Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

Contoh Studi Kasus


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Audit Keuangan Negara

Disusun Oleh:
Kelompok 2
Haura Faradina

( 1202112683 )

Indriyani Ika Putri

( 1202154336 )

Mustika Triwahyuni

( 1102136139 )

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Riau

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Karena
dengan izin dan ridho-Nya makalah ini dapat diselesaikan, shalawat dan salam kepada junjungan
kita Rasulullah SAW, semoga kita senantiasa berada dalam keselamatan, Amin.
Kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas Akuntansi Keuangan Negara yang
sedang kami pelajari. Adapun makalah kami yang berjudul CONTOH STUDI KASUS
diharapkan dapat menjadi bacaan tambahan kepada mahasiswa lain yang sedang mempelajari
Akuntansi Keuangan Negara.
Makalah ini disajikan dengan pembahasan yang masih mendasar serta bahasa yang
sederhana tetapi mudah-mudahan dapat dipahami mahasiswa, oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan demi kebaikan makalah ini.
Pada kesempatan ini pula, kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. H. M.
Rasuli, SE., M.Si., Ak., CA selaku dosen pengajar Akuntansi Keuangan Negara serta seluruh tim
penulis yang sudah meluangkan waktunya untuk merampungkan makalah ini.

Pekanbaru, September 2014

Tim Penulis

Kasus 1
PTUN Tangguhkan Keputusan Audit BPKP Kasus Indosat
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)

mengabulkan permohonan provisi mantan

Direktur Utama PT Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto. Dalam putusan provisi, majelis
hakim yang diketuai Bambang Heryanto memerintahkan penundaan pelaksanaan Surat Deputi
Kepala BPKP Bidang Investigasi No.SR-1024/D6/01/2012 sampai ada putusan berkekuatan
hukum tetap.
Surat Keputusan tertanggal 9 November 2012 itu berisi mengenai laporan hasil audit
dalam rangka perhitungan kerugian negara atas dugaan tindak pidana korupsi pembangunan
jaringan frekuensi radio 2.1 GHz/3G oleh PT Indosat Tbk dan IM2. Dari hasil penghitungan,
BPKP menyatakan kerugian negara senilai Rp1,3 triliun
Kuasa hukum Indar, Erick S Paat meminta Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi dan
Tim BPKP yang melaksanakan penghitungan kerugian negara menghormati putusan hakim.
Konsekuensinya, surat itu tidak boleh digunakan dan tidak boleh diapa-apakan dulu. Apalagi
dijadikan sebagai bukti (kerugian negara), katanya, Kamis (7/2).
Erick menjelaskan, dalam pertimbangannya, majelis menganggap penggugat perlu diberi
perlindungan sebelum pemeriksaan memasuki pokok perkara. Majelis juga mengkhawatirkan
dampak terhadap pelaksanaan layanan jasa telekomunikasi (untuk kepentingan publik) apabila
pelaksanaan surat itu tidak ditunda pelaksanaannya.
Selain itu, majelis mempertimbangkan surat-surat yang disampaikan Menkominfo kepada
Kejaksaan Agung dan Joint Statement yang dikeluarkan oleh Masyarakat Telematika Indonesia
(Mastel). Surat-surat tersebut menyatakan tidak ada satu ketentuan pun yang dilanggar dalam
pelaksanaan kerjasama antara IM2 dan Indosat.
Kerjasama penyelanggaraan internet 3G di frekuensi 2.1 GHz antara Indosat dan anak
usahanya IM2 dinyatakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah
sesuai aturan yang berlaku. Untuk menjelaskan dasar aturan, Kemenkominfo telah mengirim
surat resmi kepada Jaksa Agung pada Selasa, 13 November 2012.

Erick mengungkapkan, surat bernomor T684/M.KOMINFO/KU.O4.01/11/2012 itu juga


ditembuskan kepada Presiden, Menkopolhukam, Kepala BPKP, dan Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM). Dalam suratnya, Menkominfo Tifatul Sembiring menyatakan
bentuk kerjasama Indosat dan IM2 telah sesuai peraturan perundang-undangan.
Peraturanan dimaksud adalah Pasal 9 ayat (2) UU No. 36 Tahun 1999 tentang
Telekomunikasi jo Pasal 13 PP No. 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi jo
Pasal 5 Keputusan Menteri Perhubungan No.KM.21/2001 tentang Penyelenggaraan Jasa
Telekomunikasi.
Kabag Humas BPKP Nuri Sujarwati yang diwakili Kasubag Hubungan Antar Lembaga
Hari Wibowo mengaku belum dapat mengomentari putusan provisi itu. Ini timnya yang dari
PTUN baru saja pulang, jadi belum bisa menanggapi. Mungkin besok, setelah saya hubungi
timnya, baru bisa memberikan komentar, ujarnya melalui telepon.
Senada, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Setia Untung Arimuladi juga
belum dapat berkomentar banyak. Menurutnya, Kejaksaan akan melakukan koordinasi dengan
BPKP untuk mengetahui isi lengkap putusan. Setelah mengetahui salinan putusan seperti apa,
baru ditelaah bagaimana konsekuensi dari putusan tersebut.
Gugatan intervensi
Erick menuturkan, selain mengabulkan permohonan provisi, majelis PTUN juga
menerima Indosat dan IM2 sebagai penggugat intervensi. Majelis berpendapat Indosat dan IM2
memiliki kepentingan untuk mengintervensi gugatan karena kedua perusahaan itu yang diaudit
BPKP. Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda replik.
Sembari pemeriksaan memasuki pokok perkara, Erick meminta para penggugat
menindaklanjuti putusan provisi. Para penggugat dimaksud adalah Deputi Kepala BPKP Bidang
Investigasi dan Tim BPKP yang menghitung kerugian negara dalam perkara dugaan tindak
pidana korupsi penggunaan jaringan frekuensi 2,1 GHz Indosat dan IM2.
Gugatan Indar didaftarkan ke PTUN pada 9 Januari 2013. Indar, Indosat, dan IM2
meminta majelis membatalkan surat yang ditandatangani Deputi Kepala BPKP Bidang

