Anda di halaman 1dari 53

SEMINAR GEOLOGI

TIPE-1

SEMINAR GEOLOGI TIPE-1 ANALISIS MORFOMETRI DALAM MENENTUKAN DAERAH PROSPEK BAUKSIT DESA PANGKALAN SUKA KECAMATAN NANGA

ANALISIS MORFOMETRI DALAM MENENTUKAN DAERAH PROSPEK BAUKSIT DESA PANGKALAN SUKA KECAMATAN NANGA TAYAP KABUPATEN KETAPANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Oleh :

KHOLILUR ROHMAN NIM : 410011001

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk Tugas Akhir di Jurusan Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA

2014

HALAMAN PENGESAHAN SEMINAR GEOLOGI

1. Penelitian

a. Judul Penelitian : Analisis Morfometri Dalam Menentukan Daerah Prospek Bauksit Desa Pangkalan Suka Kecamatan Nanga Tayap Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat

b. Kategori Penelitian : TIPE-1 2. Peneliti a. Nama Lengkap : Kholilur Rohman b. Jenis
b.
Kategori Penelitian
: TIPE-1
2. Peneliti
a. Nama Lengkap
:
Kholilur Rohman
b. Jenis Kelamin
:
Laki-laki
c. NIM
: 410011001
d. Perguruan Tinggi
: STTNAS Yogyakarta
e. Program Studi
:
Teknik Geologi
f. Dosen Pembimbing
: Ir. Rr. Amara Nugrahini, M.T.
g. Lokasi Penelitian
:
Desa
Pangkalan
Suka,
Kecamatan
Nanga
Tayap,
Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat
3. Jangka Waktu Penelitian
:
4. Biaya Penelitian
:
3 bulan
-
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Yogyakarta, 28 Oktober 2014
Peneliti,
Ir. Rr. Amara Nugrahini, M.T.
NIK. 19730044
Kholilur Rohman
NIM. 410011001

Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Geologi

Winarti, S.T., M.T. NIK. 19730134

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat merencanakan penelitian ini dengan

baik. Penelitian ini digunakan untuk seminar geologi sebagai salah satu syarat untuk Tugas Akhir di Jurusan Teknik Geologi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1, Bapak Ir. H, Ircham, MT. selaku Ketua STTNAS Yogyakarta. 2. Ibu Winarti S.T., M.T.
1, Bapak Ir. H, Ircham, MT. selaku Ketua STTNAS Yogyakarta.
2. Ibu Winarti S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Geologi STTNAS
Yogyakarta.
3. Ibu Ir. Rr. Amara Nugrahini, M.T. selaku dosen pembimbing.
4. Bapak, Ibu yang selalu mendukung penulis dalam hal material maupun spiritual
5. Saudara-saudara Jabiger El’Geo yang selalu memberikan dukungan.
Dalam pelaksanaan penelitian ini, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran dari rekan-rekan dan semua pihak. Semoga kritik dan saran tersebut dapat
memberikan motovasi pada penulis untuk lebih baik lagi kedepannya.
Yogyakarta, 28 Oktober 2014
Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.2. Maksud dan Tujuan I.3. Batasan Masalah I.4. Metode Penelitian I.5. Lokasi Penelitian BAB II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Geologi Daerah Penelitian II.1.1. Fisiografi II.1.2. Morfologi II.1.3. Stratigrafi II.2. Batuan Asosiasi Bauksit II.3. Laterisasi II.4. Morfometri II.4.1. Lereng II.4.2. Perbedaan Ketinggian II.5. Eksplorasi BAB III PEMBAHASAN DAN HASIL III.1. Metode Eksplorasi Daerah Penelitian III.1.1. Studi Pendahuluan III.1.2. Survei Tinjau (Reconnaisance) III.1.3. Prospeksi III.2. Analisis Morfometri Pada Prospeksi Cadangan Tereka III.3. Analisis Morfometri Pada Prospeksi Cadangan Terkira III.4. Analisis Morfometri Pada Prospeksi Cadangan Terukur BAB IV. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

1 1 1 2 2 3 4 4 4 5 6 7 11 12 12
1
1
1
2
2
3
4
4
4
5
6
7
11
12
12
13
14
18
18
18
18
19

21

25

27

32

33

34

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Lokasi Penelitian Gambar 2. Fisiografi Daerah penelitian (Van Bemmelen, 1975) Gambar 3. Citra Landsat Gambar 4. Citra ASTER-GDEM (ketinggian) Gambar 5. Citra ASTER-GDEM (slope) Gambar 6. Pola Kontur Gambar 7. Pola Pengaliran Gambar 8. Peta Geologi Regional Lembar Ketapang Gambar 9. Peta Geologi Regional, Disesuaikan Gambar 10. Pengambilan Conto Channel Pada Outcrop Bauksit Gambar 11. Penggalian Testpit (sumur uji) Lokasi Prospek Bauksit Gambar 12. Kegiatan Drilling (Pengeboran) Lokasi Prospek Bauksit Gambar 13. Peta Satuan Geomorfologi Gambar 14. Peta Blok Morfometri Prospeksi Cadangan Tereka Gambar 15. Peta Zona Mineralisasi Prospeksi Cadangan Tereka

3

4

5

5

5

6 6 7 7 19 20 20 22 22 23 Gambar 16. Grafik Hubungan antara
6
6
7
7
19
20
20
22
22
23
Gambar 16. Grafik Hubungan antara Kelerengan, Beda Tinggi dan Mineralisasi
Prospek Cadangan Tereka
Gambar 17. Peta Zona Mineralisasi Prospeksi Cadangan Terkira
Gambar 18. Peta Blok Morfometri Prospeksi Cadangan Terkira
24
25
25
Gambar 19. Grafik Hubungan antara Kelerengan, Beda Tinggi dan Mineralisasi
Prospek Cadangan Terkira
26
Gambar 20. Grafik Hubungan antara Kelerengan, Beda Tinggi dan Mineralisasi
28
28

Prospek Cadangan Terukur Gambar 21. Peta Blok Morfometri Prospeksi Cadangan Terukur Gambar 22. Grafik Hubungan antara Kelerengan dan Stripping ratio Prospek Cadangan Terukur Gambar 23. Peta Blok dan Titik Conto Prospeksi Cadangan Terukur Gambar 24. Penampang Model Bawah Permukaan Prospeksi Cadangan Terukur

29

30

30

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Komposisi Elemen Penyusun Kerak Bumi (Bateman, 1982) Tabel 2. Komposisi Elemen Penyusun Kerak Bumi pada Batuan Beku (Bateman, 1982) Tabel 3. Hubungan Ketinggian Absolut dengan Morfografi (Van Zuidam, 1985) Tabel 4. Hubungan Kelas Relief – Kemiringan Lereng dan Perbedaan Ketinggian (Van Zuidam, 1985) Tabel 5. Resume Perhitungan morfometri dan Zona Mineralisasi Prospek Cadangan Tereka Tabel 6. Resume Perhitungan morfometri dan Zona Mineralisasi Prospek Cadangan Terkira Tabel 7. Resume Perhitungan morfometri dan Zona Mineralisasi Prospek Cadangan Terukur Tabel 8. Resume Perhitungan morfometri dan Stripping Ratio Prospek Cadangan Terukur

8

9

13

14 24 26 27 29
14
24
26
27
29

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Morfometri Lampiran 2. Data Primer Eksplorasi Bauksit Site Pangkalan Suka Lampiran 3. Peta

Lampiran 1. Perhitungan Morfometri Lampiran 2. Data Primer Eksplorasi Bauksit Site Pangkalan Suka Lampiran 3. Peta

