Anda di halaman 1dari 81

!

!
!
!

Modul&Bahan&Ajar!

SINYAL!DAN!RANGKAIAN!
ADHARUL'MUTTAQIN,'EKO'SETIAWAN!
!

PROGRAM!TEKNOLOGI!INFORMASI!DAN!ILMU!KOMPUTER!

UNIVERSITAS!BRAWIJAYA!

!
!

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

!2012$

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunya Modul Ajar
Sinyal dan Rangkaian. Modul ajar ini disusun untuk menunjang mata kuliah Sinyal dan
Rangkaian yang diberikan di perguruan tinggi. Sistematika pembuatan modul ajar ini
didasarkan pada Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester. Modul ajar ini
merupakan modul acuan yang disusun guna memahami konsep dasar dari sinyal dan
rangkaian.
Modul ajar disusun dalam beberapa bab sesuai dengan keilmuan dasar sinyal dan
rangkaian. Setiap bab dalam buku ini diawali dengan pendahuluan dan tujuan instruksional
bab yang bersangkutan. Dalam setiap bab diberikan contoh-contoh yang diperlukan untuk
meningkatkan pemahaman pembaca tentang masalah yang dibahas. Di akhir bab selalu
disertai soal-soal untuk dikerjakan sebagai latihan.
Penulis berharap semoga modul ajar yang masih jauh dari sempurna ini dapat
membantu memperkaya khazanah kepustakaan keilmuan, khususnya di bidang teknologi
informasi dan ilmu komputer. Penulis menyadari keterbatasannya sebagai manusia dan selalu
menerima saran dan kritik demi perbaikan buku ini di masa mendatang guna pencapaian
modul ajar yang berkualitas.

Malang, Desember 2012

Tim penulis

ii!!

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

!2012$

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN


SEMESTER (RPKPS)
MATA KULIAH
KODE/ STATUS
SKS
DOSEN

: Sinyal dan Rangkaian


:
:3
: 1. Adharul Muttaqin, ST., MT.
2. Barlian Henryranu P., ST., MT.
3. Eko Setiawan, ST.

KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN DICAPAI OLEH PESERTA (TIU DAN TIK)


Setelah mengikuti matakuliah ini mahasiswa dapat :
1. Memberikan pengertian mengenai konsep dasar besaran dan unsur-unsur ragkaian
listrik secara umum.
2. Dapat memahami hukum dasar rangkaian listrik
3. Dapat memahami dan menjelaskan metode analisis rangkaian listrik searah dan
Bolak-balik
4. Dapat memahami dan menjelaskan Metode Bilangan Kompleks dan Fasor
5. Dapat memahami dan menjelaskan konsep Gejala Sentara
6. Dapat memahami dan menjelaskan Daya Rangkaian Listrik Bolak-balik

PUSTAKA YANG DIGUNAKAN


1. Mismail, Budiono, Dasar Teknik Elektro jilid 1 Rangkaian Listrik, UB Press, 2011.
2. Theraja, B.L.. Fundamentals of Electrical Engineering and Electronics. New Delhi: S.
Chand & Company, Ltd. 2002.
3. Weedy, B.M. and B.J. Cory.. Electric Power Systems. 4th ed. Chichester: John wiley &
Sons. 1998.
4. Alexander, Charles K. dan Matthew N. O. Sadiku. Fundamental of Electric Circuits.
India: The McGraw-Hill Companies Inc. 2004.
5. Powell, Ray. Introduction to Electric Circuits. London: Arnold Hodder Headline
Group. 1995.

iii!
!

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

!2012$

!
PERTEJENIS KEGIATAN
MUAN
PEMBELAJARAN
KE
(1)
(2)

POKOK
BAHASAN

SUB POKOK
BAHASAN

WAKTU

(3)

(4)

(5)

BENTUK BOBOT
TAKSONOMI
TUGAS NILAI
(6)

(7)

(8)
1 2 3 4 56

Sifat Listrik
Pendahuluan Gaya dan
Medan
Besaran dan Satuan Sistem
Kuliah dan
Unsur
Internasional
Pemberian tugas
rangkaian Besaran Listrik
Rumah
Listrik I
Sumber dan
Besaran dan Unsur
Kuliah dan
Unsur
rangkaian
Pemberian tugas
rangkaian Resistansi,
Rumah
Listrik II
Induktansi dan
Kapasitansi
Hukum Dasar Hukum
Kuliah dan Tugas
Rangkaian Khirchoff
Rumah
Listrik I

150
menit

Transforasi Y
Hukum Dasar Sumber
Kuliah, diskusi dan
Rangkaian dengan
simulasi
Listrik II
Rangkaian
Sentaranya
Penguat Kerja
Tegangan
Metode
Kuliah dan Tugas
Simpul
Analisis
Rumah
Rangkaian I Arus Mata Jala

150
menit

Kuliah dan Demo

Kuliah dan tugas


Rumah

UTS

10

Kuliah dan
Simulasi, Tugas

Kuliah dan
Pemberian tugas
Rumah

Superposisi
Metode
Thevenin dan
Analisis
Rangkaian II Norton

150
menit

150
menit


Mandiri

15%

150
menit


Mandiri

15%

150
menit

Mandiri

15%

150
menit

35%

Rangkaian
Arus Bolak
Balik I

Rangkaian
Arus Bolak
Balik II

Impedansi dan
Tanggapan
Rangsangan
Eksponensial
Fungsi
Sinusoida
Nilai Rata-rata
dan Efektif
Rangsangan
Sinusoida
Metode
Bilangan
Kompleks
Metode Fasor

iv!
!

150
menit

150
menit

Mandiri

15%

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

!2012$

!
PERTEJENIS
POKOK
MUAN
KEGIATAN
BAHASAN
KE
PEMBELAJARAN
(1)
(2)
(3)

SUB POKOK
BAHASAN

WAKTU

(4)

(5)

BENTUK BOBOT
TAKSONOMI
TUGAS NILAI
(6)

(7)

(8)
1 2 3 4 5 6

11

12

13

14

Kuliah dan Tugas

Kuliah dan Tugas

Kuliah dan Tugas

Kuliah dan Tugas

15

Kuliah dan Tugas

16

UAS

Metode
Analisis
Rangkaian
Arus Bolak
balik I
Metode
Analisis
Rangkaian
Arus Bolak
balik II
Metode
Analisis
Rangkaian
Arus Bolak
balik III

Penyederhanaan 150
Rangkaian
menit
Tegangan Simpul
Arus Mata Jala
Thevenin
Fungsi Jala-jala
Analisis Fourier

150
menit

Tanggapan
Frekuensi
Penyaring
Resonansi

150
menit

Mandiri

Persamaan Orde 150


I
menit
Gejala
Persamaan Orde
Sentara I
II

Mandiri

Setara
Pada 150
Resonansi
menit
Gejala
Setara
Sentara II
Rangkaian
&
Terbuka
Daya
Keadaan
Awal
Rangkaian
Pada Rangkaian
Arus Bolak
Daya Rata-rata
balik
Daya Kompleks
Rangkaian 3 fasa

Mandiri

15%

3 : Menerapkan
6 : Menciptakan/ Membuat

v!!

15%

50%

2 : Memahami
5 : Mengevaluasi

15%

PENILAIAN:
NA = 15% T + 35% Q + 50% U
(T : Rerata Nilai Tugas, Q = Rerata Nilai UTS, U = Nilai UAS)
TAKSONOMI :
1 : Mengingat
4 : Menganalisis

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

!2012$

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..........................................................................................ii


Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) .................... iii
Daftar Isi ................................................................................................. vi
MODUL 1 Satuan dan Besaran ................................................................... 1
MODUL 2 Elemen Rangkaian Listrik ............................................................ 7
MODUL 3 Hukum Rangkaian Arus Searah ................................................... 17
MODUL 4 Metode Analisis Rangkaian Arus Searah........................................ 30
MODUL 5 Hukum Dasar Rangkaian Arus Bolak-Balik .................................... 38
MODUL 6 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-Balik .................................. 46
MODUL 7 Metode Analisis Rangkaian Arus Bolak-Balik Lanjut ........................ 52
MODUL 8 Gejala Sentara .......................................................................... 60
MODUL 9 Daya Rangkaian Arus Bolak-Balik ................................................ 67
Daftar Pustaka ......................................................................................... 73

vi!
!

Sinyal!dan!Rangkaian:!
Satuan!dan!Besaran!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. SIFAT DASAR LISTRIK

3. SATUAN SISTEM
INTERNASIONAL
4. GAYA DAN MEDAN
5. BESARAN DALAM
RANGKAIAN LISTRIK

1. PENDAHULUAN

1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa mengetahui
dan memahami konsep dasar tentang :

Sifat dasar listrik

Satuan Sistem Internasional

Gaya dan medan

Besaran dalam rangkaian listrik

2. SIFAT DASAR LISTRIK


Teori listrik merupakan hasil hasil penelitian dari beberapa
ilmuwan pada akhir abad sembilan belas seperti J.J. Thomson, H.A.
Lorentz, E. Rutherford, dan lain-lain. Konsep dasar listrik diawali
dengan penemuan bahwa molekul dan atom yang membentuk semua
benda bukanlah merupakan unsur dasar. Keduanya tersusun dari
unsur-unsur yang lebih sederhana. Atom dapat diuraikan dan
dipelajari pengaruhnya. Teori ini diteliti melalui percobaan sepotong
kawat wolfram yang dipanaskan dalam lampu pijar atau dalam tabung
gambar televisi. Kawat tersebut akan memancarkan partikel-partikel
yang bukan atom wolfram itu sendiri, melainkan partikel yang lebih
kecil dan lebih ringan dari atom kawat.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1.1 Pengantar
Pembelajaran sinyal dan rangkaian memerlukan pengetahuan
dasar seputar sinyal dan rangkaian. Pengetahuan dasar yang akan
dibahas pada bab ini adalah pengetahuan tentang satuan dan
besaran yang sering digunakan pada analisis sinyal dan
rangkaian.

1&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

(2012!

Partikel tersebut juga mempunyai sifat saling tolak-menolak di antaranya dengan gaya yang
cukup berarti. Partikel tersebut didefinisikan sebagai elektron dan dikatakan bermuatan listrik
negatif. Elektron pertama kali ditemukan oleh J.J. Thomson pada tahun 1895. Penemuan ini
yang kemudian menjadi dasar keilmuan di bidang listrik.
Elektron merupakan partikel yang paling ringan
dengan massa 9,1x10-25 kg, dengan diameter sekitar
10-10 m. Salah satu sifat elektron yang perlu diperhatikan
adalah gaya yang terjadi di antara dua elektron. Kedua
elektron yang didekatkan pada jarak tertentu akan saling
tolak-menolak. Gaya tersebut disebut gaya listrik dan
sifat elektron yang menyebabkan gaya tolak-menolak
tersebut didefinisikan sebagai muatan listrik. Setiap
elektron mempunyai muatan listrik dengan jumlah sama
yaitu sebesar 1,6x10-19 coulomb. Sebuah atom yang
kehilangan atau mendapat tambahan elektron, akan
memiliki muatan listrik dan disebut sebagai ion. Muatan
elektron didefinisikan mempunyai muatan negatif. Hal ini
yang menyebabkan benda yang kelebihan atau
menerima tambahan elektron akan bermuatan negatif.
Sedangkan benda yang kehilangan atau kekurangan
elektron akan menjadi bermuatan positif. Hal ini sesuai
dengan teori yang diusulkan oleh Benjamin Franklin. Zat
alir yang diusulkan Franklin itu semata-mata teori,
sedangkan
elektron
mempunyai
bukti
konkret
keberadaannya.
Partikel lain yang ditemukan bersamaan dengan penemuan elektron adalah proton.
Proton juga memiliki gaya tolak-menolak yang terjadi di antara kedua proton. Hal menarik
yang terjadi di antara proton dan elektron adalah terjadinya gaya tarik-menarik apabila
kedua partikel tersebut didekatkan pada jarak tertentu. Gaya tarik menarik yang terjadi
besarnya sama seperti gaya tolak-menolak antar kedua proton. Berdasar fenomena ini
muatan proton dikatakan positif dan merupakan kebalikan dari muatan negatif elektron.
Massa proton hampir identik dengan massa atom hidrogen, yaitu sebesar 1,67x10-27 kg.
Pada tahun 1932, partikel selain elektron dan proton ditemukan. Partikel tersebut
merupakan neutron yang memiliki massa identik dengan massa proton. Berbeda dengan
proton, neutron tidak bermuatan listrik. Ketiga partikel yakni elektron, proton, dan neutron
merupakan unsur-unsur dasar pembentuk sebuah atom. Sebuah elektron pada umumnya
memiliki ikatan yang kuat dalam atom dan sulit untuk dilepaskan. Pada beberapa logam,
beberapa elektron yang dapat meninggalkan atomnya dengan mudah dan berpindah di
antara atom-atom lain dalam logam tersebut. Elektron-elektron semacam itu disebut
elektron bebas. Kondisi ini menjelaskan mengapa arus listrik dapat mengalir dalam sebuah
logam.

3. SATUAN SISTEM INTERNASIONAL


Sistem satuan yang biasa digunakan dalam teknik dan keilmuan adalah satuan sistem
internasional (SI). Satuan sistem internasional sering digunakan dalam sistem pengukuran.
Satuan SI pertama diperkenalkan pada tahun 1960 dan digunakan di berbagai negara
sebagai standar sistem pengukuran resmi. Satuan SI terdiri dari tujuh satuan untuk besaran
dasar yakni massa, panjang, waktu, arus, temperatur, jumlah bahan, dan intensitas
penerangan. Sebagai tambahan satuan SI dilengkapi dengan dua satuan untuk besaran

Page(2(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

(2012!

pelengkap yakni sudut datar dan sudut ruang. Daftar ketujuh satuan dasar dan dua satuan
pelengkap beserta nama satuannya ditunjukkan dalam Tabel 1.1.
Tabel 1.1. Satuan Sistem Internasional
Besaran
Satuan
Simbol
Panjang
meter
m
Massa
kilogram
kg
Waktu
Sekon
s
Arus
Ampere
A
Temperatur
Kelvin
K
Jumlah bahan
Mole
mol
Intensitas penerangan
Kandela
cd
Sudut datar
Radian
rad
Sudut ruang
Steredian
sr
Empat satuan SI yang sering digunakan dalam analisis rangkaian listrik adalah meter,
kilogram, sekon dan ampere. Keempat satuan SI ini kemudian digunakan untuk membentuk
beberapa satuan turunan. Satuan-satuan turunan yang digunakan dalam teori rangkaian
listrik dijelaskan dalam Tabel 1.2
Tabel 1.2. Satuan turunan dalam rangkaian listrik
Besaran
Satuan
Simbol
Muatan listrik
coloumb
C
Tegangan listrik
Volt
V
Resistansi
Ohm

Konduktansi
siemens
S
Induktansi
henry
H
Kapasitansi
farad
F
Frekuensi
hertz
Hz
Gaya
newton
N
Energi, kerja
joule
J
Daya
watt
W
Satuan biasa digunakan bersama dengan awalan untuk mempermudah dalam
pemakaian. Penggunaan awalan satuan dapat mempersingkat dalam penulisan bilangan.
Daftar awalan satuan menurut SI ditunjukkan dalam Tabel 1.3.
Tabel 1.3. Awalan satuan
Kelipatan
Awalan
Lambang
24
10
yota (yotta)
Y
1021
zeta (zetta)
Z
18
10
eksa (exa)
E
1015
peta
P
1012
tera
T
9
10
giga
G
106
mega
M
3
10
kilo
k
102
hekto (hecto)
h
10
deka (deca)
da
101
desi (deci)
d
2
10
senti (centi)
c
103
mili (milli)
m
Page(3(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

106
109
1012
1015
1018
1021
1024

(2012!

mikro (micro)

nano
n
piko (pico)
p
femto
f
ato (atto)
a
zepto
z
yokto (yocto)
y
Sumber: Mismail, 2011

4. GAYA DAN MEDAN


Sebuah atom tersusun dari beberapa partikel,
diantaranya adalah elektron, proton dan netron.
Sebuah
elektron
mempunyai
massa
sebesar
-31
9,11x10
kg dan membawa muatan listrik negatif.
Sebuah proton mempunyai massa sebesar 1,6x10-27
kg dan membawa muatan listrik positif. Sebuah
netron mempunyai massa seperti sebuah proton
akan tetapi tidak membawa muatan listrik. Apabila
beberapa elektron dipindahkan dari atom maka atom
tersebut akan bermuatan positif karena kehilangan
beberapa muatan listrik negatif. Pada kondisi
sebaliknya, suatu atom yang kelebihan elektron akan
bermuatan listrik negatif.
Jumlah total tambahan elektron atau elektron
yang hilang dari suatu atom disebut dengan muatan
listrik. Muatan listrik disimbolkan dengan q dan
satuannya adalah coulomb (C). Satuan coulomb
digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada
Charles Coulomb (1736-1806) seorang ahli fisika
dari Perancis. Nilai terkecil dari sebuah muatan listrik
adalah sebesar 1,6x10-19 C yang setara dengan
muatan satu elektron. Hal ini berarti diperlukan
6,25x1018 elektron untuk menghasilkan muatan
sebesar
1 C. Sebuah muatan listrik yang bergerak disebut dengan arus listrik. Gaya yang
terjadi antara kedua muatan listrik disebut dengan gaya listrik. Sedangkan gaya yang
disebabkan oleh kecepatan muatan disebut gaya magnet. Medan listrik dapat diartikan
dengan kuat gaya listrik per satuan muatan. Sedangkan medan magnet adalah kuat gaya
magnet per satuan momentum muatan (muatan dikalikan dengan kecepatan). Analisis
kedua besaran ini erat kaitannya dengan analisa di bidang rangkaian listrik.

