Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Satelit
Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu.
Ada dua jenis satelit yakni satelit alam dan satelit buatan. Satelit alami adalah benda-benda luar
angkasa bukan buatan manusia yang mengorbit sebuah planet atau benda lain yang lebih besar
daripada dirinya, seperti misalnya Bulan adalah satelit alami Bumi.

B. Jenis Satelit
1) Satelit Alami
Satelit alami adalah satelit yang sudah berada dalam tata surya dan
bukan buatan manusia. Contohnya adalah bulan yang menjadi satelit
alami bumi. Planet yang memiliki satelit terbanyak adalah Saturnus,
sedangkan planet yang tidak memiliki satelit adalah Merkurius dan
Venus.

2) Satelit Buatan
Satelit buatan adalah benda buatan manusia yang diluncurkan ke
luar angkasa dan beredar mengelilingi planet. Satelit buatan adalah
suatu penerima dan pemancar wireless yang diletakkan pada
orbitnya di sekitar bumi. Satelit dibuat oleh para ilmuan dan
engineer yang akan ditempatkan di orbit mengitari bumi, dengan
berbagai misi dan fungsinya masing-masing. Salah satu contoh
satelit buatan yang dimiliki Indonesia adalah Satelit Palapa.
Satelit buatan sendiri memiliki berbagai macam fungsi seperti untuk tujuan telekomunikasi,
mata-mata (militer), penelitian, pengamatan bumi dan benda-benda luar angkasa
Berikut ini adalah beberapa contoh satelit buatan:
1. Satelit astronomi: satelit yang digunakan untuk mengamati planet, galaksi, dan benda
luar angkasa lainnya.
2. Satelit komunikasi: satelit buatan yang dipasang di angkasa dengan tujuan
telekomunikasi.
3. Satelit pengamat bumi:satelit yang dirancang khusus untuk mengamati bumi seperti
pengamatan lingkungan, meteorologi, pembuatan peta, dan lain sebagainya.
4. Satelit navigasi: satelit yang menggunakan sinyal radio yang disalurkan ke penerima
dipermukaan tanah untuk menentukan lokasi sebuah titik dipermukaan bumi seperti
mengukur jarak antar bangunan.
5. Satelit mata-mata: satelit pengamat bumi yang digunakan untuk tujuan militer atau
mata-mata.
6. Satelit cuaca: satelit yang diguanakan untuk mengamati cuaca dan iklim di bumi.
7. Satelit ketenteraan satelit komunikasi dan satelit pantau bumi yang digunakan oleh
pihak tentera dan perisikan.

8. Satelit anti-satelit satelit yang dilengkapi dengan senjata dan berupaya


memusnahkan satelit atau objek angkasa yang lain.
9. Biosatellites satelit yang menempatkan objek atau organisma hidup bagi tujuan
penyelidikan saintifik.
10. Satelit kecil satelit yang bersaiz kecil seperti satelit mini (200-500 kg), satelit mikro
(10-200 kg) dan satelit nano (bawah 10 kg).
11. Stesen angkasa struktur bangunan yang dibina yang membolehkan manusia hidup di
angkasa lepas. Stesen ini direka bagi membolehkan manusia tinggal selama beberapa
bulan, bahkan beberapa tahun. Contohnya, International Space Station (ISS).

C. Prinsip Kerja Satelit

Satelit adalah stasiun relay yang digantung di langit. Disebut stasiun relay karena fungsi
utama satelit adalah merelay sinyal-sinyal yang berasal dari bumi. Sinyal-sinyal yang
diterimanya dari bumi itu digeser dulu frekuensinya baru kemudian dipancarkan kembali ke
bumi. Jadi pada dasarnya satelit itu berisi rangkaian translator frekuensi, yaitu rangkaian
elektronik yang terdiri dari penerima, penggeser frekuensi dan pemancar [perhatikan gambar
(1) di bawah ini].
Gambar (1): Diagram blok rangkaian penggeser frekuensi di dalam satelit
Sinyal dari bumi yang sampai ke satelit sangat lah lemah. Sebab sinyal yang dikirim dari
bumi hingga mencapai satelit akan melalui lintasan (path) ruang yang sangat jauh sehingga
sinyal akan mengalami redaman (free space path loss) yang sangat besar. Redaman ini
disebabkan karena sifat radiasi gelombang elektromagnetik itu memancar ke segala arah
(seperti bola yang mengembang) sehingga kekuatan sinyal akan melemah sebanding dengan
kuadrat dari jarak yang ditempuhnya. Selain itu jarak tempuh itu akan terasa semakin jauh
bagi sinyal yang panjang gelombangnya makin pendek. Dengan demikian besarnya redaman
ini berbanding lurus dengan kuadrat dari jarak dan frekuensi yang digunakan, dimana secara
matematis dituliskan sbb.:
Untuk memudahkan perhitungan, formula di atas bisa disederhanakan menjadi:
L = 32.4 + 20 Log d + 20 Log f
L
adalah
besarnya
Loss
atau
redaman
(dalam
satuan
dB)
f
adalah
frekuensi
kerja
yang
digunakan
(dalam
satuan
MHz)
d adalah jarak tempuh antara stasiun bumi dng satelit (dalam satuan km)
Contoh:
misalnya frekuensi kerja yang digunakan untuk up-link adalah 6 GHz = 6.000 MHz, dan
jarak antara stasiun bumi ke satelit = 36.000 km, maka besarnya redaman pada arah up-link
Jawab:
L-up = 32.4 + 20 Log 36.000 + 20 Log 6.000

