Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KOMPUTASI KIMIA

STABILITAS KARBOKATION DAN HIPERKONJUGASI

DisusunOleh:
Gemilia Gladira

(F1C113007)

Maya Dina Asyri

(F1C113029)

Yesinia Anjani

(F1C113031)

Nurul Amini

(F1C113061)

Meta Andriani

(F1C113063)

DosenPembimbing :
DiahMastutikS.Pd.,M.Si.

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI

2015

STABILITAS KARBOKATION DAN HIPERKONJUGASI


I.Tujuan
Mengkajistabilitasbeberapakarbokationdanpengaruhhiperkonjugasiterhadappa
njangikatandankerapatanmuatanmenggunakanperhitungansemiempiris AM1
II.LatarBelakang
Karbokation menunjukkan satu dari sangat penting dan sering dijumpai dari
jenis zat antara yang terlibat dalam reaksi senyawa organik. Stabilitas relatif
karbokation dapat dijadikan indikasi untuk keberadaannya dalam reaksi yang
sedang berlangsung. Banyak cara menjelaskan kestabilan karbokation, salah
satunya adalah hiperkonjugasi.
Hiperkonjugasi meliputi tumpang tindih antara suatu ikatan (orbital ikatan)
dengan orbital p yang kosong yang terdapat dalam atom karbon bermuatan positif
(lihat gambar dibawah ini). Walaupun gugus alkil yang terdapat pada atom karbon
positif tersebut dapat berputar, satu dari dari ikatan sigma selalu sebidang dengan
orbital p kosong pada karbokation. Pasangan elektron pada ikatan sigma ini
disebarkan ke orbital p kosong sehingga menstabilkan atom karbon yang
kekurangan elektron.
Kita dapat memikirkan fenomena hiperkonjugasi seperti yang kita jumpai
dalam bentuk klasik. Sebagai contoh bahwa isopropyl kation distabilkan oleh
hiperkonjugasi menghasilkan beberapa bentuk resonansi.
Hiperkonjugasi akan meningkatkan order ikatan dari ikatan CC (lebih
bersifat ikatan rangkap) dan akan berakibat memendekkan ikatan CC. Perlu
ditekankan juga bahwa akan terjadi fenomena melemahnya dan memanjangnya
ikatan CH yang dinyatakan dengan kerapatan elektron pada orbital p kosong.
Akhirnya muatan positif yang signifikan dipindahkan kepada atom H yang terlibat
dalam hiper-konjugasi.

III. Dasarteori
Karbokation menunjukkan satu dari sangat penting dan sering dijumpai dari
jenis zat antara yang terlibat dalam reaksi senyawa organic. Stabilitas relative
karbokation dapat dijadikan indikasi untuk keberadaannya dalam reaksi yang
sedang berlangsung. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjelaskan
kestabilan karbokation,salah satunya adalah hiperkonjugasi (Fessenden, 1992).
Menurut Streitwieser (1985) Struktur dan Stabilitas Karbokation :
Karbokation memiliki struktur trivalen dengan karbon tersubstitusi sp2.
Selain itu, karbokation memiliki orbital p kosong yang tegak lurus terhadap ketiga
substituennya.

Gambar I. Struktur elektronik dari karbokation


Menurut Hart (1990) Untuk memahami stabilitas karbokation lebih lanjut,
mari kita lihat contoh berikut ini. 2-metilpropena dapat bereaksi dengan H+ dan
menghasilkan karbokation yang memiliki tiga substituen metil (karbokation
tersier, 30) dan karbokation dengan satu substituen alkil (karbokation primer, 10).
Karbokation mampu bereaksi dengan suatu nukleofil, misalnya Cl- menghasilkan
alkil klorida. Dari hasil penelitian, didapat hanya 2-kloro-2- metilpropana, hal ini
karena pembentukan intermediet karbokation tersier lebih stabil dibandingkan
karbokation primer. Ingat bahwa karbokation yang lebih tersubstitusi lebih stabil
dibandingkan karbokation yang kurang tersubstitusi. Urutan stabilitas karbokation
adalah sebagai berikut:

Hiperkonjugasi melibatkan tumpang tindih antara suatu ikatan (orbital


ikatan) dengan orbital p yang kosong yang terdapat pada atom karbon yang
bermuatan positif. Walaupun gugus alkil yang terikat pada atom karbon positif
tersebut dapat berputar,satu dari ikatan sigma selalu sebidang dengan orbital p
kosong pada karbokation. Pasangan electron pada ikatan sigma ini disebarkan
pada orbital p kosong sehingga mestabilkan atom karbon yang kekurangan
electron (Brady, 1999).
Kita dapat memikirkan fenomena hiperkonjugasi seperti yang kita jumpai
dalam bentuk klasik.Sebagai contoh bahwa isopropyl kation distabilkan oleh
hiperkonjugasi menghasilkan beberapa bentuk resonansi (Cotton , 1989).
Hiperkonjugasi akan meningkatkan order ikatan dari ikatan CC(lebih
bersifat ikatan rangkap) dan akan berakibat memendekkan ikatan CC.Fenomena
yang terjadi adalah melemahnya dan memanjangnya ikatan CH yang dinyatakan
dengan kerapatan electron pada orbital p kosong.Akhirnya muatan positif yang
signifikan akan dipindahkan kepada atom H yang terlibat dalam hiperkonjugas
(Kealey , 2002).
Hiperkonjugasi adalah ikatan C C apabila mengikat atom lagi dengan
ikatan. Rangkap 2 atau 3C-C kecil dari pada C-C perhitungan karena adanya
pengaruh ikatan rangkap dua atau tiga yaitu elektron. atau pengaruh
hiperkonjugasi. Terjadi semacam resonansi. Gejala ini disebut hiperkonjugasi
yaitu karena adanya pergeseran elektron sehingga tidak berikatan secara
parsial (atom H berdekatan) no bond resonance sehingga sering pula disebut
konjugasi.Seakan-akan mirip jarak ikatan rangkap tetapi tidak 100% hanya
diantaranya (Stanley , 1988).

Ex :
Ikatan dalam Etana.Kedua atom karbon dalam etana adalah tetrahedral.
Tiap karbon menggunakan 4 orbital sp3 untuk membentuk 4 ikatan
kovalen:

HDalam etana , orbital sp3 adalah hibridisasi orbital ,


tetapi ikatan tunggal terbentuk antara atom karbon
dengan hibridisasi lain memang terjadi ( misalnya
sp2

ke sp2 ). Bahkan, atom karbon dalam ikatan tunggal


tidak perlu dari hibridisasi yang sama. Etana, C2H6,
merupakan contoh paling sederhana dari molekul yang

mengandung ikatan karbon-karbon.

(Arsyad , 2001).

Konsep ikatan sigma diperluas untuk menjelaskan interaksi ikatan yang


melibatkan ketumpangtindihan cuping tunggal sebuah orbital dengan cuping
tunggal lainnya. Sebagai contoh, propana dideskripsikan mengandung 10 ikatan
sigma, masing-masing untuk dua ikatan C-C dan delapan ikatan C-H. Atom C
primer : atom C yang mengikat langsung 1 atom C yang lainyang lain
(tetangganya) (Barasella , 2012).

IV.Prosedur kerja
Langkah awal adalah menggambarkan dan mengoptimasi beberapa
karbokation yaitu t-butil, sek-butil, dan n-butil. Anda dapat memulai
menggambarkan hidrokarbon dan menghilangkan 1 atom H yang terikat dalam
atom karbon untuk menghasilkan karbokation.
1.

Gunakan menu draw untuk menggambarkan isobutana.

2.

Klik pada build dan kemudian add H & Model Build.

3.

Gunakan menu Selection dan hapus atom H sesuai dengan karbokation

yang digambar.
4.

Klik Setup dan kemudian semi empiris.

5.

Klik AMI dan kemudian options.

6.

Atur Total Charge pada 1 dan Spin Multiplicity pada 1 (semua spin

terpasangkan)
7.

Lakukan optimasi dengan memilih Compute dan kemudian Geometri

Optimizaion.
8.

Setelah perhitungan selesai, catat panas pembentukannya.

Pencatatan data
1.

Catat panjang ikatan CC, semua panjang ikatan Csp3-H (karbon Csp3-

H terikat pada karbon Csp2) dan semua sudut antara pusat karbon Csp2.
2.

Klik pada Display dilanjutkan dengan Labels.

Klik pada Charge dilanjutkan dengan OK. Muatan atom akan dimunculkan.
Catat muatan pada atom H yang ikut terlibat dalam hiperkonjugasi (pada
Csp3 yang terikat pada Csp2). Catat jika terjadi perbedaan. Atom H dengan
muatan terbesar akan lebih banyak terlibat dalam hiperkonjugasi. Cetak struktur
dengan muatan atomnya dan lampirkan pada lembar laporan.

V.Hasil
Catatanpanjangikatan

CC,

Semuapanjangikatan

Csp3-H

Karbon

Csp3terikatpadaKarbon Csp2 ) Semuasudutantarapusatkarbon Csp2.


Karbokation
t-butil
Sek-butil
n-butil

Panjangikatan C-C

PanjangIkatan Csp3-

(A)
C2-C1 =1,45531
C2-C3 =1,45527
C2-C4 =1,45529
C1-C2 =1,4381
C2-C3 =1,44355
C3-C4 =1,50874
C1-C2 =1,42302
C2-C3 =1,57086
C3-C4 =1,5029

H (A)
C1-H7=1,12367
C1-H6=1,13393
C1-H5=1,2367
C1-H7=1,3274
C1-H5=1,13713
C1-H6=1,12084
C2-H7=1,13011
C2-H8=1,13011

Sudutterhadap Csp2
C1C2C3=119,993
C1C2C4=119,992
C4C2C3=119,995
C1C2C3=123,292
C1C2H8=118,346
C2C1H5=121,444
H5C1H6=117,082

Catatan kerapatan muatan setiap Karbokation


t-butil
C1-H7 =0,201
C1-H6 =0,169
C1-H5 =0,169

Sek-butil
C1-H7 =0,204
C1-H6 =0,160
C1-H5 =0,217
C3-H9 =0,218
C3-H10 =0,197

n-butil
C2-H7 =0,191
C2-H8 =0,191

Catatan panas pembentukan untuk setiap karbokation


Karbokation
t-butil
Sek-butil
n-butil
t-butil

Sek-butil

n-butil

Panaspembentukan
-977,8583
-968,6559
-949,5129

VI.Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk menyelidiki stabilitas beberapa karbokation
dan pengaruh hiperkonjugasi terhadap panjang ikatan dan kerapatan muatan
menggunakan perhitungan semi empiris AM1.
Perhitungan semiempiris AM1 ini lebih mudah dan cepat dalam mengelolah
data perhitungan dibandingkan dengan metode ab initio. Metode ini digunakan
untuk mencari panjang ikatan, sudut ikatan, dan energi ikat dari molekul yang
dianalisis.
Panjang ikatan C-H yang terlibat hiperkonjugasi akan bernilai lebih
besardaripada yang tidak terlibat konjugasi. Hiperkonjugasi akan memanjangan
ikatan C-Hyang ditandai perubahan kerapan elektron pada orbital p. Atom H yang
terlibathiperkonjugasi akan selalu ditarik oleh orbital p kosong. Akibat dari
tarikan ini makaatom H akan lebih menjauh dari atom C dan akan memperpanjang
ikatannya. Muatanpada atom H yang terlibat hiperkonjugasi akan lebih besar
daripada yang tidakmengalami hiperkonjugasi.karena muatan positif pada atom
karbon dipindahkan keatom H yang terlibat hiperkonjugasi.

Hiperkonjugasi akan meningkatkan order ikatan dari ikatan C-C dan


akanberakibat terjadinya pemendekkan ikatan C-C. Panjang ikatan C-C yang

terlibathiperkonjugasi lebih pendek daripada yang tidak terlibat hiperkonjugasi.


Hal inidikarenakan hiperkonjugsi yang melibatkan tumpang tindih antara suatu
ikatandengan orbital p yang kosong yang terdapat pada atom karbon yang
bermuatan positif.Satu ikatan sigma pada gugus alkil selalu sebidang dengan
orbital p kosong padakarbokation. Pasangan elektron pada ikatan sigma ini
disebarkan ke orbital p kosongsehingga menstabilkan atom karbon yang
kekurangan elektron.
Sudut terhadap Csp2 pada karbokation t-butil lebih kecil dibandingkan
padakarbokation sek-butil dan n-butil. Karena pada karbokation sek-butil terjadi
deviasisudut ikatan, dima atom C yang terlibat hiperkonjugasi mengalami tarikkan
sehinggasudutnya menjadi lebih besar dari hibridisasi. Sedangkan untuk atom C
yang tidakterlibat hiperkonjugasi tidak mengalami tarikkan dengan antar atom C.
Berdasarkan pada uji panas pembentukkan ketiga karbokation ini,
dapatdikatakan bahwa karbokation t-butil memiliki panas pembentukan yang
lebih kecildibandingkan dengan sek-butil dan n-butil. Hal ini bekaitan dengan
kestabilankarbokation tersebut. Karbokation t-butil lebih stabil sehingga untuk
menangkapnukleofil membentuk suatu senyawa baru tidak memerlukan energi
yang besar.Sedangkan karbokation n-butil sangat tidak stabil, sehingga nukleofil
sulit untukmasuk kedalam karbokation dan membentuk senyawa baru. Oleh sebab
itu energiyang diperlukan besar.
Berdasarkan pada nilai panas pembentukannya maka dapatdikatakan bahwa
urutan kestabilan karbotion t-butil lebih besar dari sek-butil lebihbesar dari nbutil. Selain itu kestabilan karbokation juga dipengaruhi oleh seberapabanyak
atom karbon yang terlibat dalam hiperkonjugasi. Pada t-butil, ketiga atomkarbon
terlibat dalam hiperkonjugasi. Pada sek-butil yang terlibat hiperkonjugasihanya 2
atom

dan

ada

satu

gugus

alkil

yang

tidak

terlibat

dalam

hiperkonjugasi.Sedangkan pada n-butil hanya satu gugus alkil yang terlibat dalam
hiperkonjugasi.Sehingga pada t-butil pasangan elektron ketiga gugus alkilnya
tumpang tindih denganorbital p yang kosong pada atom C bermuatan positif. Dan
ini juga yang menstabilkanatom karbon yang bermuatan negatif. Sedangkan pada

n-butil hanya 1 gugus alkilyang memberikan pasangan elektronnya untuk


disebarkan pada orbital p kosong danini menyebabkan n-butil sangat tidak stabil.

VII.Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam pecobaan ini yaitu:
1)

Panjang ikatan C-H yang mengalami hiperkonjugasi lebih besar


daripada yang tidakmengalami hiperkonjugasi.

2)

Panjang ikatan C-C yang terlibat hiperkonjugasi lebih kecil daripada


yang tidakmengalami hiperkonjugasi.

3)

Sudut ikatan pada atom C yang terlibat hiperkonjugasi mengalami


deviasi dari sudutikatan hibridisasi.

4)

Berdasarkan panas pembentukan karbokation maka, Urutan kestabilan


karbokation :

t-butil> sek-butil > n-butil.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad,M.Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti Dan Penjelasan Istilah.


Jakarta : Gramedia
Barasella. 2012. Buku Wajib Kimia Dasar. Jakarta: Trans Info Media.
Brady. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bandung : Binarupa
Aksara.
Cotton, Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia, UI-PRESS
Fessenden R.J., dan Fessenden J.S. 1992. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Kealey, D. dan Haines, P.J. 2002. Analytical Chemistry. London: BIOS
ScientificPublishers Ltd.
Stanley. 1988. Kimia OrganikJilid 1. Bandung: ITB PRESS.
Streitwieser. 1985. Introduction to Organic Chemistry EdisiKetiga. New
York : Macmillan Publishing Company.