5. BESARAN DALAM RANGKAIAN LISTRIK


Salah satu besaran yang digunakan dalam rangkaian listrik adalah muatan listrik.
Muatan listrik adalah besaran yang digunakan untuk menunjukkan kelistrikan suatu atom.
Satuan dari muatan listrik adalah coloumb (C). Satu coulomb setara dengan satu ampere
detik. Arus listrik didefinisikan dengan banyaknya muatan yang mengalir tiap detik. Arus
listrik juga didefinisikan sebagai kecepatan aliran muatan. Secara matematika, arus listrik
dijelaskan dengan menggunakan persamaan berikut.
!=

!"
&
!"

Page(4(of(71(
(

(1.1)

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

(2012!

dengan
q = muatan listrik (coulomb)
t = waktu (detik)
i = arus listrik (ampere)
Tegangan listrik adalah energi yang diperlukan untuk
memindahkan
satu
unit
muatan
melewati
sebuah
pengantar. Satuan tegangan listrik adalah volt (V). Satuan
tegangan listrik merupakan bentuk penghormatan kepada
ahli fisika dari Itali, Alessandro Antonio Volta (1745 1827)
yang telah menemukan baterai pertama kali. Secara
matematis, tegangan listrik dapat dijelaskan dengan
mengunakan persamaan berikut.
!=

!"
&
!"

(1.2)

dengan
v = tegangan (volt)
w = energi listrik (joule)
q = muatan listrik (coulomb)
Arus dan tegangan merupakan dua variabel dasar dalam rangkaian listrik. Arus dan
tegangan listrik biasa disebut dengan istilah sinyal. Teknisi lebih sering menggunakan istilah
sinyal guna memudahkan berkomunikasi dengan disiplin ilmu lainnya.
Meskipun arus listrik dan tegangan adalah dua besaran dasar dalam rangkaian listrik,
akan tetapi kedua besaran ini tidak cukup untuk menjelaskan beberapa analisa. Besaran lain
yang digunakan adalah daya dan energi. Kedua besaran ini berfungsi sama seperti arus listrik
dan tegangan. Sedangkan daya adalah besarnya energi yang diserap dalam tiap satuan
waktu. Satuan untuk daya adalah watt (W). Secara matematis, daya dapat dituliskan dalam
persamaan berikut.
!=

!"
&
!"

(1.3)

dengan
p = daya (watt)
w = energi (joule)
t = waktu (detik)
Selain menggunakan Persamaan (1.3), daya dapat dituliskan dengan menggunakan
persamaan berikut.
! = !"
(1.4)
dengan
v = tegangan (volt)
w = energi listrik (Joule)
q = muatan listrik (coulomb)
Energi adalah kemampuan dalam melakukan suatu usaha atau daya. Energi
merupakan bentuk integral terhadap waktu dari besaran daya. Secara matematis, energi
listrik dapat dituliskan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.
Page(5(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!=

(2012!

!!!"
(1.5)

dengan
p = daya (watt)
w = energi (joule)
t = waktu (detik)
(

SOAL
1.
2.
3.
4.

Jelaskan pengertian dari sinyal.


Jelaskan hubungan partikel atom tehadap suatu sinyal yang terbentuk.
Apakah perbedaan antara gaya dan medan.
Sebuah pemanas listrik menarik 800 W dari suatu sumber 220 V. Berapa
resistansi pemanas tersebut? Berapa daya yang ditariknya jika tegangan pada
pemanas itu turun menjadi 213 V?

Page(6(of(71(
(

Sinyal!dan!Rangkaian:!
Elemen!Rangkaian!Listrik!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. RANGKAIAN LISTRIK

3. SUMBER DAN UNSUR


RANGKAIAN
4. RESISTANSI
5. INDUKTANSI
6. KAPASITANSI

1. PENDAHULUAN

1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa mengetahui
dan memahami konsep dasar tentang :

Rangkaian listrik

Sumber dan unsur rangkaian

Resistor dan resistansi

Induktor dan induktansi

Kapasitor dan kapasitansi

2. RANGKAIAN LISTRIK
Rangkaian listrik terdiri dari susunan komponen atau perangkat
listrik yang diperlukan untuk menghubungkan sumber energi dengan
dengan peralatan lain yang membutuhkan. Sistem komunikasi, sistem
komputer dan sistem tenaga terdiri dari rangkaian listrik kompleks
yang tersusun atas sejumlah elemen rangkaian. Peralatan-peralatan
dalam sistem tersebut dapat diwakilkan dengan rangkaian setaranya
yang tersusun atas elemen rangkaian listrik dan mempunyai fungsi
serupa dengan peralatan aslinya. Dengan kata lain, apabila sebuah
peralatan diletakkan dalam sebuah kotak hitam dan rangkaian
setaranya diletakkan dalam kotok hitam lainnya, seorang pengguna
tidak dapat membedakan kotak mana yang berisi peralatan dan yang
berisi rangkaian setaranya.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1.1 Pengantar
Sebuah rangkaian listrik tersusun atas beberapa elemen
penyusun. Pemahaman seputar rangkaian listrik dan penjelasan
tentang elemen penyusun sebuah rangkaian listrik akan dibahas
lebih detail pada bab ini.

2
1&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Berdasarkan arus listrik yang mengalir didalamnya, rangkaian listrik dibedakan


menjadi dua jenis yakni rangkaian listrik arus searah dan rangkaian listrik arus bolak-balik.
Rangkaian listrik arus searah dikenal dengan istilah rangkaian listrik DC (direct current)
sedangkan rangkaian listrik arus bolak-balik dikenal dengan istilah rangkaian listrik AC
(alternating current). Arus listrik dalam rangkaian listrik searah hanya mengalir dalam arah
yang sama selama waktu pengamatan. Rangkaian listrik arus searah dapat diidentifikasi
dengan terdapatnya sumber arus searah dalam rangkaian seperti baterai. Sedangkan arah
arus pada rangkaian listrik arus bolak-balik selalu dalam dua arah. Arus listrik mengalir
dalam arah tententu kemudian pada selang waktu tertentu arus listrik mengalir ke arah yang
berlawanan. Kejadian ini berulang secara periodik selama waktu pengamatan. Jala-jala listrik
PLN merupakan salah satu sumber arus bolak-balik. Gambar 2.1 menjelaskan tentang arah
arus pada rangkaian listrik arus searah dan arus bolak-balik.

Gambar 2.1. (a) Arus searah (b) Arus bolak-balik


Gambar 2.2 merupakan contoh rangkaian dan beberapa propertinya. Beberapa istilah
yang sering digunakan dalam sebuah rangkaian listrik akan dijelaskan sebagai berikut.
! Simpul, merupakan titik pertemuan dari lebih dari dua elemen. Gambar 2.2 terdiri
dari tiga simpul yang ditunjukkan oleh huruf a, b dan c.
! Cabang, merupakan jalur rangkaian yang menghubungkan antar dua simpul.
Sebagai contoh antara simpul a dan b terdapat beberapa cabang. Cabang
pertama adalah R1. Cabang lainnya adalah R2 V1.
! Rangkaian tertutup, dijelaskan sebagai jalur rangkaian yang dapat membentuk
suatu jalur tertutup. Sebagai contoh, rangkaian tertutup dari Gambar 2.2 yakni
V1 a R1 b R2 c V1.

Gambar 2.2. Rangkaian listrik dan propertinya

Page(8(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

3. SUMBER DAN UNSUR RANGKAIAN


Element suatu rangkaian listrik dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni:
! Elemen aktif,
merupakan bagian dari rangkaian yang mampu menghasilkan energi. Elemen
aktif dikenal dengan istilah sumber.
Contoh: sumber tegangan dan sumber arus
! Elemen pasif,
merupakan bagian rangkaian yang tidak menghasilakn energi listrik. Elemen
pasif lebih dikenal dengan istilah beban.
Contoh: resistor, kapasitor dan induktor.
Sumber dalam sebuah rangkaian dapat dikelompokkan menjadi:
! Sumber sempurna,
merupakan sumber energi dalam sebuah rangkaian yang besar energi yang
dihasilkan tidak dipengaruhi oleh sumber lainnya. Sumber sempurna terdiri dari
sumber tegangan sempurna dan sumber arus sempurna. Sebuah sumber
tegangan sempurna akan menghasilkan nilai tegangan yang selalu konstan.
Demikian juga sumber arus sempurna, besarnya arus yang dihasilkan akan
selalu konstan. Lambang yang digunakan untuk sumber tegangan sempurna dan
sumber arus sempurna ditunjukkan dalam Gambar 2.2.
! Sumber tak sempurna atau sumber tak bebas,
merupakan sumber energi yang nilai energi keluarannya dikendalikan oleh arus
atau tegangan lain. Sumber tak bebas juga dikenal dengan sumber kelas dua.

Gambar 2.2. (a) Lambang sumber tegangan sempurna


(b) Lambang sumber arus sempurna
Sumber: Mismail, 2011
Berdasarkan jenis sumber dan sumber lain pengendalinya, sumber tak bebas
dibedakan menjadi:
! Sumber tegangan yang dikendalikan oleh tegangan. Lambang yang digunakan
ditunjukkan dalam Gambar 2.3(a). Beberapa referensi menyebutkan dengan
VCVS (voltage controlled voltage source).
! Sumber tegangan yang dikendalikan oleh arus. Lambang yang digunakan
ditunjukkan dalam Gambar 2.3(b). Beberapa referensi menyebutkan dengan
CCVS (current controlled voltage source).
! Sumber arus yang dikendalikan oleh tegangan. Lambang yang digunakan
ditunjukkan dalam Gambar 2.3(c). Beberapa referensi menyebutkan dengan
VCCS (voltage controlled current source).
! Sumber arus yang dikendalikan oleh arus. Lambang yang digunakan ditunjukkan
dalam Gambar 2.3(d). Beberapa referensi menyebutkan dengan CCCS (current
controlled current source).
Page(9(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 2.3. (a) Lambang VCVS (b) Lambang CCVS


(c) Lambang VCCS (d) Lambang CCCS
Sumber: Mismail, 2011

4. RESISTANSI
Elemen resistor paling banyak digunakan dalam rangkaian listrik. Bentuk fisik resistor
ditunjukkan dalam Gambar 2.4. Fungsi dasar dari resistor adalah mengatur arus listrik dan
tegangan pada sebuah rangkaian. Resistor juga memiliki fungsi menghambat arus listrik atau
tegangan. Lambang resistor ditunjukkan dalam Gambar 2.5. Secara kualitatif, nilai sebuah
resistor ditentukan dengan besaran resistansi. Resistansi sebuah resistor dapat dihitung
dengan persamaan berikut.
!
!=!
!
(2.1)
dengan,
R = resistansi (ohm)
= resistansi bahan (ohm-meter)
l = panjang (m)
A = luas penampang (m2)

Gambar 2.4. Bentuk fisik resistor


Sumber: www.wikipedia.org

Gambar 2.5. Lambang resistor

Page(10(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Pada sebuah resistor berlaku hukum Ohm. Tegangan listrik pada sebuah resistor
ditentukan dengan persamaan berikut.
! = !!!
(2.2)
dengan,
v = tegangan (volt)
i = arus listrik (ampere)
R = resistansi (ohm)
Daya (p) sebuah resistor ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
!!
! = !!! = !! ! =
!

(2.3)

5. KAPASITANSI
Kapasitor adalah elemen pasif yang dirancang agar mampu menyimpan energi di
dalam medan listriknya. Kapasitor tersusun atas dua buah pelat konduktor yang dipisahkan
oleh sebuah insulator atau dielektrik. Gambar 2.6 (a) menjelaskan prinsip dasar kapasitor.
Lambang kapasitor pada rangkaian listrik ditunjukkan dalam Gambar 2.5. Kapasitor
merupakan elemen rangkaian listrik yang sering digunakan selain resistor. Bentuk fisik
kapasitor ditunjukkan dalam Gambar 2.7. Kapasitor sering digunakan pada peralatan
elektronik, komunikasi, komputer dan sistem listrik. Sebagai contoh, kapasitor digunakan
dalam rangkaian pengatur frekuensi radio penerima dan juga digunakan sebagai memori
dinamis dalam sistem komputer.

Gambar 2.5. Lambang kapasitor


Prinsip kerja kapasitor ditemukan pertama kali oleh Michael Faraday (17911867),
seorang ahli kimia dari Inggris. Faraday mewujudkan mimpinya dengan bekerja pada ahli
kimia Sir Humphry Davy di the Royal Institution. Faraday bekerja selama 54 tahun di institusi
tersebut. Beliau menghasilkan beberapa kontribusi di segala bidang ilmu fisika seperti dalam
elektrolisis, anoda, dan katoda. Beliau menemukan induksi elektromagnetik pada tahun 1831
yang merupakan salah satu titik awal di bidang keteknikan karena dengan metode tersebut
listrik dapat dibangkitkan. Motor listrik dan generator bekerja berdasarkan prinsip induksi
elektromagnetis. Sebagai bentuk penghormatan, Farad ditetapkan sebagai satuan dari
kapasitansi. Pada rangkaian arus searah, kapasitor dianggap sebagai rangkaian terbuka.