= 32.4 + 91.1 + 75.6


= 199.1 dB
Redaman ini sangat besar sehingga sinyal yang diterima di satelit sangatlah lemah. Maka agar
sinyal yang sangat lemah ini bisa dipancarkan kembali ke bumi dengan daya pancar yang
cukup, dibutuhkan rangkaian penguat yang bertingkat-tingkat. Pada tingkat pertama sinyal
diperkuat oleh gain antenna penerima. Output dari antenna yang juga masih sangat lemah
kemudian diperkuat lagi dengan LNA (Low Noise Amplifier). Setelah levelnya cukup, sinyal
ini kemudian dimasukkan ke rangkaian mixer-1 untuk digeser frekuensinya ke frekuensi LBand.
Penggeseran frekuensi menurunkan level sinyal, sehingga sinyal harus diperkuat lagi pada
tahap ini. Setelah levelnya cukup, sinyal dimasukkan lagi ke mixer-2 untuk digeser lagi
frekuensinya ke frekuensi kerjanya (frekuensi down link). Pada tahap ini sinyal diperkuat lagi
oleh driver amplifier dan kemudian diperkuat oleh HPA (High Power Amplifier) agar
diperolah daya pancar yang cukup besar. Pada tahap akhir, sinyal kemudian diperkuat lagi
oleh antenna pemancar untuk menghasilkan apa yang disebut dengan EIRP (Equivalent
Isotropic Radiated Power). Besaran EIRP inilah yang kemudian oleh satelit dipancarkan
kembali ke bumi.
Sebagaimana dijelaskan pada bab translasi frekuensi, pergeseran frekuensi sama sekali tidak
mengubah nilai informasi yang terkandung di dalam sinyal tersebut. Jadi meskipun di satelit
frekuensi sinyal di geser sebanyak dua kali, akan tetapi informasi yang terkandung di
dalamnya masih tetap utuh (sama sekali tidak berubah). Oleh karena itu menjadi jelas bahwa
fungsi satelit dalam hal ini hanya merelay sinyal yang berasal dari bumi untuk kemudian
dipancarkan lagi kembali ke bumi.
Pergeseran frekuensi sebanyak dua kali dimaksudkan untuk memperoleh gain yang sangat
tinggi. Sebab memperkuat sinyal di satu frekuensi kerja akan menyebabkan amplifier mudah
berosilasi (sinyal output masuk kembali ke input). Untuk menghindari hal ini terjadi maka
sinyal harus diperkuat pada frekuensi kerja yang berbeda-beda. Dalam gambar (3)
diperlihatkan sebuah contoh bahwa gain total satelit adalah sekitar 170 dB. Gain sebesar ini
akan sangat sulit diperoleh bila amplifier bekerja pada satu frekuensi kerja. Oleh karena itu
penguatan sinyal dilakukan di 3 frekuensi yang berbeda. Pertama sinyal diperkuat pada
frekuensi Rx (dengan menggunakan LNA). Kemudian frekuensinya digeser ke L-Band dan
penguatan kedua dilakukan pada frekuensi ini. Selanjutnya frekuensi sinyal di geser lagi ke
frekuensi Tx dan diperkuat lagi (oleh HPA) hingga mencapai daya pancar sesuai yang
diinginkan. Dengan cara ini maka akan diperoleh gain total yang sangat tinggi.
Penguatan sinyal mulai dari antenna penerima, LNA, HPA hingga antenna pemancar disebut
dengan Gain Satelit [perhatikan gambar (1) di atas]. Besarnya Gain Satelit telah didesain
sedemikian rupa sehingga sinyal yang diterima dari bumi mampu menghasilkan daya pancar
maksimum sesuai kapasitas HPA yang terpasang di satelit. Daya output dari HPA selanjutnya
diperkuat lagi oleh antenna sehingga diperoleh EIRP yang tinggi. Sebab sinyal yang
dipancarkan oleh satelit ke bumi akan mengalami redaman yang sangat besar. Sekedar
gambaran misalnya frekuensi down link yang digunakan adalah 4 GHz = 4.000 MHz, maka
besarnya redaman pada arah Down Link adalah:
L-down = 32.4 + 20 Log 36.000 + 20 Log 4.000 = 32.4 + 91.1 + 72.0 = 195.5 dB
Redaman down-link ini sangat besar, sehingga sinyal yang diterima di bumi juga sangat
lemah. Itulah sebabnya dibutuhkan gain yang cukup besar di stasiun penerima di bumi agar
informasi yang terkandung dalam sinyal dapat dideteksi kembali. Apabila kualitas sinyal
yang diterima belum sesuai dengan kebutuhan, maka daya pancar di sisi pengirim perlu
diperbesar. Dengan cara ini maka secara otomatis daya yang dipancarkan oleh satelt juga ikut
membesar. Kenaikan daya pancar di satelit merupakan fungsi linier dari kenaikan daya
pancar di pengirim. Sebagai contoh misalnya, bila daya pancar di sisi pengirim dinaikkan 3

