Anda di halaman 1dari 6

Tugas Pengganti Respon

Praktikum Kimia Fisika II

Aplikasi Percobaan 8 Pada Kehidupan Sehari-hari:


Kelarutan Sebagai Fungsi Temperatur

Oleh :
1.
2.
3.
4.

Mona Maulina Arief


Rahma Diana Yulistiah
M. Reza Aldinata
Pitri Yanti

(03121403026)
(03121403028)
(03121403030)
(03121403032)

Kelompok 4
Shift A

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013/2014
Kelarutan sebagai Fungsi Suhu

Yang dimaksud dengan kelarutan dari suatu zat dalam suatu pelarut adalah banyaknya
suatu zat yang dapat larut secara maksimum dalam suatu pelarut pada kondisi tertentu.
Biasanya dinyatakan dalam satuan mol/ liter. Jadi bila batas kelarutan tercapai, maka zat yang
dilarutkan itu dalam batas kesetimbangan, artinya bila zat terlarut ditambah, maka akan
terjadi larutan yang belum jenuh. Dan kesetimbangan tergantung pada suhu pelarutan.
(Hoedijono, 1990).
Dua komponen dalam larutan adalah solute dan solvent. Solute adalah substansi yang
terlarut. Sedangkan solvent adalah substansi yang melarutkan, contoh sebuah larutan NaCl.
NaCl adalah solute dan air adalah solvent. Dari ketiga materi, padat, cair dan gas, sangat
dimungkinkan untuk memiliki semblan tipe larutan yang berbeda: padat dalam padat, padat
dalam cairan, padat dalam gas, cairan dalam cairan, dan sebagainya. Dari berbagai macam
tipe ini larutan yang lazim kita kenal adalah padatan dalam cairan, cairan dalam cairan, gas
dalam cairan, dan gas dalam gas.
(Yazid. Estien, 2005)
Pada larutan jenuh terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat
yang tidak terlarut. Dalam kesetimbangan ini kecepatan melarut sama dengan kecepatan
mengendap, yang berarti konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Proses
kesetimbangan ini akan bergeser apabila dilakukan suatu perubahan yang dikenakan pada
sistem tersebut (Supeno, 2006.). Larutan jenuh merupakan larutan dimana zat terlarutnya
(molekul atau ion) telah maksimum pada suhu tertentu. Untuk zat elektrolit yang sukar larut,
larutan jenuhnya dicirikan oleh nilai Ksp. Nilai Ksp pada suhu 250 C telah di daftar. Jika
larutan mengandung zat terlarutnya melebihi jumlah maksimum kelarutannya pada suhu
tertentu, maka dikatakan bahwa larutan telah lewat jenuh.
(Mulyono,2005)
Suatu substansi dapat dikelompokkan sangat mudah larut, dapat larut (Moderately
Soluble), sedikit larut (Slightly Soluble), dan tidak dapat larut. Beberapa variabel, misalnya
ukuran ion-ion, muatan dari ion-ion, interaksi atara ion-ion, interaksi antara solute dan
solvent, temperature, mempengaruhi kelarutan. Kelarutan dari solute relatif mudah diukur
melalui percobaan. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kelarutan antara lain:
1.

Sifat alami dari solute dan solvent


Substansi polar cenderung lebih miscible atau soluble dengan substansi polar lainnya.
Substansi non polar cenderung untuk miscible dengan substansi nonpolar lainnya, dan
tidak miscible dengan substansi polar lainnya.

2. Efek dari temperature terhadap kelarutan

Kebanyakan zat terlarut mempunyai kelarutan yang terbatas pada sejumlah solvent
tertentu dan pada temperatur tertentu pula. Temperature dari solvent memiliki efek yang
besar dari zat yang telah larut. Untuk kebanyakan padatan yang terlarut pada liquid,
kenaikkan temperatur akan berdampak pada kenaikkan kelarutan (Solubilitas).
3. Efek tekanan pada kelarutan
Perubahan kecil dalam tekanan memiliki efek yang kecil pada kelarutan dari padatan
dalam cairan tetapi memiliki efek yang besar pada kelarutan gas dalam cairan. Kelaruatn
gas dalam cairan berbanding langsung pada tekanan dari gas diatas larutan. Sehingga
sejumlah gas yang terlarut dalam larutan akan menjadi dua kali lipat jika tekanan dari gas
diatas larutan adalah dua kali lipat.
4. Kelajuan dari zat terlarut
a.

Ukuran partikel

b.

