Anda di halaman 1dari 5

Outcome Following High-Dose Methotrexate in

Pregnancies Misdiagnosed as Ectopic

Disusun Oleh:
Adlan Fariz
Dokter Pembimbing:
dr. Edy Purwanta, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK STASE OBSTETRI GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014

Abstrak
Objektif: tujuan dari penelitian ini adalah untuk melaporkan hasil dari kesalahan diagnosis
kehamilan intrauterin sebagai kehamilan ektopik dengan menggunakan metotreksat sebagai
teratogen utama.
Desain Studi: kami melaporkan hasil dari semua referensi yang dicari konsultan setelah
terpapar metotreksat dosis tinggi untuk terminasi yang diduga kehamilan ektopik, yang
didefinisikan sebagai kehamilan intrauterin oleh 3 North American Teratology Information
Service antara tahun 2002 hingga 2010.
Hasil: dari delapan wanita normal, pada kehamilan yang diinginkan diberikan metotreksat
dosis tinggi pada trimester pertama karena diduga sebagai kehamilan ektopik. Hasilnya
semua kehamilan berakibat kecacatan bayi baru lahir dengan metotreksat embriopati. 3
wanita mengalami keguguran setelah paparan, dan dalam 3 kesalahan diagnosis dilakukan
terminasi dengan pembedahan.
Kesimpulan: kesalahan diagnosis kehamilan intrauterin sebagai kehamilan ektopik dengan
pemberian metotreksat dosis tinggi pada trimester pertama dapat menyebabkan kecacatan dan
kematian janin.

Kehamilan ektopik, sekitar 2% dari seluruh kehamilan (lebih dari 125.000


kehamilan/tahun di Amerika Serikat) sebagai penyebab utama kematian ibu pada trimester
pertama. Penghentian kehamila ektopik dengan menggunakan metotreksat digunakan telah
lebih dari tiga kali lipat digunakan selama dekade terakhir di Amerika Serikat. Metotreksat

banyak digunakan karena dapat meminimalisir risiko komplikasi dan biaya terkait dengan
penghentian dengan cara pembedahan. Metotreksat sebagai antagonis asam folat merupakan
teratogen utama yang menyebabkan malformasi yang terdefinisi dengan baik. Bayi baru lahir
yang terkena dampak biasanya menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterin, malformasi
jantung, kraniofasial, dan kelainan tulang. Pada kehamilan ektopik awal (5-10 minggu)
Metotreksat diberikan melalui intramuskuler 1 - 50 mg untuk menginduksi kematian janin.
Rejimen dosis tinggi biasanya diberikan 60 90 mg kepada pasien dimana merpakan
teratogen ampuh kepada wanita hamil untuk menyebabkan kematian janin.

Metode
Kami mengumpulkan kasus dari pasien yang menginginkan konsultasi dengan 3
Teratology

Information Service Centers. Dari 1 Januari 2002 hingga 30 April 2010

didapatkan sebanyak 8 pasien yang yang mendapat metotreksat dosis tinggi pada trimester
pertama untuk menginduksi abortus pada kesalahan diagnosis kehamilan ektopik sebagai

kehamilan ektopik. Informasi mengenai usia pasien, indikasi, dosis, rute, waktu, dan
efektivitas metotreksat dicacat.
Hasil
Kami mengidentifikasi 8 kehamilan ektopik dengan diberikan metotreksat dosis
tinggi, dan selanjutnya dikonfirmasi itu adalah kehamilan intrauterin. Empat dari mereka
didiagnosis oleh dokter gawat darurat Rumah Sakit dan sisanya oleh dokter ahli kandungan.
Tak satupun dari 8 kehamilan tersebut yang melahirkan bayi yang sehat, kasus
pertama lahir dengan TOF (Tetralogy of Fallot), atresia paru, skoliosis kongenital, ginjal
tunggal. Kasus kedua tetap dilahirkan dengan TOF, ginjal tapal kuda, arteri umbilikus
tunggal. 3 kasus berikutnya mengalami keguguran pada usia kehamilan 6-8 minggu. 3 kasus
yang tersisa membutuhkan terapi pembedahan.
Diskusi
Kehamilan intrauterin yang didiagnosis sebagai kehamilan ektopik yang diberikan
metotreksat dosis tinggi selama embriogenesis dapat menyebabkan kelahiran bayi dengan
cacat berat, keguguran atau aborsi.
Banyak terjadi kesalahan dagnosa kehamilan intrauterin sebagai kehamilan ektopik
karena dokter gawat darurat tidak terlatih dalam pelatihan USG formal. Pemeriksaan
tambahan untuk memverifikasi diagnosa serta tantangan diagnosis dan risiko serius dari
kehamilan ektopik dengan pemberian metotreksat dosis tinggi memang lebig mudah
dibandingkan dengan terapi pembedahan.
Kasus ini memastikan bahwa risiko tretogenik signifikan setelah terpapar metotreksat
dosis tinggi dapat menyebabkan kecacatan dan kematian janin. Terapi metotreksat dosis
tinggi pada kasus kesalah doagnosa kehamilan intraurterin sebagai kehamilan ektopik harus

dipertimbangkan dengan sangat matang dalam upaya untuk menghindari pelanggaran


medikolegal serta konsekuensi yang mengarah ke biaya dan penderitaan yang luar biasa.