Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

GERMINASI
Tinjauan Pustaka
Germinasi
Germinasi atau pertunasan biji adalah suatu proses yang
melibatkan metabolisme, respirasi, dan hormonal. Mula-mula, biji kering
menyerap air untuk memulai pemecahan enzimatis cadangan metabolit.
Selama germinasi, cadangan makanan (protein, lemak dan minyak)
dimetabolisme untuk memperoleh energi (ATP), juga DNA dan RNA. RNA
dibutuhkan untuk produksi enzim hidrolitik tertentu seperti amilase,
protease dan lipase. Hasil dari proses biokimia dan enzimatik ini adalah
produksi sel baru dan pembentukan jaringan baru yang mengawali
pertumbuhan dan perkembangan embryo menjadi kecambah (Acquaah,
2001).
Skarifikasi adalah salah satu mekanisme dormansi pada biji
tanaman agar biji cepat mengalami perkecambahan. Skarifikasi dapat
dilakuan dengan berbagai cara seperti dengan perlakuan fisis, mekanis,
maupun kimiawi. Biji diamplas agar kulitnya sedikit terkikis sehingga air
mudah masuk. Teknik yang umum dilakukan yaitu skarifikasi atau
deoperkulasi dengan kertas amplas tepat pada bagian titik tumbuh sampai
terlihat

bagian

embrionya

(Bewley

et

al.,1994).

Sutopo

(2004),

menambahkan bahwa skarifikasi secara mekanik bertujuan untuk


melunakkan kulit biji yang keras
Proses

biokimia

awal

yang

terjadi

saat

germinasi

adalah

peningkatan respirasi. Tahap ini dimulai dengan penyerapan air dan


rehidrasi jaringan biji dalam proses imbibisi. Selanjutnya diikuti oleh
pelepasan enzim hidrolitik yang mencerna dan memindahkan cadangan
makanan (Hopkins, 1997). Germinasi diawali dengan penyerapan air oleh
biji (imbibisi) dan berakhir dengan mulainya proses elongasi oleh axis
embrionik, biasanya adalah radikula. Germinasi meliputi beberapa

77

tahapan, yaitu hidrasi protein, perubahan struktur subseluler, respirasi,


sintesis makromolekul, dan elongasi sel. Biji yang tidak mengalami
germinasi disebut quiescent. Biji quiescent adalah organ yang mati, pada
umumnya mengandung nutrisi yang rendah (5 sampai 15%) dengan
aktivitas metabolic hampir tidak terjadi. Agar terjadi germinasi, biji
quiescent umumnya hanya membutuhkan di hidrasi di bawah kondisi yang
memungkinkan terjadi metabolism, yaitu temperature yang cocok dan
adanya oksigen (Bewley, 1994).
Menurut Sutopo (2004), proses perkecambahan benih terdiri dari
beberapa tahap. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dari
proses penyerapan air benih, melunaknya kulit benih dan penambahan air
pada protoplasma sehingga menjadi encer. Tahap kedua dimulai dengan
kegiatan-kegiatan sel dan enzim serta naiknya tingkat respirasi benih yang
mengakibatkan pembelahan sel dan penembusan kulit biji oleh radikel.
Tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan
seperti karbohidrat, protein, dan lemak menjadi bentuk yang melarut dan
ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari
bahan-bahan yang telah diuraikan di daerah meristematik untuk
menghasilkan

energi

bagi

kegiatan

pembentukan

komponen

dan

pertumbuhan sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah


melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembelahan sel-sel pada
titik tumbuh.
Dormansi juga menyediakan untuk distribusi pada germinasi dari
ketergantungan kerusakan dormasi pada beberapa fakor lingkungan yang
mempunyai waktu distribusi sendiri. Contohnya biji biasanya dibebeaskan
dari dormansi dengan cara didinginkan, terkadang untuk beberapa minggu
atau bulan pada temperature 1 sampai 5C. Sejak temperature serupa
hanya ditemukan saat musim dingin, biji yang tergantung pada kerusakan
dormansi harus menunggu musim dingin sebelum mereka dapat ber
germinasi (Bewley, 1994).

