Anda di halaman 1dari 3

Discharge planning

Pemberian informasi pada klien dan keluarga tentang:


f. Obat: beritahu klien dan kelurga tentang daftar nama obat dosis, waktu pemberian obat.
Jangan mengonsumsi obat-obatan tradisional dan vitamin tanpa instruksi dokter. Konsumsi
obat secara teratur. Jika merasakan ada efek samping dari obat segera cek ke rumah sakit.
Perhatikan aktivitas ketika selesai meminum obat yang memiliki efek samping mengantuk.
g. Diet: pertahankan diet seperti yang dianjurkan dokter seperti mengonsusmsi makanan
tinggi kalori dan rendah protein. Banyak mengonsumsi makanan rendah natrium dan kalium.
Kelurga harus memperhatikan benar-benar pola makan klien. Minumlah banyak-banyak
cairan. Jangan membiasakan diri untuk menahan buang air kecil. Pertahankan berat badan
normal. Timbang berat badan secara teratur. Hindari minuman alkhohol termasuk bir, anggur,
wiski dan minuman keras lainnya.
h. Latihan: Melatih membuat jantung lebih kuat, menurunkan tekanan darah, dan membantu
membuat klien tetap sehat. Cara terbaik untuk mulai berolahraga perlahan-lahan dan lakukan
lebih berat untuk membuat klien lebih kuat. Lakukan beberapa kegiatan yang sudah
dijadwalkan bersama dokter dan perawat secara rutin.
Penyerahan home care dibuat sebelum klien pulang. Informasi tentang klien dan
perawatannya diberikan kepada agen tersebut. Seperti informasi tentang jenis
pembedahan, pengobatan (termasuk kebutuhan terapi cairan IV di rumah),
status fisik dan mental klien, factor social yang penting (misalnya kurangnya
pemberi perawatan, atau tidak ada pemberi perawatan) dan kebutuhan yang
diharapkan oleh klien. Transportasi harus tersedia pada saat ini
5. Evaluasi
Evaluasi terhadap discharge planning adalah penting dalam membuat kerja
proses discharge planning. Perencanaan dan penyerahan harus diteliti dengan
cermat untuk menjamin kualitas dan pelayanan yang sesuai. Evaluasi berjalan
terus-menerus dan membutuhkan revisi dan juga perubahan.
Evaluasi lanjut dari proses pemulangan biasanya dilakukan seminggu setelah
klien berada di rumah. Ini dapat dilakukan melalui telepon, kuisioner atau
kunjungan rumah (home visit).
Keberhasilan program rencana pemulangan tergantung pada enam variabel:
a. Derajat penyakit
b. Hasil yang diharapkan dari perawatan
c. Durasi perawatan yang dibutuhkan
d. Jenis-jenis pelayanan yang diperlukan
e. Komplikasi tambahan
f. Ketersediaan sumber-sumber

1. Melakukan penkes pada pasien HD dan keluarga


1. Dalam penkes pasien dan keluarga di berikan pendidikan kesehatan
mengenai pembatasan diet dan rasionalisasinya diantaranya adalah
:
1)

Protein

Pasien dan keluarganya harus dapat mengetahui sumber protein nilai biologi
tinggi (HBV= high biologi value) dan protein nilai biologic rendah (LBV = Low
biologic value). Makanan berikut ini memberikan sekitar 7 g protein HBV : 28,3 g
daging, ikan dan ayam , 1 telur 206,5 ml susu full cream, rendah lemak, skim.
Sedangkan sereal, roti, sayuran , leguminosa merupakan sumber utama protein
LBV. Individu yang makan sekitar 34 g protein HBV dan 11 g protein LBV per hari,
ini sebanding dengan 141,5 g daging, 3 iris roti ( 2 g protein per iris ), 3 penukar
sayuran ( 1 g protein persajian ) dan 2 penukar buah-buahan ( 0,5 g protein
persajian).
Untuk memenuhi sumber kalori dengan minimal protein, pasta dan produk roti
rendah protein di jual secara komersial.
Kilokalori. Lemak sebagai mentega atau margarin tidak asin dan minyak goring,
dan karbohidrat sederhana seperti gula pasir, selai, sirup, jelly bean ( selai
kacang ) dan es batangan yang banyak di gunakan sebagai sumber kalori karena
tidak mengandung atau sedikit sekali mengandung natrium, kalium dan protein.
Walaupun demikian, hiperglikemia adalah pada pasien dengan gagal ginjal.
Individu dengan hiperkolesteromia harus menggunakan minyak dan margarin
yang unsur utamanya yaitu minyak safflower, Bungan matahari, jagung kacang
kedelai atau biji kapas, daging kurus, ikan, ayam yang sudah di lepas kulitnya
dan produk susu skim.individu dengan hipertrigliseridemia harus mengurangi
pemasukan karbohidrat sederhananya. Pemasukan lemaknya harus setinggi 35
% dari total kalori yang di perlukan ( dibandingkan orang sehat dianjurkan
sekitar 30%), karena makanan tinggi arbohidrat akan memperburuk
hipertrigliseridemia. Jika hyperlipidemia tidak memberikan respon perbaikan
dengan perubahan diet ini, maka diperlukan modifikasi lebih ketat untuk
mengontrol penyakit jantung bila diperlukan.
Natrium. Makanan tinggi natrium terdapat dalam bab penyakit jantung tentang
makanan yang harus dihindari pada pembatasan natrium. Beberapa pasien yang
mendapat dialysis tidk perlu menghindari makann ini, tapi bagi individu dengan
retensi cairan, edema, dan hipertensi perlu menghindari makann tersebut.
Substitusi garam juga jarang digunakan karena mengandung tinggi kalium.
Banyak obat yaitu antacid kecuali (magaldrat), aspirin, obat batuk, dan pencahar
adalah tinggi natrium. Pasien harus menghindari produk-produk ini.
Kalium. Sumber dari daging produk susu, buah-buahan, dan sayuran. Pemasukan
kalium dapat dikurangi dengan memilih buah-buahan dan sayuran kaleng,

ditiriskan (yang diproses tanpa garam) daripada buahan atau sayuran segar atau
beku.
Cairan. Pasien dan keluarga harus belajar engukur berat badan dan memeriksa
setiap hari adanya edema, terutama pada ekstremitas inferior di sekeliling mata.
Makanan yang dalam bentuk cairan pada suhu kamar harus dihitung sebagai
cairan yang masuk. Gelatin dapat dihitung 100% air, dan es krim sekitar 33%
adalah air, es buah dan serbet sekitar 50% adalah air, dan custard sekitar 75%
adalah air.

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC