Anda di halaman 1dari 26

ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK

1. Alat Ukur
1.1 Listrik
Kebesaran listrik seperti arus, tegangan, daya dan sebagainya tidak dapat secara langsung
kita tanggapi dengan panca indera kita. Untuk memungkinkan pengukuran maka kebesaran listrik
DC maupun AC ditransformasikan melalui suatu phenomena yang akan memungkinkan pengamatan
melalui panca indera kita; misalnya kebesaran listrik seperti tegangan, arus, resistansi, daya, faktor
kerja, dan frekuensi ditransformasikan melalui suatu phenomena fisis ke dalam kebesaran mekanis atau
elektrik.
Awalnya dipakai alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum dan mem- baca
dari skala. Sampai saat ini alat ukur analog masih tetap digunakan karena handal, ekonomis, dan
praktis. Alat ukur ini sering disebut alat ukur kumparan putar. (Gambar 1.a). sedangkan sekarang
sudah banyak dipakai alat ukur listrik digital, karena harganya makin terjangkau, praktis dalam
pemakaian, dan penunjukannya makin akurat dan presisi dan hasilnya tinggal membaca pada layar
display (Gambar 1.b).
Pada umumnya dalam satu alat ukur listrik dapat digunakan untuk mengukur beberapa besaran,
misalnya tegangan AC dan DC, arus listrik DC dan AC, resistansi sering kita sebutn Multimmeter.
Untuk kebutuhan praktis alat ukur dipakai alat ukur tunggal, misalnya untuk mengukur
tegangan saja, atau daya listrik saja.

Pada umumnya satu alat ukur mempunyai banyak fungsi sering di sebut Multimete r yang
memiliki tiga fungsi pengukuran, yaitu
1.

Voltmeter untuk tegangan AC dengan batas ukur 0-500 V, pengukuran tegangan DC dengan
batas ukur 0-0,5 V dan 0-500 V.

2.

Ampermeter untuk arus listrik DC dengan batas ukur 0-50 A dan 0-15 A, pengukuran arus
listrik AC 0-15 A.

3.

Ohmmeter dengan batas ukur dari 1 - 1M.


1

1.2. Alat Ukur Kumparan Putar


Yang dimaksudkan dengan "alat ukur kumparan putar", adalah alat pengukur, yang
bekerja atas dasar prinsip adanya suatu kumparan listrik, yang ditempatkan pada medan magnit,
yang berasal dari suatu magnit yang permanen. Arus yang dialirkan melalui kumparan akan
menyebabkan kumparan tersebut berputar. Alat ukur kumparan putar adalah alat ukur penting
yang dipakai untuk bermacam arus, tidak hanya untuk arus searah, akan tetapi dengan alat-alat
pertolongan lainnya, dapat pula dipakai untuk arus bolak balik. Pemakaian dari alat ukur kumparan
putar adalah sangat luas, mulai dari alat-alai ukur yang ada di laboratorium sampai pada alat ukur
yang ditempatkan di dalam pusat-pusat pembangkit listrik. Alat ukur yang dimaksudkan ini
dipergunakan sebagai alat ukur untuk kebesaran arus maupun tegangan.

Gambar. 2 Prinsip alat ukur besi putar


Alat ukur besi putar memiliki anatomi yang berbeda dengan kumparan putar. Sebuah belitan
kawat dengan rongga tabung untuk menghasilkan medan elektromagnetik (Gambar. 2).
Di dalam rongga tabung dipasang sirip besi yang dihubungkan dengan poros dan jarum
penunjuk skala meter. Jika arus melalui belitan kawat, timbul elektromagnetik dan sirip besi akan
bergerak mengikuti hukum tarik-menarik medan magnet.
Besarnya simpangan jarum dengan kuadrat arus yang melewati belitan skala meter bukan
linear tetapi jaraknya angka non-linear. Alat ukur besi putar sederhana bentuknya dan cukup handal.
1.3 Prinsip Kerja
Lihat Gbr. 3-1. Bila pemutus arus K ditutup yang memungkinkan arus searah yang konstan
melalui alat ukur amper maka jarum penunjuk akan bergerak melalui posisi 1, 2, 3, dan
berhenti pada 4, seperti pada Gbr. 3-2. Pada saat ini akan dijelaskan dulu apa yang dimaksudkan
dengan "sudut akhir dari rotasi" dari pada jarum penunjuk.

Gbr. 3-1 Alat ukur jenis kumparan putar.

Gbr. 3-3, diperlihatkan adanya magnit yang permanen (1), yang mempunyai kutub-kutub
(2), dan di antara kutub-kutub tersebut ditempatkan suatu silinder inti besi (3). Penempatan silinder
inti besi (3) tersebut di atas ini, di antara ke dua kutub magnit, Utara dan Selatan, akan
menyebabkan bahwa, di celah udara antara kutub-kutub magnit dan silinder inti besi akan terbentuk
medan magnit yang rata, yang masuk melalui kutubkutub tersebut ke dalam silinder, secara radial
sesuai dengan, arah-arah panah. Dalam celah udara, ini ditempatkan kumparan putar (4), yang
dapat berputar melalui sumbu (8). Bila arus searah yang tidak diketahui besarnya mengalir melalui
kumparan tersebut, suatu gaya elektromagnitis f yang mempunyai arah tertentu akan
dikenakan pada kumparan putar, sebagai hasil interaksi antara arus dan medan magnit. Arah dari
gaya f dapat ditentukan menurut ketentuan tangan dari Fleming (lihat Gbr. 1-4). Besar dari gaya
ini akan dapat diturunkan dengan mudah. Nyatakanlah besar medan magnit dalam celah udara
sebagai B, panjang kumparan sebagai a, dan lebar kumparan sebagai b. Momen putar Td, dapat
dinyatakan sebagai :

Td Bnab I

n menyatakan banyaknya lilitan dari kumparan putar.


Pada setiap ujung dari pada sumbu (8), ditempatkan pegas yang salah satu ujungnya melekat
padanya, sedangkan ujung yang lain pada dasar yang tetap. Setiap pegas akan memberikan gaya
reaksinya yang berbanding lurus dengan besar sudut rotasi dari sumbu, dan berusaha untuk
menahan perputaran. Jadi dengan kata lain, pegas membe rikan pada sumbu moment Tc, yang
berlawanan arahnya dengan Td,. Bila konstanta pegas dinyatakan sebagai maka besar Tc, dapat
dinyatakan sebagai:
Tc =

3.1

Bila sumbu (8) dan pula kumparan putar (4), berputar melalui sudut akhir sebesar 0, maka
dalam keadaan seimbang ini T d = T c , sehingga terdapat persamaan sebagai berikut :

o = B n a b I
0

3.2

BnabI

3.3

Dengan demikian maka sudut akhir o dari putaran sumbu yang menjadi pula tempat melekat
penunjuk (6), ditentukan oleh persamaan (1-3). Kebesaran-kebesaran (Bnab/ ) disebut sebagai
konstanta alat ukur.
Pada umumnya, momen seperti T d disebut momen penggerak, dan alat yang
menyebabkannya dikenal sebagai alat penggerak. Sedangkan momen Tc disebut momen pengontrol.
Dengan berpegang kepada pengertian-pengertian ini, maka harga sudut rotasi akhir dari
penunjuk, pada alat pengukur kumparan putar, ditentukan oleh hubungan antara momen
penggerak dan momen pengontrol, dan dinyatakan dalam persamaan (3-3).
1.4 Cara Menentukan Skala
Cara penentuan skala alat ukur kumparan putar akan dijelaskan melalui suatu grafik, yang
menghubungkan persamaan antara sudut putar dan momen penggerak T. Sumbu horizontal
menyatakan sudut putar , dan sumbu vertical momen seperti dinyatakan pada Gbr. 4-1.
Misalkan suatu alat pengukur kumparan putar berputar melalui sudut sebesar 1,2 radial bila
arus searah yang melaluinya adalah sebesar 5 mA. Bila momen-momen penggerak yang
disebabkan oleh arus-arus sebesar 1, 2, 3, 4, dan 5 mA dinyatakan sebagai T D1, T D2 T D3 T D4 dan
T D5 , maka momen-momen tersebut pada Gbr. 4-1 dapat digambarkan sebagai garis-garis
datar dan berjarak sama satu dan lainnya.

Ingat bahwa momen-momen penggerak tersebut hanya ditentukan oleh besarnya arus, dan
tidak tergantung dari sudut putar dari penunjuk. Momen pengontrol berbanding lurus dengan
besar sudut putar, dan digambarkan dalam grafik sebagai garis lurus yang menghubungkan
titik mula dengan A. Bila sudut perputaran dari penunjuk dalam keadaan keseimbangan antara
momen penggerak dan momen pengontrol, pada masing-masing momen penggerak dinyatakan
sebagai 1 , 2 , 3 , 4 , 5 , maka didapat 1 , = 2 1 , 3 = 3 1 , 4 = 4 1 , dan 5 = 5 1 .
Dengan demikian bila skala dibentuk dengan mem bagi busur lingkaran sebesar 1,2 rad ke
dalam lima bagian-bagian yang sama, dan memberikan angka-angka pada lima bagian dari
skala tersebut 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 seperti pada Gbr. 4-2, maka arus yang melalui alat ukur ini
dapat segera dinyatakan pada harga skala dimana penunjuk berhenti (maksimal). Misalnya
dalam gambar yang sekarang, arus sebesar 3,5 mA mengalir melalui alat ukur.
1.5 Peredaman Alat Ukur Kumparan Putar
Dalam alat ukur kumparan putar, pada umumnya kumparan putarnya dibuatkan dengan
kerangka dari aluminium. Secara listrik kerangka tersebut merupakan jaringan hubung pendek, dan
memberikan pada kumparan momen peredam. Bila kumparan berputar, yang disebabkan oleh
arus I yang mengalir melaluinya, maka dalam kerangkanya akan timbul arus induksi. Ini
disebabkan karena putaran kerangka aluminium ini terjadi dalam medan magnit pada celah
udara, sehingga tegangan yang berbanding lurus pada kecepatan perputaran akan diinduksikan
dalam kerangka tersebut. Arah dari tegangan dapat ditentukan melalui hukum tangan kanan
dari Fleming. Tegangan ini yang menyebabkan arus induksi I d mengalir dalam kerangka
kumparan. Sebaliknya arus I d ini, akan memotong fluksi magnit dalam celah udara bila kumparan
berputar; dan akan dibangkitkan momen yang berbanding lurus dengan kecepatan putar. Akan
tetapi arah dari pada momen ini adalah berlawanan dengan arah perputaran, hingga, berakibat
menghambat perputaran. Demikianlah terjadinya momen peredam, dan momen ini berusaha
untuk melawan perputaran.
Jika sesuatu penampang dari kerangka adalah kecil sedangkan tahanannya (secara listrik)
besar, maka Id yang terjadi akan kecil. Dalam hal ini maka momen redam yang dihasilkan akan
lemah, dan penunjuk akan berosilasi di sekitar 0, dan secara graduil akan menuju ke titik akhir
tersebut, seperti diperlihatkan pada Gbr. 5.a. Bila tahanan listrik pada kerangka kecil, maka I d
akan dapat besar, yang menghasilkan momen peredam yang kuat pula. Dalam hal ini maka
5

perlawanan terhadap perputaran akan besar, dan pergerakan penunjuk tidak lagi bebas. Penunjuk
akan mendekati harga akhir secara monotonic lambat, seperti dinyatakan pada kurve (B)

Gbr. 5 Gerakan jarum penunjuk dari suatu alat ukur.


Aksi peredaman yang mempergunakan prinsip-prinsip elektromagnetis ini dikenal sebagai
redaman elektromagnetis. Kurve A menyatakan peredaman kurang, sedangkan Kurve B
menyatakan peredaman lebih. Waktu untuk sampai pada harga akhir untuk kedua keadaan
tersebut adalah lama. Suatu keadaan khusus terdapat di antara keduanya, dimana alat penunjuk akan
sampai pada 0 dalam waktu yang relatip singkat, seperti dinyatakan oleh kurve C. Keadaan ini
dinyatakan sebagai peredaman kritis.
Waktu yang diperlukan untuk satu perioda dalam keadaan peredaman kurang disebut
perioda dari osilasi. Untuk alat-alat ukur yang biasanya kita pergunakan, diperlukan untuk
sampai pada harga akhir yang hendak dibaca dalam batas-batas yang secepat mungkin. sehingga
pengukuran yang benar dapat diperoleh dengan cepat. Maka dari itu alat-alat ukur yang lazim
dipergunakan, dibuat dengan peredaman sedikit kurang, seperti dinyatakan pada kurve (D)
dalam Gbr. 5.b. Pergerakan penunjuk dari 1 ke 4 dalam Gbr. 5.a, dimaksudkan kepada keadaan
peredaman seperti itu.
2 Istilah dan definisi, satuan dalam Alat Ukur
2.1 Istilah dan definisi
Ada beberapa istilah dan definisi pengukuran listrik yang harus dipahami, diantaranya alat
ukur, akurasi, presisi, kepekaan, resolusi, dan kesalahan.
a. Alat ukur, adalah perangkat untuk menentu kan nilai atau besaran dari kuantitas atau variabel.
b. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari variabel yang diukur.
c. Presisi, hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran, atau derajat untuk
membedakan satu pengukuran dengan lainnya.
d. Kepekaan, ratio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur perubahan input atau variabel yang
diukur.
e. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu ditanggapi oleh alat ukur.
f. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang diukur.
2.2 Sistem Satuan
Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan, yaitu sistem metrik
(dipelopori Prancis sejak 1795). Amerika Serikat dan Inggris juga menggunakan sistem metrik untuk
6

kepentingan internasional, tapi untuk kebutuhan lokal menggunakan sistem CGS (centimeter-gramsecond). Sejak tahun 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit) sebagai kesepakatan
internasional. Enam besaran yang dinyatakan dalam sistem SI, yaitu:
Tabel 2.1. Besaran Sistem Internasional
Besaran

Satuan

Simbol

Panjang
Massa

meter
kilogram

m
kg

Waktu
Arus listrik

detik
amper

s
A

Temperatur
thermodinamika
Intensitas cahaya

derajat kelvin

0K

candela

Cd

Secara praktis besaran listrik yang sering digunakan adalah volt, amper, ohm, henry, dan
sebagainya. Kini sistem SI sudah membuat daftar besaran, satuan dan simbol di bidang kelistrikan
dan kemagnetan berlaku internasional.

Tabel 2.2. Besaran dan Simbol Kelistrikan


Besaran dan simbol

Nama dan simbol

Persamaan

Arus listrik, I
Gaya gerak listrik, E
Tegangan, V
Resistansi, R

amper
volt, V
volt, V
ohm,

A
V
V

R = V/I

Muatan listrik, Q

coulomb

Q = It

Besaran dan simbol


Kapasitansi, C
Kuat medan listrik, E
Kerapatan fluk listrik, D

Nama dan simbol


farad
F
V/m
C/m 2

Persamaan
C = Q/V
E = V/l
D = Q/I2

Permittivity,
Kuat medan magnet, H

F/m
A/m

= D/E
Hdl = nI

Fluk magnet,

weber

Wb
T

E =d/dt
B = /I 2

H
H/m

M = /I
= B/H

Kerapatan medan magnet, B tesla


Induktansi, L, M
Permeability,

henry
-

3 Ukuran Standar Kelistrikan


Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting, karena sebagai acuan dalam peneraan alat ukur
yang diakui oleh komunitas internasional. Ada enam besaran yang berhubungan dengan kelistrikan
yang dibuat sebagai standar, yaitu standar amper, resistansi, tegangan, kapasitansi, induktansi,
kemagnetan, dan temperatur.
7

1. Standar amper
Menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus konstan yang dialirkan pada dua
konduktor dalam ruang hampa udara dengan jarak 1 meter, di antara kedua penghantar
menimbulkan gaya = 2 10-7 newton/m panjang.
2. Standar resistansi
Menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin resistansi 1 yang memiliki tahanan
listrik tinggi dan koefisien temperatur rendah, ditempatkan dalam tabung terisolasi yang
menjaga dari perubahan temperatur atmosfer.
3. Standar tegangan
Ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruf H memiliki dua elektrode, tabung
elektrode positip berisi elektrolit mercury dan tabung elektrode negatip diisi elektrolit
cadmium, ditempatkan dalam suhu ruangan. Tegangan elektrode Weston pada suhu 20C
sebesar 1,01858 V.
4. Standar Kapasitansi
Menurut ketentuan SI, diturunkan dari standart resistansi SI dan standar tegangan SI, dengan
menggunakan sistem jembatan Maxwell, dengan diketahui resistansi dan frekuensi secara
teliti akan diperoleh standar kapasitansi (farad).
5. Standar Induktansi
Menurut ketentuan SI, diturunkan dari standar resistansi dan standar kapasitansi, dengan
metode geometris, standar induktor akan diperoleh.
6. Standart temperatur
Menurut ketentuan SI, diukur dengan derajat kelvin besaran derajat kelvin didasarkan pada tiga
titik acuan air saat kondisi menjadi es, menjadi air dan saat air mendidih. Air menjadi es
sama dengan 0 celsius = 273,160 kelvin, air mendidih 100C.
7. Standar luminasi cahaya menurut ketentuan SI,
Cara-cara Menghubungkan Alat Pengukur Amper dan Alat Pengukur Volt

Dalam mempergunakan alat-alat ukur amper maupun alat-alat ukur volt untuk mengukur arus
beban maupun tegangan, dua cara pengukuran dimungkinkan seperti diperlihatkan Gbr. 1-24(a)
dan (b). Dalam Gbr. 1-24(a) alat pengukur amper mengukur jenis beban / yang sebenarnya,
akan tetapi alat ukur Volt tersebut memperlihatkan jumlah gan antara tegangan beban dan
kerugian tegangan pada alat pengukur. Bila tegangan beban disebut IR dan kerugian
tegangan pada alat pengukur amper adalahV R v maka tegangan yang diukur jadi:
8

IR + IRa = I(R + Ra)

(1-12)

Akan tetapi sebaliknya Gbr. 1-24(b), pengukur volt menunjukkan tegangan beban V yang
sebenarnya akan tetapi pengukur amper memperlihatkan jumlah dari pada beban I dan arus
Iv yang melalui alat pengukur volt sehingga dengan demikian menjadi:
Ia

1
V V
1

R Ra
R Rv

(1-13)

Dengan menunjuk kepada persamaan (1-12) dan (1-13) maka untuk mengadakan pengukuran
arus beban dan tegangan beban setepat mungkin, adalah sangat menguntungkan untuk
melaksanakannya sebagai berikut:
( 1 ) U n t u k p e n g u k u r a n p a d a jaringan-jaringan elektronika dimana arus bebannya kecil maka
hubungan-hubungan seperti diperlihatkan pada (a) adalah lebih baik.
(2) Untuk pengukuran pengu kuran pada jaringan-jaringan t e n a g a d i m a n a p a d a u mumnya
arus beban adalah besar maka hubungan yang d i p e r l i h a t k a n p a d a ( b ) adalah lebih baik.
Sebagai catatan perlu diperhatikan bahwa tahanan dalam dari suatu alat pengukur amper
berubah dengan harga skala maksimum dan diperlihatkan di dalam Tabel 1-2.

Tabel 2-3 Harga-harga tahanan dalam ammeter arus searah.


Harga skala
maksimum

Tahanan
dalam ()

10 A

0,005

1A

0,05

100 mA

0,4

10 mA

0,72

1 mA

380

100 A

8.100

Harga-harga dalam tabel tersebut adalah pendekatan dalam prakteknya. Dengan


mempergunakan hubungan seperti diperlihatkan pada Gbr. 1-24(a) maka kesalahan pada
pengukuran tegangan yang disebabkan oleh kerugian tegangan pada alat pengukur amper,
dapat dicari dengan mempergunakan tabel tersebut di atas. Tahanan dalam dari alat pengukur
volt adalah kira-kira berkisar antara 100 /V sampai 100 k/V, yang terdapat dalam
kebanyakan alat-alat ukur. Dan hal ini biasanya dinyatakan pada alat ukurnya. Dengan data ini
maka kesalahan dalam pengukuran arus beban yang dinyatakan pada cars menghubungkan
yang diberikan pada Gbr. 1-24. (b) dapat dicari dengan mempergunakan koreksi-koreksi
sesuai dengan persamaan (1-13) dan data alat ukur volt tersebut. Sebagai contoh bila suatu alat
ukur volt yang mempunyai harga skala maksimum 100 V, dan dinyatakan sebagai 100 /Volt,
maka tahanan dalamnya adalah 10.000 Ohm. Cara yang diberikan demikian ini dalam menyatakan
9

sebagai /V sangat menguntungkan, dan terutama Bering diberikan dalam alat-alat ukur yang
mempunyai batas ukur yang berganda.
Sebagai contoh
Misalkan bahwa alat pengukur volt menunjukkan 10 V dan alat penunjuk amper
menunjukkan 1 mA. Dimisalkan bahwa harga skala maksimum dari alat pengukur volt
adalah 15 V, dan tahanan dalamnya 10 k/V, maka arus yang mengalir melalui volt meter
dinyatakan sebagai berikut :
10
6,7 x 10 1 A 0,067 mA
10.000 x 15

dengan demikian arus beban pada saat ini adalah:


1 - 0,067 = 0,933 mA.
4 Pengukuran Tegangan dan Arus
4.1 Pengukuran Tegangan DC
Pengukur tegangan voltmeter memiliki tahanan meter Rm (Gambar 4.1). Tahanan dalam
meter juga menunjukkan kepekaan meter, disebut FSD (full scale deflection) arus yang diperlukan
untuk menggerakkan jarum meter pada skala penuh. Untuk menaikkan batas ukur voltmeter
harus dipasang tahanan seri sebesar RV. Persamaan tahanan seri meter RV:

Gambar 4.1 Tahanan seri RV pada voltmeter

RV

Uv U Um

Im
Im

Keterangan:
Rv = {n 1} Rm
Rv = Tahan seri meter
Rm = Tahanan dalam meter
U = Tegangan
Um = Tegangan meter
Im = Arus meter
n = Faktor perkalian

10

Contoh:
Pengukur tegangan voltmeter memiliki arus meter 0,6 mA dan tegangan meter 0,3 V. Voltmeter
akan digunakan untuk mengukur tegangan 1,5 V. Hitung besarnya tahanan seri meter Rv.

