus
dengan jenis ukuran yang sesuai dengan kebutuhan.
d. Alat administrasi seperti: kartu stock obat, salinan resep, kwaitansi, blanko faktur dan nota
penjualan, buku pembelian, buku penjualan, buku pengeluaran dan pemasukan apotek.
e. Buku standar yang ada seperti: ISO, Buku daftar obat JPK
E. Instansi Kerja Sama
1. PT. Bina San Prima

2. PT. Penta Valent


3. PT. Indo Usaha Sejati
4. PT. Tri Sapta Jaya
5. PT. Fertomulia Pratama
6. PT. Cempaka Indah Murni
7. PT. Antarmitra Sembada
8. PT. Merapi Utama Pharma
9. PT. Kallista Prima, dll
BAB IV
KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
A. Pengertian
Yang di maksud kegiatan PKL di sini adalah suatu kegiatan praktek langsung ke lapangan yang
di lakukan di suatu tempat atau instansi terkait sesuai bidangnya yang bertujuan untuk
menambah keterampilan dan ilmu pengetahuan dan mengetahui secara mendalam aktifitas
secara langsung dari pada instansi / tempat kerja tersebut.
B. Aktifitas di Apotek
Selama di Apotek Tidar Farma Balikpapan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang kami lakukan
serta ilmu-ilmu pengetahuan baru yang kami peroleh. Selain mengetahui tugas seorang asisten
apoteker di PBF serta kewajiban dan larangan-larangannya, kami juga mendapat pengetahuan
baru mengenai seluk beluk PBF yang lebih jelas dan terperinci.
Kegiatan yang kami lakukan selama PKL antara lain :
1. Melakukan Pelayanan Resep.
Pelayanan dengan resep dokter
Ialah resep yang masuk diterima , untuk mencegah terjadinya kekeliruan diperjalas nama dan
alamatnya, kemudian diberi harga, dilayani, diperiksa kembali dan diserahkan pada pasien
denagan memberi informasi tentang cara penggunaan dan khasiat obat tersebut.
b. Pelayanan obat tanpa resep dokter
Pelayanan obat yang termasuk dalam golongan obat bebas dan obat bebas terbatas yang
disertai informasi cara penggunaanya.
2. Memberi info obat ke pasien.
Pada saat penyerahan obat, info obat sangat lah penting yaitu pemberitahuan kepada pasien
mengenai kasiat obat, aturan pemakaian dan cara pemakaiannya seperti sesudah maupun
sebelum makan
3. Mengisi Kartu stok Obat.
Ketika ada obat yang keluar dilakukan pencatatan sejumlah obat yang di keluarkan, begitu juga
dengan adanya barang masuk dilakukan pencatatan juga. Hal ini bertujuan agar kita mengetahui
jumlah obat yang tersisa dengan mudah tanpa harus menghitung jumlah obatnya.

Pengisian kartu stock ini di lakuakan berdasarkan tanggal keluar atau masuknya barang, dan
keterangan lainnya yang di anggap penting, serta mengisi kolom paraf bagi siapa saja yang
melakukan pengeluaran dan pemasukan barang.
4. Meracik obat
Setiap ada resep yang menggunakan resep racikan, maka di lakukan peracikan obat tersebut.
Obat yang di racik jumlahnya harus benar, dilakukannya perhitungan bahan agar mengetahui
jumlah obat yang akan di racik.
5. Memberi harga obat.
Barang yang datang dari PBF kemudian di beri harga, sesuai dengan harga yang tercantum
pada faktur kemudian di kalikan dengan PPN jika terdapat PPN dalam faktur tersebut, kemudian
di kalikan dengan laba yang telah di tentukan oleh apotek.
6. Menyusun obat
Penyusunan obat di simpan berdasarkan tempat yang telah di tentukan.
Dalam apotek ini peletakan obat di susun berdasarkan alfabeth.
BAB V
PEMBAHASAN
1. Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan
tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, selain itu juga sebagai tempat
pengabdian dan peraktek profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.
2. Fungsi apotek adalah menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk
mencapai derajat kesehatanyang optimal dari fungsi yang pertama ini seorang farmasis harus
hadir dengan wajah yang sangat sosial penuh etika dan moral.
Selain itu fungsi dan tugas Apotek adalah :
a. Tempat pengabdian tenaga farmasi
b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan,pengubahn bentuk,pencampuran dan
penyerahan obat dan bahan obat.
c. Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan
masyarakat secara meluas dan merata.
( Farmasetika dasar 2005 )
Beberapa Pembahasan mengenai pengertian Obat :
Obat
Obat adalah bahan atau panduan yang dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosa, mencegah,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit, gejala penyakit, luka, kelainan badaniah atau
rohaniah pada manusia atau hewan untuk memperelok bahan atau bagian badan manusia.
Obat Bebas
Obat yang dapat dibeli dengan bebas dan tidak membahayakan bagi si pemakai dalam batas
dosis yang dianjurkan dan diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam.

