Anda di halaman 1dari 6

EVALUASI GRANUL

UJI WAKTU ALIR


Uji ini dilakukan dengan metode corong. Adapun caranya adalah sebagai berikut yaitu

ditimbang 100g granul yang sudah terbentuk, kemudian dimasukkan kedalam corong dengan
ukuran tertentu yang bagian bawahnya tertutup. Alat dijalankan, kemuian dicatat waktu yang
diperlukan seluruh granul untuk melalui corong tersebut dengan menggunakan stopwatch.
Range : Waktu alir granul yang baik adalah jika waktu yang diperlukan kurang lebih
atau sama dengan 10 detik untuk 100 gram granul. Dengan demikian kecepatan alir
yang baik adalah lebih besar dari 100 gram/detik. Rumusnya Coba dicari rumusnya di
ANSEL

% KOMPRESSIBILITAS
Pengukuran lain dari sebuk yang bebas mengalir adalah kompresibilitas yang dihitung

dari kerapatan granul, yaitu dengan memasukkan sejumlah tertentu granul kedalam gelas
ukur. Volume awal dicatat, kemudian diketuk-ketuk sampai tidak terjadi pengurangan
volume. Selanjutnya dihitung persen kompressibilitasnya. (Lachman, 1994:682-683)
Kompresibilitas =

VoVi
Vo

x 100 %

Vo = Volume awal granul


Vi = Volume granul setelah diketukkan
Tabel 2.1 Kompressibilitas dan daya alir. (Lachman, 1989: 400)

% Kompressibilitas
5-15

Daya Alir
Baik sekali

12-16

Baik

18-21

Sedang- dapat lewat

23-35

buruk

33-38

sangat buruk

>40

sangat buruk sekali

UJI KADAR AIR / KADAR UAP GRANUL

Digunakan alat moisture balance, yaitu dimasukkan 2,0 gram serbuk dalam pinggan berlapis
aluminium foil yang telah ditara terlebih dahulu kemudian diukur kadar susut
pengeringannya pada suhu 105C hingga alat dengan sendirinya berbunyi dan muncul angka
% MC pada display, maka akan didapat persen susut pengeringan (Agoes, 2012).
Range : Kadar air normal pada granul kering sebesar 2 5%. Rumusnya Coba dicari
rumusnya di ANSEL

Sudut henti atau sudut diam


Menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan dengan ketinggian

tertentu. Kemudian granul dialirkan melalui corong dan ditampung pada bagian bawahnya.
Gundukan yang tertampung lalu diukur tinggi (dicatat sebagai h) dan diameternya (dicatat
sebagai d).
Sudut yang terbentuk

Keterangan

< 25

Sangat baik

25 o 30

Baik

30 o 40

Cukup baik

< 1,6

Sangat buruk

Secara umum serbuk semakin rendah sudut diam maka serbuk semakin baik sifat
alirnya (free flowing). Rumusnya Coba dicari rumusnya di ANSEL
Evaluasi Tablet
1. Penampilan
Tablet diamati secara visual meliputi : warna (homogenitas), bentuk (bundar, permukaan
rata/cembung), cetakan (garis patah, tanda, logo, pabrik), dll.
2. Tebal dan Diameter Tablet
Ketebalan berhubungan dengan kekerasan tablet. Selam percetakan, perubahan
ketebalan merupakan indikasi adanya masalah pada aliran massa cetak atau pada
pengisian granul ke dalam die. Alat yang digunakan pada uji keseragaman ukuran
adalah jangka sorong.
Prosedur kerja uji keseragaman ukuran adalah sebagai berikut (Indonesia, 1976:6)
1. Diambil 10 tablet

2. Tablet yang baik mempunyai diameter tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang
dari 11/3 tebal tablet.
3. Keseragaman bobot dan keseragaman kandungan tablet

Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet satu persatu dan dihitung
bobot rata-ratanya. Hasilnya, tidak lebih dari dua tablet yang mempunyai penyiampangan
lebih besar dari kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang mempunyai
penyimpangan bobot lebih besar dari kolom B.
Tabel persyaratan penyimpangan bobot tablet.
Bobot rata-rata
25 mg atau kurang
26 mg-150 mg
151 mg-300 mg
Lebih dari 300 mg