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Indonesia secara geologi memiliki banyak sekali potensi sumber daya alam. diantaranya adalah bahan galian. Bahan galian adalah semua bahan atau substansi yang terjadi dengan sendirinya dialam dan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk berbagai keperluan industrinya. Bahan tersebut dapat berupa logam maupun non logam, dan dapat berupa bahan tunggal ataupun berupa campuran lebih dari satu bahan. Proses terbentuknya endapan bahan galian adalah komplek dan sering lebih dari satu proses yang bekerja bersama-sama. meskipun dari satu jenis bahan, misalnya logam, kalau terbentuk oleh proses yang berbeda maka akan menghasilkan tipe endapan yang berbeda pula, salah satu contoh bahan galian yang banyak terdapat di Indonesia adalah bauksit. Bijih bauksit biasa terjadi di daerah tropika dan subtropika yang memungkinkan pelapukan yang sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar Al nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan kadar kuarsa bebasnya sedikit atau bahkan tak mengandung sama sekali. Secara kuantitas potensi bijih bauksit di Indonesia cukup memadai walaupun secara kualitas lebih rendah bila dibandingkan dengan endapan bauksit didaratan Eropa dan Amerika Utara. Di Indonesia bauksit ditemukan di beberapa tempat antara lain: Sumatera Utara :

Kota Pinang- Riau : Pulau Bulan, Pulau Bintan, Pulau Lobang (kepulauan Riau), Pulau Kijang, Galang, Wacokek, Tanah Merah, dan daerah Searang, Kalimantan Barat : Tayan Menukung, Sandai, Pantus, Balai Berkuah, Kendawangan dan Munggu Besar, dan Bangka Belitung : Sigembir. Bauksit jika diolah dengan metode Smelter Grade Alumina (SGA) akan menjadi bahan setengah jadi berupa bijih alumina murni yang kemudian dapat diijadikan berbagai perlengkapan kehidupan manusia sehari-hari. Akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah bahwa masih sangat jarangnya pengkajian terkait bijih bauksit itu sendiri, sehingga terkadang bauksit menjadi “barang langka” dalam khasanah pengetahuan geologi.

I.2. Maksud dan Tujuan Merujuk pada judul yang diajukan, maksud penelitian ini adalah pembahasan terkait potensi bauksit beserta metode pencariannya sesuai dengan hukum-hukum geologi. Sementara tujuannya adalah:

a. Memberikan gambaran umum tentang bauksit dan keterdapatannya di Indonesia b. Pengolahan dan penyajian data eksplorasi bauksit dengan mengacu pada hukum-hukum geologi c. Penentuan daerah prospek bauksit dengan menggunakan analisis geomorfologi d. Melengkapi syarat kurikulum tingkat sarjana Jurusan Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta

I.3. Batasan Masalah Sesuai dengan judul yang diangkat, maka dalam peneltian ini hanya akan membahas mengenai metode penentuan daerah prospek bauksit ditinjau dari kuantitas menggunakan metode analisis morfometri.

I.4. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam peneletian ini adalah metode menganalisa data yang ada dengan ditautkan pada referensi yang terkait. Adapun tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :

1. Studi Literatur Tahap studi literatur merupakan metode pengumpulan data dengan

melakukan studi terhadap literatur-literatur yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. Studi ini dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang diperoleh dari internet dan perpustakaan.

2. Tahap Pengumpulan Data

Tahap ini adalah tahap mengumpulkan data-data terkait penelitian. Data ini didapat dari data prospek kegiatan eksplorasi bijih bauksit PT. Harita Prima Abadi

Mineral Site Pangkalan Suka, Kecamatan Nanga Tayap Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Sementara itu data kontur yang akan dipergunakan dalam analisis morfometri adalah menggunakan citra ASTER-GDEM (Geographic

Digital Elevation Modeling) yang memiliki akurasi hinggga ±15 meter, data ini didapatkan dengan downloading menggunakan aplikasi Global Energy Mapper Versi 15.2. 3. Pengolahan Data Data ASTER-GDEM yang didapat kemudian digenerasi sehingga memperoleh data kontur daerah penelitian, kontur ini kemudian yang akan dipergunakan dalam pengukuran kuantitatif kelerengan. Tabulasi data pengukuran morfometri akan menghasilkan kelas-kelas kelerengan yang berbeda, kemudian dibuat blok sesuai dengan nilai kuantitatif kelerengan masing-masing. Blok analisis morfometri daerah penelitian ini kemudian di-layout-kan dengan data eksplorasi bijih bauksit, sehingga dapat ditentukan lokasi prospek bijih bauksit pada daerah penelitian. Setiap data diukur secara sistematis dan dibuat tabulasi data, sehingga kemudian dapat ditentukan cadangan dari bijih bauksit daerah penelitian.

I.5. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada pada lokasi prospek penambangan bauksit daerah Desa Pangkalan Suka, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Koordinat lokasi penelitian adalah X:450000-456000, Y:9848000-9857000 (UTM -49 Hemisphere), dengan luas daerah penelitian 6X9 Km.

(UTM -49 Hemisphere), dengan luas daerah penelitian 6X9 Km. Gambar 1. Lokasi Penelitian Kholilur Rohman |

Gambar 1. Lokasi Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Geologi Daerah Penelitian II.1.1 Fisiografi Daerah penelitian secara fisiografis berada pada Blok Schwaner yang menurut Van Bemmelen (1975) dianggap sebagai bagian dari daratan Kraton Sunda. Terdiri atas batuan beku Granite dan Tonalite sebagai penyusun utama sebagai hasil kegiatan vulkanisme pada zaman kapur bawah-atas (Moss et al. ,1997), beberapa tempat juga dijumpai batuan beku dengan komposisi potasik hingga ultra-potasik sebagai hasil dari tektonik beraian Blok Schwaner tersebut (Simandjuntak, 1999).

beraian Blok Schwaner tersebut (Simandjuntak, 1999). Gambar 2. Fisiografi daerah Penelitian (Van Bemmelen, 1975)

Gambar 2. Fisiografi daerah Penelitian (Van Bemmelen, 1975)

II.1.2. Morfologi Secara morfologi daerah penelitian merupakan daerah terdenudasi kuat dengan ketinggian 10-50 meter pada bagian tenggara, 50-150 meter pada bagian barat, serta 150-300 meter pada bagian timur laut, yang berarti secara morfografi adalah merupakan daerah dataran rendah perbukitan rendah (Van Zuidam, 1985). Kemiringan lereng rata-rata pada bagian tenggara adalah 5 0 -10 0 / daerah bergelombang lemah, pada bagian barat adalah 10 0 -15 0 / daerah bergelombang kuat, serta pada bagian timur laut adalah 15 0 -30 0 / daerah berbukit (Van Zuidam,

1985).

15 0 -30 0 / daerah berbukit (Van Zuidam, 1985). Gambar 3. Citra Landsat Gambar 4.
15 0 -30 0 / daerah berbukit (Van Zuidam, 1985). Gambar 3. Citra Landsat Gambar 4.
15 0 -30 0 / daerah berbukit (Van Zuidam, 1985). Gambar 3. Citra Landsat Gambar 4.

Gambar 3. Citra Landsat

Gambar 4. Citra ASTER- GDEM (ketinggian)

Gambar 5. Citra ASTER- GDEM (slope)

Sementara itu melalui interpretasi kontur generasi data DEM daerah penelitian menunjukkan pola pengaliran Contorted, yang berarti bahwa daerah memiliki pola perlipatan yang tidak beraturan, dimana kenampakan di lapangan menunjukkan morfografi daerah bergelombang hingga perbukitan yang berorientasi ke segala arah.

