Anda di halaman 1dari 3

Kecacatan Karena Kusta Dapat Dicegah

Penyakit kusta dapat menyebabkan terjadinya kecacatan, di seluruh dunia kira-kira 1-2 juta orang yang mengalami cacat tetap akibat kusta. Terjadinya cacat pada penyakit kusta tersebut adalah disebabkan karena kerusakan fungsi syaraf tepi baik karena kuman kusta maupun karena terjadinya peradangan (neuritis) sewaktu keadaan reaksi lepra. Kuman penyakit kusta (Mycobacterium leprae) menyerang syaraf tepi sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan fungsi sensorik, kerusakan fungsi motorik dan kerusakan fungsi otonom.

Kerusakan pada fungsi sensorik dapat menyebabkan terjadinya kurang atau mati rasa (anestasia), sehingga pada telapak tangan dan kaki dapat mengakibatkan luka sampai pada mutilasi absorbsi tulang, sedangkan pada kornea mata dapat mengakibatkan kurang atau hilangnya reflek kedip sehingga mata mudah kemasukan kotoran, benda-benda asing yang dapat menimbulkan infeksi mata sampai pada timbulnya kebutaan

Dan kerusakan fungsi motorik dalam bentuk kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi lemah atau lumpuh dan lama kelamaan terjadi atropi. Hari-hari tangan dan kaki menjadi bengkok (clawa hand / claw toes) dan akhirnya terjadi kekakuan pada sendi (kontraktur). Bila terjadi kelemahan atau kelumpuhan pada otot kelompak mata maka mata tidak dapat dirapatkan (logophtalmus).

Untuk kerusakan fungsi otonom terjadi gangguan pada kalenjar keringat, kalenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal, mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah, pada umumnya apabila akibat kerusakan fungsi syaraf tidak ditangani secara cepat dan tepat maka akan terjadi cacat tingkat yang lebih berat atau parah.

Saraf tepi yang terkena kuman kusta akan mengalam tiga tingkat kerusakan, yaitu pertama Stage of involvement, di mana pada tingkat ini saraf menjadi lebih tebal dan normal (penebalan saraf) dan mungkin disertai nyeri tekan dan nyeri spontan pada saraf perifer tersebut, tetapi belum disertai gangguan fungsi saraf, misalnya anestesi atau kelemahan otot.

Kedua, Stage of damage, di mana pada stadium ini saraf telah rusak dan fungsi saraf tersebut telah terganggu. Kerusakan fungsi saraf, misalnya kuhilangan fungsi saraf otonom, seneris, dan kelemahan otot menunjukkan bahwa saraf tersebut telah mengalami kerusakan (damage) atau telah mengalami paralisis. Diagnosis stage of damage ditegakkan, bila saraf telah mengalami paralisis yang lengkap tidak lebih dari 6-9 bulan. Penting sekali untuk mengenali tingkat damage ini karena dengan pengobatan pada tingkat ini kerusakan saraf yang permanen dapat dihindari.

Dan ketiga, Stage of destruction, di mana pada tingkat ini saraf telah rusak secara lengkap. Diagnosis stafe of distruction ditegakkan, bila kerusakan atau paralisis saraf secara lengkap lebih dari satu tahun. Pada tingkat ini walaupun dengan pengobatan, fungsi saraf ini tidak dapat diperbaiki.

Kecacatan yang timbul karena penyakit kusta sering menyerang organ mata, tangan dan kaki. Dan kecacatan yang timbul karena penyakit kusta dapat dikolompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok cacat primer dan cacat sekunder. Kelompok cacat primer ialah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respons jaringan terhadap kuman kusta. Kelompok cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kurusakan saraf (sensorik, motorik, otonom). Anestasia akan memudahkan terjadinya luka akibat trauma mekanis atau termis yang dapat mengalami infeksi sekunder dengan segala akibatnya. Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur sehingga dapat menimbulkan gangguan menggenggam atau berjalan, juga memudahkan terjadinya luka. Demikian pula akibat lagoftalmus dapat menyebabkan kornea kering sehingga mudah timbul keratitis. Kelumpuhan saraf otonom kenyebabkan kulit kering dan elastisitas berkurang. Akibatnya kulit mudah retak-retak dan dapat terjadi infeksi sekunder.

