Anda di halaman 1dari 51

1

BAB 1
PERANCANGAN ELEMEN BALOK

1.1 Teori Balok Bernoulli Euler - Navier


Pada dasarnya, terdapat dua macam teori balok yang sering digunakan
dalam praktek, yaitu teori balok Euler-Bernoulli dan teori balok Thimosenko.
Dalam teori balok Euler-Bernoulli, ketika balok mengalami lendutan ke bawah
akibat gaya ataupun beratnya sendiri, bidang datar pada balok tersebut yang
bearah normal terhadap garis netral tetaplah merupakan suatu bidang datar dan
berarah normal terhadap garis netralnya sebelum dan sesudah pembebanan.
Asumsi ini memberikan suatu keadaan di mana regangan geser balok BernoulliEuler dapat diabaikan dan dianggap bernilai 0.
Elemen balok Bernoulli-Euler-Navier mempunyai dua derajat kebebasan
pada setiap nodalnya, yaitu peralihan vertikal arah y yaitu v dan rotasi sudut arah
sumbu z yaitu . Pada setiap derajat kebebasan nodal yaitu vi dan i bekerja gaya
geser fyi dan gaya momen fmi dimana keduanya dinamakan gaya nodal. Pemilihan
elemen ini berdasarkan

syarat balok Bernoulli apabila L/h>20. Gambar 1.1

menunjukan elemen balok lurus dengan penampang simetris.

Gambar 1.1 Elemen Balok Bernoulli Euler Navier


Hubungan regangan dan pepindahan pada elemen lentur, adalah :
x y

2v
y 2

(
(1.1)

Universitas Indonesia

Asumsi fungsi peralihan kuadrat, dari fungsi peralihan tersebut dapat


dibentuk fungsi bentuk dengan gambar sebagai berikut :

Gambar 1.2 Fungsi Bentuk Elemen Balok


Fungsi peralihan tersebut diperoleh dari fungsi bentuk sebagai berikut,

x2
x3
1

L2
L3

N v1 x
x 2 x3

N 1 x
L L2

N
y
2
3
N
x

x
x

v
2

3 L2 2 L3
N x
2

2
3
x x

L L2

(1.2)

Dan hubungan perpindahan pada elemen yang dimaksud adalah,

v x

i 1,4

ui

ui N v1

N 1

N v2

N 2

v1

1

v2

(1.3)

Matriks B diferensial dari fungsi bentuk dinyatakan sebagai:

Universitas Indonesia

x
6
L2 12 L3

N v1 , xx x
4 6 x

L
N , xx x
L2

y
B 1
6

2 12 x3
N v1 , xx x
L
L
N , xx x
1

2
x
6 2
L
L
Persamaan

kekakuan

elemen

balok

(1.4)

dapat

dihasilkan

dengan

menggunakan teorema Castigliano, yaitu:

e
0
un

(1.5)

e
e int
eext

Dimana: eext un

fn

(1.6)

1
1
EI 2 dx un k un
2 0
2

e
int

Selanjutnya, matriks kekakuan elemen dinyatakan sebagai:


L

k EI Bb
0

6 L 12 6 L
12
6 L 4 L2 6 L 2 L2
EI

Bb dx 3
L 12 6 L 12 6 L

2
2
6 L 2 L 6 L 4 L

(1.7)

fn k un
6 L 12 6 L v1
f y1
12
f
6 L 4 L2 6 L 2 L2
m1 EI
1

3

f y 2 L 12 6 L 12 6 L v2

2
2

6 L 2 L 6 L 4 L
2

fm2

(1.8)

1.2 Teori Balok Timoshenko


Dalam teori balok Thimosenko, nilai regangan geser diperhitungkan di
mana asumsi dasar untuk teori balok Thimosenko adalah bahwa bidang datar tetap
datar setelah mengalami lendutan tetapi tidak selalu berarah normal terhadap garis
netralnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar dibawah ini.

Universitas Indonesia

Gambar 1.3 Elemen Balok Timoshenko


Dalam hal ini, nilai regangan geser transversalnya adalah xz tidaklah
bernilai nol, sehingga rotasi dari garis melintang bidang normal disekitar sumbu z
tidaklah sama dengan

dv

/dx (yang digunakan oleh asumsi teori balok Euler-

Bernoulli), melainkan ada pertambahan regangan gesernya sebesar -xz dalam


rotasinya. Teori balok Thimosenko ini juga dikenal sebagai teori balok deformasi
geser. Disamping memperhitungkan deformasi geser, teori balok Thimosenko
juga memperhitungkan inersia rotasi. Untuk perbandingan lebih jelas antara teori
balok Euler-Bernoulli dengan teori balok Thimosenko, dapat dilihat pada tabel
berikut:

Gambar 1.4 Perbedaan Elemen Balok Bernoulli dan Timoshenko

Pada teori balok Thimosenko, parameter penting yang digunakan adalah


shape function atau shear correction factor (Han et al. 1999). Parameter shape
function timbul karena geser (shear) bernilai tidak konstan di sepanjang
penampang balok. Parameter shape function merupakan suatu fungsi poissons
ratio dan frekuensi getaran pada sepanjang balok. Dengan menggunakan metode
selectictive reduce integration dimana integrasi numeric Gauss Quadrature tidak
dilakukan secara penuh sehingga menghasilkan matriks kekakuan geser.

Universitas Indonesia

Matriks kekakuan elemen balok Timoshenko diperoleh dengan cara yang


sama pada elemen Bernoulli, hasilnya yakni :
12

EI 6 L
k kb ks 3 12
L

6L

6L
4 L2
6 L
2 L2

12
6 L
12
6 L

6L
2 L2
6 L

4 L2

(1.9)

Dimana = 12 EI / k G A, dan L = panjang elemen. Dapat dilihat bahwa


semakin tipis balok, makan nilai akan semakin kecil. Nilai kekakuan geser akan
menjadi dominan dan menciptakan kekakuan parasit geser atas lentur yang
bernama shear locking.

1.3 Elemen Discrete Shear Beam


Dalam matriks kekakuan elemen balok Timoshenko, dapat dilihat bahwa
semakin kecil nilai yang mana terjadi pada balok tipis, matriks kekakuan akan
mengarah menjadi tak terhingga. Masalah inilah yang dinamakan kekakuan
parasit atau shear locking, mengakibatkan jika balok tipis dianalisa dengan
elemen balok Timoshenko, hasil analisa menjadi sangat tidak akurat. Pada kasus
ini, kita perlu memecah elemen balok yang dianalisa menjadi elemen-elemen yang
sangat pendek sehingga akan tercipta balok tinggi dan hasil yang diberikan
menjadi akurat.
Berangkat dari masalah tersebut, para peneliti ingin menciptakan sebuah
elemen balok yang dapat digunakan baik untuk balok tipis maupun balok tinggi,
tanpa menghasilkan masalah shear locking di dalamnya. Fungsi peralihan verikal
v dapat diaproksimasi dengan dengan menggunakan fungsi peralihan linier,
kuadratik, dan kubik, sedangkan fungsi rotasi diaproksimasi secara kuadratik
dimana rotasi diaproksimasi menggunakan interpolasi linier terhadap rotasi pada
nodal 1 dan 2 ditambah interpolasi kuadratik pada rotasi nodal tengah elemen
(nodal 3). Hal ini dilakukan dengan harapan perilaku elemen terhadap efek rotasi
dapat termodelisasi dengan lebih baik.
Ternyata bila v didefinisikan baik secara linier, kuadratik, maupun kubik,
kita akan memperoleh nilai 3 yang sama yakni

(v -v ) - ( )

(1.10)

Universitas Indonesia

Nilai bending strain dan shear strain yakni :


*

* +

(1.11)

Berdasarkan hukum energi potensial internal akibat curvature, matriks


kekakuan bending [kb] dan matriks kekakuan geser [ks] dapat dihitung dengan
formula sebagai berikut :
, -

n , -

Matriks kekakuan elemen balok Discrete Shear Beam menjadi :

, - , -

, -

(1.12)
]

1.4 Perhitungan Elemen Balok Discrete Shear dengan Program MATLAB


Berikut dapat dilihat algoritma pemrograman analisa balok discrete shear
dengan bantuan program MATLAB.

