Anda di halaman 1dari 1

HIPERTERMIA MALIGNA

MALIGNANT HYPERTHERMIA (MH)


Istilah Malignant Hyperthermia pertama kali diperkenalkan oleh Denborough &
Lovell dalam sebuah artikel (Anaesthetic Deaths in a Family, Lancet 1960). Diagnosis
MH pada waktu itu didasarkan atas observasi seksama tanda-tanda klinis, tanpa
peralatan pemantau canggih. Saat ini ketika MH sudah lebih dikenal, istilah hipertermia
menjadi kurang relevan karena seringkali peningkatan suhu timbul lambat.
Hipertermia Maligna (MH) merupakan salah satu mimpi buruk para pelaku anestesia
yang jarang terjadi namun fatal. Namun ini bukanlah kesalahan prosedur
anestesia atau alergi obat anestetik. Kumpulan gejala klinis yang diakibatkan oleh
peningkatan tonus dan metabolisme otot rangka terjadi sangat cepat dan hebat, oleh
karena itu sering mengakibatkan mortalitas. Dantrolen (dantrolene) disebut telah
menurunkan mortalitas akibat MH dari 80% menjadi 5% saja. Sejak pertama kali kejadian
MH dilaporkan th 1960 hingga kini, belum ada alternatif terapi selain dantrolen. Oleh
karena itu, sangat beralasan jika ketersediaan dantrolen di semua negara adalah krusial,
hingga nanti jika ditemukan alternatif lain.
PANDUAN TATALAKSANA KRISIS HIPERTERMIA MALIGNA INTRA-ANESTESIA
(dimodifikasi dari berbagai panduan di dunia)
Segera hentikan semua zat anestetik volatil.
1.
Aktifkan situasi kegawatdaruratan.
2.
Naikkan ventilasi semenit untuk menurunkan ETCO2. Gunakan oksigen tinggi
dengan melihat SpO2.
3.
Berikan dantrolen sodium. Dosis inisial 2,5 mg/kg BB, dilakukan secara bolus
intravena.
4.
Dinginkan pasien. Gunakan ice packs di inguinal, aksila dan leher.
5.
Lavase lambung dengan cairan dingin.
6.
Hentikan pendinginan jika suhu badan telah mencapai 38,5 C.
7.
Ganti CO2 absorber tiap kali telah jenuh.
8.
Atasi aritmia sesuai algoritma. Jangan gunakan Ca channel blocker
9.
Dosis lanjutan dantrolen dititrasi sesuai perubahan ETCO2 dan laju jantung.
10.
Batas dosis total (bolus dan rumatan) dantrolen adalah 10 mg/kg BB, namun
boleh ditambah bilamana sangat perlu.
11.
Periksa AGD, elektrolit, kreatinin kinase urin. Hiperkalemia diatasi dengan insulin
dan glukosa, ditambah hiperventilasi.
12.
Periksa koagulasi lengkap setelah 6-12 jam.
13.
Pastikan semua proses tercatat dan segera dilaporkan ke Indonesian Malignant
Hyperthermia