Obat Bebas Terbatas


Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen /
pabriknya dan diberi tanda bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi peringatan (P
no. 1 s/d P no.6)
Obat Keras
Obat keras adalah semua obat yang meliputi :
a. Mempunyai takaran atu dosis maksimum (DM) / yang tercantum dalm daftar obat keras yang
ditetapkan pemerintah.
b. Diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi hitam dan huruf K
yang menyentuh garis tepinya.
c. Semua obat baru kecuali dinyatakan oleh pemerintah (DEPKES RI) tidak membahayakan.
d. Semua sediaan parental/ injeksi/ infus intravena.
Psikotropika Merupakan:
Obat yang mempengaruhi proses mental, merangsang, atau menenangkan, mengubah pikiran,
perasaan, atau kelakuan orang. Minsalnya golongnan ekstasi, diazepam, barbital atau luminal.
Narkotika
Obat yang diperlukan dalam bagian pengobatan dan IPTEK yang dapat menimbulkan
ketergantungan dan ketagihan (adiksi) yang ssangat merugikan masyarakat dan individu jika
digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter.
Misalnya : Candu/opium, morfin,petidin,metadon,kodein, dll
Obat wajib apotek
Obat wajib apotek (OWA) adalah obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter oleh apoteker
di apotek
Obat generik
Obat yang penamaannya didasarkan pada zat aktif yang terdapat pada obat tersebut dan
mempergunakan merek dagang.
Obat Generik Berlogo
Obat esensial yang tercantum dalam daftar obat esensial (DOEN) yang mutunya terjamin karena
diproduksi sesuai dengan persyaratan cara pembuatan obat yang baik (CPOB) dan diuji ulang
oleh Pusat Pemeriksa Obat dan Makanan Departemen Kesehatan.
Obat paten
Obat paten adalh obat yang menggunakan merek atau nama dagang tertentu
Misalnya : mycoral, mefinal, ketekonazole, captopril,cefadroxil dll.
Jamu
Bahan atau ramuan bahan yang merupakan bahn tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral
sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun - temurun telah
digunakan untuk pengobatan secara pengalaman.
Fito Farmaka
Adalah klim khasiat telah dibuktikan berdasarkan uji klinis dan telah di lakukan standarisasi
terhadap bahan baku yang yang digunakan dalam produk jadi.
BAB VI
PEN UTUP

KESIMPULAN
Dari hasil Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di Apotek Tidar Farma Balikpapan selama kurang
lebih satu bulan dapat kami simpulkan :
Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan dibidang kefarmasian melalui
keahlian yang diperolehnya selama pendidikan tinggi kefarmasian. Sifat kewenangan yang
berlandaskan ilmu pengetahuan ini memberinya semacam otoritas dalam berbagai aspek obat
atau proses kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Farmasi sebagai
tenaga kesehatan yang dikelompokkan profesi, telah diakui secara universal. Lingkup
pekerjaannya meliputi semua aspek tentang obat, mulai penyediaan bahan baku obat dalam arti
luas, membuat sediaan jadinya sampai dengan pelayanan kepada pemakai obat atau pasien.
Menurut Peraturan Menteri No.1332/Menkes/SK/X/2002, yang menyatakan bahwa apotek adalah
salah satu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan
farmasi dan perbekalan farmasi kepada masyarakat.
(Anonim, Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, 2002
Pengolahan apotek meliputi :
a. Pembuatan pengolahan peracikan,pengubahan bentuk,pencampuran,penyimpanan, dan
pengerahan obat serta bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya
c. Pelayanan informasi tentang mengenai perbekalan farmasi.
B. SARAN
Sebagai akhir dari penulisan ini maka kami in gin menyampaikan saran-saran yang di harapkan
berguna untuk apotek, sekolah dan siswa-siswi Smk Farmasi. Adapun saran yang dapat kami
berikan antara lain :
Saan untuk Apotek
1. Apotek Tidar Farma di harapkan dapat lebih meningkatkan pelayanannya agar dapat menjadi
Apotek yang lebih maju, lebih besar dan di kenal banyak pihak.
2. Semoga Kerja sama antara Apotek Tidar Farma dengan pihak SMK Farmasi Samarinda dapat
terus di pertahankan untuk tahun-tahun selanjutnya.
Saran untuk sekolah
1. Sebaiknya pembekalan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan PKL lebih di
perbanyak dan di perluas sehingga siswa dan siswi lebih mantap dalam melaksanakan PKL.
Saran untuk siswa-siswi yang melaksanakan PKL :
1.Sebaiknya siswa/ siswi yang hendak melaksanakan PKL kiranya bisa menguasai pelajaran
kefarmasian khususnya sinonim, mengetahui nama-nama obat baik generic maupun paten serta
pengetahuan mengenai cara pemakaian komputer.
2.Hendaknya siswa/siswi PKL dapat lebih disiplin, menjaga sikap dan mengikuti segala atruran
yang telah di tetapkan oleh instalasi yang menjadi tempat PKL.