Gambar 6. Pola Kontur Gambar 7. Pola Pengaliran II.1.3. Stratigrafi Secara stratigrafi daerah penelitian terdiri
Gambar 6. Pola Kontur Gambar 7. Pola Pengaliran II.1.3. Stratigrafi Secara stratigrafi daerah penelitian terdiri
Gambar 6. Pola Kontur Gambar 7. Pola Pengaliran II.1.3. Stratigrafi Secara stratigrafi daerah penelitian terdiri

Gambar 6. Pola Kontur

Gambar 7. Pola Pengaliran

II.1.3. Stratigrafi Secara stratigrafi daerah penelitian terdiri atas:

Formasi Gunungapi Kerabai: terdiri atas batuan hasil pembekuan lava andesitik (andesit, dasit, basal, setempat dolerit) yang berumur Kapur Atas (97.5-66.4 Jtl.).

Formasi Granit Sukadana: selaras diatas Formasi Gunungapi Kerabai, terbentuk dari leleran lava granitik (granit, monzogranit, syenogranit) yang berumur Kapur Atas.

Formasi Basal Bunga: terdiri atas magma basaltik dengan beberapa dasit dan lava. berumur Kapur Atas (70-66.4 Jtl.), pusat gunungapi diperkirakan dibagian sebelah timur laut lokasi penelitian (E. Rustandi dan F.D.E Keyser,

1993).

Gambar 8. Peta Geologi Regional Lembar ketapang Gambar 9. Peta Geologi Regional (E. Rustandi dan

Gambar 8. Peta Geologi Regional Lembar ketapang

Gambar 8. Peta Geologi Regional Lembar ketapang Gambar 9. Peta Geologi Regional (E. Rustandi dan F.D.E.

Gambar 9. Peta Geologi Regional (E. Rustandi dan F.D.E. Keyser, 1993), disesuaikan

II.2. Batuan Asosiasi Bauksit

Batuan beku dapat dikategorikan dari kandungan silika yang ada didalamnya. Batuan beku yang kaya akan silika dikenal dengan nama batuan beku asam, sedangkan batuan beku yang miskin atau kekurangan silika dikenal dengan nama

batuan beku basa / mafik dan batuan yang sangat miskin akan silika dinamakan batuan beku ultramafik (Coleman 1977). Endapan bijih bauksit yang mengandung alumunium dihasilkan dari proses pelapukan batuan yang kaya akan mineral silikat seperti O, Si, Al, Fe, Ca, Na, K, Mg yang merupakan bagian terbesar dari mineral pembentuk batuan yaitu sekitar 90% dari kerak bumi. Sebagian besar endapan bijih bauksit berasal dari batuan beku asam sampai intermediet yang kaya akan hornblende, biotite, muskovit, K- feldspar, piroksen, dan kuarsa. Bauksit pada batuan beku asam dan intermediet pada dasarnya berada pada mineral-mineral felsiknya. Kerak bumi terdiri dari batuan-batuan beku, sedimen dan metamorf. Sebagai perbandingannya dapat dilihat pada Tabel 1 komposisi umum dari kerak bumi (Bateman, 1982) dan pada Tabel 2 untuk beberapa logam-logam lain yang mempunyai kuantitas umum pada batuan beku (Bateman, 1982).

Tabel 1. Komposisi elemen-elemen penyusun kerak bumi (Bateman 1982).

Elemen

Berat (%)

Atom (%)

Volume (%)

Oksigen

47,71

60,5

94,24

Silikon

27,69

0,51

0,51

Titanium

0,62

0,3

0,03

Alumunium

8,07

6,2

0,44

Besi

5,05

1,9

0,37

Magnesium

2,08

1,8

0,28

Kalsium

3,65

1,9

1,04

Sodium

2,75

2,5

1,21

Potasium

2,58

1,4

1,88

Hidrogen

0,14

3,0

-

Tabel 2. Elemen penyusunan kerak bumi pada batuan beku (Bateman, 1982).

Elemen

%

Elemen

%

Alumunium

8,13

Kobalt

0,00023

Besi

5,00

Timbal

0,00l6

Magnesium

2,09

Arsenik

0,0005

Titanium

0,44

Uranium

0,0004

Mangan

0,10

Molibden

0,00025

Kromium

6,02

Tungsten

0,00015

Zink

0,11

Antimony

0,0001

Nikel

0,008

Air Raksa

0,00005

Tembaga

0,005

Perak

0,00001

Timah

0,004

Emas

0,0000005

Vanidium

0,015

Platinum

0,0000005

Adapun batuan yang merupakan batuan asal dari pembentukan endapan bijih bauksit antara lain granit, granodiorit, riolit, dasit, syenit, trasit, latit, andesit, monzodiorit, monzoit, diorite, dolomite, dan tuff riodasit. Endapan bijih bauksit berasal dari hasil proses pelapukan kimia batuan beku asam dan intermediet, mineral pada batuan beku asam dan intermediet umumnya kaya akan hornblende, biotite, muskovit, K- feldspar, piroksen, dan kuarsa. Berikut deskripsi dari masing-masing mineral yaitu :

1. Hornblende (X2-3 Y5 Z8 O22 (OH)2) dengan X : Ca, Y : Mg atau Fe, dan Z : Si atau Al. Hornblende mengandung silikat cukup banyak. Kristalisasinya dari magma yang mengandung komponen air (disebut mineral basah), dan kemungkinan beralterasi menjadi klorit bila kandungan air cukup banyak. Mineral ini sangat tidak stabil dengan pelapukan.

2. Biotit K(Mg, Fe) 3 (AlSi 3 O 10 )(OH) 2 merupakan bagian dari kelompok mineral mika yang berwarna gelap. Ikatan mineral ini sangat lemah dan mudah membelah sepanjang bidang kristalnya. Mengkristal dari magma yang mengandung air pada batuan beku yang banyak mengandung silika, baik pada batuan sedimen dan metamorf.

3. Muskovit KAl 2 (AlSi 3 O 10 )(OH) 2 termasuk kelompok mika yang hampir sama dengan biotit. Terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika. Muskovit juga terdapat pada batuan sedimen dan metamorf.

4. Felspar, dibagi dalam dua jenis utama ; Felspar ortoklas atau K - feldspar, (K, Na) AlSi 3 O 8 dan feldspar plagioklas, (Na-Ca) Si 3 O 8 . Felspar ortoklas terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika. Felspar plagioklas merupakan kandungan utama yang penting dan dipakai sebagai dasar klasifikasi batuan beku.

5. Kwarsa (SiO 2 ) tidak berwarna bila murni dan penambahan zat lain

akan merubah warna beragam misal hadirnya unsur Al dan Fe memberi warna kemerahan, tergantung pada kombinasi kandungan unsurnya. Kwarsa dijumpai pada batuan yang kaya akan silika. Kandungan mineralnya umumnya terdiri dari oksida alumunium, dan hidroksida alumunium, dan paling umumnya yaitu berupa mineral gibbsite [Al(OH) 3 atau Al 2 O 3 .3H 2 O)], boehmite -AlO(OH) atau Al 2 O 3 .H 2 O], dan diaspore [α AlO(OH) atau Al 2 O 3 .H 2 O]. Biasanya dalam suatu endapan bauksit, jarang sekali alumunium hidroksida terjadi sebagai mineral tunggal, umumnya terjadi campuran antara dua mineral alumunium hidroksida itu sendiri, atau bisa juga dengan hidroksida dan oksida besi, selain itu juga berasosiasi dengan kaolin untuk membentuk endapan bauksit.