Untuk mencegah terjadinya kecacatan karena penyakit kusta ini, deteksi dini dan tindakan perawatan yang dapat dilakukan oleh pasien kusta di bawah bimbingan dan pengawasan petugas kesehatan adalah sebagai berikut :

No

Jenis Organ

Deteksi Dini

Tindakan Perawatan

1. Mata

 

Merah

- Periksa di depan cermin

- Bersihkan kotoran dengan hati-hati dengan kain yang lembab dan basah

- Bersihkan kotoran di mata dengan air bersih

   

Gatal

- Pejamkan mata sesering mungkin

- Bersihkan sekeliling mata dengan kain yang lembab dan Basah

   

Sulit menutup

- Tarik kelopak untuk menutup mata supaya tidak kering dengan cara berulang-ulang

dengan erat

- Diupayakan kenakan kacamata atau topi

- Perempuan dapat memakai kerudung/selendang yang dapat diulur untuk menutupi wajah

- Tidurlah di bawah kelambu atau selimut/gunakan sepotong kain, ikat longgar menutupi mata untuk melindunginya dari debu, serangga

 

2. Tangan

Kering dan pecah- pecah

- Rendam tangan dalam air selama 20 menit

- Setelah direndam, gosok bagian yang keras dengan benda yang permukaannya kasar (batu apung)

 

- Oleskan minyak kelapa yang bersih dan belum Dipergunakan

Istilah 3M

- Merendam

- Menggosok

- Mengoles

- Lakukan tiap pagi dan petang 2X sehari

   

Mati rasa

- Gunakan sarung tangan/alas untuk memegang alat untuk melakukan kerja

- Bungkus pegangan peralatan dengan kain untuk melindungi tangan

- Gunakan sarung tangan

- Lakukan 3M

- Periksa secara rutin tangan untuk melihat apa ada luka

   

Lemah tapi jarinya bengkok belum kaku

- Kepalkan tangan letakkan pada tangan yang lain atau di atas paha

- Paksa kepalan untuk mempuka sehingga jari-jari menjadi lurus

 

- Hitung hingga 10 sambil jari-jari tangan ditahan tetap Lurus

- Lakukan sesering mungkin sehingga menjadi kebiasaan

- Lakukan 3M

   

Jarinya bengkak

- Duduk dan letakkan tangan yang lemah di atas paha sehingga telapak tangan membuka

kaku

     

- Dorong tangan yang lain di atas tangan yang lemah

- Dorong perlahan ke ujung jari-jari sehingga tertahan lurus di atas paha

- Hitung 10 sebelum dilemaskan

- Lakukan 3 M

   

Ibu jari bengkak kaku

- Tempatkan tangan yang ibu jarinya lemah di atas paha

- Letakkan tangan lain di atas tangan yang ibu jarinya Lemah

 

- Lingkari sekeliling ibu jari yang lemah dengan jari-jari tangan lainnya, posisikan ibu jari sehingga tegak

- Lakukan gerakan mengurut kearah ujung ibu jari hingga lurus tahan hingga 10 hitungan tanpa merubah posisi

- Lakukan 3M

- Lakukan latihan 3X sehari

3.

Kaki

Kering dan pecah- pecah

- Rendam kaki dalam air selama 20 menit

- Setelah direndam, gosok bagian yang keras dengan benda yang permukaannya kasar (batu apung)

 

- Oleskan minyak kelapa yang bersih dan belum Dipergunakan

Istilah 3M

- Merendam

- Menggosok

- Mengoles

- Lakukan tiap pagi dan petang 2X sehari

- Pergunakan sepatu atau sandal yang ukurannya pas tidak sempit dan tidak longgar

- Sepatu atau sandal yang sol dalamnya lembut tapi bagian luarnya keras

oleh dr. H. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa)

lembut tapi bagian luarnya keras oleh dr. H. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet
lembut tapi bagian luarnya keras oleh dr. H. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet
lembut tapi bagian luarnya keras oleh dr. H. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet