Anda di halaman 1dari 24

Muhamad Ziad Baidhowi

270110120180
Geologi A

AN INTRODUCTION TO PLATE
TECTONICS CONCEPTS AND
SEDIMENTARY BASIN

AN INTRODUCTION TO PLATE
TECTONICS CONCEPTS
Teori tektonik lempeng merupaka teori yang menjelaskan bahwa
lapisan terluar bumi tersusun atas beberapa lempeng yang
berukuran besar dan kecil dimana lempeng-lempeng ini bergerak
relative satu sama lain.
Teori tektonik lempeng sendiri pertama kali di kemukakan oleh
Alfred Wegener pada tahun 1912, yang merupakan hipotesis
continental drift. Selanjutnya teori ini dikembangkan dalam bukunya
yang berjudul The Origin of Continents and Oceans yang diterbitan
pada tahun 1915.
Dalam bukunya Alfred Wegener mengungkapkan bahwa benua-benua
yang ada sekarang dahulu merupakan satu benua utuh yang
kemudian bergerak menjauh sehingga saling lepas.

FACTOR YANG MENGUATKAN


PERKEMBANAGN DARI TEORI
TEKTONIK LEMPENG:

Kenampakan relief dan penyebaran umur


muda dari lantai samudra
Keberadaan pengulangan pembalikan medan
magnet bumi dimasa lampau
Kemunculan hipotesi seafloor-spreading dan
recycle kerak samudra
Kenyataan bahwa pusat gempabumi dan
akifitas vulkanik terpusat pada sepanjang
daerah palung dan punggungan pada lantai
samudra

SUSUNAN LEMPENG

DUA JENIS LEMPENG


TEKTONIK

Lempeng benua: merupakan lempeng yang menopang


benua, lempeng ini tersusun atas Si, Mg, Fe. Lempeng
ini bersifat asam, memiliki berat jenis 3 gr/cc, dengan
ketebalan 7-10 km. lempeng ini tersusun atas batuan
yang ingan seperti granit.
Lempeng samudra: merupakan lempeng penompang
samudran, lempeng ini tersusun atas Si, dan Al, lempeng
ini bersifat asam dan memiliki berat jenis sebesar 2.85
gr / , dengan ketebalan berkisar 30-80 km. lempeng ini
cc
tersusun atas batuan yang relative ringan seperti basalt.

BATAS LEMPENG TEKTONIK

Batas Divergen
Batas ini terjadi apa bila dua lempeng
bergerak saling menjauh. Apabalia terjadi
pada lempeng benua, proses pergerakan
ini
akan
menyebabkan
rift
valley,
sedangkan apabila terjadi pada lempeng
samudra akan menyebabkan seafloor
spreading. Salah satu batas divergen yang
terkenal ialah Mid-Atlantic Ridge

Batas Konvergen
Batas ini terjadi apabila dua lempeng yang bergerak saling mendekat dan
kemudian salah satu dari lempeng menujam masuk kedalam. Wilayah dari
penujaman ini biasa disebut sebagai subduction zone dimana pada wilayah
ini terbentuk volcanic ridge dan oceanic trenches.
Apabila proses divergen terjadi antara lempeng samudra dengan lempeng
benua akan terbentuk volcanic mountain range pada bagian atas litosfer
dan oceanic trenches pada wilayah penujaman, salah satu contohnya pada
kasus ini ialah pegunungan Andes.
apa bila proses ini terjadi antara lempeng samudra dengan lempeng
samudra akan membentuk parit di dasar laut serta gunung api dasar laut
yang parallel dengan dengan parit tersebut, apabila puncak dari gugusan
gunung api ini muncul dipermukaan disebut volcanic ocean chain, salah
satu contoh dari kasus ini ialah pulau Aleutian di Alaska.
apabila proses ini terjadi antara lempeng benua dengan lempeng benua
dimana salah satunya menujam kebawah dan meleleh, pada wilayah
tumbukan akan mengeras dan menebal lalu membentuk pegunungan non
vulkanik, salah satu contoh dari kasus ini ialah pegunungan Himalaya.