II.3. Laterisasi Istilah laterit berasal dari bahasa latin ”later” yang berarti bata (membentuk bongkah-bongkah seperti bata yang berwarna merah bata) (Guilbert dan park, 1986) dalam Waheed 2001. Laterit adalah tanah residual hasil dari pelapukan kimia batuan pada permukaan bumi, dimana mineral mineral asli yang tidak stabil terhadap kehadiran air akan larut atau terurai dan membentuk mineral baru yang lebih stabil (Elias, 2002). Menurut Waheed (2001) proses lateritisasi adalah proses pelapukan secara kimiawi yang akan mengakibatkan pengkayaan sekunder pada unsur - unsur tertentu dan menghasilkan endapan yang bernilai ekonomis seperti endapan nikel dan bauksit. Proses laterisasi biasanya berkembang pada daerah yang beriklim tropis hingga sub tropis dengan curah hujan yang relatif tinggi (1500 2500 mm/tahun). Proses laterisasi dimulai dari infiltrasi air hujan yang bersifat asam masuk dalam zona retakan batuan dan akan melarutkan mineral yang mudah larut pada batuan dasar. Mineral dengan berat jenis tinggi akan tertinggal di permukaan sehingga mengalami pengkayaan residu. Sedangkan mineral lain yang bersifat mobile akan terlarutkan ke bawah dan membentuk suatu zona akumulasi dengan pengkayaan supergen (Golightly, 1981). Proses dimana batuan bereaksi dengan agen-agen atmosfer, hidrosfer dan aktivitas biologi untuk membentuk fase mineral yang lebih stabil. Pelapukan kimia terjadi dalam 4 proses :

a. Hidrolisis : oksigen (O2), karbondioksida (CO2), airtanah, mineral- mineral asam yang terlarut dalam batuan dan menghancurkan struktur kristal.

b. Oksidasi dan reduksi : merupakan proses yang akan membentuk mineral-mineral oksida akibat reaksi antara mineral dengan oksigen, atau jika mengikutsertakan air akan menjadi mineral hidroksida. Umumnya ditunjukkan dengan hadirnya besi oksida atau hidroksida, dicirikan oleh warna batuan dan tanah menjadi merah atau kuning, dan kadang-kadang tertutup oleh humus.

c. Hidrasi : merupakan proses penyerapan molekul-molekul air oleh mineral, sehingga membentuk mineral hidrous atau reaksi dengan sejumlah air pada ion hidroksi ke bentuk mineral yang baru. Contoh : hematit menjadi limonit. Pelarutan : merupakan tahap awal dari proses pelapukan kimia. Proses ini terjadi pada saat adanya aliran air baik di permukaan atau dalam batuan. Pelarutan dapat berupa presipitasi kimiawi yang akan merubah volume dan meningkatkan pelapukan fisika.

II.4. Morfometri Morfometri merupakan penilaian kuantitatif dari suatu bentuklahan dan merupakan unsur geomorfologi pendukung yang sangat berarti terhadap morfografi dan morfogenetik. Penilaian kuantitatif terhadap bentuklahan memberikan penajaman tata nama bentuklahan dan akan sangat membantu terhadap analisis lahan untuk tujuan tertentu, seperti tingkat erosi, kestabilan lereng dan menentukan nilai dari kemiringan lereng tersebut. II.4.1. Lereng Lereng merupakan bagian dari bentuklahan yang dapat memberikan informasi kondisi - kondisi proses yang berpengaruh terhadap bentuklahan, sehingga dengan memberikan penilaian terhadap lereng tersebut dapat ditarik kesimpulan dengan tegas. tata nama satuan geomorfologi secara rinci. Ukuran penilaian lereng dapat dilakukan terhadap kemiringan lereng dan panjang lereng, sehingga tata nama satuan geomorfologi dapat lebih dirinci dan tujuan - tujuan tertentu, seperti perhitungan tingkat erosi, kestabilan lereng dan perencanaan wilayah dapat dikaji lebih lanjut. II.4.2. Perbedaan ketinggian Perbedaan ketinggian (elevasi) biasanya diukur dari permukaan laut, karena permukaan laut dianggap sebagai bidang yang memilki angka ke-tinggian (elevasi) nol. Pentingnya pengenalan perbedaan ketinggian adalah untuk menyatakan keadaan morfografi dan morfogenetik suatu bentuklahan, seperti perbukitan, pegunungan atau dataran.

Tabel 3. Hubungan ketinggian absolut dengan morfografi (Van Zuidam, 1985)

3. Hubungan ketinggian absolut dengan morfografi (Van Zuidam, 1985) Kholilur Rohman | 410011001 | Seminar Geologi

Tabel 4. Hubungan kelas relief - kemiringan lereng dan perbedaan ketinggian. (Van Zuidam,1985)

lereng dan perbedaan ketinggian. (Van Zuidam,1985) II.5. Eksplorasi Eksplorasi adalah penyelidikan lapangan

II.5. Eksplorasi

Eksplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan

data/informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumberdaya alam di suatu

tempat. Kegiatan eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan

tambang dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya

tidak merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga

untuk menentukan lokasi sebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara

pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar tidak membuang tenaga

dan modal, disamping untuk mengurangi resiko kegagalan, kerugian materi,

kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.

Tahapan eksplorasi Pemilihan Metode, metode eksplorasi yang digunakan

umumnya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

1.

Cara tidak langsung :

Geofisika

Geokimia.

2. Cara langsung :

Pemetaan

Pemboran

3. Gabungan cara langsung dan tak langsung 1. Studi Pendahuluan. Tahap ini merupakan aktifitas persiapan sebelum melakukan kegiatan di lapangan yang meliputi studi literatur dari hasil penelitian terdahulu terhadap daerah yang akan diselidiki, mempelajari konsep-konsep geologi, interpretasi foto udara maupun citra landsat dan studi model mineralisasi yang diperkirakan berdasarkan data geologi yang ada, penyiapan peta kerja, peralatan, membuat rencana percontohan, dan melakukan proses perizinan dengan instansi terkait. Studi pendahuluan ini akan sangat membantu kelancaran kerja selanjutnya di lapangan. 2. Survai Tinjau (Reconnaissance). Pada tahap ini dilakukan survai (peninjauan) secara sepintas pada daerah-daerah yang diperkirakan menarik berdasarkan dari data geologi guna mengetahui indikasi mineralisasi di lapangan. Peninjauan langsung di lapangan dengan melakukan pengamatan terhadap endapan sungai aktif. Skala peta yang dipakai adalah mulai dari 1:200.000 sampai dengan 1:100.000. Survei Tinjau (Reconnaissance) merupakan kegiatan eksplorasi awal yang terdiri dari pemetaan geologi regional, pemotretan udara, citra satelit dan metoda survey tidak langsung lainnya untuk mengidentifikasi daerah-daerah anomali atau mineralisasi yang prospektif untuk diselidiki lebih lanjut. Sasaran utama dari peninjauan ini adalah mengidentifikasi daerah potensial (prospek) yang diperkirakan mengandung mineralisasi/cebakan skala regional terutama berdasarkan hasil studi geologi regional dan analisis penginderaan jarak jauh untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Pada tahapan ini juga dilakukan pekerjaan pemboran. Lebih jelasnya, pekerjaan yang dilakukan pada tahapan ini adalah :