Investigasi No.SR-1024/D6/01/2012 tanggal 9 Nopember 2012 perihal laporan hasil audit dalam
rangka perhitungan kerugian negara kasus Indosat dan IM2.
Selain itu, majelis diminta membatalkan Surat BPKP terkait Laporan Hasil Audit Tim
BPKP atas perhitungan kerugian keuangan negara dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi
penggunaan jaringan frekuensi 2,1 GHz /3G oleh Indosat dan IM2. Dalam surat tanggal 31
Oktober 2012 itu, BPKP menyatakan kerugian negara Rp1,3 triliun.
Analisa:
Adanya Kecurangan dalam audit BPKP di dalam perjanjian tersebut dan pihak dari
indosat mengalami kerugian negara sekitar 1,3 triliun akibat korupsi di pihak indosat dan hal ini
harus di tidak lanjuti di jalur hukum
Saran:
Selalu perhatikan audit di setiap perjanjian proyek dan teliti supaya tidak ada pihak yang
di korupsi, hukum di indonesia harus tegas dalam menghadapi perkara korupsi.

Kasus 2
Kasus audit BI atas aliran dana YPPI
Deskripsi Singkat
Kasus audit BI atas aliran dana YPPI merupakan salah satu kasus keuangan paling
controversial pada tahun 2008, tim IT indonesia meneliti adanya penyimpangan yg dilakukan
para petinggi negeri ini. terutama karena melibatkan serentetan nama anggota dewan gubernur
BI dan anggota DPR terkemuka. Sebagai hasil dari laporan BPK, kasus aliran dana YPPI kini
telah terangkat ke meja hijau.
Dalam kasus ini tim IT dibuat kebingungan karena sampai tidak mengetahui adanya
penyimpangan tersebut.
Kasus Aliran dana YPPI atau YLPPI adalah murni temuan tim audit BPK. Tim
tersebutlah yang menentukan rencana kerja, metode, teknik pemeriksaan, analisis maupun
penetapan opini pemeriksaan kasus tersebut sesuai dngan standar pemeriksaan yang berlaku.
Perintah pemeriksaan BI dan YPPI ini dikeluarkan oleh Anggota Pembina Keuangan Negara II
(Angbintama II) dan Kepala Auditorat Keuangan Negara II (Tortama II) yang membawahi
pemeriksaan BI. Selama periode bulan Februari hingga Mei 2005, Tim Audit BPK melakukan
pemeriksaan atas Laporan Keuangan BI Tahun 2004. Tim Audit BPK juga memeriksa Yayasan
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (YLPPI) yang berdiri pada tahun 1977, karena
afiliasi lembaganya dengan BI.
Pada bulan Maret 2005, Tim Audit BPK di BI menemukan adanya asset/tanah BI yang
digunakan oleh YLPPI. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut oleh Kantor Akuntan Publik
Muhammad Thoha atas perbandingan kekayaan YLPPI per 31 Desember 2003 dengan posisi
keuangannya per Juni 2003, diketahui adanya penurunan nilai asset sebesar Rp 93 miliar.

Kronologis

Pada bulan Maret 2005, Tim Audit BPK menemukan bahwa terdapat aset/ tanah yang
digunakan oleh YLPPI. BI juga menyediakan modal awal YLPPI, memberikan bantuan

biaya operasionalnya serta mengawasi manajemennya.


Berkaitan dengan dibuatnya peraturan tahun 1993 tentang penggunana asset/tanah oleh
YLPPI serta hubungan terafiliasi antara YLPPI dengan BI, maka Tim Audit BPK

meminta laporan keuangannya agar dapat diungkapkan dalam Laporan Keuangan BI


Dari perbandingan kekayaan YLPPI per 31 Desember 2003 dengan posisi keuangannya
per Juni 2003, diketahui adanya penurunan nilai aset sebesar Rp 93 miliar (Informasi
mengenai kekayaan YPPI per 31 Desember 2003 ini diperoleh dari Laporan

Keuangannya yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Mohammad Toha)


Juni 2005-Oktober 2006: Tim Audit BPK melakukan pendalaman dengan kasus dengan
menetapkan sendiri metode, teknik, objek pengungkapan kasus, analisis, serta penetapan

opini pemeriksaan.
Mei 2005: Tim Audit BPK melaporkan kasus Aliran Dana YPPI kepada Ketua BPK,
Anwar Nasution.