Batas Transform
Batas ini terjadi apabila dua buah lempeng
yang bergerak saling bergesekan atau
bergerak sejajar dan saling berlawanan
arah. Batas ini biasa dikenal dengan
transform fault. Salah satu contoh terkenal
dari batas ini ialah Sesar San Andreas di
California.

ILUSTRASI PERGERAKAN
LEMPENG

TEKTONIK LEMPENG
INDONESIA
Batas lempeng tektonik yang
terdapat di Indonesia sendiri
ialah batas konvergen, dimana
dapat diliahat pada batas
lempeng Indo-Australia dengan
lempeng Eurasia. Dengan
adanya batas transform ini
tidak heran apabila di
Indonesia ditemukan gugusan
gunung berapi yang terbentang
dari Pulau Sumatra hinnga
pulau Lombok, oleh karena itu
lah Indonesia sering terjadi
gempa.

SEDIMENTARY BASIN

Cekungan atau Basin merupakan suatu


rendahan pada permukaan bumi yang
terbentuk akibat dari proses tektonik yang
berlangsung. Cekungan merupakan temopat
dimana sedimen terjebak dan terendapkan
didalamnya sehingga banyak yang menyebut
sebagai
cekungan
sedimen.
Cekungan
sendiri terbentuk akibat dari subsidence dari
permukaan bagian atas suatu kerak bumi

PENYEBABNYA TERBENTUKNYA
CEKUNGAN MENURUT DICKINSON
(1993) DAN INGERSOL DAN BUSBY
(1995) :
Penipisan kerak (crustal thinning): terjadi pada saat perenggangan, erosi selama pengangkatan,
dan penarikan akibat magmatisme.
Penebalan mantel litosper (mantle-lithospheric thickening): Pendinginan litosper yang diikuti
penghentian perenggangan atau pemanasan akibat peleburan adiabatik atau naiknya lelehan
astenosper
Pembebanan batuan sedimen dan gunungapi (sedimentary and volcanic loading): Kompensasi
isostatik lokal dari kerak dan perenggangan litosper regional, tergantung kegetasan litosper, selama
sedimentasi dan kegiatan gunungapi
Pembenan tektonik (tectonic loading): Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan perenggangan
litosper regional, tergantung kegetasan dibawah litosper, selama pensesaran naik (overthrusting)
dan/atau tarikan (underpulling)
Pembenan subkerak (subcrustal loading): kelenturan litosper selama underthrusting dari litosper
padat
Aliran astenosper (asthenospheric flow): pengaruh dinamik aliran astenosper, umumnya karena
penunjaman litosper
Penambahan berat kerak (crustal densification): Peningkatan berat jenis kerak akibat perubahan
tekanan/ temperatur dan/atau pengalihan tempat kerak berberat-jenis tinggi ke kerak berberat-jenis
rendah

KLASIFKASI CEKUNGAN
SEDIMEN
Yang sederhana berdasarkan hubungan antara morfologi/bentuk
cekungan dan kapan sedimen mengisinya:
Syn-depositional: sedimentasi pada tipe ini berlangsung bersamaan
dengan subsidence, jenis facies sedimen pengisi cekungan akan
dipengaruhi oleh perubahan akomodasi, pola penyebaran facies dapat
dari cekungan diprediksi, di bagian pinggiran facies dangkal, di
tengah cekungan facies yang lebih dalam.
Post-depositional: keadaan dimana cekungan terbentuk setelah proses
sedimentasi berlangsung. Pola penyebaran facies sedimen-sedimen
yang lebih tua tidak dikontrol oleh morfologi cekungan yang terbentuk
setelahnya tapi mengikuti cekungan yang terbentuk lebih awal
Pre-depositional: cekungan terlebih dahulu sudah ada atau sudah
terbentuk, lalu subsidence terjadi dengan cepat karena tektonik
sehingga lokasi depocentre dalam, baru kemudian sedimen masuk ke
cekungan setelah tektonik berhenti.

Klasifikasi cekungan berdasarkan jenis litosfer dan gaya


struktur (structural style)menurut Kingston et al. (1983):
Continental interior sag: posisi di dalam kontinen, sag
artinya subsidence karena loading, tanpa tektonik
Continental interior fracture: posisi di dalam kontinen,
fracture artinya rekah (patahan ekstensional)
Passive continental margin, margin sarg: di pinggir
kontinen, passive margin
Oceanic sag: di laut (kerak samudra), sag

Basins related to subduction: berkaitan dengan subduksi

Basins related to collision: berkaitan dengan tabrakan

Strike slip basin: berkaitan dengan sesar mendatar

TATAAN

TIPE CEKUNGAN

TEKTONIK
Divergen
Antar-

Rift: terrestrial rift valleys; proto-oceanic rift valleys


Cekungan
beralaskan
kerak
benua/peralihan:

lempeng

cekungan

intrakraton,

paparan

benua,

sembulan

benua (continental rises) dan undak, pematang benua.


Cekungan

beralaskan

kerak

samodra:

cekungan

samodra aktif, kepulauan samodra, dataran tinggi dan


Konvergen

bukit aseismik (aseismic rigde and plateau)


Cekungan akibat subduksi: palung, cekungan lereng
palung, cekungan busur depan, cekungan intra-busur,
cekungan busur belakang.
Cekungan akibat tabrakan: cekungan retroac forels,
peripheral foreland basin, cekungan punggung babi

Tranform

(piggyback basin), broken forland


Cekungan
akibat
sesar
mendatar:

cekungan

transextensional, transpressional, transrotaional

Hybrid

Cekungan akibat berbagai sebab: cekungan-cekungan

intracontinental

wrench,

aulacogen,

impactogen,

successor

Klasifikasi Cekungan Berdasarkan Tatanan Tektoniknya Menurut Boggs (2001

CEKUNGAN INTERCRATON

Cekungan interkraton merupakan cekungan yang cukup


besar dimana cekungan ini letaknya berada ditengah suatu
benua yang jauh dari tepian lempeng. Subsiden yang
terjadi pada cekungan interkraton umumnya disebabkan
oleh penebalan mantel litosfer dan pembebanan oleh
batuan sedimen atau gunung api (Boggs, 2001).
Cekungan interkraton umumnya diisi oleh endapan klastika
laut, karbonat, atau sedimen evaporit yang diendapkan
mulai dari laut epikonental sampai darat. Contoh dari
cekungan interkraton ialah Cekungan

RENGGANG (RIFT)

Cekungan alibat peregangan memiliki dimensi


yang umumnya sempit akan tetapi memanjang
dimana dibatasi oleh lembahan, memiliki ukuran
mulai dari beberapa kilometer hingga mencapai
panjang 300km seperti yang berada di Afrika
Timur. Cekungan ini terbentuk akibat dari tatanan
tektonik dimana paling umum disebabkan oleh
divergen. Salah satu contoh cekungan modernnya
ioalah cekungan Afrika Timur .

AULAKAGON

Aulakogen adalah jenis khusus dari renggangan yang


menyudut besar terhadap tepian benua, dimana umumnya
dianggap sebagai renggangan tetapi gagal dan kemudian
diaktifkan kembali selama tektonik konvergen. Palung yang
sempit dan panjang dapat menggapai sampai kraton benua
dengan sudut yang besar dari lajur sesar.
Sedimen yang mengisi cekungan jenis ini dapat berupa
sedimen darat, endapan paparan, dan endapan yang lebih
dalam seperti endapan turbit. Contoh dari cekungan
aulakogen di antaranya Renggangan Reelfoot yang
berumur Paleozoik dimana Sungai Misisipi mengalir dan
Palung Benue yang berumur Kapur dimana Sungai Niger
membelahnya.

CEKUNGAN TEPI BENUA

cekungan tepian benua dicirikan oleh kehadiran baji yang


sangat besar dari sedimen yang kearah laut dibatasi oleh
lereng landai dari benua dan sembulan. Sedimen yang
terendapkan pada paparan benua cekungan ini berupa
pasir neritic dangkal, lumpur, karbonat dan endapan
evaporasi, sdengakan pada lereng terdiri dari lumpur
hemipelagik, dan pada sembulan benua berupa endapan
turbidit.
Contoh dari cekungan ini ialah Cekungan Blake Plateau,
Cekungan Gorge Bank dan Cekungan Nova Scotian yang
terbentuk pada akhri Trias- awal Jura akibat dari regangan
dan terpisahnya Pangea.

CEKUNGAN BERHUBUNGAN
DENGAN SUBDUKSI

Subduksi ditunjukkan dengan aktifnya tepian benua yang


mana umumnya dicirikan oleh adanya palung laut dalam,
busur gunungapi aktif, dan arc-trench gap yang
memisahkan ke duanya. Sedimen yang terendapkan pada
cekungan ini lebih didominasi oleh endapan silisiklastik
yang umumnya berupa batuan yang berasal dari busur
gunungapi.
Contoh dari sistem subduksi ini adalah subduksi Sumatra,
Jepang, Peru, Chili dan Amerika Tengah. Contoh cekungan
busur muka purba di antaranya adalah cekungan busur
muka Great Valley, Kalifornia; Midland Valley, Inggris dan
Coastal range, Taiwan. Contoh cekungan busur belakang di
antaranya terjadi pada Jura Akhir Awal Kapur terbentuk
di belakang Busur Andean di Chili selatan.

CEKUNGAN BERHUBUNGAN
DENGAN PATAHAN
MENDATAR

Patahan yang dapat membentuk cekungan merupkan


patahan mendatar yang menoreh dalam kerak sampai
membatasai dua lempeng yang berbeda (transform fault)
dan patahan yang terbatas dalam suatu lempeng dan hanya
menoreh bagian atas kerak (Sylvester, 1988).
Cekungan yang berhubungan dengan patahan mendatar
regional terbentuk sepanjang punggung pemekaran,
sepanjang batas patahan antar lempeng, pada tepian benua
dan daratan dalam lempeng benua.Di Indonesia Cekungan
jenis ini banyak terdapat sepanjang Patahan Sumatra
(Semangko),

MEKANISME PEMBENTUKAN
CEKUNGAN.
Thermal
Proses ini terjadi di lapisan litosfer
terpanaskan dari bawah yang membuat
lapisan
litosfer
mengembang
dan
menjadi kurang padat. Litosfer yang
kurang padat ini mengalami penyesuaian
isostatically dimana proses ini yang yang
disebut pengangkatan kerak. Isostatic
akan kembali ke semula apabila terjadi
penurunan suhu pada lapisan litosfer.
Saat terjadi pengangkatan inilah lapisan
kerak bumi menipis oleh proses erosi dan
mengalami penebalan ditempat lain
dimana
selanjutnya
terjadi
proses
pengendapan,
jadi
ketika
kerak
mendingin lagi reda ke posisi lebih
rendah dari semula, kondisi ini akan
menciptakan cekungan yang tersedia
untuk diisi dengan material sedimen.

MEKANISME PEMBENTUKAN
CEKUNGAN.

Flexurally

Selain cara thermal diatas, terdapat


cara lain yang dapat mmbentuk
relief cekungan, cara lainnya itu
ialah dengan meletakan beban
besar pada beberapa bidang litosfer,
dimana beban inilah yang akan
menyebabkan
lapisan
litosfer
mengalami
penurunan
dengan
penyesuaian isostatic. Model ini
telah
sangat
berhasil
dalam
pengukuran untuk fitur cekungan
tanjung, yang terbentuk thrust
sheets yang besar yang pindah dari
daerah orogenic ke sebelumnya
yakni undeformed litosfer cratonal

TERIMAKASIH