Anda di halaman 1dari 15

1

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM
Analisis Daya Serap Serabut Kelapa Sawit untuk Remediasi Tembaga, Besi,
dan Zat Organic pada Air Lindi
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Affifah Nadya Aini


Maria Faustina Patricia
Rosalia Amara Puspita

Diusulkan oleh:
(NIM 21080113130083/ Angkatan 2013)
(NIM 21080113130091/ Angkatan 2013)
(NIM 21080115130114/ Angkatan 2015)

UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

PENGESAHAN PKM-PENELITIAN
1. Judul kegiatan
: Analisis Daya Serap Serabut
Kelapa Sawit untuk Remediasi Tembaga, Besi, dan Zat Organic pada Air
Lindi
2. Bidang kegiatan
: PKM-P
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
: Affifah Nadya Aini
b. NIM
: 21080113130083
c. Jurusan
: Teknik Lingkungan
d. Universitas
: Universitas Diponegoro
e. Alamat Rumah dan No.Tel/HP : Lempongsari timur II/3 / 024
8314945
f. Alamat Email
: afifahaini507@gmail.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
:
b. NIDN
:
c. Alamat Rumah dan No. Tel/Hp :
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti
: Rp b. Sumber Lain (orang tua )
: Rp 7. Jangka Waktu Pelaksanaan
: 4-5 bulan
Semarang, tanggal-bulan-tahun
Menyetujui,
Pembantu Dekan III
Fakultas Teknik UNDIP

(Dr. Ing Asnawi, ST)


NIP. 197107241997021001
Pembantu Rektor III
Universitas Diponegoro

(Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D)


NIP. 197110111997021001
DAFTAR ISI

Ketua Pelaksana Kegiatan

( Affifah Nadya Aini )


NIM. 21080113130083
Dosen Pendamping

(
NIDN. XXXXXXX

Halaman Judul............................................................................................................
1

Lembar Pengesahan...................................................................................................
2
Daftar isi.................................................................................................................
3
Ringkasan...................................................................................................................
4
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
.........................................................................................................................................
5
1.2 Tujuan Penelitian
........................................................................................................................
6
1.3Manfaat..
........................................................................................................................
6
1.4 Luaran Yang Diharapkan..
........................................................................................................................
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakterisktik Limbah Cair
...............................................................................................................
7
2.2 Biofilter..
...............................................................................................................
9
2.3 Bioball
...............................................................................................................
9
2.4 Biofilm..
...............................................................................................................
9
2.5 COD & BOD`.................................................................................................
10
BAB III METODA PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
.........................................................................................................................................
11
3.2 Bahan dan Alat
11
3.3 Prosedur Penelitian
.........................................................................................................................................
11

BAB IVBIAYA DAN JADWAL KEGIATAN


3.1Anggaran Biaya.....................................................................................................
13
3.2Jadwal Kegiatan....................................................................................................
13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
14
LAMPIRAN

BAB I.
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensisJacq) merupakan salah satu komoditas

perkebunan yang mempunyai peranan penting di Indonesia. Luas perkebunan


kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan 8.992.824 ha dan di Riau
berkisar antara 1.912.009 ha (Deptan,2012). Dalam proses pengolahan tandan
buah segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit akan menghasilkan sisa produksi
berupa limbah padat dan cair (Sastrosaryono, 2003).
Serabut kelapa merupakan salah satu bentuk limbah padat dari pohon
kelapa, yang dihasilkan dari pengolahan industry minyak sawit ataupun industry
rumahan dengan skala limbah yang cukup besar.(Gopalakrishnan et.al, 2009).
Sabut kelapa sawit merupakan salah satu limbah padat terbesar yang