Jawaban:
Rv

Uv U Uv

Im
Im

1,5V 0 ,3V
2 k
0 ,6 mA

4.2 Pengukuran Arus DC


Pengukur arus listrik ampermeter memiliki keterbatasan untuk dapat mengukur arus, tahanan dalam
meter R m membatasi kemampuan batas ukur. Menaikkan batas ukur dilakukan dengan memasang
tahanan paralel R p dengan ampermeter (Gambar 4.2). Tahanan R p akan dialiri arus sebesar I p ,
arus yang melalui meter Rm sebesar Im.

Gambar 4.2 Tahanan paralel ampermeter


Untuk menaikkan tahanan dalam meter, di depan tahanan meter Rm ditambahkan tahanan seri Rv.
Sehingga tahanan dalam meter yang baru (R m + R v) (Gambar 4.3). Tahanan paralel R p tetap
dialiri arus Ip , sedangkan arus yang melewati ( R m + R v ) sebesar Im. Persamaan tahanan
paralel Rp:

Gambar 4.3 Tahanan depan dan paralel ampermeter

Rp

U
U
; Rp
Ip
I Im

R p Rm

Im
I Im
11

Rp = Tahanan paralel
U = Tegangan
I = Arus yang diukur
Im = Arus melewati meter
Ip = Arus melewati tahanan paralel
Rm = Tahanan dalam meter
Contoh:
Ampermeter dengan tahanan dalam Rm = 100 , arus yang diizinkan melewati
meter Im = 0,6 mA. Ampermeter akan mengukur arus I = 6 mA. Hitung tahanan paralel Rp.
Jawaban:

Secara praktis untuk mendapatkan batas ukur yang lebar dibuat menjadi tiga tingkatan
(Gambar 4.4). Batas ukur skala pertama, sakelar pada posisi 1 dipakai tahanan paralel Rp1. Batas
ukur dengan skala 2 posisi sakelar 2 dipakai tahanan paralel Rp2. Batas ukur
ketiga, posisi sakelar 3 dipakai tahanan paralel Rp3.
Dengan metoda berbeda dengan tujuan memperluas batas ukur, dipakai tiga tahanan paralel
Rp1, Rp2, dan Rp3 yang ketiganya disambung seri (Gambar 4.5). Sakelar posisi 1,
tahanan (Rp1 + Rp2 + Rp3) paralel dengan rangkaian (Rv + Rm). Sakelar posisi 2, tahanan
(Rp2 + Rp3) paralel dengan rangkaian (Rp1 + Rv + Rm). Saat sakelar posisi 3, tahanan Rp3
paralel dengan rangkaian (Rp1 + Rp2 + Rv + Rm).

12

Gambar 4.4 Batas ukur ampermeter

Gambar 4.5 Penambahan batas ukur meter

4.3 Pengukuran Arus AC


Disamping ini, beberapa, type dari alat pengukur arus maupun alat pengukur tegangan
untuk arus bolak balik, terdapat pula yang bekerja atas prinsip yang lain, dari pada alat
pengukur kumparan putar. Misalkan alat pengukur dengan besi putar, alat pengukur
elektrodinamis, alat pengukur induksi dan alat pengukur elektrostatis, adalah beberapa contoh
dari pada alat-alat ukur yang dimaksudkan. Di antaranya; alat pengukur dengan tabung
vacum, diaplikasi dengan transistor dan sebagai kombinasi dari penguat atau pengeras, dan
sebagainya.
Arus bolak-balik dapat didefinisikan sebagai arus yang besar maupun arahnya berubah
dengan waktu, dan perubahan tersebut diulangi kembali secara periodik. Karakteristik
perubahan dengan waktu atau lebih umum dikenal sebagai bentuk gelombang dari arus bolak
balik tersebut adalah bermacam-macam, dan yang sering dipergunakan dapat dilihat pada Gbr. 4-6 (a),
(b), (c).

Penyearah arus adalah elemen khusus yang akan menghasilkan arus searah (arus pada arah
yang sama), bila tegangan ditempatkan pada ujung-ujungnya. Kemampuan kerja dari penyearah
arus tersebut disebut penyearah. Penyearahan arus dapat dinyatakan dengan simbot seperti
diberikan dalam Gbr. 1-37, dimana arah panah memperlihatkan arah dari pada tegangan yang
diberikan untuk arah arus yang, mudah, dan arah ini biasanya disebut arah ke depan.
Sebaliknya dari pada arah ini adalah arah dimana arus akan mendapatkan suatu hambatan yang
sangat besar dan pula dapat disebut arah sukar atau arah kebalikan.