78

Metode Germinasi
Perkecambahan biji terjadi dalam lima tahap. Tahap pertama
dimulai dengan penyerapan air oleh biji. Biji mulai lunak dan terjadi hidrasi
dari protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan
enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi biji. Tahap ketiga adalah tahap
penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein menjadi
bentuk-bentuk terlarut dan ditranslokasikan ke titik tumbuh. Tahap
keempat merupakan asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi
ke daerah meristematik untuk menghasilkan energi untuk pembentukan
komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Tahap kelima dalah proses
pembelahan, pembesaran, dan pembagian sel-sel pada titik tumbuh,
tahap ini merupakan tahap pertumbuhan dan perkecambahan terakhir
(Sutopo, 2004). Menurut Fisher dan Peter (1992), faktor-faktor yang
mempengaruhi perkecambahan, antara lain air, cahaya, temperatur, gas,
dan masa dormansi.
Perkecambahan tumbuhan tidak memulai kehidupan akan tetapi
meneruskan pertumbuhan dan perkembangan yang secara temporer
dihentikan ketika menjadi biji dewasa dan embrionya menjadi tidak aktif.
Beberapa biji berkecambah segera setelah biji berada dalam lingkungan
yang sesuai. Biji jenis lain bersifat dorman dan tidak akan berkecambah
meskipun disemaikan dalam tempat yang menguntungkan, sampai
petunjuk lingkungan tertentu menyebabkan biji mengakhiri keadaan
dormansi tersebut (Campbell, 2003).

79

Materi Dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum germinasi adalah
kapas, beaker glass, amplas, jarum, cawan petri, dan oven.
Bahan.. Bahan yang digunakan dalam praktikum germinasi adalah
biji Vigna radiata (kacang hijau), biji Sorghum bicolor (sorgum bunga
merah), kapas, dan air hangat.
Metode

80

Metode yang dilakukan dalam praktikum germinasi yaitu, biji


diskarifikasi dengan lima perlakuan yaitu diamplas, dilukai, perendaman
H2SO4, direndam air hangat dan dioven pada suhu 55C. Kedua biji
ditusuk secara perlahan pada bagian permukaannya hingga ada sedikit
luka. Perlakuan pada biji yang

diamplas, biji diamplas bagian

permukaannya dengan menggunakan kertas amplas hingga muncul


seperti goresan. Perlakuan pada biji yang direndam H 2SO4, dimasukkan ke
dalam larutan asam sulfat selama beberapa menit. Biji yang direndam air
hangat, biji direndam di dalam air hangat yang ada dalam gelas beker.
Perlakuan pada biji yang dioven, biji dioven dalam suhu 55C selama 2
jam. Setelah biji diberi perlakuan kemudian diletakkan pada cawan yang
telah diberi kapas basah. Berdasarkan kelima perlakuan tersebut,
kemudian diamati pertumbuhannya selama 2 minggu. Hal-hal yang
diamati meliputi hari berkecambah dan hari keluarnya daun.
Hasil dan Pembahasan
Praktikum germinasi bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya
germinasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi germinasi pada biji
tanaman. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil
sebagai berikut
Hari berkecambah dan keluarnya daun
Hasil pengamatan hari berkecambah dan keluarnya daun pertama
pada biji tanaman sebagai berikut
Table 1. Hari berkecambah dan keluarnya daun
No
1

Biji
Kacang hijau (Vigna radiata)

Hari Berkecambah
Hari ke-1

Keluarnya daun
Hari ke-2

Sorgum bunga merah

Hari ke-2

Hari ke-3

(Sorghum bicolor)
Berdasarkan hasil pengamatan hari berkecambah dan keluarnya
daun biji kacang hijau (Vigna radiata) lebih cepat berkecambah, yaitu pada
hari ke-1 dan keluar daun pertama pada hari ke-2. Menurut Mareza
(2009), pengaruh varietas juga menunjukkan perbedaan terhadap

81

kecepatan benih berkecambah. Varietas Mekogga memiliki kecepatan


berkecambah tercepat, yaitu 3,15 hari berbeda dengan verietas Batang
Piaman yaitu 3,40 hari, tetapi tidak berbeda dengan varietas IR 64, IR 42
dan Ciherang. Hal ini membuktikan bahwa masing-masing varietas
memiliki perbedaan vigor benih, karena kecepatan benih berkecambah
juga mencerminkan vigor benih.
Biji sorgum tidak perkecambahan dan tidak tumbuh daun. Wirawan
dan Wahyuni (2002) menyatakan bahwa, kecepatan benih berkecambah
juga mencerminkan vigor benih yang merupakan mutu fisiologis dari
benih. Kemampuan benih untuk berkecambah cepat sangat ditentukan
oleh peranan enzim katalitik dan sintetik. Lingkungan tumbuh untuk
tanaman sorgum adalah optimum pada ketinggian tempat kurang lebih 0
sampai 500 m dpl. Semakin tinggi tempat pertanaman akan semakin
memperlambat waktu berbunga dari tanaman sorgum. Temperatur yang
dibutuhkan tanaman sorgum adalah 25C sampai 27C adalah suhu
terbaik

