Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Blok Endokrin adalah blok kesembilan pada semester 3 dari Kurikulum
Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario C yang
memaparkan kasus mengenai Hipoglikemi.

1.2

Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :
1.

Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari system
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Palembang.

2.

Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario kasus mengenai


Hipoglikemi.

3.

Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Data Tutorial
TUTORIAL SKENARIO C
Tutor

: dr. Kgs. Junaidi AR Sp.PD

Moderator

: Eksaka Fajar Nata

Sekretaris meja

: Evi Maisyari

Sekretaris papan

: Purry Ayu Ovillia

Waktu

: Selasa dan Kamis, 27 november 2012 & 29 november 2012

Rule tutorial

: 1. Alat komunikasi di silentkan


2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat
3. Jika ingin mengeluarkan pendapat, mengacungkan tangan
terlebih dahulu.

2.2 Skenario
Cek Ina, 65 tahun,dibawa ke IGD RS Muhammadiyah Palembang karena penurunan
kesadaran sejak 4 jam yang lalu. Lebih kurang 6 jam sebelumnya pasien mulai mengeluh
gelisah, berdebar-debar dan mudah mengantuk.
Selama ini pasien diketahui menyandang diabetes selama 8 tahun dan telah
mengkonsumsi obat-obatan metformin 3x500 mg dan glibenklamid 1x5 mg secara teratur.
Sejak 6 bulan terakhir Cek Ina sering mengeluh mual, nafsu makan berkurang. Pasien
juga diketahui menyandang hipertensi lama dan mendapat obat kaptopril 2x12,5 mg.
Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : sakit berat , sens : sopor
Tanda vital : TD 100/70 mmHg, nadi : 120x/menit, filiformis , RR : 22x/menit , T : 35,0
C
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Keadaan spesifik :
Kulit lembab, dingin
Pemeriksaan laboratorium darah cito di IGD :
Glukosa darah (dengan glukometer) : low (<60 mg/dl)
Hb : 12 g%
Ureum : 66 mg/dL
Kreatinin : 2,8 mg/dL
2.3 Data Seven Jump
2.3.1 Klarifikasi Istilah

Gelisah
Hipertensi
Berdebar-debar

: cemas dan tidak bisa tenang


: tingginya tekanan darah aerteri secara persisten
:denyut jantung yang tidak teratur dimana sifatnya

Mual
Sopor
Mengantuk
Ureum
Kreatinin
Filiformis

subyektif
: rasa ingin muntah karena gerakan anti-peristaltik
: tidur yang terlalu dalam
: rasa ingin tidur
: hasil akhir metabolisme protein
: suatu anhidrida kreatin
:pembuluh darah tang berbentuk benang-benang kecil
karena kekurangan aliran darah

Kulit lembab

: keadaan dimana kulit tidak kering,mengandung air.

Cito

: Sesegera mungkin

2.3.2 Identifikasi Masalah


1. Cek Ina, 65 tahun, dibawa ke IGD RS Muhammadyah Palembang karena
penurunan kesadaran sejak 4 jam.
2. Lebih kurang 6 jam sebelumnya pasien mulai mengeluh gelisah, berdebar-debar
dan mudah mengantuk.
3. Selama 8 tahun pasien juga menyandang diabetes dan telah mengkonsumsi obatobatan metformin 3x500 mg dan glibenklamid 1x5mg secara teratur.
4. Sejak 6 bulan terakhir Cek Ina juga mengeluh mual, nafsu makan berkurang.
5. Pasien juga diketahui menyandang hipertensi lama dan mendapat obat kaptopril
2x12,5 mg.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

6. Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : sakit berat, sens : sopor
Tanda vital : TD 100/70 mmHg, nadi : 120 x/menit, filiformis, RR: 22
x/menit, T : 35,0 C
Keadaan spesifik : kulit lembab, dingin
7. Peneriksaan laboratorium darah cito di IGD
Glukosa darah (dengan glukometer) : low (<60mg/dl)
Hb : 12 g%, Ureum : 66 mg/dl, Kreatinin : 2,8 mg/dl
2.3.3 Analisis Masalah
1. Cek Ina, 65 tahun, dibawa ke IGD RS Muhammadyah Palembang karena
penurunan kesadaran sejak 4 jam.
a. Apa pengertian penurunan kesadaran ?
Jawab : Penurunan kesadaran adalah suatu penurunan tingkat kesiagaan
individu pada saat ini terhadap stimulus internal dan eksternal. Yaitu
terhadap peristiwa-peristiwa lingkungan dan sensasi tubuh, memori
dan pikiran.
b. Faktor penyebab penurunan kesadaran ?
Jawab : Penyebab penurunan kesadaran dengan istilah SEMENITE yaitu :
1. S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung
2. E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang
mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.
3. M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum
4. E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan.
5. N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis
6. I : Intoksikasi
Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan
penurunan kesadaran

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

7. T : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural,
perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.
8. E : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat
menyebabkan penurunan kesadaran.
( Harsono , 1996 )
c. Jenis-jenis penurunan kesadaran ?
Jawab : tingkat kesadaran kesadaran dibedakan menjadi :
1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar
sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan
sekelilingnya..
2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan
dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu),
memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon
psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat
pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi,
mampu memberi jawaban verbal.
5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi
ada respon terhadap nyeri.
6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon
terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek
muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
d. Mengapa Cek Ina mengalami penurunan kesadaran sejak 4 jam ?
Jawab : Hipoglikemia Interupsi asupan glukosa di SSP Penurunan
kesadaran.
e. Apa makna penurunan kesadaran Cek Ina selama 4 jam ?
Jawab : Telah terjadi syok hipoglikemia akut
f. Apa hubungan umur dengan penurunan kesadaran ? jika ada jelaskan ?
Jawab : Hipoglikemia akibat konsumsi glibenklamid long acting pada usia
lanjut cenderung ditemukan.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

g. Apa saja hormon yang terlibat saat penurunan kesadaran ?


Jawab : epineprin, kortisol dan glukagon
2. Lebih kurang 6 jam sebelumnya pasien mulai mengeluh gelisah, berdebar-debar
dan mudah mengantuk.
a. Etiologi gelisah, berdebar-debar dan mudah mengantuk ?
Jawab : Hipoglikemia, hipoksia, hipotensi , stress dan lain-lain.
b. Bagaimana hubungan antar keluhan ?
Jawab : Hubungannya adalah merupakan manifestasi dari hipoglikemia.
c. Apa saja hormon yang bekerja pada saat gelisah, berdebar-debar dan mudah
mengantuk ?
Jawab : epineprin, kortisol, insulin dan glucagon.

d. Apa sistem yang terganggu ?


Jawab : system yang terganggu adalah system endokrin, system kardiovascular
dan system saraf.
3. Selama 8 tahun pasien juga menyandang diabetes dan telah mengkonsumsi obatobatan metformin 3x500 mg dan glibenklamid 1x5mg secara teratur.
a. Apakah dampak diabetes mellitus dengan keluhan pada kasus ?
Jawab : Dampaknya telah terjadi komplikasi berupa nefropaty diabetic
b. Apa fungsi pemberian OAD ?
Jawab : Pemberian OAD bertujuan untuk meningkatakan sensitivitas reseptor
insulin.
c. Apa sajakah jenis-jenis obat OAD ?

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Jawab :

d. Farmakokinetik dan farmakodinamik dari glibenklamid dan metformin ?


Jawab:
Farmakokinetik Metformin
Penyerapan oleh usus baik sekali dan obat ini dapat digunakan
bersamaan dengan insulin atau sulfonilurea. Metformin mencapai
kadar puncak dalam darah setelah 2 jam dan diekskresi melalui urin
dalam keadaan utuh dengan waktu paruh 2-5 jam. Metformin
mempunyai bioavailabilitas oral sekitar 50-60%, kelarutan rendah
pada lemak & memiliki volume distribusi pada cairan tubuh.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Metformin tidak dimetabolisme dan tidak berikatan dengan protein


plasma. Metformin dieliminasi melalui sekresi tubular ginjal dan
filtrasi glomerular. Waktu paruh metformin yaitu 6 jam, secara
farmakodinamik efek antihiperglikemia metformin > 24 jam.
Farmakodinamik Metformin
adalah obat anti hiperglikemia oral digunakan untuk pengobatan
diabetes tipe 2. Secara kimia atau farmakologi, Metformin berbeda
dengan Sulfonylurea. Metformin memperbaiki toleransi glukosa
pada penderita diabetes tipe 2, menurunkan glukosa darah baik di
basal maupun postprandial. Mekanisme kerja Metformin berbeda
dengan Sulfonylurea. Metformin menurunkan produksi glukosa oleh
hati, menurunkan penyerapan glukosa di usus dan memperbaiki
sensitivitas insulin (meningkatkan pengambilan dan penggunaan
glukosa di perifer). Tidak seperti Sulfonylurea, Metformin tidak
mengakibatkan hipoglikemia (kecuali pada keadaan tertentu; lihat
Peringatan) dan tidak menyebabkan hiperinsulinemia.
Farmakodinamik Glibenklamid
Glybenclamide menurunkan tingkat glukosa darah dengan
merangsang pelepasan insulin dari fungsi sel beta di pankreas.
Administrasi berkepanjangan efek hipoglikemik tampaknya
berhubungan dengan efek extrapancreatic, mungkin termasuk
pengurangan produksi glukosa basal hepatika dan meningkatkan
sensitivitas perifer terhadap insulin.
Yang terakhir dapat menyebabkan baik dari peningkatan jumlah
reseptor insulin atau dari perubahan dalam peristiwa-peristiwa
selanjutnya terhadap insulin mengikat
Farmakokinetik Glibenclamind
Penyerapan:
Hampir sepenuhnya diserap dari saluran pencernaan. Sebuah hasil
tablet micronized penyerapan signifikan, sebuah 3-mg tablet
micronized menyediakan tingkat darah sama dengan 5-mg tablet
konvensional.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Distribusi:

99% terikat protein. Distribusi tidak sepenuhnya dipahami


Metabolisme:
Metabolisme sepenuhnya oleh hati untuk tidak aktif metabolit.
Eksresi:
Dieksresi sebagai metabolit dalam urin dan feses dalam proporsi
yang sama. Durasi kerja adalah 24 jam, dan setengah-hidup adalah
10 jam.
e. Apa hubungan mengkonsumsi obat-obatan diabetes dalam 8 tahun dengan
keluhan Cek Ina ?
Jawab : Akan menimbulkan efek mikroangiopaty
f. Apa saja efek samping glibenklamid dan metformin ?
Jawab : Efek Samping Glibenklamid
Konsumsi obat glibenclamide dalam jangka panjang diduga akan
menurunkan konsentrasi glukagon di dalam serum yang dapat
menyebabkan resiko hipoglikemia.

Efek Samping Metformin


Metformin mempunyai efek gastrointestinal seperti mual, kembung,
diare pada sekitar 30% pasien, anoreksia dan perasaan kenyang
menyebabkan terjadinya penurunan berat badan. Efek samping ini
dapat diatasi dengan pemberian obat secara titrasi lambat. Efek
samping ini biasanya terjadi selama beberapa minggu.
g. Kontraindikasi dari metformin dan glibenklamid ?
Jawab :
Kontraindikasi Metformin (Biguanid)
Biguanid dikontraindikasikan pada pasien dengan penyakit ginjal,
alkoholisme, penyakit hati, atau kondisi- kondisi yang menjadi faktor
predisposisi timbulnya anoreksia jaringan (misalnya disfungsi, faktor
predisposisi kronik) karena adanya peningkatan risiko terjadinya
asidosis laktat yang diinduksi obat golongan biguanid dengan
keberadaan penyakit-penyakit tersebut.
Kontraindikasi Glibenklamid (Sulfonilurea)
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Sulfonilurea dikontraindikasikan pada pasien DM juvenil, prekoma


dan koma diabetes, gangguan fungsi ginjal berat, wanita hamil, ibu
menyusui, gangguan fungsi hati, gangguan berat fungsi tiroid atau
adrenal, pasien yang mengalami operasi.
h. Bagaimana interaksi obat glibenklamid dan metformin ?
Jawab :
Interaksi Metformin
Interaksi yang Merugikan :
a. Metformin-fenprokumon
Menyebabkan peningkatan eliminasi fenprokumon. Hal ini
dihubungkan dengan adanya peningkatan aliran darah ke hati.
b. Metformin-alkohol
Alkohol meningkatkan efek antihiperglikemi dan hiperlaktatemi dari
metformin. Meskipun demikian, pasien yang diobati dengan
metformin sebaiknya menghindari alcohol.
Interaksi yang Menguntungkan :
a. Metformin-golongan sulfonilurea
Merupakan kombinasi yang rasional karena mekanisme kerja yang
berbeda yang saling aditif. Kombinasi tersebut dapat menurunkan kadar
glukosa darah lebih banyak daripada pengobatan tunggal masing-masing
obat tersebut.
b. Metformin-insulin
Kombinasi ini dianjurkan pada pasien obesitas yang kadar glukosa
darahnya sulit dikendalikan.
Interaksi Glibenklamin
- Dengan Obat Lain :
Alkohol: dapat menambah efek hipoglikemik
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Analgetika (azapropazon, fenilbutazon, dan lain-lain): meningkatkan efek


sulfonilurea.
Antagonis kalsium: misalnya nifedipin kadang-kadang mengganggu
toleransi glukosa.
Antagonis Hormon: aminoglutetimid dapat mempercepat metabolisme
OHO; oktreotid dapat menurunkan kebutuhan insulin dan OHO
Antihipertensi diazoksid: melawan efek hipoglikemik
Antibakteri (kloramfenikol, kotrimoksasol, 4-kuinolon, sulfonamida dan
trimetoprim): meningkatkan efek sulfonilurea
Antibakteri rifampisin: menurunkan efek sulfonilurea (mempercepat
metabolisme)
Antidepresan (inhibitor MAO): meningkatkan efek hipoglikemik
Antijamur: flukonazol dan mikonazol menaikkan kadar plasma
sulfonilurea
Penyekat adrenoreseptor beta : meningkatkan efek hipoglikemik dan
menutupi gejala peringatan, misalnya tremor
Penghambat ACE: dapat menambah efek hipoglikemik
Urikosurik: sulfinpirazona meningkatkan efek sulfonilurea
4. Sejak 6 bulan terakhir Cek Ina juga mengeluh mual, nafsu makan berkurang.
a. Etiologi dari mual dan nafsu makan berkurang ?
Jawab :
Obat-obatan
Gastroenteritis
Keracunan makanan
Stres, gugup, atau masalah mental lainnya seperti depresi
Obat-obatan seperti antibiotic,dan pil penunda kehamilan
Migrain / sakit kepala sebelah
Serangan jantung
Stroke
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Cedera kepala
Alkohol
Gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia
Efek samping terapi radiasi
Pada kasus ini etiologinya yaitu obat-obatan.
b. Apa makna mual dan nafsu makan berkurang sejak 6 bulan yang lalu ?
Jawab : sudah terjadi gangguan pada system pencernaan.
5. Pasien juga diketahui menyandang hipertensi lama dan mendapat obat kaptopril
2x12,5 mg.
a. Farmakokinetik dan farmakodinamik kaptopril ?
Jawab :
Farmakologi Kaptopril
Farmakokinetik:
Diabsorbsi dengan baik pada pemberian oral. Pemberian bersama
makanan akan mengurangi absorbs sekitar 30% oleh karena itu obat
ini harus diberikan 1 jam sebelum makan. Sebagian besar mengalami
metabolism di hati tetapi ada yang tidak dimetabolisme, eliminasi
umumnya melalui ginjal.
Farmakodinamik:
Renin adalah enzim yang dihasilkan ginjal dan bekerja pada globulin
plasma untuk memproduksi angiotensin I yang besifat inaktif.
"Angiotensin Converting Enzyme" (ACE), akan merubah angiotensin
I menjadi angiotensin Il yang besifat aktif dan merupakan
vasokonstriktor endogen serta dapat menstimulasi sintesa dan sekresi
aldosteron dalam korteks adrenal. Peningkatan sekresi aldosteron akan
mengakibatkan ginjal meretensi natrium dan cairan, serta meretensi
kalium. Dalam kerjanya, kaptopril akan menghambat kerja ACE,
akibatnya pembentukan angiotensin ll terhambat, timbul vasodilatasi,
penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan
cairan serta mensekresi kalium. Keadaan ini akan menyebabkan
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

penurunan tekanan darah dan mengurangi beban jantung, baik


'afterload' maupun 'pre-load', sehingga terjadi peningkatan kerja
jantung. Vasodilatasi yang timbul tidak menimbulkan reflek takikardia.
b. Efek samping kaptopril ?
Jawab : Efek samping kaptropil
- Hipotensi
- Batuk kering
- Hiperkalemia
- Edema angioneurotik
- Gagal ginjal akut
- Proteinuria
- Efek teratogenik
c. Apa hubungan hipertensi dengan kasus ?
Jawab : Telah terjadi mikroangiopati sehingga merupakan factor risiko dari
hipoglikemi.
d. Kontraindikasi kaptopril ?
Jawab : pada penderita yang hipersensitivitas dan obat-obat ACE inhibitor
lainnya.
e. Obat-obatan yang dapat digunakan untuk hipertensi ? (selain kaptopril)
Jawab :
Obat- Obat Hipertensi:

Simpatoplegia sentral, misalnya metildopa, clonidine


Penghambat ganglion, misalnya trimetaphan
Obat penghambat neron adrenergik, misalnya guanetidin, reserpin
Beta blocker, misalnya propranolol, metoprolol, labetalol
Alfa blocker, misalnya prazosin

6. Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : sakit berat, sens : sopor
Tanda vital : TD 100/70 mmHg, nadi : 120 x/menit, filiformis, RR: 22
x/menit, T : 35,0 C
Keadaan spesifik : kulit lembab, dingin
a. Interpretasi pemeriksaan fisik ?
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Jawab : Keadaan umum :


sakit berat , tidak dapat melakukan aktivitas
sens : sopor, yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon
terhadap nyeri.
Tanda vital :
TD 100/70 mmHg, Hipotensi . Normalnya 120/80 mmHg
nadi : 120 x/menit, Takikardi . Normalnya 60-100x/menit
filiformis, abnormal.
RR: 22 x/menit, Normal .
T : 35,0 C , Hipotermia. Normalnya 36,5-37,5 C
Keadaan spesifik :
kulit lembab, dingin, abnormal.
7. Peneriksaan laboratorium darah cito di IGD
Glukosa darah (dengan glukometer) : low (<60mg/dl)
Hb : 12 g%, Ureum : 66 mg/dl, Kreatinin : 2,8 mg/dl
a. Interpretasi pemeriksaan laboratorium ?
Jawab : Hb : 12%(normal)
ureum 66mg/dl (mengalami peningkatan / abnormal)
kreatinin2.8mg/dl (mengalami peningkatan/abnormal)
nilai normal:
hb: laki-laki 13-18g% wanita 11,5-16,5g% .
Ureum 15-40mg/dl.
Kreatinin 0,5-1,5mg/dl.
8. Bagaimana cara menegakkan diagnosis ?
Jawab : Dengan melihat hasil pemeriksaan laboratorium glukosa darahnya
9. Apa saja kemungkinan penyakit pada kasus Cek Ina ?
Jawab : Hipoglikemia dan syok hipovolemik
10. Apa saja pemeriksaan penunjang yang diperlukan ?
Jawab : -Pemeriksaaan kadar glukosa darah
-Tes fungsi ginjal (ureum dan kreatinin)
-Pemeriksaan tes fungsi hati (SGPT dan SGOT)
-Pemeriksaan peningkatan kadar sirkulasi pro insulin atau peptida-C
-Identifikasi masa tumor dengan CT-Scan atau MRI
-Pemeriksaan kadar natrium dan kalium
11. Apa penyakit yang paling mungkin diderita Cek Ina ?
Jawab : Hipoglikemia
12. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini ?
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Jawab : Terapi hipoglikemi pada diabetes:


-glukosa oral. Sesudah diagnosis hipoglikemi ditegakkan dengan
pemeriksaan glukosa darah kapiler, 10-20gr glukosa oral harus segera
diberikan.
-glukagon intramuskular. Berikan 1mg glukagon intramuskular dan
hasilnya akan tampak dalam 10 menit.
-glukosa intravena. Pemberian glukosa dengan konsentrasi 50% terlalu
toksis, 75-100ml glukosa 20% atau 150-200ml glukosa 10% dianggap
lebih aman.
13. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus ini ?
Jawab : komplikasinya meliputi gangguan pengelihatan, kejang dan koma.
14. Bagaimana prognosis pada kasus ini ?
Jawab : dubia ad bonam
15. Bagaimana patofisiologi keseluruhan pada kasus ?
Jawab :

Patofisiologi keseluruhan pada kasus ini :


DM tipe 2
Mikroangiopati diabetik

Nefropati diabetik
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Hipertensi
Page

Fungsi fisiologis ginjal menurun


Konsumsi glibenclamide

akumulasi metformin

hipotensi

Intake in adekuat
Hipoglikemi

mual muntah

nadi meningkat

Hipothalamus (CRH)

Hipofisis (ACTH)
Merangsang glandula suprarenal

Korteks

Medulla

Sekresi kortisol
Gelisah

sekresi epinephrin
reseptor
Vasokontriksi arteriol

reseptor
palpitasi

Kulit dingin&lembab

16. Apa KDU dalam kasus ini ?


Jawab : 3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya :
pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat
memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis
yang relevan (kasus gawat darurat).
17. Apa pandangan islam yang tepat dalam kasus ini ?
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Jawab : Dari Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW. Bersabda: Tidaklah
seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit,
gangguan menumpuk pada dirinya kecuali Allah SWT hapuskan akan
dosa-dosanya (HR. Bukhari dan Muslim)
2.3.4. Hipotesis
Cek Ina, perempuan 65 tahun, penderita diabetes dengan komplikasi nefropaty
diabetic mengalami hipoglikemia akibat obat-obatan anti diabetic.

2.3.5 . Kerangka Konsep

Diabetes
Diabetes
mellitus tipe
mellitus tipe
2
2
Mikroangiopa
Mikroangiopa
ty diabetik
ty diabetik

Nefropaty
Nefropaty
diabetik
diabetik

Metformi
Metformi
n
n
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Fungsi ginjal
Fungsi ginjal
menurun
menurun

Penumpukan
Penumpukan
obat-obat OAD
obat-obat OAD
Hipoglikem
di plasma
Hipoglikem
di plasma
i
i

Glibenklami
Glibenklami
d
d
Page

2.3.6 Keterbatasan Ilmu


No
1.

Pokok Bahasan
Hipoglikemia

What I know
Definisi

What I dont know


Mekanisme

I have to

How will I

prove

learn

Semuanya

- Fisiologi

Etiologi

Guyton
- Internet

Manifestasi
Komplikasi
2.

Obat Anti Diabetes

Definisi

Tatalaksana
Golongan

Semuanya

Farmakokinetik

- Obat-Obat
Penting
- Internet

Farmakodinamik
Kontraindikasi
3.

Obat Hipertensi

Definisi

Indikasi
Farmakokinetik
Farmakodinamik
Kontraindikasi

Semuanya

- Obat-obat
Penting
- Internet

Indikasi

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

4.

Penurunan

Definisi

kesadaran

Penyebab

Semuanya

- Fisiologi

Mekanisme

Ganong
- Internet

Pengobatan
Pengukuran
5.

Pemeriksaan

Definisi

Laboratorium

Jenis-jenis

Semuanya

-Petunjuk

Cara kerja

Praktis
Pengelolaan
DM tipe 2

2.3.7 Sintesis
HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah hingga dibawah 60 mg/dl.
Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL.
Sementara pada penderita diabetes (diabetes memiliki beberapa type, jadi silahkan
merujuk kepada jenis diabetes yang ada), kadar gula darahnya tersebut berada pada
tingkat terlalu tinggi; dan pada penderita hipoglikemia, kadar gula darahnya berada pada
tingkat terlalu rendah.

Hal ini sangat membahayakan bagi tubuh, terutama otak dan sistem syaraf, yang
membutuhkan glukosa dalam darah yang berasal dari makanan berkarbohidrat dalam
kadar yang cukup. Kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dl pada kondisi puasa,
atau 100-180 mg/dl pada kondisi setelah makan

Kadar gula darah yang rendah menyebabkan berbagai sistem organ tubuh mengalami
kelainan fungsi. Otak sebagai organ yang sangat peka terhadap kadar gula darah yang
rendah, akan memberikan respon melalui sistem saraf, merangsang kelenjar adrenal untuk
melepaskan epinefrin (adrenalin). Hal ini akan selanjutnya merangsang hati untuk
melepaskan gula agar kadarnya dalam darah tetap terjaga.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Jika kadar gula turun, maka akan terjadi gangguan fungsi otak.
PENYEBAB
Hipoglikemia bisa disebabkan oleh:

Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas

Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada
penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya

Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal

Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.


Secara umum, hipoglikemia dapat dikategorikan sebagai yang berhubungan
dengan obat dan yang tidak berhubungan dengan obat. Sebagian besar kasus
hipoglikemia terjadi pada penderita diabetes dan berhubungan dengan obat.
Hipoglikemia yang tidak berhubungan dengan obat lebih jauh dapat dibagi lagi
menjadi:

Hipoglikemia karena puasa, dimana hipoglikemia terjadi setelah berpuasa

Hipoglikemia reaktif, dimana hipoglikemia terjadi sebagai reaksi terhadap

makan, biasanya karbohidrat.


HIPOGLIKEMIA PENDERITA DIABETES
Hipoglikemia paling sering terjadi disebabkan oleh insulin atau obat lain
(sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar
gula darahnya. Jika dosis obat ini lebih tinggi dari makanan yang dimakan maka
obat ini bisa bereaksi menurunkan kadar gula darah terlalu banyak.
Penderita diabetes berat menahun sangat peka terhadap hipoglikemia berat. Hal
ini terjadi karena sel-sel pulau pankreasnya tidak membentuk glukagon secara
normal dan kelanjar adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal.
Padahal kedua hal tersebut merupakan mekanisme utama tubuh untuk mengatasi
kadar gula darah yang rendah.
HIPOGLIKEMIA KARENA PENGGUNAAN OBAT OBATAN LAINNYA
Pentamidin yang digunakan untuk mengobati pneumonia akibat AIDS juga bisa
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

menyebabkan hipoglikemia. Hipoglikemia kadang terjadi pada penderita kelainan


psikis yang secara diam-diam menggunakan insulin atau obat hipoglikemik untuk
dirinya.
HIPOGLIKEMIA YANG TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN OBAT
OBATAN
Pemakaian alkohol dalam jumlah banyak tanpa makan dalam waktu yang lama
bisa menyebabkan hipoglikemia yang cukup berat sehingga menyebabkan stupor.
Olah raga berat dalam waktu yang lama pada orang yang sehat jarang
menyebabkan hipoglikemia.
Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia, hanya jika terdapat penyakit lain
(terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal) atau mengkonsumsi
sejumlah besar alkohol. Cadangan karbohidrat di hati bisa menurun secara perlahan
sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan kadar gula darah yang cukup. Pada
orang-orang yang memiliki kelainan hati, beberapa jam berpuasa bisa menyebabkan
hipoglikemia. Bayi dan anak-anak yang memiliki kelainan sistem enzim hati yang
memetabolisir gula bisa mengalami hipoglikemia diantara jam-jam makannya.
HIPOGLIKEMIA REAKTIF
Seseorang yang telah menjalani pembedahan lambung bisa mengalami hipoglikemia
diantara jam-jam makannya (hipoglikemia alimenter, salah satu jenis hipoglikemia
reaktif). Hipoglikemia terjadi karena gula sangat cepat diserap sehingga merangsang
pembentukan insulin yang berlebihan. Kadar insulin yang tinggi menyebabkan
penurunan kadar gula darah yang cepat.
Hipoglikemia alimentari kadang terjadi pada seseorang yang tidak menjalani
pembedahan. Keadaan ini disebut hipoglikemia alimentari idiopatik.
Jenis hipoglikemia reaktif lainnya terjadi pada bayi dan anak-anak karena memakan
makanan yang mengandung gula fruktosa dan galaktosa atau asam amino leusin.
Fruktosa dan galaktosa menghalangi pelepasan glukosa dari hati; leusin merangsang
pembentukan insulin yang berlebihan oleh pankreas. Akibatnya terjadi kadar gula
darah yang rendah beberapa saat setelah memakan makanan yang mengandung zat-zat
tersebut.
Hipoglikemia reaktif pada dewasa bisa terjadi setelah mengkonsumsi alkohol yang
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

dicampur dengan gula (misalnya gin dan tonik). Pembentukan insulin yang berlebihan
juga bisa menyebakan hipoglikemia. Hal ini bisa terjadi pada tumor sel penghasil
insulin di pankreas (insulinoma). Kadang tumor diluar pankreas yang menghasilkan
hormon yang menyerupai insulin bisa menyebabkan hipoglikemia.
Penyebab lainnya adalah penyakti autoimun, dimana tubuh membentuk antibodi yang
menyerang insulin. Kadar insulin dalam darah naik-turun secara abnormal karena
pankreas menghasilkan sejumlah insulin untuk melawan antibodi tersebut.
Hal ini bisa terjadi pada penderita atau bukan penderita diabetes. Hipoglikemia juga
bisa terjadi akibat gagal ginjal atau gagal jantung, kanker, kekurangan gizi, kelainan
fungsi hipofisa atau adrenal, syok dan infeksi yang berat.
Penyakit hati yang berat (misalnya hepatitis virus, sirosis atau kanker) juga bisa
menyebabkan hipoglikemia.
MEKANISME HIPOGLIKEMIA
Mekanisme respon hipoglikemia, pada awalnya, tubuh secara otomatis memberikan
respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepaskan epinefrin (adrenalin)
dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin akan merangsang pelepasan
gula dari cadangan tubuh tetapi juga menyebabkan gejala yang menyerupai serangan
kecemasan (berkeringat, kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-debar dan
kadang rasa lapar).
Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan
menyebabkan pusing, bingung, lelah, lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa,
tidak mampu berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia
yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen.
Gejala yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara
perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang
memakai insulin atau obat hipoglikemik per-oral.
Pada penderita tumor pankreas penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari
setelah puasa semalaman, terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan
olah raga sebelum sarapan pagi.
Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama
serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.
Gejala hipoglikemia jarang terjadi sebelum kadar gula darah mencapai 50 mg/dL.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Maka dari itu diagnosis hipoglikemia baru bisa ditegakkan berdasarkan gejalagejalanya dan hasil pemeriksaan kadar gula darah. Penyebabnya bisa ditentukan
berdasarkan riwayat kesehatan penderita, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium sederhana.
Jika dicurigai suatu hipoglikemia autoimun, maka dilakukan pemeriksaan darah untuk
mengetahui adanya antibodi terhadap insulin. Untuk mengetahui adanya tumor
penghasil insulin, dilakukan pengukuran kadar insulin dalam darah selama berpuasa
(kadang sampai 72 jam).
Pemeriksaan CT scan, MRI atau USG sebelum pembedahan, dilakukan untuk
menentukan lokasi tumor.
GEJALA HIPOGLIKEMIA
Gejala hipoglikemia memang tidak mudah dikenali karena hampir sama dengan gejala
penyakit lain,seperti diabetes dan kekurangan darah (anemia). Gejala-gejala hipoglikemia
antara lain gelisah, gemetar, banyak berkeringat, lapar, pucat, sering menguap karena
merasa ngantuk, lemas, sakit kepala, jantung berdeba-debar, rasa kesemutan pada lidah,
jari-jari tangan dan bibir, penglihatan kabur atau ganda serta tidak dapat berkonsentrasi.
Hipoglikemia dapat menyebabkan penderita mendadak pingsan dan harus segera dibawa
ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan serta infus glukosa. Jika dibiarkan terlalu
lama, penderita akan kejang-kejang dan kesadaran menurun. Apabila terlambat
mendapatkan pertolongan dapat mengakibatkan kematian.
Hipoglikemia berbahaya dibandingkan kelebihan kadar gula darah (hiperglikemia) karena
kadar gula darah yang terlalu rendah selama lebih dari enam jam dapat menyebabkan
kerusakan tak terpulihkan (irreversible) pada jaringan otak dan saraf. Tidak jarang hal ini
menyebabkan kemunduran kemampuan otak.
PRINSIP PENGOBATAN
Prinsip dari pengobatan hipoglikemia adalah menaikan kembali kadar gula darah yang
rendah itu sehingga mencapai kadar normalnya. Makanya gejala hipoglikemia ini dapat
menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk
permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu.
Namun untuk seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan
memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan,
sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat
yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan
berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita,
maka diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius.
Seseorang yang memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya
selalu membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau
pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan
karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya
mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit.
Jika hipoglikemia yang terjadi itu akibat adanya tumor penghasil insulin, maka cara
penyembuhannya adalah harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum pembedahan,
biasanya diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor (misalnya
diazoksid). Untuk seseorang yang sering mengalami hipoglikemia, tapi bukan penderita
diabetes, dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi
kecil.
KESADARAN MENGONTROL GULA DARAH
Hipoglikemia memang kurang disadari oleh masyarakat luas yang lebih mengenal
penyakit diabetes sebagai akibat tingginya kadar gula darah (hiperglikemia). Padahal,
hipoglikemia menjadi akibat yang paling sering terjadi jika penderita diabetes tidak
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai diet rendah gula yang benar, kadar gula
darah yang dibutuhkan oleh tubuh haruslah seimbang tidak terlalu tinggi atau rendah.
Cara yang paling mudah untuk mengetahui kadar gula darah dalam tubuh dengan cara
mengecek kadar gula secara rutin.
Untuk menjaga agar kadar gula selalu normal, perhatikan pola makan, olah raga ringan
secara teratur untuk membantu pembakaran glukosa menjadi energi dan merangsang
produksi insulin, hindarkan stress atau gangguan emosional lainnya dan disiplin minum
obat sesuai anjuran dokter. Bagi yang jelas terkena hipoglikemia dapat menaikkan
kembali kadar gula darahnya dengan mengonsumsi gula (dalam bentuk permen atau
tablet glukosa), jus buah, air gula, atau segelas susu. Atau bisa juga mengkonsumsi HD
Clover Honey.Madu ini mengandung fruktosa dan glukosa alami yang mudah diubah
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

menjadi energi oleh tubuh. Kandungan fruktosanya bisa menjadi sumber energi dan aman
bagi penderita diabetes sehingga tetap dapat diet tanpa terkena resiko hipoglikemia.

PENURUNAN KESADARAN
Kesadaran adalah suatu tingkat kesiagaan individu pada saat ini terhadap
stimulus internal dan eksternal. Yaitu terhadap peristiwa-peristiwa lingkungan dan
sensasi tubuh, memori danpikiran. Pengertian lainnya adalah Kemampuan
individu mengadakan hubungan dengan lingkungan serta diri sendiri (melalui
panca inderanya) dan mengadakan pembatasan terhadaplingkungan serta diri
sendiri (melalui perhatian).
Kesadaran ditentukan oleh kondisi pusat kesadaran yang berada di kedua
hemisfer serebri dan Ascending Reticular Activating System (ARAS). Jika terjadi
kelainan pada kedua sistem ini, baik yang melibatkan sistem anatomi maupun
fungsional akan mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran dengan berbagai
tingkatan.Ascending Reticular Activating System merupakan suatu rangkaian atau
network system yang dari kaudal berasal dari medulla spinalismenuju rostral yaitu
diensefalon melalui brain stem sehingga kelainan yang mengenai lintasan ARAS
tersebut berada diantara medulla, pons, mesencephalon menuju ke
subthalamus,hipothalamus, thalamus dan akan menimbulkan penurunan derajat
kesadaran. Neurotransmiter yang berperan pada ARAS antara lain neurotransmiter
kolinergik, monoaminergik dan gammaaminobutyric acid (GABA).
Gangguan metabolik toksik Fungsi dan metabolisme otak sangat bergantung
pada tercukupinya penyediaan oksigen. Adanya penurunan aliran darah otak
(ADO), akan menyebabkan terjadinyakompensasi dengan menaikkan ekstraksi
oksigen (O2)dari aliran darah. Apabila ADOturun lebih rendah lagi, maka akan
terjadi penurunan konsumsi oksigen secara proporsional.
Glukosa merupakan satu-satunya substrat yang digunakan otak dan
teroksidasi menjadi karbondioksida (CO2)dan air. Untuk memelihara integritas
neuronal, diperlukan penyediaan ATP yang konstan untuk menjaga keseimbangan
elektrolit.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

O2 dan glukosa memegang peranan penting dalam memelihara keutuhan


kesadaran. Namun, penyediaan O2 dan glukosa tidak terganggu, kesadaran
individu dapat terganggu oleh adanya gangguan asam basa darah, elektrolit,
osmolalitas, ataupundefisiensi vitamin.Proses metabolik melibatkan batang otak
dan kedua hemisfer serebri.
Koma disebabkan kegagalan difus dari metabolisme saraf . Ensefalopati
metabolik primer Penyakit degenerasi serebri yang menyebabkan terganggunya
metabolisme sel saraf dan glia. Misalnya penyakit Alzheimer. Ensefalopati
metabolik sekunder Koma terjadi bila penyakit ekstraserebral melibatkan
metabolisme otak, yangmengakibatkan kekurangan nutrisi, gangguan
keseimbangan elektrolit ataupunkeracunan. Pada koma metabolik ini biasanya
ditandai dengan gangguan system motorik simetris dan tetap utuhnya refleks pupil
(kecuali pasien mempergunakan glutethmide atau atropin), juga utuhnya gerakangerakan ekstraokuler (kecuali pasien mempergunakan barbiturat).
Tes darah biasanya abnormal, lesi otak unilateral tidak menyebabkan
stupor dan koma. Jika tidak ada kompresi ke sisi kontralateral batang otak lesi
setempat pada otak menimbulkan koma karena terputusnya ARAS. Sedangkan
koma pada gangguan metabolik terjadi karena pengaruh difus terhadap ARAS dan
korteks serebri.
Penyebab penurunan kesadaran pada system endocrine adalah hipoglikemi
dan ketoasidosis diabetic . Factor utama yang menyebabkan hipoglikemia yang
sangat penting dalam pengelolaan diabetes adalah ketergantungan jaringan saraf
pada asupan glukosa yang berkelanjutan. Dalam hal ini adalah karena obat-obatan
yang meningkatkan sekresi insulin seperti sulfonuria.
Untuk memudahkan mengingat dan menelusuri kemungkinan kemungkinan
penyebab penurunan kesadaran dengan istilah SEMENITE yaitu :
1. S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung
2. E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang
mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

3. M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum
4. E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan.
5. N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis
6. I : Intoksikasi
Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan
penurunan kesadaran
7. T : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural,
perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.
8. E : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat
menyebabkan penurunan kesadaran.
( Harsono , 1996 )
Ada beberapa tingkat penurunan kesadaran yaitu :

Kompos mentis berarti kesadaran normal, menyadari seluruh asupan panca


indera (aware atau awas)dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh
rangsangandari luar maupun dari dalam (arousal atau waspada), atau

dalam keadaaan awas danwaspada.


Somnolen atau drowsiness atau clouding of consciousness, berarti
mengantuk, mata tampak cenderung menutup, masih dapat dibangunkan
dengan perintah,masih dapat menjawab pertanyaan walaupun sedikit

bingung, tampak gelisah danorientasi terhadap sekitarnya menurun.


Stupor atau sopor lebih rendah dari pada somnolen. Mata tertutup dengan
rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau bersuara satudua kata. Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang

nyeri.
Semikoma atau soporokoma, mata tetap tertutup walaupun
dirangsangnyeri secara kuat, hanya dapat mengerang tanpa arti, motorik

hanya berupa gerakan primitif .


Koma merupakan penurunan kesadaran yang paling rendah.
Denganrangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali, baik dalam hal
membuka mata, bicara,maupun reaksi motorik.

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif
mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai
untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon
verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang
dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang
menunjukan adanya penurunan kesadaran.

GCS yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien,
(apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon
pasien terhadap rangsangan yang diberikan.

Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi


membuka mata , bicara dan motorik. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam
derajat (score) dengan rentang angka 1 6 tergantung responnya.

Eye (respon membuka mata) :

(4) spontan
(3) dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan
kuku jari)
(1) tidak ada respon

Verbal (respon verbal) :


(5) orientasi baik
(4) bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang )
disorientasi tempat dan waktu.
(3) kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun
tidak dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) suara tanpa arti (mengerang)
(1) tidak ada respon

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Motor (respon motorik) :


(6) mengikuti perintah
(5) melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi
rangsang nyeri)
(4) withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi
stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada &
kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh,
dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) tidak ada respon

Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam


simbol EVM

Menilai tingkat kesadaran :


15

: normal

14-13 : sedang

12-9

: ringan

8-3

: berat

Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15


yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.

Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa


apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya
berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga
tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan
hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien
diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau
(confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon
(unresponsiveness).

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Jenis pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan DM :
1. Glukosa urin
2. Kadar gula darah
3. Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
4. Hemoglobin glikasi (HbA1c).
Pemeriksaan glukosa urin
Pemeriksaan ini banyak dipakai dahulu kala untuk mengetahui perkiraan kadar glukosa
darah, tetapi tidak dapat mendeteksi adanya hipoglikemia. Selain itu, banyaknya glukosa
yang dikeluarkan di dalam urin tergantung dari ambang ginjal terhadap glukosa. Bila
ambang ginjal untuk glukosa rendah seperti pada glukosuria renal akan terdapat glukosa
di dalam urin walaupun tidak dijumpai hiperglikemia. Keadaan ini dapat dijumpai pada
wanita hamil.
Pemeriksaan kadar gula darah
Untuk mengetahui adanya DM dan pengontrolan kadar gula darah dapat diketahui dengan
mengukur kadar gula darah puasa atau kadar gula darah sewaktu seperti terlihat pada
alogaritma 1 atau 2.
Pemeriksaan TTGO
Bila didapatkan kadar gula darah yang meragukan baik pada kadar gula darah puasa
maupun sewaktu seperti terlihat pada alogaritma 1 atau 2. Untuk pemeriksaan TTGO
pasien harus memenuhi persyaratan sbb :

Tiga hari sebelum pemeriksaan, makan dan kegiatan jasmani dilakukan seperti
biasa.

Puasa satu malam 10 - 12 jam

Di laboratorium pasien dilakukan pemeriksaan gula darah puasa, kemudian


diberikan 250mL air yang ditambahkan 75g glukosa, yang dihabiskan dalam waktu
5 menit.

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Selama menunggu 2 jam pasien istirahat dan tidak merokok.

Periksa kada gula darah 2 jam pasca penambahan glukosa.

Pemeriksaan HbA1c
Sebagaimana diketahui hemoglobin di dalam tubuh akan mengalami glikasi dengan
kecepatan yang proporsional dengan kadar glukosa darah. Reaksi ini terjadi
secara (reversible)membentuk senyawa stabil yang disebut hemoglobin glikasi atau
hemoglobin A1c. Pengukuran kadar HbA1c ini bermanfaat untuk :
-

Mengetahui kadar glukosa rerata 3 bulan terakhir selama pengobatan.


Ingin mengetahui pengendalian DM selama pengobatan.

Kriteria pengendalian DM bila :


BAIK SEDANG BURUK
Glukosa darah puasa (mg/dL) 80 < 100 100 125 126
Glukosa darah 2 jam (mg/dL) 80 144 145 179 180
A1C (%) < 6.5 6.5 5 > 8
Kolesterol Total (mg/dL) < 200 200 -239 240
Kolesterol LDL (mg/d L) < 100 100 -129 130
Kolesterol HDL (mg/dL) Pria : > 40 Wanita : > 50
Trigliserida (mg/dL) < 150 150 199 > 200
Mikroalbumin urin sewaktu < 30 *IMT (kg/m2) 18.5 < 23 23 25 > 25
Tekanan Darah (mmHg) < 130/180 > 130-140 / > 80-90
*IMT (Index Massa Tubuh)

OBAT-OBATAN HIPERTENSI
Diuretik - atau "pil air" seperti thiazide, hydroclorathiazide, chlorathalidone dan
Indapamide) yang bekerja dengan membantu ginjal untuk lulus akumulasi garam dan air,
sehingga mengurangi jumlah cairan dalam tubuh dan menurunkan tekanan darah.
Diuretik juga menyebabkan pembuluh darah membesar, mengurangi resistensi terhadap
aliran darah, dan karena itu tekanannya. Beberapa jenis diuretik menyebabkan ginjal
untuk mengekskresikan kalium suplemen kalium sehingga mungkin diperlukan.
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Beta-blocker - seperti propranolol, atenolol, nadolol, pindolol dan labetolol yang rileks
jantung dengan menghalangi tindakan hormon seperti adrenalin dan noradrenalin yang
membuat jantung memompa lebih keras.
Alpha-blocker - seperti prazosin yang juga menghambat efek adrenalin dan noradrenalin
pada pembuluh darah, santai dan dilatasi mereka.
Vasodilator - seperti hydralazine dan minoxidil yang mengendurkan otot polos arteri,
menyebabkan mereka untuk membesar dan dengan demikian mengurangi resistensi
terhadap aliran darah.
Bloker kanal kalsium - seperti nifedipin, nicardipine, verapamil dan diltiazem yang
bekerja dengan menghalangi aliran kalsium dalam otot-otot jantung dan pembuluh darah,
menyebabkan pembuluh darah membesar.
Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor - seperti captopril, enalapril,
perindopril, ramipril, quinapril dan lisinopril, yang memblokir aksi hormon angiotensin
II, yang mempersempit pembuluh darah.
Angiotensin receptor blocker - seperti candesartan, irbesartan, telmisartan,
eprosartan berperilaku dengan cara yang sama seperti ACE inhibitor.
Para metildopa obat dan clonidine juga melebarkan pembuluh darah, tetapi
melakukannya dengan bertindak pada bagian otak yang mengontrol tekanan darah
melalui impuls saraf ke jantung dan pembuluh darah), bukan efek langsung pada
jantung dan pembuluh darah sendiri.
Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko untuk memiliki tekanan darah tinggi,
dan risiko yang meningkat lebih lanjut jika Anda mengalami obesitas. Cara paling
ilmiah untuk mengukur berat badan Anda adalah dengan menghitung Body Mass
Indeks Anda (BMI) - ini adalah berat badan Anda dalam kilogram dibagi dengan
tinggi badan Anda dalam meter kuadrat - orang dengan BMI antara 25-30 dianggap
kelebihan berat badan, dan mereka dengan indeks di atas 30 dianggap obesitas - orang
dengan BMI 40 atau lebih gemuk tdk sehat.

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Cara terbaik untuk mengatasi obesitas adalah untuk mengurangi jumlah kalori yang
Anda makan, dan memastikan bahwa Anda berolahraga secara teratur.
Diperkirakan bahwa 1 dari 3 orang dewasa Amerika dan 40% orang dewasa di Inggris
memiliki hipertensi; hipertensi mempengaruhi hampir tiga juta orang Australia di atas
usia 25 dan sekitar satu dari lima warga Kanada yang lebih tua dari 20.
ANTI DIABETIK ORAL
Anti-Diabetik oral adalah obat makan yang diberikan untuk pasien dengan Diabetes
Mellitus, tipe 1 dan tipe 2,, yang disesuaikan dengan cara kerja obatnya,,
1. Sulfonilurea, yang fungsinya ningkatin sekresi insulin, tapi tidak memperbaiki
resistensi insulin dan sel beta yang rusak, sesuai banget buat diabetes, dan lebih baik
digabung dengan obat lain,, efek sampingnya bisa cepet hipoglikemi,, jadi harus
dikontrol,, efek samping yang lain, Sulfonilurea bisa ningkatin nafsu makan, karena
cepetnya dia nurunin gula darah itu,,

2. Biguanida, -Metformin fungsi utamanya meningkatkan pemakaian glukosa di otot


dan jaringan lemak, dan mengurangin produksi gula dari hepar, dan tidak menyebabkan
hipoglikemi,, efek sampingnya gangguan pencernaan, bisa laktat asidosis (lumayan
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

bahaya) dan kurangnya nafsu makan,, jadi bagus buat dipakai orang yang Diabetes tipe 2
yang juga obesitas.

3. Acarbose, merupakan penghambat enzim alpha-glucosidase (enzim ini untuk memecah


glukosa kompleks (karbohidrat) supaya bisa dicerna di tubuh), jadi kalau tidak bisa
dicerna, tidak bisa diserap. Efek sampingnya diare dan flatus bisa hipoglikemi juga, tapi
kalo hipoglikemi, kasih minum atau makan yang mengandung monosakarida.
4. Thiazolidinedione, dia berikatan dengan PPAR, sejenis molekul dalem sel, yang
banyak banget fungsinya, nurunin resistansi insulin, ningkatin pengambilan glukosa di
otot, memperbaiki fungsi sel beta-pankreas, dan ngurangin produksi gula dari hepar,, dia
juga ningkatin nafsu makan, bisa nyebabin hepatitis, dan retensi cairan.
5. Troglitazone, tapi tidak dibahas, katanya udah ditarik di Amerika, mahal obatnya,
padahal fungsinya lumayan bagus buat ningkatin sensitifitas tubuh sama insulin. (yang
biasanya jadi salah satu masalah buat Diabetes tipe 2) tapi karena sifatnya meracuni hati
(hepatotoksik) maka dicabut dari pasaran.

Daftar Pustaka
Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page

Aru W. Sudoyo et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Interna Publishing, Edisi
V Jilid III, 2009

Ali, Muhammad. 2000. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta; Pustaka


Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC
Guyton, Arthur C dan John E. Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran. Jakarta; EGC
Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Kompetensi Dokter. Jakarta : KKI
Kumala, Poppy. 1998. Kamus Kedokteran Dorlan, Jakarta; EGC
Price, Sylvia dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi. Jakarta : EGC
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta; EGC

Tutorial 1, Skenario C Blok IX

Page