• Pemetaan geologi dan topografi skala 1 : 25.000 sampai skala 1 : 10.000. Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspek- aspek geologi diantaranya: pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pada penyelidikan geologi dilakukan pemetaan geologi yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi di lapangan. Adapun pengamatan yang dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih

• Pembuatan sumur uji

Analisis kualitas cadangan sementara

• Hasilnya sumber daya hipotetik sampai tereka

3. Prospeksi Umum (General Prospection). Tahapan prospeksi dilakukan untuk mempersempit daerah yg mengandung cebakan mineral yang potensial. Kegiatan penyelidikan dilakukan dengan cara pemetaan geologi dan pengambilan percontoh awal, misalnya paritan dan pemboran yang terbatas, studi geokimia dan geofisika, yang tujuannya adalah untuk mengidentifikasi suatu sumberdaya mineral tereka (Inferred Mineral Resources) yang perkiraan kuantitas dan kualitasnya dihitung berdasarkan hasil analisis kegiatan di atas Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahapan survei tinjau. Cakupan daerah yang diselidiki sudah lebih kecil dengan skala peta antara 1:50.000 sampai dengan 1:25.000. Data yang didapat meliputi morfologi (topografi) dan kondisi geologi (jenis batuan/stratigrafi, hubungan stratigrafi, dan struktur geologi yang berkembang). Pengambilan

conto pada daerah prospek secara alterasi dan mineralisasi dilakukan secara sistematis dan terperinci untuk analisa laboratorium, sehingga dapat diketahui kadar/kualitas cebakan mineral suatu daerah yang akan dieksplorasi. 4. Eksplorasi Tahapan ini merupakan tahapan lanjutan setelah survey tinjau dan prospeksi. Tujuan tahap eksplorasi adalah untuk mengetahui sumber daya cebakan mineral secara rinci, yaitu untuk mengetahui, menemukan, mengidentifikasi dan menentukan gambaran geologi dan pemineralan berdasarkan ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitas suatu endapan mineral untuk kemudian dapat dilakukan

analisa/kajian kemungkinan dilakukannya pengembangan secara ekonomis. Tahapan eksplorasi dibagi dua, yaitu eksplorasi umum dan eksplorasi rinci. Eksplorasi umum rnerupakan deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi, setelah itu dilanjutkan dengan tahap eksplorasi rinci yaitu tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3-dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan.

BAB III PEMBAHASAN DAN HASIL

III.1. Metode Eksplorasi Daerah Penelitian Kegiatan eksplorasi pada daerah penelitian adalah menggunakan metode pemetaan dan pengambilan conto batuan (testpit & drilling), untuk mengumpulkan data selengkap mungkin terkait keberadaan sumberdaya bauksit. Pentingnya kegiatan eksplorasi ini adalah untuk menentukan lokasi sebaran, kwalitas dan kwantitas cadangan serta perencanaan hal-hal terkait pembiayaan dan pengembangan. Secara umum runtutan kegiatan terkait eksplorasi daerah penelitian adalah:

III.1.1 Studi Pendahuluan Tahap ini merupakan aktifitas persiapan sebelum melaksanakan kegiatan di lapangan, meliputi studi literatur dari hasil penelitian terdahulu (PT. Alcomin, PT. ANTAM, dll.), interpretasi foto udara maupun citra landsat, penyiapan peta kerja, peralatan, melakukan proses perijinan serta pengenalan budaya setempat. Studi pendahuluan ini akan sangat membantu kelancaran kerja di lapangan. III.1.2 Survei Tinjau (Reconnaissance) Adalah tahap peninjauan daerah tereka keterdapatan cadangan bauksit secara sepintas untuk mengetahui indikasi mineralisasi di lapangan serta ketersampaian akses menuju lokasi yang mengandung potensi endapan bauksit, hal ini juga penting dalam penentuan blok-blok operasi kegiatan prospeksi selanjutnya. Kegiatan yang termasuk dalam survei tinjau antara lain:

1. Pemetaan Topografi dan Geologi (skala 1:50000 hingga 1:25000).

2. Kegiatan channeling, yaitu mengambil conto di beberapa daerah tersingkap bijih bauksit.

3. Analisis kwalitas cadangan sementara dari conto channel.

Gambar 10. Pengambilan Conto Channel pada Outcrop Bauksit III.1.3 Prospeksi Tahapan prospeksi dilakukan untuk

Gambar 10. Pengambilan Conto Channel pada Outcrop Bauksit

III.1.3 Prospeksi Tahapan prospeksi dilakukan untuk mempersempit daerah dengan cebakan bijih

bauksit yang potensial. Kegiatan prospeksi ini dilakukan dengan cara pemetaan geologi serta identifikasi cebakan mineral dan model mineralisasi, pada tahap ini juga telah dilakukan pengambilan conto bijih bauksit baik dengan testpit maupun drilling. Adapun tahapan kegiatan prospeksi ini adalah:

1. Prospeksi cadangan tereka, adalah penyelidikan dengan menggunakan peta topografi skala 1:25000 dengan maksud menentukan secara umum lokasi penyebaran bauksit, pada prospeksi ini juga dilakukan pengambilan conto melalui testpit dengan interval 400x400 meter hingga 200x200 meter, hasil prospeksi ini adalah lokalisir daerah sumberdaya bauksit tereka (Inferred Bauxite Resource).

2. Prospeksi cadangan terkira, tahap prospeksi ini menggunakan peta topografi skala 1:10000 dengan maksud pengukuran lebih detail sumberdaya bauksit terindikasi (Indicated Bauxite Resource) daerah penelitian, pada prospeksi ini dilakukan pengambilan conto melalui testpit dengan interval 100x100 meter.

3. Prospeksi cadangan terbukti, adalah penyelidikan dalam menentukan sumber daya bauksit terukur (Measured Bauxite Resource), peta topografi yang dpergunakan telah mempergunakan skala 1:5000 hingga lebih kecil, pengambilan conto dapat mempergunakan metode testpit atau drilling dengan interval 50x50

meter hingga 25x25 meter (detail). Hasil prospeksi ini kemudian dipelajari pada studi kelayakan dalam kepentingannya menentukan AMDAL dan perencanaan tambang.

kepentingannya menentukan AMDAL dan perencanaan tambang. Gambar 11. Penggalian Testpit (Sumur Uji) Lokasi Prospek

Gambar 11. Penggalian Testpit (Sumur Uji) Lokasi Prospek Bauksit

11. Penggalian Testpit (Sumur Uji) Lokasi Prospek Bauksit Gambar 12. Kegiatan Drilling (Pengeboran) Lokasi Prospek

Gambar 12. Kegiatan Drilling (Pengeboran) Lokasi Prospek Bauksit

III.2. Analisis Morfometri pada Prospeksi Cadangan Tereka Daerah penelitian merupakan daerah denudasional pada lithologi vulkanik yang memungkinkan terjadinya endapan mineral karena adanya proses pencucian (leaching). Endapan residual bauksit sendiri dapat diidentifikasi keterdapatannya dengan cara analisis peta topografi, dengan anggapan bahwa mineral ini terjadi karena pelapukan kuat maka hanya akan terdapat pada daerah dengan intensitas pelapukan kuat pula. Akan tetapi jika proses pencucian (leaching) terjadi secara sangat intensif dan terus menerus maka konkresi mineral bauksit juga hanya akan terubahkan menjadi mineral lempung, biasanya hal ini terjadi pada daerah genangan maupun pelimpasan air. Maka analisis morfometri menjadi langkah awal yang efektif dalam penentuan blok-blok prospeksi cadangan bauksit. Metode ini adalah mengelompokkan ciri morfologi terukur dari peta topografi, sehingga sebaran zona mineralisasi dapat diidentifikasi dari awal. Kemudian peta blok morfometri ini dikombinasikan dengan peta sebaran outcrop maupun pengambilan conto lain yang akan mempermudah dalam penentuan daerah-daerah prospek. Metode analisis menggunakan rumus perhitungan morfometri kelerengan (Van Zuidam, 1985), teknik perhitungannya adalah dengan membuat garis sayat pada setiap kenampakan morfografi perbukitan dengan ketentuan tegak lurus kontur dan tidak memotong nilai kontur yang sama, kemudian dihitung masing-masing garis sayat untuk ditentukan rata-rata prosentase kelerengannya, persamaanya adalah:

S =

(n-1) x IK

X 100 %

D x Skala

Dimana,

S : Slope / kelerengan (%) n : Jumlah kontur yang terpotong garis sayat IK : Interval Kontur (meter) D : Panjang garis sayat (Cm) Skala : Skala peta (menggunakan skala peta 1:20.000)

Gambar 13. Peta satuan geomorfologi. Gambar 14. Peta blok morfometri prospeksi cadangan tereka. Prospeksi zona
Gambar 13. Peta satuan geomorfologi. Gambar 14. Peta blok morfometri prospeksi cadangan tereka. Prospeksi zona
Gambar 13. Peta satuan geomorfologi. Gambar 14. Peta blok morfometri prospeksi cadangan tereka. Prospeksi zona

Gambar 13. Peta satuan geomorfologi.

Gambar 14. Peta blok morfometri prospeksi cadangan tereka.

Prospeksi zona mineralisasi bauksit daerah penelitian sendiri didasarkan pada sebaran bijih bauksit terkandung yang dapat dibuktikan melalui channeling, testpit maupun drillling. Titik-titik keterdapatan bauksit diplot dan dilokalisir sehingga dapat ditentukan zona mineralisasinya, cara menentukan zona mineralisasi bauksit:

Zona Mineralisasi (Ha): Jumlah Titik Terkandung Bauksit X Interval Grid Peta Prospeksi

Sebagai contoh adalah: pada blok 1 jumlah titik terkandung adalah 43, sementara itu prospeksi menggunakan peta dengan skala 1:20000 dan setiap grid peta memiliki interval 200 m, maka:

Zona Mineralisasi : Jumlah titik terkandung X interval grid peta prospeksi

: 43 titik X (200X200) m

: 43 X 40000 m 2 = 1720000 m 2 = 172 Ha

Gambar 15. Peta zona mineralisasi prospeksi cadangan tereka. Data hasil analisis morfometri kemudian dikombinasikan dengan

Gambar 15. Peta zona mineralisasi prospeksi cadangan tereka.

Data hasil analisis morfometri kemudian dikombinasikan dengan data lokalisir zona mineralisasi prospeksi cadangan tereka, hasilnya adalah penilaian terkait hubungan antara blok morfometri dan zona mineralisasi. Penilaian ini menghasilkan grafik hubungan antara kelerengan dengan sebaran cadangan bauksit di daerah penelitian. Perlunya penilaian ini adalah untuk mengetahui cadangan sementara tahap prospeksi tereka serta untuk menentukan daerah prospek pada tahapan selanjutnya.

Tabel 5. Resume perhitungan morfometri dan zona mineralisasi prospeksi cadangan tereka.

 

Morfometri dan Zona Mineralisasi Prospeksi Cadangan Tereka

 

luas (Ha)

Kelerengan (%)

Kelerengan (⁰)

Beda Tinggi (m)

Zona

Blok

Mineralisasi (Ha)

 

1 25.00

90.40

 

23.00

65.00

0.00

 

2 10.00

258.20

 

9.00

42.00

0.00

 

3 18.00

173.80

 

16.00

52.00

8.00

 

4 43.00

148.70

 

38.00

157.00

0.00

 

5 19.00

413.80

 

17.00

73.00

36.00

 

6 13.00

785.50

 

12.00

58.00

148.00

 

7 27.00

215.00

 

24.00

61.00

8.00

 

8 8.00

283.30

 

8.00

44.00

12.00

 

9 18.00

412.80

 

16.00

56.00

76.00

10

65.30

25.00

23.00

88.00

0.00

11

344.50

28.00

25.00

85.00

88.00

12

74.30

12.00

11.00

41.00

8.00

13

1187.00

52.00

47.00

203.00

32.00

14

182.80

31.00

28.00

130.00

0.00

15

251.10

35.00

31.00

111.00

24.00

16

169.80

30.00

27.00

65.00

0.00

17

367.60

12.00

11.00

48.00

0.00

60 50 40 % kelerengan 30 ⅟₄ Beda Tinggi 20 % mineralisasi 10 0 blok
60
50
40
% kelerengan
30
⅟₄ Beda Tinggi
20
% mineralisasi
10
0
blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok blok
1
2 3
4
5 6
7 8
9 10
11
12 13
14
15 16
17

Gambar 16. Grafik hubungan antara kelerengan, beda tinggi dan mineralisasi prospek cadangan tereka.

III.3. Analisis Morfometri pada Prospeksi Cadangan Terkira Analisis morfometri pada tahap ini sama dengan analisis morfometri sebelumnya, dengan skala peta topografi yang lebih kecil (1:10.000). Penentuan daerah pengamatan pada tahap mengacu pada hasil pengamatan sebelumnya, yakni pada lokasi dengan zona mineralisasi yang dianggap penting. Pada tahap prospeksi sebelumnya dapat disimpulkan bahwa daerah prospek berada pada blok 6, blok 9 serta blok 11, maka pada tahap ini penyelidikan dipersempit areanya menjadi 3X4.5 Km meliputi ketiga blok tersebut (koordinat X: 452000-455000, Y: 9849500-9854000 UTM). Peta topografi skala 1:10.000 dibagi kembali menjadi blok-blok yang didasarkan pada morfografi serta morfometri, perbedaannya adalah pada tahap ini interval grid 100X100 meter. Selanjutnya pemasangan titik-titik testpit dengan interval 100 meter yang didasarkan pada range persen kelerangan serta stripping ratio zona mineralisasi tahap prospeksi cadangan tereka.

ratio zona mineralisasi tahap prospeksi cadangan tereka. Gambar 17. Peta zona mineralisasi prospek cadangan terkira.
ratio zona mineralisasi tahap prospeksi cadangan tereka. Gambar 17. Peta zona mineralisasi prospek cadangan terkira.
ratio zona mineralisasi tahap prospeksi cadangan tereka. Gambar 17. Peta zona mineralisasi prospek cadangan terkira.

Gambar 17. Peta zona mineralisasi prospek cadangan terkira.

Gambar 18. Peta blok morfometri prospek cadangan terkira.

Tabel 6. Resume perhitungan morfometri dan zona mineralisasi prospeksi cadangan terkira.