Penyimpangan bobot rata-rata


A
B
15%
30%
10%
20%
7,5%
15%
5%
10%

Keseragaman kandungan obat atau Uji penetapan kadar zat berkhasiat dilakukan untuk
mengetahui apakah tablet tersebut memenuhi syarat sesuai dengan etiket. Bila kadar obat
tersebut tidak memenuhi syarat maka obat tersebut tidak memiliki efek terapi yang baik
dan tidak layak dikonsumsi. Uji penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan caracara yang sesuai pada masing-masing monografi antara lain di Farmakope Indonesia
(Dirjen POM, 1995).
4. Uji Kekerasan
Kekerasan menggambarkan kekuatan tablet untuk menahan tekanan pada saat
proses produksi, pengemasan, dan pengangkutan. Prinsip pengukurannya adalah
memberikan tekanan pada tablet sampai tablet retak atau pecah, kekuatan minimum
untuk tablet adalah sebesar 4 kg/cm3. Alat yang digunakan pada uji kekerasan adalah
hardness tester. (Ansel, 1989)
Prosedur kerja uji kekerasan :
1. Tablet diletakkan diantara pegas penekan, kemudian alat dihidupkan.
2. Jarum petunjuk tekanan akan bergerak sesuai tekanan yang diberikan pada tablet.
NB: Sebelum tablet dimasukkan kedalam alat friabilator, tablet ditimbang terlebih
dahulu. Kemudiann tablet dimasukkan kedalam alat, lalu alat dioperasikan selama 4
menit atau 100 kali putaran. Tablet ditimbang kembali dan dibandingkan dengan berat

mula-mula. Selisih berat dihitung sebagai keregasan tablet. Persyaratan keregasan


harus lebih kecil dari 0,8% (Ansel, H.C., 1989). Rumusnya Coba dicari rumusnya di
ANSEL
5. Uji Waktu hancur
Agar bahan obat dapat secara utuh diserap pada sistem pencernaan, maka tablet
harus hancur dan melepaskan bahan obat kecairan tubuh. Waktu hancur adalah waktu
yang dibutuhkan oleh tablet untuk menjadi partikel-partikel kecil. Tablet biasanya
diformulasikan dengan bahan pengembang yang menyebabkan tablet hancur didalam
air atau cairan lambung (Soekemi, A. R., 1987). Peralatan uji waktu hancur terdiri dari
rak keranjang yang mempunyai enam lubang yang terletak vertikal diatas ayakan
mesh nomor 10. Selama percobaan tablet diletakkan pada tiap lubang keranjang,
kemudian keranjang tersebut bergerak naik turun dalam larutan transparan dengan
kecepatan 29-32 putaran permenit. Interval waktu hancur adalah 5-30 menit
(Ansel, H.C., 1989). Rumusnya Coba dicari rumusnya di ANSEL
6. Uji kompresibilitas Merupakan pengukuran persen kemampatan. Pada uji ini
menggunakan gelas ukur bervolume besar, kemudian seluruh granul dimasukkan ke
dalam gelas ukur. Tinggi awal granul dicatat, kemudian gelas ukur diketuk-ketukkan
sebanyak 500 kali ketukan dengan kecepatan konstan. Tingginya lulu diukur lagi dan
dicatat Diukur persen (%) :Rumusnya Coba dicari rumusnya di ANSEL
5-15% aliran sangat baik
16-25% aliran baik
>/ 26% aliran buruk
7. Uji friabilitas (Lihat modul hal. 11)
8. Uji disolusi
Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang
tertera dalam masing-masing monografi untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada
etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Ada dua jenis alat yang dapat digunakan
untuk uji disolusi, untuk uji disolusi tablet parasetamol digunakan alat jenis 2 dengan
kecepatan 50 rpm selama 30 menit. Uji kesesuaian alat dilakukan pengujian masing-

masing alat menggunakan 1 tablet Kalibrator Disolusi FI jenis diintegrasi dan 1 tablet
Kalibrator Disolusi FI jenis bukan disintegrasi. Alat dianggap sesuai bila hasil yang
diperoleh berada dalam rentang yang diperbolehkan seperti yang tertera dalam sertifikat
dari Kalibrator yang bersangkutan. Untuk media disolusi digunakan 900 mL larutan dapar
fosfat pH 5,8. Kemudian lakukan penetapan jumlah parasetamol yang terlarut dengan
mengukur serapan filtrat larutan uji dan larutan baku pembanding parasetamol BPFI
dalam media yang sama pada panjang gelombang maksimum 243 nm. Dalam waktu 30
menit harus larut tidak kurang dari 80 % parasetamol dari jumlah yang tertera pada etiket.

9.

Daftar Pustaka
Lachman, L., dkk,. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri, UI Press: Jakarta
Lachman, L, Lieberman, H, A, dkk, 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi III,
Penerbit Universitas Indonesia, UI Press: Jakarta.
Ansel,H.C., (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta.
Dirjen POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope. Indonesia.
Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI