Anda di halaman 1dari 13

A.

BIDANG PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN


1. Program Non Fisik
a. Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Bokashi
Pada umumnya, dalam melakukan budidaya tanaman, para petani
termasuk petani di desa Tamansari dan sekitarnya, Kecamatan
Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, menggunakan pupuk sintetik
seperti Urea, ZA, SP-36, KCl untuk mencukupi kebutuhan nutrient
tanamannya. Dampak penggunaan pupuk urea, ZA, SP-36, KCl dan
sejenisnya serta pestisida sintetik adalah tanah menjadi asam dan dapat
menyebabkan : pertama, unsur hara makro (N, P, K dan S) tidak dapat
dimanfaatkan secara maksimal oleh tanaman karena terikat oleh koloid
tanah. Kedua, melimpahnya unsur hara mikro seperti Mg, Fe, Mn, Zn
dan Al

yang

dapat

bersifat

racun

bagi

tanaman.

Ketiga,

mikroorganismee degradator dan penyubur tanah tidak bisa berkembang


dengan optimal. Apabila kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, maka
pertumbuhan tanaman akan terhambat dan produktivitasnya terus
menurun.
Mengingat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari sistem
pertanian secara konvensional (an-organik) tersebut, maka perlu
dilakukan upaya perbaikan sistem budidaya.

Salah satunya adalah

dengan mengganti pupuk anorganik dengan pupuk organik bokashi.


Bokashi adalah hasil fermentasi bahan bahan organic seperti sekam,
serbuk gergaji, jerami, kotoran hewan dan lain lain. Bahan bahan
tersebut difermentasikan dengan bantuan mikroorganisme activator yang

mempercepat proses fermentasi. Campuran mikroorganisme yang


digunakan untuk mempercepat fermentasi dikenal sebagai effective
microorganism (EM). Penggunaan EM tidak hanya mempercepat proses
fermentasi tetapi juga menekan bau yang biasanya muncul pada proses
penguraian bahan organik.

Waktu
Lokasi
Peserta kegiatan

(GAPOKTAN) dan masyarakat sekitar.


Tujuan dan Manfaat
: Untuk menjelaskan bahaya

: 31 Januari 2015
: Rumah H. Darsono
: Gabungan Kelompok

Tani

penggunaan pupuk anorganik dan dapat memanfaatkan bahan baku

yang ada di desa dan sekitarnya untuk dibuat pupuk organik.


Hasil
:
Anggota
kelompok
GAPOKTAN telah mengetahui dampak penggunaan pupuk
anorganik dan mampu memanfaatkan bahan baku di desa dan
sekitarnya untuk membuat pupuk organik.

Faktor Pendorong

: Adanya permintaan dari anggota

GAPOKTAN untuk mengadakan sosialisasi pembuatan pupuk.


Gambar Acara Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Bokashi

Faktor Penghambat

: Warga datang tidak tepat waktu dan

tidak semuanya hadir sehingga penyuluhan hanya dihadiri sedikit


orang.

Upaya Mengatasi Masalah : Dengan bantuan kepala dusun dan


tokoh masyarakat setempat untuk mengumpulkan warga.

Rekomendasi perbaikan program kerja : Perlu diadakan sosialisasi


pembuatan pestisida alami.

b. Sosialisai Pemanfaatan Lahan Pekarangan


Pekarangan adalah taman rumah tradisional yang bersifat pribadi,
yang merupakan sistem yang terintegrasi dengan hubungan yang erat
antara manusia, tanaman, dan hewan. Lahan pekarangan memiliki
fungsi multiguna, karena dari lahan yang relatif sempit ini, bisa
menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buahbuahan; bahan tanaman rempah dan obat, bahan kerajinan tangan; serta
bahan pangan hewani yang berasal dari unggas, ternak kecil maupun
ikan. Manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara
lain dapat: memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga,
menghemat pengeluaran, dan juga dapat memberikan tambahan
pendapatan bagi keluarga.
Pemanfaatan

pekarangan

dapat

memiliki

manfaat

(1)

Kemandirian pangan rumah tangga pada suatu kawasan, (2)

Diversifikasi pangan yang berbasis sumber daya lokal, (3) Konservasi


tanaman-tanaman pangan maupun pakan termasuk perkebunan,
hortikultura untuk masa yang akan datang, (4) Kesejahteraan petani dan
masyarakat yang memanfaatkan Kawasan Rumah Pangan Lestari, (5)
Pemanfaatan kebun bibit desa agar menjamin kebutuhan masyarakat
akan bibit terpenuhi, baik bibit tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, termasuk ternak, unggas, ikan dan lainnya, (6) Antisipasi
dampak perubahan iklim.

Waktu
Lokasi

: 12 Februari 2015
: Sekertariat Kelompok Wanita

Tani (KWT) Sekar Arum.


Peserta kegiatan

: Kelompok Wanita Tani (KWT)

dan masyarakat sekitar.


Tujuan dan Manfaat

Untuk

menjelaskan

lahan

pekarangan dapat dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan atau


pertanian hortikultura sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan

dan gizi yang lengkap.


Hasil

: Anggota kelompok tani wanita

(KWT) telah mengetahui cara pengolahan lahan pekarangan dan


mengetahui manfaat dari pengolahan lahan pekarangan.

Gambar Acara Sosialisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Faktor Pendorong

lahan pekarangan yang belum dimanfaatkan secara optimal.


Faktor Penghambat
: Persiapan untuk sosialisasi yang

: Sebagian besar warga desa memiliki

kurang, sehingga materi yang diberikan hanya dalam bentuk


makalah tanpa ada power point yang ditayangkan saat penjelasan
sosialisasi.

Rekomendasi

perbaikan

program

Persiapan

harus

lebih

dimatangkan.
c. Sosialisai Pencemaran Lingkungan
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke
dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi
kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Peristiwa pencemaran lingkungan disebut polusi. Zat atau bahan
yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat
suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan
kerugian terhadap makhluk hidup. Berdasarkan hasil survei, warga desa
Tamansari masih banyak yang membuang sampah ke sungai ataupun
membakar sampah yang menyebabkan polusi.

Waktu
Lokasi
Peserta kegiatan
Tujuan dan Manfaat

: 11 Februari 2015
: MI Maarif 02 Tamansari
: Anak SD
: Untuk menjelaskan dampak

negatif dari kebiasaan membakar sampah maupun membuang

sampah di lingkungan.
Hasil

: Anak anak SD mengetahui

dampak negatif dari kebiasaan membakar sampah dan membuang


sampah ke sungai dapat menyebabkan terjadinya pencemaran
lingkunan.

Gambar Acara Sosialisasi Pencemaran Lingkungan


Faktor Pendorong
: Adanya permintaan dari warga

dan kotornya sungai sekitar yang berada di desa Tamansari.


Faktor Penghambat
: waktu pelaksanaan diundur
karena bentrok dengan proker lain.

Rekomendasi

: peserta kegiatan seharusnya

melibatkan warga desa Tamansari juga.


2. Program Fisik
a. Pembuatan Pupuk Organik Bokashi
Setelah mengetahui dampak negatif dari penggunaan pupuk
anorganik, salah satu upaya yang dapat dilakuakan untuk mengurangi

dampak tersebut adalah beralih menggunakan pupuk organik bokashi.


Berdasarkan hasil survei didesa tersebut banyak terdapat bahan-bahan
yang dapat digunakan untuk pembuatan pupuk organik yang berupa
kotoran ternak dan serasah daun.
Pelatihan pembuatan pupuk
memberikan

ketrampilan

(GAPOKTAN)

agar

dapat

organik

kepada

dilaksanakan

gabungan

membuat

kelompok

pupuk

sendiri

untuk
tani
dengan

memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Dengan demikian,


penggunaan

pupuk

organik

dapat

pengeluaran untuk pembelian pupuk.


Waktu
:

dikurangi

begitupun

biaya

1. 3, 6, 9, 12, 15 dan 18

Februari 2015
Lokasi
Peserta kegiatan

tani (GAPOKTAN) dan masyarakat sekitar.


Tujuan dan Manfaat
: anggota

: Rumah H. Darsono
: Anggota gabungan kelompok

gabungan kelompok

tani (GAPOKTAN) mampu membuat pupuk organik bokashi


dengan memanfaatkan potensi di desanya dan dapat mengurangi

penggunaan pupuk anorganik.


Hasil

Anggota

kelompok

GAPOKTAN telah mengetahui cara pembuatan pupuk bokasi


menggunakan kotoran ternak maupun serasah daun.

Gambar Acara Pembuatan Pupuk Organik Bokashi

Faktor Pendorong

: Masih tingginya penggunaan pupuk

anorganik dan belum ada pemanfaatan kotoran ternak serta serasah

daun yang berada di desa tersebut.


Faktor Penghambat
: Kedisiplinan datang sangat rendah,
peserta yang menghadiri proses pembuatan pupuk hanya dua orang.

Rekomendasi perbaikan program : perlu adanya kontrol rutin


untuk pembuatan pupuk.

b. Pembuatan Arang Sekam Padi sebagai Media Pengganti Tanah


Arang sekam memiliki banyak manfaat, baik di dunia pertanian
maupun untuk kebutuhan industri, para petani memanfaatkan arang
sekam sebagai penggembur tanah, bahan pembuatan kompos, pupuk
bokashi, media tanam dan media persemaian. Arang sekam dibuat dari
pembakaran tak sempurna atau pembakaran parsial sekam padi. Bahan
baku arang sekam bisa didapatkan dengan mudah di tempat-tempat
penggilingan beras. Bahkan di beberapa tempat, sekam padi dianggap
sebagai limbah. Sebanyak 20-30% dari proses penggilingan padi akan
dibuang dalam bentuk sekam padi.

