Anda di halaman 1dari 13

1

Pengelolaan lingkungan tidak hanya merupakan tugas


pemerintah
semua.

saja,

Negara

memberikan
pemaksa

tetapi

mempunyai

cap

legal

untuk

kebijakan

akan

kekuatan

atau

mengatur

tentang

merupakan
dan

illegal

kewajiban
wewenang

dan

kebijakannya.

lingkungan

akan

kita
untuk

juga

kekuatan

Akan

tetapi,

selalu

mempunyai

dillema pada pelaksanaannya di lapangan. Pada satu sisi


kegiatan ekonomi harus terus berjalan dan pada sisi lain
lingkungan harus tetap dilestarikan. Senada dengan hal
tersebut, kasus industri tapioka di Kecamatan Gumelar,
Kabupaten Banyumas dapat menjadi bahan pertimbangan.
Kecamatan Gumelar merupakan salah satu kecamatan di
Kabupaten

Banyumas

Bumiayu

di

terdiri

dari

yang

Provinsi
sepuluh

berbatasan

Jawa
desa

Tengah.
dan

dengan

Kabupaten

Kecamatan

beberapa

Gumelar

diantaranya

tersebar beberapa industri tapioka guna menopang kegiatan


ekonomi di Kecamatan Gumelar. Sampai dengan tahun 2007,
paling

tidak

ada

41

perusahaan

industri

tapioka

yang

tersebar pada 7 desa di Kecamatan Gumelar. Untuk lebih


jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Sebaran Industri Tapioka di Kecamatan Gumelar
No.

Nama Desa

Jumlah Industri Tapioka

1.

Kedung Urang
RW. 04/RT. 01

2.

Cihonje
RW. 11/RT. 01
RW.03/RT 01, 02

1
2

3.

Cilangkap
RW.03/RT.
02,
03, 05
RW. 02/RT. 07

Jumlah
Industri
Tapioka per Desa
1
3

5
4
1

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

Lanjutan tabel 1
No.

Nama Desa

4.

Tlaga
RW. 01/RT. 01
RW. 08/ RT. 01,
03

5.

6.

7.

Jumlah
Tapioka

Samudra Kulon
RW. 03/RT. 03,
04
RW. 04/RT. 05,
06
RW. 05/ RT. 03,
04, 06
Samudra
RW. 07/RT.
07

Industri

Jumlah
Industri
Tapioka per Desa
4

3
8
2
2
4
2

02,

Gumelar
RW. 1/RT. 05, 06
RW. 02/RT. 01,
02, 05, 09, 10
RW. 03/RT. 03
RW. 04/RT. 06
RW. 05/RT. 01
RW. 07/RT. 01,
02, 03

18

2
8
1
3
1
3

Total

41

41

Sumber: Surat Sekretaris Daerah, tanggal 28 Pebruari 2007, Nomor


660.3/1174/2007.

Tabel

di

atas

menunjukkan

bahwa

dari

41

industri

tapioka yang tersebar pada tujuh kecamatan di Kecamatan


Gumelar, 18 industri tapioka berada di Desa Gumelar yang
merupakan desa yang mempunyai sebaran industri tapioka
yang

terbesar.

Selain

itu,

Desa

Samudra

mempunyai

industri tapioka yang merupakan terbesar kedua setelah


Desa Gumelar.

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

Industri

tapioka

yang

tersebar

di

beberapa

desa

tersebut menghasilkan tepung tapioka yang digunakan untuk


bahan dasar untuk keperluan industri makanan, industri
farmasi,

industri

tekstil,

industri

perekat

dan

sebagainya. Selain itu, industri ini menyumbangkan berkah


tersendiri
ekonomis
masyarakat
tabel
tenaga

bagi

masyarakat

yaitu
dan

yang

memperluas
menambah

menjelaskan

kerja

sekitarnya

yang

kesempatan

pendapatan
tentang

terserap

atau

kerja

masyarakat.

kapasitas

dari

berdampak

industri

bagi
Berikut

produksi

dan

tapioka

di

Kecamatan Gumelar:
Tabel 2 Kapasitas Produksi dan Tenaga Kerja Industri Tapioka di
Kecamatan Gumelar
No.

Nama Desa

Kapasitas
(Kg/hari)
300

Produksi

Jumlah Tenaga Kerja

1.