Page(11(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

(a)
(b)
Gambar 2.6. (a) Bentuk dasar kapasitor (b) Penggunaan kapasitor dalam rangkaian
Sumber: Alexander, 2004

Gambar 2.7. Bentuk fisik kapasitor


Sumber: www.splung.com
Pada saat sumber tegangan dihubungkan dengan kapasitor, masing-masing pelat
konduktor akan menyimpan muatan seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.6(b).
Besarnya muatan yang tersimpan dapat diketahui dengan menggunakan persamaan
matematis sebagai berikut.
! = !!!
(2.2)
dengan,
q = muatan listrik (coulomb)
C = kapasitansi (Farad)
v = tegangan (volt)

Page(12(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Kapasitansi adalah rasio perbandingan muatan yang tersimpan dalam sebuah pelat
kapasitor terhadap perbedaan tegangan antara kedua pelat tersebut. Nilai kapasitansi dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan berikut.
!=

!!!
!

(2.3)

dengan,
C

A
d

=
=
=
=

kapasitansi (Farad)
permeabilitas (F/m)
luas pelat (m2)
jarak antar pelat (m)

Nilai arus listrik dan tegangan sebuah kapasitor ditentukan dengan menggunakan
persamaan berikut.
!=!

!=

!
!

!"
!"

(2.4)

!!!"
(2.5)

dengan,
i
v
C
t

=
=
=
=

arus listrik (ampere)


tegangan (volt)
kapasitansi (Farad)
waktu (detik)

Daya listrik (p) suatu kapasitor ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
! = !!! = !!!!

!"
!"

(2.6)
Sedangkan energi listrik (w) sebuah kapasitor ditentukan dengan menggunakan
persamaan berikut.
!=

!!!" =

!!!!

!"
!!" =
!"

!!!!!" =

! !
!!
!
(2.7)

6. INDUKTANSI
Induktor merupakan elemen pasif yang dirancang agar dapat menyimpan energi dalam
bentuk medan magnet. Bentuk fisik induktor ditunjukkan dalam Gambar 2.8. Induktor sering
digunakan pada rangkaian catu daya, trafo, radio, TV, radar dan motor listrik. Karakteristik
sebuah induktor diteliti oleh Joseph Henry (1797-1878). Beliau adalah seorang ahli fisika dari
Amerika yang menemukan induktansi dan membangun sebuah rancang bangun motor listrik
pertama kali. Henry adalah seorang lulusan dari Albany Academy yang kemudian mengajar
Page(13(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

filosofi di Universitas Princeton pada periode 1832-1846. Beliau menjadi sekretaris pertama di
Smithsonian Institution. Beliau melakukan beberapa percobaan tentang electromagnet dan
mengembangkan elektromagnet bertenaga besar yang mampu mengangkat objek bermassa
ribuan pon. Hal yang menarik yakni Henry menemukan induksi elektromagnet jauh sebelum
Faraday akan tetapi gagal mempublikasikan penemuannya. Satuan henry digunakan sebagai
satuan induktansi guna menghargai hasil kerja keras beliau.

Gambar 2.8. Bentuk fisik induktor


Sumber: www.wikipedia.org

Gambar 2.9. Bentuk dasar inductor


Sumber: Alexander, 2004

Gambar 2.10. Lambang induktor.


Semua konduktor arus listrik dapat difungsikan sebagai induktor. Induktor sering
dibentuk menyerupai lilitan silider seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.9. Lambang
induktor dalam rangkaian listrik ditunjukkan dalam Gambar 2.10. Kualitas sebuah induktor
diukur dengan menggunakan induktansi. Induktansi merupakan kemampuan induktor dalam
mengubah arus listrik yang lewat menjadi medan magnet. Nilai induktansi sebuah induktor
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.

Page(14(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
!=

!! !"
!

(2.8)

dengan,
L
N

A
l

=
=
=
=
=

induktansi (henry)
jumlah lilitan
permeabilitas (H/m)
luas lingkaran dalam (m2)
panjang lilitan (m)

Nilai arus listrik dan tegangan sebuah induktor dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan berikut.
!"
!=!
!"
(2.9)
!
!=
!!!"
!
(2.10)
dengan,
v = tegangan (volt)
i = arus listrik (ampere)
L = induktansi (H)
Daya listrik (p) sebuah induktor ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
! = !!! = !!!!
Energi listrik (w) yang tersimpan
menggunakan persamaan berikut.
!=

!!!" =

!!!!

!"

(2.11)

!"

dalam
!"
!!" =
!"

sebuah
!!!!!! =

induktor

ditentukan

dengan

! !
!!!
!

(2.12)

SOAL
1. Sebuah kumparan mempunyai 75 lilitan. Panjang tengah inti diketahui sebesar
0,3 m. Nilai permeabilitas intinya adalah 10-3 Luas penampangnya 3 cm2.
a. Tentukan induktansinya
b. Bila suatu tegangan arus searah dikenakan pada induktor itu maka ada arus
mengalir sebesar 0,5 A. Berapa besar tenaga yang tersimpan dalam induktor
itu?
2. Tentukan kapasitansi dua keping lempeng logam sejajar dengan luar penampang
0,25 yang dipisahkan oleh 0,1mm lapisan mika dan mempunyai luas 0,32 m2.
Andaikanlah mika itu mempunyai permitivitas sebesar 5.
3. Kapasitansi sebesar 680 mF menyimpan tenaga 50 J. Berapa lamakah waktu
yang diperlukan untuk mengisi tenaga sebesar itu ke dalam kapasitor tersebut
dengan arus sebesar 1,2 mA?
4. Apa yang dimaksud dengan permeabilitas dan permitivitas?

Page(15(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

!
5. Lukislah v(t), p(t), dan w(t) pada induktansi yang dialiri oleh i(t) yang bentuk
gelombangnya ditunjukkan pada Gambar berikut.

Page(16(of(71(
(

(2012!

Sinyal!dan!Rangkaian:!!
Hukum!Rangkaian!Arus!Searah!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1 Pengantar
1.2 Tujuan
2. HUKUM OHM
3. HUKUM KIRCHHOFF
3.1. Hukum Arus Kirchhoff
3.2. Hukum Tegangan
Kirchhoff

4. PENYEDERHANAAN
RANGKAIAN SERI PARALEL
5. TRANSFORMASI Y-!
5.1. Konversi - Y
5.2. Konversi Y -
6. SUMBER DAN RANGKAIAN
SETARANYA
7. PENGUAT KERJA

1.1 Pengantar
Pembelajaran hukum rangkaian arus searah merupakan langkah
awal agar dapat menganalisis dan memahami karakteristik sinyal
dan rangkaian. Pembelajaran awal diterapkan pada rangkaian
searah yang memiliki tingkat kesulitan lebih rendah apabila
dibandingkan dengan rangkaian arus bolak-balik. Pada bab ini
akan dibahas mengenai hukum-hukum dasar yang berlaku pada
rangkaian arus searah.
1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa mengetahui
dan memahami konsep dasar tentang :

Hukum Ohm

Hukum Kirchhoff

Teknik penyederhanaan rangkaian seri dan paralel

Penggunaan transformasi Y-

Sumber dan rangkaian setaranya

Prinsip kerja penguat kerja

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1. PENDAHULUAN

3
2
1&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

2. HUKUM OHM
Georg Simon Ohm (1787-1854) merupakan seorang
ahli fisika dari Jerman yang banyak mengemukakan teori di
bidang elektrisitas. Sebagaian besar penelitian beliau
membahas tentang hukum dasar yang menentukan
hubungan antara tegangan dan arus pada sebuah resistor.
Beliau dilahirkan di kota Erlangen, Bavaria. Pada tahun
1841, beliau memperoleh penghargaan Copley Medal dari
Royal Society of London. Beliau menyandang gelar Profesor
Fisika dari Universitas Munich pada tahun 1849. Satuan dari
resistor adalah ohm yang merupakan bentuk penghargaan
dunia atas dedikasi beliau dalam bidang keilmuan.
Hukum Ohm membahas tentang hubungan antara
arus dan tegangan pada resistor.
Berdasarkan Hukum Ohm, nilai beda tegangan di
kedua ujung resistor berbanding lurus dengan besar
arus listrik yang mengalir pada sebuah resistor.
Konstanta yang mempengaruhi kesebandingan antara
tegangan dan arus listrik adalah nilai resistansi R.
Persamaan matematis dari Hukum Ohm dijelaskan dalam
Persamaan (3.1).
! = !!!&

(3.1)

Keterangan:
v = tegangan pada resistor (volt)
i = arus listrik yang melewati resistor (ampere)
R = nilai resistansi resistor ()
Dua konstanta yang sering digunakan dalah Hukum Ohm adalah resistansi dan
konduktansi.
Resistansi adalah kemampuan sebuah elemen rangkaian untuk menahan
arus listrik. Resistansi disimbolkan dengan R. Satuan resistansi adalah
ohm ()

!
!
Persamaan matematis resistansi dapat diturunkan dari Hukum Ohm menggunakan
Persamaan (3.2).
!=

!
!
(3.2)

Page(18(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
Konduktansi adalah kemampuan sebuah elemen rangkaian untuk
mengalirkan arus listrik. Konduktansi disimbolkan dengan G. Satuan
konduktansi adalah mho () atau siemens (S)
Persamaan matematis konduktansi dijelaskan pada Persamaan (3.3).
!
!= !
!
!!
!
!
!
!
!

(3.3)

Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Hukum Ohm adalah arah arus listrik dan
polaritas tegangan. Apabila arus listrik bernilai negatif, maka arah arus listrik yang mengalir
berlawanan dengan arah yang telah diasumsikan. Hal serupa berlaku juga untuk nilai
tegangan. Nilai resistansi R selalu bernilai positif dengan jangkauan dari nol sampai tak
terhingga. Rangkaian yang memiliki nilai resistansi pada kedua batas ekstrim ini disebut
dengan rangkaian hubung-singkat dan rangkaian terbuka.
Rangkaian hubung-singkat merupakan rangkaian dengan nilai resistansi
mendekati atau sama dengan nol
Rangkaian terbuka merupakan rangkaian dengan nilai resistansi mendekati
nilai tak terhingga

!
Gambar 3.1. (a) Rangkaian hubung-singkat (b) Rangkaian terbuka

Page(19(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

CONTOH 3.1
1. Berdasarkan gambar disamping, tentukan:
(a) besarnya arus i
(b) nilai konduktansi G
(c) daya p
Penyelesaian:
(a)
!=
(b)

!
30!
=
= 6!!"
! 5!10!

!=
(c)

1
1
=
= 0,2!!"
! 5!10!

! = !!! = 30! 6!!!10!! = 180!!"

2. Berdasarkan gambar disamping, tentukan:


(a) besarnya arus v
(b) nilai konduktansi G
(c) daya p
Penyelesaian:
(a)
! = !!! = 2!10!! 10! = 20!!
(b)
1
1
! = = ! = 0,1!!"
! 10
(c)
! = !!! = 20! 2!!!10!! = 40!!"

3. HUKUM KIRCHHOFF

Gustav Robert Kirchhoff (1824-1887) adalah seorang ahli fisika dari Jerman yang
mengemukakan dua hukum dasar berdasarkan hubungan antara arus dan tegangan pada
rangkaian listrik pada tahun 1847. Beliau dilahirkan dari keluarga pengacara di Konigsberg,
East Prussia. Pada usia 18 tahun beliau menempuh pendidikan di Universitas Konigsberg yang
kemudian menjadi dosen di Berlin. Hukum Kirchhoff dikemukakan pada tahun 1847 guna
melengkapi metode dalam menganalisa rangkaian listrik. Hukum Kirchhoff terdiri dari Hukum
Kirchhoff Arus dan Hukum Kirchhoff Tegangan.
3.1. Hukum Arus Kirchhoff
Hukum Arus Kirchhoff: jumlah aljabar arus listrik yang menuju ke atau
keluar dari simpul selalu bernilai nol
Hukum Arus Kirchhoff merupakan bentuk pengembangan dari Hukum Ohm. Secara
matematika, Hukum Arus Kirchhoff dapat ditulis dengan menggunakan Persamaan (3.4).
Page(20(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
!

!! + !! + + !! = 0!!!!!!!!!!!!

!! = 0!
!!!

(3.4)

Salah satu hal yang perlu diingat dalam menggunakan Hukum Arus Kirchhoff adalah
penentuan nilai arus. Arus yang menuju ke suatu simpul dianggap memiliki nilai positif,
sedangkan arus yang meninggalkan atau keluar dari simpul bernilai negatif. Hukum Arus
Kirchhoff dapat dijelaskan dengan pendekatan jumlah arus i yang menuju ke sebuah simpul
sama dengan jumlah arus yang keluar dari simpul tersebut. Penggunaan Hukum Arus
Kirchhoff secara langsung dijelaskan dalam Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Arus pada simpul


Hukum Arus Kirchhoff yang berlaku dalam Gambar 3.4 adalah sebagai berikut.
!! + !! + !! + (!! ) + (!! ) = !&

(3.5)

Pengelompokkan arus yang menuju ke simpul dan keluar dari simpul menghasilkan
persamaan matematis berikut.
!! + !! + !! = !! + !! &

(3.6)

Hukum Arus Kirchhoff juga berlaku untuk sumber arus yang terhubung dalam simpul
yang sama seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3.5.

!
Gambar 3.5. Sumber arus terhubung dalam simpul
Page(21(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Rangkaian dalam Gambar 3.5(a) dapat disederhanakan menjadi Gambar 3.5(b) dengan
menerapkan Hukum Arus Kirchhoff pada simpul a.
!! + !! = !! + !! &
!! = !! !! + !!

(3.7)

3.2. Hukum Tegangan Kirchhoff


Hukum Tegangan Kirchhoff: jumlah aljabar seluruh tegangan dalam satu
arah tertentu pada rangkaian tertutup selalu bernilai nol
Hukum Tegangan Kirchhoff berdasarkan pada prinsip kekekalan energi. Secara
matematika, Hukum Tegangan Kirchhoff dapat dituliskan dalam bentuk Persamaan (3.8).
!

!! + !! + + !! = 0!!!!!!!!!!!!

(3.8)
!! = 0!

!!!

Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan Hukum Tegangan Kirchhoff adalah
penentuan polaritas masing-masing tegangan. Tegangan yang searah dengan arah analisis
bernilai positif sedangkan yang berlawanan arah bernilai negatif. Penentuan polaritas masingmasing komponen pada umumnya bersifat bebas akan tetapi guna mengurangi kemungkinan
terjadinya kesalahan digunakan beberapa aturan-aturan. Penggunaan Hukum Tegangan
Kirchhoff diilustrasikan dalam Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Rangkaian tertutup


Bedasarkan arah analisis yang ditunjukkan dalam Gambar 3.6, tegangan v1 dan v4
bernilai negative karena berlawanan arah dengan arah analisis. Tegangan v2, v3, dan v5
bernilai positif. Hukum Tegangan Kirchhoff yang berlaku pada Gambar 3.6 adalah sebagai
berikut.
!! + !! + !! !! + !! = !&
!! + !! = !! + !! + !! &
(3.9)

4. PENYEDERHANAAN RANGKAIAN SERI PARALEL

Sebuah rangkaian listrik pada umumnya terdiri dari banyak simpul dengan satu atau
lebih sumber. Analisis rangkaian yang terdiri dari banyak simpul akan lebih rumit dan
memerlukan waktu untuk menyelesaikan. Kerumitan ini dapat diselesaikan dengan
Page(22(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

menyederhanakan susunan masing-masing elemen terlebih dahulu sebelum dianalisis.


Penyederhanaan dilakukan dengan memperhatikan jenis rangkaian. Berdasarkan susunannya
rangkaian listrik dibedakan menjadi rangkaian seri dan rangkaian paralel.
Salah satu bentuk rangkaian seri pada sebuah rangkaian listrik dijelaskan dalam
Gambar 3.7. Hukum Ohm dari masing-masing resistor dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut.

!! = !!!! ,!!!!!!!!!!! !

(3.10)

!!!!!!!!! = !!!! !! !

