Anda di halaman 1dari 22

SKENARIO A BLOK 8

Miss A 25 years old. Her BW is 72 kg and height is 154 cm.She always exercises
(aerobic running & Swimming) around 2 hours( one hour in the Morning and one
hour in the Evening) everyday, and she scares to eat fat and protein, she only eat
fruits and vegetables and rice. She also drinks slimming tea everyday, her BW
decreases 16 kg in two months (formerly her BW =. 88 kg).Now she always feels
tired and always suffers from common cold. Her menstrual cycle also delayed and
Iregular. Skin fact calipers show that her lipid content 4%. Both of her parents are
obese. She went to a family doctor for consultation
The Result of Physical exams: BP : 140/90 mmHg ; RR = 24 X/minute. Pulse Rate:
94x/minute

The doctor asked her to check up the blood in laboratory.

The result: Hb : 10.5 g/dl, MCV = 70 f MCH = 25pg ;


Ureum : 39 mg/dl , Creatinine 1.3 mg/dl
BSN : 110mg/dl

, HbA1c

; Uric acid : 5 mg/dl

: 6.2 %

Total Kolesterol : 120 mg/dl, HDL : 50 mg/dl , LDL : 90mg/dl


Na(Sodium) : 120 mEq/L

, K (Potasium) : 2,8 mEq/L

KLARIFIKASI ISTILAH
1. Aerobic Exercise = latihan fisik yang diciptakan untuk konsumsi oksigen serta
meningkatkan fungsi sistem kardiovaskuler dan respirasi
2. Fat = jaringan adiposum pembentuk bantalan lembut diantara organ
berperan dalam menghaluskan dan membulatkan kontur tubuh serta
menyediakan cadangan tenaga
3. Protein = senyawa polimer yang tersusun dari asam amino
4. Slimming Tea = teh pelangsing tubuh yang bekerja dengan cara diuresis
5. Common Cold = terjadiinfeksi virus yang menyerang saluran pernafasan atas
terutama di bagian hidung (nasopharingitis, rhynopharingitis, dll)
6. Skin Fact Calipers = alat untuk mengukur ketebalan lapisan lemak di bawah
kulit
7. Obese= peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan rangka dan fisik
sebagai akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh
8. Hypochrome Mycocyter Anemia = Anemia yang ukuran sel darah merah yang
mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal

9. Hypopotassium = kadar potassium dalam plasma rendah


10.Hyposodium= kadar sodium dalam plasma rendah
11.Hb = pigmen pembawa oksigen, dibentuk oleh eritrosit yang berkembang
dalam sum-sum tulang dan merupakan 4 rantai polipeptida globin yang
berbeda dan terdiri dari beberapa ratus asam amino
12.MCV = volume eritrosit rata-rata (82-92 f)
13.MCH =Hb eritrosit rata-rata (27-31 pg/sel)
14.BSN = kadar gula sewaktu ( < 200 mg/dl)
15.Hb A1c = glycated hemoglobin-bentuk hemoglobin yang diukur untuk
mengetahui konsentrasi rata-rata glukosa plasma(4-6%)
16.Kolesterol = eukariotik sterol yang merupakan precursor asam empedu dan
hormone steroid.
17.HDL = kompleks llipid dan apolipoprotein , bentuk lipid yang diangkut dalam
darah yang merupakan kelas lipoprotein plasma yang mempercepat
transport kolesterol dari jaringan ekstra hepatic ke hati untuk diekskresikan
dalam empedu
18.Ldl = kelas lipoprotein plasma yang mengangkut kolesterol ke jaringan
ekstra hepatik
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Nyonya A 25 tahun (BB 72 kg, TB 154 cm)
2. Ny. A selalu olahraga aerobic(lari dan renang) selama 2jam setiap hari,
3. Ny. A hanya mengonsumsi buah-buahan, sayur, dan nasi, minum slimming tea
setiap hari, BB turun 16 kg selama 2 bulan ( sebelumnya BB 88 kg).
4. Ny. A selalu lelah dan mudah terserang fu
5. Siklus menstruasi Ny. A telat dan tidak teratur
6. Skin fact calipers menunjukkan kandungan lipid 4%
7. Kedua orangtuanya mengalami obesitas
8. Dokter mendiagnosa bahwa Ny. A menderita hypochrome mycrocyter anemia
dan hiipopotassium7 hiposodium.
9. Pemeriksaan fisik: BP = 14-/90 mm/Hg; PR : 94 x/menit
10. Pemeriksaan Lab :
ANALISIS MASALAH
1. A) Berapa nilai BMI Nyonya A?
B)Bagaimana interpretasi nilai BMI NY. A ?(kategori BMI)
2. A) Berapa lama durasi olah raga aerobic yang dianjurkan dalam sehari untuk
Ny. A?
B) Bagaimana frekuensi olahraga aerobic yang benar untuk Ny. A?
C) Kapan waktu olahraga aerobic yang dianjurkan ? Apakah waktu olahraga
Ny. A sudah tepat?
D) Bagaimana dampak olahraga yang dilakukan Ny. A?
E) Bagaimana manfaat olahraga aerobic yang dilakukan dengan benar?
F) Bagaimana pengaruh olah raga aerobic terhadap metabolism tubuh?

G) saat melakukan olahraga aerobic, zat apa yang dibakar ? lalu dari mana
sumber zat tsb didapatkan bila asupan nutrisi Miss A kurang?
H) berapa kalori yang dikeluarkan saat melakukan olahraga aerobic?
3.
A. Apakah fungsi lemak, protein, vitamin, karbohidrat, dan minaeral?
B. Berapa kebutuhan normal per hari lemak, protein, vitamin, karbohidrat, dan
minaeral?
C. Bagaimana dampak kelebihan dan kekurangan lemak, protein, vitamin,
karbohidrat, dan minaeral terhadap metabolism tubuh?
D. Apa pengaruh asupan makanan terhadap kesimbangan asam basa tubuh ?
bagaimana kondisi keseimbangan asam basa tubuh Miss A ?
E. bagaimana metabolisme dan pengangkutan KH, Lipid, Protein d dalam tubuh?
F. berapa Basal Metabolic Rate Miss A seharusnya?
G. komposisi slimming tea
H. cara kerja st (mekanisme nya ya dia sbg pencahar dan dieresis )
I. Bagaimana dampak st (kaitkan juga dengan cairan tubuh dan keseimbangan
asbas)
J. Berapa frekuensi konsumsi st yang benar?
K. apakah normal penurunan 16 kg bb dalam 2 bulan?
L. Bagaimana pengaruh penurunan bb terhadap metabolism tubuh ?
M. Bagaimana cara penurunan berat badan yang sesuai ?
4.
A. Bagaimana hubungan antara pola hidup (diet dan olahraga) dengan mudah
lelah
B. Bagaimana hubungan antara pola hidup (diet dan olahraga) dengan mudah
terserang fu?
C. Apa dampak diet terhadap system imunitas tubuh?
5.
A. Bagaimana hubungan antara pola hidup (diet dan olahraga) dengan siklus
menstruasi yang telat dan tidak teratur
B. Apa saja penyebab siklus menstruasi telat dan tidak teratur
C. Apakah ada dampak siklus menstruasi yang telat dan teratur terhadap
metabolism tubuh,jelaskan
6.

A. Bagimana interpretasi skin fact calipers Ny. A? (kadar normal , dampak)

7.
A. Apa hubungan kedua orang tua yang obese dengan kondisi Ny. A saat ini ?
B. Bagaimana pengaruh obesitas terhadap metabolism tubuh?
C. apakah ada hubungan antar obesitas dengan umur ? jenis kelamin ?

D. apa saja faktor penyebab obesitas? Lalu apa criteria seseorang dikatakan
obesitas?
8.
A. apa saja jenis-jenis anemia?
B. Apakah penyebab hypochrome mycrocyter anemia ?

