Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II

PERKEMBANGAN EMBRIO AMPHIOXUS


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah struktur perkembangan hewan II
yang dibina oleh Dr. H. Abdul Gofur, M.Si

Oleh Kelompok 3
Offering C
Benyamin derebi ( 14034160..)
Putri fitria sartika ( 140341606007 )
Ratna nusantari

( 140341600294 )

Riska may habibi ( 140341603362 )


Yunita dewy

( 140341605176 )

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Reproduksi merupakan kemampuan individu untuk memperbanyak
diri dalam usaha untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Sedangkan
pertumbuhan merupakan kemampuan individu untuk pertambahan tumbuh
tubuhnya sehingga struktur dan bentuknya berfungsi dan mirip seperti
individu

dewasa.

Dalam

pertumbuhan

ini

terkandung

pengertian

perkembangannya. Kedua peristiwa tersebut berlangsung pada semua hewan,


dari hewan-hewan yang tingkat rendah sampai hewan tingkat tinggi, dari
hewan bersel satu sampai hewan mamalia dan juga manusia (Arief, 1984).
Selama perkembangan dan pertumbuhannya zigot akan selalu
melakukan pembelahan yang berulang-ulang. Akibatnya terbentuk ribuan selsel yang potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan arahnya.
Pembalahan ini akan berakhir membentuk brastula. Setelah periode
pembelahan dan pembentukan brastula maka embrio akan memasuki tahapan
paling kritis dalam perkembangannya yaitu proses garastulasi. Embrio yang
melakukan proses ini disebut gastrula. Proses selanjutnya adalah neurulasi,
yang merupakan proses pembentukan bakal sistem saraf pusat (Arief, 1984).
1.2.
1.
2.
3.
4.
5.
1.3.
1.
2.
3.
4.
5.

RUMUSAN MASALAH
Apakah yang dimaksud dengan hewan Amphioxus ?
Bagaimana proses pembelahan dan blastulasi pada Amphioxus?
Bagaimana proses gastrulasi pada Amphioxus?
Bagaimana proses neurulasi pada Amphioxus?
Bagaimana proses organogenesis pada Amphioxus?
TUJUAN
Menjelaskan yang dimaksud dengan amphioxus.
Mengetahui proses gastrulasi pada Amphioxus.
Mengetahui proses neurulasi pada Amphioxus.
Mengetahui proses neurulasi pada Amphioxus.
Mengetahui proses organogenesis pada Amphioxus.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Amphioxus
Genus Amphioxus lebih umum digunakan untuk mewakili Sefalokordata.
Bentuk tubuh menyerupai ikan kecil. Dinding tubuhnya menunjukkan
segmentasi metamerik, yaitu adanya susunan berulang berupa gumpalangumpalan otot yang disebut miotom atau miomer. Pada salah satu segmen
dimana sirip ventral bermula terdapat suatu lubang yang disebut atriopore
yang terletak dibagian tengah ventral. Pada segmen lain yang merupakan
tempat bermulanya sirip kaudal terdapat anus ventral yang terletak sedikit
disebelah kiri dari garis tengah tubuh.
Sistem Reproduksi ( Perkembangbiakan ). Jenisnya terpisah tetapi tidak
dapat di bedakan antar yang jantan dan betina, kecuali pada gonad. Gonad,
baik testis dan ovarium terletak di bagian ventrolateral dinding tubuh yang
menghadap ke atrium. Jika gamet masak, dinding gonad pecah dan ovarium
atau sperma menuju ke atrium dan selanjutnya keluar melalui atriopor.
Fertilisasi terjadi secara eksternal, terdapat di dalam air laut. berikut adalah
klasifikasinya:
Class

: Cephalochordata

Ordo

: Branchiostomidae

Family : Branchiostomidae
species : Amphioxus
lanceolatus

atau

Class
:
Cephalochordata
Ordo

: Amphioxidia

Family :
Amphioxididiae
species

Amphioxides sp.

2.2. Mekanisme Pembelahan dan Blastulasi pada Amphioxus


Telur Amphioxus bertipe oligolesital dengan pola
holoblastik

pembelahan

radial.

Blastomer-

blastomer yang dihasilkan selama


proses

pembelahan

Amphioxus
sama,

berukuran

sebagai

hasil

embrio
relative
proses

pembelahan yang sinkron dan


teratur. Dengan demikian, proses
pembelahan

pada

embrio

Amphioxus dapat dijadikan pola


dasar bagi proses pembelahan
embrio hewan lainnya (Surjono,
2001: 3.5).
Tipe holobastik adalah tipe pembelahan dimana ovum dalam
pembelahannya dapat terbelah seluruh bagiannya oleh bidang-bidang
pembelahannya, baik bidang pembelahan meridional maupun pembelahan
horizontal, seperti pada ovum jenis homolesital (ovum dari Amphioxus)
(Arief, 1984: 42). Pembelahan pertama melalui bidang meridional, memotong
bagian tengah kutub animal menuju kutub vegetal, sehingga dihasilkan 2
blastomer. Pembelahan kedua juga melalui bidang meredional tegak lurus
dengan bidang pembelahan pertama dan dihasilkan 4 blastomer. Pembelahan
ketiga berlangsung melalui bidang equatorial. Pada proses ini keempat

blastomer membelah secara bersamaan (sinkron) melaui bagian tengah antara


kutub animal dan kutub vegetal sehingga dihasilkan 8 blastomer. Pembelahan
keempat berlangsung secara vertical dan simultan sehingga dihasilkan 16
blastomer. Tahap pembelahan selanjutmya (kelima) terjadi melaui bidang
pembelahan horizontal dan simultan sehingga blastomer berlipat ganda dari
16 menjadi 32 blastomer. Tahap 16 dan 32 blastomer dari embrio Amphioxus
merupakan stadium morula. Selanjutnya morula ini akan membentuk rongga
sehingga embrio menjadi berbentuk bola berongga yang disebut blastula
(Surjono, 2001: 3.5).
Pada stadium blastula Amphioxus telah dibentuk daerah-daerah
pembentuk alat. Bakal ectoderm epidermis dibina oleh sebagian besar daerah
animal (epiblas). Ectoderm saraf berbentuk sabit dorsal terletak di bawah
daerah bakal ectoderm epidermis. Bakal notokorda juga berbentuk sabit
dorsal terletak dibawah daerah bakal ectoderm saraf. Bakal mesoderm
berbentuk ventral, teletak dibawah daerah bakal ectoderm epidermis di
seberang sabit dorsal. Bakal endoderm dibina oleh daerah vegetal (hipoblas)
dari blastula (Surjono, 2001: 3.6).
Blastula Amphioxus serupa dengan blastula bulu babi yaitu mempunyai
rongga (blastosoel) yang konsentris dan berlapis tunggal. Tipe blastula pada
Amphioxus adalah seloblastula (Coeloblastula). Coeloblastula merupakan
blastula yang berbentuk bundar yang umumnya memiliki ovum yang bertipe
homolesital dan mediolesital. Kedua macam telur ini umumnya akan
membentuk balstomer dengan pembelahan yang holoblastik equal dengan
tipe pembelahan radial. Dengan demikian sel-sel yang menyusun blastula ini
terdiri dari blastomer yang ukurannya sama besar. Blastula dengan tipe
coeloblastula ini umumnya mempunyai rongga pada bagian dalamnya yang
disebut dengan blastosoel (Darkuni, 1993: 58).
2.3. Mekanisme Gastrulasi pada Amphioxus
Permulaan gastrulasi terjadi di kutub vegetatif dengan cara invaginasi
tanpa singresi sehingga tidak ada sel mesenkim primer. Terdapat arkenteron
blastoporus serupa dengan yang terjadi pada embrio bulu babi. Pada awalnya,
arkenteron Amphioxus memiliki dinding yang disebut mesendoderem terdiri
atas sel-sel endoderm, sel-sel bakal mesoderm pada bagian dorsolateral, dan

notokorda yaitu, sumbu axial embrio dibagian mediodorsal. Pada tahap yang
lebih lanjut, bakal mesoderm dan bakal notokorda berdelaminasi dari lapisan
asalnya sehingga akhirnya seluruh dinding arkenteron adalah endoderm.
Tidak ada pembentukan mesenkim primer atau mesenkim sekunder pada
gastrulasi

Amphioxus

(Surjono,

2001.

2.4 Mekanisme Neurulasi pada Amphioxus


Cara neurulasi pada Amphioxus adalah dengan pembentukan bumbung
dengan adanya pemisahan atau peninggian epidermis yang membatasi keping
neural. Peninggian epidermis disebut juga sebagai lipatan neural temporer
yang akan bertemu dibagian medio dorsal dan menjadi atap diatas keping
neural yang sudah melipat dan menekuk, membentuk lipatan neural dan lekuk
neural biasa, yang sama dengan kejadian pada neurulasi primer. Kedua
lipatan neural ini akan bertemu satu sama lain membentuk bumbung neural.
Selanjutnya atap epidermis akan terpisah dari bumbung neural.
2.5. Organogenesis Pada Amphioxus
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pembelahan dan blastulasi pada Amphioxus bersifat khas dengan pola
pembelahannya holoblastik radial. Balastula pada Amphioksus bertipe
coeloblarrstula yaitu memiliki blastoceol yang konsentris dan berlapis
tunggal.
2. Proses gastrulasi pada amphioxus ditandai dengan dengan adanya
invaginasi di bagian kutub vegetative yang menghasilkan arkenteron serta
blastroporus dan adanya rotasi polaritas.
3. cara neurulasi pada Amphioxus adalah dengan pembentukan bumbung
neural dengan adanya pemisahan epidermis yang membatasi keeping
neural.
DAFTAR PUSTAKA
Surjono. 2001. Proses Perkembangan Embrio. Jakarta: Universitas terbuka

Darkuni, M.Noviar. 1994. Embriologi Hewan I. Malang: IKIP Malang


Syamsulhuda. (Online) (Syamsulhuda-fst09.web.unair.ac.id) diakses tanggal 12
September 2015

Anda mungkin juga menyukai