!
Gambar 3.7. Rangkaian dengan dua resistor seri
!
Hukum Tegangan Kirchhoff dapat diterapkan pada rangkaian Gambar 3.7 sehingga
diperoleh persamaan sebagai berikut.
(3.11)

! = !! + !! = !(!! + !! )
Persamaan (3.7) dapat ditulis dengan menggunakan persamaan berikut.

(3.12)

! = !!!!"

Secara tidak langsung dua buah resistor seri dapat disederhanakan dengan sebuah
resistor pengganti yang ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.
(3.13)

!!" = !! + !!

Persamaan matematis umum untuk menentukan nilai resistansi pengganti pada susunan
resistor seri dapat detentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
!

!!" = !! + !! + + !! =

!! !
!!!

Gambar 3.8. Rangkaian ekuivalen


Page(23(of(71(
(

(3.14)

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Rangkaian paralel ditunjukkan dalam Gambar 3.9. Berdasarkan Hukum Ohm, besarnya
arus pada masing-masing resistor dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan
berikut.

!! =

!!

!! =

(3.15)

!!

Hukum Arus Kirchhoff dapat diterapkan pada rangkaian Gambar 3.9 sehingga diperoleh
persamaan sebagai berikut.

! = !! + !! = !(

!!

!!

(3.16)

Persamaan (3.16) dapat ditulis ulang menjadi persamaan berikut.

!=

(3.17)

!!"

Berdasarkan Persamaan (3.16), nilai resistansi setara dari kedua buah resistor paralel
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
!

!!"

!!

(3.18)

!!

Persamaan matematis umum untuk menyederhanakan rangkaian resistor paralel dapat


dituliskan sebagai berikut.!
!
!
!
!
=
+
++
=
!!" !! !!
!!

!!!

!
&
!!

(3.19)

5. TRANSFORMASI Y-
Pada beberapa rangkaian sering dijumpai resistor yang tidak tersusun dalam rangkaian
seri ataupun paralel. Salah satu contoh dari rangkaian ini ditunjukkan dalam Gambar 3.9.
Bentuk rangkaian pada Gambar 3.9 akan sulit disederhanakan dengan hanya mengunakan
teknik penyederhanaan rangkaian seri dan/atau paralel. Salah satu penyelesaian
permasalahan penyederhanaan rangkaian dapat dilakukan dengan menerapkan transformasi
Y-. Konfigurasi rangkaian Y dan delta () secara berurutan ditunjukkan dalam Gambar 3.10.
Pada beberapa referensi menyebutkan rangkaian Y dan dengan istilah rangkaian T dan .

Gambar 3.9. Rangkaian jembatan.

Page(24(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 3.10. Rangkaian Y dan


5.1. Konversi -Y
Penyetaraan konfigurasi rangkaian dapat dilakukan dengan syarat nilai resistansi antara
kedua titik simpul yang sama harus bernilai sama. Sebagai contoh analisis resistansi antara
simpul x dan y dalam Gambar 3.10 ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut.
!!" ! = !! + !! &

(3.20)

!!" = !! !||!(!! + !! )&


Resistansi Rxy(Y) harus bernilai sama dengan resistansi Rxy(), sehingga persamaan
sebelumnya dapat disederhanakan menjadi persamaan berikut.!
!!" = !! + !! =

!! (!! + !! )
!
!! + !! + !!

(3.21a)

Kedua persamaan lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan langkah-langkah


yang serupa sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut.
!!" = !! + !! =
!!"

!! (!! + !! )
!! + !! + !!

!! (!! + !! )
= !! + !! =
!! + !! + !!

(3.21b)

(3.21c)

Persamaan (3.21c) dan (3.21b) dapat dikurangkan menjadi persamaan berikut.


!! !! =

!! (!! !! )
!! + !! + !!

(3.22)

Berdasarkan Persamaan (3.22), masing-masing nilai resistansi pada rangkaian Y dapat


ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
!! =

!! !!
&
!! + !! + !!

Page(25(of(71(
(

(3.23)

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!! =

!! !!
&
!! + !! + !!

!! =

!! !!
&
!! + !! + !!

(3.10)
(3.11)

5.2. Konversi Y-
Hal yang serupa juga dapat dikerjakan apabila transformasi Y ke akan dilakukan.
Persamaan (3.9) (3.11) digabungkan sehingga menjadi persamaan berikut.
!! !! !! (!! + !! + !! )
!! + !! + !! !
!! !! !!
=
!! + !! + !!

!! !! + !! !! + !! !! =

(3.12)

Persamaan (3.12) dapat dibagi dengan masing-masing Persamaan (3.9) (3.11)


sehingga menghasilkan persamaan sebagai berikut.
!! =

!! !! + !! !! + !! !!
&
!!

(3.13)

!! =

!! !! + !! !! + !! !!
&
!!

(3.14)

!! =

!! !! + !! !! + !! !!
&
!!

(3.15)

6. SUMBER DAN RANGKAIAN SETARANYA

Pada pembahasan sebelumnya telah diulas mengenai penyederhanaan rangkaian seri


paralel dan transformasi Y-. Kedua teknik tersebut dapat digunakan untuk memudahkan
analisa rangkaian listrik dengan menyederhanakan beban. Pada sub-bab ini akan dijelaskan
mengenai sumber dan rangkaian setaranya. Sebuah sumber dapat digantikan dengan
rangkaian setaranya dengan memperhatikan karakteristik v-i. Teknik penggantian sumber
dengan rangkaian setaranya dapat digunakan sebagai alat bantu dalam menganalisa
rangkaian.
Prinsip dasar transformasi sumber dengan rangakaian sentaranya adalah:
Sebuah sumber tegangan vs dengan resistor R seri dapat digantikan
oleh sebuah sumber arus is dengan resistor R paralel. Hal ini juga berlaku
sebaliknya.

Page(26(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 3.11 menjelaskan bagaimana bentuk sumber dan rangkaian setaranya.

Gambar 3.11. Sumber dan rangkaian setaranya.


Konsep penggantian sumber dengan rangkaian setaranya didasarkan pada kesamaan
nilai arus dan tegangan pada kutub a dan b. Pembuktian kesamaan ini dapat dilakukan
dengan menghilangkan masing sumber pada kedua rangkaian. Sumber tegangan dihilangkan
dengan cara dihubung-singkatkan sedangkan sumber arus dihilangkan dengan cara dijadikan
rangkaian terbuka. Nilai resistansi yang terbentuk diantara kutub a-b pada kedua rangkaian
adalah sama bernilai R. Apabila kutub a-b kedua rangkaian dihubung-singkatkan, maka arus
hubung-singkat ihs yang mengalir pada rangkaian kiri adalah sebesar vs/R. Rangkaian sebelah
kanan akan bernilai setara dengan rangkaian kiri apabila is = ihs. Dengan demikian persamaan
kesetaraan berikut dapat digunakan untuk mencari rangkaian setaranya.
!! = !! !&
atau

!! =

!!
&
!

(3.16)

Hampir sama dengan transformasi Y-, rangkaian setara sumber tidak berpengaruh
terhadap rangkaian. Perubahan sumber dengan rangkaian setaranya akan berguna pada
analisis rangkaian listrik. Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam menyetarakan
sumber adalah:
! Arah arus rangkaian setara dari sumber tegangan selalu keluar menuju ke kutub
positif seperti ditunjukkan pada Gambar 3.11. Hal ini juga berlaku sebaliknya
pada rangkaian setara sumber arus.
! Penyetaraan sumber tegangan tidak berlaku apabila resistor seri R=0 dan
penyetaraan sumber arus tidak berlaku apabila resistor paralel R=.

7. PENGUAT KERJA

Sebuah penguat kerja adalah blok rangkaian yang dirancang agar dapat melakukan
operasi matematika pada saat digabungkan dengan komponen lainnya. Penguat kerja pada
dasarnya tersusun atas beberapa komponen seperti resistor, kapasitor, transistor dan dioda.
Pada analisis rangkaian, penguat kerja hanya disimbolkan dengan segitiga yang memiliki tiga
kutub seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3.12. Kutub-kutub utama penguat kerja terdiri
dari:
! Kutub masukan terbalik (inverting input) yang ditunjukkan dengan tanda negatif (-)
! Kutub masukan tak-terbalik (noninverting input) yang ditunjukkan dengan tanda
positif (+)
! Kutub keluaran

Page(27(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 3.12. Lambang penguat kerja


Prinsip kerja penguat kerja ideal adalah sebagai berikut:
! Arus masukan yang menuju atau keluar dari kutub masukan (kutub 1 dan 2)
adalah sama dengan nol. Hal ini berarti tidak ada arus yang mengalir pada
masukan penguat kerja ideal.
! Beda tegangan antara kedua kutub masukan (kutub 1 dan 2) adalah sama
dengan nol. Tegangan pada masukan terbalik (kutub 1) bernilai sama dengan
tegangan pada masukan tak-terbalik (kutub 2).

Gambar 3.13. Rangkaian penguat kerja.


Gambar 3.13 menunjukkan salah satu penggunaan penguat kerja pada rangkaian listrik.
Sebagai pemahaman dari fungsi kerja penguat kerja, rangkaian pada Gambar 3.13 dapat
dianalisa dengan menerapkan Hukum Arus Kirchhoff pada simpul 1. Prinsip dasar tidak arus
yang mengalir pada kutub masukan memberikan penjelasan bahwa seluruh arus i1 akan
dialirkan menuju Rf menjadi i2, sehingga persamaan yang terbentuk adalah sebagai berikut.
!! = !! !! !

!! !! !! !!
=
!!
!!

(3.16)

Prinsip kedua dari penguat kerja ideal adalah beda tegangan antara kedua kutub
masukan adalah nol. Berdasarkan prinsip ini dapat dibentuk suatu persamaan sebagai
berikut.
!! = !! = !
(3.17)
Substitusi Persamaan (3.17) ke dalam Persamaan (3.16) menghasilkan persamaan
berikut.
!!
!!
!!
! =
! ! !! =
!
!!
!!
!! !
(3.18)
Page(28(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Berdasarkan analisa Persamaan (3.18), rangkaian penguat kerja pada Gambar 3.13
dapat difungsikan untuk membuat sumber tegangan tak bebas seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar 3.14.

Gambar 3.14. Sumber tegangan tak bebas setaranya

SOAL
1. Tentukan nilai dari v1 dan v2 pada gambar berikut.

2. Uraikan dasar terbentuknya Persamaan (3.13)-(3.15) untuk konversi Y-.


Tunjukkan dengan pembuktian rumus.
3. Dengan menggunakan pendekatan yang sama yakni Persamaan (3.10)-(3.19),
turunkan penyederhanaan seri paralel untuk rangkaian kapasitor.
4. Berdasarkan rangkaian dibawah ini, tentukan (a) v0/vs (b) i0 apabila diketahui
vs=3V

Page(29(of(71(
(

Sinyal!dan!Rangkaian:!
Metode!Analisis!Rangkaian!Arus!Searah!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.3
Pengantar
1.4
Tujuan
2. METODE TEGANGAN
SIMPUL

3. METODE ARUS MATA


JALA
4. METODE SUPERPOSISI
5. TEORI THEVENIN DAN
NORTON

1. PENDAHULUAN

1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa memahami
dan menyelesaikan permasalahan analisis rangkaian listrik
dengan mengunakan :

Metode tegangan simpul

Metode arus mata jala

Metode superposisi

Teori Thevenin dan Norton

2. METODE TEGANGAN SIMPUL


Metode tegangan simpul adalah salah satu metode analisis
rangkaian listrik yang merupakan penerapan dari Hukum Arus
Kirchhoff. Hasil akhir dari metode ini adalah mencari nilai tegangan
pada masing-masing simpul terhadap simpul acuan. Simpul acuan
harus ditentukan terlebih dahulu sebelum analisis dilakukan.
Kerumitan metode tegangan simpul ditentukan oleh banyaknya
simpul yang terdapat pada suatu rangkaian. Semakin banyak simpul
pada suatu rangkaian maka semakin banyak persamaan yang harus
diselesaikan. Teknik penyederhanaan rangkaian biasa diterapkan
guna mengurangi jumlah simpul dalam rangkaian sehingga akan
mempermudah analisis.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1.1 Pengantar
Sinyal (arus dan tegangan) dalam rangkaian listrik tidak
semuanya diketahui. Metode analisis rangkaian listrik diperlukan
untuk mencari nilai tegangan dan arus pada masing-masing
elemen rangkaian. Bab ini membahas tentang beberapa teknik
yang digunakan dalam analisis rangkaian listrik.

4&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Prosedur dasar dari analisis menggunakan metode tegangan simpul adalah sebagai
berikut:
! Semua sumber tegangan dengan rangkaian seri diubah menjadi sumber arus
setaranya dengan rangkaian paralel setaranya.
! Pemilihan simpul acuan dari semua simpul yang tersedia pada rangkaian.
Pemilihan simpul acuan bersifat bebas. Simpul yang berada pada bagian bawah
rangkaian sering digunakan sebagai simpul acuan
! Penulisan persamaan Hukum Arus Kirchhoff dari masing-masing simpul secara
berurutan kecuali simpul acuan. Berdasarkan Mismail, semua persamaan dari
masing-masing simpul dapat disusun menjadi bentuk persamaan berikut.
A: GAAvA GABvB ... GANvN = iA
B: GBAvA + GBBvB ... GBNvN = iB

N: GNAvA GNBvB ... + GNNvN = iN


GXX = jumlah semua konduktansi yang terhubung ke simpul X
GXY = jumlah semua konduktansi yang dihubungkan di antara simpul X
dengan simpul Y.
iX
= jumlah semua sumber arus yang mencatu simpul X
! Penyelesaian variabel tegangan simpul yang diiginkan dari persamaan yang
terbentuk.!
!

CONTOH 4.1
Dengan menggunakan metode tegangan simpul, tentukan V1 pada gambar berikut.

Penyelesaian:
Semua sumber tegangan dengan rangkaian diubah menjadi sumber arus dengan
resistor paralelnya dan semua resistansi diubah menjadi konduktansi setaranya
seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Page(31(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Pilih simpul O sebagai referensi, kemudian susun semua persamaan untuk masingmasing simpul sehingga menghasilkan persamaan berikut.
A:
B:
C:

(1 + 0,2 + 1)VA
1VB
0,2VC = 14
1VA + (1 + 2 + 0,4)VB
2VC = 0
0,2VA
2VB + (0,2+2+0,4)VC = 1

Selesaikan persamaan tersebut sehingga diperoleh VA=9,14 V, VB=5,26 V,


VC=4,37 V
Maka:
V1 = VA VC = 9,14 4,37 = 4,77 V

3. METODE ARUS MATA JALA

Metode arus mata jala merupakan metode lain untuk menyelesaikan analisis rangkaian
listrik. Berbeda dengan metode tegangan simpul, metode arus mata jala merupakan bentuk
penerapan dari Hukum Tegangan Kirchhoff. Hasil akhir dari analisis menggunakan metode ini
adalah nilai arus dari masing-masing komponen sedangkan parameter lainnya dapat
ditentukan dengan menggunakan penurunan Hukum Ohm pada komponen tertentu.
Kerumitan metode arus mata jala ditentukan dari banyaknya rangkaian tertutup yang
terdapat dalam suatu rangkaian listrik. Penyederhanaan rangkaian biasa digunakan sebelum
analisis dilakukan guna mengurangi jumlah rangkaian tertutup sehingga akan mengurangi
pula jumlah persamaan yang nantinya harus diselesaikan.
Langkah-langkah dasar metode arus mata jala adalah sebagai berikut:
! Semua sumber arus dengan rangkaian paralelnya diubah menjadi sumber
tegangan setara dengan rangkaian paralel setaranya.
! Penentuan arah arus mata jala pada tiap-tiap rangkaian tertutup. Arah arus mata
jala dapat ditentukan searah dengan jarum jam guna memperkecil terjadinya
kesalahan dalam analisis.
! Penulisan persamaan Hukum Tegangan Kirchhoff dari masing-masing rangkaian
tertutup secara berurutan. Menurut Mismail, bentuk persamaan dapat disusun
menjadi bentuk berikut guna memudahkan analisa.
A:

RAA iA RAB iB ... RAN iN = vA


Page(32(of(71(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
B: RBA iA + RBB iB ... RBN iN = vB
.
N: RNA iA RNB iB ... + RNN iN = vN
RXX = jumlah semua resistansi yang membentuk mata jala X.
RXY = jumlah semua resistansi yang dimiliki bersama oleh mata jala X dan
mata jala Y.
vX = jumlah semua sumber tegangan naik dalam mata jala X pada arah
putaran jarum jam.
! Penyelesaian variabel arus yang diiginkan dari persamaan yang terbentuk.