dB, maka daya pancar satelit juga akan naik 3 dB. Jika dinaiikan lagi 10 dB maka daya
pancar di satelit juga akan naik 10 dB. Demikian seterusnya hingga pada suatu titik dimana
kenaikan daya pancar di satelit tidak lagi linier. Pada titik ini daya pancar satelit sudah
melampaui batas liniernya. Oleh karena itu penambahan daya di sisi pengirim tidak boleh
sembarangan. Ada batas tertentu yang tidak boleh dilampaui. Inilah yang disebut dengan
istilah Power Limitted, artinya satelit memiliki daya pancar yang terbatas.
Apabila daya pancar di sisi pengirim sudah tidak bisa lagi dinaikkan, sedangkan sinyal yang
diterima masih belum sesuai dengan kebutuhan, maka jalan satu-satunya adalah dengan
memperbesar diameter antena penerima. Makin besar diameter antena penerima akan
semakin baik, karena sistem penerima akan menjadi lebih sensitif, artinya lebih mampu
menerima sinyal-sinyal yang lemah. Namun makin besar diameter antena akan memerlukan
lahan yang lebih besar, ukuran yang besar jelas tidak praktis dan harganya pun juga pasti
lebih mahal. Oleh karena itu perhitungan daya pancar di sisi pengirim maupun besarnya
diameter antena di sisi penerima harus dihitung dengan benar. Untuk itu ada beberapa
paremeter yang perlu
diketahui. Parameter satelit seperti G/T,
Saturated Field Density
(SFD) dan EIRP serta peta contour atau
foot print umumnya
diberikan oleh operator/pemilik satelit
kepada
para
pelanggannya, sehinga masing-masing
pelanggan
dapat
menghitung
sendiri
apa-apa
yang
dibutuhkannya.

Gambar (2): Illustrasi redaman up-link dan down-link


Satelit merupakan sebuah benda diangkasa yang berputar mengikuti rotasi bumi. Satelit dapat
dibedakan berdasarkan bentuk dan keguaananya seperti: satelit cuaca, satelit komonikasi,
satelit iptek dan satelit militer. Untuk dapat beroperasi satelit diluncurkan ke orbitnya dengan
bantuan roket. Negara -negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis dan belakangan
Cina, telah memiliki stasiun untuk melontarkan satelit ke orbitnya. Posisi satelit pada
orbitnya ada tiga macam yaitu. Low Earth Orbit (LEO): 500-2,000 km diatas permukaan
bumi. Medium Earth Orbit (MEO): 8,000-20,000 km diats permukaan bumi. Geosynchronous
Orbit (GEO): 35,786 km diatas permukaan bumi. Seluruh pergerakan satelit dipantau dari
bumi atau yang lebih dikenal dengan stasiun pengendali. Cara kerja dari satelit yaitu dengan
cara uplink dan downlink. Uplink yaitu transmisi yang dikirim dari bumi ke satelit,
sedangkan downlink yaitu transmisi dari satelit ke stasiun bumi. Komunikasi satelit pada
dasarnya berfungsi sebagai repeater di langit. Satelit juga menggunakan transponders, yaitu
sebuah alat untuk memungkinkan terjadinya komunikasi 2 arah. Umumnya komunikasi
satelit menggunakan banyak tranponders. Contohnya Intelsat VIII menggunkan 44
transponders dapat mengakomodir 22.500 telepon sirkuit dan 3 channel TV, pada masa
sekarang ini sampai bisa mengakomodir komunikasi di Asia dan Afrika.
Antena satelit sangat penting peranannya dalam jaringan komunikasi satelit. Karena benda
yang ini berfungsi sebagai penerima transimisi di setiap kawasan di dunia. Sedangkan
satellite spacing (penempatan satelit) digunakan agar dalam melakukan transmisi lebih
mudah berdasarkan kawasannya.Sedangkan power system yang digunakan oleh satelit