Kekurangan zat gizi yang berperan dalam pembentukan hemoglobin, baik karena
kekurangan zat gizi atau gangguan absorbsi dalam hal ini kekurangan asupan besi heme
yang merupakan bagian dari hemoprotein seperti hemoglobin dan mioglobin yang
didapat dari protein hewani.

C. Bagaimana hubungan hypochrome mycrocyter anemia dengan pola hidup Ny.


A?

Nyonya A menghindari makanan yang mengandung lemak dan protein dan hanya
mengkonsumsi buah, sayur, dan nasi ini mengakibatkan Nyonya A kekurangan asupan zat
besi heme yang terutama berasal dari protein hewani. Zat besi heme ini berguna dalam
pembentukan hemoglobin. Karena terjadi defisiensi besi maka pembentukan hemoglobin
ini tidak maksimal dan menyebabkan ukuran sel darah merah mengecil disertai defisiensi
kandungan hemoglobin di dalam eritrosit.
Olahraga aerobic 2 jam sehari, di dalam tiap sel besi bekerja sama dengan rantai protein
pengangkut electron, yang berperan dalam langklah akhir metabolisme energy. Protein ini
memindahkan hydrogen dan electron yang didapat dari zat gizi penghasil energy ,
sehingga membentuk air. Dalam proses tersebut dihasilkan ATP. Karena aktifitas aerobic
memerlukan energy secara terus menerus sedangkan input zat besi berkurang untuk
menghasilkan ATP maka Ny.A cepat merasa lelah dan semakin memperburuk hypocrome
mycrosyter anemia yang dialaminya.

D. Bagaimana hubungan hipopotassium dan hiposodium dengan hypochrome


mycrocyter anemia ?
9. a. bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik Ny. A?

Nyonya A menderita hipertensi stadium 1 140/90


Tekanan darah pada dewasa ( JNC VII : JAMA 289:2560-72, 2003) :
Normal: < 120 mmHg / <80 mmHg
Prehipertensi: 120-139 mmHg / 80-89 mmHg
Hipertensi stadium 1: 140-159 mmHg / 90-99 mmHg
Hipertensi stadium 2: >160 mmHg / >100mmHg
Tekanan darah pada anak-anak adalah :
Pada umur 1 tahun: 102 mmHg / 55 mmHg

Pada umur 5 tahun: 112 mmHg / 69 mmHg


Pada umur 10 tahun: 119 mmHg / 78 mmHg
PR Nyonya A normal 94x/menit
Takikardia ( > 100 kali / menit ), brakikardi (<60 kali/menit)

10.

A. bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan laboratorium Ny. A?


Analisis

Nilai

Hasil lab

Lab

normal

Nn. MD

Kategori

Interpretasi
Anemia, akibat kekurangan

Hb

12-16 g/dl

10,5 g/dl

MCV

78-102 fl

70 fl

MCH

25-35 fl

25 pg

BSS
HbA1c
Total

<200 mg/dl
< 6,5 %

kolestero
l
HDL
LDL

Rendah

Rendah

asupan nutrient, baik


makronutrien maupun
mikronutrien
Ukuran RBC kecil,

Normal

defisiensi zat besi, anemia


Defisiensi micronutrient,

110 mg/dl
6,2 %

rendah
Normal
Normal

anemia
-

239 mg/dl

120 mg/dl

Rendah

50-60 mg/dl
90-159

50 mg/dl

Normal

90 mg/dl

Normal

mg/dl

Pola makan yang salah,


kekurangan nutrient tubuh

Hiponatremia, terjadi
Na

135-145

120

mEq/L

mEq/L

3,4-5,0
mEq/L

2,8 mEq/L

Rendah

kehilangan natrium
berlebihan, kandungan air

Sangat

dalam tubuh meningkat


Kurangnya asupan

rendah

makanan mengandung
kalium, terjadi kehilangan

kalium berlebihan lewat


urin
B. bagaimana keseimbangan asam basa Ny. A dalam kondisi ini? Jelaskan !
Obat pelangsing yang mengandung diuretic reabsorbsi air di dalam ginjal menurun urin
lebih cepat terkumpul dalam VU diuresis meningkat & juga dipengaruhi oleh penekanan
ADH.
Dalam artian jumlah urin yang dikeluarkan dalam sehari lebih dari biasanya. Batas normal
pengeluaran urin dalam 1 hari adalah sekitar 1-1.5 liter. Yang menjadi penyebab bisa saja
akibat diet ketat dan olahraga berat yang dilakukan oleh Ms. MD. Penggunaan protein
sebagai sumber energy saat olahraga berat karena cadangan glukosa yang menurun akibat
diet ketat, menyebabkan kadar sampah nitrogen lebih cepat meningkat, ditambah lagi jika
obat pelangsing yang dikonsumsi oleh Ny.A mengandung diuretic, yang fungsinya
mengurangi reabsorbsi air dalam ginjal, menyebabkan urin lebih cepat terkumpul dan sensasi
ingin miktruisi lebih sering terasa sehingga Ms. MD lebih sering buang air kecil.
Akibat diuresis yang berlebihan ini maka keseimbangan asam basa di dalam tubuh pun
terganggu. Karena pada saat BAK tidak hanya air saja yang dikeluarkan melainkan ion
elektrolit seperti sodium dan potassium ikut dikeluarkan dari tubuh sehingga mengganggu
komposis CIS dan CES.
C. apa hubungan diet rendah lemak dan protein terhadap sel darah merah
terutama hemoglobin ?

Protein dan lemak merupakan sumber zat besi heme yang berguna untuk pembentukan
hemoglobin. Jadi dengan melakukan diet rendah lemak dan protein maka pembentukan
hemoglobin oleh tubuh tidak berlangsung optimal selain itu jumlah hemoglobin dan
ukuran sel darah merah mengalami defisiensi sehingga menyebabkan oksigenasi ke
jaringan berkurang sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
KETERKAITAN ANTAR MASALAH
Ayo dibantu dipikir2 dirumah bikin keterkaitan dan kerangka konsep,
semangat L9

SINTESIS MASALAH

Metabolisme KH : Syahid
Metabolisme lipid : Inas dan try febriani siregar
Metabolisme Protein: Obby Saleh
Metabolisme Mineral dan vitamin : Beuty S.
Cairan tubuh dan kesimbangan Asam Basa: Mentari Indah S. Dan try
nisdian wardiah
Olahraga Aerobik: Cahyo P.
Slimming Tea: Nyimas Nursyarifah
Obesitas : Ganda
Darah: Nyimas Inas
Sistem imun : Birgitta F.

Tambahin lagi ya kalo masih kurang


PEMBAGIAN TUGAS
1. Muhammad Syahid : 3L, 3M, 4A, 4B, 4C, 5A, 5B
2. Nyimas Inas Melanisa : 1A, 1B, 3G,3H,3I, 3J, 3K
3. Ganda Putra A. : 2A, 2B, 2C,2D,2E,2F,2G
4. Obby Saleh : 8B,8C,8D,9A,10A,,10B,10C
5. Beuty Savitri : 2H, 3A,3B,3C,3D,3E,3F
6. Mentari Indah Sari : 8B,8C,8D,9A,10A,,10B,10C
7. Cahyo Purnaning T. : 3L, 3M, 4A, 4B, 4C, 5A, 5B
8. Birgitta Fajarai : 5C, 6A,7A,7B,7C,7D,8A
9. Bellinda Dwi Priba : 2H, 3A,3B,3C,3D,3E,3F
10.Try Febriani Siregar : 5C, 6A,7A,7B,7C,7D,8A
11.Tri Nisdian Wardiah : 2A, 2B, 2C,2D,2E,2F,2G
12.Nyimas Nursyarifah : 1A, 1B, 3G,3H,3I, 3J, 3K
N.B :

Jangan lupa diketik yang rapih harus dikumpul hari rabu saat tutorial
( times new roman 12, spasi 1, 15 dan rata kanan kiri) tidak menerima
dalam bentuk pdf
Tulis sumber ( misal internet atau buku)
Siapa yang paling telat ngumpul presentasi dan buat slidenya ya...