dihasilkan dalam proses pengolahan minyak sawit. Sabut kelapa sawit


mengandung selulosa 28,28%. lignin 27,86% dan hemiselulosa 34,78% dimana
semuanya dapat digunakan sebagai bahan alternatif untuk membuat arang
aktif. (Sastrosaryono, 2003)
Selain itu sabut kelapa sawit juga mengandung silika (SiO2) sebesar 59,1%
Silika ini dapat digunakan untuk menyerap gas organik, ion logam berat, dan
gas polutan pada pengolahan limbah. Menurut Muthia (1998), sabut kelapa
sawit yang telah diaktivasi mampu menyerap besi dan seng dari konsentrasi
awal masing-masing yaitu sebesar 4,919 mg/L dan seng 0,031 mg/L menjadi
hilang (tidak terdeteksi). (Sastrosaryono, 2003)
Serabut kelapa merupakan salah satu limbah yang cukup besar, tapi belum
dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Pemanfaatan kelapa sawit dan
arang sabut kelapa sawit sebagai adsorben dapat digunakan untuk mengurangi
besi, klorida dan zat organic pada air lindi. Sedangkan untuk tembaga dan sejenis
logam lainnya dapat diserap sampai 50% dari konsentrasi logam atau tembaga
tersebut dalam penelitian Gopalakrishnan et. Al (2009). Air lindi merupakan
limbah dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah sehingga terdapat senyawa
senyawa tersebut dalam konsentrasi yang cukup tinggi.
Air lindi yang dihasilkan TPA perlu diolah terlebih dahulu sebelum
dibuang ke lingkungan agar tidak mengakibatkan pencemaran terhadap
perairan dan lingkungan di sekitarnya. Metoda yang paling umum digunakan
untuk pengolahan limbah yang beracun yaitu osmosis balik, ion exchange,
pengendapan kimia, elektrodialisis dan koagulan. Teknik-teknik memerlukan
biaya

yang

tinggi,

memerlukan

energi

tidak efisien,
serta

banyak

biasanya

menggunakan

reagen

dan

terdapat endapan yang beracun

(Gopalakrishnan, 2009).
Oleh karenanya adsorpsi menggunakan serat

sabut

kelapa

diajukan

sebagai salah satu metode yang murah dan efisien untuk penyerapan
tembaga, kobal, sianida dan kesadahan total pada air lindi
1.2

Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Melakukan analisa pembuatan adsorben dari serabut kelapa untuk
remidiasi Tembaga, Besi, dan Zat Organic pada air lindi.

2. Mengujian Adsorben untuk Tembaga, Besi, dan Zat Organic pada air
lindi.
3. Pengembahan untuk minimalisasi limbah akhir.
1.3

Urgensi Penelitian
Penelitian ini diajukan dan kembangkan agar Indonesia mulai mengurangi

buangan limbah pada proses akhir. Karena salah satu penentu factor umur dari
tempat pembuangan akhir (TPA) adalah limbah yang dibuang atau yang di
padatkan pada TPA tersebut. Di Indonesia TPA menerima semua buangan
sampah baik sampah organik maupun sampah anorganik dengan proses open
dumping atau dengan proses lainnya.

Adanya pemcampuran tersebut ,

mengakibatkan adanya kandungan senyawa-senyawa biologis maupun logam


berat yang dapat menyebabkan air lindi atau air dari hasil frementasi sampah
berpotensi menimbulkan pencemaran air dan tanah yang merusak keseimbangan
lingkungan. Maka dari itu air lindi harus dikelola terlebih dahulu sebelum
dikeluarkan ke lingkungan.
1.4

Yang Diharapkan
Kami sebagai penulis berharap agar hasil dari PKM P yang kami buat dapat

membantu mengatasi pengolahan sampah akhir yang selama ini belum di kelola.
Dan juga agarhasil dari penelitian ini dapat diterapkan bagi seluruh TPA yang ada
di Indonesia.

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Serabut Kelapa Sawit


Kelapa sawit (Elaeis guineensisJacq) merupakan salah satu komoditas

perkebunan yang mempunyai peranan penting di Indonesia. Luas perkebunan


kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan 8.992.824 ha dan di Riau
berkisar antara 1.912.009 ha (Deptan,2012). Dalam proses pengolahan tandan
buah segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit akan menghasilkan sisa produksi
berupa limbah padat dan cair (Sastrosaryono, 2003).
2.2

Manfaat Serabut Kelapa sawit


Secara umum sabut kelapa dapat diolah menjadi cocopeat ( serbuk sabut

kelapa ). Kalau dilihat dari kandungan cocopeat ini, ternyata mengandung unsur
hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Unsur hara tsb adalah Kalium,
Fosfor, Calsium, Magnesium dan Natrium.
2.3