diperoleh melalui sinar matahari yang diubah ke bentuk listrik yang menggunakan Sel surya
(Solar cells). Selain itu, satelit juga dilengkapi dengan sumber tenaga yang berdurasi 12 tahun
yang merupakan bahan bakarnya agar dapat beroperasi.

D. Orbit Satelit
Satelit adalah benda langit yang tidak memiliki sumber cahaya sendiri dan bergerak
mengelilingi planet tertentu sambil mengikuti planet tersebut beredar. Contohnya Bulan yang
merupakan satelit dari Bumi. Pergerakan satelit dalam mengelilingi bumi secara umum
mengikuti hukum Keppler (Pergerakan Keplerian) yang didasarkan pada beberapa asumsi
yaitu pergerakan setelit hanya dipengaruhi oleh medan gaya berat sentral bumi, satelit
bergerak dalam bidang orbit yang tetap dalam ruang, massa satelit tidak berarti dibandingkan
massa bumi, satelit bergerak dalam ruang hampa, dan tidak ada matahari, bulan, ataupun
benda-benda langit lainnya yang mempengaruhi pergerakan satelit. Orbit merupakan jenisjenis tempat beredarnya satelit mengelilingi permukaan bumi. Dalam Konteks Geodesi
satelit, informasi tentang orbit satelit akan berperan dalam beberapa hal yaitu:
1. Position Determination
Untuk menghitung koordinat satelit yang nantinya diperlukan sebagai koordinat titik tetap
dalam perhitungan koordinat titik-tiitk lainnya di atau dekat permukaan bumi.
2. Observation Planning
Untuk merencanakan pengamatan satelit (waktu dan lama pengamatan yang optimal)
3. Receiver Aiding
Membantu mempercepat alat pengamat (Receiver) sinyal satelit untuk menemukan satelit
yang bersangkutan
4. Satellite Selection
Untuk memilih, kalau diperlukan, satelit-satelit yang secara geometrik lebih baik untuk
digunakan.
Banyak satelit dikategorikan atas ketinggian orbitnya, meskipun sebuah satelit bisa mengorbit
dengan ketinggian berapa pun.
a. Orbit Rendah (Low Earth Orbit, LEO): 300 1500 km di atas permukaan bumi.
b. Orbit Menengah (Medium Earth Orbit, MEO): 1500 - 36000 km.
c. Orbit Geosinkron (Geosynchronous Orbit, GSO): sekitar 36000 km di atas permukaan
Bumi.
d. Orbit Geostasioner (Geostationary Orbit, GEO): 35790 km di atas permukaan Bumi.
e. Orbit Tinggi (High Earth Orbit, HEO): di atas 36000 km.Orbit berikut adalah orbit
khusus yang juga digunakan untuk mengkategorikan satelit:
f. Orbit Molniya, orbit satelit dengan perioda orbit 12 jam dan inklinasi sekitar 63.
g. Orbit Sunsynchronous, orbit satelit dengan inklinasi dan tinggi tertentu yang selalu
melintas ekuator pada jam lokal yang sama.
h. Orbit Polar, orbit satelit yang melintasi kutub