CONTOH 4.2
Pada rangkaian di contoh 4.2 (ditunjukkan dalam gambar dibawah), tentukan nilai I2
dengan menggunakan metode arus mata jala

Penyelesaian:
Mula-mula ubah semua sumber arus dengan rangkaian paralelnya menjadi sumber
tegangan dengan rangkaian seri setaranya. Ubah pula semua konduktansi menjadi
resistansi. Perubahan yang terjadi ditunjukkan pada rangkaian berikut.

Page(33(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
Tuliskan semua persamaan pada semua arus mata jala sehingga dihasilkan
persamaan berikut.
A: (1 + 2,5 + 1)IA
2,5IB
IC = 14
B:
2,5IA + (2,5 + 0,5 + 2,5)IB
0,5IC = 2,5
C:
IA
0,5IB + (1 + 0,5 + 5)IC= 0
Selesaikan persamaan tersebut sehingga diperoleh IA=4,87A, IB=2,76A, IC=0,96A
Berdasarkan gambar, nilai I2 dapat ditentukan sebagai berikut:
I2=IC - IB=-1,79A
Karena negatif berarti arah arusnya berlawanan dengan tanda panah.

4. METODE SUPERPOSISI
Tegangan dan arus suatu komponen merupakan akibat yang ditimbulkan dari sumber
yang terdapat dalam rangkaian tersebut. Pada rangkaian dengan banyak sumber, tegangan
dan arus sebuah komponen dengan resistansi konstan merupakan bentuk penjumlahan dari
tegangan dan arus yang diakibatkan oleh masing-masing sumber. Prinsip penjumlahan
tegangan dan arus yang diakibatkan oleh masing-masing sumber ini digunakan sebagai dasar
metode superposisi untuk analisis rangkaian. Prinsip superposisi dapat diterapkan karena arus
sebuah resistor berbanding lurus terhadap tegangannya.
Prosedur metode superposisi:
! Menghilangkan semua sumber rangkaian kecuali satu sumber.
! Sumber tegangan dihilangkan dengan dijadikan rangkaian terbuka dan sumber arus
dihilangkan dengan cara dihubung-singkatkan.
! Menentukan tegangan dan arus pada komponen yang ingin diketahui dengan satu
sumber yang terpasang dan sumber lain dihilangkan.
! Perulangan langkah-langkah penghilangan masing-masing sumber secara
berurutan dan perhitungan tegangan dan arus yang diakibatkannya.
! Nilai tegangan dan arus yang diakibatkan oleh masing-masing sumber dijumlahkan.

CONTOH 4.3
Tentukan I2 dalam rangkaian berikut dengan menggunakan metode superposisi.

Penyelesaian:
Berdasarkan jumlah sumbernya, rangkaian tersebut dapat disusun menjadi dua
buah rangkaian berikut.

Page(34(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

(I):

(II):
Dengan menghitung arus I2 dari masing-masing rangkaian maka diperoleh:
(I):
(II):

I2= 1,2 A
I2= 3,36 A

maka I2 dapat ditentukan dari superposisi masing-masing rangkaian sebagai


berikut.
I2 = I2 + I2 = 1,2 + 3,36 = 4,56 A

4. TEORI THEVENIN DAN NORTON

Pada sebuah rangkaian listrik kompleks, sebuah resistor atau komponen yang ingin
diketahui nilai arus dan tegangannya disebut beban sedangkan komponen lainnya dapat
dianggap sebagai bagian dari sumber. Pada tahun 1883, M. Leon Thevenin (1857-1926),
seorang teknisi telegraf dari Perancis, mengusulkan sebuah teorema dalam menganalisa
sebuah rangkaian listrik dengan mengganti sebuah rangkaian listrik menjadi sebuah sumber
dengan resistor seri guna memudahkan analisa. Gambar 4.1 adalah rangkaian Thevenin
setaranya.

Teori Thevenin menjelaskan bahwa sebuah rangkaian linear dua kutub dapat diganti
dengan rangkaian setaranya yang terdiri dari sebuah sumber tegangan VTH dan resistor
seri RTH. VTH merupakan tegangan rangkaian terbuka pada kedua kutub dan RTH
merupakan resistansi diantara kedua kutub saat sumber dihilangkan.!

Page(35(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

(a)
(b)
Gambar 4.1. (a) Rangkaian dengan beban (b) Rangkaian Thevenin setaranya
Langkah-langkah analisa rangkaian menggunakan teori Thevenin dijelaskan sebagai
berikut.
1. Hilangkan resistor R yang akan ditentukan nilainya dari rangkaian
2. Ubah sumber tegangan dengan rangkaian serinya menjadi sebuah sumber arus dengan
resistor paralelnya.
3. Dengan menggunakan Hukum Arus Kirchhoff, tentukan nilai tegangan pada kutubkutub resistor R yang telah dihilangkan pada langkah 1.
4. Hilangkan sumber arus dengan cara menjadikan menjadi rangkaian terbuka.
5. Hitung resistansi total pada kedua kutub resistor R dengan menerapkan beberapa
teknik penyederhanaan rangkaian.
6. Pasang kembali resistor R, kemudian susun ulang rangkaian listrik menjadi bentuk
sumber tegangan Thevenin VTH dan resistor serinya RTH seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4.1.
Pada tahun 1926, yakni 43 tahun setelah Thevenin memperkenalkan teorinya, E. L
Norton, seorang teknisi di Laboratorium Telephone Bell, mengusulkan teorinya untuk
menganalisis rangkaian. Gambar 4.2 menunjukkan rangkaian setara Norton dari sebuah
rangkaian.
Teori Norton menjelaskan bahwa sebuah rangkaian linier dua kutub dapat
digantikan dengan rangkaian setaranya yang terdiri dari sumber tegangan IN
dengan resistor paralelnya RN. IN merupakan nilai arus hubung-singkatnya yang
melewati kedua rangkaian tersebut. RN merupakan resistansi setara pada kutubkutubnya saat sumber dihilangkan dari rangkaian.

(a)
(b)
Gambar 4.2. (a) Rangkaian linear dengan dua kutub (b) Rangkaian Norton setaranya

Page(36(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Prosedur yang digunakan dalam teori Norton serupa dengan prosedur teori Norton dengan
mengganti teknik untuk sumber arus dan resistor paralelnya. Adapun langkah-langkah
analisis menggunakan teori Norton dijelaskan sebagai berikut:
1. Hilangkan resistor R yang akan ditentukan nilainya dari rangkaian dengan
menghubung-singkatkan kedua kutub resistor.
2. Ubah semua sumber arus dengan rangkaian paralelnya menjadi sebuah sumber
tegangan dengan resistor serinya.
3. Dengan menggunakan Hukum Tegangan Kirchhoff, tentukan nilai arus pada kutubkutub resistor R yang telah dihilangkan pada langkah 1.
4. Hilangkan sumber tegangan dengan cara menjadikan menjadikan hubung singkat.
5. Hitung resistansi total pada kedua kutub resistor R dengan menerapkan beberapa
teknik penyederhanaan rangkaian.
6. Pasang kembali resistor R, kemudian susun ulang rangkaian listrik menjadi bentuk
sumber arus Norton IN dan resistor paralelnya RN seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4.2.
Prinsip dari teori Thevenin dan Norton serupa dengan teknik penyetaraan sumber
rangkaian. Rangkaian setara Norton dapat ditentukan dari sebuah rangkaian setara Thevenin
dengan menggunakan persamaan berikut.
!! = !!"
!! =

!!"
!!"

SOAL

Tentukan arus dan tegangan dari R=4 dengan menggunakan:


(1)
Metode tegangan simpul
(2)
Metode arus mata jala
(3)
Metode superposisi
(4)
Teori Thevenin
(5)
Teori Norton

Page(37(of(71(
(

(4.1)

Sinyal!dan!Rangkaian:!
Hukum!Dasar!Rangkaian!Arus!BolakLBalik!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. IMPEDANSI DAN
ADMITANSI
3. RANGSANGAN
EKSPONENSIAL

4. FUNGSI DAN
RANGSANGAN
SINUSOIDA
5. NILAI RATA-RATA DAN
NILAI EFEKTIF
6. METODE BILANGAN
KOMPLEKS
7. METODE FASOR

1.1 Pengantar
Pembelajaran sinyal dan rangkaian listrik lebih lanjut adalah
pembahasan mengenai rangkaian listrik arus bolak-balik.
Beberapa hukum dasar tentang arus bolak-balik perlu dipahami
agar dapat melakukan analisa terhadap rangkaian listrik arus
bolak-balik. Pada bab ini akan dibahas tentang hukum-hukum
dasar arus bolak-balik.
1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa memahami
beberapa hukum dasar tentang rangkaian arus bolak-balik yang
meliputi:

Impedansi dan admitansi

Rangsangan eksponensial

Fungsi sinusoida

Nilai rata-rata dan nilai efektif

Rangsangan sinusoida

Metode bilangan kompleks

Metode fasor

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1. PENDAHULUAN

5
4&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

2. IMPEDANSI DAN ADMITANSI


Impedansi merupakan perbandingan antara tegangan dengan arus pada suatu
rangkaian listrik arus bolak-balik. Impedansi dilambangkan dengan Z dengan satuan ohm
(). Admitansi merupakan kebalikan dari impedansi yakni perbandingan antara arus
terhadap tegangan suatu rangkaian listrik arus bolak-balik. Admitansi dilambangkan dengan
Y dengan satuan siemens (S). Secara matematis, impedansi dan admitansi dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan berikut.
!
!= &
!

!
!= &
!

(5.1)

dengan
Z = impedansi (ohm)
Y = admitansi (Siemens)
V = tegangan (volt)
I = arus listrik (ampere)
Impedansi dan admitansi elemen rangkaian terhadap rangsangan eksponensial ditunjukkan
dalam Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Impedansi dan admitansi terhadap rangsangan eksponensial
Elemen
Impedansi
Admitansi
Resistansi (R)
Z=R
Y = 1/R
Induktansi (L)
Z = sL
Y = 1/sL
Kapasitansi (C)
Z = 1 / sC
Y = sC

3. RANGSANGAN EKSPONENSIAL
Fungsi eksponensial adalah fungsi yang turunan memiliki nilai yang sama dengan
integralnya. Fakta ini menjadikan fungsi ekponensial mudah dianalisis. Sebuah sumber
tegangan atau sumber arus yang memiliki fungsi eksponensial dituliskan dalam persamaan
berikut.
! = !! !!" &

! = !! !!" &

! = !! !!/! &

! = !! !!/! &

(5.2)
Nilai tegangan dan arus pada saat t=0 disimbolkan dengan V0 dan I0. s merupakan
karakteristik dari fungsi eksponensial. Apabila s bernilai positif maka nilai tegangan atau arus
akan meningkat secara eksponensial menurut waktu. Nilai s negatif menandakan bahwa nilai
sumber akan berkurang sejalan waktu seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 5.1.
Sedangkan nilai sumber akan konstan apabila s=0. Fungsi eksponensial sumber tegangan
dan arus dapat dituliskan dalam persamaan berikut.
(5.3)
dengan s=1/T. Variabel T disebut dengan konstanta waktu yang menentukan seberapa cepat
perubahan eksponensial yang terjadi dalam sumber.

Page(39(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 5.1. Fungsi eksponensial

CONTOH 5.1
Tentukan nilai tegangan v(t) apabila diketahui nilai arus yang mengalir i(t) = 3 e3t A

Penyelesaian:
Berdasarkan Hukum Tegangan Kirchhoff maka dapat dianalisa besar tegangan v(t)
! ! = !! ! + !! ! + !! ! = !!! ! + !
= !!! ! + !
= 4+

! ! !" + !

!"
!"

1
1
! ! + !"!! ! = ! +
+ !" !(!)
!"
!"

1
3!

1
!

+ 3!2 3! !! = 4 + 2 + 6 3! !!

= 36! !! volt

4. FUNGSI DAN RANGSANGAN SINUSOIDA


Fungsi sinusoida adalah salah satu fungsi dasar dalam sinyal dan rangkaian. Sumber
tegangan dengan fungsi sinusoida didefinisikan dalam persamaan berikut.
! ! = !! !!"#!!"&
dengan
Vm

= tegangan maksimum
= frekuensi sudut
= waktu
Page(40(of(71(

(5.4)

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
Frekuensi sudut didefinisikan dengan menggunakan persamaan berikut.
!=

!"
&
!

(5.5)
dengan T adalah periode fungsi sinusoida. Suatu fungsi dikatakan mempunyai periode T
apabila memenuhi persamaan berikut.
! ! + ! = !(!)&
(5.6)
Bentuk sinyal sumber tegangan fungsi sinusoida ditunjukkan dalam Gambar 5.2. Fungsi
sinusoida juga berlaku pada sumber arus yang memiliki pola yang sama seperti pada
Persamaan 5.4.

Gambar 5.2. Fungsi sinusoida sumber tegangan


Sebuah rangkaian listrik yang tersusun atas sumber tegangan atau arus fungsi
sinusoida dapat dianalisa elemen-elemen penyusunnya dengan memanfaatkan hukum dasar
rangkaian. Contoh 5.2 menjelaskan bentuk rangsangan sinusoida pada sebuah rangkaian
listrik.

CONTOH 5.2
Tentukan nilai tegangan v(t) apabila diketahui nilai arus yang mengalir i(t) = 2 cos 2t A,
resistansi R = 4 dan induktansi L = 2 H.

Penyelesaian:
Berdasarkan Hukum Tegangan Kirchhoff maka dapat dianalisa besar tegangan v(t)
! ! = !! ! + !! ! = !!! ! + !!
= 4! 2 cos 2! + 2 !4 sin 2!
= 8 cos 2! 8 sin 2!!volt
Page(41(of(71(
(

!"
!"

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

5. NILAI RATA-RATA DAN NILAI EFEKTIF


Definisi umum nilai rata-rata suatu fungsi f(t) sepanjang selang waktu antara t1 dan t2
secara matematika didefinikan dengan persamaan berikut.
!!"#"!!"#" =

!!

!
!! !!

!!

! ! !!"&
(5.7)

Apabila fungsi tersebut merupakan fungsi berulang dengan periode T maka persamaan
matematis untuk nilai rata-rata dapat didefinisikan dengan persamaan berikut.
!!"#"!!"#" =

!
!

! ! !!"&

(5.8)
Nilai efektif yang juga dikenal dengan istilah rms (root-mean-square) sesuai definisi
istilahnya dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
!!"!#$%" =

!
!

!
!

!! ! !!"&

(5.9)
Sebagai contoh, nilai efektif arus sinusoida dapat dituliskan dalam persamaan berikut.
!!"# =

!
!"