13

5 Pengukuran Tahanan
Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengukur langsung nilai tahanan dan
pengukuran tidak langsung dengan metode jembatan (Gambar 5.1). Pengukuran tahanan secara
langsung bisa menggunakan multimeter, dengan menempatkan selektor pemilih mode pada pengukuran
tahanan. Resistor yang diukur dihubungkan dengan kedua kabel meter dan nilai tahanan terbaca pada
skala meter. Pengukuran tidak langsung, menggunakan alat meter tahanan khusus dengan prinsip kerja
seperti jembatan Wheatstone.

Gambar 5.1 Jenis-jenis Pengukuran Tahanan


6 Jembatan Wheatstone
Pengembangan rangkaian resistor seri dan paralel menghasilkan prinsip Jembatan Wheatstone
(Gambar 6-1). Sumber tegangan DC mencatu rangkaian empat buah resistor. R1 seri dengan R2,
dan R3 seri dengan R4.

14

Gambar 6-1 Rangkaian jembatan Wheatstone


Hukum Kirchoff tegangan menyatakan jumlah drop tegangan sama dengan tegangan sumber.
U = U1 + U 2

dan

U = U 3 + U4

Titik A-B dipasang Voltmeter mengukur beda tegangan, jika meter menunjukkan nol, artinya
tegangan U1 = U3 disebut kondisi seimbang. Jika U1 U3 disebut kondisi tidak seimbang dan
meter menunjukkan angka tertentu.

Aplikasi praktis dipakai model Gambar 6-2, R1 = R x merupakan tahanan yang dicari besarannya.
R2 = Rn adalah tahanan yang bisa diatur besarannya. R3 dan R4 dari tahanan geser. Dengan
mengatur posisi tahanan geser B, sampai Voltmeter posisi nol. Kondisi ini
disebut setimbang, maka berlaku rumus kesetimbangan jembatan Wheatstone.
Contoh:
Jembatan Wheatstone, diketahui besarnya nilai R2 = 40 , R3 = 25 , R4 = 50
Hitung besarnya R1 dalam kondisi setimbang.

Gambar 8.27 Pengembangan modelWheatstone

Jawaban:

15

2. Alat Ukur Digital


Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital. Penunjukan angka digital
berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu berhubungan dengan waktu. Penunjukan display dari
tegangan atau arus dari meter digital berupa angka tanpa harus membaca dari skala meter. Sakelar
pemindah frekuensi pada pesawat HT juga merupakan angka digital dalam bentuk digital

Gambar 2-1 Tampilan penunjukan digital


Alat ukur digital saat sekarang banyak dipakai dengan berbagai kelebihannya, murah, mudah
dioperaikan, dan praktis.
Multimeter digital mampu menampilkan beberapa pengukuran untuk arus miliamper, temperatur
C, tegangan milivolt, resistansi ohm, frekuensi Hz, daya listrik mW sampai kapasitansi nF
(Gambar 2-1).
Pada dasarnya data/informas i yan g akan diukur bersifat analog. Blok diagram alat ukur
digital terdiri komponen sensor, penguat sinyal analog, analog to digital converter, mikroprosesor,
alat cetak, dan display digital (Gambar 2-2).
Sensor mengubah besaran listrik dan non elektrik menjadi tegangan, karena tegangan
masih dalam orde mV perlu diperkuat oleh penguat input.

Gambar 2-2 Prinsip kerja alat kur digital


Sinyal input analog yang sudah diperkuat, dari sinyal analog diubah menjadi sinyal digi- tal
dengan (ADC) analog to digital akan diolah oleh perangkat PC atau mikroprosessor dengan program
tertentu dan hasil pengolahan disimpan dalam sistem memori digital. Informasi digital ditampilkan
dalam display atau dihubungkan dicetak dengan mesin cetak.
Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9 ada tiga jenis, yaitu 7segmen, 14-segmen dan dot matrik 5 x 7 (Gambar 2-3). Sinyal digital terdiri atas 0 dan 1, ketika
sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF, ketika sinyal 1 bertegangan atau ON.
16

Sebuah multimeter digital, terdiri dari tiga jenis alat ukur sekaligus, yaitu mengukur tegangan,
arus, dan tahanan. Mampu untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC (Gambar 2-4).
Saklar pemilih mode digunakan untuk pemilihan jenis pengukuran, mencakup tegangan AC/DC,
pengukuran arus AC/DC, pengukuran tahanan, pengukuran diode, dan pengukuran kapasitor.
Terminal kabel untuk tegangan dengan arus berbeda. Terminal untuk pengukuran arus kecil
300 mA dengan arus sampai 10 A dibedakan.

17

3. KWH Meter
Alat ukur piringan putar tidak menggunakan jarum penunjuk. Konstruksi meter piringan putar
memiliki dua inti besi (Gambar 3-1). Inti besi U dipasang dua buah belitan arus pada masingmasing kaki inti, menggunakan kawat berpenampang besar. Inti besi berbentuk E-I dengan satu
belitan tegangan, dipasang pada kaki tengah inti besi, jumlah belitan tegangan lebih banyak dengan
penampang kawat halus.
Piringan putar aluminium ditempatkan di antara dua inti besi U dan E-I. Akibat efek
elektromagnetis kedua inti besi tersebut, pada piringan aluminium timbul arus Eddy yang
menyebabkan torsi putar pada piringan.
Piringan aluminium berputar bertumpu pada poros, kecepatan putaran sebanding dengan daya dari
beban. Jumlah putaran sebanding dengan energi yang dipakai beban dalam rentang waktu tertentu.
Meter piringan putar disebut kilowatthours (kWh)-meter (Gambar 3-1).