 

Morfometri dan Zona Mineralisasi Prospeksi Cadangan Terkira

 

luas (Ha)

Kelerengan (%)

Kelerengan (⁰)

Beda Tinggi (m)

Zona

Blok

Mineralisasi (Ha)

 

1 56.00

139.60

 

50.00

119.00

7.00

 

2 24.00

112.50

 

22.00

42.00

0.00

 

3 16.00

39.20

 

14.00

33.00

5.00

 

4 48.00

19.10

 

43.00

93.00

0.00

 

5 31.00

104.50

 

28.00

54.00

19.00

 

6 28.00

117.50

 

25.00

53.00

12.00

 

7 12.00

121.50

 

11.00

22.00

14.00

 

8 9.00

106.50

 

8.00

23.00

12.00

 

9 22.00

146.70

 

20.00

40.00

25.00

10

94.40

14.00

13.00

31.00

21.00

11

160.70

12.00

11.00

26.00

9.00

12

16.10

49.00

44.00

97.00

0.00

13

177.80

22.00

20.00

43.00

7.00

0.00 13 177.80 22.00 20.00 43.00 7.00 60 50 40 % kelerengan 30 ⅟₃ Beda Tinggi
60 50 40 % kelerengan 30 ⅟₃ Beda Tinggi 20 % mineralisasi 10 0 Gambar
60
50
40
% kelerengan
30
⅟₃ Beda Tinggi
20
% mineralisasi
10
0
Gambar 19. Grafik hubungan antara kelerengan, beda tinggi dan mineralisasi prospek
cadangan terkira.
Blok 1
Blok 2
Blok 3
Blok 4
Blok 5
Blok 6
Blok 7
Blok 8
Blok 9
Blok 10
Blok 11
Blok 12
Blok 13

III.4. Analisis Morfometri pada Prospeksi Cadangan Terukur Pada tahap eksplorasi ini gambaran hasil eksplorasi telah dapat dilihat dengan detail. Daerah penyelidikan dipersempit pada koordinat X: 452600-453600, Y:

9850300-9851800 UTM, skala yang dipergunakan 1:2.000. Titik-titik pengambilan conto bijih berjarak 50X50 meter, dimana pengambilannya dapat menggunakan metode testpit maupun drillling. Hasil prospeksi pada tahap ini diharapkan dapat untuk mengetahui 3 dimensi dari sebaran mineral sehingga dapat dikalkulasikan dengan tingkat akurasi yang lebih mendekati kebenaran dari kondisi bijih bauksit di bawah permukaan. Analisis morfometri pada tahapan ini juga menjadi sangat berguna dalam pembuatan model sebaran bijih cadangan bauksit bawah permukaan serta keperluan lain seperti awal penentuan washing plant, analisa dampak lingkungan dan perencanaan penambangan. Hasil pengamatan data morfometri dan pengambilan conto bauksit (testpit & drilling) menghasilkan kenampakan yang signifikan dan menunjukkan adanya hubungan antara kelerengan dengan model mineralisasi pada daerah penelitian, hal ini juga sangat membantu dalam menentukan daerah cadangan ekonomis bijih bauksit.

Tabel 7. Resume perhitungan morfometri dan zona mineralisasi prospeksi cadangan terukur.

 

Morfometri dan Zona Mineralisasi Prospeksi Cadangan Terukur

 

luas (Ha)

Kelerengan (%)

Kelerengan (⁰)

Beda Tinggi (m)

Zona

Blok

Mineralisasi (Ha)

1

11.55

19.00

17.00

29.00

3.50

2

12.81

16.00

14.00

14.00

8.50

3

24.61

17.00

16.00

19.00

9.00

4

35.91

9.00

8.00

10.00

13.00

5

15.32

12.00

11.00

13.00

2.50

6

39.43

12.00

11.00

15.00

20.50

7

11.05

11.00

10.00

12.00

0.00

35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Blok 1 Blok 2 Blok 3 Blok
35.00
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
Blok 1
Blok 2
Blok 3
Blok 4
Blok 5
Blok 6
Blok 7

Kelerengan (%)20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Blok 1 Blok 2 Blok 3 Blok 4 Blok 5 Blok

Beda Tinggi (m)20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Blok 1 Blok 2 Blok 3 Blok 4 Blok 5 Blok

mineralisasi (Ha)20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Blok 1 Blok 2 Blok 3 Blok 4 Blok 5 Blok

Gambar 20. Grafik hubungan antara kelerengan, beda tinggi dan mineralisasi prospek cadangan terukur.

beda tinggi dan mineralisasi prospek cadangan terukur. Gambar 21. Peta blok morfometri prospek cadangan terukur.

Gambar 21. Peta blok morfometri prospek cadangan terukur.

Tabel 8. Resume perhitungan morfometri dan stripping ratio prospeksi cadangan terukur.

Morfometri dan Stripping Ratio Prospeksi Cadangan Terukur Blok luas (Ha) Kelerengan (%) Kelerengan (⁰) Beda
Morfometri dan Stripping Ratio Prospeksi Cadangan Terukur
Blok
luas (Ha)
Kelerengan (%)
Kelerengan (⁰)
Beda Tinggi (m)
% OB (mᶾ)
%ORE (mᶾ)
1
11.55
19.00
17.00
29.00
7.62
3.85
2
12.81
16.00
14.00
14.00
6.08
2.7
3
24.61
17.00
16.00
19.00
8.76
5.4
4
35.91
9.00
8.00
10.00
8.64
5.24
5
15.32
12.00
11.00
13.00
10.42
6.39
6
39.43
12.00
11.00
15.00
8.45
8.03
7
11.05
11.00
10.00
12.00
0.00
0
20
18
16
14
12
Slope
%
10
OB (mᶾ)
%
8
%ORE (mᶾ)
6
4
2
0
Blok 1
Blok 2
Blok 3
Blok 4
Blok 5
Blok 6
Blok 7

Gambar 22. Grafik hubungan antara kelerengan dan stripping ratio prospek cadangan terukur.

Gambar 23. Peta blok morfometri dan titik conto prospek cadangan terukur. Kholilur Rohman | 410011001

Gambar 23. Peta blok morfometri dan titik conto prospek cadangan terukur.

Gambar 24. Penampang model bawah permukaan prospek cadangan terukur.
Gambar 24. Penampang model bawah permukaan prospek cadangan terukur.

BAB IV KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan pada Bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Daerah penelitian, yakni Desa Pangkalan Suka Kecamatan Nanga Tayap Kabupaten Ketapang kalimantan Barat merupakan daerah dengan keterdapatan endapan bauksit laterit.

2. Faktor yang mendukung keterbentukan endapan bauksit pada daerah pengamatan adalah lithologi yang merupakan batuan beku dengan nisbah mineral alumina tinggi, kondisi tektonik yang stabil, kondisi geomorfologi berupa daerah bergelombang hingga daerah perbukitan, iklim tropis dan curah hujan yang tinggi.

3. Pada analisis morfometri cadangan tereka luasan daerah mencakup 5400 Hektar dengan rata-rata beda tinggi 26% dan beda tinggi 81 meter, serta luas zona mineralisasi 440 Hektar (8.5% dari luas area).

4. Pada analisis morfometri cadangan terkira luasan daerah mencakup 1350 Hektar dengan rata-rata beda tinggi 22% dan beda tinggi 54 meter, serta luas zona mineralisasi 135 Hektar (10% dari luas area).

5. Pada analisis morfometri cadangan terukur luasan daerah mencakup 150 Hektar dengan rata-rata beda tinggi 14% dan beda tinggi 16 meter, serta luas zona mineralisasi 57 Hektar (38% dari luas area).

6. Prospeksi cadangan terukur menunjukkan bahwa daerah prospek memiliki rata-rata kelerengan 14% dengan stripping ratio 158%.

7. Umumnya cadangan bauksit laterit dengan stripping ratio yang dianggap prospek pada daerah penelitian terdapat pada daerah bergelombang dengan range kelerengan antara 10-19%.

DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Waheed., 2005. MINE GEOLOGY AT P.T. INCO. Mine geology, exploration methods, ore processing, resource estimation, and project development. P.T. Inco, Indonesia. Ahmad, Waheed., 2006. Laterites : Fundamentals of chemistry, mineralogy, weathering processes and laterite formation. P.T. Inco, Indonesia. Astika prasiddha sasyri wilatikta, karakteristik mineralogi dan geokimia Endapan bauksit tambang tayan, kalimantan Barat, Gajah Mada University 2013. Bateman, A. A., 198,. Lateritisation Processes. Rotterdam.171-184 Eko Agung H.S., Tinjauan Umum Tentang Genesa Bauksit, Seminar Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogytakarta 2013. Hartono, Hiltrudis Gendoet., 2010, Petrologi Batuan Beku dan Gunungapi, Unpad Prees, page 57. Rustandi, E. dan Keyser, F. De, 1993. Peta Geologi Lembar Ketapang, Kalimantan Barat. Bandung, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Sukandarrumidi, 1998.Bahan Galian Industri. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Sukandarrumidi, 2009. Geologi mineral Logam. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Tim Analisa dan Evaluasi Komoditi Mineral Internasional Proyek Pusat Informasi Mineral, 1984, Pengkajian Bauuksit, Alumina, Aluunium (study of Bauxite-Alumina- Alumunium), Departemen Pertambanan dan Energi, Direktorat Pertambangan Umum, Pusat Teknologi Mineral. Tim asisten Geomorfologi, 2012. Buku Panduan Praktikum Geomorfologi. Yogyakarta, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional. http://sastrageologi.blogspot.com/

http://:rudyanshory.blogspot.com/2011/11/makalah-kimia-unsur.html

http://:edosevensix.blogspot.com/2011/10/bauksit.html

Scribd “Proses Terbentuknya Bauksit”. http://:scribd.com (Diakses tanggal 11 Oktober 2014).

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Morfometri

Perhitungan Kelerengan Prospeksi Cadangan Tereka (1:20000)

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

   

a 0.6

4

10

200

40

120

33%

30

 

b 1

5

10

200

50

200

25%

23

1

 

c 0.4

3

10

200

30

80

38%

34

 

d 1.3

2

10

200

20

260

8%

7

   

e 0.5

3

10

200

30

100

30%

27

 

f 0.8

3

10

200

30

160

19%

17

 

Rata-rata

33

153

25%

23

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

   

a 1.2

2

10

200

20

240

8%

8

 

b 2.1

2

10

200

20

420

5%

4

 

c 0.8

2

10

200

20

160

13%

11

2

 

d 2

2

10

200

20

400

5%

5

 

e 0.6

2

10

200

20

120

17%

15

   

f 0.6

2

10

200

20

120

17%

15

 

g 1.4

2

10

200

20

280

7%

6

 

h 2

2

10

200

20

400

5%

5

 

Rata-rata

20

268

10%

9

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

   

a 1.2

2

10

200

20

240

8%

8

 

b 0.5

2

10

200

20

100

20%

18

 

c 1.5

4

10

200

40

300

13%

12

3

 

d 0.9

3

10

200

30

180

17%

15

 

e 0.6

5

10

200

50

120

42%

38

   

f 0.8

3

10

200

30

160

19%

17

 

g 0.8

2

10

200

20

160

13%

11

 

h 0.9

2

10

200

20

180

11%

10

 

Rata-rata

29

180

18%

16

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

 

a

 

1.1

5

10

200

50

220

23%

20

b

 

0.8

16

10

200

160

160

100%

90

c

 

1.2

5

10

200

50

240

21%

19

4

d

 

1

7

10

200

70

200

35%

32

e

 

1

6

10

200

60

200

30%

27

f

 

1

14

10

200

140

200

70%

63

g

 

1

4

10

200

40

200

20%

18

 

Rata-rata

81

203

43%

38

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

 

a

 

1.2

4

10

200

40

240

17%

15

b

 

1.7

3

10

200

30

340

9%

8

c

 

1.3

4

10

200

40

260

15%

14

d

 

0.7

3

10

200

30

140

21%

19

5

e

 

1.8

3

10

200

30

360

8%

8

f

 

0.9

5

10

200

50

180

28%

25

g

 

0.5

3

10

200

30

100

30%

27

 

h

 

1.7 4

 

10

200

40

340

12%

11

i

 

1 6

 

10

200

60

200

30%

27

 

Rata-rata

39

240

19%

17

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

 

a

 

2

3

10

200

30

400

8%

7

b

 

0.6

3

10

200

30

120

25%

23

c

 

0.6

3

10

200

30

120

25%

23

d

 

0.7

3

10

200

30

140

21%

19

6

e

 

0.7

2

10

200

20

140

14%

13

f

 

1.5

3

10

200

30

300

10%

9

 

g

 

2.7

3

10

200

30

540

6%

5

h

 

1.2

2

10

200

20

240

8%

8

i

 

1.6

3

10

200

30

320

9%

8

j

 

2.1

2

10

200

20

420

5%

4

 

Rata-rata

27

274

13%

12

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

   

a 0.6

2

10

200

20

120

17%

15

 

b 0.7

2

10

200

20

140

14%

13

 

c 0.8

2

10

200

20

160

13%

11

 

d 0.4

5

10

200

50

80

63%

56

7

 

e 0.6

4

10

200

40

120

33%

30

 

f 0.5

4

10

200

40

100

40%

36

 

g 0.7

4

10

200

40

140

29%

26

 

h 0.8

3

10

200

30

160

19%

17

 

i 1.1

3

10

200

30

220

14%

12

 

Rata-rata

32

138

27%

24

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

   

a 2.6

3

10

200

30

520

6%

5

 

b 1.8

2

10

200

20

360

6%

5

8

 

c 0.6

2

10

200

20

120

17%

15

 

d 1.5

2

10

200

20

300

7%

6

   

e 2

2

10

200

20

400

5%

5

 

f 0.9

2

10

200

20

180

11%

10

 

Rata-rata

22

313

8%

8

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

 

a

 

1

4

10

200

40

200

20%

18

b

 

0.7

3

10

200

30

140

21%

19

c

 

0.5

3

10

200

30

100

30%

27

d

 

1.5

6

10

200

60

300

20%

18

9

e

 

0.9

2

10

200

20

180

11%

10

f

 

0.7

3

10

200

30

140

21%

19

 

g

 

1.3

3

10

200

30

260

12%

10

h

 

1.2

3

10

200

30

240

13%

11

i

 

1

3

10

200

30

200

15%

14

j

 

0.9

3

10

200

30

180

17%

15

 

Rata-rata

33

194

18%

16

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

 

a

 

1.9

5

10

200

50

380

13%

12

 

b

 

1.6

2

10

200

20

320

6%

6

10

c

 

0.4

4

10

200

40

80

50%

45

d

 

0.9

3

10

200

30

180

17%

15

 

e

 

0.7

6

10

200

60

140

43%

39

f

 

0.7

3

10

200

30

140

21%

19

 

Rata-rata

38

207

25%

23

Blok

Kode

P.

Sayatan (Cm)

N-1

Interval

Skala

h

d

Prosentase

slope

   

a 0.5

3

10

200

30

100

30%

27

 

b 1.3

5

10

200

50

260

19%

17

 

c 1.2

4

10

200

40

240

17%

15

 

d 1.5

3

10

200

30

300

10%

9

 

e 0.4

3

10

200

30

80

38%

34

11

 

f 0.7

4

10

200

40

140

29%

26

 

g 1

6

10

200

60

200

30%

27

   

h 1

10

10

200

100

200

50%

45

 

i 0.5

4

10

200

40

100

40%