!"
!

!! ! !!"#!(!"#$)!!" =

!!
!

!, !"!!!! &

(5.10)
Persamaan yang serupa juga dapat digunakan untuk menentukan nilai efektif tegangan
sinusoida

6. METODE BILANGAN KOMPLEKS


Metode bilangan komplek didasari oleh teori deret pada kalkulus. Sebuah fungsi
cosinus, sinus, dan exponesial secara berurutan bisa dituliskan dalam deret sebagai berikut.

!"# ! = !

!! !! !!
+

+ &
!! !! !!

(5.11)

!"# ! = !

!! !! !!
+

+ &
!! !! !!

(5.12)

!! !! !!
+
+
+ &
!! !! !!

(5.13)

!! = ! + ! +

Bentuk Persamaan (5.13) dapat dikembangkan menjadi persamaan berikut.

!!" = ! + !"

!!
!! !!
!! !!
!
+
+!

&
!!
!! !!
!! !!
Page(42(of(71(

(5.14)

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Dengan mensubtitusikan bentuk Persamaan (5.11) dan (5.12) ke dalam Persamaan


(5.14) sehingga dapat diperoleh persamaan Euler (diucapkan oiler) sebagai berikut.
!!" = !"# ! + !!!"#$&

(5.15)

Bentuk Persamaan (5.15) merupakan bentuk bilangan komplek dari rangsangan


eksponensial yang telah didiskusikan pada sub-bab sebelumnya.

CONTOH 5.3
Sebuah rangkaian diketahui sumber tegangan berniali v(t) = 5 cos 2t V. Tentukan arus
i(t) yang mengalir para rangkaian dengan menggunakan metode bilangan kompleks.

Penyelesaian:
Tegangan kompleks pada sumber tegangan v(t) diperoleh sebagai berikut.
! ! = 5 cos 2! + !5 sin 2! !! ! ! = 5! !!! !!
Berdasarkan bentuk tegangan eksponensial diperoleh bahwa s=j!=j2, sehingga:
!=!+

1
1
=2+
!
!"
!2!!!
!

= 2 !2!!!
Arus i(t) dapat diketahui dengan persamaan sebagai berikut
! ! =
=

!(!) 5 cos 2! + !5 sin 2! (5 cos 2! + !5 sin 2!)(2 + !2)


=
=
!
2 !2
8
10 cos 2! 10 sin 2!
10 cos 2! + 10 sin 2!
+!
8
8

7. METODE FASOR
Fasor adalah bilangan kompleks yang merepresentasikan amplitudo dan sudut fase
dari fungsi sinusoida. Fasor menyediakan cara yang sederhana dalam analisis rangkaian
listrik arus bolak-balik yang tersusun atas sumber fungsi sinusoida. Metode fasor pertama kali
diperkenalkan oleh pertama kali oleh Charles Steinmetz (1893). Sebuah sumber tegangan
pada umumya dituliskan dalam bentuk funsi berikut.

Page(43(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
! = !! !"#(!" + !)&

(5.11)
Bentuk Persamaan (5.11) merupakan bagian nyata dari fungsi eksponensial kompleks
berikut.
! = !! !!

!"!!

&

! = !! !!"# !!" &

(5.12)

Persamaan fasornya dituliskan dengan persamaan berikut.


! = !! /!&

(5.13)

Gambar 5.3. Diagram fasor sumber tegangan


Fungsi tegangan tersebut apabila digambarkan dalam diagram fasor ditunjukkan dalam
Gambar 5.3. Selain digunakan pada sumber rangkaian, metode fasor juga digunakan pada
impedansi rangkaian. Sebuah impedansi terdiri dari bagian nyata resistif dan bagian imajiner
reaktansi. Persamaan impedansi dalam bilangan kompleks dituliskan dengan menggunakan
persamaan berikut.
! = ! + !"&

Gambar 5.4. Diagram fasor impedansi


Page(44(of(71(
(

(5.11)

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Apabila digambarkan pada bidang kompleks, impedansi pada Persamaan (5.11) akan
menghasilkan Gambar 5.4. Berdasarkan Gambar 5.4, masing-masing komponen dapat
diuraikan dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut.
! = ! !"! !&

! = ! !"# !&

(5.12)

sehingga komponen fasornya dapat ditentukan sebagai berikut.


! =

!!

!
! = !"# &
!

!! &

(5.13)

SOAL
1. Pada rangkaian berikut diketahui v(t) = 3 e3t V. Tentukan:
a. Impedansi dan admitansi total
b. Nilai i(t) dalam metode eksponensial
c. Nilai i(t) dalam metode sinusoida apabila diketahui v(t)=3 cos(3t) V

2. Selesaikan dengan menggunakan metode kompleks dan metode fasor untuk


mendapatkan nilai v1(t) pada rangkaian berikut.

Page(45(of(71(
(

Sinyal!dan!Rangkaian:!!
Metode!Analisis!Rangkaian!Listrik!
!Arus!Bolak!Balik!

Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. PENYEDERHANAAN
RANGKAIAN
3. METODE TEGANGAN
SIMPUL

4. METODE ARUS MATA


JALA
5. TEORI THEVENIN DAN
NORTON

1.1 Pengantar
Metode analisis rangkaian listrik arus bolak-balik perlu diketahui
untuk menentukan parameter-parameter penting rangkaian. Pada
prinsipnya metode analisis rangkaian arus searah dapat
digunakan untuk menganalisa rangkaian listrik arus bolak-balik
dengan beberapa modifikasi. Pembahasan beberapa pengetahuan
dasar seputar metode analisis rangkaian arus bolak-balik akan
dipelajari pada bab ini dengan beberapa studi kasus.
1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa memahami
beberapa metode yang dapat digunakan untuk menganalisa
rangkaian meliputi:

Penyederhanaan rangkaian

Metode tegangan simpul

Metode arus mata jala

Teori thevenin dan norton

Fungsi jala-jala

2. PENYEDERHANAAN RANGKAIAN
Penyederhanaan rangkaian rumit merupakan teknik yang
berguna dalam analisis sebuah rangkaian. Penyederhanaan rangkaian
arus
bolak-balik
mempunyai
teknik
yang
serupa
dengan
penyederhanaan resistor. Perbedaan yang penting adalah pada
rangkaian listrik arus bolak-balik terdiri dari resistor, induktor, dan
kapasitor. Penjelasan lebih lanjut teknik penyederhanaan dijelaskan
pada contoh soal.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1. PENDAHULUAN

6
5
4&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

CONTOH 6.1
Tentukan impedansi masukan dari rangkaian berikut apabila diketahui frekuensinya
adalah 10 radian per detik.

Penyelesaian:
Pada titik aa, resistor dan induktor disederhanakan menjadi
10 + !" = 10 + !10 = 10 2!!45
sehingga admitansinya adalah
!
!" !"#

!
!"

45 = 0,5 !0,5

Admitansi dari kutub aa ke kanan adalah


0,5 !0,5 +

1
= 1 !0,5 = 1,12! 26,57
20

Impedansinya adalah
1
= 0.89!!26,57 = 0,8 + !0,4
1,12! 26,57
Impedansi dari kutub bb ke kanan adalah
0,8 + !0,4 + 10 = 10,8 + !0,4 = 10,81!!2,12
Admitansinya kutub bb ke kanan adalah
1
= 0,09! 2,12 = 0,09 !3,424!10!!
10,81!2,12
Admitansi kapasitor adalah
!"!!!0,01 = !10!0,01 = !0,1
Admitansi total dari rangkaian tersebut adalah
!0,1 + 0,09 !3,424!10!! 0,09 + !0,1 = 0,135!!48,01
Impedansi total rangkaian tersebut adalah
1
= 7,43! 48,01 = 4,97 !5,53!
0,135!48,01

Page(47(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

3. METODE TEGANGAN SIMPUL


Penggunaan metode tegangan simpul pada rangkaian arus bolak-balik hampir sama
dengan penggunaan pada rangkaian arus searah. Dasar metode tegangan simpul adalah
mengubah semua sumber tegangan dengan impedansi serinya menjadi sumber arus dengan
impedansi setaranya serta mengubah semua impedansi menjadi admitansi setaranya.
Selanjutnya dipilih simpul referensi sebelum dilakukan penyusunan persamaan Hukum Arus
Kirchhoff untuk tiap-tiap simpul. Persamaan yang terbentuk lalu diselesaikan untuk
menemukan tegangan simpul yang diinginkan.

CONTOH 6.2
Tentukan nilai tegangan V1 dengan menggunakan metode tegangan simpul.

Penyelesaian:
Semua sumber tegangan dengan impedansi serinya diubah menjadi sumber arus
dengan impedansi paralelnya dan semua resistansi diubah menjadi admitansi
setaranya seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Pilih simpul 0 sebagai referensi, kemudian susun semua persamaan untuk masingmasing simpul sehingga menghasilkan persamaan berikut.
1:
2:

(0,2 + j0,4)V1
(j0,4)V2 = 2,5/30
(j0,4)V1 + (j0,4 - j0,2)V2 = 2/0

Selesaikan persamaan tersebut sehingga diperoleh V1 = 5,15/26,45 V

4. METODE ARUS MATA JALA


Seperti halnya pada rangkaian arus searah, metode arus mata jala rangkaian listrik
arus bolak-balik menggunakan prinsip Hukum Tegangan Kirchhoff. Prinsip prosedur metode
Page(48(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

arus mata jala adalah mengubah semua sumber arus dengan impedansi paralelnya menjadi
sumber tegangan dengan impedansi seri setaranya serta mengubah semua admitansi
menjadi impedansi setaranya. Selanjutnya adalah menyusun persamaan Hukum Tegangan
Kirchhoff untuk masing-masing rangkaian tertutup arus mata jala. Nilai arus masing-masing
mata jala diselesaikan untuk menentukan nilai variabel yang diinginkan.

CONTOH 6.3
Pada gambar rangkaian berikut, gunakan metode arus mata jala untuk menentukan Ib
pada Zbeban=11,6+j8,75

Penyelesaian:
Dikarenakan semua sumber dalam rangkaian sudah merupakan sumber tegangan
maka analisis metode arus mata-jala dapat dimulai dengan menuliskan semua
persamaan yang terjadi pada masing-masing arah arus mata-jala. Secara
berurutan persamaan untuk arus mata jala bagian kiri dan kanan adalah sebagai
berikut.
1: (13,06+j10,35)I1 - (11,66+j8,75)I2 = 460/0
2: -(11,66+j8,75)I1 + (12,46+j9,75)I2 = 451/-5
Penyelesaian persamaan diatas menghasilkan
I1=19,5/-5,2 A
I2=-17,8/-76,4 A
Nilai arus beban Ib adalah Ib=I1-I2=30,4/-38,9 A

5. TEORI THEVENIN DAN NORTON


Sama halnya dengan Teori Thevenin dan Norton yang digunakan pada rangkaian arus
searah, penerapan teori ini pada arus bolak-balik menerapkan prosedur yang sama. Prinsip
dasar penggunaan teori thevenin adalah mengganti rangkaian dengan sumber tegangan dan
admitansi serinya yang terhubung dengan beban. Beban merupakan komponen yang ingin
diketahui nilai sinyalnya (tegangan dan arus). Pada dasarnya, teori thevenin mencari nilai
tegangan terbuka diantara komponen tersebut kemudian dilanjutkan dengan menentukan
impedansi diantara kedua kutub komponen tersebut. Berkebalikan dengan teori Thevenin,
teori Norton menentukan nilai arus hubung singkatnya kemudian mencari impedansi diantara
kedua kutub komponen tersebut.
Page(49(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

CONTOH 6.4
Tentukan rangkaian setara Thevenin untuk rangkaian berikut.

Penyelesaian:
Karena yang akan dicari adalah tegangan V1 yang setara dengan tegangan
sumber arus, maka sumber arus dihilangkan dari rangkaian kemudian ditentukan
tegangan terbuka pada dua simpul. Rangkaian semula dimodifikasi sehingga
menghasilkan rangkaian berikut.

Berdasar hasil analisis diperoleh nilai tegangan thevenin pada rangkaian terbuka
V0 dapat diketahui dengan menggunakan persamaan berikut.
!=

20/90
!
=
= 1,78/63,4!!!
! 10 !5 + !10
!! = 10!! = 17,8/63,4!!!!

Setelah diketahui nilai tegangan thevenin-nya, selanjutnya adalah menghilangkan


semua sumber pada rangkaian dan menghitung impedansi totalnya. Rangkaian
yang telah dihilangkan semua sumbernya ditunjukkan dalam gambar berikut.

Nilai impedansi pada diantara kedua kutubnya adalah


Page(50(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!! =

10!(!5 + !10)!
= 4,47/63,4
10 + (!5 + !10)

Dengan menerapkan Hukum Kirchhoff, nilai tegangan V1 dapat diketahui dengan


!! = 5/30!!!4,47/63,4 ! + 17,8/63,4 ! = 38,8/80,1!!!

SOAL

Tentukan nilai v1(t), dengan menggunakan:


1. Metode tegangan simpul
2. Metode arus mata jala
3. Teori Thevenin
4. Teori Norton

Page(51(of(71(
(

Sinyal!dan!Rangkaian:!!
Metode!Analisis!Rangkaian!Listrik!
!Arus!Bolak!Balik!Lanjutan!

Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. ANALISIS FOURIER

3. TANGGAPAN FREKUENSI
4. PENYARING
5. RESONANSI

1. PENDAHULUAN

1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa memahami
beberapa hukum dasar tentang:

Analisis Fourier

Tanggapan frekuensi

Penyaring

Resonansi

2. ANALISA FOURIER
Analisa Fourier didasarkan pada penggunaan deret Fourier yang
menjelaskan
bahwa
suatu
fungsi
dapat
diuraikan
menjadi
penjumlahan tak terhingga dari fungsi-fungsi sinusoida. Sebagai
ilustrasi sebuah fungsi sinyal kotak pada Gambar 7.1 dapat tersusun
dari penjumlahan fungsi-fungsi sinusoida sehingga menyerupai bentuk
sinyal asli seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 7.2.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1.1 Pengantar
Analisa sebuah rangkaian listrik dapat dilaksanakan dengan
menggunakan beberapa metode yang lebih khusus. Berbeda
dengan metode sebelumnya yang hampir sama dengan metode
yang digunakan pada rangkaian listrik arus searah, metode yang
dibahas pada bab ini merupakan metode yang hanya dapat
digunakan pada rangkaian listrik arus bolak-balik.

7
5
4&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 7.1. Fungsi sinyal kotak

Gambar 7.2. Fungsi sinusoida penyusun fungsi


Sumber: Mismail, 2011.
Semakin banyak jumlah fungsi sinusoida pembentuknya maka akan semakin
mendekati sinyal aslinya. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 7.2(a) yang mempunyai jumlah
fungsi penyusun sinusoida lebih sedikit bila dibandingkan dengan Gambar 7.2(b).
Hubunganya antar fungsi asli dan fungsi sinusoida penyusunnya ditunjukkan pada persamaan
berikut.
(7.1)
Persamaan (7.1) dapat dituliskan dalam bentuk persamaan

(7.2)
dengan !! = 2!/! merupakan frekuensi sudut dasar. Suku a0 disebut ordinat rata-rata atau
komponen searah gelombang f(t). Suku
Page(53(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

(7.3)
adalah komponen dasar yang mempunyai frekuensi dan periode sama seperti gelombang
aslinya. Masing-masing suku dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.

(7.4)
Suatu fungsi dapat dibedakan menjadi fungsi genap dan fungsi ganjil. Fungsi genap
mempunyai sifat f(t)=f(-t) untuk semua nilai t. Sedangkan fungsi ganjil mempunyai sifat
f(t)=-f(t) untuk semua nilai t.

