Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pengertian Komunikasi Intrapibadi


Komunikasi intrapribadi adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang
terjadi di dalam diri komunikator sendiri antara self dengan God. Komunikasi
intrapribadi merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam
pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim
sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri
dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapribadi dapat
menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya.
Dalam buku TransPer Understanding Human Communication, 1975,
disebutkan bahwa komunikasi intrapribadi adalah proses di mana individu
menciptakan pengertian. Di lain pihak Ronald L. Applbaum dalam buku
Fundamental Concept in Human Communication mendefinisikan komunikasi
intrapribadi sebagai: Komunikasi yang berlangsung dalam diri kita, ia meliputi
kegiatan berbicara kepada diri sendiri dan kegiatan-kegiatan mengamati dan
memberikan makna (intelektual dan emosional) kepada lingkungan kita
(Uchayana 1993).

Gambar 1: Komunikasi Intrapribadi


Dari berbagai definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa komunikasi
intrapribadi dalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seorang. Orang

ini berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan, dia


berbicara pada dirinya sendiri, berdialog dengan dirinya sendiri, dia bertanya
kepada dirinya sendiri, dan dijawab oleh dirinya sendiri.
Adapun sistem komunikasi intrapribadi, seperti tabel berikut:

2.2.

Cakupan Komunikasi Intrapribadi

2.3.

Pengertian Komunikasi Antarpribadi


Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak
lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face)
maupun dengan media. Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok
maya atau faktual (Burgon & Huffner, 2002). Contoh kelompok maya,
misalnya komunikasi melalui internet (chatting, facebook, e-mail, dsb).
Berkembangnya kelompok maya ini karena perkembangan teknologi media
komunikasi.
Terdapat definisi lain tentang komunikasi antarpribadi, yaitu suatu proses
komunikasi yang berlatar pada objek-objek sosial untuk mengetahui
pemaknaan suatu stimulus (dalam hal ini: informasi/pesan) (McDavid &
Harari), sementara menurut Purwanto, Komunikasi antarpribadi adalah
komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain dalam suatu
masyarakat maupun organisasi (bisnis dan nonbisnis), dengan menggunakan
media komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami (informal) untuk
mencapai suatu tujuan tertent. Fungsi komunikasi antarpribadi yaitu untuk
mendapatkan respon/ umpan balik. Hal ini sebagai salah satu tanda efektivitas
proses komunikasi. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada umpan balik, saat
anda berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana kalau anda sms ke orang
lain tetapi tidak dibalas? Untuk melakukan antisipasi setelah mengevaluasi
respon/ umpan balik. Contohnya, setelah apa yang akan kita lakukan setelah
mengetahui lawan bicara kita kurang nyaman diajak berbincang. Untuk

melakukan kontrol terhadap lingkungan sosial, yaitu kita dapat melakukan


modifikasi perilaku orang lain dengan cara persuasi. Misalnya, iklan yang
arahnya membujuk orang lain.
Maha bijaksana Tuhan yang telah mengatur proses komunikasi
antarpribadi yang melibatkan beberapa unsur atau elemen sebagai berikut
(Burgon & Huffner, 2002), diantaranya:
a. Sensasi, yaitu proses menangkap stimulus (pesan/informasi
verbal maupun non verbal). Pada saat berada pada proses sensasi
ini maka panca indera manusia sangat dibutuhkan, khususnya mata
dan telinga.
b. Persepsi, yaitu proses memberikan makna terhadap informasi
yang ditangkap oleh sensasi. Pemberian makna ini melibatkan
unsur subyektif. Contohnya, evaluasi komunikan terhadap proses
komunikasi, nyaman atau tidaknya proses komunikasi dengan
orang tersebut.
c. Memori, yaitu proses penyimpanan informasi dan evaluasinya
dalam kognitif individu. Kemudian informasi dan evaluasi
komunikasi tersebut akan dikeluarkan atau diingat kembali pada
suatu saat, baik sadar maupun tidak sadar. Proses pengingatan
kembali ini yang disebut sebagai recalling.
d. Berpikir, yaitu proses mengolah dan memanipulasi informasi
untuk memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah. Proses
ini

meliputi

pengambilan

keputusan,

pemecahan

masalah

dan berpikir kreatif. Setelah mendapatkan evaluasi terhadap proses


komunikasi antarpribadi maka ada antisipasi terhadap proses
komunikasi yang selanjutnya. Contohnya, jika kita merasa tidak
nyaman berkomunikasi dengan dosen maka kita mempunyai cara
untuk antisipasi agar komunikasi di kemudian hari menjadi lancar.