LI

KESEIMBANGAN CAIRAN, ELEKROLIT, ASAM DAN BASA*


Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan
sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan
dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa.
Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup,
berkembang, dan menjalankan fungsinya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik
sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk
mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada

kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara substansi-substansi yang ada di milieu


interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu:
volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan
ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk
mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut
berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion
hidrogen dan ion bikarbonat dalam urin sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan
dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresi ion hidrogen dan CO2,
dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

Komposisi Cairan Tubuh


Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang
60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu
sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh
meliputi 50% dati total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relative lebih besar
dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan
ekstrasel. Dua pertiga bagian (67%) dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS)
dan sepertiganya (33%) berada di luar sel (cairan ekstrasel/ CES). CES dibagi cairan
intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan, dan
cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua
kompartmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati cairan tubuh, yaitu cairan transel.
Namun, volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur
pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ekstrasel, sedangkan ion K+ di
cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling
sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma.
Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang
memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial,
sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal,
terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan dan elektrolit antar kompartmen. Bila terjadi
perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan
cairan atau ion antar kompartmen sehingga terjadi keseimbangan kembali.

Perpindahan Substansi Antar Kompartmen

Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat
yang akan pindah harus dapat menembus barier atan membran tersebut. Bila substansi zat
tersebut dapat melalui membran, maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. Jika
tidak dapat menembusnya, maka membran tersebut tidak permeable untuk substansi tersebut.
Membran disebut semipermeabel (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya
tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. Perpindahan substansi melalui membran ada yang
secara aktif atau pasif. Transport aktif membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak
membutuhkan energi.

Difusi
Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar
dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi
substansi partikel tersebut merata. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor
yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Ficks law of diffusion).
Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi.
2. Peningkatan permeabilitas.
3. Peningkatan luas permukaan difusi.
4. Berat molekul substansi.
5. Jarak yang ditempuh untuk difusi

Osmosis
Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah
dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal ini karena
tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Jadi bila konsentrasi zat yang
terlarut meningkat, konsentrasi air akan menurun. Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu
membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi
zat yang terlarut, maka terjadi perpindahan air/ zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat
terlarut yang rendah ke larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahan seperti
ini disebut dengan osmosis.

Filtrasi

Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran.
Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Jumlah
cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas permukaan membran, dan
permeabilitas membran. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik.

Transport aktif
Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari
daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan
seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa
Na-K.

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit


Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu: volume
cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini
dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi
asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.

1. Pengaturan volume cairan ekstrasel


Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan
menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma.
Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang.
Pengaturan volume cairan ekstrasel dapat dilakukan dengan cara sbb.:

a. Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake & output) air Untuk
mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada keseimbangan antara
air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan
antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya.

2. Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasi
dan reabsorpsi di kapiler ginjal.

b. Memperhatikan keseimbangan garam Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam


juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya
adalah seseorang hampir tidak pernah memperhatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga
sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya
dan cenderung lebih dari kebutuhan.Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan
dalam urin untuk mempertahankan keseimbangan garam. Ginjal mengontrol jumlah garam yang
diekskresi dengan cara:

1. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate(GFR).

Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal

Jumlah Na+ yang direabsorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan
darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di
tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan
volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri . Selain sistem reninangiotensin-aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan
reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi oleh sel atrium jantung jika mengalami distensi
akibat peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal
meningkatkan eksresi urin sehingga mengembalikan volume darah kembali normal.

2. Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel


Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan.
Semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi
air dalam larutan tersebut. Air akan berpindah dengan cara osmosis dari area yang konsentrasi
solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi
(konsentrasi air lebih rendah). Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut
yang tidak dapat menembus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium merupakan
solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam
menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. Sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium

bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang tidak
merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung
jawab dalam menentukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Pengaturan osmolaritas
cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan melalui:

a. Perubahan osmolaritas di nefron


Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang pada
akhirnya akan membentuk urin yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di
duktus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal ( 300
mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars desending sangat permeable terhadap air, sehingga di
bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan
cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Dinding tubulus ansa henle pars asenden
tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini
menyebabkan reabsorbsi garam tanpa osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal
dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus
koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urin yang
dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung
pada ada tidaknya vasopresin/ ADH.

b. Mekanisme haus dan peranan vasopresin (anti diuretic hormone/ ADH)

Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (> 280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di
hypothalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypothalamus yang menyintesis
vasopressin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan
berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. Ikatan vasopressin dengan resptornya di duktus
koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus
koligen. Pembentukan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta.
Hal ini menyebabkan urin yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik
atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dapat dipertahankan. Selain itu, rangsangan
pada osmoreseptor di hypothalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan
dihantarkan ke pusat haus di hypothalamus sehingga terbentuk perilaku untuk mengatasi haus,
dan cairan di dalam tubuh kembali normal.

Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan,


pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem
endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit
melali baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotiikus, osmoreseptor di hypothalamus, dan
volumereseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormonhormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II,
Aldosteron, dan Vasopresin/ ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara,
jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka hormone atripeptin (ANP) akan
meningkatkan ekskresi volume natrium dan air . Perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat
terjadi pada beberapa keadaan. Sebagai contoh Faktor-faktor lain yang mempengaruhi
keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya ialah umur, suhu lingkungan, diet, stress, dan
penyakit.

Keseimbangan Asam-Basa
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam
cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4, pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH
darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H terutama
diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu akan
ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
1. pembentukan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat
2. katabolisme zat organik
3. disosiasi asam organic pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolism lemak
terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H.

Fluktuasi konsentrasi ion h dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain:
1. perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat,
sebalikny pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.
2. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh.
3. mempengaruhi konsentrasi ion K

Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti
nilai semula dengan cara:

1. mengaktifkan sistem dapar kimia


2. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernapasan
3. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan

Ada 4 sistem dapar kimia, yaitu:


1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel teutama untuk perubahan yang
disebabkan oleh non-bikarbonat.
2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel.
3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam
karbonat.
4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

Sistem dapar kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementera. Jika dengan
dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan
dilanjutkan oleh paru-paru yang berespons secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam
darah akibat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernapasan, kemudian mempertahankan
kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi
ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan mensekresikan ion H dan menambahkan
bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan ammonia.

Ketidakseimbangan asam-basa
Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:
1. Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi.
Pembentukan H2CO3 meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.

2. Alkalosis respiratori, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi.
Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukan ion H menurun.

3. Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru.

Diare akut, diabetes mellitus, olahraga yang terlalu berat, dan asidosis uremia akibat gagal ginjal
akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat.

4. Alkalosis metabolik, terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defisiensi asam nonkarbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H
karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnya ion H akan menyebabkan
berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga kadar bikarbonat plasma
meningkat. Untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi
pernapasan dan ginjal sangat penting.

Kesimpulan
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu: volume
cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini
dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi
asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.

Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur
keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urin sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut
berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresi ion hidrogen
dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

NORMAL LABORATORY VALUES


To Convert
US to SI
Laboratory Test

Normal Range in US Units Normal Range in SI Units Units


W 7-30 units/liter

W 0.12-0.50 kat/liter

ALT (Alanine
aminotransferase) M 10-55 units/liter

M 0.17-0.92 kat/liter

x 0.01667

Albumin

31 43 g/liter

x 10

3.1 4.3 g/dl

W 30-100 units/liter

W 0.5-1.67 kat/liter

Phosphatase

M 45-115 units/liter

W 0.75-1.92 kat/liter

x 0.01667

Amylase (serum)

53-123 units/liter

0.88-2.05 nkat/liter

x 0.01667

W 9-25 units/liter

W 0.15-0.42 kat/liter

Alkaline

AST (Aspartate
aminotransferase) M 10-40 units/liter

M 0.17-0.67 kat/liter

x 0.01667

0.0-0.3 fraction of white


Basophils

0-3% of lymphocytes

blood cells

x 0.01

Bilirubin Direct 0.0-0.4 mg/dl

0-7 mol/liter

x 17.1

Bilirubin Total

0-17 mol/liter

x 17.1

0.0-1.0 mg/dl

Normal: 120/70 to 120/80 millimeters of mercury


(mmHg). The top number is systolic pressure, when the
heart is pumping. Bottom number is diastolic pressure
then the heart is at rest. Blood pressure can be too low

No

Blood pressure

(hypotension) atautoo high (hypertension).

conversion

C peptide

0.5-2.0 ng/ml

0.17-0.66 nmol/liter

x 0.33

Calcium, serum

8.5 -10.5 mg/dl

2.1-2.6 mmol/liter

x 0.25

Calcium, urine

0-300 mg/24h

0.0-7.5 mmol/24h

x 0.025

239 mg/dL

6.18 mmol/liter

x 0.02586

Cholesterol, total
Desirable
Marginal
High

Cholesterol, LDL
Desirable
Marginal
High
Very High

190 mg/dL

4.91 mmol/liter

>60 mg/dL

>1.55 mmol/liter

40-60 mg/dL

1.03-1.55 mmol/liter

x 0.02586

Cholesterol, HDL
Desirable
Moderate
Low (heart risk)

x 0.02586
0-25 g/dl (depends on time

Cortisol: serum

of day)

0-690 nmol/liter

x 27.59

20-70 g/dl

55-193 nmol/24h

x 2.759

W 40-150 units/liter

W 0.67-2.50 kat/liter

Creatine kinase

M 60-400 units/liter

M 1.00-6.67 kat/liter

x 0.01667

DHEA

W 130-980 ng/dl

W 4.5-34.0 nmol/liter

x 0.03467

Cortisol: free
(urine)

M 180-1250 ng/dl

M 6.24-43.3 nmol/liter

W Pre-menopause: 12-535

W Pre-menopause: 120-

g/dl

5350 g/liter

W Post-menopause: 30-260 W Post-menopause: 300-

DHEA Sulfate

g/dl

2600 g/liter

M 10-619 g/dl

M 100-6190 g/liter

x 10

0.0-0.8 fraction of white


Eosinophils

0-8% of white blood cells

blood cells

Erythrocyte

W<=30 mm/h

W<=30 mm/h

sedimentation rate

x 0.01

No

(Sed Rate)

M<=20 mm/h

M<=20 mm/h

conversion

Folate

3.1-17.5 ng/ml

7.0-39.7 nmol/liter

x 2.266

Glucose, urine

<0.05 g/dl

<0.003 mmol/litro

x 0.05551

Glucose, plasma

70-110 mg/dl

3.9-6.1 mmol/liter

x 0.05551

GGT (Gamma

W <=45U/L

W <=45U/L

glutamyl

No

transferase)

M <=65 U/L

M <=65 U/L

conversion

Hematocrit

W 36.0% 46.0% of red

W 0.36-0.46 fraction of red x 0.01

blood cells

blood cells

Hemoglobin

M 37.0% 49.0% of red

M 0.37-0.49 fraction of red

blood cells

blood cells

W 12.0-16.0 g/dl

W 7.4-9.9 mmol/liter

M 13.0-18.0 g/dl

M 8.1-11.2 mmol/liter

x 0.6206

<=270 U/L

<=4.5 kat/liter

x 0.016667

LDH (Lactate
dehydrogenase)
(total)

No
Lactic acid

0.5-2.2 mmol/liter

0.5-2.2 mmol/liter

conversion

No
Leukocytes (WBC) 4.5-11.0103/mm3

Lymphocytes

4.5-11.0109/liter

16%-46% of white blood

0.16-0.46 fraction of white

cells

blood cells

conversion

x 0.01

Mean corpuscular
hemoglobin
(MCH)

