Anda di halaman 1dari 8

KARST

A) Proses pembentukan karst


1. Ekosistem karst
2. Biota gua
B) GUA DAN PENGHUNINYA
1. Definisi Karst
2. Karst dan Karakteristiknya
3. Ornamen dan Keindahan Gua
4. Kehidupan Gua
5. Ciri-ciri Organisme Gua
C) Potensi Kawasan Karst
1. Penambangan Batu Gamping di Kawasan Karst
2. Potensi Ekonomi
Obyek wisata Gua Jatijajar di Kab. Kebumen Jateng
3. Potensi Sosial
Cerita Mitos Di Gua jatijajar
4. Potensi Ilmu Pengetahuan
Penelitian sumber Daya Hayati di dalam gua
Air liur dari burung walet yang bernilai tinggi
Penyedia air
D) Daerah karst di Indonesia

Proses pembentukan karst1


Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat
lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti
halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya
cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli.
Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik,
air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus
tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang
cocok adalah pseudokarst (karst palsu).

Ekosistem karst
Ekosistem karst memiliki keunikan, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman
hayati.

Biota gua
Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua
(Macrobrachium poeti), kalajengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting gua buta
(Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides emdi), isopoda gua (Cirolana
marosina), Anthura munae, kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus,
Speonoterus bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus covillae, S. stocki, S.
monodi, dan S. javanicus dari karst Cibinong.
GUA DAN PENGHUNINYA
Pendahuluan
Take nothing but picture,
Kill nothing but the time,
Leave nothing but footprint ,
(Mengambil tak lain hanya foto, membunuh tak lain hanya waktu, meninggalkan tak lain hanya jejak kaki)
Motto tersebut merupakan pegangan para penelusur gua yang pada intinya bagaimana
menelusuri keindahan gua tanpa perlu merusak dan mengganggunya. Gua merupakan salah
satu ciri khas kawasan karst. Kawasan karst atau gunung gamping merupakan kawasan yang
unik serta kaya akan sumber daya hayati dan non hayati.
Indonesia mempunyai kawasan karst seluas 20% dari total wilayahnya. Salah satu kawasan
karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan dicalonkan
sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena keunikannya.
Batu gamping sebagai salah satu bahan baku pembuatan semen, dengan eksplorasi yang tidak
bijaksana, lambat laun warisan dunia yang unik dan terbentuk ribuan tahun ini akan hilang
dan hanya menjadi cerita anak cucu kita kelak, jika kita tidak ikut membantu
melestarikannya.
1

http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=188&fname=all.htm

Definisi Karst
Karst dan Karakteristiknya
Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia.
Istilah aslinya adalah krst / krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara
Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste .
Ciri-ciri daerah karst antara lain :
Daerahnya berupa cekungan-cekungan
Terdapat bukit-bukit kecil
Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu
gamping.
Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.
Bentang alam seperti ini dapat Anda jumpai pada daerah di sekitar daerah Gombong, Jawa
Tengah atau daerah Pegunungan Sewu di Gunung Kidul, DIY.
Proses Terbentuknya Gua Gua terbentuk pada dasarnya karena masuknya air ke dalam tanah.
Berikut ini tahapan proses terbentuknya gua :
1. Tahap awal, air tanah mengalir melalui bidang rekahan pada lapisan batu gamping
menuju ke sungai permukaan. Mineral-mineral yang mudah larut dierosi dan lubang
aliran air tanah tersebut semakin membesar.
2. Sungai permukaan lama-lama menggerus dasar sungai dan mulai membentuk jalur
gua horisontal.
3. Setelah semakin dalam tergerus, aliran air tanah akan mencari jalur gua horisontal
yang baru dan langit-langit atas gua tersebut akan runtuh dan bertemu sistem gua
horisontal yang lama dan membentuk surupan (sumuran gua).
Ornamen dan Keindahan Gua
Bentuk ornamen-ornamen gua merupakan keindahan alam yang jarang kita jumpai di alam
terbuka. Di tengah kegelapan abadi proses pengendapan berlangsung hingga membentuk
ornamen-ornamen gua ( speleothem ). Proses ini disebabkan karena air tanah yang menetes
dari atap gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya. Dalam rangka
mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini menyebabkan
berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan melarutkan kalsit menjadi
berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap.
Berbagai ornamen gua yang sering di jumpai :
Stalaktit ( stalactite )
Stalagmit ( stalagmite )
Tiang ( column )
Tirai ( drapery )
Teras-teras travertin
Geode (batu permata)
Stalaktit ( stalactite )

Terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3 )
yang mengkristal, dari tiap tetes air akan menambah tebal endapan yang membentuk
kerucut menggantung dilangit-langit gua.
Berikut ini adalah reaksi kimia pada proses pelarutan batu gamping :
Stalakmit ( stalacmite )
Merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai gua karena hasil tetesan air
dari atas langit-langit gua.
Tiang ( Column )
Merupakan hasil pertemuan endapan antara stalaktit dan stalakmit yang akhirnya
membentuk tiang yang menghubungkan stalaktit dan stalakmit menjadi satu.
Irisan geoode memperlihatkan lingkaran-lingkaran pertumbuhan mineral kuarsa hasil
pengendapan air tanah dalam sebuah rongga batuan
Tirai (drapery)
Tirai (drapery) terbentuk dari air yang menetes melalui bidang rekahan yang
memanjang pada langit-langit yang miring hingga membentuk endapan cantik yang
berbentuk lembaran tipis vertikal.
Teras Travertin
Teras Travertin merupakan kolam air di dasar gua yang mengalir dari satu lantai
tinggi ke lantai yang lebih rendah, dan ketika mereka menguap, kalsium karbonat
diendapkan di lantai gua
Geode
Batu permata yang terbentuk dari pembentukan rongga oleh aktifitas pelarutan
air`tanah. Kemudian dalam kondisi yang berbeda terjadi pengendapan material
mineral (kuarsa, kalsit dan fluorit) yang dibawa oleh air`tanah pada bagian dinding
rongga.
Kehidupan Gua
Ciri-ciri Organisme Gua
Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah
dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua
kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri
walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut. Kondisi lingkungan gua yang telah
kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi,
berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari
sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem
perguaan tersebut.
Berikut ini ciri-ciri organisme gua :
1. Tubuh tidak berpigmen.
2. Waktu reproduksinya tertentu.
3. Mempunyai alat gerak yang ramping dan panjang (Jangkrik gua mempunyai antena
20-21 mm).
4. Mempunyai alat indera (alat penggetar) yang sudah berkembang.
5. Mata tereduksi atau hilang sama sekali.
6. Metabolismenya lamabat karena kurangnya suplai makanan.
7. Dapat beradaptasi dengan lingkungan kelembaban yang tinggi.

Zonasi Kehidupan Gua berdasar Adaptasi


Gua digambarkan sebagai pulau dengan kumpulan organismenya masing-masing. Dalam
klasifikasi klasik, organisme gua dibedakan berdasarkan tingkat adaptasinya terhadap
lingkungan gua yaitu:
1. Trogloxene adalah organisme yang hidup di dalam gua namun tidak pernah
menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam gua. Kelelawar salah satu contoh
hewan trogloxene.
2. Troglophile adalah organisme yang menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam
gua, namun individu yang lain dari jenis yang sama juga hidup di luar gua, seperti:
salamander, cacing tanah, kumbang dan crustacea .
3. Troglobite adalah organisme gua sejati dan hidup secara permanen di zona gelap total
dan hanya ditemukan di dalam gua. Contoh : ikan Amblyopsis spelaeus, Puntius sp,
Bostrychus sp.
Zonasi Kehidupan Gua berdasar Cahaya Ekosistem gua memiliki ciri khas terbatas dengan
absennya cahaya matahari, iklim yang hampir seragam, temperatur yang konstan sepanjang
tahun dan kelembaban relatif yang tinggi dan konstan. Berdasarkan ketersediaan cahaya
matahari, gua memiliki tiga zonasi :
1. Zona mulut atau zona terang ( entrance zone ). Pada zona ini terdapat cahaya matahari
langsung dan iklim gua sangat terpengaruh oleh faktor luar gua.
2. Zona senja atau zona remang-remang ( twilight zone ) adalah zona dengan cahaya
matahari tidak langsung, berupa pantulan cahaya dari zona mulut. Iklim sedikit
terpengaruh oleh kondisi luar gua.
3. Zona gelap total ( dark zone ) adalah zona dimana tidak ada cahaya sama sekali.
Organisme gua sejati hidup di zona ini.
Potensi Kawasan Karst
Penambangan Batu Gamping di Kawasan Karst
Kawasan karst merupakan bentang alam yang unik dan langka. Karena terbentuk dengan
proses yang berlangsung lama dan hanya di jumpai pada daerah-daerah tertentu, sudah
barang tentu kawasan karst menjadi obyek eksplorasi dan eksploitasi manusia yang tidak
pernah merasa puas. Secara umum kawasan karst mempunyai berbagai potensi yang
bermanfaat antara lain :
Potensi Ekonomi
Obyek wisata Gua Jatijajar di Kab. Kebumen Jateng
Semakin meroketnya jumlah penduduk tak ayal lagi membuat manusia berusaha untuk
bertahan hidup. Gua yang umumnya di jumpai dikawasan karst sudah lama dijadikan
manusia sebagai hunian. Selain sebagai hunian, kawasan karst juga tempat untuk
pertanian/peternakan, perkebunan, kehutanan, penambangan batu gamping, penambangan
guano (kotoran kelelawar), penyediaan air bersih, air irigasi dan perikanan, serta
kepariwisataan.
Salah satu pemanfaatan yang merugikan adalah penambangan batu gamping. Dengan
menggunakan bahan peledak akan menganggu hewan didalamnya (kelelawar, burung walet).

Pemanfaatan yang baik untuk kelestarian kawasan karst adalah pariwisata yang selalu
berusaha untuk mempertahankan keaslian dan keunikan kawasan karst tersebut.
Potensi Sosial
Cerita Mitos Di Gua jatijajar
Nilai sosial-budaya kawasan karst selain menjadi tempat tinggal juga mempunyai nilai
spiritual/religius, estitika, rekreasional dan pendidikan. Banyak tempat di kawasan karst yang
digunakan untuk kegiatan spiritual/religius. Banyak aspek hubungan antara manusia
dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual khususnya dengan keyakinan masyarakat
dengan fenomena alam di sekitarnya seperti halnya gua. Hubungan antara manusia dan alam
disekitarnya pada dasarnya akan memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana
melestarikan alam dan dekat dengan Sang Penciptanya.
Potensi Ilmu Pengetahuan
Penelitian sumber Daya Hayati di dalam gua
Kawasan karst dapat menjadi obyek kajian yang menarik bagi berbagai disiplin ilmu antara
lain: geologi, geomorfologi, hidrologi, biologi, arkeologi dan karstologi. Masing-masing
disiplin ilmu tersebut mempunyai ketertarikan terhadap kawasan karst karena kandungan
fenomenanya sangat berbeda dengan kawasan lain di permukaan bumi ini. Fenomena abiotik,
biotik di atas permukaan dan di bawah permukaan kawasan karst masih belum banyak yang
terungkap. Kawasan karst masih mengandung berbagai tantangan ilmiah dari berbagai sudut
ilmu pengetahuan.
Masih banyak hal yang manusia belum ketahui di dalam perut bumi dengan kegelapan
abadinya.
Penutup2
Air liur dari burung walet yang bernilai tinggi
Gua dengan segala keindahannya merupakan ciptaan Tuhan yang tiada taranya. Setiap inci
dari ornamen gua terbentuk dari proses yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.
Selain itu penghuni gua yang khas mengandung potensi yang sangat tinggi jika dimanfaatkan
secara benar dan bijak. Maukah kita melihat warisan dunia yang indah ini rusak karena
tergusur industri semen atau rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Untuk lebih jauh dan lebih dalam mengenal gua dan penghuninya, cobalah Anda sesekali
mengunjungi wisata-wisata gua3 yang ada di Indonesia sumber :
2

http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=188&fname=all.htm pustekkom
2005
3
www.indocaver.org , www.subterra.or.id atau www.karst.or.id
sumber : http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=188&fname=all.htm pustek