Temperatur dari solvent

c.

Pengadukan dari larutan

d.

Konsentrasi dari larutan

(Sukardjo, 1997)
Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan
bahan lain dalam larutan itu,dan pada komposisi pelarutnya. Perubahan kelarutan dengan
tekanan tak mempunyai arti penting yang praktis dalam anlisis anorganik kualitatif, karena
semua pekerjaan dilakukan dalam bejana terbuka pada tekanan atmosfer; perubahan yang
sedikit dari tekanan atmosfer tak mempunyai pengaruh yang berarti atas kelarutan.Terlebih
penting adalah perubahan kelarutan dengan suhu. Umumnya dapat dikatakan bahwa
kelarutan endapan bertambah besar dengan kenaikan suhu ,meskipun dalam beberapa hal
yang istimewa (seperti kalium sulfat) terjadi hal yang sebaliknya. Laju kenaikan dengan suhu
berbeda-beda dalam beberapa hal sangat kecil sekali dalam hal-hal lainnya sangat besar.
Efek panas dalam pembentukkan larutan dapat digunakan dalam penerapan prinsip
Le-Chateliers untuk menghitung efek temperatur pada kelarutan. Dengan menggunakan
terminologi dari termodinamika, bahwa kandungan panas atau entalpi dari sistem telah
meningkat sesuai dengan jumlah energi termal. Perunahan entalpi untuk proses diberikan
dengan menggurangi entalpi akhir sistem dengan entalpi mula-mula.
Secara umum H positif untuk setiap perubahan perubahan makroskopik yang terjadi
pada tekanan konstan ika energi panas mengalir dalam sistem saat perubahan terjadi dan

negatif jika penas mengalir keluar. Proses dimana entalpi dalam sistem meningkat disebut
proses endotermik. Sedangkan entalpi yang mengalami penurunan disebut eksotermik.
Pembentukkan apakah larutan itu eksotermik atau endotermik tergantung pada temperatur
dan sifat alamiah dari solute dan solvent. Untuk memprediksi efek dari perubahan temperatur
kita dapat menggunakan prinsip Le-Chateliers sangatlah diperlukan untuk memperhitungkan
perubahan entalpi untuk proses pelarutan dari kondisi larutan yang jenuh. Entalpi molar dari
larutan (H1) sebagai jumlah kalori dari energi panas yang seharusnya tersedia (H1 positif)
ataupun yang seharusnya dipindahkan (H1 negatif) untuk menjaga agar temperatur tetap
konstan yang dimana didalamnya terdapat salah satu mol zat terlarut dalam volume yang
sangat besar yang mendekati larutan jenuh untuk menghasilkan larutan jenuh.
Jika entalpi dari larutan adalah negatif, peningkatan temperatur menyebabkan
penurunan kelarutan. Kebanyakan padatan solute memiliki entalpi positif dari larutan
sehingga kelarutan mereka meningkat sesuai dengan kenaikan temperatur. Hampir semua
perubahan kimia merupakan proses esotermik ataupun prosen endotermik. Kebanyakan,
tetapi tidak semua reaksi yang terjdi secara langsung/ spontan adalah reaksi eksotermik
(Maron Lando, 1974).

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut,
juga bergantung pada factor temperatur. Tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih
kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Kelarutan dapat digambarkan secara benar
dengan menggunakan aturan fase Gibbs, yaitu :
F=CP+2
Dimana F adalah jumlah derajat kebebasan, yaitu jumlah variable bebas (biasanya
temperatur, tekanan, dan konsentrasi) yang harus ditetapkan untuk menentukan system secara
sempurna. C adalah jumlah komponen terkecil yang cukup untuk menggambarkan komposisi
kimia dari setiap fase, dan P adalah jumlah fase.
Aturan fase ini berguna untuk menghubungkan pengaruh dari jumlah terkecil variable
bebas (misalnya temperatur, tekanan, dan konsentrasi). Pada berbagai fase (padat, cair, dan
gas) yang dapat berada dalam system kesetimbangan yang berisi komponen dalam jumlah
tertentu. Suatu larutan lewat jenuh merupakan kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan itu
akan dapat bergeser bila suhu dinaikkan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan

bertambah bila suhu dinaikkan, karena umumnya proses pelarutan bersifat endotermik. Akan
tetapi ada zat yang sebaliknya, yaitu eksotermik dalam melarut seperti Ce2 (SO4)3
Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan
itu dapat dipakai untuk memisahkan campuran dua zat atau lebih dengan cara rekristalisasi
bertingkat. Jika kelarutan zat padat bertambah dengan kenaikan suhu, maka kelarutan gas
berkurang bila suhu dinaikkan, katrena gas menguap dan meninggalkan pelarut.
Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda-beda antara yang satu dengan yang
lainnya. Tetapi pada umumnya kelarutan zat padat dalam cairan bertambah dengan naiknya
suhu, karena kebanyakan proses pembentukan larutannya bersifat endoterm. Sebagai
perkecualian ada beberapa zat yang kelarutannya menurun dengan naiknya suhu seperti
serium sulfat dan natrium sulfat, karena proses pelarutannya bersifat eksoterm, bahkan ada
zat yang hamper tidak dipengaruhi oleh suhu seperti natrium klorida.
Aplikasi Kelarutan dalam Kehidupan Sehari - hari
Aplikasi kelarutan sebagai fungsi temperatur banyak dimanfaatkan dalam bidang industri.
Perbedaan kelarutan dengan suhu yang berlainan ini dapat dimanfaatkan untuk memurnikan
zat dari kotoran kotoran hasil samping suatu reaksi dengan cara rekristalisasi bertingkat.
Pada cara ini zat yang masih bercampur dengan pengotor dilarutkan dalam sedikit pelarut
panas, dimana pengotor lebih mudah larut daripada zat yang akan dimurnikan. Setelah larutan
dingin kotoran akan tertinggal dalam larutan zat murni akan memisah sebagai endapan.
Kristal murni yang dihasilkan lalu disaring dan dikeringkan.
Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat dilihat pada peristiwa sederhana yang terjadi
pada kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam air. Gula yang dilarutkan ke dalam air
panas, dan satu lagi dilarutkan ke dalam air dingin, maka gula yang akan lebih cepat larut
pada air panas karena semakin besar suhu semakin besar pula kelarutannya. Aplikasi lainnya
yaitu pada bidang industri pada pembuatan reactor kimia, pada proses pemisahan dengan cara
pengkristalan integral, selain itu juga dapat digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses
pembuatan grandul-grandul pada industri baja.
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H 2C2O4 dengan nama
sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat ini biasa digambarkan dengan rumus HOOCCOOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat daripada asam
asetat. Di-anionnya, dikenal sebagai oksalat, juga agen pereduktor. Banyak ion logam yang
membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah kalsium oksalat
(CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan.

Adapun kegunaan asam oksalat antara lain sebagai bahan pencampur zat warna dalam
industri tekstil dan cat, menetralkan kelebihan alkali pada pencucian dan sebagai bleaching,
kebutuhannya sampai sekarang masih didatangkan dari luar negeri. Asam oksalat digunakan
untuk menghilangkan karat dan pereaksi pada pembuatan warna. Asam oksalat merupakan
salah satu bahan baku yang dibutuhkan pada industri, yang mempunyai kegunaan lain
sebagai berikut :
_ Sebagai bahan pelapis yang melindungi logam dari kerak.
_ Menetralkan kelebihan alkali pada pencucian dan sebagai bleching.
_ Bahan pencampur zat warna dalam industri tekstil dan cat.
_ Sebagai inisiator dalam pabrik polimer.
Aplikasi kelarutan sebagai fungsi suhu dalam industi adalah pada pembukaan reactor
kimia, pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan integral. Selain iti juga dapat
digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses pembuatan granul-granul pada industri baja.
Dan selain itu dalam industry kelarutan sebagai fungsi suhu juga sangat bermanfaat pada saat
mendapat sebuah garam dari air laut dengan cara memenaskannya atau dengan menjemur
dibawah trik matahari sehingga garam dapat mengendap dan mulai kelarutannya akan
berkurang. Aplikasi kelarutan sebagai fungsi suhu juga banyak dimanfaatkan dalam bidang
industri. Perbedaan kelarutan dengan suhu yang berlainan ini dapat dimanfaatkan untuk
memurnikan zat dari kotoran kotoran hasil samping suatu reaksi dengan cara rekristalisasi
bertingkat. Pada cara ini zat yang masih bercampur dengan pengotor dilarutkan dalam sedikit
pelarut panas, dimana pengotor lebih mudah larut daripada zat yang akan dimurnikan. Setelah
larutan dingin kotoran akan tertinggal dalam larutan zat murni akan memisah sebagai
endapan. Kristal murni yang dihasilkan lalu disaring dan dikeringkan.