Kerugian Kandungan Tembaga, Besi, dan Zat Organic pada Air Lindi
Kontaminasi logam berat pada lingkungan perairan merupakan masalah

besar dunia saat ini. Persoalan spesifik logam berat di lingkungan terutama karena
akumulasinya sampai pada rantai makanan dan keberadaannya di alam, serta
meningkatnya sejumlah logam berat yang menyebabkan keracunan terhadap
tanah, udara dan air meningkat. Proses industri dan urbanisasi memegang peranan
penting terhadap peningkatan kontaminasi tersebut. Suatu organisme akan kronis
apabila produk yang dikonsumsikan mengandung logam berat. Berikut ini
penjelasan singkat mengenai logam berat dan standar kesehatannya.
Logam berat merupakan logam yang mempunyai berat jenis lebih besar dari
5g/cm3. Namun saat ini unsur metalloid yang berbahaya juga dimasukan dalam
kriteria logam berat. Beberapa logam berat yang beracun adalah arsen (As),

kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), dan seng
(Zn).
Tembaga (Cu) bersifat racun terhadap semua tumbuhan pada konsentrasi
larutan di atas 0.1 ppm. Konsentrasi yang aman bagi air minum manusia tidak
lebih dari 1 ppm. Konsentrasi normal komponen ini di tanah berkisar 20 ppm
dengan tingkat mobilitas sangat lambat karena ikatan yang sangat kuat dengan
material.
Besi terlarut dalam air dapat berbentuk kation ferro (Fe2+) atau kation
ferri (Fe3+). Hal ini tergantung kondisi pH dan oksigen terlarut dalam air. Besi
terlarut dapat berbentuk senyawa tersuspensi, sebagai butir koloidal seperti Fe
(OH)3, FeO, Fe2O3dan lain-Iain. Konsentrasi besi terlarut yang masih
diperbolehkan dalam air bersih adalah sampai dengan 0,1 mg/l.
Apabila kosentrasi besi terlarut dalam air melebihi batas tersebut akan
menyebabkan berbagai masalah, diantaranya :

1. Gangguan teknis
Endapan Fe (OH) bersifat korosif terhadap pipa dan akan mengendap pada
saluran pipa, sehingga mengakibatkan pembuntuan dan efek-efek yang dapat
merugikan seperti Mengotori bak yang terbuat dari seng. Mengotori wastafel dan
kloset.
2. Gangguan fisik
Gangguan fisik yang ditimbulkan oleh adanya besi terlarut dalam air
adalah timbulnya warna, bau, rasa. Air akan terasa tidak enak bila konsentrasi besi
terfarutnya > 1,0 mg/l.

3. Gangguan kesehatan

Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai
pembentuk sel-sel darah merah, dimana tubuh memerlukan 7-35 mg/hari yang
sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat Fe yang melebihi dosis yang diperlukan
oleh tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tubuh
manusia tidak dapat mengsekresi Fe, sehingga bagi mereka yang sering mendapat
tranfusi darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum
yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila dikonsumsi.
Selain itu dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering kali
disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Kadar Fe yang lebih dari 1 mg/l akan
menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit. Apabila kelarutan besi dalam
air melebihi 10 mg/l akan menyebabkan air berbau seperti telur busuk.

2.4

Mekanisme Pembuatan Adsorben dari Serabut Kelapa Sawit


Adsorpsi proses pengumpulan substansi terlarut (soluble) dalam larutan oleh

permukaan benda penyerap ikatan kimia fisika (Reynold, 1982).


Berbagai adsorben telah dimanfaatkan untuk mengurangi kandungan Cr(III)
dalam limbah, namun hasilnya belum memuaskan. Sehingga masih diperlukan
adsorben

dari

bahan

atau

material

baru

seperti

ampas

kelapa.

Tahap pembuatan adsorben serbuk ampas kelapa dibagi menjadi 2 tahap, yakni
pembuatan arang ampas kelapa menggunakan metode sangrai dan pengayakan
arang

ampas

kelapa

dengan

menggunakan

ayakan

50

mesh.

Ampas kelapa digunakan sebagai adsorben karena mengandung selulola, manan,


dan galaktomanan. Pada selulosa dan galaktomanan terdapat situs aktif. Situs aktif
tersebut mampu mengikat ion logam berat. Selain itu, ampas kelapa mempunyai
pori-pori yang dapat menjebak ion logam berat. Setelah pembuatan arang dengan
memanfaatkan ampas kelapa, maka tahapan selanjutnya yakni menjerap logam
berat Cr(III) dengan arang tersebut. Cr(III) diperoleh dari larutan CrCl3. Sebanyak
1 gram arang ampas kelapa dimasukkan ke dalam 25 ml larutan CrCl3 dengan
konsentrasi 50, 100, 150, 200, dan 250 ppm. Proses adsorpsi dilakukan dengan
pengadukan selama 1 jam lalu didiamkan selama 1 hari 1 malam.

