Anda di halaman 1dari 47

BAB II

TINJAUAN PUSATAKA

2.1 KONSEP BAYI BARU LAHIR


2.1.1 Pengertian
Bayi Baru Lahir (Neonatus) adalah bayi yang baru lahir sampai
usia 4 minggu dan lahir dari umur kelahiran 37 minggu sampai 42
minggu dengan berat lahir 2.5000 gram ( Sugiyarti,2000)
Bayi Baru Lahir adalah hasil konsepsi yang baru lahir dari rahim
seorang wanita melalui jalan lahir normal atau dengan alat tertentu
sampai umur satu bulan (FKUI,1999).
Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada
bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran sebagian besar bayi
baru lahir akan menunjukkan usaha napas pernapasan spontan dengan
sedikit bantuan atau gangguan (prawiroharjo, S, 2002).
Jadi asuhan keperawatan pada bayi baru lahir adalah asuhan
keperawatan yang diberikan pada bayi yang baru mengalami proses
kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri
kekehidupan ekstra uteri hingga mencapai usia 37-42 minggu dan
dengan berat 2.500-4.000 gram.
2.1.2

Ciri-ciri Bayi Baru Lahir (Keilly P, 2002)


a. Berat Badan 2.500 4.000 gram
b. Panjang Badan 48 52 gram
c. Lingkar dada 30 38 cm
d. Lingkar kepala 33 35 cm
e. GDS 45 g/dl 130 g/dl
f. Bunyi jantung dalam menit pertama - tama 180 x/menit lalu menurun
120 140 x/menit
g. Pernafasan pada menit menit pertama 140 x/menit

h. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup dan
diliputi vernik caseosa
i. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
j. Kuku agak panjang dan lemas
k. Genetalia perempuan

labia mayora

sudah menutupi labia minora

untuk laki-laki testis sudah menurun


l.

Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik

m. Graps reflek baik, bila diletakan suatu benda diatas tangan bayi akan
menggenggam
n. Reflek moro sudah baik, urin dan mekoneum akan keluar dalam 24
jam pertama, mekoneum hitam kecoklatan.
2.1.3 Klasifikasi Bayi
a.

Bayi Aterm
1)

Berat badan 2500-4000 gram.

2)

Panjang badan lahir 48-52 cm.

3)

Lingkar dada 30-38 cm.

4)

Lingkar kepala 33-35 cm.

5)

Bunyi jantung janin pada menit pertama 180 x/menit.

6)

Pernapasan pada menit-menit pertama cepat 80x/menit kemudian


lebih kecil setelah 40x/menit.

7)

Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup


terbentuk dan diliputiverniks kaseosa.

8)

Rambut lanugo telah terlihat dan rambut kepala biasanya telah


sempurna.

9)

Kuku agak panjang dan lemas.

10) Pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora,
pada bayi laki-laki testis sudah turun.
11) Refleks menghisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12) Refleks morro sudah baik apabila diletakkan suatu benda
diletakkan ditelapak tangan, bayi akan menggenggamnya.

13) Eliminasi baik urine dan mekonium akan keluar dalam waktu 24 jam
pertama
14) Umur kehamilan 37-42 minggu
b.

Bayi Prematur
1) Berat badan kurang dari 2499 gram
2) Organ-organ tubuh imatur
3) Umur kehamilan 28-36 minggu

c. Bayi Posmatur
1) Biasanya lebih berat dari bayi aterm
2) Tulang dan Sutura kepala lebih keras dari bayi aterm
3) Verniks kaseosa dibadan kurang
4) Kuku-kuku panjang
5) Rambut kepala agak tebal
6) Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel
7) Umur kehamilan lebih dari 42 minggu
2.1.4 Adaftasi Fisiologi Bayi Baru Lahir
Pada bayi baru lahir (BBL) terjadi perubahan fungsi organ yang
meliputi :
a. Sistem pernapasan

Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran


melalui plasenta. Setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi pada paruparu (setelah tali pusat dipotong). Rangsangan untuk gerakan
pernapasan pertama ialah akibat adanya tekanan mekanis pada toraks
sewaktu melalui jalan lahir, penurunan tekanan oksigen dan
peningkatan karbondioksida merangsang kemoreseptor pada sinus
karotis. Usaha bayi pertama kali untuk mempertahankan tekanan
alveoli adanya surfaktan adalah menarik nafas, mengeluarkan dengan
menjerit sehingga oksigen tertahan di dalam. Fungsi surfaktan untuk
mempertahankan ketegangan alveoli. Masa alveoli akan kolaps dan
paru-paru kaku. Pernapasan pada neonatus biasanya pernapasan
diafragma dan abdominal. Sedangkan respirasi beberapa saat setelah
kelahiran yaitu 30-60 x/menit.

b. Sistem cardiovaskuler
Di dalam rahim darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi berasal
dari plasenta masuk ke dalam tubuh janin melalui vena umbilikalis,
sebagian besar masuk ke vena kava inferior melalui duktus dan vena
sasaranti, darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen serta penuh
dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagian akan dialirkan ke plasenta
melalui arteri umbilikalis, demikian seterusnya.
Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis
kuat, dengan demikian paru-paru akan berkembang, tekanan paru-paru
mengecil dan darah mengalir ke paru-paru, dengan demikian foramen
ovale, duktus arterious dan duktus venosus menutup. Arteri
umbilikalis, vena umbilikalis dan arteri hepatika menjadi ligamen.

c. Sistem hematopoiesis
Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80-110 ml/kg selama
hari pertama dan meningkat dua kali lipat pada akhir tahun pertama.
Nilai rata-rata hemoglobin dan sel darah merah lebih tinggi dari nilai
normal orang dewasa.

Hb bayi baru lahir 14,5 22,5 gr/dl, Ht 44 72%, SDM 5 7,5


juta/mm3 dan Leukosit sekitar 18000/mm3. Darah bayi baru lahir
mengandung sekitar 80% Hb janin. Presentasi Hb janin menurun
sampai 55% pada minggu kelima dan 5% pada minggu ke 20.

d. Sistem Pencernaan
Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan telah cukup terbentuk dan
janin telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup
banyak. Absorpsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh saluran
pencernaan, janin minum air ketuban dapat dibuktikan dengan adanya
mekonium (zat yang berwarna hitam kehijauan). Mekonium
merupakan tinja pertama yang biasanya dikeluarkan dalam 24 jam
pertama.

e. Hepar
Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam
metabolisme hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan di dalam
hepar, setelah bayi lahir simpanan glikogen cepat terpakai, vitamin A
dan D juga sudah disimpan dalam hepar. Fungsi hepar janin dalam
kandungan segera setelah lahir dalam keadaan imatur (belum
matang). Hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan hepar untuk
meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah. Enzim
hepar belum aktif benar pada neonatus, misalnya enzim UDPGT
(Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan enzim GGFD
(Glukosa 6 Fosfat Dehidrogerase) yang berfungsi dalam sintesis
bilirubin sering kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala
ikterus fisiologis.

f. Metabolisme

Pada jam-jam pertama

energi didapat dari pembakaran

karbohidrat dan pada hari kedua energi berasal dari pembakaran


lemak. Energi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam
pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme lemak sehingga
kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml.

g. Sistem termogenik
Pada neonatus apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan
penyesuaian

suhu

terutama

dengan

NST

(Non

Sheviring

Thermogenesis) yaitu dengan pembakaran Brown Fat (lemak


coklat) yang memberikan lebih banyak energi daripada lemak biasa.
Cara penghilangan tubuh dapat melalui konveksi aliran panas
mengalir dari permukaan tubuh ke udara sekeliling yang lebih dingin.
Radiasi yaitu kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan
benda yang lebih dingin tanpa kontak secara langsung. Evaporasi
yaitu perubahan cairan menjadi uap seperti yang terjadi jika air keluar
dari paru-paru dan kulit sebagai uap dan konduksi yaitu kehilangan
panas dari permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin
dengan kontak secara langsung.
h. Kelenjar endokrin
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada
waktu bayi baru lahir kadang-kadang hormon tersebut masih
berfungsi misalkan pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai
haid perempuan. Kelenjar tiroid sudah terbentuk sempurna sewaktu
lahir dan mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.

i. Keseimbangan air dan ginjal

Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar
natrium relatif lebih besar daripada kalium. Hal ini menandakan
bahwa ruangan ekstraseluler luas. Fungsi ginjal belum sempurna
karena jumlah nefron matur belum sebanyak orang dewasa dan ada
ketidakseimbangan antara luas permukaan glomerulus dan volume
tubulus proksimal, renal blood flow (aliran darah ginjal) pada
neonatus relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa.

j. Susunan saraf
Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup
maka dapat dilihat bahwa janin tersebut dapat mengadakan gerakan
spontan. Gerakan menelan pada janin baru terjadi pada kehamilan
empat bulan. Sedangkan gerakan menghisap baru terjadi pada
kehamilan enam bulan.
Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otototot menjadi lebih sempurna. Sehingga janin yang dilahirkan diatas
32 minggu dapat hidup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan
maka janin amat sensitif terhadap cahaya.

k. Sistem imunitas
Pada sistem imunologi Ig gamma A telah dapat dibentuk pada
kehamilan 2 bulan dan baru banyak ditemukan segera sesudah bayi
dilahirkan. Khususnya pada traktus respiratoris kelenjar liur sesuai
dengan bakteri dapat alat pencernaan, imunoglobolin G dibentuk
banyak dalam bulan kedua setelah bayi dilahirkan. Ig A, Ig D dan Ig E
diproduksi secara lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai
sampai pada masa kanak-kanak dini. Bayi yang menyusui mendapat
kekebalan pasif dari kolostrum dan ASI.

l. Sistem integumen

Stuktur kulit bayi sudah terbentuk dari sejak lahir, tetapi masih
belum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan
sangat tipis. Vernik kaseosa juga berfungsi sebagai lapisan pelindung
kulit. Kulit bayi sangat sensitif dan dapat rusak dengan mudah. Bayi
baru lahir yang cukup bulan memiliki kulit kemerahan yang akan
memucat menjadi normal beberapa jam setelah kelahiran.
Kulit sering terlihat bercak terutama sekitar ektremitas. Tangan
dan kaki sedikit sianotik (Akrosianotik). Ini disebabkan oleh
ketidakstabilan vosomotor. Stasis kapiler dan kadar hemoglobin yang
tinggi. Keadaan ini normal, bersifat sementara dan bertahan selama 710 hari. Terutama jika terpajan pada udara dingin.

m. Sistem skelet
Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan
tubuh secara keseluruhan. Kepala bayi cukup bulan berukuran
seperempat panjang tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada
tungkai. Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak yang jika
dibandingkan lebih besar dan berat. Ukuran dan bentuk kranium dapat
mengalami distorsi akibat molase.
Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan
dan tumit disatukan sehingga tungkai bawah terlihat agak
melengkung. Saat baru lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak
kaki. Ekstremitas harys simetris, terdapat kuku jari tangan dan kaki,
garis-garis telapak tangan dan sudah terlihat pada bayi cukup bulan.

n. Sistem neuromuskuler
Reflek bayi baru lahir diantaranya :
1) Reflek pada Mata
a) Berkedip atau Refleks korneal
b) Reflek Pupil
c) Mata boneka

2) Reflek pada Hidung


a) Bersin
b) Glabela : ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara
dua alis mata) menyebabkan mata menutup dengan rapat.

3) Reflek pada mulut dan Tenggorokkan


a) Menghisap
b) Muntah
c) Rooting
Menyentuh atau menekan dagu sepanjang sisi mulut akan
menyebabkan bayi membalikan kepala ke arah sisi tersebut dan
mulai menghadap: harus hilang kira-kira pada usia 3-4 bulan,
tetapi dapat menetap selama 12 bulan.
d) Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau ditekan, bayi berespon dengan
mendorongnya keluar: harus menghilang pada usia 4 bulan.
e) Menguap
f) Batuk

4) Reflek pada Ekstremitas


a) Menggenggam
b) Babinski
c) Klonus, Pergelangan kaki : Dorsofleksi telapak kaki yang cepat

ketika menopang lutut pada posisi fleksi parsial mengakibatkan


munculnya satu sampai dua gerakan oskilasi (denyut).
Akhirnya tidak boleh ada denyut yang teraba.
d) Refleks pada Massa/Moro
e) Startle : Suara keras yang tiba-tiba menyebabkan abduksi

lengan dengan fleksi siku: tangan tetap tergenggam: harus


hilang pada usia 4 bulan.
2.1.5 Tujuan Perawatan Bayi Baru Lahir
a. Tali pusat harus dijaga sekering mungkin. Tali pusat dapat diusap
(dibasuh) dengan alkohol untuk menjaga agar tetap kering. Tali pusat
penting dijaga kebersihannya. Ajari sang Ibu untuk segera memberitahu
jika ada cairan (lendir) atau bau busuk pada tali pusat.
b. Usap kedua mata bayi dengan kapas atau kain kasa yang kering. Hal ini
dapat mencegah infeksi akibat bakteri yang dapat menyebabkan
kebutaan.
c. Suhu tubuh bayi mungkin sedikit diatas normal pada saat lahir tapi akan
segera turun sampai 37,5 0C secara aksila. Denyut nadi normal biasanya
sekitar 40 pernapasan permenit
d. Ukuran bayi bermacam-macam. Bayi yang berat badannya dibawah 2.5
kilogram harus dirawat sebagai bayi kurang bulan. Bayi kurang bulan
memerlukan perawatan khusus untuk menjaga agar bayi tetap hangat.
Berikan bayi ASI yang cukup.
e. Kulit bayi biasanya berwarna merah muda. Ketika bayi baru lahir
mungkin ada bahan lengket dikulit yang disebut Verniks. Verniks dapat
dibersihkan secara hati-hati dengan mengusapkan sedikit minyak pada
hari kedua. Atau biasa juga dibiarkan sampai mengelupas sendiri secara
bertahap saat mandi.

2. Feses (tinja) pertama yang dikeluarkan oleh bayi berwarna kehitaman.


Warna feses berubah menjadi kuning dalam 2 atau 3 hari berikutnya.
3. Bayi harus diberi makan (diteteki) secara teratur sejak lahir, mulai dari
pemberian beberapa menit dan bertambah lama secara perlahan. Untuk
hari-hari pertama payudara mengeluarkankolostrum.

2.2 PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR (BBL)


Pemeriksaan bayi perlu dilakukan dalam keadaan bayi telanjang di bawah
lampu yang terang yang berfungsi juga sebagai pemanas untuk mencegah
kehilangan panas.Tangan serta alat yang digunakan untuk pemeriksaan fisis
harus bersih dan hangat. Pemeriksaan fisis pada BBL dilakukan paling kurang
tiga kali, yakni (1) pada saat lahir, (2) pemeriksaan yang dilakukan dalam 24
jam di ruang perawatan , dan (3) pemeriksaan pada waktu pulang.
Pemeriksaan pertama pada BBL harus dilakukan di kamar bersalin.
Tujuannya adalah:
1. Menilai gangguan adaptasi BBL dari kehidupan intrauterine ke
ekstrauterin yang memerlukan resusitasi
2. Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan
segera (mis. Atresia ani, atresia esophagus), trauma lahir
3. Menentukan apakah BBL tersebut dapat dirawat bersama ibu (rawat
gabung) atau di tempat perawatan khusus untuk diawasi, atau di ruang
intensif, atau segera dioperasi.
Pemeriksaan kedua harus dilakuan kembali dalam waktu 24 jam, yaitu
sesudah bayi berada di tempat perawatan. Tujuannya adalah agar kelainan
yang luput dari pemeriksaan pertama akan ditemukan pada pemeriksaan ini.
Pemeriksaan di kamar bersalin dan di ruang rawat sebaiknya di bawah lampu
pemanas untuk mencegah hipotermi. Pemeriksaan bayi di ruang rawat harus
dilakukan di depan ibunya dan harus dijelaskan apakah kelainan tersebut
berbahaya atau tidak agar si ibu dapat memahaminya dan merasa lebih tenang.

Bayi tidak boleh dipulangkan sebelum diperiksa kembali pada


pemeriksaan terakhir. Hal ini disebabkan oleh adanya kelainan pada BBL yang
belum menghilang saat dipulangkan (hematoma sefal, ginekosmatia, ikterus),
atau mungkin pula adanya bising yang hilang timbul pada masa BBL, atau
bayi menderita penyakit yang didapat di rumah sakit seperti aspirasi
pneumonia, infeksi nosokomial dan lain lain. Yang harus dicatat pada
pemeriksaan fisik adalah lingkar kepala, berat, panjang, kelanan fisik yang
ditemukan, frekuensi nafas dan nadi serta keadaan tali pusat.
Pemeriksaan BBL memerlukan kesabaran, keluwesan dan ketelitian.Bila
bayi tenang sebelum diperiksa maka yang harus diperiksa terlebih dahulu
adalah auskultasi bunyi jantung dan palpasi abdomen. Sesudah itu baru
dilanjutkan dengan pemeriksaan lainnya.
a. Pengkajian
1) Anamnesis
a) Identitas: nama ayah-ibu, alamat
b) Riwayat persalinan: BB/TB ibu, tempat persalinan
c) Keadaan bayi saat lahir: tanggal dan jam lahir, jenis kelamin,
kelahiran (tunggal/gemeli)

2) Observasi

Pemeriksaan di kamar bersalin :


a) Menilai adaptasi:
Perlu segera diperiksa di kamar bersalin adalah apakah bayi
beradaptasi dengan baik atau memerlukan resusitasi. Bayi yang
mungkin memerlukan resusitasi adalah bayi yang lahir dengan
pernafasan tidak adekuat, tonus otot kurang, ada mekonium di dalam
cairan amnion atau lahir kurang bulan. Nilai Apgar masih dipakai
untuk melihat keadaan bayi pada usia 1 menit dan 5 menit, tetapi
tidak dipakai untuk menentukan apakah BBL perlu resusitasi atau
tidak. Nilai Apgar 5 menit dapat digunakan untuk menentukan
prognoisis.
Cara menetukan nilai APGAR
Tanda

A: Appereance color(Warna
Kulit)

Pucat

Badan merah,
ekstremitas biru

2
Seluruh tubuh
kemerahanmerahan

Angka
...

P: Pulse (Frekuensi jantung)


G: Grimace (Reaksi terhadap
rangsangan)
A: Actifity (Tonus otot)
R: Respirasi (Usaha bernafas
)

Tidak ada
Tidak ada
Lumpuh
Tidak ada

<100
Sedikit
gerakan mimik
Ekstremitas dalam
fleksi sedikit
Lambat/ menangis
lemah

> 100
Menangis,
batuk/bersin

...

Gerakan aktif

...

Menangis kuat

...

...

Jumlah total

Tabel diatas untuk menentukan kondisi bayi apakah tergolong asfiksia atau tidak
Klasifikasi nilai APGAR
a)

Asfiksia berat : nilai Apgar 0-3


Memerlukan resusitasi segera secara aktif, pemberian oksigen terkendali.
Karena selalu disertai asidosis, perlu diberikan natrikus bikarbonat 7,5 %,
2,4 ml per kg berat badan, dan cairan glukosa 40% 1-2 ml per kg berat
badan, diberikan via vena umbilikus

b)

Asfiksia ringan sedang dengan nilai Apgar 4-6 memerlukan resusitasi dan
pemberian oksigen sampai bayi dapat bernapas normal kembali

c)

Bayi normal atau sedikit asfiksia nilai Apgar 7-9

d)

Bayi normal dengan nilai Apgar 10


Nilai ini disebut nilai Apgar , sesuai dengan nama orang yang
untuk pertama kali memperkenalkan system penilaian ini, yakni dr.
Virginia Apgar.
Pada tahun 1952 dr. Virginia Apgar mendesain sebuah metode
penilaian cepat untuk menilai keadaan klinis bayi baru lahir pada
usia 1 menit. Yang dinilai terdiri atas 5 komponen, yaitu frekuensi
jantung, usaha bernafas, tonus otot, reflex pada rangsangan, dan
warna kulit. Nilai Apgar masih tetap digunakan untuk mngetahui
keadaan bayi baru lahir dan respon terhadap resusitasi.
Perlu disadari keterbatasan dari penilaian Apgar.Nilai Apgar
adalah suatu ekspresi keadaan fisiologis BBL dan dibatasi oleh
waktu.Gangguan biokimia harus cukup signifikan sehingga dapat

mempengaruhi nilai Apgar. Banyak factor yang dapat mempengaruhi


nilai Apgar, antara lain pengaruh obat-obatan, trauma lahir, kelainan
bawaan, infeksi, hipoksia, hipovolemia, dan kelahiran premature.
Komponen nilai seperti tonus otot, warna kulit, reflex pada
perangsangan, sebagian bergantung pada kematangan bayi. Bayi
prematur tanpa asfiksia dapat saja mendapat nilai Apgar yang
rendah.
Nilai Apgar dapat digunakan untuk melihat respon resusitasi.
Nilai Apgar yang dinilai pada resusitasi tidak sama dengan nilai
Apgar pada bayi baru lahir yang bernafas spontan. Nilai Apgar yang
diperluas dengan menyatakan tindakan resusitasi akan memberikan
informasi untuk meningkatkan pelayanan neonatal.
b) Mencari kelainan congenital
Pemeriksaan di kamar bersalin juga untuk menentukan adanya
kelainan

congenital

pada

bayi

terutama

yang

memerlukan

penanganan segera.Pada anamnesis perlu ditanyakan apakah ibu


menggunakan obat-obat teratogenik, terkena radiasi, atau infeksi
virus pada trimester pertama.Juga ditanyakan apakah ada kelainan
bawaan pada keluarga.Disamping itu perlu diketahui apakah ibu
menderita penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan janin,
seperti diabetes melitus, asma bronchial dan sebagainya.Sebelum
memeriksa bayi perlu diperiksa cairan amnion, tali pusat, dan
plasenta.
Pada pemeriksaan cairan amnion perlu diukur volume.
Hidramnion (volume > 2000 mL) sering dihubungkan dengan
obstruksi traktus intestinalis bagian atas, anensefalus, bayi dari ibu
diabetes atau eklampsi, sedangkan oligohidramnion seperti pes
ekuinovarus /valgus congenital, kontraktur sendi, dan hipoplasi paru.
Pada pemeriksaan tali pusat perlu diperhatikan adanya
kesegarannya, ada tidaknya simpul, dan apakah terdapat dua arteri
dan satu vena. Kurang lebih 1% dari BBL hanya mempunyai satu
arteri umbilikalis dan 15% daripadanya mempunyai satu atau lebih

kelainan congenital terutama pada system pencernaan, urogenital,


respiratorik, atau kardiovaskuler.
Pada pemeriksaan plasenta, plasenta perlu ditimbang dan
perhatikan apakah ada perkapuran, nekrosis, dan sebagainya.Pada
bayi kembar harus diteliti apakah terdapat satu atau dua korion
(untuk

menentukan

kembar

identik

atau

tidak).Juga

perlu

diperhatikan adanya anastomosis vascular antara kedua amnion, bila


ada perlu dipikirkan kemungkinan terjadi transfusi feto-fetal.
Setelah pemeriksaan cairan amnion, plasenta dan tali pusat
kemudian

dilakukan

pemeriksaan

bayi

secara

cepat

tetapi

menyeluruh.
BBL cukup bulan yang sesuai unutk masa kehamilannya
mempunyai ukuran badan sebagai berikut:
Tabel ukuran antropometrik
Ukuran

antropometrik

Laki-laki

Perempuan

Berat lahir (kg)

3,53 (2,53 4,34)

3,40 (2,55 4,15)

Panjang lahir (cm)

56,6 (52,8 60,9)

55,3 (51,5 59,3)

Lingkar kepala (cm)

35,8 (32,1 38,5)

34,7 (32,3 37,7)

BBL

Perlu diukur panjang kepala-simfisis dan simfisis-kaki untuk


menilai proporsi tubuh bayi, agar kelainan seperti akondroplasia
dapat dideteksi.
Kejadian kelainan congenital pada bayi kurang bulan 2 kali
lebih banyak dibanding bayi cukup bulan, sedangkan pada bayi kecil
untuk masa kehamilan kejadian tersebut sampai 10 kali lebih besar.
c) Mulut
Pada pemeriksaan mulut perhatikan apakah terdapat labiognato-palatoskisis,

harus

diperhatikan

juga

apakah

terdapat

hipersalivasi yang mungkin disebabkan oleh adanya atresia


esophagus. Pemeriksaan patensi esophagus dilakukan dengan cara
memasukkan kateter ke dalam lambung, setelah kateter di dalam
lambung, masukkan 5-10 mL udara dan dengan stetoskop akan
terdengar bunyi udara masuk ke dalam lambung. Dengan demikian
akan tersingkir atresia esophagus. Kemudian cairan amnion di dalam
lambung diaspirasi.Bila terdapat cairan melebihi 30 mL pikirkan
kemungkinan

atresia

usus

bagian

atas.Pemeriksaan

patensi

esophagus dianjurkan pada setiap bayi yang kecil untuk masa


kehamilan, aretri umbulikalis hanya satu, polihidramnion, atau
hipersalivasi.
Pada pemeriksaan mulut perhatikan juga terdapatnya hipoplasia
otot depresor anguli oris. Pada keadaan ini terlihat asimetri wajah
apabila bayi menangis, sudut mulut dan mandibula akan tertarik ke
bawah dan garis nasolabialis akan kurang tampak pada daerah yang
sehat (sebaliknya pada paresis N. Fasialis). Pada 20% keadaan
seperti ini dapat ditemukan kelainan congenital berupa kelainan
kardiovaskular dan dislokasi panggul congenital.
d) Anus
Perhatikanlah adanya anus imperforatus dengan memasukkan
thermometer ke dalam anus. Walaupun seringkali atresia yang tinggi
tidak dapat dideteksi dengan cara ini. Bila ada atresia perhatikan
apakah ada fistula rekto-vaginal.
e) Kelainan pada garis tengah
Perlu dicari kelainan pada garis tengah berupa spina bifida,
meningomielokel, sinus pilonidalis, ambigus genitalia, eksomfalos,
dan lain-lain.
f) Jenis kelamin

Biasanya orang tua ingin segera mengetahui jenis kelamin


anaknya. Bila terdapat keraguan, misalnya pembesaran klitoris pada
bayi perempuan atau terdapatnya hipospadia atau epispadia pada bayi
lelaki, sebaiknya pemberitahuan jenis kelamin ditunda sampai
dilakukan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan kromosom.
3) Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam waktu 24 jam untuk
mendeteksi kelainan yang mungkin terabaikan pada pemeriksaan di
kamar bersalin. Pemeriksaan ini meliputi:
a) Aktivitas fisik
Keaktifan BBL dinilai dengan melihat posisi dan gerakan
tungkai dan lengan.Pada BBL cukup bulan yang sehat, ekstremitas
berada dalam keadaan fleksi, dengan gerakan tungkai serta lengan
aktif

dan

simetris.Bila

ada

asimetri

pikirkan

terdapatnya

kelumpuhan atau patah tulang.Aktifitas fisik mungkin saja tidak


tampak pada BBL yang sedang tidur atau lemah karena sakit atau
pengaruh obat.Bayi yang berbaring tanpa bergerak mungkin juga
disebabkan oleh tenaga yang habis dipakai untuk mengatasi
kesulitan bernafas atau tangis yang melelahkan.Gerakan kasar atau
halus (tremor) yang disertai klonus pergelangan kaki atau rahang
sering ditemukan pada BBL, keadaan ini tidak berarti apaapa.Berlainan hanya bila terjadi pada golongan umur yang lebih
tua.Gerakan tersebut cenderung terjadi pada BBL yang aktif, tetapi
bila dilakukan fleksi anggota gerak tersebut masih tetap bergeragerak, maka bayi tersebut menderita kejang dan perlu dievaluasi
lebih lanjut.
b) Tangisan bayi
Tangisan bayi dapat memberikan keterangan tentang keadaan
bayi.Tangisan melengking ditemukan pada bayi dengan kelainan
neurologis, sedangkan tangisan yang lemah atau merintih terdapat
pada bayi dengan kesulitan pernapasan.
c) Wajah BBL

Wajah BBL dapat menunjukkan kelainan yang khas, misalnya


sindrom Down, sindrom Pierre-Robin, sindrom de Lange, dan
sebagainya.
d) Keadaan gizi
Dinilai dari berat dan panjang badan, disesuaikan dengan masa
kehamilan, tebal lapisan subkutis serta kerutan pada kulit.Edema
pada bayi dapat memberi kesan bayi dalam status gizi baik karena
kulitnya halus dan licin. Pada penekanan kulit mungkin terjadi
lekukan dan mungkin juga tidak, tetapi lipatan halus pada buku jari
kaki dan tangan akan berkurang bila berisi cairan atau edema.
Edema kelopak mata biasanya karena iritasi tetesan obat pada
mata. Edema yang menyeluruh ditemukan pada bayi premature,
hipoproteinemia,

eritroblastosis

fetalis,

sindrom

nefrotik

congenital, sindrom Hurler atau sebab lain yang tidak diketahui.


Edema setempat dapat disebabkan oleh cacat bawaan system
limfe.Salah satu gejala sindrom Turner adalah edema yang terbatas
pada salah satu atau lebih ekstremitas bayi perempuan.
e) Pemeriksaan suhu
Suhu tubuh BBL diukur pada aksila. Suhu BBL normal adalah
antara 36,5-37,5 . Suhu meninggi dapat ditemukan pada
dehidrasi, gangguan serebral, infeksi, atau kenaikan suhu
lingkungan.Kenaikan suhu merata biasanya disebabkan oleh
kenaikan suhu lingkungan.Apabila ekstremitas dingin dan tubuh
panas kemungkinan besar disebabkan oleh sepsis, perlu diingat
bahwa infeksi/sepsis pada BBL dapat saja tidak disertai dengan
kenaikan suhu tubuh, bahkan sering terjadi hipotermi.
bahkan sering terjadi hipotermi.
Pemeriksaan secara rinci
a) Kulit
Kerapuhan system vasomotrik dan lambatnya sirkulasi perifer
akan menampilkan bayi yang berwarna merah sekali atau merah
kebiruan pada waktu menangis. Warnanya akan lebih gelap bila bayi

menangis kuat dengan glotis tertutup. Akrosianosis terdapat pada


bayi yang kedinginan.Tanda umum gangguan sirkulasi lainnya
adalah kulit yang seperti marmer (cutis marmorata/mottling), hal ini
mungkin berhubungan dengan penyakit berat atau fluktuasi suhu
kulit yang sementara.Perbedaan warna merah antara setengah tubuh
bayi dengan warna pucat pada setengah bagian tubuh lainnya,
dengan batasnya yang tampak jelas pada garis pertengahan dari dahi
sampai ke pubis disebut perubahan warna Harlequin.Perubahan ini
hanya bersifat sementara dan tidak berbahaya, penyebabnya belum
diketahui.Sianosis pada bayi yang pucat karena sirkulasi buruk tidak
tampak dengan jelas. Hemoglobin yang relative tinggi pada hari
pertama disertai dengan kulit tipis dan saturasi oksigen cukup akan
menampakkan bayi yang sianotik. Sinosis setempat bila ditekan akan
pucat, keadaan ini membedakannya dengan ekimosis. Cara yang
sama dapat pula dipakai untuk melihat ikterus dan tempat yang
paling baik adalah di puncak hidung atau dahi. Hal ini tidak mungkin
dikerjakan di tempat hematoma.Pucat dapat pula menggambarkan
bayi dengan asfiksia, anemia, renjatan, atau edema. Diagnosis dini
anemia pada eritroblastosis fetalis, robekan hati, perdarahan
subdural,

transfuse

feto-maternal

atau

feto-fetal

dapat

menyelamatkan bayi. Kulit bayi lebih bulan cenderung lebih pucat


dari bayi cukup bulan atau bayi premature.
Pada saat lahir seluruh tubuh bayi dilapisi oleh zat seperti lemak
yang berwarna putih kotor yang disebut verniks kaseosa.Zat ini
mulai diekskresi oleh kelenjar keringat janin pada masa gestasi 20
minggu. Makin tua masa gestasi, makin tebal lapisan lemaknya dan
akan menipis pada bayi lebih bulan. Verniks ini dapat menghilang
sendiri beberapa hari sesudah lahir.Zat ini tidak larut dalam air,
fungsinya untuk menjaga suhu tubuh janin dan mencegah infeksi di
dalam uterus.Di luar kandungan verniks ini dapat menjaga suhu
tubuh.Bayi dibersihkan dengan kapas dan minyak kelapa yang steril
kemudian disabun dan dimandikan.Memandikan bayi sebaiknya

setelah suhu stabil.Untuk bayi cukup bulan setelah 6 jam, untuk bayi
premature setelah 24 jam.
Hemangioma kapiler sering pula ditemukan pada kelopak mata
dan leher yang akan menghilang dalam minggu-minggu pertama. Di
punggung, di pantat, atau di tempat lain kerapkali ditemukan kulit
yang berwarna biru keabu-abuan yang berbatas tegas dan dinamakan
bercak Mongol (Mongolian spot). Lebih dari 50% terdapat pada bayi
kulit berwarna dan kadang-kadang pada bayi kulit putih.Ini adalah
hiperpigmentasi.Bercak ini cenderung menghilang pada umur satu
tahun atau lebih.
Bayi dengan anoksia akan mengeluarkan mekonium ke cairan
amnion. Akibatnya verniks, kulit, kuku, dan tali pusat berwarna
kuning kecoklat-coklatan dan disebut pewarnaan mekonium
(meconium staining).
Lanugo adalah rambut imatur yang halus, lunak dan sering
menutupi kulit kepala, dahi dan muka. Lanugo akan menghilang dan
diganti oleh rambut biasa. Seberkas rambut di daerah lumbosakral
menunjukkan adanya kelainan di daerah tersebut seperti spina bifida
okulta, sinus tract, atau tumor.
Kuku bayi yang sangat premature belum sempurna (rudimenter).
Sebaliknya, kuku bayi lebih bulan akan lebih panjang dari ujung jari.
Kulit bayi premature tipis, halus dan cenderung berwarna merah
sekali.Bayi yang amat sangat premature tampak seperti agar-agar
(gelatin).Kulit bayi cenderung mengelupas dan tampak seperti kertas
perkamen terutama pada bayi lebih bulan.Pada keadaan yang lebih
berat dapat dikacaukan dengan iktiosis congenital.Pada BBL yang
berumur 1-3 hari sering tampak papula putih kecil-kecil dan kadangkadang berbentuk vesikopustula di atas eritema dan disebut eritema
toksikum.Biasanya terdapat pada muka, badan, anggota gerak dan
menghilang sesudah 1 minggu.Penyebabnya tidak diketahui.Pada
waktu lahir tampak erupsi vesikopustula di daerah dagu, leher,
punggung, ekstremitas, telapak tangan dan kaki berlangsung selama
2-3 hari.Lesi ini harus dibedakan dengan erupsi vesikuler yang lebih

berbahaya seperti pada herpes simpleks atau infeksi kuman


Staphylococcus di kulit.
b) Kepala dan leher
Bayi yang baru lahir melalui vagina (terutama anak pertama atau
kepala bayi terlalu lama di ruang panggul) akan mengalami
perubahan bentuk kepala. Letak tulang parietal cenderung sedikit di
atas tulang oksipital dan tulang frontal.Kepala bayi sungsang atau
lahir dengan bedah kaisar biasanya bulat.Garis sutura, ukuran, dan
tekanan fontanel anterior dan posterior harus diperiksa dengan jari.
Ukuran fontanel anterior bervariasi, maksimal 3x3 cm. Fontanel
yang tegang menandakan peningkatan tekanan intracranial seperti
pada edema otak, hidrosefalus, atau meningitis. Fontanel posterior
biasanya masih terbuka, dengan ukuran seujung jari.Hanya 3% yang
diameternya lebih dari 2 cm. Pada waktu lahir banyak sekali variasi
ukuran fontanel. Fontanel yang kecil waktu lahir cenderung akan
membesar di bulan pertama. Ukuran fontanel anterior dan posterior
yang amat besar berhubungan dengan kelainan seperti tertera di
bawah ini (lihat Tabel 5.2 Kelainan dengan fontanel anterior yang
besar
Akondroplasia

Osteogenesis imperfekta

Sindrom Apert

Prematuritas

Hipotiroid / atiroid

Pinokdisostosis

Kleidokranial disostosis

Sindrom rubella

Sindrom Hallerman-Streiff

Sindrom Russel-Silver

Hidrosefalus

Trisomi 13, 18, 21

Hipofosfatemia

Rakitis defisiensi vitamin


D

Retardasi

pertumbuhan

intrauterin
Sumber : Stoll BJ, Kliegman RM

Bagian kepala yang lunak atau disebut kraniotabes kadangkala


ditemukan pada vertex di tulang parietal dekat sutura sagital dan
tidak mempunyai nilai klinis.Akan tetapi bila kelainan tersebut
menetap, pemeriksaan terhadap kemungkinan penyebab patologik
harus dilakukan.Bagian oksipital yang lunak menandakan adanya
kalsifikasi yang tidak sempurna yang disertai dengan osteogenis
imperfekta, kleidokranial disostosis, kretinisme dan kadang-kadang
sindrom down.Dengan transluminasi tulang kepala, kemungkinan
hidraensefali dan proensefali dapat disingkirkan.
Trauma lahir pada kepala
Perhatikan juga trauma lahir pada kepala berupa :
1. Caput suksadenum adalah edema pada kulit kepala, lunak tidak
berfluktuasi, batasnya tidak tegas dan menyebrangi sutura, dan
akan hilang dalam beberapa hari
2. Cephal hematom tidak tampak pada hari pertama karena tertutup
oelh caput suksadenum. Konsistensi cephal hematom ini lunak,
berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi tulang tengkorak, jadi tidak
menyebrangi

sutura.

Cephal

hematom

akan

mengalami

kalsifikasi setelah beberapa hari, dan akan menghilang sempurna


dalam waktu 2-6 bulan.
3. Bila cephal hematom menyebrangi sutura berarti terdapat fraktur
tulang tengkorak
4. Perdarahan subaponeurotik terjadi oleh karena pecahnya vena
yang menghubungkan jaringan di luar dengan sinus-sinus dalam
tengkorak. Peradarahan ini dapat terjadi pada tiap persalinan
yang diakhiri dengan alat. Biasanya batasnya tidak tegas
sehingga bentuk kepala dapat tampak asimetris. Pada perabaan
sering ditemukan fluktuasi dan juga terdapat edema. Bila berat
kelainan ini dapat mengakibatkan renjatan, anemia atau
hiperbillirubinemia.
c) Wajah

Wajah dengan tanda dismorfik seperti lipatan epikantus,


melebarnya jarak kedua mata, dan letak daun telinga yang rendah
sering berhubungan dengan sindrom congenital.Wajah yang tidak
simetris mungkin disebabkan oleh kelumpuhan saraf ke 7, hipoplasi
otot depressor sudut mulut, atau posisi janin yang tidak normal. Bila
rahang janin terletak di atas bahu aau di atas salah satu ekstremitas
selama hamil, maka mandibula aka nada jauh dari garis tengah.
Tulang tengkorak bayi premature tampak seperti hidrosefalus oleh
karena pertumbuhan otak relatif besar dari pertumbuhan organ
lainnya.
d) Mata
Mata sering terbuka dengan sendirinya bila bayi didudukkan dan
dengan hati-hati dimiringkan sedikit ke depan dank e belakang atau
dengan melakukan reflex moro. Hal ini terjadi oleh karena reflex
labirin dan leher. Cara ini lebih berhasil daripada membuka kelopak
mata bayi dengan paksa.Gerakan pupil biasanya baru timbul
beberapa minggu sesudah lahir. Perdarahan di retina dan konjungtiva
tidak berbahaya dan akan menghilang sendiri dalam minggu
pertama. Reflex pupil baru ada sesudah masa gestasi 28 minggu. Iris
harus diperiksa untuk melihat koloboma. Bila ada, kemungkinan
terdapat juga defek pada retina dan perlu dicari kelainan congenital
lain. Diameter kornea pada BBL kurang lebih 10mm. Apabila lebih
dari 13 mm, terutama bila ada kekeruhan kornea, bayi mungkin
mempunyai galukoma congenital dan perlu pemeriksaan mata yang
lebih intensif. Selain itu, juga perlu diperiksa adanya katarak dan
kelainan intraokuler. Jika ditemukan katarak pada bayi harus diteliti
apa penyebabnya. Seringkali terlihat pula secret dari mata yang agak
lengket.Biasanya penyebabnya adalah saluran nasolakrimal yang
belum berfungsi. Pada 70% kasus biasanya akan hilang dalam 3
bulan dan 1 tahun 90% nya akan hilang.
e) Telinga

Perhatikan bentuk, ukuran dan posisi telinga dan rasakan


kartilagonya. Pada BBL cukup bulan telah cukup terbentuk tulang
rawan sehingga bentuk telinga dapat dipertahankan.daun telinga
yang letaknya rendah, yaitu batas atasnya berada lebih rendah dari
kantus lateral mata, terdapat pada BBl dengan sindroma tertentu
antara lain sindrom pierre-robin. Pada telinga kadang ditemukan
daun telinga yang terlipat, dan biasanya pulih dengan sendirinya
dalam 1 minggu pertama.Perlu diperhatikan adanya preauricular pits,
skin tags, atau daun telinga tambahan. Skin tags atau tonjolan kulit
dapat terjadi sebagai kelainan autosomal dominan, namun pada
kasus seperti ini penting untuk melakukan pemeriksaan pendengaran
lanjutan. Pemeriksaan dengan otoskop biasanya tidak menjadi
bagian pemeriksaan rutin BBL.
f) Hidung
Perlu diamati bentuk hiidung dan lebar jembatannya (nasal
bridge).Jika tampak terlalu lebar, ukurlah jarak antar kantus medial
mata. Jarak tersebut tidak boleh lebih dari 2,5 cm pada BBL cukup
bulan. Hidung dapat tampak pesek karena tekanan yang dialami di
intrauterine.
BBL bernafas melalui hidung, apabila ia bernafas melalui mulut,
maka harus dipikirkkan kemungkinan terdapatnya obstruksi jalan
nafas oleh karena atresia koana bilateral atau fraktur tulang hidung
atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Pernafasan cuping
hidung menunjukkan adanya gangguan pernafasan.
g) Mulut
Pemeriksaan

