Anda di halaman 1dari 10

a

2010
Muha
http
mmad
://ziz
Zawaw
aw.i
wor
dpre
ss.c
om
Dua buah cerita yang Kebun
diangkat
Binatang
dari kehidupan sosial
politik negeri ini. Lomba
SemogaPerumahan
bermanfaat.
Tulisan 1
Judul : KEBUN
BINATANG
Diposting 17 Oktober
2009 di
zizaw.wordpress.com

Di suatu belahan bumi, ada sebuah kebun binatang kecil (kb). Di kb itu ada daratan, hutan
buatan, dan ada kolamnya… Berbagai hewan hidup tertata di sana, sampai beberapa tahun
yang lalu banyak sekali ‘tikus’ yang muncul. ‘pengunjung’, selaku penikmat dan yang
membiayai kb (bayar karcis) merasa terganggu dan meminta pengelola untuk membersihkan
‘tikus’2 dari area kb.

Pengelola kemudia membuat alat penangkap, perangkap, dan racun ‘tikus’. Pengelola
meminta bantuan ‘buaya’ untuk menghabisi ‘tikus’ yang sudah tertangkap dan juga memburu
‘tikus’2 yang juga kadang berenang di kolam. ‘buaya’ sangat senang dan semangat dengan
tugasnya ini. Di samping karena naluri ‘pemburu’ dan ‘pembunuh’nya, dia juga merasa
bangga karena jadi sanjungan pengelola. Dia juga mendapat keuntungan lebih karena ada
tambahan untuk membuat perutnya kenyang, di samping biasanya menyantap ‘bebek’.
(Sebagai tambahan informasi, ‘buaya’ biasa memakan lebih banyak bebek menjelang
ultahnya tanggal 1 Juli, menjelang lebaran, dan tahun baru)

Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola sudah merasa puas dengan untung dari banyaknya
‘pengunjung’ sehingga sudah tidak terlalu mempedulikan masih banyakkah ‘tikus’2
berkeliaran. ‘buaya’ juga mulai capek dan bosan. Di samping itu, ‘tikus’2 pandai melihat
situasi, pandai bernegosiasi. Dia mempengaruhi ‘buaya’ dengan mengatakan ada makanan
yang lebih
Tulisan enak daripada
ini bebas kami, yaitu
didistribusikan makanan
selama tidakyang dibawa ‘pengunjung’. ‘tikus’ akan
untuk komersil
memberikan dengan
bagian keju mencantumkan
dan makanan lain yang dicuri dari ‘pengunjung’. ‘buaya’ yang
“Muhammad Zawawi,
sudah terkena virus dari ‘tikus’ itu pun mulai mencari sendiri makanan yang dipegang para
http://zizaw.wordpress.com” sebagai sumber.
‘pengunjung’ di dekat kolam. Dia bahkan tidak peduli kalo sampai melukai ‘pengunjung’ dan
Untuk komersil silakan menghubungi e-mail
akhirnya dia ditembak oleh pengelola (karena pengelola sudah tidak begitu mengawasi, asyik
muhammad.zawawi@yahoo.com
dengan uangnya sendiri yang diberikan oleh ‘pengunjung’).

Beberapa bulan kemudian ‘pengunjung’ melihat hal yang sebenarnya. Para penikmat ini
melihat masih banyak ‘tikus’ berkeliaran namun pengelola nampak ‘cuek’ saja.
‘pengunjung’, kemudian mencari alternatif. Dia menggunakan hewan baru yang bisa
dipercaya. Dia memilih hewan yang sama- sama reptil namun dia berada di lingkungan yang
bersih (dinding). Nafsu makannya juga lebih sedikit daripada ‘buaya’. Dia hanya memakan
nyamuk kecil. Dia memilih ‘cicak’.

Para ‘cicak’ ini independen karena mendapat mandat langsung dari ‘pengunjung’, tidak
berada di bawah pengelola. Para anggota ‘cicak’ juga tersebar di mana- mana. Ada yang di
pohon, di dekat kolam, di dinding, di batu, maupun di tanah. Para pimpinan ‘cicak’ ada 5
yang merupakan wakit dari tiap daerah ahlinya (tanah, dinding, pohon, kolam, batu). Mereka
segera berkoordinasi dan menugaskan kelompoknya untuk menarik ‘tikus’ kepada
perangkap2 yang sebenarnya sudah ada dan dibuat oleh pengelola di masa lalu. ‘cicak’
berhasil menangkap para gembong ‘tikus’ sehingga beberapa ‘tikus’2 kecil lari dari kb atau
takut dan tidak mencuri dari ‘pengunjung’ lagi.

Pengelola mulai heran dengan lalu lintas tikus yang sudah sepi kemudian dia tahun bahwa
ada cicak yang berani menjebak tikus- tikus nakal. Pengelola yang masa kontraknya hampir
habis dan akan diperpanjang masa kerjanya jika pengunjung menilai kinerjanya baik,
kemudian mengaku2… “Ini lho, di masa saya, tikus- tikus makin berkurang. Saya
mendukung cicak sepenuhnya”.

Suatu hari, buaya merasa sudah tidak diakui lagi oleh si pengelola. Anggaran untuk makan
sehari-hari buaya dikurangi. Hal ini dilakukan pengelola karena tahu bahwa buaya sudah bisa
cari makan sendiri yakni mengambil dari pengunjung. Selisih anggaran tersebut masuk ke
kantong pengelola sehingga dia semakin gemuk meskipun kantung matanya menampakkan
kelelahan karena kurang tidur (sering jaga malam).

Para pengunjung yang notabene pembayar gaji pengelola merasa dikhianati melihat ulah
pengelola yang menyunat jatah buaya. Pengunjung mulai gerah dan berencana tidak
memilihnya setelah kontrak habis. Pengelola tak kalah pintar, dia selalu membaca suasana
hati para pengunjung. Dia mulai memperbaiki citra dan beberapa minggu setelahnya dia
berhasil meyakinkan sehingga terpilih lagi dengan kontrak 5 tahun.

Buaya yang mulai gerah karena tugasnya diambil alih cicak dan pengelola juga mengambil
jatahnya. Si tikus yang memahami situasi ini mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa
menghabisi cicak. Dia yang sudah membina hubungan baik dengan buaya, meminta buaya
melepaskan salah satu temannya yang punya pangkat tinggi di kalangan tikus untuk
kemudian menyediakan rencana dan prasarana.

Singkat cerita, buaya mempengaruhi pengelola. Dia mengatakan bahwa pengunjung


menyewa cicak karena mereka tidak percaya padanya dan pada kerja kerasnya selama ini.
Kemudian buaya juga mengatakan bahwa ketika cicak tidak ada pun buaya bisa makan tikus.
Buaya menggunakan cara ini da masih mempunyai cara cadangan yaitu akan melaporkan
kepada pengunjung tentang penyelewengan dana yang dikelolal untuk kepentinan pribadi
maupun keluarganya. Pengelola mulai terpengaruh dan memerintahkan buaya untuk
menyerang cicak. Buaya yang ganas menyantap ketua cicak. Kemudian dia juga berhasil
menyingkirkan 2 perwakilan cicak dari pohon dan bebatuan.

Nasib cicak kini terancam, di tangan Andalah… Para pengunjung. Nasib cicak dan nasib
kebun binatang ini. Bantu cicak melawan tikus- tikus nakal!

Tulisan 2
Judul : LOMBA PERUMAHAN
Diposing 13 Maret 2010 di zizaw.wordpress.com
Cerita ini terjadi di suatu tempat yang ingin menjadi maju, mandiri, teratur,
modern, dan seimbang dalam segala aspek kehidupan. Pada tahun 1997
mulailah terjadi krisis keuangan di suatu kawasan. Tahun 1998, bahkan terjadi
krisis kepercayaan sampai- sampai pemerintah yang berkuasa saat itu
digulingkan. Saya juga tidak tahu alasan tepatnya digulingkan, padahal dia/ atau
mereka menduduki kursi jabatan.

Dampak yang ditimbulkan dari krisis yang terjadi banyak, salah delapannya
(benar semua = 10) adalah makin banyaknya tunakarya (ga punya kerjaan) dan
tunawisma (ga punya rumah).

Pada tahun 1998, muncullah banyak perumahan. Beberapa perumahan baru


yang terkenal saat itu adalah Perumahan Kebun Bumi, Perumahan Bukit Biru,
Perumahan Asri Nanteduh, Perumahan Kemuning, dan Perumahan Daun Indah
Palem. Untuk perumahan yang terakhir ini sebenarnya adalah pecahan dari
Perumahan Daun Indah karena manajemen lama yang identik dengan keluarga
pendiri merasa dikhianati oleh orang baru.

Tiap perumahan mempunyai corak yang khas.Perumahan Daun Indah Palem


misalnya, sepanjang jalan ditanami pohon palem dan jalan di perumahan yang
terbuat dari batako dibuat merah dan berpinggir hitam. Lain lagi dengan
Perumahan Asri Nanteduh, rumah ada di sana bermotif biru yang meneduhkan
dikombinasikan dengan warna putih yang menjadikan terang. Perumahan Kebun
Bumi mengadirkan suasana kebun nan hijau, dan menawarkan pemandangan
bintang yang tidak bisa dilihat dari perumahan lain. Sementara itu, Perumahan
Kemuning memakai genting seragam warna kuning, cat tembok putih dan pagar
hitam yang minimalis.

Terlepas dari corak dan suasana perumahan, mereka semua muncul dengan
menawarkan banyak kemudahan bagi orang miskin, memberikan harapan akan
masa depan yang lebih baik bagi mereka.

Organisasi yang berwenang, pada tahun 1999 mengadakan sebuah 'pesta' atau
Lomba Perumahan Terbaik. Perumahan akan dinilai kebersihan, kerapian,
keindahan, dan juga keramaian. Hadiahnya tidak remeh, tanah yang luas untuk
pengembangan perumahan disediakan bagi pemenang 1-5. Kemudian
manajemen atau perwakilan penghuni perumahan bisa dimasukkan ke dalam
otoritas yang berwenang menangani perumahan.

Keramaian yang dimaksud di atas adalah jumlah kepala keluarga yang


menempati atau terdaftar ketika pesta/lomba diadakan. Salah satu syarat yang
diajukan adalah minimal 2% sudah diisi. Syarat ini dimasukkan agar mereka
benar- benar berkompetisi dan tidak cuma tipu- tipu untuk mendapatkan hadiah
saja. dan tidak hanya membuat perumahan bagus dan mewah tetapi kosong
karena tidak menarik warga terutama rakyat kecil/ wong cilik.

Perumahan2 yang sudah lama berdiri dan masih masih ada tidak takut akan
klausul 2% ini meskipun mereka akan dinilai tahun 2009 saja (penghuni lama
tidak dihitung). Mereka sudah punya pengalaman yang banyak dalam menarik
massa. Mereka juga bisa banting harga meski rugi karena tahun- tahun
sebelumnya mereka sudah banyak untung, yakni ketika mereka menguasai
pasar perumahan. Perumahan2 baru tetapi berdana besar juga tidak takut akan
hal ini. Perumahan baru dan tidak punya dana banyak khawatir, satu
diantaranya yang terkenal adalah Perumahan Kemuning. Meski demikian,
mereka dengan tegas menyatakan menerima dan siap bersaing.

Khusus Perumahan Kemuning, perumahan ini dibilang terkenal karena meski


baru sepak terjangnya cukup banyak. Dia kadang mengkritik pelaksana atau
perumahan lain yang dianggap tidak jujur ketika persiapan lomba. Dia
menggelontorkan isu adanya suap dan kong kali kong antara perumahan dengan
otoritas untuk memenangkan perumahan tertentu.

Semua perumahan berusaha melakukan apa saja untuk dapat meraih hati
masyarakat agar menempati perumahannya dan memenangkan lomba.
Mereka mengatakan bahwa mereka membangun perumahan ini untuk
membentuk masyarakat yang beradab, baik, suka mengaji, dll. Mereka berteori
akan membentuk komunitas kecil perumahan yang tertib sadar hukum satu,
kemudian membuat lagi, lagi dan akhirnya seluruh kota akan menjadi baik.
Tujuan mereka selain membantu masyarakat miskin juga ingin menciptakan
lingkungan yang bagus.
Jadi perumahan adalah sarana, bukan tujuan.

Para kontraktor Perumahan Kebun Bintang kebanyakan tinggal di kampung dan


bersosialisasi di sana. Mereka sudah biasa memberikan bimbingan kepada
tetangga mereka bila ada yang memerlukan. Entah itu tentang masalah agama,
maupun sosial, atau ekonomi. Masyarakat di sana yang sudah akrab dengan
mudah menerima tawaran menempati perumahan murah, apalagi tahu kalau
tetangganya akan sama, kebanyakan itu itu juga dari kampung sana. Jadi tidak
ada tipu- tipu atau paksaan.

Perumahan lain melontarkan tuduhan tentang pemanfaatan agama untuk


menarik simpati. Sementara itu, dia sendiri menggelar acara ulang tahun ke-1
dengan ceramah. Warga kampung sekitar diundang untuk mendengarkan
pengajian agama dan juga bimbingan tentang sosial kemasyarakatan dan
mengisi daftar hadir. Di kemudian hari ternyata namanya terdaftar sebagai
penghuni perumahan (padahal tidak menempati). Sekarang, siapa yang
memanfaatkan?

Seperti disebutkan di awal tadi bahwa kebersihan, keindahan, dan kerapian juga
dinilai. Perumahan- perumahan itu sudah terisi beberapa rumah. Semua
perumahan melakukan kerja bakti untuk mempercantik penampilan lingkungan
mereka. Panitia membarikan himbauan agar anak- anak tidak diikutkan dalam
kegiatan ini karena dikhawatirkan akan kecapekan dan dapat mengganggu
kegiatan belajar mereka.

Suatu ketika, di Perumahan Daun Indah Palem diadakan hal serupa dan anak-
anak terlibat di dalamnya. Perumahan lain memprotes dan menyayangkan hal
ini sebagai sebuah bentuk eksploitasi anak.

Beberapa hari kemudian, Perumahan Kemuning melakukan hal yang sama cuma
mereka tidak terlalu terekspos (tidak seperti Perumahan Daun Indah Palem yang
terekspos karena notabene adalah perumahan lama). Ketika kegiatan pelibatan
anak- anak ini terliput oleh media, perumahan yang mengklaim dirinya paling
bersih dan rapi ini dalam pamlet dengan memplesetkan singkatan namanya
menjadi Putih Kan suci, pun berdalih bahwa ini untuk pembelajaran anak sejak
dini agar mereka giat dan mandiri (bukan nama bank).

Detik berganti, jam berbunyi, hari berubah malam, dst sampailah pada hari H.
Lomba telah dilakukan. Seperti kata lagu... Ow ow apa yang terjadi terjadilah,
hasil pun diumumkan. Mau tidak mau mereka harus menerima. Perumahan Daun
Indah Palem akhirnya yang mendapatkan hadiah utama karena penghuni yang
berhasil mereka tarik paling banyak, apalagi mereka kebanyakan dari kalangan
wong cilik. Hal ini sungguh membuat senang otoritas karena salah satu
tujuannya adalah mengurangi tunawisma (kebanyakan tunawisma kan miskin..).

Tahun berganti, dan ternyata sudah 4 tahun sejak perlombaan itu.Sudah


memasuki 2003. Perumahan sudah makin terisi, masalah tunawisma sedikit
demi sedikit teratasi. Namun, seperti kebanyakan hal di negeri sana, mereka
jarang berbenah kecuali ada tinjauan, pemeriksaan, atau lomba lagi. Otoritas
yang menangani perumahan sadar akan hal ini. Oleh karena itu, direncanakan
akan ada lomba seperti itu tiap lima tahun sekali.

Tidak terima 2%
Oh ya, ada yang terlewat. Sudah disebutkan pada kesempatan sebelumnya
tentang syarat 2%. Waktu itu semua sudah setuju. Setelah pengumuman
ternyata banyak perumahan yang tidak memenuhi syarat ini. Pada tahun 2002,
beberapa perumahan kecil itu memprotes aturan ini karena dinilai melanggar
HAM atau kebebasan. Mereka tidak sadar, kalo di Amerika saja yang katanya
bebas, bahkan di sana jelas- jelas dibatasi jumlahnya bukan lagi disaring melalui
persyaratan yang diperketat. Pengelola perumahan hanya dibatasi belasan saja.

Perumahan- perumahan itu dimotori oleh Perumahan Kemuning mengajukan


protes kepada pembuat peraturan yang lebih tinggi daripada otoritas
perumahan. Harapan mereka supaya syarat 2% dihilangkan dan mereka dengan
mudah bisa mengikuti lomba lagi dan mempunyai kemungkinan untuk menang
dan mendapatkan hadiah tanah dan posisi di otoritas perumahan. Saya jadi
heran, dulu menyatakan meneriman dan membanggakan diri sebagai pihak
yang 'gentle' kok giliran kalah protes dan bilang mengekang kebebasan...
Meskipun ada aturan yang kurang dari 2% tidak bisa mengikuti lomba lagi tetapi
tidak ad satu pasal pun yang melarang perumahan 'baru' untuk ikut
berkompetisi. Jadilah manajemen perumahan itu membuat perumahan baru.
Kemudian perumahan lama seolah minta merger dan semua aset, hak dan
kewajiban perumahan lama menjadi milik perumahan baru.

Manajemen Perumahan Kencana Nusa Usaha menjadi Perumahan Kencana Nusa


Usaha Indah, Perumahan Kemuning menjadi Perumahan Kemuning Serasi, dan
lainnya.

Setahun menjelang lomba lagi, sebuah tuduhan/ tuntutan dialamatkan kepada


pengurus Perumahan Kuning Serasi terkait kasus pencemaran lingkungan pada
tauh 2001. Kontan saja para pengurus perumahan tidak terima dan mengadakan
konferensi pers untuk memberi penjelasan. Seperti yang mereka sering utarakan
bahwa semua itu perlu ada klarifikasi, jangan asal nuduh. Mereka bilang dengan
berkata tuduhan itu tidak tepat dan salah alamat karena di tahun 2001
Perumahan Kuning Serasi belum ada.

Sesuai rencana otoritas perumahan, lima tahun diadakan lomba lagi. 2004 lomba
berlangsung lebih meriah dan diakui dunia perumahan sebagai lomba paling fair
yang pernah diadakan. Ini tak bisa dilepaskan dari jasa manajemen Perumahan
Daun Indah Palem yang banyak duduk di otoritas perumahan karena menang
pada lomba sebelumnya.

5 tahun ternyata waktu yang cepat ketika kita sudah melewatinya. Kita
seringkali berkata "kok cepat ya.. Tidak terasa..." atau ungkapan lain yang
senada, yang mengisyaratkan bahwa kita tidak bisa menahan laju waktu.
Semakin lama tunawisma berkurang dan mesyarakat sudah tidak terlalu peduli
dengan urusan rumah. Setelah kemarin kemarin mereka memikirkan bagaimana
nanti tidur, kini mereka beranjak pada urusan perut, bagaimana agar hari ini bisa
kenyang.

Di tahun 2008, setahun lagi (2009) ada lomba, Perumahan Kuning Serasi
memasang pamflet dan spanduk- spandung berwarna hitam-kuning, putih
kuning, atau putih, hitam, dan kuning sebagai ciri khas warna perumahan
mereka. Ternyata mereka menulis "Hadirilah... Ulang Tahun 10 taun ke-10
Perumahan Kuning Serasi. Acara ....".

Saya ketika naik bisa dan melihat di jalan ada tulisan seperti itu jadi berpikir
heran. Kenapa bilang usianya 10 tahun padahal jika menengok masalah kasus di
atas mereka bilang mereka belum ada. Entahlah.. memang masyarakat sudah
terfokus pada bagaimana bertahan hidup dengan menacari sesuap nasi. Dan
memang masyarakat juga sudah lupa karena itu mereka tidak ada yang protes.
Saya jadi ingat perkataan teman saya tentang kenapa kok lomba ini diadakan
lima tahun sekali. Jawabannya sederhana, karena lima tahun sudah membuat
orang lupa dengan perbuatan mereka.

Begitulah kira- kira. Ketika manusia sudah lupa pada tujuan awal maka dia hanya
akan memikirkan menang. Seperti perumahan yang mulanya bertujuan
membantu orang miskin mendapatkan tempat tinggal yang murah tapi layak,
membangun komunitas yang baik, dsb. Perumahan itu lupa karena adanya
lomba. Mereka sudah tersilaukan oleh hadiah tanah yang dalam pikiran mereka
ditujukan untuk membangun lagi perumahan untuk rakyat. Tujuan untuk rakyat
bagus, tetapi mereka mencurahkan tenaganya bagaimana bisa menang apapun
caranya. Bukannya bagaimana bisa menjadi yang terbaik dan otomatis
masyarakat tertarik dan akhirnya menang sebagai efek samping. Manajemen
sudah tergoda oleh iming- iming menduduki jabatan dalam otoritas yang
mengatur perumahan.