Anda di halaman 1dari 6

Tugas Akhir Matakuliah KI5146 Termodinamika Kimia

HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA DAN


SISTEM IKLIM GLOBAL:
SEBUAH REVIEW TENTANG PRINSIP
PRODUKSI ENTROPI MAKSIMUM

Adhe Aryswan
20513087

Institut Teknologi Bandung


2014

Bagian Satu: Pendahuluan


Iklim bumi dapat ditinjau dari sudut pandang termodinamika. Dengan
menggunakan konsep Carnot, bumi dapat dianggap sebagai mesin kalor yang
mengalirkan kalor yang diterima bumi dari tempat panas di daerah khatulistiwa
menuju daerah dingin di kutub. Menurut Carnot, perpindahan kalor disertai juga
dengan kerja mekanik dimana pindahnya arus panas ini menghasilkan energi
potensial di atmosfer dan laut sehingga terjadi juga gerak kinetiknya. Peristiwa ini
diilustrasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema proses transpor energi dari matahari ke bumi.


Proses ini melibatkan perubahan entropi sistem yang meningkat. Karena bumi
dianggap sebagai sistem fluida nonlinear, maka produksi entropi yang terjadi
adalah maksimum berdasarkan Teori Optimum (Malkus, 1956 dan Busse, 1970).
Ozawa (2001) juga mengungkapkan bahwa laju produksi entropi oleh dissipasi
turbulen (dissipasi termal dan viskos) adalah maksimum. Hipotesis produksi
entropi maksimum (MEP) ini dapat menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan
berbagai sistem fluida seperti iklim bumi, iklim planet lain, konveksi mantel
planet, sifat-sifat transpor dari turbulensi, laju serta pembentukan energi potensial
dalam atmosfer.
Bagian Dua: Konsep Dasar
Berdasarkan Hukum Kedua Termodinamika, suatu proses dapat berjalan spontan
jika entropinya meningkat. Sedangkan untuk suatu sistem diabatik (sistem tertutup

dimana masih dapat terjadi pertukaran kalor) entropinya dapat meningkat maupun
menurun karena terjadi pertukaran kalor dengan sistem lain di sekelilingnya.
Secara keseluruhan, entropi total dari keseluruhan sistem tersebut meningkat
sehingga tidak melanggar Hukum Kedua Termodinamika. Gambar 2 berikut
mengilustrasikan paparan di atas.

Gambar 2. Skema transpor kalor melalui suatu sistem kecil antara dua reservoir termal beda suhu.

Jika transpor kalor tersebut terjadi secara reversible seperti dalam siklus Carnot,
sebagian dari energi kalor yang mengalir akan dikonversi menjadi energi mekanik
atau kerja mekanik dalam sistem. Namun, dalam sistem alam yang terjadi adalah
proses irreversible, dimana semua kalor berpindah secara langsung dari reservoir
panas ke dingin sehingga tidak ada kerja yang terbentuk dan produksi entropi
semakin besar. Singkatnya, dissipasi termal maupun mekanik menyebabkan
produksi entropi dalam keseluruhan sistem.
Bagian Tiga: Iklim Global
Berdasarkan teori produksi entropi maksimum (MEP), Paltridge (1978) menbuat
suatu permodelan untuk merepresentasikan sistem termodinamik bumi. Prediksi
dari model Paltridge ini mirip dengan keadaan real hasil observasi langsung.
Grafik fungsi tersebut digambarkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Distribusi suhu udara, awan dan fluks panas di bumi.


Model Paltridge tersebut mendekati keadaan real, sehingga digunakan untuk
mempelajari berbagai problem praktis seperti pemanasan global akibat
peningkatan karbondioksida dan lain-lain. Walaupun terdapat ambiguitas, dapat
ditarik kesimpulan bahwa produksi entropi maksimum benar-benar terjadi di
bumi.
Paparan di atas tidak melibatkan radiasi dari luar, padahal sinar matahari adalah
sumber energi dan penyumbang entropi terbesar di bumi (Essex, 1984) seperti
digambarkan Gambar 4.

Gambar 4. Aliran Energi dan Entropi Bumi

Perlu diketahui walaupun laju produksi entropi akibat dissipasi turbulensi (yang
telah dibahas sebelumnya) lebih kecil daripada yang dibentuk dari penyerapan
radiasi, laju entropi tersebut adalah maksimum dalam sistem iklim.
Bagian Empat: Iklim Planet Lain
Model MEP untuk memperkirakan iklim yang ditemukan di bumi ternyata tidak
cocok dengan planet lain. Hal ini disebabkan perbedaan parameter seperti ukuran
planet, kecepatan rotasi dan tingkat kepadatan atmosfer. Akan tetapi, tidak semua
planet dapat menerapkan model tersebut. Misalnya merkurius, tidak dapat
melangsungkan transpor panas seperti planet lain karena atmosfernya terlalu tipis.
Bagian Lima: Konveksi Mantel dalam Planet
Mantel planet adalah bagian cair dari suatu planet yang terletak di antara inti dan
kerak. Seperti fluida lain yang menghantarkan panas, mantel bergerak secara
konveksi dengan kecepatan tertentu.

Ternyata, konveksi mantel juga

menyumbang entropi untuk keseluruhan sistem termodinamik suatu planet.


Bagian Enam: Turbulensi Fluida
Ketika terjadi konveksi pada fluida (saat temperatur batas gerak konveksi),
turbulensi juga akan muncul. Hipotesis MEP dalam turbulensi termal menyatakan
bahwa saat temperatur batas dijaga konstan, kondisi MEP identik dengan transpor
kalor maksimum yang terjadi secara konventif.
Bagian Tujuh: Kondisi Untuk Turbulensi Terbentuk Penuh
Setelah dilakukan peninjauan terhadap penerapan hipotesis MEP pada fenomena
alam, diketahui bahwa faktor utamanya berkaitan dengan nonlinearitas proses
transpor dalam turbulensi.
Turbulensi akan terbentuk secara penuh jika dua kondisi terpenuhi. Kondisi yang
dimaksud adalag stabilitas sistem dan

waktu observasi. Penuhnya turbulensi

berimplikasi pada laju produksi entropi, yang akan mencapai maksimum.


Bagian Delapan: Energetika Lorenz

Lorenz merumuskan energetika yang berhubungan dengan konsep Carnot tentang


pembentukan

energi

dimana

produksi

entropi

adalah

dissipasi

energi.

Pembentukan energi potensial maksimum yang diusulkan Lorenz identik dengan


hipotesis MEP.