mulut

dilakukan

dengan

inspeksi

dan

palpasi.Dengan inspeksi dapat dilihat adanya labio dan gnatoskisis,


adanya gigi atau ranula, yaitu kista lunak yang berasal dari dasar
mulut.Perhatikan lidah apakah membesar seperti sindrom beckwith
atau selalu bergerak seperti pada sindrom down. BBL dengan edema

otak atau tekanan intracranial meninggi seringkali lidahnya keluar


masuk (tanda foote). Secara palpasi dapat dideteksi terdapatnya high
arch palate, palatoskisis, dan baik atau tidaknya reflex isap.
Sebelum bayi berumur 2 bulan saliva bayi sedikit.Bila terdapat
hipersalivasi pada BBL perlu dipikirkan kemungkinan atresia
esophagus dengan atau tanpa fistula trakeo-esofagus.
BBL jarang mempunyai gigi. Bila ada biasanya pada gigi seri
bawah, jarang di tempat lain. Gigi ini jarang sekali rontok dan akan
lepas sendiri sebelum gigi susu tumbuh. Gigi pada BBL biasanya
dijumpai pada sindro Ellis-Van Creveld, sindrom Hallermann-Strief,
dan sindrom lain.
Palatum lunak dan keras harus diperiksa untuk melihat celah
atau atau tingginya lengkung palatum. Pada palatum keras kadangkadang ditemukan tumpukan sel epitel yang disebut mutiara Epstein;
kista retensi yang gambarannya sama tampak pula di gusi. Kedunya
menghilang dalam beberapa minggu. Sekelompok folikel kecil-kecil
yang berwarna putih atau kuning pada dasar eritema sering
ditemukan pada tonsil anterior bayi yang berumur 2-3 hari; sebabnya
tidak diketahui, akan menghilang tanpa pengobatan dalam 2-4 hari.
Lidah relative tampak besar, frenulum mungkin pendek.Bila
lidah tidak dapat bergerak pada waktu bayi menetek, frenulum
tersebut harus dipotong.Timbunan lemak di bagian dalam pipi bayi
disebut bantalan isap. Bantalan ini akan menghilang jika bayi
berhenti menyusu.
Tenggorok

bayi

sukar

dilihat.Walaupun

demikian

harus

diusahakan untuk memeriksanya agar celah palatum posterior dan


uvula tidak luput dari pengamatan. Tonsil yang kecil tidak akan
mempengaruhi pertumbuhan jaringan limfoid di kemudian hari.
h) Leher

Leher BBL tampak pendek akan tetapi pergerakannya baik.


Apabila terdapat keterbatasan pergerakan perlu dipikirkan kelainan
tulang leher.Tumor di daerah leher seperti tiroid, hemangioma,
higroma kistik, selain merupakan masalah sendiri dapat juga
menekan trakea sehingga memerlukan tindakan segera.
Trauma leher dapat terjadi pada persalinan yang sulit.Trauma
leher ini dapat menyebabkan kerusakan pleksus brakialis sehingga
terjadi paresis pada tangan, lengan atau diafrgma.Dapat terjadi
perdarahan m.sternokleidomastoideus yang apabila tidak ditangani
dengan baik dapat menyebabkan tortikolis. Perhatikan pula adanya
webbed neck yang terdapat pada beberapa kelainan congenital antara
lain sindrom turner. Kedua kalvikula harus diperiksa untuk melihat
fraktur.
i) Dada
Dada BBL berbentuk seperti tong.Plektus ekskavatum atau
karinatum sering membuat orang tua khawatir, padahal biasanya
tidak mempunyai arti klinis.Pada repirasi normal, dinding dada
bergerak bersama dengan dinding perut. Apabila terdapat gangguan
pernafasan , terlihat pernafasan yang paradoksal dan retraksi pada
inspirasi. Gerakan dinding dada harus simetris.Bila tidak pikirkan
kemungkinan pneumothoraks, paresis diafragma atau hernia
diafragmatika.
j) Payudara
Kelenjar payudara BBL baik pada wanita atau lelaki oleh karena
pengaruh hormone ibu kadangkala tampak membesar dan seringkali
diisertai dengan sekresi air susu. Keadaan ini tidak perlu
dikhawatirkan kecuali terdapat tanda-tanda peradangan.
k) Paru

Penilaian keadaan paru dengan observasi tidak klaah pentingnya


dari auskultasi dan palpasi. Selain melihat warna kulit bayi, amati
frekuensi nafas dan tanda lain distress pernafasan seperti retraksi dan
merintih. Frekuensi nafas yang normal pada BBL adalah 40-60 kali
permenit.BBL dengan frekuensi nafas yang terus menerus diatas 60
kali permenit perlu diamati lebih teliti untuk kemungkinan adanya
kelainan paru, jantung, atau metabolik.Fluktuasi frekuensi nafas
tergantung dari aktifitas fisik, menangis, tidur, atau bangun. Karena
fluktuasi cepat maka frekuensi nafas BBL harus dihitung dalam satu
menit penuh dan kalau mungkin dihitung saat bayi tidur atau dalam
keadaan tenang oleh karena sering terdapat periodic breathing, yaitu
henti nafas yang berlangsung 5-10 detik diantara pola pernafasan
regular. Serangan apneu yang sebenarnya biasanya lebih lama dari
20 detik dan sangat jarang terjadi pada BBL cukup bulan.Amati pola
pernafasan.Jika bayi tenang, dalam keadaan normal tidak dijumpai
pernafasan cuping hidung, merintih, ataupun retraksi dada.Sebagian
bayi, khususnya bayi premature, saat menangis dapat menunjukkan
retraksi sternal atau subkostal ringan.Nafas yang tersendat-sendat
dan tidak teratur yang kadang-kadang diikuti oleh gerakan spasme
mulut dan dagu menunjukkan gangguan pusat pernafasan yang berat.
Semua bayi baru lahir bernafas dengan diafragma, sehingga
pada waktu inspirasi bagian dada tertarik ke dalam dan pada saat
yang sama perut bayi membuncit. Bila bayi dalam keadaan relaksasi,
tenang dan warna kulitnya baik maka ventilasinya baik.Sebaliknya,
pernafasan yang berat menandakan ventilasi paru yang abnormal,
pneumonia, cacat bawaan atau gangguan mekanis lainnya di paru.
Kesukaran bernafas yang disebabkan oleh terlalu banyak atau terlalu
sedikit udara di paru akan menyebabkan jaringan interkostal tertarik
ke dalam. Oleh karena itu, untuk membedakan atelektasis dan
emfisema harus dinilai bentuk dan ukuran dada, perkusi dan
pemeriksaan rontgen.

Berat

ringannya

suatu

kegawatan

pernafasan

dapat

dinilai

menggunakan skor downes, seperti tertera pada tabel di bawah ini.


Pemeriksaa

Skor

Frekuensi

<60/ menit

60-80/ menit

>80/ menit

Retraksi

Tidak ada retraksi

Retraksi ringan

Retraksi berat

Sianosis

Tidak ada sianosis

Sianosis hilang dengan O2

Sianosis

nafas

menetap

walaupun dengan O2
Air entry

Udara masuk

Penurunan

ringan

udara Tidak ada udara masuk

masuk
Merintih

Tidak merintih

Dapat

didengar

stetoskop

dengan Dapat didengar tanpa


alat bantu

Evaluasi
Total

diagnosis

1-3

RDS ringan

4-5

RDS sedang

RDS berat
Biasanya suara nafas BBL bronkovesikuler. Kecurigaan akan
berkurangnya

suara

nafas

harus

selalu

dibuktikan

dengan

menginduksi nafas yang lebih dalam. Bila satu tempat yang


dicurigai, lakukan perubahan posisi kepala dan badan sebelum
mengambil keputusan.Cara ini juga dikerjakan bila diduga ada redup
pada perkusi.Ronki basah halus pada pneumonia BBL dini hanya
dapat didengar pada akhir inspirasi dalam yang diinduksi oleh tangis
bayi.Mengingat banyaknya etiologi gawat nafas, maka pemeriksaan
radiologik dada harus dilakukan.
Bila pada auskultasi terdengar bising usus di rongga dada,
pikirkan kemungkinan hernia diafragma.

l) Kardiovaskular
Denyut nadi bervariasi dari 90/ menit saat bayi tidur tenang
sampai 180/ menit selama aktifitas.Frekuensi denyut nadi yang tetap
tinggi pada takikardia paroksismal lebih baik dihitung dengan
elektrokardiogram daripada denggan telinga.Denyut jantung bayi
premature yang tenang berkisar antara 140-150/menit.Nadi di kaki
dan tangan harus diperiksa pada waktu lahir dan saat dipulangkan.
Pulsasi yang lemah di semua ekstremitas menandakan curah
jantung buruk atau vasokonstriksi perifer.Pulsasi femoral yang
melemah atau tidak ada mengarah dugaan pada lesi jantung ductal
dependent seperti koarktasio aorta.Palpasi dan auskultasi mampu
menunjukkan pergeseran letak jantung seperti pada dekstrokardia.
Sekitar 60% dari BBL normal memiliki bising sistolik pada usia
2 jam, tetapi presentase ini berkurang sampai 1% pada pemeriksaan
rutin bayi. Sebaliknya, bising pada cacat jantung bawaan mungkin
baru dapat didengar beberapa hari kemudian.Diperkirakan hanya 1
antara 12 cacat jantung bawaan yang bisingnya dapat didengar pada
masa BBL dini.Dugaan cacar jantung bawaan harus diikiuti dengan
pemeriksaan

radiologi,

electrocardiogram,

dan

ekokardiogram.Karena itu perlu dicermati bahwa pada BBL, bising


tidak selalu menunjukkan adanya kelainan jantung.Demikian pula
sebaliknya, tidak adanya bukan memastikan jantungnya normal.
Bising innocent, yaitu bising yang tidak berkorelasi dengan kelainan
jantung, dapat dikenali dari karakteristik berikut:
1.
2.
3.
4.

Bising derajad I-II/VI apada tepi sternal kiri


Tidak ada klik pada auskultasi
Pulsasi normal
Pemeriksaan fisik lainnya normal.
Bising innocent biasanya berasal dari sudut percabangan arteri

pulmonalis, duktus arteriosus paten, atau regurgitasi tricuspid yang


pulih dengan sendirinya dalam waktu cepat. Berikut adalah

karakteristik

bising

signifikan

yang

perlu

dicermati

untuk

pemeriksaan lebih lanjut:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pansistolik
Derajad I/VI atau lebih
Terdengar paling baik di batas kiri atas sternum
Terdengar kasar (harsh)
Terdapat bunyi jantung II yang abnormal
Terdapat klik sistolik dini atau tengah (mid-sistolik)
Pemeriksaan

menegakkan

tekanan

darah

diagnosis.Auskultasi

mungkin
cukup

bermanfaat

baik

hanya

untuk
dengan

menggunakan kepala stetoskop kecil.cara Doppler dilakukan dengan


menggunakan transuder dalam manset untuk transmisi dan
penerimaan gelombang ultrasonic. Transuder ini dapat mendeteksi
gerakan dinding arteri sehingga pemeriksaan tekanan sistolik dan
diastolic lebih seksama. Cara lain adalah dengan palpasi, yaitu
dengan mengambil tekanan darah sistolik sebagai patokan dan nadi
bagian distal dari manset diraba pada saat deflasii. Cara flush
adalah dengan cara menekan pangkal lengan sehingga aliran darah di
bawah manset relative berkurang, kemudian dilanjutkan dengan
deflasi manset dan dicatat tekanan sistoliknya pada saat tangan dan
lengan menjadi merah (flushing). Kerugiannya adalah tidak
didapatnya tekanan nadi dan hasilnya dengan auskultasi terletak di
antara tekanan sistolik dan diastolik.
m) Abdomen
Dinding bdomen
Dinding perut BBL lebih datar daripada dinding dada.Bila perut
sangat cekung, pikirkan kemungkinan hernia difragmatika.Abdomen
yang membuncit mungkin disebabkan hepato/splenomegali atau
tumor lainnya ataupun cairan di dalam rongga perut.Bila perut bayi
kembung teliti kemungkinan enterokoliits nekrotikans, perforasi usus
atau illeus.Perhatikan adanya gastroskisis, ekstrofillia vesikalis,
omfalokel, atau duktus omfaloenterikus yang persisten.Omfalokel

perlu dibedakan dari gastroskisis yang disebabkan karena kegagalan


dinding perut untuk menutup akibat defek pada m. rektus abdominis.
Kelainan bawaan lain yang perlu diperhatikan adalah sindrom prune
belly. Dinding abdomen masih lemah terutama pada bayi premature.
n) Hati dan Limpa
Hati biasanya teraba 2-3 cm dibawah arkus kosta kanan,
sedangkan limpa sering teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri,
karena masih terjadi hematopoiesis ekstrameduler. Kadang-kadang
hati dan limpa sedemikian besarnya sehingga batas bawahnya
berada di abdomen bagian bawah, misala pada penyakit hemolitik
seperti eritroblastosis fetalis.

o) Ginjal
Dengan palpasi yang dalam, ginjal dapat diraba apabila
posisi bayi telentang dan tungkai bayi dilipat agar otot dinding
perut dalam keadaan relaksasi.Batas bawah ginjal dapat diraba
setinggi umbilicus di antara garis tengah dan tepi perut.Biasanya
bagian ginjall yang dapat diraba sekitar 2-3 cm. pembesaran ginjal
dapat disebabkan oleh neoplasma, kelainan bawaan, atau
thrombosis vena renalis.
Trauma pada abdomen oleh karena proses kelahiran yang
sulit misalnya letak sungsang, dapat mengakibatkan perdarah hati,
limpa atau kelenjar adrenal. Bila terdapat kecurigaan kelainan
dalam perut, pemeriksaan USG akan banyak membantu. Terabanya
benjolan yang abnormal di abdomen harus diperiksa segera di atas
tempat yang keras seperti papan.Pemeriksaan USH abdomen bayi
dapat menggantikan pielogram intravena unnutk membantu
diagnosis.Bejolan yang paling sering ditemukan adalah anomaly

saluran kemih, embrioma ginjal, kista ovarium dan duplikasi


usus.Jumlah udara dalam saluran cerna BBL sangat bervariasi dan
ini tidak ditemukan pada umur yang lebih tua.Diastasis rekti dan
hernia tali pusat sering ditemukan pada BBL, terutama yang
berkulit hitam.
p) Genitalia Eksterna
Pada bayi perempuan cukup bulan labia minora tertutup oleh
labia mayora, dan ini adalah salah satu criteria untuk menilai usia
kehamilan BBL. Lubang uretra terpisah dari lubang vagina, bila
hanya terdapat satu lubang berarti ada kelainan. Kadang-kadang
tampak secret yang berdarah dari vagina, hal ini disebabkan oleh
pengaruh hormon ibu (withdrawal bleeding).
Pada bayi laki-laki sering terdapat fimosis. Ukuran penis bayi
berkisar antara 3-4 cm (panjang) dan 1-1,3 cm (lebar). Hipospadia
adalah kelainan yang tidak jarang ditemukan yang dapat berupa
defek di bagian ventral ujung penis saja atau berupa defek sepanjang
penisnya.Epispadia yaitu defek pada dorsum penis, lebih jarang
ditemukan, dan merupakan varian ekstrofia kandung kencing.
Skrotum bayi cukup bulan biasanya mempunyai banyak
rugae.Hidrokel seringkali ditemukan dan harus dibedakan dari hernia
inguinalis.Testis biasanya sudah turun ke dalam skrotum pada bayi
cukup bulan.Pada bayi kurang bulan, tidak jarang terdapat
kriptorkismus.Torsi testis dapat terjadi in utero dan dapat dilihat pada
saat lahir berupa testis yang membesar dank eras.
Kadang-kadang sulit menentukan jenis kelamin BBL. Misalnya
pada bayi perempuan terdapat klitoris yang besar dan labia
mayoranya berfusi serta berpigmen banyak, atau pada bayi lelaki
dengan penis kecil dan hipospadia serta skrotum terpisah.Dalam
keadaan ini perlu pemeriksaan kromatin seks atau kromosom seks.

Trauma di daerah genitalia eksterna seringkali ditemukan pada


kelahiran sungsang yang dapat berupa perdarahan ke dalam rongga
skrotum atau testis.
Ereksi pada BBL merupakan hal yang biasa.Kira-kira 95% BBL
buang air kecil dalam waktu 24 jam.Kadang-kadang BBL buang air
kecil pada saat atau segera sesudah lahir dan perlu dicatat.
q) Anus
Pemeriksaan anus bukan hanya untuk mengetahui ada tidaknya
atresia ani melainkan juga untuk mengetahui posisinya.Kadangkadang fistula yang besar dianggap sebagai anus yang normal. Tetapi
apabila diperhatikan maka akan kelihatan bahwa fistula terletak di
depan atau di belakang anus yang normal.
Pengeluaran mekoniun biasanya terjadi dalam 24 jam pertama.
Apabila setelah 48 jam mekonium belum juga keluar, pikirkan
kemungkinan mekonium plug sindrom, megakolon, atau obstruksi
saluran pencernaan. Mekonium yang keluar in utero pada bayi yang
letak kepala adalah salah satu tanda gawat janin.Bila tedapat darah
dalam mekonium perlu dibedakan apakah darah berasal dari bayi
atau dari ibu yang tertelan oleh bayi. Cara membedakannya adalah
dengan uji Apt yaitu dengan meneteskan basa kuat (NaOH atau
KOH), darah ibu akan mengalami hemolisis sedangkan darah bayi
tidak karena resisten terhadap alkali.
Anus imperforate tidak selalu mudah dilihat;, kadangkala
diperlukan pemeriksaan dengan memasukkan kelingking atau pipa
ke dalam rectum, atau dengan pemeriksaan radiologi. Lekukan atau
lipatan kulit yang tidak teratur sering ditemukan di garis tengah
sakrokosigeal yang mungkin dikacaukan dengan sinus pilonidal.
r) Tulang belakang dan Ekstremitas

Untuk pemeriksaan tulang belaang, BBl diletakkan pada posisi


tengkurap, tangan pemeriksa meraba sepanjang tulang belakang
untuk mencari adanya skoliosis, meningokel, spina bifida, dan
sinus pilonidal.
Pada pemeriksaan ekstremitas harus pula diperhatikan
pengaruh

letak

janin

dalam

uterus,

terutama

letak

sungsang.Kelainan karena posisi yang salah, biasanya tidak


menetap.Dugaan

adanya

fraktur

atau

trauma

saraf

yang

berhubungan dengan persalinan sering dapat dilihat pada gerakan


spontan atau dengan merangsang aktivitas bayi seperti refleks
Moro.Patah tulang yang multiple terdapat pada osteogenesis
imperfekta. Paralisis pada lengan mungkin disebabkan oleh fraktur
humerus atau kelumpuhan Erbs (kerusakan saraf servikal V,VI).
Kelumpuhan pada tangan disebabkan oleh paralisis klumpke
(kerusakan saraf servikal 7 dan thorakal 1).Pemeriksaan jari tangan
dan kaki perlu untuk melihat sindaktil, polidaktil, claw hand atau
claw feet dan gambaran dermatoglifik yang abnormal seperti garis
simian. Semua BBL harus diperiksa panggulnya untuk melihat
apakah ada dislokasi tulang panggul bawaan, dengan cara
ortholani. Perhatikan posisi kedua kaki apakah ad apes ekuinovarus
atau valgus.
Tonus ekstremitas juga perlu diperhatikan.Hipotonia umum
biasa disebabkan oleh kelainan susunan saraf pusat.
PEMERIKSAAN REFLEK

Pemeriksaan
refleks

Cara pengukuran

Kondisi normal

Kondisi patologis

Berkedip

Sorotkan cahaya ke mata


bayi

Dijumpai pada tahun pertama

Jika tidak ada,


menunjukkan kebutaan

Tanda babinski

Gores telapak kaki


sepanjang kaki luar

Jari kaki memngembang dan


ibu jari kaki dorsofleksi,
dijumpai sampai usia 2 tahun

Jika jari kaki


mengembang setelah usia
2 tahun, merupakan tanda
lesi ekstra pyramidal.

Merangkak

Letakkan bayi tengkurap di


atas permukaan yang datar

Bayi membuat gerakan


merangkak dengan lengan dan
kaki bila diletakkan telungkup

Jika gerakan tidak


simetris, adanya tanda
neurologi

Menari

Pegang bayi, sehingga


kakinya menyentuh
permukaan yang keras

Kaki akan bergerak ke atas dan


ke bawah jika sedikit disentuh
pada permukaan yang keras,
dijumpai saat 4-8 minggu
pertama.

Refleks menetap lebih


dari 4-8 minggu
merupakan keadaan
abnormal

Ekstrusi

Sentuh lidah dengan ujung


spatel lidah

Lidah julur kea rah luar jika


disentuh, dijumpai pada usia 4
bulan

Lidah menjulur yang


persisten, merupakan
tanda sindrom down.

Gallant

Gores punggung bayi


sepanjang garis tulang
belakang, dari bahu sampai
bokong

Punggung bergerak ke
samping saat distimulasi,
dijumpai saat 4-8 bulan
pertama

Tidak adanya refleks


menunjukkan adanya lesi
medual spinalis
transversa

Ubah posisi dengan tiba2,


atau pukul meja.

Lengan ekstensi, jari


mengembang, kepala
mendongak ke belakang,
tungkia sedikit ekstensi,
lengan kembali ke tenggah
dengan tangan menggenggam,
tulang belakang dan
ekstremitas bawah eksternsi,
lebih kuat selama 2 bulan dan
menghilang pada usia 3-4
bulan

Refleks yang menetap


lebih dari 4 bulan
menunjukkan kerusakan
otak, respon tidak
simetris adanya
hemiparesis, fraktur
klavikula atau cedera
pleksus barchialis, tidak
ada respon ekstremitas
bawah adanya dislokasi
pinggul atau cedera
medulla spinalis.

Letakkan bayi dalam posisi


telentang, coba menarik
perhatian bayi dari satu sisi

Jika bayi telentang, bahu dan


badan kemudian pelvis
berotasi ke arah bayi diputar
dan dijumpai pada 10 bulan
pertama

Tidak ada refleks atau


refleks menetap lebih dari
10 bulan menunjukkan
adanya gangguan system
saraf pusat

Moro

Neck righting

menggenggam

menghisap

Letakkan jari pada telapak


tangan bayi pada sisi ulnar,
jika refleks lemah atau
tidak ada beri bayi botol
atau dot karena menghisap
akan menstimulasi refleks.

Jari jari bayi melengkung


melingkari jari yang
diletakkan di telapak tangan
bayi dari sisi ulnar, refleks ini
menghilang pada usia 3-4
bulan

Fleksi yang tidak simetris


menunjukkan paralisis,
refleks menggenggam
yang menetap
menunjukkan gangguan
serebral.

Beri bayi botol dan dot

Bayi menghisap dengan kuat


dalam merespon terhadap
stimulasi, refleks ini menetap
selama masa bayi dan
mungkin terjadi selama tidur
tanpa stimulasi.

Refleks yang lemah atau


tidak ada menunjukkan
keterlambatan
perkembangan atau
keadaan neurolgi yang
abnormal.

Menolehkan kepala bayi


dengan cepat ke satu sisi

Tonic neck

Rooting

Kaget (startle)

Bayi melakukan perubahan


posisi jika kepala ditolehkan
ke satu sisi, lengan dan tungkai
ekstensi kea rah sisi putaran
kepala dan fleksi pada sisi
yang berlawanan, normalnya
refleks ini tidak terjadi setiap
kepala di tolehkan, tampak
pada usia kira-kira 2 bln dan
menggilang pada usia

Tidak normal jika repons


terjadi setiap kali kepala
ditolehkan, jika
menetapmenunjukkan
adanya kerusakan
serebral mayor.

Gores sudut mulut bayi


melewati garis tengah bibir

Bayi memutar ke arah pipi


yang yang diusap, refleks ini
menghilang pada usia 3-4
bulan, tetapi bisa menetap
sampai usia 12 bulan terutama
selama tidur

Tidak adanya refleks


menunjukkan adanya
gangguan neurologis
berat

Bertepuk tangan dengan


keras

Bayi mengekstensi dan


memfleksi lengan dalam
merespon terhadap suara
keras, tangan tetap rapat,
refleks ini akan menghilang
pada usia 4 bulan

Tidak adanya refleks


menunjukkan adanya
gangguan pendengaran.

PEMERIKSAAN PADA WAKTU MEMULANGKAN

Pada waktu memulangkan dilakukan lagi pemeriksaan untuk


meyakinkan bahwa tidak ada kelainana congenital atau kelainan
akibat trauma yang terlewatkan. Perlu diperhatikan:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Susunan saraf pusat : aktivitas bayi,ketegangan ubun-ubun


Kulit : adanya ikterus, pioderma
Jantung : adanya bising baru yang timbul kemudian
Abdomen : adanya tumor yang tidak terdeteksi sebelumnya
Tali pusat : adanya infeksi
Disamping itu perlu diperhatikan apakah bayi sudah pandai
menyusu dan ibu sudah mengerti cara pemberian ASI yang
benar.

2.3 PENATALAKSANAAN MEDIS


1. Tes diagnostik
a. Jumlah sel darah putih (SDP) : 18000/mm 3, neutrofil meningkat
sampai 23.000-24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila
ada sepsis).
b. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan
dengan anemia atau hemolisis berlebihan).
c. Hematokrit (Ht) 43-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih
menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragi prenatal/perinatal).
d. Bilirubin total : 6mg/dl pada hari pertama kehidupan, lebih besar
8mg/dl 1-2 hari dan 12mg/dl pada 3-5 hari.
e. Golongan darah dan RH.
f. (Marllyn. E, Doenges, 2001).
2. Terapi
a. Non Farmakologi
1) Pengukuran nilai APGAR Score (pada menit pertama dan
menit kelima setelah dilahirkan)
2) Kontrol suhu, suhu rektal sekali kemudian suhu aksila
3) Penimbangan BB setiap hari
4) Jadwal menyusui

5) Higiene dan perawatan tali pusat


b. Farmakologi
1) Suction dan oksigen
2) Vitamin K
2) Perawatan mata (obat mata entromisin 0,5% atau tetrasimin
1%, perak nitral atau neosporin)
3) Vaksinasi hepatitis B
Vaksinasi hepatitis B direkomendasikan untuk semua bayi.
Tempat yang biasa dipakai untuk menyuntikkan obat ini pada
bayi baru lahir adalah muskulus vastus lateralis.

2.4 DIAGNOSA PADA BAYI BARU LAHIR (BBL)


1. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan refleks hisap tidak adekuat
2. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi dengan
lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.
3. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
(pemotongan tali pusat) tali pusat masih basah.
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya
air (IWL), keterbatasan masukan cairan.
5. Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan kurang
terpaparnya informasi.
2.5 INTERVENSI BAYI BARU LAHIR (BBL)
No
1

Diagnosa
Keperawartan
Risiko tinggi
perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan
dengan refleks hisap
tidak adekuat.

Tujuan dan
Kriteria Hail
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama
2x24 jam perubahan
nutrisi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Penurunan
BB tidak

Intervensi
1.

Pan
tau intake dan out
put cairan
2.
Kaji
payudara ibu
tentang kondisi
putting
3.
Lak
ukan breast care

Rasional
1.

Pada janin
cukup bulan
mengandung
(80-100 ml).
Masukan cairan
adekuat untuk
metabolisme
tubuh yang
tinggi

lebih dari
10% BB
lahir.
Intake dan
output
makanan
seimbang.
Tidak ada
tanda-tanda
hipoglikemi

4.

5.

6.

7.

pada ibu secara


2.
teratur
Lak
ukan pemberian
makan oral awal
dengan 5-15 ml air
steril kemudian
dextrosa dan PASI
Intr
uksikan ibu cara
3.
dan posisi
menyusui yang
tepat secara
mandiri
Inst
ruksikan pada ibu
agar
mengkonsumsi
4.
susu ibu menyusui
Pan
tau warna,
konsentrasi, dan
frekuensi berkemih

5.

6.

7.

Kondisi puting
ibu sangat
menentukan
dalam proses
menyusui,
kondisi puting
inverted
menggangu
proses laktasi
Perawatan
breast care
untuk
melancarkan
dan merangsang
produksi air
susu pada ibu
menyusui
Pemberian
makan awal
membantu
memenuhi
kebutuhan
kalori dan
cairan,
khususnya pada
bayi yang
menggunakan
100-120 kal/kg
dari BB setiap
24 jam
Cara dan posisi
ibu dalam
menyusui sangat
mempengaruhi
proses laktasi,
sehingga proses
laktasi harus
dilakukan
dengan benar
Untuk
meningkatkan
produksi susu
ibu sehingga
proses laktasi
menjadi adekuat
Kehilangan
cairan dan
kurangnya
masukan oral
dengan cepat
menghabiskan
cairan
ekstraseluler
dan
mengakibatkan
penurunan
haluaran urin

Resiko tinggi
perubahan suhu tubuh
berhubungan dengan
adaptasi dengan
lingkungan luar rahim,
keterbatasan jumlah
lemak.

Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama
2x24 jam perubahan
suhu tubuh tidak
terjadi.
Kriteria hasil :
Suhu tubuh
normal 36370 C.
Bebas dari
tanda-tanda
strees, dingin,
tidak ada
tremor, sianosis
dan pucat.

1.

2.

3.

4.
5.

6.

7.

Pertahankan suhu
lingkungan
dalam zona
termoneural yang
ditetapkan
dengan
mempertimbangk
an berat badan
neonatus, usia
gestasi
Pantau aksila
bayi kulit, suhu
timpatik dan
lingkungan
sedikitnya setiap
30-60 mnt
Kaji frekuensi
pernapasan
perhatikan
takipnea
(frekuensi >
60/mnt)
Tunda mandi
pertama sampai
suhu 36,50 C
Mandikan bayi
dengan cepat
untuk menjaga
agar bayi tidak
kedinginan
Perhatikan tandatanda dehidrasi
(turgor kulit
buruk,
pelambatan
berkemih,
membrane
mukosa kering )
Lakukan
pemberian makn
oral dini

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Dalam respon
terhadap suhu
lingkungan yag
rendah, bayi
cukup bulan
meningkatkan
suhu tubuhnya
dengan
menangis atau
meningkatkan
aktivitas
motorik karena
banyak
mengkonsumsi
oksigen
Stabilisasi suhu
mungkin tidak
terjadi sampai
8-12 jam setelah
lahir kecepatan
konsumsi
oksigen dan
metabolisme
minimal bila
suhu kulit
dipertahankan
diatas 36,50 C
Bayi menjadi
takipnea dalam
respon terhadap
peningkatan
kebutuhan
oksigen yang
dihubungkan
dengan stres
dingin
Membantu
mencegah
kehilangan
panas lanjut
karena
evaporasi
Mengurangi
kemingkinan
kehilangan
panas melalui
evaporasi dan
konveksi dan
membantu
menghemat
energi
Hilangnya panas
terjadi melalui
vasodilatasi
perifer dan
melalui
augmentasi
pendinginan

7.

Resiko tinggi terjadi


infeksi berhubungan
dengan trauma
jaringan (pemotongan
tali pusat) tali pusat
masih basah.

Resiko tinggi
kekurangan volume
cairan berhubungan
dengan hilangnya air
(IWL), keterbatasan
masukan cairan.

dengan
evaporasi dan
penigkatan
kehilangan air
kast mata
Untuk
peningkatan 10
C (1,8 F) suhu
tubuh,
metabolisme
dan kebutuhan
cairan
meningkat kirakira 10%.
Kegagalan
menggantikan
kehilangan
cairan
selanjutnya
memperberat
status dehidrasi

Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama
3x24 jam infeksi
pada tali pusat tidak
terjadi.
Kriteria hasil :
Bebas dari
tanda-tanda
infeksi.
TTV normal : S :
36-370C, N :70100x/menit, RR :
40-60x/menit
Tali pusar
mongering

1. Observasi tanda-

Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
perawatan selama
2x24 jam
kekurangan volume
cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Bayi tidak
menunjukkan
tanda-tanda
dehidrasi yang
ditandai dengan
output kurang
dari 13ml/kg/jam.
Membran
mukosa normal.

1. Pertahankan intake 1. Memantau

2.
3.

4.

2.
3.
4.

5.

1. Mengetahui
adanya indikasi
tanda infeksi
infeksi
Pertahankan teknik
2.
Melindungi bayi
septic dan aseptic.
dari resiko infeksi
Lakukan perawatan
nosokomial
tali pusat setiap hari 3. Potensial entri
setelah mandi satu
organisme
kali perhari.
kedalam tubuh
Observasi tali pusat 4. Deteksi dini
dan area sekitar
terhadap
kulit dari tandapenyebaran
tanda infeksi.
infeksi

sesuai jadwal
Monitor intake dan
2.
output
Berikan infuse
sesuai program
Kaji tanda-tanda
dehidrasi, membran 3.
mukosa, ubunubun, turgor kulit,
mata
Monitor temperatur
setiap 2 jam
4.

5.

keefektifan
aturan terapeutik
Mengidentifikasi
keseimbangan
antara perkiraan
pemasukan dan
kebutuhan cairan
Ketentuan
dukungan cairan
didasarkan pada
perkiraan
kebutuhan bayi
Deteksi dini
terhadap keadaan
kekurangan
cairan tubuh
Peningkatan suhu

Ubun-ubun tidak
cekung.

Temperature
dalam batas
normal.

Kurangnya
pengetahuan orangtua
berhubungan dengan
kurang terpaparnya
informasi.

Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
perawatan selama
1x24 jam orang tua
mengetahui
perawatan
pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
Kriteria hasil :
Orang tua
mengatakan
memahami
kondisi bayi
Oaring tua
berpartisipasi
dalam perawatan
bayi

1.

2.

3.

4.

5.

Ten
tukan tingkat
pemahaman ibu
atau orang tua
tentang kebutuhan
fisiologis bayi dan
adaptasi terhadap
kehidupan
ekstrauterus
Lak
ukan pemeriksaan
fisik bayi saat
orang tua ada.
Berikan informasi
tentang variasi
normal dan
karakteristik seperti
: pseudomentruasi,
pembesaran
payudara
De
monstrasikan dan
awasi aktivitas
perawatan bayi
yang berhubungan
dengan posisi
menyusui dan
menggendong
Dis
kusikan kebutuhan
nutrisi bayi,
variabilitas napsu
makan dari satu
pemberian makan
ke berikutnya dan
cara mengkaji
keadekuatan
hidarasi dan nutrisi
Tek
anan kebutuhan
bayi baru lahir
untuk tindak
evaluasi degan
pemberi pelayanan
kesehatan

1.

2.

3.

4.

5.

tubuh merupakan
faktor resiko
meningkatnya
pengeluaran
cairan tubuh
melalui
mekanisme
konveksi, radiasi
dan evaporasi
Mengidentifikasi
area
permasalahan /
kebutuhan yang
memerlukan
informasi
tambahan atau
demonstrasi
aktivitas
perawatan
Membantu orang
tua mngenali
variasi normal,
dan dapat
menurunan
ansietas
Meningkatkan
pemahaman
tentang prinsipprinsip dan
tekhnik
perawatan bayi
baru lahir
Menghilangkan
kekhawatiran
yang potensial
terjadi bila
masukan bayi
bervariasi dari
pemberian
makan ke
pemberian
makan
selanjutnya.
Membantu
menjamin
persiapan dan
pemberian
formula yang
tepat
Evaluasi terus
menerus penting
untuk
pemantauan
pertumbuhan dan
perkembangan

2.6 IMPLEMENTASI
1. IMD partus Spontan
a. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
b. Disarankan untuk tidak mengurangi penggunaan obat kimiawi saat
persalinan. Dapat diganti dengan cara non-kimiawi misalnya pijat,
aromaterapi, gerakan atau hypnobirthing.
c. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya
melahirkan normal, di dalam air atau dengan jongkok.
d. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua
tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan kulit bayi
sebaiknya dibiarkan.
e. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat
dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan
minimum satu jam atau setelah menyusu awal selesai. Keduanya
diselimuti, jika perlu gunakan topi bayi.
f. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi
dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
g. Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau
perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa
menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan
rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan
dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah
berhasil menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan
puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap
bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.
h. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit
pada ibu yang melahirkan dengan tindakan seperti operasi Caesar.
i. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah
satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasif, misalnya
suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.
j. Rawat gabung yaitu ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24
jam ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam

jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan


sebelum ASI keluar) dihindarkan.
2. IMD pada operasi caesar
a. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu di kamar operasi
atau dikamar pemulihan (ABM protocol#5 2003, UNICEF dan
WHO :BFHI REVISED,2006 )
b. Begitu lahir diletakkan di meja resusitasi untuk dinilai, dikeringkan
secepatnya terutama kepala tanpa menghilangkan vernic; kecuali
tangannya . Dibersihkan mulut dan hidung bayi , tali pusat diikat.
c. Kalau bayi tak perlu di resusitasi ; bayi dibedong, dibawa ke ibu.
Diperlihatkan kelaminnya pada ibu kemudian mencium ibu.
d. Tengkurapkan bayi di dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit
ibu. Kaki bayi agak sedikit serong /melintang menghindari sayatan
operasi . bayi dan ibu diselimuti . bayi diberi topi
e. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi mendekati
puting. Biarkan ayi mencari puting sendiri.
f. Biarkan kulit bayi menyentuh kulit ibu paling tidak selama satu jam
bila menyusu awal selesai sebelum 1 jam ; tetap kontak kulit ibu-bayi
selama setidaknya 1 jam (UNICEF dan WHO :BFHI REVISED,2006
dan UNICEF India ;2007,klaus and Kennel 2001; American College of
OBGYN 2007 and ABM protocol #5 2003)
g. Bila bayi menunjukan kesiapan untuk minum, bantu ibu

dengan

mendekatkan bayi ke puting tapi tidak memasukkannya puting ke


mulut ayi. Bila dalam 1 jam belum bisa menemukan puting ibu , beri
tambahan waktu melekat pada dada ibu , 30 menit atau 1 jam lagi
h. Bila operasi telah selesai , ibu dapat dibersihkan dengan bayi dengan
bayi tetap melekat di dadanya dan dipeluk erat oleh ibu. Kemudian ibu
dipindahkan dari meja operasi ke ruang pulih(RR) dengan bayi tetap di
dadanya.
i. Bila ayah tidak dapat menyertai ibu dikamar operasi, diusulkan utuk
mendampingi ibu dan mendoakan anaknya saat di kamr pulih.
j. Rawat gabung : ibu bayi dirawat dalam satu kamar , bayi dalam
jangkauan ibu selama 24 jam American College of OBGYN 2007 and

ABM protocol #5 2003. Berikan ASI saja tanpa minuman

atau

makanan lain kecuali atas indikasi medis.


3. IMD PADA GEMELII
a. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu di kamar operasi
atau dikamar pemulihan (ABM protocol#5 2003, UNICEF dan
WHO :BFHI REVISED,2006 )
b. Bayi pertama lahir , segera dikeringkan secepatnya terutama kepala
tanpa menghilangkan vernic; kecuali tangannya . Dibersihkan mulut
dan hidung bayi , tali pusat dikat.
c. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi di tengkurapkan di dada
perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu dan mata bayi
setinggi puting susu. Keduanya diselimuti dan bayi dapat diberi topi
d. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi mencari puting
sendiri
e. Bila ibu merasa akan melahirkan bayi kedua , berikan bayi pertama
pada ayah . ayah memeluk bayi dengan kulit ayah seperti perawatan
pada metode kangguru . keduanya ditutupi baju ayah
f. Bayi kedua lahir segera keringkan secepatnya terutama kepala tanpa
menghilangkan vernic; kecuali tangannya . Dibersihkan mulut dan
hidung bayi , tali pusat dikat.
g. Bila bayi kedua tidak memerlukan resusitasi, bayi di tengkurapkan di
dada perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Letakkan
kembali bayi pertama di dada ibu berdampingan dengan saudaranya ,
ibu dan kedua bayinya diselimuti . bayi bayi dapat deberi topi.
h. Biarkan kulit kedua bayi menyentuh kulit ibu paling tidak selama satu
jam bila menyusu awal selesai sebelum 1 jam ; tetap kontak kulit ibubayi selama setidaknya 1 jam (UNICEF dan WHO :BFHI
REVISED,2006 dan UNICEF India ;2007,klaus and Kennel 2001;
American College of OBGYN 2007 and ABM protocol #5 2003)
i. Bila dalam i jam menyusu awal belum terjadi , bantu ibu dengan
mendekatkan bayi ke puting tapi jangan memasukkan puting ke mulut
bayi. Beri waktu 30 menit atau 1 jam lagi kulit melekat pada kulit.
j. Rawat gabung : ibu bayi dirawat dalam satu kamar , bayi dalam
jangkauan ibu selama 24 jam American College of OBGYN 2007 and

ABM protocol #5 2003. Berikan ASI saja tanpa minuman

atau

makanan lain kecuali atas indikasi medis.


4. IMD bayi preterm
a. Segera berikan ASI secepatnya setelah periode postpartum
b. Teteapkan jadwal pemberian ASI , 8-10 kali dalam 24 jam dengan
interval tidak lebih dari 6 jam
c. Gunakan sumber non kimiawi untuk mengoptimalkan produksi ASI ,
misalnya massage payudara , hand expession, kontak kulit ke kulit
d. Cadangan Asi yang kurang harus di perhatikan setidaknya sampai hari
ke -10
2.7 EVALUASI

Dafus
Arrdian, Amin. Referat Ilmu Kesehatan Anak Pemeriksaan Fisik Pada Bayi Baru
Lahir.Available:https://www.academia.edu/7327870/REFERAT_ILMU_K
ESEHATAN_ANAK_PEMERIKSAAN_FISIK_PADA_BAYI_BARU_L
AHIR. Diakses pada Sabtu, 26 September 2015 pukul 19.10 WITA

Saifudin, Abdul Bahri, Prof, Dr, SPOG, MPH. 2000. Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan bina Pustaka Sarwono
Wisnasari,

Shila.

Laporan

Pendahuluan

Bayi

Baru

Lahir.

Available:https://www.academia.edu/5744274/LP_BBL. Diakses pada Sabtu,


26 September 2015 pukul 19.00 WITA
Anonim. Asi Ekslusif Dan Inisiasi Menyusui Dini. Online. (available)

http://scribd.com (Diakses pada tanggal 26 september 2015 pukul 7.00


Wita)
Anonim. Inisiasi Menyusui Dini. Online (available)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20II.pdf (Diakses pada
tanggal 26 september 2015 pukul 7.00 Wita)