Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS ARAH TEGASAN UTAMA PEMBENTUK KEKAR DAN

PERGERAKAN RELATIF SESAR MENGGUNAKAN METODE


STEREOGRAFIS PADA KALI BANYUMENENG, KABUPATEN DEMAK, JAWA
TENGAH, INDONESIA
Yudi Syahputra1
21100113120022
1
Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Sari
Daerah penelitian yang termasuk ke dalam zona Kendeng, memiliki struktur geologi yang terus
aktif. Struktur geologi yang ada yaitu berupa sesar, lipatan, maupun kekar.. Dalam penelitian ini,
pengukuran lebih ditekankan pada pengukuran kekar dan sesar untuk menentukan arah gaya utama.
Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakuakan studi mengenai struktur skala meso di lapangan
yang akan dikaitkan dengan paleotektonik dari suatu daerah yang bersifat regional. Tujuan dari
penelitian ini yaitu untuk mengetahui arah gaya utama yang bekerja terhadap suatu lapisan batuan.
Dalam pembuatan paper ini dilakukan pengambilan data struktur sesar dan kekar secara langsung di
lapangan. Setelah itu dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metode stereografis. Berdasarkan
morfologi tektonik (litologi dan pola struktur), maka wilayah Jawa bagian timur (meliputi Provinsi Jawa
Tengah dan Jawa Timur) dapat dibagi mejadi beberapa zona fisografis yakni : Zona Pegunungan
Selatan, Zona Solo atau Depresi Solo, Zona Kendeng, Depresi Randublatung, dan Zona Rembang. Zona
Kendeng meliputi deretan pegunungan dengan arah memanjang barat-timur yang terletak langsung di
sebelah utara sub zona Ngawi. Data Kekar pada daerah Banyumeneng menghasilakan arah tegasan atau
pola berarah NE-SW. Dari analisis ini pula dapat diketahui bahwa pola dari arah tegasan utama sesar
geser pada daerah ini relative N-S atau NW-SE.
Kata Kunci: Struktur Geologi, Sesar, Kekar, Zona Kendeng, Banyumeneng.

Abstract
The research areas are included in the Kendeng zone, has continued to be active geological
structures. Geological structures that exist in the form of faults, folds, and Joints. In this study, the
measurement is more emphasis on Jointt and fault measurements to determine the direction of the main
force. The intent of this research is to do exactly the study of meso-scale structure in the field that will
be associated with paleotektonik of a regional. The purpose of this study is to determine the direction of
the main force that works against a rock layer. This paper based data retrieval fault structure and
muscular directly in the field. After it is done processing the data using the method stereografis. Based
on the morphology of tectonic (lithological and structural patterns), the eastern part of Java (includes
Central Java and East Java) is divided into several zones can fisografis namely: the Southern Mountains
Zone, Solo Zone or Solo Depression, Kendeng Zone, Randublatung Depression, and Rembang Zone.
Kendeng zone includes the mountain range extends east-west direction which is located directly to the
north of the sub zone Ngawi. Data Stump on Banyumeneng area resulting in the direction of sharpness
or NE-SW trending pattern. From this analysis also can be seen that the pattern of fault shear direction
main emphasis on this area relative NS or NW-SE.
Keywords: Geological structure, Faults , Joint, Kendeng Zone , Banyumeneng

Pendahuluan

Kabupaten Demak dan sekitarnya,


khususnya yang berbatasan dengan kota
Semarang merupakan daerah yang tersusun atas
formasi Kerek dan formasi Kalibeng dan
termasuk ke dalam zona Kendeng. Formasi
Kerek terdiri atas litologi perselingan batu
lempung, napal, batu pasir tufaan, konglomerat,
breksi volkanik dan batu gamping. Formasi
Kalibeng terdiri atas litologi napal, batupasir
tufaan dan batu gamping. Daerah penelitian yang
termasuk ke dalam zona Kendeng, memiliki
struktur geologi yang terus aktif. Struktur geologi
yang ada yaitu berupa sesar, lipatan, maupun
kekar. Struktur geologi yang ada merupakan
bentuk respon dari gaya yang bekerja di dalam
bumi. Dalam penelitian ini, pengukuran lebih
ditekankan pada pengukuran kekar dan sesar
untuk menentukan arah gaya utama. Kekar
adalah gejala yang umum terdapat pada batuan.
Kekar
dapat
terbentuk karena
tektonik
(deformasi) dan dapat terbentuk juga secara non
tektonik (pada saatdiagenesa, proses pendinginan
dsb). Dalam hal ini kita membatasi pada jenis
kekar yangterbentuk secara tektonik. Sesar adalah
struktur rekahan yang telah mengalami
perkembangan pergeseranmaupun pergerakan
blok batuan yang tersesarkan. Sederhananya,
sesar merupakan patahan pada blok batuan yang
memiliki sifat pergeseran blok batuan yang
terpatahkan,sifat pergeserannya dapat bermacammacam, mendatar, miring (oblique), naik dan
turun.
Maksud dari penelitian ini adalah untuk
melakuakan studi mengenai struktur skala meso
di lapangan yang akan dikaitkan dengan
paleotektonik dari suatu mdaerah yang bersifat
regional. Dalam hal ini yaitu pada daerah
Semarang dan sekitarnya.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk
mengetahui arah gaya utama yang bekerja
terhadap suatu lapisan batuan. Aplikasinya dapat
digunakan sebagai daerah pemantauan rawan
bencana, sehingga dapat dilakukan upaya