E. Manfaat Satelit

Satelit secara luas sekali telah menambah pengetahuan kita tentang ruang angkasa dan
benda-benda langit di dalamnya. Hampir semua pesawat ruang angkasa tak berawak
dibangun untuk memindahkan informasi ke bumi melalui suatu sistem Telemeteri. Melalui
sistem ini, data yang terkumpul oleh alat-alat ilmiah di dalam pesawat diubah menjadi sinyalsinyal radio dan sinyal-sinyal ini kemudian ditransmisikan ke stasiun-stasiun di bumi. Di
stasiun-stasiun ini, sinyal-sinyal radio itu dicatat pada kumparan pita magnetik. Nantinya
sinyal-sinyal radio direkam dengan bantuan komputer elektronik. Bahkan foto-foto pun dapat
dikirim dengan menggunakan cara ini.
Adapun pembagian satelit menurut fungsinya ada 5. Keterangannya sebagai berikut:
1. Menunjukkan Formasi Awan (Satelit Cuaca)
Satelit ini memberikan keuntungan dengan menunjukkan formasi awan yang terbesar di
daerah luas pada permukaan bumi yang pengambilan gambarnya dilakukan dengan
menggunakan kamera televisi dan disiarkan ke bumi melalui telemeter. Amerika Serikat telah
meluncurkan lebih dari 20 satelit cuaca sejak peluncuran pertama, Tiros 1, pada tanggal 1
April 1960. Sepuluh satelit Tiros telah diluncurkan dan kameranya telah menghasilkan foto
cuaca terbesar yang pertama di dunia.
2. Untuk kepentingan Telekomunikasi (Satelit Komunikasi)
Satelit komunikasi adalah sebuahsatelit buatan yang ditempatkan di angkasa dengan
tujuan telekomunikasi. Satelit komunikasi modern menggunakan orbit Geosynchronous, orbit
Molniya atau orbit Bumi Rendah.
Satelit bumi sekarang memberikan pelayanan radio dan televisi kepada sebagian besar
daerah bumi. Satelit pasif ini hanya memantulkan sinyal-sinyal yang dipancarkan. Termasuk
satelit ini adalah Pemancar Amerika Serikat-yaitu Telstar, Sinkom, dan Early Bird; satelit
internasional Intelsat; seri Anik Canada; satelit Molniya Uni Soviet. Satelit-satelit
komunikasi juga telah digunakan untuk menyiarkan informasi-informasi pendidikan dan
kesehatan ke desa-desa terpencil. Tahun 1976 dengan kerja sama satelit Teknologi
Komunikasi US-Kanada yang merupakan satelit komunikasi paling kuat yangg pernah
dibangun-diluncurkan; juga diluncurkan satelit Marisat yang menyediakan fasilitas
telekomunikasi antarkapal untuk kepentingan industri perkapalan internasional dan operasioperasi Angkatan Laut Amerika Serikat.
3. Untuk Kepentingan Navigasi (Satelit Navigasi)
Satelit-satelit Transit, diorbitkan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, dimaksudkan
untuk berperan sebagai alat penolong yang berguna untuk navigasi apabila kapal-kapal di
permukaan laut menemui kesukaran dalam penglihatan. Navigator yang menghadapi daerah
yang berkabut tebal dapat menghubungi dengan radio satelit Transit yang mengorbit.
Kemudian satelit dapat menjawab, juga melalui radio, dengan pernyataan posisi kapal orbit.
Sekali setelah navigator mendapat jawaban dari semua yang dia perlukan untuk dapat
menentukan posisinya, sebagai tambahan kepada alat-alat yang biasa yang ada padanya,
adalah jawaban berupa daftar orbit masing-masing satelit.
4. Untuk Menguji Coba Reaksi Berbagai Macam Organisme Dalam Perjalanan
Ruang Angkasa (Satelit Biologi)
Pada akhir tahun 1966, Amerika Serikat memulai peluncuran seri Biosatelit. Program
ini direncanakan untuk menguji coba reaksi berbagai macam organisme dalam perjalanan
ruang angkasa. Pengaruh tanpa daya berat, radiasi, dan tidak adanya daur pergantian siang
dan malam, sedang dipelajari juga. Yang termasuk organisme pada misi-misi ini adalah
macam tumbuh-tumbuhan dan hewan yang luas sekali, bermula dari bakteri dan telur kodok
sampai pada benih-benih dan seekor kera yang 6,4 kg beratnya.
5. Untuk Kepentingan Militer (Satelit Militer)

Sejumlah satelit buatan tak berawak tertentu yang sekarang sedang mengorbit bumi
menyampaikan informasi-informasi untuk kepentingan militer kepada dua bangsa yang
hingga sekarang hampir menguasai seluruh eksplorasi ruang angkasa; Amerika Serikat dan
Uni Soviet. Dengan demikian, satelit Midas Amerika Serikat dapat melihat peluncuran peluru
kendali melalui penggunaan alat sensor inframerah. Satelit Samos Amerika Serikat dapat
melihat perincian sekecil-kecilnya dari instalasi Uni Soviet. Demikian juga Uni Soviet,
dengan menggunakan pesawat seri Cosmos, dapat mengambil gambar lapangan udara
Amerika Serikat, pabrik amunisi, tempat peluncuran peluru kendali, dan sebagainya. Dalam
tahun 1968 Amerika Serikat meluncurkan seri satelit ST (Sistem Terpadu) yang sangat peka
sekali dengan membawa peralatan yang mampu mendeteksi radiasi inframerah.