Temuan Penyimpangan
1. Manipulasi pembukuan, baik buku YPPI maupun buku Bank Indonesia. Pada saat
perubahan status YPPI dari UU Yayasan Lama ke UU No 16 Tahun 2001 tentang
Yayasan, kekayaan dalam pembukuan YPPI berkurang Rp 100 miliar. Jumlah Rp 100
miliar ini lebih besar dari penurunan nilai aset YPPI yang diduga semula sebesar Rp 93
miliar. Sebaliknya, pengeluaran dana YPPI sebesar Rp 100 miliar tersebut tidak tercatat
pada pembukuan BI sebagai penerimaan atau utang.
2. Menghindari Peraturan Pengenalan Nasabah Bank serta UU tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang. Dimana dana tersebut dipindahkan dulu dari rekening YPPI di berbagai
bank komersil, ke rekening yang terdapat BI, baru kemudian ditarik keseluruhan secara
tunai.
3. Penarikan dan penggunaan dana YPPI untuk tujuan berbeda dengan tujuan pendirian
yayasan semula. Ini bertentangan dengan UU Yayasan, dan putusan RDG tanggal 22 Juli

2003 yang menyebutkan bahwa dana YPPI digunakan untuk pembiayaan kegiatan sosial
kemsyarakatan.
4. Penggunaan dana Rp 31,5 miliar yang diduga untuk menyuap oknum anggota DPR.
Sisanya, Rp 68,5 miliar disalurkan langsung kepada individu mantan pejabat BI, atau
melalui perantaranya. Diduga, dana ini digunakan untuk menyuap oknum penegak
hukum untuk menangani masalah hukum atas lima orang mantan Anggota Dewan
Direksi/ Dewan Gubernur BI. Padahal, kelimanya sudah mendapat bantuan hukum dari
sumber resmi anggaran BI sendiri sebesar Rp 27,7 miliar. Bantuan hukum secara resmi
itu disalurkan kepada para pengacara masing-masing. Dan dana Rp 68,5 miliar
Dasar Pengambilan Dana YPPI
Keputusan Rapat Dewan Gubernur BI (RDG) tanggal 3 Juni 2003menetapkan agar
Dewan Pengawas YLPPI menyediakan dana sebesar Rp 100 milar untuk keperluan
insidentil dan mendesak di BI
Salah satu dari dua RDG yang dilakukan tanggal 22 Juli 2003 adalah menetapkan
pembentukan Panitia Pengembangan Sosial kemasyarakatan (PPSK) untuk melakukan
penarikan, penggunaan dan penatausahaan dana yang diambil dari YPPi tersebut.PPSK
dibentuk untuk melakukan berbagai kegiatan dalam rangka membina hubungan social
kemayarakatan.
RDG yang kedua dilakukan pada tanggal 22 Juli 2003 menetapkan agar BI mengganti
atau mengembalikan dana Rp 100 miliar yang diambilnya dari YPPI.
Analisa Penanganan Kasus
Menurut saya : Ketua BPK, Anwar Nasution (AN) memanggil Gubernur BI,
Burhanuddin Abdullah (BA). AN meminta yang bersangkutan untuk dapat menyelesaikan kasus
tersebut dengan baik agar tidak menimbulkan gejolak politik maupun mengganggu karirnya
sendiri atau karir semua pihak yang terkait.
kedua : Ketua BPK memberikan himbauan yang sama pada Paskah Suzetta (PS). Kala itu, PS
menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI dan kemudian diangkat menjadi Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Dan seharusnya Ketua BPK, AN, menyarankan untuk dapat menyelesaikan kasus Aliran
Dana YPPI sesuai dengan aturan hukum, termasuk UU tentang Yayasan dan sistem pembukuan
BI sendiri.
Saran AN secara spesifik adalah:
Agar seluruh uang YPPI dapat dikembalikan
Agar pembukuan YPPI dapat dikoreksi kembali
Toleransi yang diberikan AN:
Memberikan jangka waktu penyelesaian oleh BI yang sama dengan tenggang waktu yang
diperlukan Tim Audit BPK untuk mendalami kasus YPPI, termasuk melengkapi data dan
bukti.
Bila uang YPPI dikembalikan dan pembukuannya dikoreksi, AN akan menulis surat
kepada penegak hukum bahwa tidak ada lagi kerugian negara.
Toleransi AN ini tidak dpenuhi oleh para pihak tergugat.

Sumber :
http://auditit50.blogspot.com/2012/11/studi-kasus.html

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51146fd402aef/ptun-tangguhkan-keputusan-auditbpkp-kasus-indosat
http://iwanasmadi.blogspot.com/2013/04/kasus-audit-bi-bank-indonesia.html