mitigasi atau pencegahan bencana ataupun


sebagai acuan tataguna lahan.
Adanya suatu struktur tentu dibentuk
karena adanya suatu tegasan akibat pergerakan
lempeng itu sendiri. Struktur geologi yang
terdapat di daerah Banyumeneng ini berupa sesar
geser yang relatif berarah utara-selatan dan
lipatan yang berarah barat-timur. Sedangkan
secara fisiografi regional (van Bemmelen, 1949),
daerah Sungai Banyumeneng ini termasuk Zona
Kendeng. Tatanan tektonik Pulau Jawa
menunjukan ciri khas produk interaksi konvergen
antara lempeng samudera (lempeng Indo
Australia) dan lempeng benua (lempeng Eurasia).
Pertemuan lempeng ini menghasilkan busur
volkanik busur (volcanic arc) dan jalur
penunjaman (subduction zone), atau palung
(trench), dan telah berlangsung sejak zaman akhir
Kapur Paleosen (10 52 juta tahun). Untuk
mengetahui tegasan utama tersebut perlu
dilakukan analisis berdasarkan data kedudukan
struktur yang berupa kekar dan sesar di lapangan.
Setelah data diperoleh saat pengukuran di
lapangan kemudian dilakukan analisis dengan
metode stereografis.
Lokasi pengambilan data sendiri terletak
di Sungai Banyumeneng, Kecamatan Mranggen,
Kabupaten Demak.
Geologi Regional
A.Susunan Stratigrafi
Geologi Kota Semarang berdasarkan Peta
Geologi Lembar Magelang Semarang (RE.
Thaden, dkk; 1996), susunan stratigrafinya
adalah sebagai berikut:
1. Aluvium (Qa)
2. Batuan Gunungapi Gajahmungkur (Qhg)
3. Batuan Gunungapi Kaligesik (Qpk)
4. Formasi Jongkong (Qpj)
5. Formasi Damar (QTd)
6. Formasi Kaligetas (Qpkg)
7. Formasi Kalibeng (Tmkl)
8. Formasi Kerek (Tmk)
Yang mana susunan stratigrafinya berasal
dari batuan sedimen berumur tersier yang
menjadi basement dari batuan vulkanik kuarter,
formasi batuan penyusun Zona Kendeng yang
terdapat di daerah Banyumeneng dari tua ke

