Anda di halaman 1dari 4

Hingga kini umumnya sumber cahaya bagi permukaan bumi adalah sinar

matahari. Cahaya ini merupakan sumber utama energy dan sumber utama informasi
bagi hampir seluruh organisme di bumi. Hampir miliyaran tahun, vitamin A secara
biologis memliki keterkaitan dengan cahaya matahari. Organisme hidup
menggunakan cahaya matahari sebagai sumber utama energy, sumber informasi bagi
pengelihatan, dan indikator waktu. Vitamin A-berbasis kromofor secara eksklusif
menjadi pilihan bagi pengelihatan pada organism multiselular (Zhong et al 2012).
Nama ilmiah dari derivative vitamin A adalah retinoid, yang mana nama
tersebut diambil dari kata retina. Retinoid dalam hal ini termasuk retinol (golongan
alkohol), retinal (golongan aldehida, disebut juga retinaldehida atau retinin), dan
asam retinoat (golongan asam). Terdapat dua faktor penting yang menjadikan
vitamin A sebagai sensor utama cahaya matahari bagi pengelihatahn. Pertama, ikatan
antara ujung aldehida dari retinal dengan protein fotoreseptor dapat menimbulkan
pergeseran wana merah dalam absorbansi untuk kisaran pengelihatan. Cahaya tampak
(dapat terlihat karena sensor cahaya dari vitamin A) secara umum sesuai dengan
puncak radiasi cahaya matahari di permukaan bumi. Kedua, besar cahaya yang
disebabkan oleh perubahan konformasi vitamin A-berbasis kromofor membuatnya
menjadi ideal sebagai ligan dari membrane reseptor. Perubahan konformasi besar ini
kemungkinan membuat protein fotoreseptor lebih mudah untuk membedakan keadaan
gelap dengan keadaan terang (Zhong et al 2012).
Seluruh protein fotoreseptor dalam hal ini disebut opsin. Seluruh opsin pada
indera pengelihatan di animalia berupa reseptor pasangan protein-G. Pigmen cahaya
ini mengkodekan panjang gelombang dan memberikan informasi cahaya untuk
pengelihatan warna pada siang hari dan malam hari. Perpindahan saluran ion dan
pompa ion ke reseptor pasangan protein-G merupakan langkah utama dalam vitamin
A-berbasis sensor cahaya. Opsin merupakan gerbang cahaya bagi saluran ion atau
pompa seluruhnya digunakan untuk semua-trans retinal sebagai kromofor, sementara
opsin yang merupakan reseptor pasangan protein-G seluruhnya digunakan untuk 11cis retinal sebagai kromofor. Manusia memiliki retina yang panjang, berukuran
sedang, dan memiliki gelombang pigmen pengelihatan yang pendek dalam kerucut
sel fotoreseptor. Pada manusia rhodopsin terdapat didalam sel batang fotoreseptor
(rod). Kemudian melanopsin di sel ganglion, peropsin di mikrofili apikal pada
epitelum pimen retinal (RPE) dan RGR di membrane intaselular dari RPE (Zhong et
al 2012).
Kebanyakan absorbansi maksimum dari pigmen pengelihatan berada di
panjang gelombang 500 nm. Hal ini dikarenakan panjang gelombang dari puncak
radiasi oleh cahaya matari di permukaan bumi adalah 500 nm. Sinar bulan,

merefleksikan cahaya matahari dan juga memiliki puncak radiasi yang sama (Zhong
et al 2012).

Gambar __ Vitamin A-berbasis sensor cahaya (opsin) dari manusia


Source: Zhong et al 2012

Gambar__ Contoh perbedaan retinoid aktif berdasarkan strukturnya pada beberapa


organism
Source: Zhong et al 2012

Gambar__ Mata adalah organ yang sensitive terhadap vitamin A (Label merah
merupakan sel atau struktur yang bergantung kepada vitamin A)
Source: Zhong et al 2012

Gambar__Beberapa fungsi vitamin A dalam tubuh

Source: Zhong et al 2012


MEKANISME ULANGAN (LEBIH MUDAHNYA)
Vitamin A dalam darah berbentuk retinol. Retinol kemudian akan dioksidasi
menjadi retinal (bentuk aldehidnya) yang akan mengikat protein opsin dan
membentuk pigmen pengelihatan merah-ungu atau rodopsin. Rodopsin yang terletak
di rod (dalam retina mata) akan membentuk warna menjadi kuning bila terkena
matahari sehingga retinal akan terpisah kembali dari opsin. Selanjutnya akan terjadi
rangsangan elektrokimia yang merambat sepanjang saraf mata ke otak dan membuat
suatu bayangan visual. Hal ini terus berlangsung seperti suatu siklus.
DAPUS
Zhong M, Kawaguchi R, Kassai M, Sun H. 2012. Retina, retionol, retinal and the
natural history of vitamin A as a light sensor. Nutrients.4:2069-2096.