Anda di halaman 1dari 6

Mencegah Fraud

Pengantar
Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ungkapan tersebut tepat digunakan mengatasi
fraud karena yang sebenarnya terjadi jauh lebih besar daripada yang yang terungkap. Akar
masalah dari fraud adalah Fraud by need, by greed, by opportunity. By need dan by greed
bisa ditekan dengan recruitment process yang baik, kemudian selalu dilakukan fraud
awarenenss dan contoh yang baik dari pimpinan. Sedangkan by opportunity ditekan
dengan sistem pengendalian intern yang memadai.
Gejala Gunung Es
Menurut David, dkk fraud dibagi menjadi 3:
1. Fraud sudah menjadi tuntutan hukum (Prosecution), tanpa melihat hasil di pengadilan
paling mudah diketahu jumlahnya 20%
2. Fraud yang ditemukan namun belum ada tuntutan hukum contohnya di Temuan
BPK yang terkait dengan indikasi kerugian keuangan negara jumlahnya 40%
3. Fraud yang belum ditemukan hanya dapat diketahui Tuhan dan pelalu, tertutup
rapat jumlahnya 40%
Banyak fraud dtemukan hanya secara kebetulan. Tidak jarang indikasi fraud tidak terbukti
setelah di investigasi tim lain. Yang lebih gawat, jika statistik jumlah fraud tadi benar,
maka artinya awarenes tentang fraud kita (indonesia) sangat kurang karena hanya
membanggakan atas apa yang sudah diungkap, tapi yang tidak terungkap jauh lebih besar.
Pelajaran dari Report To The Nation
Anti Fraud Controls dan besarnya kerugian yang dapat dicegah:
Audit kunjungan mendadak 66,2%
Jobs Rotation/ Wajib ambil cuti 61%
Program dukungan bagi karyawan 56%
Pelatihan ttg fraud kepada manajer dan eksekutif 55,9%
Audit Internal 52,8%
Pelatihan ttg fraud kepada karyawan 51,9%
Kebijakan pemberantasan fraud 49,2%
Audit eksternal untuk pengendalian internal atau laporan keuangan 47,8%
Aturan kode etik 45,7%
Telaah manajemen atas SPI 45,0%
Audit eksternal atas laporan keuangan 40%
Komite audit independen 31,5%
Sertifikasi mengenai kewajaran laporan keuangan oleh manajemen 29,5%
Rewards for whistle blowers 28,7%

Pengendalian Intern
Definisi 1 (sebelum September 1992)

Kondisi yang diinginkan, atau merupakan hasil, dari berbagai proses yang dilaksanakan
suatu entitas untuk mencegah (prevent) dan menimbulkan efek jera (deter) terhadap
fraud
Definisi 2 (Setelah September 1992)
Suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh dewan, manajemen dan karyawan
untuk memberikan kepastian yang memadai dalam mencapai kegiatan usaha yang efektif
dan efisien, keandalan laporan keuangan, dan kepatuhan terhadap undang-undang dan
peraturan lainnya yang relevan
Definisi menurut COSO tersebut merambah area yang lebih luas, bukan hanya fraud.
Namun hal itu juga menjadikannya kehilangan kekhasan. Perspektif yang berbeda-beda
mengenai pengendalian internal bukanlah tidak perlu. Pengendalian intern berhubungan
dengan tujuan entitas dan kelompok yang berbeda-berda tertarik dengan tujuan yang
berbeda-beda dan untuk alasan berbeda-beda. Meskipun suatu entitas ingin memusatkan
perhatian pada kegiatan atau tujuan tertentu, dengan menentukan dan menjelaskan
tujuan-tujuan khusus. Definisi pengendalian intern yang khas, dapat disarikan dari
definisi utamanya
Definisi 3 (AICPA 1988)
Untuk tujuan audit laporan keuangan, struktur pengendalian intern suatu entitas terdiri
dari 3 unsur: lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur-prosedur
pengendalian
Definisi menurut AICPA ini terutama untuk fraud yang dilakukan karyawan yang
nilaianya tidak terlalu besar. Sedangkan pada tingkat manajemen, tidak bisa ditangani
dengan sistem pengendalian internal semacam itu.
Definisi 4 (Khusus mencegah fraud)
Suatu sistem dengan proses dan prosedur yang bertujuan khusus, dirancang dan
dilaksanakan untuk tujuan utama, kalau bukan satu-satunya, untuk mencegah dan
menghalangi terjadinya fraud
Fraud Specific Internal Control
Lebih mudahnya disingkat pengendalian internal.
Sulit membahas secara rinci karena akan sangat bervariasi antar entitas, maka hanya
akan butir utamanya saja. Pengendalian dibagi menjadi dua, yaitu aktif dan pasif.
Kuncinya:
- Aktif to prevent mencegah Badan Atom Dunia mengunjungi negara
penghasil nuklir
- Pasif deter mencegah karena konsekuensinya besar AS dan Uni Soviet
membangun senjata nuklir untuk mencegah masing-masing mengunakannya karena
konsekuensi yang sangat besar

Pengendalian Intern Aktif


Ini yang paling banyak digunakan. Ia seperti pagar yang mengelilingi bangunan. Saranasarana yang biasa digunakan antara lain:
- Tanda tangan
- Tanda tangan counter
- PIN
- Pemisahan tugas
- Pengendalian aset secara fisik
- Real time inventory control
- Pagar, gembok, pengaman gedung
- Pencocokan dokumen
- Prenumbered accountible forms
Pengendalian Intern Pasif
Tujuan aktif dan pasif adalah untuk mencegah terjadinya fraud. Jika aktif semacam
barikade berlapis sebelum pelaku menembus, maka pasif ini seperti tidak ada barikade
namun ada peredam yang memberi efek jera kepada pelaku.
Contoh pengendalian intern pasif adalah pintu masuk berputar pada stasiun kereta,
semua orang bisa masuk, namun bila ketahuan tidak membawa tiket akan didenda besar.
Contoh lain adalah SPT pajak yang dibuat self assesment. Jika terbukti salah akan
didenda besar oleh Kantor Pajak.
Bentuk lain pengendalian intern pasif
- Costumized controls
- Audit trails
- Focused audit
- Surveillance of key activities
- Rotation of key personnel
Semua kelemahan pengendalian intern aktif dihilangkan dengan pengendalian intern
pasif: tidak mahal, tidak bergantung kepada manusia, tidak mempengaruhi produktivitas,
dan tidak rawan ditembus.
Dapatkah Mempercayai Pengendalian Intern?
Iya dan Tidak. Jika pengendalian intern telah dirancang dan dilaksanakan dengan baik,
jika pegawai dilatih dengan baik serta melakukan tugasnya dengan baik maka dapat
diandalkan untuk mencegah fraud.
Mendeteksi Fraud
Kesenjangan antara kenyataan dan harapan
Sejak awal, profesi auditor menolak tanggung jawab dalam menemukan fraud. Dalam
dasawarsa terakhir, perubahan lebih banyak dalam retorika drpd substansi.
November 1974, AICPA membentuk komisi Cohen saat profesi akuntan mendapat
sorotan dari Kongres AS. Tujuannya adalah menarik dan memberikan rekomendasi
mengenai tanggungjawab yang tepat dari auditor independen. Adanya kesenjangan
antara harapan dan kenyataan harus di kaji dan dipecahkan.
Isi laporan Cohen antara lain: Kesenjangan memang ada diantara auditor dan harapan
pengguna laporan keuangan.

Davia mengkritik bagian keempat laporan Cohen karena dianggap gagal dalam
mengklarifikasi apa sesungguhnya tanggung jawab auditor independen dalam
menemukan fraud.
Auditor masih berpegang pada aturan lama yang menganggap audit general atas laporan
keuangan memang tidak dirancang untuk menemukan fraud. Kalau ingin
menemukannya harus dengan pengujian tambahan dan mendalam yang pasti
membutuhkan biaya yang besar. Yang kurang diperdulikan auditor mungkin adalah
masalah fraud berupa pencurian aset.
Pengguna laporan keuangan tidak hanya membutuhkan opini wajar, namun mereka
memganggap bahwa auditor juga telah memutuskan tidak ada fraud dalam
pengelolaannya. Hal ini kemudian menjadi perhatian The Treadway Commision dan
Sarbanes Oxley yaitu fraudulent financial reporting (kesengajaan dalam melakukan atau
tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan yang menyebabkan laporan
keuangan menjadi menyesatkan secara material)
Mengenalkan Standar Audit untuk Menemukan Fraud
Auditor harus menempatkan dirinya dalam posisi yang kuat yang diwujudkan dengan
standar audit. Dalam hal fraud dinamakan fraud specific examinations.
Audit Umum dan Pemeriksaan Fraud
Issue
Auditing
Fraud Examination
Timing
Recurring
Non Recurring
Scope
General
Specific
Objective
Opinion
Affix Blame
Relationship
Non Adversarial
Adversarial
Methodology
Audit Techniques
Fraud Examination Techniques
Presumption
Profesional Skepticism
Proof
Pelajaran dari Report To The Nation
Tentang deteksi fraud:
- Rata-rata berlangsungnya fraud sebelum dideteksi adalah antara 17 30 bulan
- Bagaimana fraud terungkap? Kebanyakan karena ada yang membocorkan atau
kebetulan. Jadi bukan karena auditor
- Bahkan jika dilakukan pemilik, kebanyakan karena ada yang membocorkan terutama
oleh karyawan
Teknik Pemeriksaan Fraud
- Penggunaan teknik audit oleh internal maupun eksternal auditor namun lebih
mendalam dan luas
- Pemanfaatan teknik audit investigatif
- Penelusuran jejak arus uang
- Penerapan teknik analisis dalam bidang hukum
- Penggunaan teknik audit investigatif dalam pengadaan barang
- Penggunaan computer forensics
- Penggunaan teknik interogasi
- Penggunaan operasi penyamaran
- Pemanfaatan whistle blower