Desa Kedung
Urang

2.

Desa
Cihonje

1800

12

3.

Desa
Cilangkap

8000

23

4.

Desa Tlaga

8500

18

5.

Desa
Samudra
Kulon

45000

120

6.

Desa
Samudra

4000

10

7.

Desa
Gumelar

103000

303

Total

170600

490

Sumber: Surat Sekretaris Daerah, tanggal 28 Pebruari 2007, Nomor


660.3/1174/2007.

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

Tabel 2 menjelaskan bahwa ada perbedaan jumlah tenaga


kerja

berdasarkan

kapasitas

produksinya.

Semakin

besar

produksi yang dihasilkan, semakin besar industri tapioka


tersebut membutuhkan tenaga kerja. Jadi, jumlah tenaga
kerja terbesar yang dibutuhkan industri tapioka berada di
kawasan

Desa

Gumelar

yang

juga

mempunyai

kapasitas

produksi yang terbesar.


Dampak

ekonomis

dengan

bentuk

perluasan

lapangan

pekerjaan dan meningkatnya pendapatan masyarakat tersebut


juga ditunjang dengan Peraturan Bupati Banyumas Nomor 31
Tahun 2006 Tentang Jenis Usaha Dan Atau Kegiatan Yang
Wajib

Dilengkapi

Dengan

Upaya

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup (UKL) Dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL)


yang

ditetapkan

pada

tanggal

Agustus

peraturan bupati tersebut, di cantumkan


pati

ubi

dengan

kayu

UKL

(tepung

dan

UPL

tapioka)
adalah

yang

2006.1

Dalam

bahwa industri
wajib

industri

dilengkapi

tapioka

yang

menggunakan singkong sama dengan atau di atas 90000 ton


per tahun. Hal ini berarti, produksi tepung tapioka per
perusahaan pada beberapa desa di Kecamatan Gumelar kurang
dari skala atau besaran yang telah ditentukan2 dan oleh
karenanya,

industri

tapioka

di

Kecamatan

Gumelar

dibebaskan dari kewajiban untuk melengkapi UKL dan UPL.


Peraturan
kerakyatan,

Bupati
di

tersebut

mana

menekankan

perusahaan

tapioka

pada

ekonomi

berskala

kecil

(=/> 90000 ton per tahun) tetap berlangsung tanpa dikenai

1
2

Lihat Lampiran
Lihat tabel 2

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

beban pengelolaan limbah yang dapat mengurangi keuntungan


para pengusaha kecil ini.
Walaupun

demikian,

industri

tapioka

di

Kecamatan

Gumelar berdampak ekologis yaitu pencemaran air dan udara


di lingkungan sekitarnya. Hal tersebut dijelaskan pada
tabel berikut:
Tabel 3 Pembuangan dan Dampak Industri Tapioka
di Kecamatan Gumelar

No.

Nama Desa

Volum
e Air
Limba
h
(m3/ha
ri)
1

Ada/T
idak
IPAL

Air
Limbah
dimanfa
at
kan
untuk

Air
Limbah
dibuang ke

Dampak

1.

Desa
Kedung
Urang

Ada

Dibuang

Kali Arus

Tidak
terjadi
konfik
sosial

2.

Desa
Cihonje

4,5

Ada

Dibuang

Kali
Dawa

Karang

Tidak
terjadi
konfik
sosial

3.

Desa
Cilangkap

24

Ada

Dibuang

Kali Citawali
Kali Ciwaru
Kali Tajum

Tidak
terjadi
konfik
sosial

4.

Desa Tlaga

25,5

Ada

Dibuang

Kali Citawali

Tidak
terjadi
konfik
sosial

5.

Desa
Samudra
Kulon

135

Ada

Dibuang

Kali Gumelar
Kali Sawangan

Telah
terjadi
konfik
sosial antar
masyarakat
akibat
pembuangan
air limbah

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

Lanjutan tabel 3
No.

Nama Desa

Volum
e Air
Limba
h
(m3/ha
ri)
12

Ada/T
idak
IPAL

Air
Limbah
dimanfa
at
kan
untuk

Air
Limbah
dibuang ke

Dampak

6.

Desa
Samudra

Ada

Dibuang

Kali Tajum

Tidak
terjadi
konfik
sosial

7.