untuk

perkecambahan

biji

sorgum,

sedangkan

untuk

pertumbuhannya perlu suhu sekitar 23 0C sampai 30C dengan keasaman


tanah atau pH optimum tanah untuk pertumbuhannya sekitar 6.0 sampai
7.5 (Hanson, 2012). Menurut Sutopo (2004) perkecambahan benih dapat
dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi tingkat kemasakan benih,
ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta faktor
luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya. Apabila
dibandingkan dengan literatur, hasil praktikum sudah sesuai. Tanaman
kacang hijau memang memiliki tingkat perkecambahan lebih tinggi.
Tinggi tanaman
Biji kacang hijau (Vigna Radiata). Hasil pengukuran tinggi
tanaman pada biji kacang hijau sebagai berikut.
Tabel 3.1. Tinggi biji kacang hijau pada berbagai perlakuan
Hari keDilukai
2

Tinggi tanaman (cm)


Diamplas Direndam
Direndam
air hangat
H2SO4
1,3
1
0
82

Dioven
55C
0

3
4
6
8
10
12
14

1,2
2
4,2
8,8
12
24
34

3
10,8
0
0
0
0
0

1,3
2,5
4,4
8,9
12,4
24,2
34

0
0
0
0
0
0
0

0
0
0.5
1.2
2.5
5
7

Gambar 3.1 Grafik perbandingan tinggi tanaman Vigna radiata berbagai


perlakuan
Biji kacang hijau (Vigna radiata). Berdasarkan hasil pengamatan
biji kacang hijau lebih cepat tumbuh pada perlakuan direndam air hangat.
Hartman (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan
metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya. Adapun salah satunya
yaitu dormansi fisis dimana imbibisi atau penyerapan air terhalang oleh
lapisan biji yang impermeable. Contoh spesiesnya yaitu beberapa legume
dan myrtaceae. Metode pematahan dormansi alami yaitu dengan fluktuasi
suhu, sedangkan metode pematahan dormansi buatan yaitu dengan
skarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia. Menurut
Sutopo (2004), dengan metode pematahan dormansi tersebut, persentase
perkecambahan biji menigkat sebesar 90 sampai 100%.
Perlakuan skarifikasi dengan menggunakan air hangat merupakan
suatu metode perlakuan untuk biji yang memiliki kulit keras dan bersifat
83

impermeable agar cepat berkecambah. Konsentrasi asam yang biasanya


digunakan adalah 95%. Perlakuan ini dapat dilakukan selama 5 sampai 10
menit. Perlakuan ini diharapkan biji yang memiliki struktur kulit keras dapat
lunak

sehingga

air

dan

zat

lain

yang

berguna

untuk

proses

perkecambahan dapat masuk ke dalam biji (Hamiliton and James, 2008).


Biji sorgum bunga merah (Sorghum bicolor). Hasil pengukuran
tinggi tanaman pada biji kacang hijau sebagai berikut.
Tabel 3.2. Tinggi biji sorgum bunga merah pada berbagai perlakuan
Hari ke-

Dilukai

2
3
4
6
8
10
12
14

0
2,5
6,7
0
0
0
0
0

Tinggi tanaman (cm)


Diamplas Direndam
Direndam
air hangat
H2SO4
0
0,1
0
0
0,25
0
0
0,4
0
0
1,2
0,8
0
4,3
2,7
0
5
3,6
0
5,5
4,5
0
5,6
4,6