Pencegahan dan Pendeteksian Fraud


Kasus:
Margareth dikenal jujur dan dapat dipercaya, namun 3 tahun sebelum pensiun ketahuan
menggelapkan dana $600.000 dan baru terungkap setelah dia pensiun. Pengadilan
memutuskan bersalah dan akhirnya semua menjauh dan dia kesulitan membayar. Semua
keluarga kena imbas termasuk bank dia tempat bekerja kehilangan nasabah. Kasus di
atas menunjukkan bahwa semua orang dapat berbuat tidak jujur. Organisasi dapat
membuat lingkungan dengan tingkat fraud yang besar dan tingkat fraud kecil. Dua faktor
dasar yang membentuk lingkungan dengan tingkat fraud yang kecil akan dijelaskan
sebagai berikut:
Menciptakan Budaya Kejujuran, Keterbukaan dan Memberi Dukungan
Ada 3 faktor utama:
a) Memperkerjakan orang yang jujur dan menyediakan pelatihan kesadaran akan
adanya kecurangan
Langkah yang dilakukan:
- Memverifikasi semua informasi pada resume dan aplikasi pelamar
- Mensyaratkan semua pelamar untuk menegaskan kebenaran hal-hal yang ada
dalam resume dan aplikasi mereka
- Melatih manajemen untuk melakukan wawancara secara lebih mendalam dan
terampil
b) Menciptakan lingkungan kerja yang positif, yang berarti memiliki kode etik yang
ditetapkan dengan baik, memiliki kebijakan yang bersifat terbuka, tidak
beroperasional pada basis krisis dan memiliki atmosfer tingkat kecurangan yang
rendah
Langkah yang dilakukan:
- Membuat ekspetasi mengenai kejujuran dengan memiliki standar perilaku
perusahaan yang baik dan menyampaikan hal ini keseluruh organisasi
- Memiliki kebijakan terbuka dan mudah diakses
- Memiliki pegawai dan prosedur operasional yang positf
c) Memberikan program dukungan pegawai (Employee Assistance Program-AEP) yang
dapat membantu pegawai menyelesaikan tekanan pribadi yang dirasakanya.
Langkah yang dilakukan:
- Mengimplementasikan EAP yang membantu pegawai menangani tekanan
pribadi dalam kehidupan mereka
Mengeliminasi kesempatan terjadinya fraud
Langkahnya:
- Memiliki pengendalian internal yang baik
- Memperkecil kerjasama diantara pegawai dan pelanggan atau pemasok dan
menginformasikan secara jelas kepada pemasok dan pihak lain di luar perusahaan
mengenai kebijakan perusahaan terkait kecurangan

- Mengawasi pegawai dan menyediakan whistle blower sysyem


- Membuat ekspetasi hukuman
- Melakukan tahapan auditing secara proaktif
Pendekatan Komprehensif untuk Memerangi Fraud
Dari penelitian terhadap 500 perusahaan fortune disimpulkan bahwa semua orang/pihak
merasa bukan yang paling bertanggungjawab dalam mencegah fraud. Semuanya saling
menyalahkan.
Model saat ini:
Terdiri dari 4 tahap yang berulang: insiden kecurangan terjadi investigasi tindakan
penyelesaian. Namun hal ini tidak mengurangi model fraud.
Model baru:
Terdiri dari 6 elemen: sifat manajemen puncak; pendidikan dan pelatihan; pengendalian
dan risiko integritas; pelaporan dan pengawasan; pendeteksian kecurangan secara
proaktif; dan investigasi dan tindak lanjut.