Gambar 3-1 Prinsip alat ukur piringan


putar (kWH-meter)

Gambar 3-2. kWH-meter

Alat Ukur Piringan Putar


Pengawatan kWh-meter satu phasa belitan arus dihubungkan ke terminal 1-3, belitan tegangan
disambungkan terminal 2-6, terminal 1-2 dikopel, dan terminal 4-6 juga dikopel langsung.
Pengawatan kWh-meter tiga phasa dengan empat kawat (Gambar 3-3) L1, L2, L3 dan N
memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan tegangan.
1. Jala-jala L1, terminal-1 ke belitan arus-1 terminal-3 ke beban, terminal 1-2 dikopel untuk suplai
ke belitan tegangan-1.
2.

Jala-jala L2, terminal-4 ke belitan arus-2 terminal 6 langsung beban, terminal 4-5 dikopel suplai
ke belitan tegangan-2.
18

3.
4.

Jala-jala L3, terminal-7 ke belitan arus-3 ke terminal 9 langsung beban, terminal 7-8 dikopel
untuk suplai ke belitan tegangan-3.
Terminal 10 dan 12, untuk penyambungan kawat netral N dan penyambungan dari ketiga belitan
tegangan phasa 1, 2, dan 3.

Gambar 3-3 Pengawatan kWH-meter satu phasa dan tiga phasa


Bentuk fisik kWh-meter kita lihat di setiap rumah tinggal dengan instalasi dari PLN. Sebagai
pengukur energi listrik kWhmeter mengukur daya pada interval waktu tertentu dalam konversi waktu
jam. Setiap kWh-meter memiliki angka konstanta jumlah putaran /kWh.
Cz

n
P

Cz =Konstanta jumlah putaran/kWh


n = Putaran
P = Daya listrik kW
Contoh:
kWh-meter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh dalam waktu 1 menit
tercatat 33 putaran piringan. Hitunglah beban daya listrik!
Cz = 600 put/kWh
n = 33 put/menit = 33 60 put/jam
Jawaban: P

n
33 x60 / h

3 ,3 kWh
C z 600 / kWh

19

4. Alat Ukur Elektrodinamik


Alat ukur elektrode memiliki dua jenis belitan kawat, yaitu belitan kawat arus yang dipasang,
dan belitan kawat tegangan sebagai kumparan putar terhubung dengan poros dan jarum penunjuk
(Gambar 4-1).
Interaksi medan magnet belitan arus dan belitan tegangan menghasilka n sudut
penyimpangan jarum penunjuk sebanding dengan daya yang dipakai beban:
P = V I cos
Pemakaian alat ukur elektrodinamik sebagai pengukur daya listrik atau wattmeter.
Pemasangan wattmeter dengan notasi terminal 1, 2, 3, dan 5. Terminal 1-3 terhubung ke belitan arus
Wattmeter, terhubung seri dengan beban. Terminal 2-5 terhubung ke belitan tegangan Wattmeter.
Terminal 1-2 dikopel untuk mendapatkan catu tegangan suplai tegangan (Gambar 4-2).

Gambar 4-1 Prinsip elektrodinamik

Gambar 4 - 2 Pemasangan wattmeter

Gambar 8.16 Pengawatan wattmeter dengan


beban satu phasa

20

Pemasangan terminal meter tidak boleh tertukar, karena akibatnya meter tidak berfungsi.
Untuk pengukuran daya besar, di mana arus beban besar dapat digunakan trafo CT untuk
menurunkan arus yang mengalir belitan arus wattmeter.
Misalkan daya motor 3 phasa 55 kW dengan tegangan 400 V akan menarik arus jala- jala 100 A.
Kemampuan kWH meter maksimal dilalui arus hanya 10 A, maka digunakan trafo arus CT dengan
rating 100/5 A agar pengukuran daya motor dapat dilaksanakan.
Wattmeter portabel pengawatan dengan beban (Gambar 4-2). Ada tiga buah selektor switch,
untuk pengaturan amper, pengaturan tegangan, dan pemilihan skala batas ukur.
Untuk keamanan tempatkan selektor amper dan selektor tegangan pada batas ukur tertinggi.
Jika jarum penunjuk sudut simpangannya masih kecil baru selektor switch arus atau tegangan
diturunkan satu tahap.

21

5. Osiloskop
Osiloskop termasuk alat ukur elektronik , digunakan untuk melihat bentuk gelombang ,
menganalisis gelombang, dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika ( Gambar 5-1 ).
Dengan osiloskop dapat melihat amplitudo tegangan dan gelombang, oleh karena itu harga ratarata, puncak, RMS (root mean square), maupun harga puncak kepuncak atau Vp-p dari tegangan dapat
diukur. Selain itu, juga hubungan antara frekuensi dan phasa antara dua gelombang juga dapat
dibandingkan. Ada dua jenis osiloskop, yaitu osiloskop analog dan osiloskop digital.