Seringkali komunikan tidak saling memahami maksud pesan atau


informasi dari lawan bicaranya. Hal ini disebabkan beberapa masalah
seperti:
a. Komunikator; Hambatan biologis, misalnya komunikator gagap.
Hambatan psikologis, misalnya komunikator yang gugup. Hambatan
gender, misalnya perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan
bicaranya yang laki-laki.
b. Media; Hambatan teknis, misalnya masalah pada teknologi komunikasi
(microphone, telepon, powerpoint, dan lain sebagainya). Hambatan
geografis, misalnya blank spot pada daerah tertentu sehingga signal HP
tidak dapat ditangkap. Hambatan simbol/ bahasa, yaitu perbedaan
bahasa yang digunakan pada komunitas tertentu. Misalnya kata-kata
wis mari versi orang Jawa Tengah diartikan sebagai sudah sembuh
dari sakit sedangkan versi orang Jawa Timur diartikan sudah selesai
mengerjakan sesuatu. Hambatan budaya, yaitu perbedaan budaya yang
mempengaruhi proses komunikasi.
c. Komunikate; Hambatan biologis, misalnya komunikate yang tuli.
Hambatan psikologis, misalnya komunikate yang tidak berkonsentrasi
dengan pembicaraan. Hambatan gender, misalnya seorang perempuan
akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang
lelaki.
2.4.

Tujuan Komunikasi Antarpribadi


Dalam prakteknya terdapat beberapa tujuan dari komunikasi antarpribadi
yang ingin dicapai menurut Purwanto (2006), diantaranya adalah:
1.

Menyampaikan Informasi

Salah satu tujuan dari berkomunikasi adalah untuk menyampaikan


suatu informasi agar seseorang dapat mengetahui sesuatu. Sebagai
contoh, seseorang memberitahu temannya bahwa pada tanggal 12
Januari 2015 akan diadakan Job Fair di Jiexpo Kemayoran. Mengapa

informasi tersebut perlu disampaikan kepada orang lain (temannya)?


Salah satu alasannya adalah temannya merupakan pencari kerja yang
belum juga mendapatkan pekerjaan, maka hal ini akan sangat
membantu temannya tersebut untuk mendapatkan pekerjaan yang
diharapkannya.
2.

Berbagi Pengalaman

Selain menyampaikan informasi, komunikasi antarpribadi juga


bertujuan untuk saling berbagi pengalaman mengenai hal-hal yang
menyenangkan maupun pengalaman yang kurang menyenangkan
dalam hidupnya. Namun informasi ini biasanya hanya disampaikan
kepada orang-orang tertentu yang dipercayainya atau bisa juga orang
lain yang sudah dikenalnya.
3.

Menumbuhkan Simpati

Simpati adalah suatu sikap positif yang ditunjukkan oleh seseorang


yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam untuk ikut merasakan
bagaimana beban, derita, musibah, kesedihan, dan kepiluan yang
sedang dirasakan oleh orang lain. Komunikasi juga dapat digunakan
untuk menumbuhkan rasa simpati seseorang kepada orang lain.
Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa simpati
ini adalah memberikan dukungan moril, bantuan dana, obat-obatan,
aneka barang kebutuhan pokok, perlengkapan rumah, bahan
bangunan, menjadi sukarelawan, dsb.
Sebagai contoh, HMTMI menyelenggarakan bakti sosial berupa
pemberian pakaian layak pakai, makanan, obat-obatan dengan
melakukan kunjungan langsung ke panti sosial sebagai bentuk
kepedulian

mahasiswa

terhadap

masyarakat,

juga

untuk

menyemangati mereka untuk terus belajar dan tidak patah semangat


walaupun keadaan mereka kurang beruntung.

4.

Melakukan Kerja Sama

Tujuan lain dalam komunikasi antarpribadi adalah untuk melakukan


kerja sama antara seseorang dengan orang lain untuk mencapai suatu
tujuan tertentu atau untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi
kedua belah pihak. Sebagai contoh, seseorang saat memulai suatu
bisnis pasti akan mengalami kesulitan dalam berbisnis. Salah satu cara
untuk mengatasi kesulitan tersebut adalah dengan bekerjasama dengan
pengusaha lain mungkin dengan memasarkan produk orang lain
disamping tetap memarkan produknya sendiri. Dengan begitu
diharapkan, produk yang sudah terkenal yang dijual pada store milik
sendiri akan mengangkat nama toko dan produk milik sendiri.
5.

