Anda di halaman 1dari 10

KONSILIASI SEBAGAI PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL

SECARA DAMAI

Ditinjau dari konteks hukum internasional publik, sengketa dapat didefinisikan sebagai
ketidaksepakatan salah satu subyek mengenai sebuah fakta, hukum, atau kebijakan yang
kemudian dibantah oleh pihak lain atau adanya ketidaksepakatan mengenai masalah hukum atau
fakta-fakta atau konflik mengenai penafsiran atau kepentingan antara 2 bangsa yang berbeda.
Untuk mencegah penggunaan kekerasan oleh negara dalam suatu persengketaan dengan
negara lain perlu ditempuh suatu penyelesaian secara damai. Usaha ini mutlak diperlukan
sebelum perkara itu mengarah pada suatu pelanggaran terhadap perdamaian. Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan kewajiban kepada negara anggotanya bahkan kepada
negara-negara lainnya yang bukan anggota PBB untuk menyelesaikan setiap persengketaan
internasional secara damai sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan perdamaian
keamanan internasional serta keadilan.
Konsiliasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa internasional diluar
pengadilan yang berarti bahwa, proses penyelesaian sengketa tersebut dilakukan secara damai
apabila para pihak yang bersengketa telah sepakat untuk menemukan solusi yang bersahabat.
Selain dengan cara konsiliasi, ada beberapa metode penyelesaian sengketa internasional secara
damai lainnya seperti, mediasi, arbitrase, negosiasi, penyelesaian judicial, jasa-jasa baik,
penyelidikan

dan

penyelesaian

di

bawah

naungan

organisasi

PBB.

Penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi menggunakan intervensi pihak ketiga. Pihak ketiga
yang melakukan intervensi ini biasanya adalah negara, namun bisa juga sebuah komisi yang
dibentuk oleh para pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat saja terlembaga
atau bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima oleh
para pihak. Fungsi komisi konsiliasi adalah untuk menyelidiki sengketa dan batas penyelesaian
yang mungkin, memberikan informasi dan nasehat tentang pokok masalah posisi pihak-pihak
dan untuk menyarankan suatu penyelesaian yang bertalian dengan apa yang mereka
terima, bukan apa yang mereka tuntut.

1. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN KONSILIASI?


Konsiliasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa internasional diluar
pengadilan yang berarti bahwa, proses penyelesaian sengketa tersebut dilakukan secara damai
apabila para pihak yang bersengketa telah sepakat untuk menemukan solusi yang bersahabat.
Selain dengan cara konsiliasi, ada beberapa metode penyelesaian sengketa internasional secara
damai lainnya seperti, mediasi, arbitrase, negosiasi, penyelesaian judicial, jasa-jasa baik,
penyelidikan dan penyelesaian di bawah naungan organisasi PBB.
Konsiliasi (Conciliation) menurut the Institute of International Law melalui the
Regulations the Procedur of International Conciliation yang diadopsi pada tahun 1961 dalam
Pasal 1 disebutkan sebagai suatu metode penyelesaian pertikaian bersifat internasional dalam
suatu komisi yang dibentuk oleh pihak-pihak, baik sifatnya permanen atau sementara berkaitan
dengan proses penyelesaian pertikaian.1[1]
Istilah konsiliasi (conciliation) mempunyai arti yang luas dan sempit. Pengertian luas konsiliasi
mencakup berbagai ragam metode di mana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan
bantuan negara-negara lain atau badan-badan penyelidik dan komite-komite penasehat yang
tidak berpihak. Pengertian sempit, konsiliasi berarti penyerahan suatu sengketa kepada sebuah
komite untuk membuat laporan beserta usul-usul kepada para pihak bagi penyelesaian sengketa
tersebut.2[2]
Sengketa adalah hal yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat, yang dapat terjadi saat
dua orang atau lebih berinteraksi pada suatu peristiwa/ situasi dan mereka memiliki persepsi,
kepentingan, dan keinginan yang berbeda terhadap peristiwa/situasi tersebut.
1