Universitas Indonesia

Modal Input Data (Pre-processor)


Node coordinates (xn, yn)
Element conectivities and material
material properties (No, near node,
far node, E, I, A, v, G, k)
BNE (element, fy, fm1, fy2, fm2)
GIE (element, fy, fm1,fy2, fm2)
Boundary conditions (No, nodes, fx,

Data Inisiasi
Jumlah DOF (GDof)
Jumlah perletakan (nR)
Jumlah BNE (nF)
Jumlah nodal (nN)
Jumlah beban terpusat (nP)
Jumlah GIE (nG)
Jumlah Jumlah elemen (nE)

Computation of load and


BNE structure
Menggabungkan BNE dan
gaya luar pada element
menjadi BNE dan gata total
pada struktur.

Boundary Condition
Menentukan DOF aktif
(active DOF) berdasarkan
perletakan (restraint)

Computation of stiffness matrix


Kekakuan total-> Reduksi
berdasarkan DOF aktif

Displacement Solution
Un=Ks(activeDof,activeDof)\Fn(activeDo
f)

Computation of Internal Forces

Force Reaction
ForceReaction=Ks(prescribedDof,activ
eDof)*Un-Fn(1,prescribedDof)'

FINISH

Universitas Indonesia

Berikut ini penjelasan dari algoritma Balok:


a.

Model Input Data


Pada fase ini, memasukkan secara manual data data struktur kedalam
MATLAB. Data yang dimasukkan antara lain sebagai berikut :
1. Koordinat nodal ( xn, yn).
2. Konektivitas dan properti material (No, near node, far node, E, I,
A, v, G, k ).
3. BNE (element, fy, fm1,fy2,fm2).
4. GIE (element, fy, fm1,fy2, fm2).
5. Kondisi batas No, no e , f , )

b.

Data Inisiasi
Fase berikutnya mengidentifikasi jumlah DOF, perletakan, BNE, nodal,
beban terpusat, GIE dan jumlah elemen. Data tersebut sebagai data awal
yang dipersiapkan untuk perhitungan matriks kekakuan, matriks gaya, dan
matriks peralihan global.

c.

Gaya Struktur , BNE, dan GIE


Gaya gaya yang bekerja pada struktur, BNE serta GIE pada awalnya
diidentifikasi bekerja pada elemen, lalu dilakukan penyusunan sehingga
dapat terbentuk gaya struktur global.

d.

Identifikasi Derajat Kebebasan (d.k.)


Derajat kebebasan struktur telah ditentukan dengan mencari nodal yang
terkekang dan tidak terkekang. Hal ini membantu dalam mereduksi matriks
kekakuan struktur global melalui aplikasi kondisi batas untuk mendapatkan
peralihan dan reaksi perletakan.

e.

Kekakuan Struktur
Kekakuan struktur diidentifikasi terlebih dahulu dalam matriks kekakuan
elemen lalu ditrasnformasikan dalam matriks kekakuan global dan
digabungkan dalam matriks kekakuan global struktur.

f.

Peralihan 0
Kemudian gaya struktur, kekakuan global struktur direduksi dengan d.k.
tidak sama dengan nol maka akan didapatkan displacement.

g.

Reaksi Perletakan dan Gaya Dalam

Universitas Indonesia

Dari data displacement yang didapatkan, maka akan bisa didapatkan reaksi
perletakan dan gaya dalam pada masing masing elemen.

1.5 Contoh Soal


Berikut akan dilakukan analisa terhadap sebuah balok discrete shear
dengan menggunakan program MATLAB dan SAP 2000 untuk validasi. Problem
balok yang ada adalah sebagai berikut :

Gambar 1.5 Masalah Balok Discrete Shear


Gaya dalam dan peralihan yang terjadi pada struktur balok diatas yakni :

Gambar 1.6 Peralihan dan Gaya Nodal Elemen Balok Discrete Shear
Diketahui sebuah balok dengan 3 bentangan (plus kantilever) memiliki
modulus elastisitas (E) sebesar 27000 kN/m2, v sebesar 0,25, k = 5/6. Penampang
balok berbentuk persegi panjang berukuran (300 x 600) mm2 dengan pembebanan
seperti yang ditunjukkan pada gambar diatas. Selanjutnya displacement, reaksi
perletakan dan gaya dalam dari setiap elemen tersebut dapat dicari.
Dengan melakukan input properti material elemen dan pembebanan yang
terjadi dalam perhitungan fungsi dalam program MATLAB, maka diperoleh hasil
output sebagai berikut:
Peralihan 0 (2, 3, v4, 4) dan reaksi perletakkan (fy1, fm1, fy2, fy3)
menurut program MATLAB :

Universitas Indonesia

10

Dan gaya dalam tiap elemen (Tn, Mn, Tn+1, Mn+1) (n = nomor nodal)
menurut program MATLAB adalah :

Selain dengan program MATLAB, kita juga memodelkan balok pada


program SAP 2000 untuk kemudian dilihat perbandingan hasilnya. Permodelan
SAP dapat dilihat pada gambar-gambar dibawah :

Universitas Indonesia

11
E = 27000 Kpa
dan v = 0,25
b = 300 mm
dan h = 600
mm

Karakteristik yang harus


digunakan untuk Discrete
Shear Beam

Hasil perhitungan dengan program SAP yakni :


Peralihan nodal :

Universitas Indonesia

12

Reaksi perletakkan :

Gaya-gaya dalam :
TABLE: Element Forces - Frames
Frame
Station
OutputCase
Text
m
Text
1
0
DEAD
1
8
DEAD
2
0
DEAD
2
2
DEAD
3
0
DEAD
3
2
DEAD

CaseType
Text
LinStatic
LinStatic
LinStatic
LinStatic
LinStatic
LinStatic

P
KN
0
0
0
0
0
0

V2
KN
-0.559
-0.559
11.498
31.498
-20
-20

V3
KN
0
0
0
0
0
0

T
KN-m
0
0
0
0
0
0

M2
KN-m
0
0
0
0
0
0

1.6 Perbedaan hasil program MATLAB dan SAP 2000 :


Peralihan nodal :
MATLAB

Nodal

SAP

0.042

-0.167

-0.723

-0.441

3
4

% diff

-0.042

0.041

0.166

0.026

-0.723

0.441

0.001

0.001

Reaksi perletakkan :
MATLAB

Nodal

SAP

% diff

Fy

Fm

Fy

Fm

Fy

Fm

0.5594

1.4792

0.559

-1.4792

0.071505

-12.0575

-12.057

0.004147

51.4981

51.498

0.000194

Gaya-gaya dalam :
Elemen
1
2
3

MATLAB

Nodal

SAP

% diff

-0.5594

1.4792

-0.559

-1.4792

0.071505

-0.5594

-2.9961

-0.559

2.9961

0.071505

11.4981

-2.9961

11.498

2.9961

0.00087

31.4981

40

31.498

-40

0.000317

-20

40

-20

-40

Universitas Indonesia

M3
KN-m
-1.4792
2.9961
2.9961
-40
-40
7.105E-15

13

-20

-20

Proses perhitungan yang diterapkan dalam perhitungan struktur balok


dengan menggunakan metode elemen hingga secara manual dengan menggunakan
alat bantu program MATLAB serta validasi dengan program SAP2000 telah
tercapai dengan baik. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa balok discrete shear
dapat dimodelkan secara baik di program SAP 2000 dan mencapai akurasi yang
hampir sempurna jika dibandingkan dengan penghitungan manual.

Universitas Indonesia

14

BAB 2
PERANCANGAN ELEMEN RANGKA

Elemen berikut yang akan dianalisa ialah elemen rangka. Karakteristik


dari elemen ini ialah hanya mengalami gaya dalam aksial tarik atau tekan dan
tidak memiliki gaya dalam momen dan geser. Teori elemen rangka ditinjau dari
segi metode elemen hingga dapat dilihat sebagai berikut :

2.1 Teori Rangka Bidang


Struktur rangka bidang adalah gabungan dari elemen rangka yang dapat
berkoloborasi pada kedua ujungnya dan hanya mentransmisikan gaya-gaya
translasi (aksial) pada nodal-nodal gabungannya. Elemen dengan dua nodal di sini
didefinisikan dalam koordinat lokal (x-y) untuk selanjutnya didefinisikan dalam
koordinat global (X-Y). Walaupun tidak digambarkan sumbu Z selalu tegak lurus
bidang struktur, sehingga membentuk sistem koordinat kaidah tangan kanan.
Sedangkan sumbu x-x adalah sistem koordinat lokal elemen, yang hanya berlaku
untuk elemen tersebut saja, yang orientasinya disesuaikan dengan arah elemen
yang bersangkutan.
Setiap elemen rangka atau dapat disebut sebagai truss akan selalu
memiliki 2 titik nodal ujung. Orientasi elemen secara global dapat diketahui
dengan sudut , yang dibuat oleh sumbu x lokal dari elemen yang ditinjau dengan
sumbu X global dari struktur. Sudut bertanda positif berdasarkan kaidah tangan
kanan yaitu diukur dari sumbu X global berputar menuju sumbu x elemen dengan
poros sumbu-Z positif.
Sebuah elemen rangka dengan panjang L, modulus elastisitas E dan luas
penampang A, diletakkan sejajar dengan sumbu lokal. Kedua ujung atau buhul
dianggap sebagai nodal, masing-masing diberi nomer 1 dan 2. Gaya fx1 dan fx2
bekerja dalam arah x lokal masing-masing pada nodal 1 dan 2. Searah dengan dua
gaya nodal tersebut, terdapat masing-masing peralihan u1 dan u2 yang sering
disebut sebagai derajat kebebasan (degree of freedom). Sehingga terdapat 2 (dua)
derajat kebebasan untuk elemen rangka ini.

Universitas Indonesia

15

Gambar 2.1 Elemen Rangka dengan Dua Derajat Kebebasan


Pada gambar 2.1 terdapat gaya fx1 dan fx2 dengan peralihan u1 dan u2 yang
diekspresikan dalam bentuk matriks untuk digabungkan. Penurunan tersebut dapat
dilakukan dengan suatu pendekatan energi atau pendekatan keseimbangan
tegangan-regangan. Pendekatan energi lebih umum dan lebih tepat, khususnya
untuk tipe-tipe elemen hingga yang rumit. Pendekatan keseimbangan teganganregangan adalah sederhana dan jelas secara fisik, namun ini dapat diterapkan
hanya pada elemen hingga sederhana. Untuk menggunakan pendekatan energi,
pertama-tama kita harus mendefinisikan sebuah fungsi peralihan untuk elemen.

2.2 Formulasi Matriks Kekakuan


2.2.1 Fungsi Peralihan dan Fungsi Bentuk
Untuk sebuah elemen dengan tegangan atau regangan aksial konstan,
peralihan aksial u(x) pada sebuah jarak x dari nodal 1 dapat dinyatakan dalam
bentuk persamaan polinominal dan diasumsikan bervariasi secara linier terhadap
x, yaitu:

a
u x a1 a2 x 1 x 1 P an
a2

(2.1)

dimana a1 dan a2 adalah dua konstanta yang tergantung pada kondisi dua
nodal tersebut.
x 0 u x u 0 1 0 an
x L u x u L 1 L an

(2.2)

Dan dapat disusun menjadi bentuk matriks:

u1 1 0 a1

un P an
u2 1 L a2

(2.3)

Relasi invers memberikan:

an P un
1

(2.4)

Universitas Indonesia

16

Dengan mensubstitusikan hasil-hasil untuk a1 dan a2 dalam persamaan


(2.1) dan menyusun kembali persamaan tersebut maka memberikan bentuk akhir
dari fungsi peralihan:

u x Nui ui Nu1
i 1,2

u
Nu2 1 Nu1 x u1 Nu2 x u2
u2

(2.5)

Dengan:
Nu1 x 1

x
x
& Nu2 x
L
L

(2.6)

Nu1 x dan Nu2 x menggambarkan distribusi atau bentuk dari


peralihan dihubungkan dengan masing-masing derajat kebebasan u1 dan u2
disebut juga sebagai fungsi bentuk (shape functions).

N adalah matriks fungsi bentuk peralihan yaitu:


N Nu

x
Nu2 1 L

x
L

(2.7)

Fungsi peralihan tersebut dapat dibentuk dengan gambar sebagai berikut :

N u1 1

x
L

N u2
2

x
L

dari persamaan :

x u N ui Bui
x

dimana matriks B adalah matriks diferensial dari fungsi bentuk adalah:

B N
x

1
1 1
:L

(2.8)

2.2.2 Persamaan Kekakuan


Deformasi aksial pada rangka didefinisikan sebagai :
ex

u
a2
x

(2.9)

Untuk elemen rangka, deformasi aksial dapat diperoleh dengan cara


mensubstitusikan dua persamaan berikut :

Universitas Indonesia

17

ex a2

(2.9a)

atau :

ex

Nu2
u Nu1

u1
u2 Ba un
x
x
x

(2.9b)

dimana:
Ba Nu1 , x

N u2 , x

1
L

1
L

(2.10)

Persamaan (2.9a) menyatakan bahwa regangan tersebut merupakan suatu


konstanta.
Berdasarkan hukum Hooke untuk material linier, elastis, isotrop, dan
homogen, tegangan dapat dinyatakan sebagai:
x Eex E

u
x

Gaya internal yang bekerja secara aksial pada sumbu batang adalah:
N12 x A EA Nu1, xu1 Nu 2, xu2 EA Ba un

Secara teoritis N adalah gaya internal yang berpasangan dan bekerja pada
suatu elemen diferensial dx. Nilai positif berarti N adalah gaya internal mengalami
tarik dan nilai negatif berati nilai N adalah gaya internal menerima tekan.

Gambar 2.2 Gaya Internal Aksial Batang N dan Gaya Nodal Elemen
Persamaan energi internal pada setiap elemen balok rangka dengan
mengabaikan tegangan inisial:
L

e
int

1
EA un
2 0

Ba

Ba un dx

1
un k un
2

(2.11)

Dengan

L
1
EA 1 1
EA Ba Ba dx
2
L 1 1
0

(2.12)

Persamaan energi eksternal pada setiap elemen balok rangka:

Universitas Indonesia

18

eext un

fn

fx

u1 u2 1
f x2

(2.13)

Dengan demikian, persamaan energi elemen dapat dinyatakan sebagai:


e
ea int
eext

1
un k un un
2

fn

(2.14)

Dengan menerapkan teori Castigliano, yaitu:


e
e
ea int ext

0
un
un

(2.15)

Maka diperoleh:

fn k un
Atau dalam bentuk matriks persamaan elemen dapat dinyatakan:

f x1
k11

f x2
k21

k12 u1

k22 u2

(2.16)

Dimana , - disebut matriks kekakuan elemen, dan koefisien kekakuan


didefinisikan sebagai:
L

kij EA Nui , x Nu j , x dx
0

Dengan i=1 sampai 2 dan j=1 sampai 2.


Dengan mensubsitusikan fungsi bentuk diperoleh persamaan
kekakuan elemen dari Persamaan 2.12c, sebagai berikut:

f x1 EA 1 1 u1


f x2 L 1 1 u2

EA/L adalah kekakuan aksial dari elemen. Elemen tersebut berperilaku


seperti pegas, dengan konstanta pegas s=EA/L dalam satuan kN/m
Gaya fx1 dan fx2 akan dihubungkan oleh suatu matriks dengan peralihan u1
dan u2. Dengan menggunakan fungsi peralihan u(x) dan fungsi bentuk seperti
ditunjukan pada gambar berikutnya, kita dapat menghitung besarnya matriks yang
menghubungkan dua gaya dan dua peralihan di atas.

Universitas Indonesia

19

Gambar 2.3 Fungsi Peralihan dan Fungsi Bentuk Elemen Rangka


Dengan menggunakan metode pendekatan dapat diperoleh besarnya
matriks kekakuan dari persamaan

f k x
f x1 EA 1 1 u1


f x 2 L 1 1 u2

Dapat dikatakan bahwa

adalah kekakuan aksial dari elemen.

Elemen berperilaku seperti pegas dengan konstanta pegas

dalam satuan

N/m.
Rangka yang telah disebutkan sebelumnya adalah elemen rangka dalam
sistem koordinat lokal yaitu sumbu xy dan koordinat global adalah XY. Sumbu x
meng r h p

u ut

n ernil i po itif ila dihitung berlawanan arah jarum

jam dari sumbu X menuju sumbu x. Dalam sistem koordinat global, setiap nodal i
memiliki gaya horizontal

fXi , gaya vertikal fYi, peralihan horizontal Ui dan

peralihan vertikal Vi, Jadi setiap elemen memiliki empat derajat kebebasan, U1,
V1, U2 dan V2. Dari gambar 2.5. Kita memahami transformasi dk dari sistem lokal
ke sistem global pada nodal 1 dan nodal 2, sebagai berikut:

u1 U1 cos V1 sin ; u2 U 2 cos V2 sin

(2.17)

Universitas Indonesia

20

Gambar 2.4 Sistem Koordinat Lokal dan Global untuk Elemen Rangka

Jika kita ,menggunakan simbol-simbol :

dan

Persamaan (2.17) dapat ditulis sebagai:


u1
C


u2 lokal 0

S 0
0 C

U1
0 V1

S U 2
V2
global

secara simbolis :

un lokal T un global

Kekakuan elemennya diperoleh :

C2
fX1

f
Y 1 EA CS

2
f X 2 L C
fY 2
CS

CS
S2
CS
S 2

C 2
CS
C2
CS

CS U1

S 2 V1

CS U 2

S 2 V2

(
(2.18)

2.2.3 Karakteristik Persamaan Kekakuan Elemen


Keseimbangan. Elemen rangka bidang dianggap sebagai benda bebas
(free body). Persamaan kekakuan untuk elemen ini terdapat pada Persamaan
(2.17). Dalam matriks kekakuan bahwa koefisien-koefisien dalam baris pertama
sama namun berlawanan tanda dengan koefisien-koefisien dalam baris ketiga.
Hubungan yang sama terjadi antara baris kedua dan keempat. Jika kita
mengalikan persamaan matriks, maka ditemukan:

Universitas Indonesia

21

fx1 = fx2 dan fy1 = fy2

Jadi keseimbangan dalam arah x dan y untuk benda bebas (free body)
terpenuhi. Berdasarkan kondisi tersebut maka momen pada nodal 1 sebesar :

f X 2 LS fY 2 LC
EA C 2 S C 2 S U1 CS 2 CS 2 V1 C 2 S C 2 S V2 0

Yang juga memenuhi keseimbangan momen.


Singularitas. Dalam matriks kekakuan k , baris pertama dan ketiga
adalah sama, tetapi berlawanan tanda, demikian juga dengan baris kedua dan
keempat. Karena itu k adalah matriks singular. Secara matematis, matriks yang
singular tidak dapat diinvers sehingga tidak mungkin mencari pemecahan
persamaan 2.17. Matriks kekakuan singular berarti bahwa elemen tersebut, tidak
terdapat perletakan, adalah free body yang tidak stabil. Elemen tersebut dapat
menjadi stabil dan matriks kekakuan tersebut dapat menjadi tidak singular jika
elemen tersebut diberikan kondisi batas yang cukup.

2.2.4 Persamaan Perpindahan


Elemen rangka dua dimensi tersebut memiliki empat buah derajat
kebebasan. Apabila ditambahkan gaya fy semu dan sebuah peralihan v dalam arah
y pada tiap nodal, dapat menghubungkan keempat derajat kebebasan dalam arah
koordinat lokal tersebut dengan derajat kebebasan yang berada pada arah
koordinat global, sebagai berikut:

u1 C S 0 0 U1
v S C 0 0 V
1
1

u2 0 0 C S U 2
v2 0 0 S C V2

(2.19)

Atau secara simbolik :

un lokal T un global

Universitas Indonesia

22

2.2.5 Persamaan Gaya Dalam


Dalam peralihan nodal untuk elemen rangka, gaya aksial dapat diperoleh
dari persamaan (2.18).
f X2

EA 2
C U 2 U1 CS V2 V1
L

fY2

EA
CS U 2 U1 S 2 V2 V1
L

Jika menggunakan N untuk menunjukkan gaya aksial tarik, maka:

N f X 2 C fY2 S
EA 2
C S 2 C U 2 U1 S V2 V1

L
EA

C U 2 U1 S V2 V1
L

Dalam bentuk matriks, gaya aksial tarik ditulis sebagai:

EA
C S C
L

U1
V

S 1
U 2
V2

(2.20)

Jika nilai N yang diperoleh negatif, berarti gaya aksial tersebut adalah
tekan. Perhitungan gaya internal elemen bersdasarkan prinsip keseimbangan
antara gaya nodal dan gaya internal. Gaya internal elemen dapat diturunkan secara
teoritis sebagai berikut:
N EA Ba un lokal
EA

1
L

1
L

EA

1
L

1
T un global
L

un lokal

Universitas Indonesia

23

Gambar 2.5 Gaya Internal Elemen N dan Gaya Nodal fXi dan fYi dalam
Koordinat Global (i=1,2)
2.3 Aplikasi Program MATLAB Untuk Problem Rangka 2D dan Verifikasi
dengan Program SAP 2000

Gambar 2.6 Problem Rangka Bidang


Input pada program MATLAB dapat dilihat pada gambar berikut :

Universitas Indonesia

24

Hasil dari program MATLAB :

Universitas Indonesia

25

Verifikasi dengan program SAP :

Universitas Indonesia

26

E = 1,99x108

b = 0,06 m dan h = 0,06


m. A = b x h =
0,0036m2

Release M22 dan M33 agar


yang tertransmisi hanyalah
gaya aksial saja.

Hasil dari program SAP :


Displacement :

Universitas Indonesia

27

Reaksi Perletakkan :

Gaya-gaya Dalam :
TABLE: Element Forces - Frames
Frame Station OutputCase CaseType
Text
m
Text
Text
1
0
DEAD
LinStatic
1
2
DEAD
LinStatic
2
0
DEAD
LinStatic
2
2
DEAD
LinStatic
3
0
DEAD
LinStatic
3
2
DEAD
LinStatic
4
0
DEAD
LinStatic
4
2
DEAD
LinStatic
5
0
DEAD
LinStatic
5
2
DEAD
LinStatic
6
0
DEAD
LinStatic
6
2
DEAD
LinStatic
7
0
DEAD
LinStatic
7
2
DEAD
LinStatic
8
0
DEAD
LinStatic
8
2
DEAD
LinStatic
10
0
DEAD
LinStatic
10
1.5
DEAD
LinStatic
11
0
DEAD
LinStatic
11
1.5
DEAD
LinStatic
12
0
DEAD
LinStatic
12
1.5
DEAD
LinStatic
13
0
DEAD
LinStatic
13
1.5
DEAD
LinStatic
14
0
DEAD
LinStatic
14
2.5
DEAD
LinStatic
15
0
DEAD
LinStatic

P
KN
66.667
66.667
83.333
83.333
-16.667
-16.667
-133.333
-133.333
-116.667
-116.667
-233.333
-233.333
-233.333
-233.333
-216.667
-216.667
-12.5
-12.5
-100
-100
-87.5
-87.5
-87.5
-87.5
20.833
20.833
20.833

Universitas Indonesia

28

15
16
16
17
17

2.5
0
2.5
0
2.5

DEAD
DEAD
DEAD
DEAD
DEAD

LinStatic
LinStatic
LinStatic
LinStatic
LinStatic

20.833
145.833
145.833
145.833
145.833

2.4 Hasil perbandingan antara MATLAB dan SAP 2000


Displacement :
Joint
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

MATLAB
u
0
0.000186
0.000419
0.000372
0
-0.000366
-0.000041
0.000611
0.001262
0.001867

v
0
-0.002388
-0.003660
-0.002016
0
-0.000183
-0.002199
-0.003870
-0.002415
-0.000026

SAP
u
0
0.000185
0.000417
0.000370
0
-0.000365
-0.000041
0.000608
0.001256
0.001858

% diff
v
0
-0.002377
-0.003643
-0.002007
0
-0.000182
-0.002189
-0.003851
-0.002403
-0.000026

u
0
0.591
0.430
0.591
0
0.382
-0.712
0.442
0.475
0.482

v
0
0.461
0.464
0.446
0
0.655
0.455
0.491
0.497
0.650

Reaksi Perletakkan :
Joint
1
5

MATLAB
Rx
Ry
-66.67
12.50
-133.33
87.50

SAP
Rx
-66.67
-133.33

% diff
Ry
12.50
87.50

Rx
0
0

Ry
0
0

Gaya-gaya Dalam :
Elemen
1
2
3
4
5
6
7
8
9

MATLAB
P
66.667
83.333
-16.67
-133.33
-116.67
-233.33
-233.33
-216.67
-12.5

SAP
P
66.667
83.333
-16.67
-133.33
-116.67
-233.33
-233.33
-216.67
-12.5

% diff
P
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Universitas Indonesia

29

10
11
12
13
14
15
16
17

-12.5
-100
-87.5
-87.5
20.833
20.833
145.83
145.83

-12.5
-100
-87.5
-87.5
20.833
20.833
145.83
145.83

0
0
0
0
0
0
0
0

2.5 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penghitungan elemen rangka dengan menggunakan
program MATLAB dan SAP 2000, didapatkan hasil yang hampir sama 100% baik
untuk displacement, reaksi perletakkan, dan gaya-gaya dalam aksial batang. Hal
ini menunjukkan bahwa analisa menggunakan metode elemen hingga dengan
bantuan program MATLAB cukup akurat dan program SAP telah memfasilitasi
analisa sejenis untuk elemen rangka.

Universitas Indonesia

30

BAB 3
PERANCANGAN ELEMEN PORTAL BIDANG

Struktur portal didefinisikan secara fisik sebagai penyusunan pada bidang


dua dimensi (X-Y) dari elemen lurus yang saling berhubungan pada simpul kaku.
Oleh karena itu, simpul ini dapat mentransmisikan semua gaya yakni aksial, geser,
dan momen. Dengan mudah kita dapat mengetahui bahwa pada tiap nodal elemen
portal terdapat 3 DOF yakni u, v, dan . Semua elemen struktur terletak pada
sebuah bidang dan gaya juga bekerja pada bidang itu. Elemen pada portal bidang
terdiri dari dua jenis elemen yang saling independen yaitu elemen aksial dan
elemen lentur. Elemen aksial analog dengan elemen rangka sedangkan elemen
lentur analog dengan elemen balok.

3.1 Formulasi Matriks Kekakuan


Dapat kita ingat kembali bahwa matriks kekakuan untuk elemen rangka

ialah

C2
fX1

f
Y 1 EA CS

2
f X 2 L C
fY 2
CS

CS
S2
CS
S 2

C 2
CS
C2
CS

CS U1

S 2 V1

CS U 2

S 2 V2

Dimana matriks kekakuan diatas sudah berada di dalam koordinat X dan


Y global. Kita juga sudah mengetahui matriks kekakuan elemen balok (Bernoulli)
yakni :
L

k EI Bb
0

6 L 12 6 L
12

2
6 L 2 L2
EI 6 L 4 L
Bb dx 3
L 12 6 L 12 6 L

2
2
6 L 2 L 6 L 4 L

Elemen portal bidang merupakan gabungan antara elemen aksial dan


elemen lentur, matrik kekakuan dapat diekspresikan sebagai berikut :

Universitas Indonesia

31

(3.1)
Untuk dapat menjumlahkan gaya-gaya pada nodal pada elemen-elemen
yang berhubungan diperlukan suatu transformasi dari bentuk sumbu lokal ke
sumbu global.