Dioven
55C
0
2,5
6
0
0
0
0
0

Gambar 3.2 Grafik perbandingan tinggi tanaman Sorghum bicolor


berbagai perlakuan

84

Biji sorgum bunga merah (Sorghum bicolor). Berdasarkan


praktikum yang dilakukan, diketahui bahwa perlakuan direndam air hangat
dapat mempercepat perkecambahan biji dibandingkan dengan yang lain.
Suhu yang tinggi (pengovenan) suhu tinggi yang terlalu lama, dapat
berakibat proses perkecambahan terhambat, karena enzim mengalami
denaturasi (Sallisbury dan Ross, 1995). Menurut Hanson (2012),
keberhasilan perkecambahannya selain dipengaruhi oleh lingkungan
(suhu, air, cahaya, dan sebagainya) juga dipengaruhi oleh keadaan biji
(penuaan pada saat panen, penyimpanan, ukuran dan berat biji).
Menurut Bewley et al. (1994), skarifikasi adalah salah satu
mekanisme dormansi pada biji tanaman agar biji cepat mengalami
perkecambahan. Skarifikasi dapat dilakuan dengan berbagai cara seperti
dengan perlakuan fisis, mekanis, maupun kimiawi. Biji diamplas agar
kulitnya sedikit terkikis sehingga air mudah masuk. Teknik yang umum
dilakukan yaitu skarifikasi atau deoperkulasi dengan kertas amplas tepat
pada bagian titik tumbuh sampai terlihat bagian embrionya. Apabila
dibandingkan dengan literatur, perlakuan yang diberikan sudah sesuai.
Tanaman sorgum bunga merah (Sorghum bicolor) merupakan
tanaman graminae yang mampu tumbuh hingga 6 meter. Bunga sorgum
termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di
dalam satu bunga. Daun sorgum memiliki lapisan lilin yang ada pada
lapisan epidermisnya. Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan
tanaman sorgum mampu bertahan pada daerah dengan kelembaban
sangat rendah (Kusuma et al., 2008).
Sorgum

termasuk

tanaman

rumputan

kekar

dengan

tinggi

mencapai 0,5 sampai 6 m. Batang tunggal, padat tanpa rongga, dan di


bagian tengahnya terdapat berkas-berkas pengangkut. Daun mempunyai
panjang 30 sampai 135 cm, dan lebar 1,5 sampai 15 cm. Sistem
perakaran memanjang sampai kedalaman 1,5 m ke dalam tanah, dimana
90% dari jumlah akar terletak pada kedalaman sampai 90 cm dari
permukaan tanah (Hanson, 2012).

85

Jumlah daun
Biji kacang hijau (Vigna radiata). Hasil pengamatan jumlah daun
pada biji kacang hijau sebagai berikut.
Tabel 3.3. Jumlah daun kacang hijau
Hari ke2
3
4
6
8
10
12
14

Dilukai

Diamplas

1
1
2
2
2
2
2
2

1
2
2
0
0
0
0
0

Jumlah daun
Direndam
Direndam
air hangat
H2SO4
1
0
1
0
2
0
2
0
2
0
2
0
2
0
2
0

Dioven
55C
0
0
0
0
0
0
0
1

Gambar 3.3 Grafik perbandingan jumlah daun Vigna radiata berbagai


perlakuan
Biji kacang hijau (Vigna radiata). Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan, tidak semua kecambah menghasilkan daun. Biji yang diberi
perlakuan direndam H2SO4 tidak terdapat daun, sedangkan daun paling
banyak terdapat pada perlakuan direndam air hangat. Menurut Sutopo
(2004), skarifikasi secara mekanik bertujuan untuk melunakkan kulit biji
yang keras. Biji yang direndam air hangat akan membuat biji tersebut
lunak sehingga kulitnya lembek. Hal tersebut dapat membuat air dan
udara mudah masuk.
Menurut Sutopo (2004), biji dapat berkecambah karena di
dalamnya terdapat embrio atau lembaga tumbuhan. Embrio atau lembaga
tumbuhan memiliki tiga bagian, yaitu akar lembaga atau calon akar
(radikula), daun lembaga (kotiledon) dan batang lembaga (kaulikulus).
Daun lembaga atau kotiledon merupakan daun pertama suatu tumbuhan.
Daun lembaga memiliki fungsi antara lain : sebagai tempat menimbun
makanan yang kelihatan tebal dengan bentuk umumnya cembung di satu

86

sisi dan rata pada sisi lainnya, sebagai alat untuk melakukan fotosintesis,
dan sebagai alat penghisap makanan untuk embrio (lembaga) yang
berupa lapisan tipis berbentuk perisai yang dinamakan skutelum pada
monokotil. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa perlakuan
dengan dilukai, direndam air hangat, dan dioven 550C sudah sesuai
karena tumbuhan yang telah berkecambah dan menghasilkan daun.
Biji sorgum bunga merah (Sorghum bicolor). Hasil pengamatan
jumlah daun pada biji kacang hijau sebagai berikut.
Tabel 3.4. Jumlah daun sorgum bunga merah
Hari ke2
3
4
6
8
10
12
14