Konsiliasi sebagai suatu cara untuk menyelesaikan sengketa internasional mengenai


keadaan apapun dimana suatu Komisi yang dibentuk oleh pihak-pihak, baik yang bersifat tetap
atau ad hoc untuk menangani suatu sengketa berada pada pemeriksaan yang tidak memihak atas
sengketa tersebut dan berusaha untuk menentukan batas penyelesaian yang dapat diterima oleh
pihak-pihak, atau memberi pihak-pihak pandangan untuk menyelesaikannya seperti bantuan
yang mereka pinta.
Konsiliasi merupakan kombinasi antara penyelidikan (enquiry) dan mediasi (mediation). Pada
prakteknya, proses penyelesaian sengketa melalui konsiliasi mempunyai kemiripan dengan
mediasi. Pembedaan yang dapat diketahui dari kedua cara ini adalah konsiliasi memiliki hukum
acara yang lebih formal jika dibandingkan dengan mediasi. Karena dalam konsiliasi ada
beberapa tahap yang biasanya harus dilalui, yaitu penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi,
kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak, dan berdasarkan fakta-fakta
yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan
kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan usulan penyelesaian sengketa.3[3]
Perbedaan diantaranya yaitu konsiliator memiliki peran intervensi yang lebih besar daripada
mediator. Dalam konsiliasi pihak ketiga (konsiliator) secara aktif memberikan nasihat atau
pendapatnya untuk membantu para pihak menyelesaikan sengketa, sehingga para pihak memiliki
kebebasan untuk memutuskan atau menolak syarat-syarat penyelesaian sengketa yang diusulkan.
Sedangkan mediator hanya mempunyai kewenangan untuk mendengarkan, membujuk dan
memberikan inspirasi bagi para pihak. Mediator tidak boleh memberikan opini atau nasihat atas
suatu fakta atau masalah (kecuali diminta oleh para pihak). Jadi konsiliasi merupakan proses dari
suatu penyelidikan tentang fakta-fakta dimana para pihak dapat menerima atau menolak usulan
rekomendasi resmi yang telah dirumuskan oleh badan independen.
Perjanjian pertama untuk mengatur konsiliasi diadakan antara Swedia dan Chili (1920). Tahun
1975 ditandai dengan dua perkembangan penting. Pertama suatu perjanjian antara Prancis
Swiss mendefinisan fungsi komisi konsiliasi p e r m a n e n yaitu tugas komisi konsiliasi
3

permanen ialah untuk menjelaskan masalah dalam sengketa, dengan mengumpulkan semua
keterangnan yang berguna melalui penyelidikan atau dengan cara lain,d a n b e r u s a h a
u n t u k membawa pihak-pihak pada persetujuan. Komisi ini, setelah mempelajari kasus itu,
dapat mendekatkan pada pihak-pihak batas penyelesaian yang kelihatannya sesuai dan
menetapkan batas waktu kapan mereka harus membuat keputusan. Pada akhir pemeriksaannya
komisi konsiliasi akan membuat suatu laporan yang menyatakan bahwa pihak-pihak harus
mencapai persetujuan d a n jika perlu, batas persetujuan, atau bahwa terbukti tidak mungkin
untuk melakukan penyelesaian. Pemeriksaan komisi, kecuali jika pihak-pihak tidak setuju, harus
diakhiri dalam waktu enam bulan terhitung sejak hari diserahkannya sengketa itu pada
komisitersebut. Periode antara tahun 1925 dan Perang Dunia Kedua konsiliasi berkembang luas
dan hampir dibuat 200 perjanjian pada tahun 1940. Sebagian 5 besar berdasarkan pada perjanjian
antara Prancis Swiss tahun 1925.

2. KAPAN PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DILAKUKAN


DENGAN CARA KONSILIASI ?
Proses penyelesaian sengketa yang sudah dikenal sejak lama adalah melalui proses
litigasi di pengadilan. Seiring dengan perkembangan zaman, proses penyelesaian sengketa di luar
pengadilan menjadi alternatif dalam menyelesaikan sengketa. Penyelesaian sengketa di luar
pengadilan yang bersifat tertutup untuk umum dan proses beracara lebih cepat dan efisien
menjadikan penyelesaian sengketa di luar pengadilan lebih banyak diminati dalam
menyelesaikan sengketa. Salah satunya ialah dengan cara konsiliasi.
Konsiliasi sebagai salah satu bentuk penyelesaian sengketa di luar pengadilan (atau yang sering
disebut sebagai penyelesaian sengketa secara damai) lazimnya diadakan berhubungan dengan
jasa baik atau perantaraan. Penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi menggunakan
intervensi pihak ketiga,yang mana pihak ketiga memberikan jasa-jasanya untuk mempertemukan
pihak-pihak yang bersengketa dan menyarankan penyelesaian secara damai. Pihak ketiga
mempunyai peranan yang lebih aktif dan ikut serta dalam perundingan-perundingan dan

memimpin pihak-pihak yang bersengketa sedemikian rupa sehingga ditemukan penyelesaian


secara damai, sekalipun saran-saran perantara tidak mengikat.
Pihak ketiga yang melakukan intervensi ini biasanya adalah negara, namun bisa juga sebuah
komisi yang dibentuk oleh para pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat
saja terlembaga atau bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang
diterima oleh para pihak. Konsiliasi memiliki hukum acara yang lebih formal jika dibandingkan
dengan mediasi. Karena dalam konsiliasi ada beberapa tahap yang biasanya harus dilalui, yaitu
penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi, kemudian komisi akan mendengarkan keterangan
lisan para pihak, dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut
komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan
usulan penyelesaian sengketa.4[4]
Proses konsiliasi pada umumnya diberikan kepada sebuah komisi yang terdiri dari beberapa
orang anggota, tapi terdapat juga yang hanya dilakukan oleh seorang konsiliator. Komisi-komisi
Konsiliasi diatur dalam Konvensi-konvensi the Hague 1899 dan 1907 untuk Penyelesaian Damai
Sengketa-Sengketa Internasional. Komisi tersebut dapat dibentuk melalui perjanjian khusus
antara para pihak dan tugasnya harus menyelidiki serta melaporkan tentang situasi fakta dengan
ketentuan bahwa isi laporan itu bagaimanapun tidak mengikat para pihak dalam sengketa.
Ketentuan-ketentuan yang actual dalam konvensu-konvensi itu menghindari kata-kata yang
dapat dapat dianggap mewajibkan para pihak untuk menerima suatu laporan Komisi. 5[5] Laporan
dari komisi konsiliasi hanya sebagai proposal atau permintaan dan bukan merupakan konstitusi
yang sifatnya mengikat.
Konsiliasi terbukti paling berguna untuk sengketa-sengketa mengenai hukum, tapi para pihak
menginginkan kompromi yang sama. Sengketa jenis ini ialah sengketa antara Italian Republic
dan Holy See, konsiliasi akan muncul untuk menawarkan suatu alternatif yang jelas. Pertama,
4

cara konsiliasi itu diatur melalui dialog dengan dan antara pihak-pihak tidak terdapat resiko
konsiliasi yang memberikan akibat yang sangat mengejutkan pihak-pihak, seperti yang kadang
terjadi dalam acara pemeriksaan hukum. Kedua, proposal komisi tidak mengikat dan jika tidak
dapat diterima , boleh di tolak. Komisi konsiliasi pada daerah landas kontinen antara Islandia
dan Jan Mayen 1981, komisi ini telah membuat rekomendasi tertentu untuk bagian batas
daerah khusus kedua belah pihak. Dalam praktek konsiliasi yang umum, cukup mendapat tempat
sederhana di antara prosedur yang terdapat dalam negara, dan kasus Jan Mayen kebetulan
merupakan peringatan akan nilainya. Seperti penyelidikan, proses yang mengembangkan
konsiliasi dapat diterima dalam semua kebutuhan dan memperlihatkan kelebihan yang berasal
dari struktur keterlibatan pihak luar dalam menyelesaikan sengketa internasional.6[6]

3. BAGAIMANAKAH CARA PENYELESAIAN MASALAH DENGAN CARA KONSILIASI?


Konsiliasi merupakan suatu cara penyelesaian sengketa oleh suatu organ yang dibentuk
sebelumnya atau dibentuk kemudian atas kesepakatan para pihak yang bersengketa. Organ yang
dibentuk tersebut mengajukan usul-usul penyelesaian kepada para pihak yang bersengketa.
Rekomendasi yang diberikan oleh organ tersebut tidak bersifat mengikat. Organ tersebut disebut
dengan komisi konsiliasi.
Fungsi komisi konsiliasi adalah untuk menyelidiki sengketa dan batas penyelesaian yang
mungkin. Fungsi komisi konsiliasi adalah memberikan informasi dan nasehat tentang pokok
masalah posisi pihak-pihak dan untuk menyarankan suatu penyelesaian yang bertalian dengan
apa yang mereka terima, bukan apa yang mereka tuntut. Karena proposal komisi konsiliasi dapat
diterima atau ditolak, praktek yang umum untuk komisi itu adalah memberikan pihakpihak jangka waktu tertentu selama beberapa bulan guna memperlihatkan tanggapan mereka.7[7]
6

Prosedur konsiliasi sangat bermanfaat dan sangat penting, karena dalam pelaksanaan
penyelesaian sengketa melalui konsiliasi ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu :

penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi,


kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak,
dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut komisi
konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan usulan
penyelesaian sengketa.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa konsiliasi merupakan kombinasi antara
penyelidikan (enquiry) dan mediasi (mediation). Salah satu penyebab munculnya sengketa antar
negara adalah karena adanya ketidaksepakatan para pihak mengenai fakta. Untuk menyelesaikan
sengketa ini, akan bergantung pada penguraian fakta-fakta para pihak yang tidak disepakati.
Yang mana untuk dapat mengetahui kebenaran fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara
lisan tersebut komisi konsiliasi akan melakukan penyelidikan. Tujuan dari suatu penyelidikan,
tanpa membuat rekomendasi-rekomendasi yang spesifik, adalah untuk menetapkan fakta, yang
mungkin dengan cara demikian memperlancar penyelesaian sengketa yang dipermasalahkan.
Sama halnya dengan mediasi, pihak-pihak yang melakukan konsoliasi bersifat aktif dan ikut
serta dalam negosiasi-negosiasi demi tercapainya penyelesaian terhadap sengketa tersebut,
melibatkan pihak ketiga (third party) yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa. Pihak ketiga
dapat berupa individu atau kelompok (individual or group), negara atau kelompok negara atau
organisasi internasional. Dalam mediasi, negara ketiga bukan hanya sekedar mengusahakan agar
para pihak yang bersengketa saling bertemu, tetapi juga mengusahakan dasar-dasar perundingan
dan ikut aktif dalam perundingan,
Setelah dapat menyimpulkan duduk perkara yang dipersengketakan oleh masing-masing pihak,
komisi konsiliasi kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak.
. Namun keputusan yang diberikan oleh komisi konsiliasi ini tidak mengikat para pihak. Para
pihak memiliki kebebasan untuk memutuskan apakah akan menerima atau menolak syarat-syarat
panyelesaian yang diusulkan oleh komisi konsiliasi.

Jika proposal komisi diterima komisi itu membuat proces-verba (persetujuan) yang mencatat
fakta konsiliasi dan menentukan batas penyelesaian.Jika batas penyelesaian yang diusulkan
ditolak, maka konsiliasi itu gagal dan para pihak tidak mempunyai kewajiban lagi.8[8]
Contoh dari konsiliasi adalah pada sengketa antara Thailand dan Perancis, kedua belah pihak
sepakat untuk membentuk Komisi Konsiliasi. Dalam kasus ini Thailand selalu menuntut
sebagian dari wilayah Laos dan Kamboja yang terletak di bagian Timur tapal batasnya. Karena
waktu itu Laos dan Kamboja adalah protektorat Perancis maka sengketa ini menyangkut antara
Thailand dan Perancis.

Mediasi, Konsiliasi dan Arbitrase


Dalam suatu perusahaan/lingkungan kerja pasti pernah mengalami konflik. Konflik biasanya
terjadi karena komunikasi yang kurang baik. Konflik dalam perusahaan bisa terjadi antar sesama
karyawan seperti adu mulut tentang strategi bisnis, ide yang dicuri, ejekan dan senioritas.
Perusahaan dituntut untuk bisa menghilangkan masalah senioritas dalam perusahaan dan
membina hubungan yang sehat dengan karyawan. Dengan suasana yang harmonis dan
kekeluargaan yang kuat antar karwayan, masalah akan sulit muncul.
Konflik juga terjadi di tingkat antara karyawan dan perusahaan. Biasanya karyawan menuntut
apa yang sudah menjadi haknya seperti gaji, keadilan karir, kesejahteraan, dan hak pekerja
lainnya. Apabila pihak manajemen perusahaan tidak bertindak cepat, tuntutan ini bisa disertai
dengan demo dan pemogokan kerja.
Konflik-konflik antar perusahaan dan karyawan dapat diselesaikan dengan beberapa metode
melalui mediasi , konsiliasi , arbitrase dan pengadilan industri. Ketiga istilah diawal sering
dijumpai dalam perkara ketenagakerjaan atau lazim dikenal sebagai perkara perselisihan
hubungan industrial. Lalu, apa yang dimaksud dengan ketiga istilah diatas?
Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 mengenai Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
(UU PPHI) menjadi dasar hukum keberadaan tiga metode alternatif penyelesaian konflik
hubungan industrial. Ketiga metode ini baru bisa dipakai jika perundingan langsung antara
karyawan dan perusahaan (perundingan bipartit) menemui jalan buntu.
Apa yang dimaksud dengan mediasi?
8

Mediasi adalah penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui musyawarah yang


ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang berada di setiap kantor instansi yang
bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota. Diatur dalam pasal 8 16 UU
PPHI.
Mediator harus mengusahakan agar tercapai kesepakatan di antara pihak yang berselisih. Jika
terwujud, maka kesepakatan perdamaian itu dituangkan dalam sebuah perjanjian bersama.
Mediator ikut menandatangani perjanjian itu sebagai saksi. Lalu, perjanjian tersebut akan
didaftarkan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Namun pada prakteknya, mediator sering
menemui kegagalan dalam mendamaikan karyawan dan perusahaan. Jika hal ini terjadi, mediator
akan mengeluarkan sebuah anjuran tertulis yang isinya meminta agar salah satu pihak
melaksanakan atau tidak melaksanakan sesuatu.
Apabila tidak ada keberatan dari para pihak atas anjuran tertulis, maka para pihak harus
menuangkan kesepakatannya kedalam perjanjian bersama. Lagi-lagi perjanjian bersama itu harus
didaftarkan ke PHI. Tapi jika para pihak merasa tidak puas dengan anjuran tertulis, para pihak
menyelesaikan perselisihannya ke PHI.
Dari empat jenis perselisihan hubungan industrial, semua tidak lepas dari jangkauan mediasi.
Apa saja jenis perselisihan hubungan industrial?
Menurut pasal 2 UU No.2 tahun 2004. Jenis perselisihan industrial terbagi menjadi empat yaitu

Perselisihan hak

Perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak karyawan, akibat adanya
perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundangundangan, kontrak kerja, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Peraturan Perusahaan
(PP).

Perselisihan Kepentingan

Perselisihan yang muncul dalam hubungan kerja akibat tidak adanya kesesuaian pendapat
mengenai pembuatan dan atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam
kontrak kerja, PKB atau PP.

Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Perselisihan yang muncul saat terjadi silang pendapat antara karyawan maupun
pengusaha mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak.

Perselisihan antar serikat pekerja dalam satu perusahaan

Perselisihan ini muncul manakala terjadi kesalahpahaman mengenai keanggotaan,


pelaksanaan hak dan kewajiban keserikatpekerjaan.

Apa yang dimaksud dengan Konsiliasi?


Perselisihan ini muncul manakala terjadi kesalahpahaman mengenai keanggotaan, pelaksanaan
hak dan kewajiban keserikatpekerjaan.
Konsiliasi adalah penyelesaian perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja
atau perselisihan antar serikat pekerja hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang
ditengahi oleh seorang atau lebih konsiliator yang netral. Sesuai dengan Pasal 1 ayat 13 UU
PPHI, konsiliasi hanya berwenang menangani perselisihan kepentingan, perselisihan PHK dan
perselisihan antar serikat pekerja.
Konsiliator bisa mengeluarkan anjuran tertulis jika tidak tercapai perdamaian di antara kedua
belah pihak. Sebaliknya, jika perdamaian tercapai, maka konsiliator bersama dengan para pihak
dapat menandatangani perjanjian bersama yang kemudian didaftarkan ke PHI.
Apa yang dimaksud dengan Arbitrase?
Arbitrase adalah penyelesaian suatu perselisihan kepentingan, dan perselisihan antar serikat
pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan, di luar Pengadilan Hubungan Industrial
melalui kesepakatan tertulis dari para pihak yang berselisih untuk menyerahkan penyelesaian
perselisihan kepada arbiter yang putusannya mengikat para pihak dan bersifat final. Arbitrase
hanya berwenang menangani perkara perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat
pekerja dalam satu perusahaan.
Sama seperti konsiliasi, arbitrase baru bisa ditempuh ketika pihak yang berselisih sudah
menuangkan kesepakatan tertulis. Kesepakatan itu tercantum dalam perjanjian arbitrase yang
berisikan nama lengkap dan alamat pihak yang berselisih, pokok-pokok persoalan yang menjadi
perselisihan, jumlah arbiter yang disepakati, pernyataan tunduk dan menjalankan keputusan
arbitrase serta tanggal, tempat dan tanda tangan para pihak.
Setelah itu, para pihak masih harus membuat sebuah perjanjian tertulis lain, yaitu perjanjian
penunjukan arbiter. Di sini para pihak diberi pilihan antara menunjuk arbiter tunggal atau
beberapa arbiter. Dalam perjanjian penunjukan arbiter ini, salah satu yang dibahas adalah biaya
arbitrase dan honorarium arbiter.
Sebelum memulai persidangan arbitrase, biasanya arbiter berupaya mendamaikan para pihak.
Jika berhasil, maka akan dibuatkan perjanjian bersama yang didaftarkan ke PHI. Jika gagal,
persidangan arbitrase dilanjutkan dengan pemanggilan para saksi. Produk dari persidangan
arbitrase ini adalah putusan arbitrase yang sifatnya final dan mengikat.