3.1.1 Transformasi Koordinat Matriks Kekakuan


Untuk mentransformasi diperlukan matriks yang dapat mentransformasi
kondisi lokal ke koordinat global. Matriks transformasinya adalah :

f n lokal T f n global
f x1
C

f
y1 S
f
m1 0

f x2 0
f 0
y2
fm 0
2

S
C
0
0
0
0

0 0
0 0
1 0
0 C
0 S
0 0

0
0
0
S
C
0

f
0 X1

0 fY1

0 f m1

0 f X 2
0 fY
2
1 f
m2

Dengan : C cos dan S sin


Hubungan persamaan gaya nodal elemen pada sumbu lokal kepada
sumbu global:

f i lokal T f i global

Transformasi perpindahan keenam derajat kebebasan dari sumbu lokal ke


sumbu global :

ui lokal T ui global

Universitas Indonesia

32

Matriks transformasi ini merupakan matriks orthogonal, yang dapat


diekspresikan:

T 1 T T
Persaman dalam system koordinat lokal, dapat dibentuk:

T f n global k T un global
dengan menggunakan sifat orthogonal matriks [T], dihasilkan:

f n global k globalun global

dimana :

k global T T k T

Dengan metode energi dapat diperoleh :

fn lokal k lokal un lokal f n lokal


BNE

EA
L

f x1 0

f y1
f 0
m1

f x2 EA
f L
y2
fm 0
2

12 EI
L3
6 EI
L2

6 EI
L2
4 EI
L

12 EI
L3
6 EI
L2

6 EI
L2
2 EI
L

EA
L
0
0

EA
L
0
0

0
12 EI
L3
6 EI
2
L

0
12 EI
L3
6 EI
2
L

BNE
6 EI
f x1
u

2
L 1
f
2 EI v1 y1
f
L 1 m1
u f
0 2 x2
v2 f y2
6 EI
2 2 f m2
L
4 EI
L
0

(
Sehingga matriks kekakuan dalam koordinat globalnya adalah :

k global T k lokal T
T

Universitas Indonesia

33

3.2 Persamaan Gaya Internal N, T, dan M


Perhitungan gaya internal pada nodal dapat dilakukan bila d.k elemen
sudah diketahui, yaitu :
EA
L C

EI
N1 12 L3 S
T
1 6 EI S
M 1 L2

N 2 EA C
T2 L
EI
M 2 12 3 S
L
EI
6 L2 S

EA
S
L
EI
12 3 C
L
EI
6 2C
L
EA

S
L
EI
12 3 C
L
EI
6 2 C
L

0
EI
L2
EI
4
L

0
EI
L2
EI
2
L

EA
EA
C
S
L
L
EI
EI
12 3 S 12 3 C
L
L
EI
EI
6 2 S
6 2 C
L
L
EA
EA
C
S
L
L
EI
EI
12 3 S 12 3 C
L
L
EI
EI
6 2 S
6 2C
L
L

EI
6 2 U1 N1 GIE
L
EI V1 T1
2
L 1 M 1
U N
0 2 2
V2 T2
EI
6 2 2 M 2
L
EI
4
L
0

Sebagai contoh, untuk beban merata f0 dalam arah y lokal :


Pada nodal i gaya internal N, T, dan M untuk setiap nilai positif atau
negatif dan pengaruhnya terhadap elemen diferensial dx adalah sebagai berikut :

Universitas Indonesia

34

Gambar 3.1 Arah Positif untuk Gaya-Gaya Dalam pada Elemen Portal
3.3 Aplikasi program MATLAB Struktur Rangka 2D dibandingkan dengan
program SAP2000
Berikut adalah problem portal bidang yang kemudian dihitung dengan
program MATLAB dan SAP 2000.

Gambar 3.2 Problem Portal Bidang


Input program MATLAB dapat dilihat pada gambar berikut :

Universitas Indonesia

35

Hasil dari program MATLAB :

Universitas Indonesia

36

Displacement :

Gaya-gaya Dalam :
Berurutan dari elemen 1 sampai 10 : (Nn, Tn, Mn, Nn+1, Tn+1, Mn+1)
dimana n = nomor nodal.

Elemen 1

Elemen 2

Elemen 3

Elemen 4

Universitas Indonesia

37

Elemen 5

Elemen 6

Elemen 9

Elemen 10

Elemen 7

Elemen 8

Reaksi Perletakkan : (horizontal vertikal tiap perletakkan)

3.3.1 Verifikasi dengan SAP 2000

Modulus Elastisitas Material

Universitas Indonesia

38

Penampang 1 dan penampang 2

Permodelan balok Bernoulli

Hasil program SAP 2000


Displacement :

Universitas Indonesia

39

Gaya-gaya Dalam :
TABLE: Element Forces - Frames
Frame Station OutputCase
P
V2
Text
m
Text
KN
KN
1
0
DEAD
27.998
21.636
1
4
DEAD
27.998
21.636
2
0
DEAD
-28.364 27.998
2
6
DEAD
-28.364 27.998
3
0
DEAD
-84.052 -28.381
3
4
DEAD
-84.052 -28.381
4
0
DEAD
-24.933 25.529
4
6
DEAD
-24.933 25.529
5
0
DEAD
-115.889 -28.348
5
4
DEAD
-115.889 -28.348
6
0
DEAD
-21.635 28.056
6
6
DEAD
-21.635 28.056
7
0
DEAD
-28.056 -21.635
7
4
DEAD
-28.056 -21.635
8
0
DEAD
-81.583
24.95
8
4
DEAD
-81.583
24.95
9
0
DEAD
-25.05
18.417
9
6
DEAD
-25.05
18.417
10
0
DEAD
-118.417 -25.05
10
4
DEAD
-118.417 -25.05

M3
KN-m
0
-86.5439
86.5439
-81.4432
-113.524
0
76.6568
-76.5147
-113.391
0
81.7971
-86.5409
-86.5409
-2.8E-14
44.5762
-55.2255
55.2255
-55.2779
-55.2779
44.9204

Reaksi Perletakkan :

3.4 Perbandingan Hasil MATLAB dengan SAP 2000


Displacement :
MATLAB

Joint

SAP

U1

U2

0.00E+00

-0.00306

0.01047

1.79E-05

-0.00173

0.01042

-5.38E-05

-0.001443

0.00E+00

0.01039

-7.42E-05

% Diff

U2

0.00306

0.010466

0.000018

0.00173

0.010423

-5.4E-05

0.001443

-0.003187

-0.001435

0.010386

-7.4E-05

U1

U2

0.038204

-0.44643

-0.02879

-0.39041

0.003187

0.001435

0.038499

0.229203

U1

Universitas Indonesia

40

0.01035

-1.80E-05

-0.001702

0.010354

-1.8E-05

0.001702

-0.03865

-0.22272

0.00E+00

-0.003177

0.003177

0.00E+00

-0.003031

0.003031

0.01789

-1.35E-04

-0.001044

0.017893

-0.00014

0.001044

-0.01677

0.295421

10

0.01786

-1.93E-04

-0.001047

0.017856

-0.00019

0.001047

0.022396

-0.20768

Gaya-gaya Dalam :
SAP

MATLAB

% Diff

Frame

Station

V2

M3

V2

M3

V2

M3

Text

KN

KN

KN-m

KN

KN

KN-m

KN

KN

KN-m

27.998

21.636

27.9979

21.636

0.000357

27.998

21.636

-86.5439

27.9979

21.636

-86.5439

0.000357

-28.364

27.998

86.5439

-28.364

27.9979

86.5439

0.000357

-28.364

27.998

-81.4432

-28.364

27.9979

-81.4432

0.000357

-84.052

-28.381

-113.524

-84.052

-28.381

-113.5238

-84.052

-28.381

-84.052

-28.381

-24.933

25.529

76.6568

-24.933

25.529

76.6568

-24.933

25.529

-76.5147

-24.933

25.529

-76.5147

-115.889

-28.348

-113.391

-115.89

-28.348

-113.3914

-0.00043

-115.889

-28.348

-115.89

-28.348

-0.00043

-21.635

28.056

81.7971

-21.635

28.056

81.7971

-21.635

28.056

-86.5409

-21.635

28.056

-86.5409

-28.056

-21.635

-86.5409

-28.056

-21.635

-86.5409

-28.056

-21.635

-2.8E-14

-28.056

-21.635

-81.583

24.95

44.5762

-81.583

24.9504

44.5762

-0.0016

-81.583

24.95

-55.2255

-81.583

24.9504

-55.2255

-0.0016

-25.05

18.417

55.2255

-25.05

18.4172

55.2255

-0.00109

-25.05

18.417

-55.2779

-25.05

18.4172

-55.2779

-0.00109

10

-118.417

-25.05

-55.2779

-118.417

-25.0496

-55.2779

0.001597

10

-118.417

-25.05

44.9204

-118.417

-25.0496

44.9204

0.001597

Reaksi Perletakkan :

Universitas Indonesia

41

Dapat dilihat dari kedua gambar diatas bahwa nilai reaksi perletakkan
yang ada bisa dikatakan sama 100%. Sedikit perbedaan terjadi karena MATLAB
mengambil 4 angka di belakang koma sedangkan SAP pada umumnya hanya 3
angka di belakang koma.

3.5 Kesimpulan
Dari hasil perhitungan elemen portal dengan bantuan program MATLAB
dan verifikasi dengan program SAP 2000, dapat diambil kesimpulan bahwa
program SAP telah memfasilitasi analisa struktur dengan metode elemen hingga
dengan sangat baik. Program MATLAB juga merupakan program yang powerful
dalam permodelan analisa struktur dengan metode elemen hingga. Kedua program
ini memberikan hasil yang satisfied dan akurat.

Universitas Indonesia

42

BAB 4
PERANCANGAN ELEMEN GRID

4.1 Teori Sederhana


Grid adalah struktur satu dimensi yang merupakan bentukan dari
gabungan balok-balok yang terhubung menyilang dan secara kaku pada nodal, di
mana seluruh balok dan nodal tersebut berada pada bidang X-Y yang sama. Arah
beban bekerja tegak lurus pada bidang. Parameter inilah yang membedakanya
dengan portal bidang. Peralihan yang terjadi pun tegak lurus pada bidangnya.
Pada elemen grid, terdapat efek lentur terhadap sumbu horizontal penampang dan
juga terdapat efek puntir terhadap sumbu batang, yang berarti menahan momen
torsi. Dengan demikian, terdapat 3 derajat kebebasan dalam tiap nodal untuk
struktur grid yakni displacement transversal arah vertikal z dan dua rotasi: wi , xi
dan yi .
4.2 Formulasi Matriks Kekakuan
Sebelum mendapatkan matriks kekakuan, kita perlu mencari matriks
transformasi dari elemen grid. Fungsinya untuk mentransformasikan matriks
kekakuan elemen yang mengacu pada koordinat lokal ke dalam sistem koordinat
global.

Gambar 4.1 Koordinat Global (X-Y) dan Koordinat Lokal (x-y)


Matriks transformasi :

Universitas Indonesia

43

Kekakuan Elemen
Matriks kekakuan elemen dalam sumbu lokal :
GJL2

0
1 0
k 3
L GJL2
0

0
4 EIL2
6 EIL
0
2 EIL2
6 EIL

0
GJL2
6 EIL
0
12 EI
0
0
GJL2
6 EIL
0
12 EI
0

0
0

2 EIL2 6 EIL
6 EIL 12 EI

0
0
4 EIL2 6 EIL

6 EIL 12 EI

Matriks kekakuakan elemen dalam sumbu global :

k global T k lokal T
T

Sehingga matriks kekakuan dalam sumbu global :


GJL2C 2 4 EIL2 S 2
GJL2 SC 4 EIL2 SC
6 EILS
GJL2C 2 2 EIL2 S 2 GJL2 SC 2 EIL2 SC 6 EILS

2
2
2 2
2 2
GJL S 4 EIL C
6 EILC GJL2 SC 2 EIL2 SC GJL2 S 2 2 EIL2C 2 6 EILC
GJL SC 4 EIL SC
6 EILS
6 EILS
12 EI
6 EILS
6 EILS
12 EI
1
k 3

L GJL2C 2 2 EIL2 S 2 GJL2 SC 2 EIL2 SC 6 EILS


GJL2C 2 4 EIL2 S 2
GJL2 SC 4 EIL2 SC 6 EILS
GJL2 SC 2 EIL2 SC GJL2 S 2 2 EIL2C 2 6 EILC GJL2 SC 4 EIL2 SC
GJL2 S 2 4 EIL2C 2
6 EILC

6 EILS
6 EILS
12 EI
6 EILS
6 EILS
12 EI

Pada kondisi ini besarnya displacement elemennya [u] adalah

w1 x1

y1

w2

x2

y2

Gaya Internal T dan M


Perhitungan gaya internal elemen pada nodal 1 dan 2 dapat diperoleh
dengan memasukkan nilai x = 0 untuk Mx1, My1, T1 dan x = L untuk Mx2, My2, T2.