Menceritakan Kekecewaan atau Kekesalan

Komukasi antarpribadi juga dapat digunakan seseorang untuk


menceritakan rasa kecewa atau kekesalan kepada orang lain.
Penyampaian rasa kecewa ini dapat meringankan beban pikiran
seseorang sehingga kondisi psikologisnya dapat membaik. Seringkali
para orang tua mengatakan untuk tidak memendam rasa kecewa atau
kekesalan yang ada pada dirinya, tetapi harus diutarakan sehingga
solusi permasalahan dapat segera diambil dan diharapkan masalah
tersebut dapat terselesaikan.
6.

Menumbuhkan Motivasi

Melalui komunikasi antarpribadi, seseorang dapat memotivasi orang


lain utnuk melakukan suatu hal positif. Motivasi merupakan dorongan
kuat baik dalam diri ataupun dari lingkungan untuk melakukan
sesuatu. Insentif dan penghargaan merupakan salah satu bentuk
daripada motivasi yang diberikan perusahaan oleh karyawannya agar

dapat menjadi dorongan karyawan untuk bekerja dengan lebih


semangat dan lebih baik lagi untuk kedepannya.

2.5.

Kebutuhan Manusia
2.5.1. Kebutuhan Manusia Menurut Maslow
Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan
hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya.
Lima tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan
hidupnya, teori yang telah resmi di akui dalam dunia psikologi.
Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang
akan muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi.
Setiap orang pasti akan melalui tingkatan-tingkatan itu, dan dengan serius
berusaha untuk memenuhinya, namun hanya sedikit yang mampu mencapai
tingkatan tertinggi dari piramida ini.
Lima tingkat kebutuhan dasar menurut teori Maslow adalah sebagai
berikut (disusun dari yang paling rendah):

Gambar 2: Segitiga Maslow


2.5.2. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan paling dasar pada setiap orang adalah kebutuhan
fisiologis yakni kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya

secara fisik. Kebutuhan-kebutuhan itu seperti kebutuhan akan makanan,


minuman, tempat berteduh, tidur dan oksigen. Kebutuhan-kebutuhan
fisiologis adalah potensi paling dasar dan besar bagi semua pemenuhan
kebutuhan di atasnya.
2.5.3. Kebutuhan Akan Rasa Aman
Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya,
muncullah apa yang disebut Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan akan
rasa aman Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini diantaranya adalah
rasa aman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan
dari daya-daya mengancam seperti perang, terorisme, penyakit, takut,
cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana alam.
2.5.4. Kebutuhan Akan Rasa Memiliki Dan Kasih Sayang
Jika kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman telah
terpenuhi, maka muncullah kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan rasa
memiliki-dimiliki. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi dorongan untuk
bersahabat, keinginan memiliki pasangan dan keturunan, kebutuhan untuk
dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan untuk
memberi dan menerima cinta.
2.5.5. Kebutuhan Akan Penghargaan
Setelah kebutuhan dicintai dan dimiliki tercukupi, manusia akan
bebas untuk mengejar kebutuhan akan penghargaan. Maslow menemukan
bahwa setiap orang yang memiliki dua kategori mengenai kebutuhan
penghargaan, yaitu kebutuhan yang lebih rendah dan lebih
tinggi. Kebutuhan yang rendah adalah kebutuhan untuk menghormati
orang lain, kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan,
perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi. Kebutuhan yang
tinggi adalah kebutuhan akan harga diri termasuk perasaan, keyakinan,
kompetensi, prestasi, penguasaan, kemandirian dan kebebasan.
2.5.6. Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri
Tingkatan terakhir dari kebutuhan dasar Maslow adalah aktualisasi
diri. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tidak melibatkan
keseimbangan, tetapi melibatkan keinginan yang terus menerus untuk
memenuhi potensi. Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat
untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa
saja menurut kemampuannya.
2.6.