Penyedia air
Di kawasan kars banyak dijumpai gua dan sungai bawah tanah yang juga menjadi pemasok
ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya.
Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik
untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.
Daerah karst di Indonesia
Kawasan karst di Indonesia mencakup luas sekitar 15,4 juta hektare dan tersebar hampir di
seluruh Indonesia. Perkiraan umur dimulai sejak 470 juta tahun lalu sampai yang terbaru
sekitar 700.000 tahun. Keberadaan kawasan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Indonesia
banyak yang pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat dan mengalami
pengerasan. Wilayah karst biasanya berbukit-bukit dengan banyak gua.
Berikut adalah wilayah karst di Indonesia :
Gunung Leuser (Aceh)
Perbukitan Bohorok (Sumut)
Payakumbuh (Sumbar)
Bukit Barisan, mencakup Baturaja (Kabupaten Ogan Kombering Ulu)
Sukabumi selatan (Jabar)
Gombong, Kebumen (Jawa Tengah)
Pegunungan Kapur Utara, mencakup daerah Kudus, Pati, Grobogan, Blora dan
Rembang Jawa Tengah)
Pegunungan Kendeng, Jawa Timur
Pegunungan Sewu, yang membentang dari Kabupaten Bantul di barat hingga
Kabupaten Tulungagung di timur.
Sistem perbukitan Blambangan, Jawa Timur
Perbukitan di bagian barat Pulau Flores, tempat lokasi banyak gua, salah satu di
antaranya adalah Liang Bua (Nusa Temggara Timur, NTT)
Perbukitan karst Sumba (NTT)
Pegunungan karst Timor Barat (NTT)
Pegunungan Schwaner (Kalbar)
Kawasan Pegunungan Sangkulirang - Tanjung Mangkaliat seluas 293.747,84 hektare,
memiliki gua-gua dengan lukisan dinding manusia purba (Kalimantan Timur)
Perbukitan Maros Pangkajene, terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep
Sulawesi Selatan, seluas 4.500 hektare dan
Beberapa di antara gua-gua yang ada memiliki lukisan purba
Kawasan karst Wowolesea, memiliki sistem air asin hangat (Sulawesi Tenggara)
Pulau Muna
Kepulauan Tukangbesi
Pulau Seram (Maluku)
Pulau Halmahera (Maluku Utara)
Kawasan karst Fakfak (Papua Barat)
Pulau-pulau Biak dan Pegunungan Tengah dan Pegunungan Lorentz (Papua)
Kawasan Pegunungan Sewu, Pegunungan Maros, dan Pegunungan Lorentz telah
diusulkan ke UNESCO untuk menjadi Kawasan Warisan Dunia.

Sisa-sisa permukiman manusia purba ditemukan di Leang Cadang, Leang Lea, dan goa-goa
lainnya di Maros, Goa Sampung dan Goa Lawa di Ponorogo, Goa Marjan dan Goa Song di
Jember, Song Gentong (Tulungagung), Song Brubuh, Song Terus, dan Goa Tabuhan di
Pacitan. Lukisan atau cap dinding ditemukan di kawasan Kalimantan Timur, Sulawesi
Selatan dan Tenggara, Kepulauan Kai, Seram, Timor, serta Papua. Ini menunjukkan indikasi
migrasi manusia ke arah timur. Selain itu ditemukan pula berbagai sisa berbagai jenis
vertebrata berusia 1,7 juta tahun hingga 700.000 tahun.