Di dalam tanah, arang sekam bekerja dengan cara memperbaiki


struktur fisik, kimia dan biologi tanah. Arang sekam bisa meningkatkan
porositas tanah sehingga tanah menjadi gembur sekaligus juga
meningkatkan kemampuan tanah menyerap air. Secara biologis, tanah
yang gembur merupakan media yang baik bagi tumbuh dan
berkembangnya organisme hidup. Baik yang berupa mikroorganisme
seperti bakteri akar maupun makroorganisme seperti cacing tanah.
Secara kimia, arang sekam memiliki kandungan unsur hara penting
seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca) dan
Magnesium (Mg). Keasamannya netral sampai alkalis dengan kisaran
pH 6,5 sampai 7.

Waktu
Lokasi

: 15 Februari 2015
: Kebun kelompok wanita tani

(KWT) sekar arum


Peserta kegiatan

: Anggota kelompok tani wanita

(KWT) dan warga sekitar.


Hasil

: Anggota kelompok wanita tani

(KWT) dapat membuat sendiri media arang sekam padi dan


digunakan sebagai media pengganti tanah.

Gambar Acara Sosialisasi dan Pembuatan Arang Sekam Padi

Faktor Pendorong

: masih tingginya penggunaan tanah

sebagai media tanam sayuran dan pemanfaatan sekam padi yang

belum optimal.
Faktor Penghambat

: Proses pembuatan arang sekam padi

diundur karena hujan.

Rekomendasi perbaikan program :

perlu

diadakan

kegiatan

pembuatan arang sekam secara rutin.


c. Penanaman Bibit Sayur di Lahan Pekarangan
Budidaya sayuran di pekarangan bukan merupakan hal baru.
Praktek pemanfaatan demikian sudah lama dilakukan terutama di
pedesaan. Namun demikian, seiring berjalannya waktu kebiasaan
tersebut semakin ditiggalkan, dan banyak pekarangan di pedesaan justru
tidak dimanfaatkan, dibiarkan terlantar dan gersang.
Bertolak belakang dengan kecendrungan di atas, jumlah penduduk
akhir-akhir ini terus mengalami peningkatan sehingga kebutuhan bahan
panganpun semakin bertambah. Pemenuhan kebutuhan pangan tersebut
banyak

menemui

permasalahan,

diantaranya

adalah

fenomena

perubahan iklim global yang berpengaruh pada tingkat produksi dan


distribusi

bahan

pangan,

penyempitan

lahan

pertanian

akibat

penggunaan di bidang non pertanian, dan tingginya tingkat degradasi


lahan sehingga menyebabkan berkurangnya hasil panen.

Oleh sebab itu, strategi baru dalam pemenuhan bahan pangan,


diantaranya

melalui

pemanfaatan

lahan

pekarangan,

perlu

dikembangankan. Data statistik menunjukkan luas lahan pekarangan di


Indonesia saat ini mencapai 10.3 juta hektar. Apabila dimanfaatkan
secara optimal maka permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan,
sebagaimana disebutkan di atas, kemungkinan besar dapat dikurangi.
Waktu
: 14 Februari 2015
Lokasi
: Kebun kelompok wanita tani

(KWT) sekar arum


Peserta kegiatan

: Anggota kelompok tani wanita

(KWT) dan warga sekitar.


Tujuan dan Manfaat

: Dapat mengoptimalkan lahan

pekarangan dan memenuhi kebutuhan pangan serta gizi.


Hasil
: Anggota kelompok wanita tani
(KWT) dapat mengoptimalkan manfaat lahan pekarangan dapat
memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.

Gambar Acara Penanaman Bibit Sayur di Lahan Pekarangan

Faktor Pendorong

: Sebagian besar warga desa

memiliki lahan pekarangan yang belum dimanfaatkan secara


optimal.

Faktor Penghambat

: Tidak ada

Rekomendasi

perlu

dilakuakan

kegiatan

penanaman bibit secara rutin.


d. Kerja Bakti
Kerja bakti merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara
bersama-sama dan bersifat suka rela agar yang dikerjakan dapat berjalan
dengan lancar, mudah dan ringan. Sikap kerja bakti itu seharusnya
dimiliki oleh seluruh elemen atau lapisan masyarakatyang ada di
Indonesia. Dengan demikian segala sesuatu yang akan dikerjakan dapat
lebih mudah dan cepat diselesaikan serta hubungan persaudaraan atau
silahturahim akan semakin erat.
Waktu

: 25 Januari 2015 dan 8 Februari

2015
Lokasi

: Kebun kelompok wanita tani

(KWT) sekar arum


Peserta kegiatan

: Anggota kelompok tani wanita

(KWT) dan warga sekitar.


Hasil

: Anggota kelompok wanita tani

(KWT)

dapat

mempererat

hubungan

menciptakan lingkungan yang bersih.

persaudaraan

dan

Faktor Pendorong

Gambar Acara Kerja Bakti


: Kegiatan kerja bakti merupakan

kegiatan rutin setiap hari minggu.

Faktor Penghambat

: Warga yang hadir hanya sedikit.

Rekomendasi

dilaksanakan secara rutin.

Kerja

bakti

ini

perlu