muda adalah Formasi Kerek dan Formasi


Kalibeng. Zona Transisi. Stratigrafi Zona Transisi
di daerah penelitan, tersusun oleh Formasi
Kaligetas dan Formasi Gunungapi.
B.Struktur Geologi
Berdasarkan morfologi tektonik (litologi
dan pola struktur), maka wilayah Jawa bagian
timur (meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa
Timur) dapat dibagi mejadi beberapa zona
fisografis yakni : Zona Pegunungan Selatan,
Zona Solo atau Depresi Solo, Zona Kendeng,
Depresi Randublatung, dan Zona Rembang.
Zona Kendeng meliputi deretan pegunungan
dengan arah memanjang barat-timur yang terletak
langsung di sebelah utara sub zona Ngawi.
Pegunungan ini tersusun oleh batuan sedimen
laut dalam yang telah mengalami deformasi
secara intensif membentuk suatu antiklinorium.
Pegunungan ini mempunyai panjang 250 km dan
lebar maksimum 40 km (de Genevraye &
Samuel, 1972) membentang dari gunungapi
Ungaran di bagian barat ke timur melalui Ngawi
hingga daerah Mojokerto. Di bawah permukaan,
kelanjutan zona ini masih dapat diikuti hingga di
bawah selatan Madura. Ciri morfologi Zona
Kendeng berupa jajaran perbukitan rendah
dengan morfologi bergelombang, dengan
ketinggian berkisar antara 50 hingga 200 meter.
Jajaran
yang
berarah
barat-timur
ini
mencerminkan adanya perlipatan dan sesar naik
yang berarah barat-timur pula. Intensitas
perlipatan dan anjakan yang mengikutinya
mempunyai intensitas yang sangat besar di
bagian barat dan berangsur melemah di bagian
timur. Akibat adanya anjakan tersebut, batas dari
satuan batuan yang bersebelahan sering
merupakan batas sesar. Lipatan dan anjakan yang
disebabkan oleh gaya kompresi juga berakibat
terbentuknya rekahan, sesar dan zona lemah yang
lain pada arah tenggara-barat laut, barat dayatimur laut dan utara-selatan.
Proses eksogenik yang berupa pelapukan
dan erosi pada daerah ini berjalan sangat intensif,
selain karena iklim tropis juga karena sebagian
besar litologi penyusun Mandala Kendeng adalah
batulempung-napal-batupasir yang mempunyai
kompaksitas rendah, misalnya pada formasi
Pelang, Formasi Kerek dan Napal Kalibeng yang

total ketebalan ketiganya mencapai lebih dari


2000 meter. Karena proses tektonik yang terus
berjalan mulai dari zaman Tersier hingga
sekarang, banyak dijumpai adanya teras-teras
sungai yang menunjukkan adanya perubahan
base of sedimentation berupa pengangkatan pada
Mandala Kendeng tersebut. Sungai utama yang
mengalir di atas Mandala Kendeng tersebut
adalah Bengawan Solo yang mengalir mulai dari
utara Sragen ke timur hingga Ngawi, ke utara
menuju Cepu dan membelok ke arah timur
hingga bermuara di Ujung Pangkah, utara Gresik.
Sungai lain adalah Sungai Lusi yang mengalir ke
arah barat, dimulai dari Blora, Purwodadi dan
terus ke barat hingga bermuara di pantai barat
Demak-Jepara.
Deformasi pertama pada Zona Kendeng
terjadi pada akhir Pliosen (Plio Plistosen),
deformasi merupakan manifestasi dari zona
konvergen pada konsep tektonik lempeng yang
diakibatkan oleh gaya kompresi berarah relatif
utara selatan dengan tipe formasi berupa ductile
yang pada fase terakhirnya berubah menjadi
deformasi brittle berupa pergeseran blok blok
dasar cekungan Zona Kendeng. Intensitas gaya
kompresi semakin besar ke arah bagian barat
Zona Kendeng yang menyebabkan banyak
dijumpai lipatan dan sesar naik dimana banyak
zona sesar naik juga merupakan kontak antara
formasi atau anggota formasi.
Deformasi Plio Plistosen dapat dibagi
menjadi tiga fase/ stadia, yaitu; fase pertama
berupa
perlipatan
yang
mengakibatkan
terbentuknya Geantiklin Kendeng yang memiliki
arah umum barat timur dan menunjam di
bagian Kendeng Timur, fase kedua berupa
pensesaran yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu
pensesaran akibat perlipatan dan pensesaran
akibat telah berubahnya deformasi ductile
menjadi deformasi brittle karena batuan telah
melampaui batas kedalaman plastisnya. Kedua
sesar tersebut secara umum merupakan sesar naik
bahkan ada yang merupakan sesar sungkup. Fase
ketiga berupa pergeseran blok blok dasar
cekungan Zona Kendeng yang mengakibatkan
terjadinya sesar sesar geser berarah relatif utara
selatan.
Berdasarkan Peta Geologi Lembar
Magelang Semarang (RE. Thaden, dkk; 1996).

Daerah sungai dolok dilewati sebuah sesar geser


dengan pola arah utara-selatan dan terdapat
beberapa lipatan dengan arah barat-timur.
Metodologi
Dalam pembuatan paper ini dilakuakan
pengambilan data struktur sesar dan kekar secara
langsung di lapangan. Setelah itu dilakukan
pengolahan data dengan menggunakan metode
stereografis.
Dalam
melakukan
analisis
stereografis ini digunakan software dips. Setelah
itu melakukan kesimpulan analisa paleotektonik
dengan mengaitkan data geologi regional dengan
data analisa tegasan utama yang didapatkan.
Hasil dan Pembahasan
Observasi dilakukan pada daerah kali
Banyumeneng yang terletak pada wilayah
Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Observasi
langsung bertujuan untuk mengamati dan
mengambil data yang berkaitan dengan struktur
meso atau skala singkapan berupa kekar dan
sesar.
a. Analisis Kekar
Formasi Kerek memiliki litologi berupa
perselingan batu lempung, napal, batu pasir
tufaan, konglomerat, breksi volkanik dan batu
gamping. Pengukuran kekar di lapangan
dilakukan pada litologi berupa batulempung
karbonatan dan batupasir karbonatan. Jumlah
kekar berpasangan yang diukur yaitu 50 pasang
data pada perselingan antara batulempung
karbonatan dengan batupasir karbonatan.
Batupasir di sini memiliki ukuran butir mediumkasar. Kenampakan kekar di batupasir
menyerupai bentuk menyilang atau merupakan
kekar berpasangan. Strike dan dip yang didapat
dari hasil pengukuran di lapangan akan dianalisis
lebih lanjut menggunakan software dips.
Software ini mempermudah kita untuk
menghitung arah tegasan utama dari data-data
yang telah diisikan sebelumnya. Dari hasil
analisis, didapatkan = 10 , N2290 E,
= 410 /
N 3200E,
= 490 / N 1390 E. Setelah didapatkan
hasil sigma 1, sigma 2, dan sigma 3, dilakukan
pembuatan diagram Rose dengan menggunakan
software dips. Diagaram rose juga menunjukkan

dominasi kedudukan kekar pada pola NE-SW.


Dari hasil analisis tersebut didapat bahwa pola
tegasan utama dari gaya pembentuk kekar yang
ada pada singkapan kali Banyumeneng berarah
NE-SW. Secara umum, ada tiga arah pola umum
struktur yaitu arah Timur Laut Barat Daya (NESW) yang disebut pola Meratus, arah Utara
Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur
Barat (E-W). Perubahan jalur penunjaman
berumur kapur yang berarah Timur Laut Barat
Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur Barat (EW) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah
menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau
Jawa yang sangat rumit disamping mengundang
pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan
tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada
unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.
Sehingga dari data Geologi regional tersebut
yang dikaitkan dengan paleotektonik pulau Jawa,
maka pola tegasan utama pemebentuk kekar pada
kali Banyumeneng mengikuti pola Meratus. Pola
Meratus di bagian barat terekspresikan pada
Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan
dari pola penyebarab singkapan batuan praTersier di daerah Karang Sambung. Sedangkan di
bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas
Cekungan Pati, Florence timur, Central
Deep. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari
pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa,
Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola
Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di
bagian timur. pola Meratus merupakan pola yang
paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola
ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar
dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus
melalui Karang Sambung hingga di daerah
Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan
kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.
Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data
seismik menunjukkan Pola Sunda telah
mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola
Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen
Akhir. Pada periode Pliosen-Pleistosen arah
tegasan utama masih sama, utara-selatan.
Aktifitas tektonik periode ini menghasillkan pola
struktur naik dan lipatan dengan arah timur-barat
yang dapat dikenali di Zona Kendeng.
b. Analisis Sesar

Pada singkapan Sungai Banyumeneng


juga terdapat struktur geologi berupa Sesar. Sesar
merupakan struktur geologi yang menyebabkan
terjadinya pergeseran batuan. Pada kenampakan
di lapangan sesar yang terjadi pada Sungai
Banyumeneng ini merupakan sesar geser.
Pengambilan data di lapangan menunjukkan
bahwa sesar tersebut memiliki kedudukan bidang
sesar pada N1110E/640 dan struktur penyerta
berupa Drag fold dengan kedudukan N2470E/720.
Dari data tersebut dilakukan analisis sesar dengan
menggunakan metode stereografis. Untuk
memudahkan analisis digunakan software dips
yang dapat mempermudah analisis sesar tersebut.
Dari hasil analisis didapatkan data bahwa sesar
tersebut memiliki arah tegasan
= 180 , N1570
E,
= 450 / N 2650E,
= 410 / N 510 E dan
0
0
pitch pada 35 , N130 E. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa nilai plunge dari sigma 2 >
sigma 3 > sigma 1. Hal ini menunjukkan bahwa
tegasan yang berarah vertical merupakan sigma 2
sedangkan sigma 1 dan sigma 3 lebih berarah
horizontal. Hal ini menunjukkan bahwa sesar
yang terjadi pada daerah observasi merupakan
sesar geser ( Anderson, 1951 ). Dari analisis
stereonet pada software dips menunjukkan bahwa
pergerakan relative sesar tersebut merupakan
sesar yang arah pergerakannya cenderung searah
dengan arah jarum jam atau menganan (destral).
Proses terbentuknya sesar geser disebabkan gaya
tegasan kompresi. Posisi tegasan utama
pembentuk sesar ini adalah horizontal, sama
dengan posisi tegasan minimumnya, sedangkan
posisi tegasan menengah adalah vertikal.
Umumnya bidang sesar mendatar digambarkan
sebagai bidang vertikal, sehingga istilah hanging
wall dan foot wall tidak lazim digunakan di
dalam sistem sesar ini. Berdasarkan gerak
relatifnya, sesar ini termasuk sesar geser dekstral
(menganan). Sesar ini dapat diketahui karena
adanya perbedaan batas batuan. Dari analisis
tersebut pula dapat diketahui bahwa pola dari
arah tegasan utama sesar tersebut relative N-S
atau NW-SE. Hal ini erat kaitannya dengan
geologi regional daerah Banyumeneng yang
merupakan suatu kawasan zona kendeng. Hal ini
menginterpretasikan tatanan tektonik Pulau Jawa
menunjukan ciri khas produk interaksi konvergen
antara lempeng samudera (lempeng Indo

Australia) dan lempeng benua (lempeng Eurasia).


Pertemuan lempeng ini menghasilkan busur
volkanik busur (volcanic arc) dan jalur
penunjaman (subduction zone), atau palung
(trench), dan telah berlangsung sejak zaman akhir
Kapur Paleosen (10 52 juta tahun).
Terbentuknya sesar-sesar geser ini merupakan
hasil deformasi zona kendeng pada fase ketiga.
Fase ketiga berupa pergeseran blok blok dasar
cekungan Zona Kendeng yang mengakibatkan
terjadinya sesar sesar geser berarah relatif utara
selatan.

Penutup
Data Kekar pada daerah Banyumeneng
menghasilakan arah tegasan utama
= 10 ,
N2290 E,
= 410 / N 3200E,
= 490 / N 1390
E. Dari hasil analisis tersebut didapat bahwa pola
tegasan utama dari gaya pembentuk kekar yang
ada pada singkapan kali Banyumeneng berarah
NE-SW.
Data di lapangan menunjukkan bahwa
sesar tersebut memiliki kedudukan bidang sesar
pada N1110E/640 dan struktur penyerta berupa
Drag fold dengan kedudukan N2470E/720. Dari
hasil analisis didapatkan data bahwa sesar
tersebut memiliki arah tegasan
= 180 , N1570
E,
= 450 / N 2650E,
= 410 / N 510 E dan
pitch pada 350, N1300E. Berdasarkan gerak
relatifnya, sesar ini termasuk sesar geser dekstral
(menganan). Sesar ini dapat diketahui karena
adanya perbedaan batas batuan. Dari analisis
tersebut pula dapat diketahui bahwa pola dari
arah tegasan utama sesar tersebut relative N-S
atau NW-SE
Daftar Pustaka
[1] Tim Asisten Praktikum Geologi Struktur.
2013. Buku Panduan Praktikum Geologi
Struktur. Semarang: Teknik Geologi
UNDIP
[2] http://ptbudie.wordpress.com/2009/01/25/21/
(diakses pada Senin, 5 Januari 2015 pukul
15.00 Wib )

[3]http://www.geomacnews.com/2014/05/geologi
-regional-zona-kendeng.html (diakses
pada Senin, 5 Januari 2015 pukul 15.00
Wib )

Lampiran

Gambar 1. Struktur Kekar Pada Sungai Banyumeneng

Gambar 2. Struktur Sesar destral pada Sungai Banyumeneng

Tabel 1.1 Data Kekar Pada Sungai Banyumeneng

Gambar 3. Plotting Data Kekar Menggunakan Software Dips

Gambar 4. konturing Data Kekar Menggunakan Software Dips

Gambar 5. Analisis Tegasan Utama Kekar Menggunakan Software Dips

Gambar 6. Diagram Rose Menggunakan Software Dips yang memperlihatkan pola NE-SW

Gambar 7. Analisis Arah Tegasan Utama Sesarn Menggunakan Software Dips

10