Desa
Gumelar

309

Ada

Dibuang

Kali
Kali
Kali
Kali
Kali

Telah
terjadi
konfik
sosial antar
masyarakat
akibat
pembuangan
air limbah

Total

511

Bujil
Cipandan
Cibusung
Citawali
Sompak

Sumber: Surat Sekretaris Daerah, tanggal 28 Pebruari 2007, Nomor


660.3/1174/2007.

Tabel

Kecamatan
Air

menunjukkan
Gumelar

Limbah)

dan

bahwa

mempunyai
juga

semua

industri

IPAL

(Instalasi

tidak

memanfaatkan

tapioka

di

Pembuangan
air

limbah

tersebut. Selain itu semua industri tapioka di Kecamatan


Gumelar membuang air limbahnya ke sungai. Pembuangan air
limbah tersebut menyebabkan dampak yaitu berupa konflik
sosial di beberapa desa yaitu Desa Samudra Kulon dan Desa
Gumelar.
Dari kajian tersebut di atas, dapat dilihat bahwa
kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dalam
hal

ini

Bupati

pengelolaan

dalam

lingkungan

bentuk
pada

Peraturan
kegiatan

Bupati

dalam

industri

tidak

berjalan efektif. Sehingga dalam makalah yang pendek ini,

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

penulis

akan

membidik

pokok

bahasan

tentang

mengapa

kebijakan pengelolaan lingkungan pada kegiatan industri


dalam bentuk Peraturan Bupati tentang Jenis Usaha Dan
Atau

Kegiatan

Yang

Wajib

Dilengkapi

Dengan

Upaya

Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Dan Upaya Pemantauan


Lingkungan Hidup (UPL) tidak efektif?
Ketidakefektifan Kebijakan
Pada

dasarnya,

industri

merupakan

usaha/kegiatan

untuk ekonomi demi mendapatkan keuntungan melalui proses


produksi,
bertujuan
Ketika

konsumsi
untuk

dan

distribusi.

menghasilkan

produksi

tersebut

barang/jasa.

dikaitkan

sekitarnya, kegiatan produksi


barang/jasa

tetapi

juga

Produksi

sendiri

Akan

dengan

tetapi.

lingkungan

tidak hanya menghasilkan

menghasilkan

limbah

yang

dikeluarkan dari proses tersebut.


Kebijakan

politik

seharusnya

menjadi

penghubung

dalam mengkerangkai fenomena ekologis dan ekonomi. Hal


ini dapat dilihat pada gambar berikut:

JEMBATAN (Politik)

Ekologi

Dalam

gambar

tersebut

Ekonom
i

menjelaskan

bahwa

politik

yang

dapat berupa perilaku maupun kebijakan pemerintah sebagai


jembatan
yang

yang

berbeda

menghubungkan
yakni

dua

ekologi

logika

dan

serta

ekonomi.

fenomena
Kebijakan

seharusnya dijadikan acuan agar kedua fenomena tersebut


tidak

saling

berbenturan

atau

merugikan

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

satu

sama

lainnya. Apabila politik yang berupa kebijakan pemerintah


dapat

menjadi

tersebut,

penghubung

maka

dua

kebijakan

fenomena

tersebut

atau

dapat

logika

dikatakan

efektif.
Untuk
industri,

meminimalkan
diperlukan

dampak

kerusakan

pengawasan

dari

ekologis

berbagai

dari

pihak,

terutama negara. Kebijakan yang dikeluarkan oleh negara


seharusnya

juga

pelaksanaannya.
bias

melihat

Terkadang

diandalkan

untuk

prinsip
birokrasi

diperankan

ekologis

dalam

pemerintahan
sebagai

tidak

instrumen

pengelolaan lingkungan hidup karena system nilai yang ada


di dalam birokrasi pemerintahan tersebut tidak sensitive
terhadap premis-premis ekologis.3
Di dalam Peraturan Bupati Banyumas nomor 31 Tahun
2006

yang

menggunakan

logika

besaran/skala

penggunaan

produksi per industri tidak serta merta mengurangi dampak


negatif

ekologis.

