Anda di halaman 1dari 1

SPORT CENTER & RECREATION (Passive Cooling system by Ventilative & Radiative Metods)

ANALISIS KEBUTUHAN PENGHAWAAN


Dari data angin (Windrose) menunjukan arah angin dominan
berada diarah barat daya dengan frekuensi kejadian sebanyak
40 %.Untuk frekuensi kejadian angin selain dari barat daya
dengan prosentase 15-20 % berada diarah selatan dengan
kecepatan 1-2m/d, sehingga dalam rancangan sport center ini
letak orientasi bangunan mengarah barat daya untuk
memperoleh frekuensi kejadian angin dominan dan kecepatan
angin yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan
penghawaan untuk kegiatan olahraga didalamnya.

Aktivitas

Fitnes
Futsal
Basket
Aerobik
Tenis
Aikido

Pengeluaran Baju
Penurunan Kebutuhan
Kalor
yang
Suhu
Angin
digunakan
3
8
8
3
5
3

0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,6

suhu luar
maks

2
3
3
2
2
2

0
5
5
0
5
0

Bangunan dengan bentuk rasio persegi panjang 1:2. Angka distribusi


Cp di setiap sisi bangunan dapat ditentukan dengan melihat tabel berikut
LOCATION

28 derajat
28 derajat
28 derajat
28 derajat
28 derajat
28 derajat

Tabel diatas menunjukan suhu luar diasumsikan sebesar 28 derajat


pada waktu efektif penggunaan pukul 15.00-18.00. Untuk olahraga
futsal, Basket membutuhkan kecepatan angin sebesar 3 m/d untuk
mencapai nyaman termal, dan olahraga Fitnes, Aeorobik, Tenis, Aikido
membutuhkan kecepatan angin 2 m/d.Konsep tata ruang dalam
rancangan sport center diseuaikan dengan sifat zona ruang dan
kebutuhan penghawaan terkait angin dalam setiap fasilitas kegiatan,
semakin tinggi aktivitas olahraga maka letak ruang disesuaikan dengan
area yang memiliki potensi mendapatkan angin yang lebih banyak.

WIND ANGLE

FACE 1

0,06

-0,12

-0,2

-0,38

FACE 2

-0,3

-0,38

-0,2

-0,12

FACE 3

-0,3

0,15

-0,18

0,15

FACE 4

-0,3

-0,32

-0,2

FRONT

-0,49

-0,46

-0,41

-0,46

REAR

-0,49

-0,46

-0,41

-0,46

-0,49

-0,46

-0,41

-0,46

FRONT

-0,49

-0,46

-0,41

-0,46

REAR

-0,4

-0,46

-0,41

-0,46

ROOF (<
10PITCH)
AVERAGE
ROOF (<
1130PITCH)

ROOF (>
30PITCH)

0 m/d

3 m/d

Lenght To With Rasio = 2:1

Shielding Condition =
Surrounded By Obstruction
-0,32 Equal to the height of buliding
Wind speed reference level=
Building Height

2
3

-0,45

-0,46

-0,41

-0,46

FRONT

0,06

-0,15

-0,23

-0,6

REAR

-0,42

-0,6

-0,23

-0,15

-0,12

-0,4

-0,23

-0,4

AVERAGE

2 m/d

Tabel Wind Preasure


Low Rise Building Up to 3
Building Storeys

135

45

AVERAGE
2 m/d

90

4
1
0

(Sumber : Liddament, 1996)

Untuk menghitung besar air flow rate (aliran angin) maka perlu menghitung nilai
P (pressure) dengan menggunakan rumus :

0 m/d

3 m/d

(Sumber : Aynsley, 1997)

3 m/d

dimana :
P = Pressure
Cp = Coefficient Pressure
p = Density of air = 1,293
v = Kecepatan angin

3 m/d

KECEPATAN ANGIN PADA BANGUNAN

southwest section

35 m

35 m

46,2 m

20 m

20 m

5m

29 m

5m

Area windshadow pada site memiliki jarak 29 m dari sisi luar site, dan untuk batas
bangunan dari bibir luar site memiliki jarak 46,2 m, sehingga bangunan tidak
mendapat bayangan angin dan windcatcher dapat memanfaatkan angin makro
dengan kecepatan 2 m/d.
1

16 m

(4 x h) 60 m

Perletakan wind catcher disesuaikan dengan kebutuhan angin pada setiap kegiatan olahraga, setiap
aktivitas memiliki kebutuhan angin 2 m/d dan 3 m/d maka pemanfaatan windcatcher dirancang pada area
futsal, basket, tenis, dan bangunan cardio primer.