Mendengarkan sebagai Keahlian Antarpribadi


Kegiatan mendengarkan orang lain merupakan kegiatan yang sudah sering
dilakukan, baik dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dalam
suatu kelompok.
Dalam komunikasi antarpribadi, kegiatan mendengarkan (menyimak)
suatu percakapan dengan lain merupakan bagian penting dalam memahami

suatu pesan yang disampaikan oleh orang lain. Dalam hal ini, istilah
mendengarkan (listening) bukanlah kegiatan yang statis tetapi dinamis, yaitu
merupakan kegiatan mendengar secara aktif percakapan dengan orang lain
yang dituntut adanya kosentrasi secara penuh dan tidak terpengaruh oleh
faktor-faktor penggangu dalam suatu percakapan tersebut. Oleh karena itu,
kegiatan mendengarkan bukanlah kegiatan yang mudah. Latihan yang cukup
akan diperlukan sehingga kegiatan mendengarkan akan mejadi lebih baik
dalam memahami suatu percakapak dengan orang lain.
Secara sederhana, berikut ini dapat disampaikan bagaimana mendengar
dengan aktif yang disajikan dalam sebuah bagan.
Pikiran

Kata-kata

Pemahaman

Emosi

Perasaan
Tindakan

Mengadakan Hubungan

Bahasa Tubuh

Pemahaman
Gambar 3: Mendengar dengan aktif

Gambar 3 tersebut menggambarkan bagaimana mendengar dengan aktif


melalui pikiran, emosi, dan bahasa tubuh. Dengan pikiran, seseorang dapat
memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada pihak lain, sehingga
dapat dipahami dengan baik dan benar. Dengan emosi, seseorang dapat
mengungkapkan perasaannya (suka, duka, yakin, atau ragu-ragu) dalam
mengadakan hubungan komunikasi dengan orang lain. Degan bahasa tubuh,
seseorang dapat lebih meyakinkan apa yang telah disampaikan kata-kata dan
persaaannya, yang diungkapkan dalam bentuk tindakan tertentu yang dapat
dipahami orang lain.
Menurut Lehman, Himstreet, dan Baty, kebanyakan para manajer dalam
setiap harinya menghabiskan waktu kerjanya untuk mendengarkan (listening)
dan berbicara (speaking) dengan para supervisor, karyawan, pelanggan, dan
berbagai asosiasi bisnis. Mendengarkan menjadi begitu penting sebagaimana
berbicara atau berpidato di hadapan audiens. Kebiasaan sebagai pendengar
yang efektif akan menghasilkan beberapa hal yang positif antara lain:
a. Pendengar yang baik akan disukai orang lain karena mereka dapat
memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk didengarkan.

b. Kinerja/prestasi kerja karyawan meningkat ketika pesan yang diterimanya


tersebut dapat dimengerti dengan baik.
c. Umpan balik (feedback) yang akurat dari bawahan (karyawan) akan
berdampak positif pada prestasi kerjanya.
d. Manajer dan karyawan akan terhindar dari munculnya kesalahpahaman
dalam penyampaian suatu pesan.
e. Pendengar yang baik akan dapat memisahkan mana fakta dan mana yang
sekedar gosip.
f. Pendengar yang baik memiliki kecenderungan membuka ide-ide baru dari
pihak lain, sehingga hal ini mendorong berkembangnya kreativitas.
g. Pendengar yang efektif juga akan dapat menghasilkan prestasi kerja yang
baik dan peningkatan kepuasan kerja.
h. Kepuasan kerja meningkat karena mereka tahu apa yang terjadi, kapan
mereka mendengar, dan kapan mereka berpartisipasi di dalamnya yang
tumbuh dari komunikasi yang baik.
Mengingat betapa pentingnya kebiasaan mendengarkan yang baik, berikut
ini adalah saran-saran agar proses mendengarkan berlangsung secara efektif.
a. Perhatikan dengan baik siapa yang berbicara, mulai dari gerakannya,
kontak mata, nada suara, dan ekspresi wahanya. Perhatian tersebut akan
membantu mendapat pemahaman daripada pesan yang disampaikan.
b. Berikan umpan balik (feedback), seperti apakah mereka sudah mengerti
atau belum, atau pernyataan setuju atau tidak setuju terhadap apa yang
sudah disampaikan tersebut.
c. Mendengarkan membutuhkan waktu, oleh karena itu luangkan waktu
untuk proses komunikasi yang dilakukan secara tatap muka sebagaimana
seorang pengirim dan pemenerima pesan secara simultan.
d. Gunakan pengetahuan Anda tentang orang yang berbicara tersebut untuk

dapat menarik manfaat yang positif bagi Anda.