3. TANGGAPAN FREKUENSI
Tanggapan frekuensi dari sebuah rangkaian adalah variasi dari perilaku rangkaian
terhadap perubahan frekuensi sinyal. Bentuk tanggapan frekuensi dari sebuah rangkaian
dinyatakan dalam H(j) yang merupakan fungsi kompleks dengan komponen penyusunya
bagian nyata dan bagian khayal. Persamaan dari fungsi ini dituliskan dalam bentuk
persamaan bilangan kompleks berikut.
(7.5)
Dengan Re[ ] menyatakan bagian nyata dan Im[ ] menyatakan bagian khayalnya. Persamaan
(7.5) dapat dituliskan dalam bentuk eksponensial dan fasor sebagai berikut.

(7.6)
Hubungan antara persamaan dalam bilangan kompleks dan fasor dinyatakan dalam
persamaan berikut.!!

(7.7)
Dalam beberapa referensi penulisan frekuensi dapat digantikan dengan s=j. Sehingga
tanggapan frekuensinya di simbolkan dengan H(s).

Page(54(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

CONTOH 7.1
Tentukan tanggapan frekuensi dari rangkaian berikut.

Penyelesaian:
Impedansi masukan rangkaian ditentukan oleh
! ! =

!(!)
=! ! =
!(!)

1
!
!

+ !" +

!
!"

Diketahui bahwa s=j, sehingga diperoleh


! !" =

1
!
!

+ ! !"

Tanggapan amplitudonya adalah


! !"

!
!"

1
! !
!

+ !"

Tanggapan fasanya adalah


! ! = tan!! ! !!

!"

1
!"

4. PENYARING
Penyaring (filter) adalah rangkaian yang difungsikan untuk melewatkan sinyal dengan
frekuensi yang diinginkan dan meredam atau menghilangkan frekuensi lainnya. Sebuah
rangkaian penyaring dapat dibedakan menjadi rangkaian penyaring pasif dan rangkaian
penyaring aktif. Rangkaian penyaring pasif tersusun atas komponen pasif seperti resistor,
induktor L dan kapasitor C. Rangkaian penyaring aktif tersusun atas rangkaian aktif seperti
penguat kerja, transistor dan lainnya. Pada pembahasan ini hanya akan dibahas rangkaian
penyaring pasif.
Berdasarkan frekuensi yang dilewatkan, sebuah rangkaian penyaring dibedakan
menjadi.
a. Lowpass filter, penyaring ini melewatkan semua sinya frekuensi yang kurang dari
frekuensi batas. Tanggapan frekuensi penyaring ini ditunjukkan dalam Gambar
7.3(a).
Page(55(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
b. Highpass filter, penyaring ini melewatkan semua sinyal dengan frekuensi lebih
besar dari frekuensi batas. Gambar 7.3(b) merupakan tanggapan frekuensi dari
penyaring ini.
c. Bandpass filter, rangkaian ini meloloskan semua sinyal yang memiliki frekuensi
diantara dua frekuensi batas. Tanggapan frekuensinya ditunjukkan dalam Gambar
7.3(c).
d. Bandstop filter, penyaring ini meredam atau menolak semua sinyal yang memiliki
frekuensi diantara dua frekuensi batas. Gambar 7.3(d) adalah tanggapan frekuensi
ideal.
Frekuensi batas pada sebuah penyaring merupakan frekuensi saat tanggapan

amplitudonya sebesar 1/ 2 frekuensi maksimum. Nilai ini merupakan nilai yang penting untuk
merancang sebuah penyaring.

Gambar 7.3. Tanggapan frekuensi (a) lowpass filter (b) highpass filter
(c) bandpass filter (d) bandstop filter
Sumber: Alexander, 2004.

CONTOH 7.2
Buatlah sketsa tanggapan frekuensi untuk rangkaian berikut.

Page(56(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
Penyelesaian:
Fungsi perbandingan antara tegangan masukan V1 dan tegangan keluaran V2
adalah
!

!!
! ! =
= !"
!! ! +

!"

1
!"# + 1

dengan mengganti s=j, sehingga diperoleh


! !" =

1
!"#$ + 1

Tanggapan amplitudonya adalah


! !"
Tanggapan fasanya adalah

1
1 + !"#

! ! = tan!! !"#

Beberapa nilai penting dalam sketsa adalah


!=0:
! !" =1
! ! =0
!

! !"

!:

! !"

!=

!"

! !

!
!

Sketsa tanggapan frekuensinya ditunjukkan dalam Gambar berikut.

Page(57(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

5. RESONANSI
Resonansi merupakan suatu keadaan rangkaian pada saat induktansi dan
kapasitansinya bernilai sama sehingga impedansinya bersifat resistif murni. Nilai induktansi
dan kapasitansi dipengaruhi oleh frekuensi. Frekuensi yang menyebabkan terjadinya
resonansi dikenal dengan frekuensi resonansi. Frekuensi resonansi merupakan salah satu
parameter penting.

CONTOH 7.3
Tentukan frekuensi resonansi dari rangkaian RLC seri berikut.

Penyelesaian:
Impedansi total rangkaian adalah
! ! =

!(!)
1
= ! ! = ! + !" +
!(!)
!"

Diketahui bahwa s=j, sehingga diperoleh


! !" = ! + ! !"

1
!"

Frekuensi resonansi dapat ditentukan sebagai berikut


1
=0
!! !
1
!! =
!"

!! !

SOAL
1. Buatlah sketsa dari rangkaian penyaring berikut apabila diketahui C=0,01 F,
R=10 , L=4 H dan tentukan frekuensi batasnya.

Page(58(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

2. Tentukan frekuensi resonansi rangkaian berikut apabila C=0,05 F, R=3 dan


L=5H.

Page(59(of(71(
(

Sinyal!dan!Rangkaian:!
Gejala!Sentara!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. PERSAMAAN ORDE I
3. PERSAMAAN ORDE II

4. SENTARA PADA
RESONANSI
5. SENTARA PADA
RANGKAIAN TERBUKA
6. KEADAAN AWAL
RANGKAIAN

1.1 Pengantar
Pemasangan suatu sumber dalam rangkaian atau pelepasan
sumber dari suatu rangkaian akan memberikan respon tersendiri.
Gejala ini disebut dengan gejala sentara. Teori yang telah
dijelaskan
pada
pertemuannya
sebelumnya
tidak
dapat
menjelaskan kondisi ini. Beberapa teori sebelumnya membahas
perilaku rangkaian jauh setelah sumber rangkaian terpasang.
Pada pembahasan ini perilaku rangkaian terhadap waktu saat
sumber terpasang atau dipisahkan akan dibahas lebih dalam.
1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa memahami
berbagai macam gejala sentara pada rangkaian listrik yang
meliputi:

Gejala pada rangkaian listrik berorde satu

Gejala pada rangkaian listrik berorde dua

Gejala sentara pada resonansi

Gejala sentara pada rangkaian terbuka

Keadaan awal rangkaian

2. PERSAMAAN ORDE I

Gejala sentara merupakan keadaan sinyal pada rangkaian ketika


pertama kali dihubungkan atau dilepaskan dari sumber. Gejala
sentara pada rangkaian berorde satu dicontohkan dengan sebuah
rangkaian resistor-induktor seri dan sumber tegangan yang
ditunjukkan dalam Gambar 8.1.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1. PENDAHULUAN

8
5
4&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 8.1. Rangkaian RL seri


Sumber: Mismail, 2011
Pada rangkaian dalam Gambar 8.1, persamaan differensialnya pada saat t>0 adalah
sebagai berikut.
!"
! = !!! + !! &
!"
(8.1)
Sesaat setelah saklar ditutup, tegangan pada resistor R sama dengan nol. Saat
pertama kali dihubungkan, seluruh arus yang mengalir dari sumber tegangan digunakan
untuk menaikkan arus induktor dengan kenaikan arus sebesar
!" !
= &
!" !
(8.2)
Setelah arus mulai mengalir melewati resistor maka tegangan pada resistor tidak lagi
sama dengan nol sehingga tegangan pada induktor menjadi berkurang (Hukum Tegangan
Kirchhoff). Pengurangan tegangan induktor akan menyebabkan mengurangi kecepatan
kenaikan arus induktor menjadi
!" ! !"
=
&
!"
!
(8.3)
Pada kondisi akhir, arus akan berada pada nilai mantapnya sehingga seluruh arus yang
mengalir akan digunakan oleh resistor untuk memenuhi hukum Ohm. Pada kondisi ini
tegangan induktor mendekati nol dan tidak ada peningkatan arus lagi. Arus yang mengalir
pada rangkaian tidak akan melebihi nilai V/R. Selang waktu ketika saklar pertama kali ditutup
hingga tidak dijumpai lagi kenaikan arus disebut dengan masa sentara. Sedangkan kondisi
ketika tidak ditemukan adanya kenaikan atau perubahan disebut dengan keadaan mantap.
Bentuk tanggapan keseluruhan dari rangkaian Gambar 8.1 diilustrasikan dalam Gambar 8.2.

Gambar 8.2. Tanggapan arus pada rangkaian RL seri


Sumber: Mismail, 2011
Page(61(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Berdasarkan Gambar 8.2, tanggapan lengkap sebuah rangkaian dimulai saat pertama
kali saklar ditutup atau sumber terpasang hingga waktu yang tak-terbatas terdiri dari dua
tanggapan yakni tanggapan alamiah dan tanggapan terpaksa. Tanggapan alamiah terjadi
selama masa sentara dan tanggapan terpaksa terjadi selama keadaan mantap. Secara umum
arus keseluruhan dapat dituliskan dengan
!! = !! + !! &

(8.4)

dengan iT adalah arus keseluruhan, iN adalah arus alamiah dan iF adalah arus terpaksa. Jika
sumber tegangan dalam rangkaian Gambar 8.1 sebesar ! maka arus tanggapan terpaksanya
adalah sebagai berikut.
!
!! =
&
! + !"
(8.5)
Arus tanggapan alamiah dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan (8.5)
pada kondisi saat keadaan t=0.
!
!! =
&
! + !! !
!! (! + !! !) = !&

(8.6)

Pada keadaan awal, diketahui tegangan V=0.


!! (! + !! !) = !&

(8.7)
Pada kenyataanya arus alamiah (iN) tidak mungkin bernilai nol sehingga hanya
impedansinya yang bernilai nol. Dengan demikian frekuensi alamiah dapat ditentukan dengan
menyelesaikan persamaan berikut.
!
!! = &
!
(8.8)
Pada contoh yang diberikan frekuensi alamiah yang dihasilkan hanya satu sehingga
rangkaian tersebut disebut dengan rangkaian persamaan orde satu. Sehingga besarnya
arus alamiah dari rangkaian Gambar 8.1 ditentukan sebagai berikut.
!

! ! = ! ! ! !! ! = ! ! ! ! ! ! &

(8.9)
Arus keseluruhan yang mengalir dalam rangkaian dituliskan dalam persamaan berikut.
!
!
!! = !! + !! =
+ !! ! ! ! ! &
! + !"
(8.10)

3. PERSAMAAN ORDE II

Pada bab sebelumnya, frekuensi alamiah yang dihasilkan sebanyak satu. Pada
rangkaian kompleks dengan jumlah frekuensi alamiah lebih dari satu maka tanggapan
alamiahnya juga sebanyak nilai pembentuk impedansi nolnya. Pada sub-bab ini akan
diberikan contoh rangkaian RLC seri yang ditunjukkan dalam Gambar 8.3 guna memberikan
kemudahan dalam pemahaman gejala sentara pada rangkaian persamaan orde dua.

Page(62(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 8.3. Rangkaian RLC seri.


Sumber: Mismail, 2011
Berdasarkan Gambar 8.3, persamaan yang terbentuk menurut Hukum Tegangan
Kirchhoff dituliskan dalam persamaan berikut.
!" !
! ! = !!! ! + !! +
! ! !!"&
!" !
(8.11)
Bila v(t) berupa fungsi eksponensial, maka demikian pula i(t), sehingga Persamaan (7.12) itu
dapat dituliskan sebagai berikut.
!
! ! = ! + !" +
!(!)&
!"
(8.12)
Nilai impedansinya ditentukan dengan persamaan berikut.
!
! ! = ! + !" + &
!"
(8.13)
Apabila diketahui besarnya sumber tegangan sebesar V, maka nilai tanggapan arus
keseluruhan dapat ditentukan sebagai berikut.
!! = !! + !! &

(8.14)

Besarnya nilai arus terpaksa dapat diketahui dengan menggunakan persamaan.


!
!! =
&
!
! + !" +
!"

(8.15)
Persamaan untuk arus alamiahnya ditentukan dengan menggunakan persamaan
berikut.
!
!! ! + ! ! ! +
= !&
!! !
(8.16)
Pada saat t=0, nilai tegangannya sebesar nol. Persamaan bagian kiri harus bernilai nol
agar persamaan terpenuhi. Arus alamiah tidak mungkin bernilai nol sehingga impedansinya
bernilai nol. Frekuensi alamiahnya dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan
berikut.
!
! + !! ! +
= !&
!! !
!! ! !" + !! !" + ! = !&

(8.17)
Penyelesaian Persamaan (8.17) akan menghasilkan dua buah frekuensi alamiah.
Rangkaian dengan karakteristik ini disebut dengan rangkaian persamaan orde dua.
Persamaan (8.17) dapat diselesaikan dengan menggunakan persamaan berikut.
Page(63(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
!
!! =

!"

!
!"

!
&
!"

(8.18)
Arus alamiah yang terbentuk berdasarkan Persamaan (8.18) adalah sebagai berikut.
!
!! = !! !!!" ! + !! !!!" ! + &
!
(8.19)
I1 adalah nilai arus awal untuk tanggapan alamiah pertama dan I2 adalah nilai arus
awal untuk tanggapan alamiah kedua.

4. SENTARA PADA RESONANSI

Resonansi sentara terjadi pada saat tanggapan alamiahnya bernilai sama dengan
tanggapan terpaksanya. Sebagai contoh, apabila rangkaian Gambar 8.1 diberi tegangan
eksponensial dengan nilai s=-R/L maka impedansi rangkaiannya adalah
! ! = ! + !" = !&

(8.20)

Tanggapan arus terpaksanya ditentukan sebagai berikut


!
!

! !

!! =

!!
!

= !! ! ! &
(8.21)

Tanggapan arus lengkapnya adalah sebagai berikut.


!

!! = !! + !! = !! ! ! + !! !! ! ! &

(8.22)
Pada saat t=0 , iT=0 sehingga diperoleh I0=- yang sama dengan tanggapan
terpaksanya. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan proses limit. Nilai s diubah
menjadi s=s1+s dengan s mendekati nol. Penggantian s akan menghasilkan tanggapan
terpaksa dan tanggapan alamiah secara berurutan seperti berikut.

!! !!"
!! =
&
! ! !!

!! = !!!! ! &

5. SENTARA PADA RANGKAIAN TERBUKA

(8.23)

Analisa gejala sentara pada sebuah rangkaian pada saat saklar ditutup atau sumber
dipasang telah dibahas pada bahasan sebelumnya. Gejala sentara yang terjadi ketika saklar
dibuka atau sumber dilepaskan akan dibahas dalam pokok bahasan ini. Sebuah rangkaian
dalam Gambar 8.4 diberikan untuk memudahkan pemahaman mengenai gejala sentara pada
rangkaian terbuka.

Gambar 8.4. Rangkaian RL paralel.