0,4 m/d

1
V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d
V = 0,827. (4,2.1,4/4,2+1,4) (-0,63-0,8)
V = 0,55 m/d
0,5

0,5

0,5

0,5

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


V = 0,827. (6,8.3,4/6,8+3,4) (-0,63-0,8)
V = 0,625 m/d
0,5

0,5

diketahui :
Cp 1 = -0,3
Cp 2 = -0,32
V = 1,8
p
= 1,293
A1 = 6,8 x 0,5 = 3,4
A2 = 6,8 x 1 = 6,8

0,5

0,5

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d

dimana :
V = Air flow rate
A = Area
P = Pressure

(Sumber : Markus Morris, 1980)

Maka asumsi arah angin berada di face 3,


dengan arah angin tegak lurus 0, dan
coefficient preasure pada inlet -0,3 dan pada
outlet face 4 = -0,3.

0,5

7,5 m

0,5

38m

38 m

Kecepatan angin site = 1,3 m/d, maka kecepatan angin didalam bangunan pada
ketinggian 6,6 m, dapat dimanfaatkan = 0,4 m/d
2

Pada area futsal 2 memiliki luas bukaan inlet 35x6,6, dan outlet 35x8.Besar nilai
cp sama yaitu -0,3 pada face 3 dan face 4.Kecepatan angin pada ketinggian 6,6
m yaitu 1,3 m/d.
diketahui :
Cp 1 = -0,3
Cp 2 = -0,3
V = 1,3
p
= 1,293
A1 = 204
A2 = 294

P3 = Cp 1/2 pv
P3 = -0,3. 1/2 1,293.1,3
P3 = -0,32

0,35 m/d

P4 = Cp 1/2 pv
P4 = -0,3. 1/2 1,293.1,3
P4 = -0,32

8m
0,5

Angin pada ketinggian 17


meter.memiliki kecepatan angin 1,8 m/d
kemudian, didalam penampang
windcatcher mengalami penurunan
kecepatan angin 0,55 m/d, dan sesuai
dengan prinsip angin maka pada inlet
yang lebih luas dan outlet lebih kecil
maka akan terjadi penurunan
kecepatan angin didalam ruangan
penampang dan peningkatan
kecepatan angin dioutlet

0,5

0,5

Untuk menghitung air flow rate dengan


bukaan seri

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


V = 0,827. (254.289/254+289) (-0,32-0,32)
V = 0,4 m/d

1,8 m/d

P4 = Cp 1/2 pv
P4 = -0,32. 1/2 1,293.1,8
P4 = -0,8

0,5

P ) m/d

diketahui :
Cp 1 = -0,3
Cp 2 = -0,3
V = 1,3
p
= 1,293
A1 = 254
A2 = 289 9 m

P3 = Cp 1/2 pv
P3 = -0,3. 1/2 1,293.1,3
P3 = -0,32

1,8 m/d

diketahui :
Cp 1 = -0,3
Cp 2 = -0,32
V = 1,8
p
= 1,293
A1 = 2,8 x 0,5 = 1,4
A2 = 2,8 x 1,5 = 4,2

V = 0,827. A.(

Pada ketinggian 6,6 kecepatan


angin pada bangunan yaitu 1,3
m/d.Dan sesuai data nilai
coefficient preasure bangunan
memiliki perbandingan bentuk
1:2 dengan sudut arah angin
lurus 0.Bangunan area futsal 1
memiliki bukaan inlet 38 x 6,6 m,
dan outlet 38 x 7,5.

P4 = Cp 1/2 pv
P4 = -0,3. 1/2 1,293.1,3
P4 = -0,32

Wind cather dirancang pada area


dinding barat daya bangunan yang
membentang pada area atas dinding
barat daya bangunan.Pada bangunan
wind catcher pada dinding yang
menonjol memiliki luas inlet 1,5m x
2,75m, outlet 0,5m x 2,75m dan untuk
dinding yang berperan sebagai wind
catcher memiliki luas inlet 1m x 6 m,
outlet 0,5 x 6 m.Perbandingan luas
inlet dan outlet dipengaruhi dengan
prinsip angin ketika luas inlet lebih
besar dan outlet lebih kecil maka akan
terjadi penurunan kecepatan angin
didalam ruang bangunan dan terjadi
peningkatan kecepatan angin diluar
bangunan.

P3 = Cp 1/2 pv
P3 = -0,3. 1/2 1,293.1,8
P3 = -0,63

Dan untuk menghitung air flow rate dengan


bukaan paralel

P = Cp 1/2 pv

Pengelompokan ruang merupakan salah satu strategi guna menemukan denah


yang strategis dan disesuaikan dengan analisa konteks terkait permasalahan,
didalam permasalahan yang ada yaitu, bagaimana merancang bangunan sport
center yang dapat mengintegrasikan beberapa fasilitas olahraga dalam tata massa
yang berbeda agar saling terkait, yang juga disesuikan dengan sifat zona ruang
aktiftas olahraga, dan kebutuhan penghawaan setiap kegiatan.

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


V = 0,827. (204.294/204+294) (-0,32-0,32)
V = 0,35 m/d

31 m

0,5

0,625 m/d

0,55 m/d

35 m

Pada area basket 1 memiliki luas bukaan inlet 31x6,6, dan outlet 31x9,5.Besar
nilai cp sama yaitu -0,3 pada face 3 dan face 4.Dengan Kecepatan angin pada
ketinggian 6,6 m yaitu 1,3 m/d.

Peningkatan
Kecepatan

0,46 m/d

diketahui :
Cp 1 = -0,3
Cp 2 = -0,3
V = 1,3
p
= 1,293
A1 = 231
A2 = 280

P3 = Cp 1/2 pv
P3 = -0,3. 1/2 1,293.1,3
P3 = -0,32

Peningkatan
Kecepatan

P4 = Cp 1/2 pv
P4 = -0,3. 1/2 1,293.1,3
P4 = -0,32

35 m

PERGERAKAN UDARA PADA BANGUNAN DENGAN TEHNIK STACK EFFECT

9,5 m

0,5

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


V = 0,827. (231.280/231+280) (-0,32-0,32)
V = 0,46 m/d
0,5

Solar cimney digunakan untuk menciptakan pergerakan udara didalam bangunan ketika tidak ada pergerakan angin dengan memanfaatkan
tehnik stack effect, yaitu menciptakan perbedaan tekanan pada bagian bangunan .Untuk mencari kemungkinan terjadinya stack effect, terlebih
dulu dicari perbedaan tekanan antara bukaan yang berada pada level yang berbeda. Untuk itu digunakan rumus berikut.Setelah itu dihitung air
flow rate dengan menggunakan perbedaan tekanan yang ditemukan.
Stack effect
Air Flow Rate
P =(3463 H/t + 273. t + 273). t - t Pa
o

1m

0,23 m/d

0,75 m

dimana :
H = Jarak antara 2 bukaan
to = Suhu Luar
p = Tekanan
t i = Suhu Dalam

0,5

0,5

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


dimana :
V = Air flow rate
A = Area
P = Pressure
Sumber :(Markus Morris, 1980)

P =(3463 H/t + 273. t + 273). t - t Pa


= (3463. 1,5/28+273.25+273).28-25Pa
=0,17 Pa
o

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


= 0,827.(6,8.8/6,8.6,8+8.8).0,17
= 0,23 m/d
0,5

0,5

P =(3463 H/t + 273. t + 273). t - t Pa


= (3463. 5/28+273.25+273).28-25Pa
=0,17 Pa
o

0,5

0,5

V = 0,827. (A1.A2/A1+A2). P m/d


0,5

PEMANFAATAN MATERIAL
Untuk material atap pada bangunan sport center yaitu menggunakan material atap
PVC dengan ketebalan 10 mm dan terdapat rongga udara twin hall untuk
mengurangi waktu panas untuk menembus material, PVC memiliki koefisien
peyimpanan panas yang kecil sehingga untuk menambah waktu panas agar lebih
lama untuk menembus material kedalam bangunan maka penggunaan lapisan
alumunium voil juga digunakan sebagai lapisan untuk mereduksi panas dan
kemudian insulasi plafon juga sebagai lapisan untuk memperlambat waktu panas
untuk masuk kedalam ruang bangunan.

2m
5m

dimana :
V =?
A1 = 8x0,75=6,8
A2 =8x1=8
P = 0,17

0,5

0,5

dimana :
H = 1,5
to = 28
p=?
t i = 25

asumsi suhu udara luar pada saat waktu efektif


penggunaan pukul 15-18, dengan suhu luar 28 derajat dan
asumsi suhu yang dapat direduski didalam bangunan 25
derajat

31 m

0,5

= 0,827.(254.44/254.44).0,17
= 0,5 m/d

Jurusan Arsitektur
Fakultas Tehnik Sipil Dan Perencanaan
Universitas Islam Indonesai

dimana :
H=5
to = 28
p=?
t i = 25
dimana :
V =?
A1 = 38x6=254
A2 = 22x2=44
P = 0,17

0,5 m/d

Penyinaran matahari paling banyak terjadi pada bagian atap dan bagian sisi
dinding bangunan barat daya maka perlu adanya pemilihan material dan
penggunaan warna untuk mengurangi panas pada material dinding atau
atap.Warna putih memiliki prosentase penyerapan panas yang paling kecil yaitu 10
-20 % dan pemantulan panas sampai 90-80 %. Untuk material bangunan pada
dinding beton dan bata merupakan material yang memiliki kemampuan
penyimpanan panas lebih besar dengan koefisien 0,90 dan 0,80.

PROYEK AKHIR SARJANA 2014/2015


Etik Mufida Ir.,M.Eng Angga Widyastama (11512257)