Dilukai

Diamplas

0
1
2
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0

Jumlah daun
Direndam
Direndam
air hangat
H2SO4
0
0
0
0
0
0
1
0
2
2
2
2
2
2
2
2

Dioven
55C
0
1
2
0
0
0
0
0

Gambar 3.4 Grafik perbandingan jumlah daun berbagai perlakuan


Biji sorgum bunga merah (Sorghum bicolor). Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan, diperoleh data bahwa perlakuan biji yang
diamplas adalah perlakuan yang dapat tidak menghasilkan daun.
Perlakuan biji dilukai, direndam air hangat dapat tumbuh, direndam H 2SO4,
dan dioven 55oC. Sorgum keluar daun pertama pada hari ke 3. Biji sorgum
berbentuk bola dan mempunyai warna yang bervariasi, dari putih, kuning
pucat, merah, cokelat, sampai cokelat tua keunguan. Keberhasilan
perkecambahannya selain dipengaruhi oleh lingkungan (suhu, air, cahaya,
dan sebagainya) juga dipengaruhi oleh keadaan biji (penuaan pada saat
panen, penyimpanan, ukuran dan berat biji) (Hanson, 2012). Berdasarkan
hasil praktikum diketahui bahwa perlakuan dilukai, direndam air hangat,

87

dan dioven 55C

sudah sesuai karena tumbuhan yang telah

berkecambah dan menghasilkan daun.

88

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diketahui bahwa biji kacang
hijau (Vigna radiata) lebih cepat mengalami perkecambahan dibandingkan
dengan biji sorgum bunga merah (Sorghum bicolor). Hal ini karena tingkat
perkecambahan kacang hijau lebih tinggi daripada sorgum. Perlakuan
yang paling baik dilakukan agar proses perkecambahan berlangsung
secara sempurna yaitu dengan cara direndam dengan air hangat karena
biji yang direndam air hangat akan membuat biji tersebut lunak sehingga
kulitnya menjadi lunak.

89

Daftar Pustaka
Acquaah, G., 2005, Horticulture: Principles and Practices, 3rd edition,
Pearson Education Inc., London.
Anshory, A. H. 1999. Pengaruh periode konservasi dan perlakuan
matriconditioning
terhadap
viabilitas benih
kayu
manis
(Cinnamomum zeylanicum) Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian.
Fakultas Pertanian. IPB.
Bewley, J. Derek, Michael Black. 1994. Seeds: Physiology of Development
and Germination. Second Edition. Plenum Press, New York. Bogor.
Campbell, Jane B. 2003. Biologi. Edisi kelima-jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Fisher N. and Petter G. 1992. Fisiologi Tanaman Tropik. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Hamiliton, D, and James, T. 2008. Seed Propagation of Woody
Ornamentals. http://edis.ifas.ufl.edu. Diakses tanggal 17 Maret
2013.
Hartman,HT, D.E. Kester, F.T.Davies and R.L. Geneve.1997. Plant
Propagation Principles and Practices. Prentice Hall. New Jersey.
Hanson, J. 2012. Petunjuk Penanaman dan Pengelolaan Rumput.
www.indonesia.tropicalforages.info. Diakses tanggal 18 Maret 2013
pukul 20.35 WIB.
Hopkins, W.G., 1997, Introduction to Plant Physiology, 2nd edition, John
Wiley and Sons Inc., London.
Kusuma, J., F.N. Azis, A. Hanif, Erifah I., M. Iqbal, A. Reza dan Sarno.
2008. Tugas Terstruktur Mata Kuliah Pemulihan Tanaman Terapan;
Sorgum. Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Jenderal
Soedirman, Fakultas Pertanian, Purwokerto.
Mareza, Evriani, dkk. 2009. Respon Perkecambahan Lima Varietas Padi
Rawa Lebak terhadap Pemberian Zat Pengatur Tumbuh 2,4D pada
Fase Vegetatif di Lapangan. Akta agrosia Vol. 12 No. 2 hlm 177
183 Juli Des 2009.
Purnamasari, Dyah. 2009. Pengaruh Konsentrasi Lama Perendaman
dalam asam Sulfat terhadap Perkecambahan Biji Ki Hujan
(Samanea saman). Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi.
Universitas Islam Negeri Malang, Malang.
90

Sallisbury F.B and C.W .Ross,1992. Plant Physiology. Wadsworth


Publishing Company Belmont, California.
Schmidt, L. 2000. Pedoman penanganan benih hutan tropis dan subtropis
2000. (terj.). Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan
Sosial. Departemen Kehutanan.
Setiadi, H. R. H., dan M. Munawir. 1997. Pengalaman pembuatan
tanaman jati dengan plances pada awal tahun. Duta Rimba 205206 (xx): 44-50.
Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Wirawan B, S. Wahyuni. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat : Padi,
Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, dan Kacang Hijau. PT. Penebar
Swadaya. Jakarta.

91