No
25.0-35.0 pg/cell

25.0-35.0 pg/cell

conversion

31.0-37.0 g/dl

310-370 g/liter

x 10

Mean corpuscular
hemoglobin
concentration
(MCHC)

W 78-102 m3
MCV (Mean
corpuscular

W 78-102 fl
M 78-100 m3

volume)

No
M 78-100 fl

conversion

0.04-0.11 fraction of white


Monocytes

4-11% of white blood cells blood cells

x 0.01

45%-75% of white blood

0.45-0.75 fraction of white

Neutrophils

cells

blood cells

x 0.01

Phosphorus

2.5 4.5 mg/dL

0.81-1.45 mmol/L

x 0.323

Platelets
(Thrombocytes)

No
130 400 x 10 3L

130 400 x 10 9L

conversion

No
Potassium

3.4-5.0 mmol/liter

3.4-5.0 mmol/liter

conversion

W 3.9 5.2 x 106/L3


W 3.9 5.2 x 1012/L
RBC (Red blood

M 4.4 5.8 x 10 6/L3

cell count)

No
M 4.4 5.8 x 10 12/L

conversion

No
Sodium

135-145 mmol/liter

Testosterone, total W 6-86 ng/dl


(morning sample)

135-145 mmol/liter

conversion

W 0.21-2.98 nmol/liter

x 0.03467

M 270-1070 ng/dl

M 9.36-37.10 nmol/liter

W 0.6-3.1,

W 20.8-107.5,

M 15.0-40.0 pg/ml

M 520-1387 pmol/liter

W 0.4-2.5,

W 13.9-86.7,

M 13.0-35.0 pg/ml

M 451-1213 pmol/liter

W 0.2-2.0,

W 6.9-69.3,

M 12.0-28.0 pg/ml

M 416-971 pmol/liter

Normal

40-150 mg/dl

0.45-1.69 mmol/liter

Borderline

150-200 mg/dl

1.69-2.26 mmol/liter

High

200-500 mg/dl

2.26-5.65 mmol/liter

Very high

>500 mg/dl

>5.65 mmol/liter

x 0.01129

8-25 mg/dl

2.9-8.9 mmol/liter

x 0.357

5.0-9.0

5.0-9.0

Testosterone, free
Age 20-40

Age 41-60

Age 61-80

x 34.67

Triglicerides
(fasting)

Urea, plasma
(BUN)

No

Urinalysis pH
Specific gravity

1.001-1.035

1.001-1.035

conversion

WBC (White blood


cells, leukocytes)

No
4.5-11.010 3 /mm 3

4.5-11.010 9 liter

conversion

TERMINOLOGY:
Satuan:
gram : ukuran umum dari berat. Dalam tabel ini digunakan dalam pg (picograms), g
(grams), mg (milligrams), dan sebagainya per liter
katal (kat) : unit aktif katalitik, digunakan khusus dalam kimia enzim. Dalam tabel ini
digunakan sebagai; kat (microkatals), nkat (nanokatals) per liter
micrometer (m) : satuan panjang. Artinya volume corpuscular diekspresikan dalam
micrimeter kubik.
mole : berarti berat molekul gram. Kuantitas berdasarkan berat atomik substansi.
Banyak tes dalam sistem internasional (SI) diekspresikan dengan moles per liter di US
biasa menggunakan satuan gram per liter. Dalam tabel digunakan mmol (millimoles),
mol, (micromoles), nmol (nanomoles), pmol (picomoles) per liter
beberapa unit perhitungan mengandung pecahan dan pangkat berikut:
mega (M) : 10 6 ataux1,000,000
kilo (k) : 10 3 atau x1,000
deca atau deka : 10 1 atau x10
deci (d) : 10 -1 atau 10
milli (m) : 10 -3 atau 1,000
micro () : 10 -6 atau 1,000,000
nano (n) : 10 -9 atau 1,000,000,000
pico (p) : 10 -12 atau 1,000,000,000,000