10

Berdasarkan penelitian ini, ampas kelapa yang dibuat menjadi arang dapat
digunakan secara efektif untuk mengadsorpsi ion logam berat Cr(III) pada
konsentrasi 100 ppm dengan konsentrasi Cr(III) terserap sebesar 94,046 ppm dan
daya serapnya sebesar 2,351 mg/g. (Witono,2012)

2.5

Langkah-langkah Strategis untuk Mengimplementasikan Gagasan


a. Pengumpulan serabut dan pembuatan arang sabut
b. Pengambilan sampel pada air lindi
c. Analisa konsentrasi tembaga, besi, dan zat organic
d. Uji coba adsopsi sabut kelapa pada kandungan air lindi
e. Analisis data

11

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tahapan Penelitian


bulan 1
minggu
1

bulan
3
mingg
u1

minggu
2

mingg
u2

minggu
3

mingg
u3

minggu
4

mingg
u4

bulan 2
minggu
1

bulan 4
minggu
1

minggu
2

mingg
u2

minggu
3

minggu3

Keterangan:
1. Pengumpulan serabut dan pembuatan arang sabut ;
2. Pengambilan sample pada air lindi ;
3. analisa konsentrasi Tembaga, besi, dan zat organic ;
4. Ujicoba Adsorpsi sabut kelapa pada kandungan air lindi ;
5. analisa data
6. Pengecekan ulang pada uji dan analisa
7. Hasil dan kesimpulan

3.2 Indikator Capaian


1. Pengumpulan serabut dan pembuatan arang sabut

minggu
4

minggu4

12

Indikator pencapaiannya : sabut kelapa telah di sortir dan juga sabut ygn
di buat arang dapat berhasil
2.

Pengambilan sample pada air lindi


Indikator pencapaiannya : Air lindi yang di ambil memenuhi kriteria data
yang dibutuhkan dan mencukupi untuk menganalisaan

3. Analisa konsentrasi Tembaga, besi, dan zat organic


Indikator pencapaiannya : Penganalisaan secara cermaat dan teliti. Dan
pengambilan data harus seruntut mungkin
4.

Ujicoba Adsorpsi sabut kelapa pada kandungan air lindi


Indikator pencapaiannya : Adsorben dapat bekerja sesuai dengan yang
diinginkan

5.

analisa data
Indikator pencapaiannya : Perhitungan teliti

6. Pengecekan ulang pada uji dan analisa


Indikator pencapaiannya : Pengatasi jika dari hasil pengambilan data dan
analisa tidak sama.
7.

Hasil dan kesimpulan


Indikator pencapaiannya : hasil sesuai dengan analisa data yang ada

3.3 Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data


a. Teknik Pengumpulan Data : Dengan menggunakan takaran yang sama

pada tiap takaran yang diambil


b. Analisis Data : Data kandungan Fe, Ca, Cldan zat organik yang diperoleh

dari hasil analisis contoh

uji

sesudah

dan

sebelum

penambahan

adsorben sabut kelapa sawit dibuat dalam bentuk tabel dan grafik.
Untuk uji hipotesis dilakukan dengan uji statistik menggunakan uji t

13

berpasangan karena pada sampel yang sama dilakukan dua perlakuan


yang berbeda.
3.4 Cara Penyimpulan
Penyimpulan data disesuaikan dengan apa yang telat di analisi. Jika terjadi
penyimpulan dengan konotasi ganda, perlu di analisis lagi dalam penarikan
kesimpulan
3.5 Hasil Penelitian
Diharapkan Konsentrasi Tembaga dan Besi dapat berkurang dengan adanya
adsorben sabut kelapa. Daya serap yang diperoleh dengan arang serat sabut
kelapa masing-masing untuk tembaga, besi dan juga zat organic. Melalui uji
hipotesis dengan uji t berpasangan diketahui bahwa serat sabut kelapa
memiliki perbedaan keefektifan untuk pengurangan tembaga, besi dan zat organic
pada air lindi.

14

BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya


NO

Jenis

Biaya (Rp)

Peralatan Penunjang dan Biaya Peminjaman Alat

Rp 4.315.000,00

Bahan Habis Pakai dan Biaya Analisis

Rp 4.720.000,00

Perjalanan dan Operasional

Rp 500.000.00

Jumlah

Rp10.034.000,00

4.2 Jadwal Kegiatan


Bulan KeKegiatan

1
1

Studi
Literatur
Persiapan
Alat
Penelitian
Analisa Hasil
Pembuatan
Laporan
Seminar

2
3

3
3

4
3

15