Universitas Indonesia

44

GJ
L C

4 EI S
M x1
L
M
6 EI
y1

T1 1 L2 S

3
M x 2 L GJ C
M y2
L

2 EI
T2
S

L
6 EI

S
L2

GJ
S
L
4 EI

C
L
6 EI
C
L2
GJ

S
L
2 EI
C
L
6 EI
C
L2

0
6 EI
L2
12 EI
3
L
0
6 EI
L2
12 EI
3
L

GJ
C
L
2 EI
S
L
6 EI
2 S
L
GJ
C
L
4 EI

S
L
6 EI
S
L2

GJ
S
L
2 EI

C
L
6 EI
C
L2
GJ
S
L
4 EI
C
L
6 EI
C
L2

6 EI
2 X 1 M x1 GIE
L

12 EI Y 1 M y1
L3 w1 T1
M
0 X 2 x2
Y 2 M y 2
6 EI w T
2 2
L2
12 EI
L3
0

4.3 Aplikasi program MATLAB Struktur Grid dibandingkan dengan


program SAP2000

3m

3m

4m

3m

3m

4.3.1 Input Program MATLAB

Universitas Indonesia

45

4.3.2 Hasil program MATLAB


Displacement :

Universitas Indonesia

46

Gaya-gaya Dalam :

Reaksi Perletakkan :

Universitas Indonesia

47

Universitas Indonesia

48

4.3.3 Input Program SAP

E = 2.7 E6 Kpa ; v =
0,15 ; G = 1.174 E7
Kpa

I = 1.067E-3 m4 ; J =
7,324E-4 m3

Universitas Indonesia

49

4.3.4 Hasil Program SAP


Displacement :

Gaya-gaya Dalam :
TABLE: Element Forces - Frames
Frame

Station

Text

OutputCase

CaseType

V2

V3

M2

Text

Text

DEAD

LinStatic

DEAD

KN

KN

KN

KN-m

KN-m

KN-m

-104.455

6.521

-215.964

LinStatic

-104.455

6.521

97.4023

DEAD

LinStatic

-2.8E-14

1.78E-15

88.9214

DEAD

LinStatic

-2.8E-14

1.78E-15

88.9214

DEAD

LinStatic

104.455

-6.521

97.4023

DEAD

LinStatic

104.455

-6.521

-215.964

DEAD

LinStatic

-51.946

10.463

-108.793

DEAD

LinStatic

-51.946

10.463

47.046

DEAD

LinStatic

1.42E-14

-5.3E-15

46.3099

DEAD

LinStatic

1.42E-14

-5.3E-15

46.3099

DEAD

LinStatic

51.946

-10.463

47.046

DEAD

LinStatic

51.946

-10.463

-108.793

Universitas Indonesia

M3

50

DEAD

LinStatic

-43.598

-9.2169

-100.445

DEAD

LinStatic

-43.598

-9.2169

30.3504

DEAD

LinStatic

-43.598

9.2169

-100.445

DEAD

LinStatic

-43.598

9.2169

30.3504

DEAD

LinStatic

4.455

8.4808

19.8874

DEAD

LinStatic

4.455

8.4808

6.521

10

DEAD

LinStatic

4.455

-8.4808

19.8874

10

DEAD

LinStatic

4.455

-8.4808

6.521

Reaksi Perletakkan :

4.3.5 Perbandingan Antara Hasil MATLAB dan SAP


Displacement :
Joint
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

m
v
-0.01742
-0.01742
-0.00888
-0.00888
0
0
0
0
0
0

SAP
rad
rad
x
y
0.002275 0.006175
0.002275 -0.00618
0.003651 -0.00322
0.003651 0.003216
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

m
v
-0.01742
-0.01742
-0.00888
-0.00888
0
0
0
0
0
0

MATLAB
rad
rad
x
y
0.002275 0.006173
0.002275 -0.006173
0.00365
-0.003215
0.00365
0.003215
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

m
v
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

% Diff
rad
rad
x
y
0
-0.0324
0
-0.0324
-0.0274
-0.0311
-0.0274
-0.0311
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Gaya-gaya Dalam :
SAP
Nodal

MATLAB

% Diff

M3

V2

M3

V2

M3

V2

KN-m

KN-m

KN

KN-m

KN-m

KN

KN-m

KN-m

KN

1.78E-15

88.9214

-2.8E-14

88.9232

-0.00202

1.78E-15

88.9214

-2.8E-14

88.9232

-0.00202

8.4808

19.8874

4.455

8.4789

19.8881

4.4562

0.022409

-0.00352

-0.02693

8.4808

6.521

4.455

8.4789

6.5196

4.4562

0.022409

0.021474

-0.02693

Universitas Indonesia

51

-5.3E-15

46.3099

1.42E-14

46.3102

-0.00065

-5.3E-15

46.3099

1.42E-14

46.3102

-0.00065

-8.4808

19.8874

4.455

-8.4789

19.8881

4.4562

0.022409

-0.00352

-0.02693

-8.4808

6.521

4.455

-8.4789

6.5196

4.4562

0.022409

0.021474

-0.02693

6.521

-215.964

-104.455

6.5196

-215.9644

-104.456

0.021474

-9.3E-05

-0.00115

6.521

97.4023

-104.455

6.5196

97.4021

-104.456

0.021474

0.000205

-0.00115

-6.521

97.4023

104.455

-6.5196

97.4021

104.4562

0.021474

0.000205

-0.00115

-6.521

-215.964

104.455

-6.5196

-215.9664

104.4562

0.021474

-0.00102

-0.00115

-10.463

47.046

51.946

-10.4604

47.0459

51.9462

0.024856

0.000213

-0.00039

-10.463

-108.793

51.946

-10.4604

-108.7928

51.9462

0.024856

-0.00028

-0.00039

10.463

-108.793

-51.946

10.463

-108.7928

-51.9462

-0.00028

-0.00039

10.463

47.046

-51.946

10.463

47.0459

-51.9462

0.000213

-0.00039

-9.2169

-100.445

-43.598

-9.2145

-100.4442

-43.5976

0.026046

0.000498

0.000917

-9.2169

30.3504

-43.598

-9.2145

30.3486

-43.5976

0.026046

0.005931

0.000917

10

9.2169

-100.445

-43.598

9.2145

-100.4442

-43.5976

0.026046

0.000498

0.000917

10

9.2169

30.3504

-43.598

9.2145

30.3486

-43.5976

0.026046

0.005931

0.000917

Reaksi Perletakkan :
SAP
Joint

MATLAB

% Diff

Fz

Mx

Mz

Fz

Mx

Mz

Fz

Mx

Mz

KN

KN-m

KN-m

KN

KN-m

KN-m

KN

KN-m

KN-m

104.455

-6.521

-215.964

104.4562

-6.5196

-215.9664

-0.00115

0.021474

-0.00102

104.455

-6.521

215.9642

104.4562

-6.5196

215.9664

-0.00115

0.021474

-0.00102

51.946

-10.463

108.7925

51.9462

-10.4604

108.7928

-0.00039

0.024856

-0.00028

51.946

-10.463

-108.793

51.9462

-10.4604

-108.7928

-0.00039

0.024856

-0.00028

43.598

-100.445

-9.2169

43.5976

-100.4442

-9.2145

0.000917

0.000498

0.026046

10

43.598

-100.445

9.2169

43.5976

-100.4442

9.2145

0.000917

0.000498

0.026046

4.4 Kesimpulan
Dari hasil perhitungan elemen grid dengan bantuan program MATLAB
dan verifikasi dengan program SAP 2000, dapat diambil kesimpulan bahwa
program SAP telah memfasilitasi analisa struktur dengan metode elemen hingga
dengan sangat baik. Program MATLAB juga merupakan program yang powerful
dalam permodelan analisa struktur dengan metode elemen hingga. Kedua program
ini memberikan hasil yang satisfied dan akurat.

Universitas Indonesia