Sumber: Mismail, 2011
Page(64(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Pada Gambar 8.4 dijelaskan bahwa rangkaian RL paralel dengan saklar tertutup. Pada
rangkaian terlihat bahwa tidak ada arus yang mengalir pada resistor dan induktor. Seluruh
arus dari sumber akan mengalir melewati saklar. Pada saat saklar dibuka maka arus yang
mengalir terbagi menjadi arus yang melalui resistor R dan induktor L. Arus akan mengalir
melalui resistor R sebelum berganti mengalir melalui induktor L. Tanggapan tegangan
keseluruhan dapat dianalisa dengan menentukan tanggapan tegangan terpaksa dan
alamiahnya.
Apabila diketahui sumber arus berupa fungsi eksponensial, maka tanggapan tegangan
terpaksa diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut.

!
!! !!"
!! = = ! ! &
!
+ !"
!

(8.24)
Tanggapan tegangan alamiah dapat ditentukan dengan menjadikan impedansi bernilai
nol sehingga diperoleh frekuensi alamiahnya sebagai berikut.
!
!
!
+
= !! ! = &
! !"
!
(8.25)
Nilai tegangan alamiahnya diperoleh sebagai berikut.
!

!! = !!! ! ! &

(8.26)
Tegangan keseluruhan untuk rangkaian Gambar 8.4 dituliskan dalam persamaan
berikut.

!! = !! + !! =

!! !!"
!
!

+ !!

!
!

! !

&

!"

(8.27)
Konstanta A dapat diketahui dengan menganalisa keadaan awal. Pada saat t=0,
besarnya tegangan sebesar RI0. Dengan demikian nilai A dapat ditentukan sebagai berikut.
!!
!"!!!!!
!!! = ! ! + !! ! = !!!
!
! + !"
+
!

!"

(8.28)

6. KEADAAN AWAL !RANGKAIAN

Arus pada sebuah induktor tidak dapat berubah secara mendadak segera setelah
saklar ditutup atau dibuka. Pada saat sesaat setelah saklar ditutup atau dibuka induktor akan
berlaku seperti rangkaian terbuka. Apabila terdapat sebuah arus mengalir melalui induktor
sebelum saklar ditutup, maka segera setelah saklar ditutup induktor tersebut dapat dianggap
sebagai sumber arus sempurna.
Pada kapasitor diketahui bahwa tegangannya tidak dapat berubah secara tiba-tiba.
Sebuah kapasitor yang tidak bermuatan dianggap sebagai suatu hubung-singkat. Apabila
kapasitor tersebut telah memiliki muatan, maka segera setelah saklar ditutup kapasitor
tersebut dianggap sebagai sumber tegangan sempurna.
Keseluruhan keadaan awal sebuah komponen penyusun rangkaian ditunjukkan dalam
Gambar 8.4.

Page(65(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

Gambar 8.4. Rangkaian setara komponen pada awal rangkaian


Sumber: Mismail, 2011

SOAL

1. Analisa gejala sentaranya dari rangkaian diatas.


2. Termasuk dalam orde berapakah persamaan rangkaian tersebut.
3. Bagaimana gejala Sentara yang terjadi apabila posisi awal saklar dibalik dari b ke
a.

Page(66(of(71(
(

Sinyal!dan!Rangkaian:!
Daya!Rangkaian!Listrik!Arus!BolakLBalik!
Adharul(Muttaqin,(ST.,(MT.((
Eko(Setiawan,(ST.(
Program(Teknologi(Informasi(dan(Ilmu(Komputer,(Universitas!Brawijaya!
!

MODUL&
1. PENDAHULUAN
1.1
Pengantar
1.2
Tujuan
2. DAYA RATA-RATA

3. DAYA KOMPLEKS
4. RANGKAIAN TIGA FASA

1. PENDAHULUAN

1.2 Tujuan
Tujuan dalam pembelajaran ini adalah mahasiswa memahami
beberapa pengetahuan tentang daya rangkaian arus bolak-balik
yang meliputi:

Daya rata-rata

Daya kompleks

Rangkaian tiga fasa

2. DAYA RATA-RATA
Daya rata-rata sangat penting sebagai ukuran arus dan
tegangan listrik yang berulang. Daya rata-rata tersebut dipantau oleh
perusahaan listrik untuk menentukan biaya penggunaan listrik. Daya
rata-rata sama dengan kecepatan rata-rata dalam menyerap energi
listrik. Bahasan tentang harga rata-rata untuk daya sesaat, maka
interval waktu di mana proses rata-rata tersebut berlangsung
haruslah dengan jelas didefinisikan. Pada interval waktu dari t1 ke t2,
harga
rata-rata
sebuah
daya
dapat
didefinisikan
dengan
menggunakan persamaan berikut.

SELF%PROPAGATING.ENTREPRENEURIAL.EDUCATION.DEVELOPMENT.
(SPEED).

1.1 Pengantar
Daya merupakan parameter yang utama dalam sebuah rangkaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, daya digunakan untuk menentukan
biaya penggunaan listrik oleh sebuah perusahaan listrik.
Pembelajaran seputar daya rangkaian arus bolak-balik akan
memberikan wawasan tambahan khususnya dalam penggunaan
sehari-hari. Bab ini akan membahas mengenai daya pada
rangkaian arus bolak-balik.

9
8
5
4&

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
!!"#"!!"#" =

!
!! !!

!!
!!

!(!)!!" =

!
!! !!

!!
!!

! ! !!(!)!!"&
(9.1)

Ketergantungan P pada interval waktu tertentu dapat dinyatakan lebih sederhana jika
p(t) adalah sebuah fungsi periodik. Pengertian lainnya dari daya rata-rata adalah total
seluruh energi yang dilepaskan dibagi dengan waktu yang diperlukan untuk melepaskan
energi tersebut. Daya rata-rata lebih bermanfaat dari pada daya sesaat. Daya listrik yang
digunakan untuk memanaskan air dalam satu jam lebih memiliki arti dari pada variasi
perubahan daya selama selang waktu satu jam.
Sebuah rangkaian arus bolak-balik terdiri dari sumber dengan fungsi sinusoida daya
rata-ratanya dapat ditentukan dengan menggunakan nilai tegangan dan arus efektif.
Persamaan yang dapat digunakan untuk menentukan daya rata-rata adalah sebagai berikut.
!!"#"!!"#" = !!"!#$%" !!!"!#$%" !!"#!!&
(9.2)
Apabila sebuah beban memiliki impedansi Z=R+jX=|Z| maka cos =R/|Z| dan daya
rata-rata dapat dinyatakan dengan
!
!!"#"!!"#" = !!"!#$%" !!!"!#$%" ! &
|!|
(9.3)
Daya rata-rata selalu bernilai positif. Besarnya nilai daya rata-rata ditentukan oleh
tegangan efektif, arus efektif dan beda sudut fasa diantara arus dan tegangan efektifnya.
Daya rata-rata akan bernilai maksimum jika sudut fasa bernilai nol. Hal ini berarti beban
rangkaiannya bersifat resistif murni. Rasio daya rata-rata terhadap arus dan tegangan efektif
dikenal dengan faktor daya. Persamaan yang digunakan untuk menentukan factor daya
dijelaskan dalam persamaan berikut.
!!"#"!!!"!
!" = !
&
!!"!#$%" !!!"!#$%"
(9.4)

3. DAYA KOMPLEKS
Sebuah rangkaian listrik yang tersusun atas resistansi R dan reaktansi X, maka daya
yang terjadi dalam rangkaian tersebut akan membentuk daya kompleks yang disimbolkan
dengan S. Daya kompleks tersusun atas daya nyata P dan daya reaktif Q. Daya nyata juga
disebut sebagai daya rata-rata. Daya nyata adalah daya yang bekerja pada beban resistif dan
daya reaktif atau daya semu adalah daya yang bekerja pada beban reaktif. Satuan daya
nyata adalah watt (W) sedangkan satuan daya reaktif adalah volt.ampere (VA). Secara
matematis, daya kompleks didefinisikan melalui persamaan berikut.
! = ! + !"&
(9.5)
Daya reaktif didefinisikan sebagai persamaan berikut.
! = !!"!#$%" !!!"!#$%" !!"#!!&
Apabila impedansi sebuah rangkaain dinyatakan dengan
sin=X/|Z| dan daya reaktif dapat dinyatakan dengan persamaan.

Page(68(of(71(
(

Z=R+jX=|Z|

(9.6)
maka

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
! = !!"!#$%" !!!"!#$%" !

!
&
|!|
(9.7)

Secara keseluruhan daya kompleks didefinisikan sebagai berikut.


! = !!"!#$%" !!!"!#$%" !(!"#!! + !!!"#!!)&

(9.8)

4. RANGKAIAN TIGA FASA!


Saat ini generator perusahaan listrik negara menggunakan sistem tiga fasa. Ketiga fasa
ini dapat dideteksi ketika terjadi listrik padam. Pada saat listrik padam terkadang kita
menemukan beberapa rumah dalam satu wilayah tetap menyala saat rumah lainnya padam.
Ketiga tegangan fasa tunggal itu dibangkitkan oleh sebuah medan fluks berputar yang dimiliki
bersama dalam tiga kumparan identik yang terpisah 120 antara satu dengan yang lain
dalam suatu generator listrik fasa tiga. Bila salah satu ujung kumparan disambungkan
bersama-sama guna membentuk kutub n maka akan dihasilkan suatu hubungan Y seperti
yang ditunjukkan dalam Gambar 9.1. Sinyal tegangan yang terbentuk pada masing-masing
fasa tunggal yang dibangkitkan oleh suatu generator fasa setimbang ditunjukkan dalam
Gambar 9.2.

Gambar 9.1. Konfigurasi sistem tiga fasa Y

Gambar 9.2. Bentuk sinyal dari sistem tiga fasa


Penyusunan tegangan fasa tiga menjadi bentuk Y atau memerlukan beberapa
modifikasi dalam urusannya dengan pengaruh keseluruhannya. Berdasarkan Gambar 9.1,
himpunan tegangan Vab, Vbc, dan Vca disebut tegangan saluran sedangkan himpunan
Page(69(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

tegangan Van, Vbn, dan Vcn dikenal dengan tegangan fasa. Hubungan yang timbul antara
tegangan saluran dengan tegangan fasa ini dapat ditentukan dengan analisis hukum
tegangan Kirchhoff.
Pada konfigurasi Y, ketiganya membentuk suatu sistem tegangan fasa tiga setimbang
yang besarnya akar 3 kali tegangan fasanya. Nilai tegangan saluran Vl diberikan oleh
persamaan berikut.
!! = !!!! &
(9.9)
Sedangkan arus salurannya yang terjadi pada hubungan Y mempunyai nilai sama
dengan arus fasanya.
!! = ! !! &

(9.10)

Vl menyatakan nilai tegangan saluran efektif sedangkan Vp merupakan tegangan fasa


efektif. Hal yang sama juga menjelaskan Il yang mewakili arus saluran efektif sedangkan Ip
mewakili arus fasa efektif
Konfigurasi lain dari sistem tiga fasa adalah konfigurasi delta (). Perbedaan sudut fasa
pada konfigurasi ini juga bernilai 120o. Hal yang membedakan antara konfigurasi Y dan
adalah tidak adanya jalur netral pada konfigurasi . Pada konfigurasi , tegangan salurannya
bernilai sama dengan tegangan fasanya yang didefinisikan melalui persamaan berikut.
!! = !! &

(9.11)

Sedangkan arus salurannya mempunyai nilai tiga kali lebih besar bila dibandingkan
dengan arus fasenya.
!! = !!!! &
(9.12)
Baik sistem yang dihubungkan secara Y atau , hubungan daya rata-rata fasa tiga
secara keseluruhan memiliki kesamaan yang ditunjukkan dalam perasamaan berikut.
!=

!
!

!
!

!!!" = !!!! !! !!"#!!&

! = !!!! !! !!"#!!&
(9.13)

SOAL
1. Suatu rangkaian terdiri atas sumber tegangan v dan beban Z. Diketahui bahwa v =
311 cos (wt + 15) volt dan i = 30 cos (wt 56.4) ampere.
a. Berapakah daya semu yang diterima beban?
b. Berapakah faktor daya sistem?
c. Hitunglah P.
d. Hitung Z.
e. Lukislah suatu rangkaian dengan nilai resistansi dan komponen lainnya yang
Page(70(of(71(
(

Mata!Kuliah!/!MateriKuliah&

Brawijaya(University(

!
!

(2012!

!
mewakili Z.
2. Suatu tegangan fasa tiga 220 V dikenakan pada suatu beban setimbang dalam
hubungan D seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.21. Nilai efektif arus fasa
yang diukur di antara titik a dengan b adalah 10/30 A.
a. Tentukan besar dan fasa arus salurannya dan lukislah diagram fasor yang
melukiskan tegangan saluran, arus fasa dan arus salurannya.
b. Hitung daya keseluruhan yang diterima oleh beban tersebut.
c. Tentukan nilai resistif impedansi fasanya.

Page(71(of(71(
(

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

DAFTAR PUSTAKA
!
!
!
!
Mismail, Budiono. Dasar Teknik Elektro Jilid I Rangkaian Listrik. Malang: UB
Press. 2011
Theraja, B. L. Fundamental of Electrical Engineering and Electronics. New
Delhi: S. Chand & Company Ltd. 2002
Weedy, B. M. dan B. J. Cory. Electric Power Systems 4th. Chichester: John
Wiley & Sons. 1998
Alexander, Charles K. dan Matthew N. O. Sadiku. Fundamental of Electric
Circuits. India: The McGraw-Hill Companies Inc. 2004.
Powell, Ray. Introduction to Electric Circuits. London: Arnold Hodder
Headline Group. 1995.

!
72!

!2012$

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

LAMPIRAN

73!

!2012$

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

Biodata Penulis

Nama dan Gelar


Fakultas
Jurusan/Program Studi
Alamat koresponden
Telepon/Fax
Nomor HP
Email
Riwayat Pendidikan
Tahun lulus

:
:
:
:
:
:
:

Adharul Muttaqin, ST., MT.


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
Sistem Komputer

adharul@ub.ac.id

Perguruan Tinggi

Bidang Spesialisasi

S-1

Institut Teknologi Bandung

Teknik Elektro

S-2

Institut Teknologi Bandung

Teknik Elektro

S-3
Nama Mata Kuliah yang Diasuh
No
Nama Mata Kuliah

Strata

1
2
3
Jumlah Mahasiswa yang Pernah Diluluskan
Strata
Jumlah
S-1
S-2
S-3

Pengalaman Penelitian
Tahun

Topik/judul penelitian

Pengalaman publikasi di berkala ilmiah 5 tahun terakhir


Nama
Tahun
Judul artikel
Nama
Volume dan
penulis
terbit
berkala
halaman

Status akreditasi

!2012$

Mata$Kuliah$/$MateriKuliah!

Brawijaya!University!

!
!

Biodata Penulis

Nama dan Gelar


Fakultas
Jurusan/Program Studi
Alamat koresponden
Telepon/Fax
Nomor HP
Email
Riwayat Pendidikan
Tahun lulus
S-1

:
:
:
:
:
:
:

Eko Setiawan, ST.


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
Sistem Komputer

ekosetiawan@ub.ac.id

Perguruan Tinggi
Universitas Brawijaya

Bidang Spesialisasi
Teknik Elektro

S-2
S-3
Nama Mata Kuliah yang Diasuh
No
Nama Mata Kuliah

Strata

1
2
3
Jumlah Mahasiswa yang Pernah Diluluskan
Strata
Jumlah
S-1
S-2
S-3

Pengalaman Penelitian
Tahun

Topik/judul penelitian

Pengalaman publikasi di berkala ilmiah 5 tahun terakhir


Nama
Tahun
Judul artikel
Nama
Volume dan
penulis
terbit
berkala
halaman

Status akreditasi

!2012$