Gambar 5-1 Bentuk fisik osiloskop


5.1. Data Teknik Osiloskop
Arah Vertikal
Menampilkan Kanal-1 (K-1) atau Kanal-2 (K-2), Kanal-1 dan Kanal-2 AC atau chop
Menjumlah atau Mengurangkan nilai Kanal-1 dan Kanal-2
Tampilan X-Y
: Melalui K-1 dan K-2 (K-2 dapat dibalik/ diinvers)
Lebar-Pita

: 2 x 0 . . . . 40 MHz (-3dB)

Kenaikan waktu
Koefisien

: 7 ns, simpangan: < 1%


: di set 1 mV/cm . . . 20V/cm 3%

Impedansi Input
: 1 M II 20 pF
Kopel Input
: DC-AC-GND (Ground)
Tegangan Input maks : 400 V

Arah Horisontal:
Koefisien waktu

: 21 0,5 s sampai 100 ns/cm 3% (1-2-5 bagian),

Lebar-pita penguat-X : 02,5 MHz (-3dB)

Pembeda
Ukuran layar
Tegangan akselarasi
Kalibrator
Output

: 8 10 cm, raster dalam


: 2000 V
: generator kotak 1 kHz atau 1 MHz
: 0,2 V 1%

22

5.2. Osiloskop Analog

Gambar 5-2 Blok diagram sistem osiloskop


Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari pemancar elektron (Electron Beam),
pembelok vertikal (Penguat-Y), pembelok horizontal (penguat-X), generator basis waktu (Sweep
Generator), catu daya, dan tabung hampa (CRT) lihat Gambar 8.31.

Gambar 5-3 Pancaran elektron ke layar pendar CRT


5.3. Pemancar Elektron:
Merupakan bagian terpenting sebuah osiloskop. Katode di dalam CRT (Cathode Ray Tube) akan
mengemisikan elektron-elektron ke layar CRT melalui elektrode-elektrode pemfokus intensitas
pancaran elektron ditentukan oleh banyaknya elektron yang diemisikan oleh katode Gambar 5-4.
Bahan yang memantulkan cahaya pada layar CRT dapat diperoleh dari sulfid, oksid atau silikat
dari kadmium, yang diaktifkan melalui bahan tambahan dari perak, emas atau tembaga. Pada
umumnya dipilih warna hijau untuk tampilan cahaya pada layar CRT, karena mata manusia pada
umumnya peka terhadap warna ini.

Gambar 5-4 Pemancar Elektron di dalam CRT


5.4. Penguat Vertikal:
23

Penguat ini dapat memberikan tegangan hingga 100 V. Penguat ini harus dapat menguatkan
tegangan DC maupun AC dengan penguatan yang sama. Pengukuran sinyal dapat diatur melalui
tombol POS (position).
5.5. Input-Y (Vert. Input):
Bagian ini terhubung dengan tombol pembagi tegangan, untuk membagi tegangan yang
akan diukur, dengan perbandingan 10 : 1 atau 100 : 1. Gambar di bawah. Tombol ini harus dibantu
dengan sinyal kotak untuk kompensasi.
5.6. Penguat Horisontal:
Penguat ini memiliki dua input, satu dari sweep generator, menghasilkan trace (sapuan)
horizontal lewat CRT dan input yang lain menguatkan sinyal eksternal dan ditampilkan pada CRT
hanya pada sumbu horizontal. Skala pada sumbu Horisontal CRT Osiloskop, digunakan untuk
mengukur waktu (periode) dari sinyal yang diukur, misalnya 2 ms/ divisi.
5.7. Generator-Waktu
Generator waktu menghasilkan sinyal gigi gergaji, yang frekuensinya dapat diatur, dengan cara
mengatur periodenya melalui tombol TIME BASE. CRT akan menampilkan sinyal yang diukur
(sinyal input) hanya jika periode sinyal tersebut persis sama dengan periode sinyal gigi gergaji ini
atau merupakan kelipatan periodenya.
5.8. Triggering dan bias waktu
Sinyal gigi gergaji akan mulai muncul jika ada sinyal trigger (Gambar 5-5). Pada saat sinyal
input melewati level trigger, maka sinyal gigi gergaji mulai muncul.

Gambar 5-5 sinyal trigger


5.9. Catu Daya
Kinerja catu daya ini sangat mempengaruhi kinerja bagian lainnya di dalam osiloskop. Catu
daya yang tidak terregulasi dengan baik akan menyebabkan kesalahan pengukuran dan tampilan
yang tidak baik pada CRT (fokus, kecerahan/ brightness, sensitifitas, dan sebagainya).
5.10. Osiloskop Dua Kanal
24

Seringkali orang perlu melakukan pengukuran dua sinyal AC yang berbeda dalam waktu yang
sama. Misalnya kanal-1 mengukur sinyal input dan kanal-2 mengukur sinyal output secara
bersamaan, maka osiloskop dua kanal mampu menampilkan dua sinyal dalam waktu bersamaan
dalam satu layar.

Gambar 5-6 Blok diagram Osiloskop dua kanal


Blok diagram osiloskop dua kanal Gambar 5-6 mempunyai sebuah sistem pembangkit sinar
(electron gun). Dua sinyal input dapat dimasukkan melalui kanal-1 dan kanal-2 (masing- masing
penguat-Y). Pengaktifan kedua penguat-Y tersebut dipilih secara elektronik, melalui frekuensi
yang berbeda untuk tiap kanal. Kedua sinyal input tersebut akan masuk melalui satu elektron-gun
secara bergantian lalu ditampilkan pada CRT.
Jika sinyal input mempunyai frekuensi rendah, maka sakelar elektronik akan mengaturnya pada
frekuensi tinggi. Sebaliknya, jika input sinyal mempunyai frekuensi tinggi, maka sakelar elektronik
akan mengaturnya pada frekuensi yang lebih rendah.
Tampilan sapuan ganda (dual-trace) dari electron beam tunggal dapat dilakukan dengan 2 cara,
yaitu chop time sharing dan alternate time sharing. Pemilihan kanal dilakukan oleh multivibrator
yang akan mengoperasikan sakelar elektronik secara otomatis.

25

SEKIAN
TERIMAKASIH
the_blues76_chelsea@yahoo.co.id
087755756902 (Fajriyansa Perdana)

26