Ketika

produksi-produksi

industri

tapioka yang tidak sesuai dengan skala yang ditentukan


terakumulasi

dalam

satu

kawasan

malah

mengakumulasikan

limbah itu sendiri. Memang, kebijakan pemerintah daerah


tersebut sangat pro dengan industri kecil. Untuk tidak
memberikan
membuat

beban

kepada

peraturan

industri

yang

kecil,

ditetapkan

pemerintah
berdasarkan

besaran/skala. Berarti, hanya perusahaan-perusahaan besar


yang

diwajibkan

untuk

mengelola

lingkungan

dengan

melengkapinya dengan UPL dan UKL. Jika industri kecil


diperketat dengan pengelolaan limbah, maka industri kecil
3

Purwo Santoso, Ph.D; (Makalah) Environmental Governance : Filosofi Altrnatif Untuk Berdamai
Dengan Lingkungan Hidup; halaman 17.

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

tersebut akan bangkrut. Jadi, industri kecil dibebaskan


dari

pengelolaan

lingkungan

yang

akan

menambah

beban

produksi. Akan tetapi, pada kenyataannya, hal tersebut


tidak serta merta menyelamatkan lingkungan, malah ikut
menimbulkan dampak lingkungan yang negatif. Hanya karena
yang kecil (industri kecil) ini tidak dianggap berbahaya,
system perijinan hanya peduli pada satu-persatu industri.
Padahal

dari

terakumulasi

satu-persatu

di

satu

industri

kawasan

capacity

(batas

kemampuan

setelah

mendapat

zat-zat

dan

alam
yang

tersebut

menyebabkan

untuk

akan

carrying

merecovery

masuk

dari

luar)

diri
pada

aliran pembuangan limbah tersebut tidak terjangkau. Dalam


proses pembuangan limbah ke sungai yang dilakukan oleh
pengusaha

tapioka,

dengan

menggunakan

logika

carrying

capacity, limbah cair tapioka dalam kondisi normal dapat


larut dalam air sungai pada kadar yang seimbang dengan
kemampuan

air

akumulasi

limbah

terjadi,

maka

sungai

dalam

tersebut

akhirnya

merecovery

bertambah

sungai

dan

tidak

diri.

Ketika

terus-menerus

bisa

merecovery

dirinya sendiri. Kebijakan Pemda Banyumas yang berdimensi


Politically

correct

yakni

dalam

bentuk

diskriminasi

sasaran kebijakan yang bersifat positif yang diberikan


kepada

industri

akhirnya

kecil

berdampak

untuk

pula

tidak

terhadap

mengelola

ekologi

dan

limbah
sosial.

Dampak ekologi berupa pencemaran dan dampak sosial berupa


konflik.
Di

samping

Kecamatan

itu,

Gumelar,

dalam

untuk

kasus

industri

mengurangi

tapioka

pencemaran,

di

para

pengusaha sudah membuat Instalasi Pembuangan Air Limbah

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

10

(IPAL)

yang

sebelum

berfungsi

dibuang

lindur

atau

Logika

end

ke

elot
of

untuk

sungai.

yaitu

pipe4

mengendapkan
Hasil

pati

dalam

yang

bentuk

limbah

endapannya

disebut

kualitasnya
IPAL

cair

jelek.

tersebut

bukan

mengurangi masalah pencemaran, malah membuat masalah baru


bagi masyarakat sekitar. Masalah pencemaran yang timbul
karena IPAL tersebut adalah pencemaran udara (bau tidak
sedap), pencemaran sungai (dari pembuangan air limbah ke
sungai)dan

pencemaran

tanah

(air

resapan

warga

berbau

seperti bau air limbah tapioka). Teknologi sederhana yang


dilakukan para pengusaha tapioka tersebut harganya murah,
tetapi dampak ekologis terabaikan.
Persoalan limbah merupakan pemindahan resiko. Resiko
yang dipindahkan oleh industri tapioka kepada masyarakat
sekitar. Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari
proses

produksi

baik

industri

maupun

domestik

(rumah

tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat


tertentu

tidak

dikehendaki

lingkungan

karena

tidak

memiliki ekonomis.5 Ada dua kemungkinan dari pembuangan


limbah, pertama, tidak ada orang lain yang terganggu, dan
kedua, ada orang lain yang terganggu. Persoalan politik
muncul manakala limbah mengganggu orang lain.6
Solusi
Untuk

mengurangi

dan

meminimalisir

dampak

negatif

dari limbah industri tapioka tersebut, limbah dikelola


4

End of pipe muncul dari konsep limbah pabrik yaitu berakhirnya masalah pencemaran pada jalur
yang paling akhir.
5
Diperoleh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah
6
terinspirasi dari tulisan Purwo Santoso, Ph.D tentang Pendekatan Politis dalam Merespon Persoalan
Sampah, yang penulis kaitkan dengan limbah.

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

11

dengan prinsip internalisasi eksternalitas yaitu dengan


cara meminimalkan limbah pada internal kegiatan produksi
sebelum
dari

akhirnya

hulu

ke

dibuang

hilir.

dengan

Semua

cara

fase

melihat

produksi

pengelolaan/pengolahan

produksi diminimalisir dari resiko lingkungan dengan cara


mengurangi volume limbah, yang biasa disebut dengan clean
production.
Dalam kegiatan pengendalian pencemaran limbah, tidak
hanya dilakukan pengelolaan limbah saja, namun kegiatan
untuk mengurangi jumlah limbah yang keluar dari industri
juga merupaka suatu langkah yang akan membantu menurunkan
beban pencemaran. Penanganan limbah tersebut sudah harus
dimulai
proses

dari

tahap

produksi,

pemilihan

di

samping

bahan
itu

baku

hingga

pengendalian

akhir
dampak

setelah proses produksi juga merupakan hal yang penting.


Karenanya, dibutuhkan informasi pemilihan bahan baku yang
bersih dari bahan pencemar, teknologi proses yang ramah
lingkungan

dan

teknologi

daur

ulang

yang

sangat

diperlukan.7
Untuk memanfaatkan limbah industri tapioka, diawali
dengan awal proses produksinya. Proses pengupasan ketela
pohon

dari

kulitnya

yang

kulit,

dapat

kotoran

dan

ternak.

Sedangkan

limbah

berupa

limbah

dimanfaatkan
padat

hasil

padat

berupa

untuk

makanan

endapan

berupa

lindur atau elot yang merupakan pati yang kualitasnya


jelek dapat digunakan sebagai pupuk, bahan campuran saus,
sirup glukosa dan obat nyamuk bakar. Lain pula dengan
7

Dikutip dari Abstrak Hasil Penelitian Publikasi Februari 2007 oleh Ramadhani Sari, S.T.P; Dr. Eng.
Udin Hasanudin , M.T; Dr. Ir. Suharyono AS, M.S.

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

12

limbah cair yang dikeluarkan dari industri tapioka yang


biasanya dibuang ke sungai, dapat dimanfaatkan menjadi
minuman nata de cassava.8
Di samping pengelolaan limbah yang dapat dilakukan
oleh

pengusaha

tapioka,

pemerintah

juga

dapat

menitik

beratkan kebijakannya agar bernuansa ekologis. Pemerintah


seharusnya

mengintegrasikan

pengelolaan

limbah

berdasarkan kawasan sehingga limbah dapat dikelola oleh


setiap

perusahaan

tertentu.

Selain

tapioka
itu,

berdasarkan

pemerintah

dapat

satu

kawasan

menggunakan

subsidi silang bagi industri kecil tapioka. Dimana pajak


dari industri besar digunakan untuk membantu pengelolaan
limbah di Kecamatan Gumelar baik dengan teknologi, maupun
pelatihan-pelatihan untuk mendaur ulang.

Bahan Bacaan:

Nurhasan dan Bambang Pramudyanto,; 1996; Buku Panduan Pengendalian Dampak Lingkungan
Industri Tapioka di Indonesia; Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang dikuti dari Ibid.

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06

13

1. Purwo

Santoso,

Governance

Ph.D;

Filosofi

(Makalah)
Altrnatif

Environmental
Untuk

Berdamai

Dengan Lingkungan Hidup.


2. Purwo Santoso, Ph.D; (Makalah) Pendekatan Politis
dalam Merespon Persoalan Sampah.
3. Abstrak Hasil Penelitian Publikasi Februari 2007
oleh

Ramadhani

Sari,

S.T.P;

Dr.

Eng.

Udin

Hasanudin , M.T; Dr. Ir. Suharyono AS, M.S.


4. Surat Sekretaris Daerah, tanggal 28 Pebruari 2007,
Nomor 660.3/1174/2007.
Sumber Lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah

Benny Nuggraha/Politik Ekonomi Lingkungan Hidup/S2 Ilmu Politik 06